cover
Contact Name
arief yanto
Contact Email
arief.yanto@unimus.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
suhartini.ismail@fk.undip.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kab. semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Perawat Indonesia
ISSN : -     EISSN : 25487051     DOI : -
Core Subject : Health,
Jurnal Perawat Indonesia (e-ISSN 2548-7051) diterbitkan oleh Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Jawa Tengah. Jurnal Perawat Indonesia atau disingkat JPI ini terbit 2 kali setahun. Jurnal ini mempublikasi artikel-artikel dalam bidang ilmu keperawatan. Jurnal Perawat Indonesia menerima artikel-artikel dalam bidang ilmu keperawatan, meliputi: keperawatan anak; keperawatan maternitas; keperawatan medikal-bedah; keperawatan kritis; keperawatan gawat darurat; keperawatan jiwa; keperawatan komunitas; keperawatan gerontik; keperawatan keluarga; dan kepemimpinan dan manajemen keperawatan.
Arjuna Subject : -
Articles 192 Documents
Studi Explorasi Pengalaman Perawat dalam Pengkajian Delirium Khanafi, Khamid; Ismail, Suhartini; Erawati, Meira
Jurnal Perawat Indonesia Vol. 3 No. 3 (2019): November 2019
Publisher : Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Jawa Tengah.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (336.113 KB) | DOI: 10.32584/jpi.v3i3.413

Abstract

Delirium di tandai dengan perubahan  status mental, tingkat kesadaran serta perhatian yang akut dan fluktuatif yang sering di jumpai pada pasien di ruang intensive care unit (ICU). Delirium dapat menyebabkan meningkatnya length of stay (LOS), meningkatkan biaya perawatan,kematian, delirium menetap serta lamanya pemulihan. Tujuan dari penelitian  ini ialah untuk mengexplorasi pengalaman perawat rumah sakit dalam mengkaji pasien delirium di ruang ICU.Penelitian  ini menggunakan metode diskriptif  kualitatif. Pengumpulan data dengan indepth interview dengan panduan semi terstruktur. Hasil wawancara pada informan di dapatkan informasi bahwa pengetahuan perawat tentang delirium ini masih kurang, sehingga perawat belum pernah melakukan pengkajian delirium, perawat sebatas mengkaji tingkat kesadaran menggunakan glascow coma scale ( GCS), dalam re evaluasi delirium sebatas mengikuti advis medis, dari rumah sakit belum ada kebijakan dalam pengkajian delirium. Dari informasi ini dapat dijadikan acuan bagi peneliti untuk di adakanya peningkatan pengetahuan perawat mengenai delirium serta di adakanya alat/tool pengkajian delirium yang tepat, mudah untuk ruang ICU. Kata kunci: Delirium, pengkajian, ICU AbstractExploration Study of Nursing Experience in Delirium Assessment. Delirium is characterized by changes in mental status, level of awareness and acute and fluctuating attention that is often encountered in patients in the intensive care unit (ICU). Delirium can cause increased length of stay (LOS), increase treatment costs, death, permanent delirium and the duration of recovery. The purpose of this study was to explore the experience of hospital nurses in studying delirium patients in the ICU. This study used a qualitative descriptive method. Data collection with in-depth interviews with semi-structured guidelines. The results of interviews with informants found that nurses' knowledge about delirium was still lacking, so nurses had never doing delirium assessments, nurses were limited to assessing the level of awareness using a glascow coma scale (GCS), in re-evaluation of delirium limited to following medical advice, the hospital had not yet there is a policy in the delirium assessment. From this information, it can be used as a reference for researchers to create an increase in nurses' knowledge about delirium as well as an appropriate delirium assessment tool for the ICU room. Keywords: Delirium, Assessments, ICU
Kecemasan Pasien dengan Penyakit Jantung Koroner Paska Percutaneous Coronary Intervention Hastuti, Yuni Dwi; Mulyani, Evi Dwi
Jurnal Perawat Indonesia Vol. 3 No. 3 (2019): November 2019
Publisher : Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Jawa Tengah.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (60.554 KB) | DOI: 10.32584/jpi.v3i3.427

Abstract

Percutaneous Coronary Intervention (PCI) adalah salah satu perawatan untuk penyakit arteri koroner selain penatalaksanaan obat dan tindakan Coronary Artery Bypass Graft (CABG). PCI secara signifikan mengurangi gejala PJK, mengurangi angka kematian, dan meningkatkan kualitas hidup, tetapi beberapa pasien dapat mengalami kecemasan setelah PCI karena beberapa faktor. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi kecemasan dan faktor-faktor terkait demografi. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan teknik total sampling. Total sampel adalah 80 responden. Data dikumpulkan menggunakan Depression, Anxiety, and Stress Scale (DASS), kemudian dianalisis dengan analisis univariat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 78,8% responden adalah laki-laki, 52,5% berusia 56-65 tahun, 52,5% bekerja, 93,8% menikah, 42,5% berpendidikan sekolah menengah, 71,2% berpenghasilan 1,1-3 juta, 83,8% tidak pernah menjalani PCI dan 72,5% responden berada dalam tingkat kecemasan sedang. Oleh karena itu diperlukan tindakan yang tepat untuk mengurangi kecemasan pasien yang menjalani PCI seperti berbagi pengalaman, pendekatan perilaku kognitif,, teknik napas lambat, distraksi, hipnosis, serta adanya tim psikiatri yang terlibat dalam tim perawatan pasien yang menjalani PCI Kata kunci: Penyakit jantung koroner, kecemasan, PCI Abstract Anxiety of Patients With Coronary Artery Disease (CAD) After Percutaneous Coronary Intervention (PCI). Percutaneous Coronary Intervention (PCI) is one of the treatments for coronary artery disease other than drug treatment and coronary artery bypass grafting surgery. PCI significantly decreases the symptoms of CHD, reduces mortality, and improves quality of life but some patients may experience anxiety after PCI because of several factors. The purpose of the research was to identify the anxiety and the demographic related factors. The research was a descriptive study with total sampling technique. Total sample were 80 respondents. Data collected using Depression, Anxiety, and Stress Scale (DASS), then analized by univariate analysis. The result showed that 78.8% of respondents were male, 52.5% aged 56-65 years, 52.5% were working, 93.8% were married, 42.5% have a high school education, 71.2% earn 1.1-3 million, 83.8% have never undergone PCI and 72.5% respondents were in moderate anxiety level. Therefore we need the right action to deal with the anxiety of patients undergoing PCI such as sharing experience, cognitive behavioral approaches, slow breathing techniques, distraction, hypnosis, and the presence of a psychiatric team involved in the care team of patients undergoing PCI Keywords: Coronary artery disease, anxiety, PCI
PERBANDINGAN LATIHAN NAPAS BUTEYKO DAN LATIHAN BLOWING BALLOONS TERHADAP PERUBAHAN ARUS PUNCAK EKSPIRASI PADA PASIEN ASMA Irfan, M. Zul’; Suza, Dewi Elizadiani; Sitepu, Nunung Febriany
Jurnal Perawat Indonesia Vol. 3 No. 2 (2019): August 2019
Publisher : Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Jawa Tengah.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (59.65 KB) | DOI: 10.32584/jpi.v3i2.314

Abstract

Asma menjadi masalah kesehatan global yang serius dan perlu ditangani. Banyak penderita asma dari berbagai negara  mengalami gangguan asma sehingga jika tidak terkendali dapat meningkatkan morbiditas. Cara untuk menilai terjadinya asma dengan melakukan penilaian Arus Puncak Ekspirasi. Untuk mengatasi dan meringankan gejala asma adalah dengan melakukan latihan napas Buteyko dan Blowing Balloons. Tujuan dari penelitian adalah membandingan latihan napas Buteyko dengan latihan Blowing Balloons terhadap perubahan arus puncak ekspirasi pada pasien asma. Desain penelitian yang digunakan adalah quasi experimental dengan metode pretest dan posttest dua kelompok. Sampel penelitian sebanyak 70 responden kelompok terdiri 2 kelompok yaitu 35 responden kelompok Latihan napas Buteyko dan 35 responden kelompok latihan Blowing Balloons dengan teknik simple random sampling. Hasil penelitian  setelah Latihan napas Buteyko dan latihan Blowing Balloons dilakukan dua kali sehari selama dua minggu didapatkan hasil uji wilcoxon sign rank test latihan napas Buteyko dan latihan Blowing Balloons dengan nilai p= 0,00. Hasil uji mann withney menunjukkan tidak terdapat perbedaan mean rank skor asthma control test. pada latihan napas Buteyko dan latihan Blowing Balloons p = 0,21. Dari hasil pengukuran nilai arus puncak ekspirasi terdapat perbedaan yang signifikan dengan nilai p = 0,00 pada latihan napas Buteyko dan latihan Blowing Balloons. Kata kunci: buteyko; blowing balloons; arus puncak ekspirasi; asma Abstract The Influence of Buteyko Respiration Exercise and Blowing Balloons exercise on the Change in Peak Expiratory Flow Ratr bin Asthma Patients. Asthma is serious global health problem and needs to treatment. Many people with asthma from various countries experience asthma problems so that if they are uncontrolled can increase morbidity.. To overcome and alleviate the symptoms of asthma was do Buteyko's breathing and Blowing Balloons. The aim of the study was to influence Buteyko's breathing exercises with Blowing Balloons exercise to changes in peak expiratory flow in asthma patients. Design used quasi experimental with two groups pretest and posttest. The research sample consisted of 70 respondents consisting of two groups, 35 respondents were Buteyko breathing exercise group and 35 respondents were Blowing Balloons exercise group with simple random sampling technique. The results of the study after Buteyko breathing exercises and Blowing Balloons exercises were carried out twice a day for two weeks and obtained the results of Wilcoxon, Buteyko breath training and Blowing Balloons training with a value p = 0.00. The results of Mann Withney test showed no difference mean asthma control test score. Buteyko breathing exercises and Blowing Balloons exercise p = 0.21. The results of measurements peak expiratory flow values were significant differences with a value of p = 0.00 in Buteyko breathing exercises and Blowing Balloons training..Keywords: buteyko; blowing balloons; peak expiratory flow; asthma
Karakteristik dan Efikasi Diri Keluarga Pasien dengan Infark Miokard Herliani, Yusshy Kurnia; Harun, Hasniatisari; Setyawati, Anita; Fitri, Siti Ulfah Rifaatul
Jurnal Perawat Indonesia Vol. 3 No. 3 (2019): November 2019
Publisher : Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Jawa Tengah.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (57.796 KB) | DOI: 10.32584/jpi.v3i3.423

Abstract

Infark miokard menjadi salah satu penyakit yang menyebabkan tingginya angka kematian dan kecacatan di Indonesia. Perkembangan pengobatan telah banyak terbukti menurunkan angka kematian akibat infark mioard. Dukungan keluarga diperlukan untuk mengoptimalkan penderita patuh terhadap pengobatan dan menjalankan pola hidup sehat sebagai bagian dari rehabilitasi jantung. Efikasi diri menjadi penting dalam memberi dukungan keluarga. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran karakteristik dan efikasi diri keluarga pasien dengan infark miokard di Indonesia. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif yang melibatkan 60 anggota keluarga pasien dengan infark miokard yang dirawat di CICU dan HCCU Rumah Sakit Hasan Sadikin. Prosedur pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik convenience sampling dan responden diminta untuk mengisi kuesioner. Hasil penelitian ini, usia rata-rata anggota keluarga pasien adalah 45,58 tahun dan mayoritas berjenis kelamin  perempuan. Hampir setengah dari keluarga pasien memiliki tingkat pendidikan SMA dan lebih dari setengah pasien memiliki riwayat keluarga terkait dengan penyakit jantung. Mayoritas anggota keluarga pasien tidak memiliki pengalaman dalam merawat pasien penyakit jantung sebelumnya. Skor rata-rata efikasi diri anggota keluarga untuk merawat pasien adalah 6,55. Kesimpulannya, memberikan intervensi kepada pasien dan keluarga sangat penting untuk meningkatkan efikasi keluarga dalam merawat pasien infark miokard pasca serangan. Kata kunci: Efikasi diri, infark miokard, karakteristik keluarga  Abstract Characteristics and Self-Efficacy of Family Care Giver of Patient with Myocardial Infarction in Indonesia. Myocardial infarction is one of the diseases that cause high mortality and disability in Indonesia. The development of treatment has been shown to reduce the incidence of death due to myocardial infarction. Family support is essential to optimize the patient's adherence to treatment and promote a healthy lifestyle as part of cardiac rehabilitation. Self-efficacy is important in providing family support. This study aimed to provide an overview of the characteristics and self-efficacy of family of patients with myocardial infarction in Indonesia. This study was a quantitative descriptive study involving 60 family members of patients with myocardial infarction hospitalized at CICU and HCCU in Hasan Sadikin Hospital. The sampling procedure in this study used convenience sampling techniques and respondents were asked to fill out a questionnaire. The average age of the patient's family members was 45.58 years and the majority was female. Nearly half of patients' families have high school education levels and more than half of patients have a family history of heart disease. The majority of patients' family members have no experience in treating heart disease patient previously. The average score for self-efficacy of family members to treat patients is 6.55. Conclusions is giving intervention to patients and families is very important to improve family efficacy in treating patients with myocardial infarction after an attack. Keywords: Self-efficacy, myocardial infarction, family characteristics
KEPATUHAN MENJALANKAN MANAJEMEN DIRI PADA PASIEN HEMODIALISIS Pratiwi, Sri Hartati; Sari, Eka Afrima; Kurniawan, Titis
Jurnal Perawat Indonesia Vol. 3 No. 2 (2019): August 2019
Publisher : Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Jawa Tengah.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (67.358 KB) | DOI: 10.32584/jpi.v3i2.308

Abstract

Pasien gagal ginjal kronik harus menjalankan manjemen diri diantaranya hemodialisis, pengobatan, pembatasan cairan dan diet. Angka morbiditas dan mortalitas pada pasien hemodialisis akan meningkat apabila tidak menjalankan manajemen diri dengan baik. Penelitian ini dilakukan untuk mengidentifikasi kepatuhan pasien hemodialisis dalam menjalankan manajemen diri. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif yang dilakukan kepada pasien di Unit Hemodialisis di salah satu rumah sakit terbesar di Jawa Barat. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah consecutive sampling dengan jumlah responden 129 orang. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan kuesioner kepatuhan menjalankan manajemen diri pada pasien hemodialisis diadaptasi dari kuesioner End Stage Renal Disease Adherence. Data dianalisis dengan menggunakan distribusi frekuensi berupa frekuensi, persentase, dan mean. Sebagian besar responden tidak patuh dalam menjalankan manajemen diri 92 orang dan patuh sebanyak 28,7% yaitu 37 orang. Kepatuhan pasien dalam menjalankan hemodialisis sesuai jadwal sudah baik dengan rata-rata skor 271,3. Kepatuhan pasien hemodialisis masih kurang dalam membatasi asupan cairan dengan rata-rata skor 120, makanan dengan rata-rata skor 147, dan pengobatan dengan rata-rata skor 133).  Tenaga kesehatan diharapkan dapat memberikan dukungan kepada pasien dengan memberikan edukasi, konseling dan promosi kesehatan dengan menggunakan berbagai media termasuk media sosial terkait pentingnya pengontrolan cairan dan makanan. Kata kunci: Hemodialisis, Kepatuhan manajemen diri Abstract Compliance with running self-management on hemodializing patients Patients with chronic kidney failure must carry out self-management including hemodialysis, treatment, fluid and dietary restrictions. The morbidity and mortality rates in hemodialysis patients will increase if they do not carry out self-management properly. This study was conducted to identify the compliance of hemodialysis patients in carrying out self-management. This research was a descriptive study conducted on patients at the Hemodialysis Unit in one of the largest hospitals in West Java. The sampling technique used was consecutive sampling with the number of respondents 129 people. Data collection techniques carried out by compliance questionnaire method of running self management in hemodialysis patients adapted from the End Stage Renal Disease Adherence questionnaire. Data were analyzed using frequency distributions in the form of frequency, percentage, and mean. Most of the respondents were not obedient in carrying out self-management as many as 71.3%, 92 people and obedient as many as 28.7%, 37 people. Patient compliance in conducting hemodialysis schedule has been good with mean 271.3. Compliance with hemodialysis patients was still lacking in limiting fluid intake with mean 120, food with mean 147, and treatment with mean 133. Health workers are expected to be able to provide support to patients by providing education, counseling and health promotion by using various media including social media related to the importance of controlling fluids and food that must be carried out by hemodialysis patients. Keywords: Adherance, Hemodialysis, Self-Management
Efektifitas Metode Konseling Spiritual terhadap Motivasi Pasien Kanker dalam Menjalani Kemoterapi Sitepu, Nunung Febriany; Asrizal, Asrizal; Lufthiani, Lufthiani
Jurnal Perawat Indonesia Vol. 3 No. 3 (2019): November 2019
Publisher : Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Jawa Tengah.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (58.095 KB) | DOI: 10.32584/jpi.v3i3.394

Abstract

Konseling spiritual adalah proses pemberian bantuan kepada individu agar memiliki kemampuan untuk mengembangkan fitrahnya sebagai makhluk beragama (homo religious), berperilaku sesuai dengan nilai-nilai agama (berakhlak mulia), dan mengatasi masalah-masalah kehidupan melalui pemahaman, keyakinan, dan praktik-praktik ibadah ritual agama yang dianutnya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisa pengaruh konseling terhadap motivasi pasien kanker dan menganalisa motivasi pasien kanker sebelum dan sesudah dilakukan konseling spiritual. Desain penelitian yang digunakan adalah quasi eksperimen dengan 60 responden dibagi menjadi dua kelompok yaitu 30 kelompok intervensi dan 30 kelompok kontrol. Pengumpulan data dilakukan pada bulan Mei-September 2019 di Rumah Sakit Kota Medan. Kriteria inklusi pada penelitian ini adalah pasien yang menjalani kemoterapi pada siklus ke 3, kooperatif, dapat mendengar, tidak memiliki efek samping, dan dapat berbicara dengan baik.. Analisa data penelitian ini menggunakan Wilcoxon Signed Rank Test dan Mann Whitney Test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan signifikan motivasi pasien kanker antara kelompok intervensi dengan kelompok kontrol sesudah diberikan intervensi konseling spiritual dengan nilai p value = 0.001 (p <0.05). Efek positif dari konseling spiritual terhadap motivasi pasien kanker dapat dikaitkan dengan penyesuaian pendekatan konseling spiritual dengan budaya dan keyakinan individu dalam menanggapi masalah mental dan mencari makna dalam kehidupan manusia. Kata kunci: Konseling; pasien kanker; spiritual Abstract The Effect of Spiritual Counseling Methods Towards Motivation of Cancer Patients Undergoing Chemotherapy at Hospital. Spiritual counseling is the process of providing assistance to individuals to have the ability to develop their fitrah as religious beings (homo religious), behave in accordance with religious values (noble character), and overcome life's problems through understanding, belief, and practices of worship religious rituals he adheres. The purpose of this study are: analyze the effect of counseling on the motivation of cancer patients and analyzing the motivation of cancer patients before and after spiritual counseling. The design of the research used is a quasi-experimental with 60 respondents divided two group, 30 intervention group and 30 control group.  Data collection taken from May – September 2019 at Hospital Medan. Criteria inclusion are: patient undergoing chemotherapy with 3 cycles, cooperative, can hear, no side effect, and can speak well. Data analysis by Wilcoxon rank and Mann Whitney test. The result significant difference in the value of intervention and control group   after give a intervention of counseling spiritual with a p value = 0.001 (p <0.05). The positive effect of spiritual counseling on motivation  of cancer patient can be attributed to the alignment of spiritual counseling approach with culture and the beliefs of individuals in response to mental concerns and being seeking the meaning in human life. Keywords: counseling; cancer patient;  spiritual
PERSEPSI PERAWATAN MANDIRI PASIEN TUBERKULOSIS Togatorop, Lina Berliana; Setiawan, Setiawan; Siregar, Cholina Trisa
Jurnal Perawat Indonesia Vol. 3 No. 2 (2019): August 2019
Publisher : Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Jawa Tengah.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (27.159 KB) | DOI: 10.32584/jpi.v3i2.317

Abstract

Tuberkulosis adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh kontaminasi bakteri. Masalah ini telah menjadi perhatian dan kewaspadaan dunia secara global karena tingkat infeksi dan kematiannya yang tinggi. Salah satu upaya tingkat pemulihannya adalah kemampuan pasien melakukan perawatan diri yang terdiri dari pengobatan, pencegahan dan infeksi, pemenuhan nutrisi, dan peningkatan kepercayaan diri pasien. Kemampuan mereka melakukan perawatan diri akan memaksimalkan proses pengobatan yang lengkap. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengeksplorasi persepsi pasien tuberkulosis tentang perawatan mandiri di Puskesmas Sentosa Baru, Medan. Desain penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Partisipan dalam penelitian ini sebanyak 18 pasien, diambil dengan menggunakan teknik purposive sampling dari Oktober, 2018 hingga Januari 2019. Partisipan dalam penelitian ini dibagi menjadi tiga kelompok besar untuk mendapatkan data yang baik yaitu kelompok pasien tuberkulosis yang sedang menjalani pengobatan, kelompok pasien yang gagal dalam pengobatan dan kelompok pasien yang sukses dalam pengobatan. Data yang terkumpul dianalisis dengan menggunakan analisa kualitatif. Data kualitatif diperoleh dari FGD dan wawancara mendalam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada lima tema: 1) kurangnya pemahaman pasien tuberkulosis tentang tuberkulosis, 2) kurangnya pemahaman pasien tuberculosis tentang perawatan mandiri tuberkulosis, 3) kurangnya kesadaran dalam melakukan perawatan mandiri, 4) hambatan implementasi perawatan mandiri, 5) faktor pendukung pelaksanaan perawatan mandiri pasien tuberkulosis. Penelitian telah menghasilkan persepsi pasien tuberkulosis tentang perawatan mandiri. Perawatan mandisi diperlukan untuk keberhasilan pengobatan tuberkulosis sehingga dapat dinyatakan berhasil menjalankan perawatan mandiri hingga akhir. Kata kunci: Tuberkulosis; perawatan mandiri; persepsi Abstract Perception of mandiri tuberculosis patient care. Tuberculosis is an infectious disease caused by bacterial contamination. This problem has become a global concern and awareness because of the high rates of infection and death. One of the efforts to restore the level is the ability of patients to carry out self-care which consists of treatment, prevention and infection, fulfillment of nutrition, and increased patient confidence. Their ability to carry out self-care will maximize the complete treatment process. The purpose of this study was to explore the perceptions of tuberculosis patients about self-care at Sentosa Baru Health Center, Medan. The design of this study is qualitative research with a phenomenological approach. This study uses qualitative research methods with a phenomenological approach. Participants in this study were 18 patients, taken using a purposive sampling technique from October, 2018 to January 2019. Participants in this study were divided into three large groups to obtain good data, namely groups of tuberculosis patients undergoing treatment, groups of patients who failed treatment and groups of patients who are successful in treatment. The collected data was analyzed using qualitative analysis. Qualitative data was obtained from the FGD and in-depth interviews. The results showed that there were five themes: 1) lack of understanding of tuberculosis patients about tuberculosis, 2) lack of understanding of tuberculosis patients on tuberculosis self-care, 3) lack of awareness in carrying out self-care, 4) barriers to implementation of self-care, 5) supporting factors for treatment implementation independent tuberculosis patients. Research has produced tuberculosis patients' perceptions of self-care. Maintenance mandates are needed for the success of tuberculosis treatment so that it can be declared successful in running self-care until the end..Keywords: Tuberculosis; self care; persepsion
Pelaksanaan Perawatan Kesehatan Masyarakat dalam Rangka Program Indonesia Sehat dengan Pendekatan Keluarga Rachma, Nurullya; Widyastuti, Rita Hadi; Andriany, Megah; Nurrahima, Artika; Hartati, Elis; Dewi, Nur Setiawati; Mui’in, Muhammad
Jurnal Perawat Indonesia Vol. 3 No. 3 (2019): November 2019
Publisher : Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Jawa Tengah.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (72.138 KB) | DOI: 10.32584/jpi.v3i3.417

Abstract

Pembangunan di bidang kesehatan, diupayakan melalui Program Indonesia Sehat dengan Pendekatan Keluarga (PIS PK), yang diaplikasikan dalam kegiatan perawatan kesehatan masyarakat. Tujuan penelitian untuk mengidentifiaksi pelaksanaan perawatan kesehatan masyarakat yang bersinergi terhadap PIS PK. Rancangan penelitian menggunakan metode mixed method. Penelitian kuantitatif dengan desain cross sectional, menggunakan sampel sebesar 110 dan diambil secara cluster sampling. Instrumen menggunakan format pelaksanaan perkesmas yang terdiri dari kunjungan untuk pendataan, promosi kesehatan, dan tindak lanjut.  Penelitian kualitatif untuk memperoleh gambaran pelaksanaan PIS PK yang diintegrasikan dengan perawatan kesehatan masyarakat, melalui Focus Group Discussion. Partisipan adalah masyarakat (kader), staf puskesmas, dan staf dinas kesehatan. Pelaksanaan kunjungan rumah oleh petugas kesehatan (puskesmas) yang paling banyak menunjukkan 65.5% keluarga pernah dikunjungi. Kegiatan yang dilakukan oleh petugas kesehatan saat kunjungan rumah meliputi: pendataan keluarga 32.7%, pemeriksaan kesehatan 40%, penyuluhan kesehatan 10.9%, pemberantasan sarang nyamuk 17 15.5%, dan kesehatan ibu anak 2 1.8%. Kegiatan tindak lanjut terhadap kunjungan rumah yang sudah dilakukan lebih banyak tidak dilakukan 69.1%.Hasil FGD dengan kader didapatkan 4 tema: kegiatan perawatan kesehatan masyarakat oleh puskemas, peran kader kesehatan dalam perawatan kesehatan masyarakat, masalah dalam pelaksanaan perawatan kesehatan masyarakat, harapan terhadapan pelayanan kesehatan di masyarakat. Pelaksanaan perkesmas dalam rangka PIS PK, berdasarkan hasil FGD dengan pelaksana perkesmas di puskesmas dan staf bidang pelayanan kesehatan Dinas Kesehatan Kota Semarang didapatkan 2 tema: pelaksanaan perawatan kesehatan masyarakat dalam rangka PIS PK dan kendala pelaksanaan perkesmas dalam rangka PIS PK. Diperlukan evaluasi bersama pelaksanaan PIS PK antara pelaksana dan penanggung jawab program PIS PK agar indikator keberhasilan PIS PK dapat tercapai maksimal. Kata kunci: Pelaksanaan perkesmas, program Indonesia sehat dengan pendekatan keluarga Abstract The Implementation Community Health Care of The Healthy Indonesia Program With The Family Approach. Development in the health sector, is pursued through the Healthy Indonesia Program with the Family Approach, which is applied in community health care activities. The research objective was to identify the implementation of community health care that synergizes with Healthy Indonesia Program. The research design uses the mixed method. Quantitative research with cross sectional design, using a sample of 110 and taken by cluster sampling. The instrument uses the format of the implementation of the social security program consisting of visits for data collection, health promotion, and follow-up. Qualitative research to obtain an overview of the implementation of Healthy Indonesia Program integrated with community health care, through a Focus Group Discussion. Participants are the community (cadres), puskesmas staff, and health service staff. Conducting home visits by health workers which showed the most 65.5% of families had been visited. Activities undertaken by health workers during home visits included: family data collection 32.7%, health checks 40%, health education 10.9%, eradication of mosquito nests 17 15.5%, and maternal health of children 2 1.8%. More follow-up activities on home visits were not carried out 69.1%. FGD results with cadres found 4 themes: community health care activities by the health center, the role of health cadres in community health care, problems in the implementation of public health care, expectations towards health services in society. The implementation of community health care in the framework of program, based on the results of the FGD with the implementation of community health care in the health center and the health service staff in the Semarang City Health Office, obtained two themes: the implementation of community health care in the framework of the program and the constraints in implementing the community health care in the framework of the program. A joint evaluation of the program implementation is needed between the implementer and the person responsible for the program so that the indicators can be achieved optimally. Keywords: Implementation of community health care, healthy Indonesia program with family approach
GAMBARAN BUDAYA KESELAMATAN PROFESIONAL PEMBERI ASUHAN DI KAMAR OPERASI Hamzah, Hamzah; Susmiati, Susmiati; Huriani, Emil
Jurnal Perawat Indonesia Vol. 3 No. 2 (2019): August 2019
Publisher : Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Jawa Tengah.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (47.176 KB) | DOI: 10.32584/jpi.v3i2.318

Abstract

Budaya keselamatan pasien di rumah sakit di Kota Jambi masih belum cukup baik seperti yang dapat dilihat dari jumlah insiden keselamatan pasien yang dilaporkan dari tim KPRS. Penelitian bertujuan untuk melihat gambaran budaya keselamatan profesional pemberi asuhan (PPA) di kamar operasi rumah sakit umumKota Jambi. Desain Penelitian kuantitatif deskriptif. Alat pengumpulan data menggunakan safety attitude questionnaire yang diadaptasi dalam bahasa Indonesia. Analisa data secara univariat dengan jumlah sampel 126 orang yang terdiri dari dokter spesialis, perawat bedah, penata anestesi, dan apoteker. Total skor budaya keselamatan (71,08), skor rata-rata iklim kerja tim (75,54), iklim keselamatan (74,83), kepuasan kerja (83,81), pengakuan stres (42,50), persepsi manajemen (69,56), dan kondisi kerja (64,28). Penelitian ini merekomendasikan perlu mengembangkan kebijakan terhadap upaya evaluasi penerapan budaya keselamatan pasien di rumah sakit, begitu juga evaluasi terhadap semua standar prosedur operasional ditinjau dari pertimbangan budaya keselamatan serta faktor yang mempengaruhinya. Kata kunci: Persepsi profesional pemberi asuhan, kamar operasi, budaya keselamatan pasien Abstract Professional safety culture description in operating rooms. The culture of patient safety in hospitals in Jambi City is still not good enough as can be seen from the number of patient safety incidents reported from the KPRS team. The aim of this study was to look at a picture of the culture of professional safety of care givers (PPA) in the operating room of the Jambi City General Hospital. Descriptive quantitative research design. The data collection tool uses a safety attitude questionnaire that was adapted in Indonesian. Univariate data analysis with a sample of 126 people consisting of specialist doctors, surgical nurses, anesthetists, and pharmacists. Total safety culture score (71.08), average score of team work climate (75.54), safety climate (74.83), job satisfaction (83.81), stres recognition (42.50), management perception ( 69.56), and working conditions (64.28). This study recommends that it is necessary to develop policies for evaluating the application of patient safety culture in hospitals, as well as evaluating all standard operating procedures in terms of safety culture considerations and the factors that influence them. Keywords: professional perceptions of caregiver, operating room, patient safety culture
Gambaran Tingkat Depresi Warga Binaan Pemasyarakatan Perempuan Menjelang Bebas Safitri, Arintan Nur; Andriany, Megah
Jurnal Perawat Indonesia Vol. 3 No. 3 (2019): November 2019
Publisher : Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Jawa Tengah.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (60.776 KB) | DOI: 10.32584/jpi.v3i3.353

Abstract

Warga binaan pemasyarakatan (WBP) perempuan menjelang bebas rentan mengalami depresi karena kecemasan terhadap stigma dan perilaku masyarakat setelah bebas. Penelitian tentang tingkat depresi WBP perempuan menjelang bebas sangat terbatas ditemukan, namun penelitian tentang depresi pada WBP perempuan pernah dilakukan dan menunjukkan adanya depresi. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tingkat depresi WBP perempuan menjelang bebas. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif survei, menggunakan metode kuantitatif, dan pendekatan cross-sectional. Sampel terdiri dari 34 WBP perempuan menjelang bebas secara total sampling dan memenuhi kriteria inklusi berupa WBP perempuan yang bersedia menjadi responden dengan komunikasi baik dan kooperatif, serta menjalani sisa masa pidana hingga tiga bulan, kemudian diukur menggunakan kuesioner Beck Depression Inventory II. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakteristik responden terbanyak adalah usia 18-40 tahun (64,7%), tingkat pendidikan menengah (55,9%), status menikah (50,0%), sisa masa pidana 0-1 bulan (38,2%), beberapa kali kunjungan keluarga dalam setahun (35,3%), lama pidana 4-6 tahun (38,2%), dan pidana karena tindakan yang berkaitan dengan obat terkontrol atau zat psikoaktif lainnya (44,1%). Survei tingkat depresi menunjukkan bahwa 32,4% tidak depresi, 14,7% depresi ringan, 44,1% depresi sedang, dan 8,8% depresi berat. Sehingga dapat disimpulkan bahwa mayoritas WBP perempuan mengalami depresi saat menjelang bebas. Perawat correctional perlu lebih memperhatikan aspek psikososial dalam perencanaan pulang. Kata kunci: Depresi, menjelang bebas, WBP perempuan Abstract Female Inmates’ Depression Before Prison Release in Indonesia]Female inmates before releasing are vulnerable to depression due to anxiety’s to public’s stigma and behavior after releasing. Study about female inmates’ depression before prison release was limited to be found, but study on female inmates’ depression has been done and showed depression. The purpose of this study was to measure the percentage and the level of depression among female inmates before being released. This quantitative study was performed using a descriptive survey and cross-sectional approach. There were 34 female inmates who fulfilled the inclusion criteria such as cooperative, agree to become respondents, and remains of prison days less than three months, and all of them were recruited as subjects of this study. The level of depression was measured using Beck Depression Inventory II questionnaire. The characteristic findings: 64,7% were between 18-40 years of age, 55,9% has middle level of education, 50,0% were married, 38,2% has less than 0-1 month prison days, 35,3% had several family visits yearly, 38,2% was sentenced 4-6 years, and 44,1% was jailed in relation for drug related crime. The study showed that 32,4% were not depressed, while 14,7% had mild depression, 44,1% had moderate depression, and 8,8% had severe depression. This study showed that the correctional nurses should play a role to prevent depression among female inmates before being released. Keywords: Depression, before being released, female inmates

Page 4 of 20 | Total Record : 192