cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
rindo.herdianto@pu.go.id
Editorial Address
Jalan Panyaungan, Cileunyi Wetan, Kabupaten Bandung 40393
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Permukiman
ISSN : 19074352     EISSN : 23392975     DOI : http://dx.doi.org/10.31815/jp
Core Subject : Engineering,
Karya tulis ilmiah dibidang permukiman yang meliputi kawasan perkotaan/perdesaan, bangunan dan gedung yang ada didalamnya serta sarana dan prasarana pendukungnya.
Arjuna Subject : -
Articles 456 Documents
Kebutuhan Tipe Hunian Berdasarkan Umur Dan Status Kepala Keluarga Rosa, Yulinda
Jurnal Permukiman Vol 11 No 2 (2016)
Publisher : Direktorat Bina Teknik Bangunan Gedung dan Penyehatan Lingkungan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31815/jp.2016.11.88-99

Abstract

The availability of tendency information was selected by the type of dwelling households based on increasing age and sosial status, economic and cultural families, better known by dwelling type propensities very helpful to solve the problem of housing. Getting an idea of dwelling type propensities in Indonesia, conducted a case study in Depok, Cirebon and Pekanbaru with the technique of taking multistage sampling was taken in 1200 families, used a software program excel and Statistical Package Special Sciences (SPSS) to analyzes all faktors, regression analysis and descriptive analysis. The career of housing in all three samples of the city's most visible change in the age range ≤ 34 years, in line with the magnitude of changes in family income towards the more established and increase the number of families, accompanied by changes in the ownership of dwellings to change the size of the floor area toward larger, the highest achievement in the primary age range of 40 years of age 45 years. On average people in Depok work at the age of 22 years with an average senior high school, taking dwellings with contract status, average income of Rp. 1.3885 million, - (under MSE = Rp. 1,453,875, -). The average of  age almost 23 years began to be separated from their parents and live independently, the average income of Rp. 1.613 million, - inhabit the house with residential status contracting (0.25%) and 0.08% belongs to take the house status. The percentage of families take a house belonging to a sharp rise began when school-age children up to 55 years (69.23%) and tend to take a permanent dwelling place in  one location.
Pengkajian Penyediaan Sarana Prasarana Permukiman Berdasarkan Daya Dukung Pulau Giliyang Desriani, Rian Wulan; Widyahantari, Rani; Suhaeni, Heni; Samyahardja, Puthut; Yodhakersa, Wahyu
Jurnal Permukiman Vol 10 No 2 (2015)
Publisher : Direktorat Bina Teknik Bangunan Gedung dan Penyehatan Lingkungan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31815/jp.2015.10.68-77

Abstract

Tekanan terhadap kawasan pulau kecil semakin tinggi akibat pertambahan penduduk dan perkembangan ekonomi terutama ketika ditetapkan sebagai kawasan wisata. Salah satu pulau kecil yang direncanakan menjadi kawasan wisata adalah Pulau Giliyang, Kabupaten Sumenep, Provinsi Jawa Timur. Pemerintah Kabupaten Sumenep berencana untuk mengembangkan Pulau Giliyang menjadi pulau wisata kesehatan karena terdapat beberapa titik O2 tinggi di pulau ini. Tujuan penelitian ini adalah mengkaji kriteria penyediaan sarana prasarana permukiman yang dapat mendorong kegiatan wisata namun tetap berkelanjutan. Alat ukur yang digunakan adalah daya dukung pulau kecil. Hasilnya menyatakan bahwa daya dukung fisik dan lingkungan serta sosial ekonomi memiliki beberapa keterbatasan yang harus diakomodasi pada penyediaan sarana prasarana permukiman. Tiga hal utama yang menjadi persyaratan dalam penyediaan sarana prasarana adalah lokasi berada di luar kawasan lindung, besaran harus di bawah daya dukung pulau serta dampak penyediaan harus terukur. Penyediaan sarana prasarana ini diharapkan dapat dijadikan rujukan dalam perencanaan pengembangan kawasan Pulau Giliyang ataupun pulau kecil lainnya sebagai tujuan wisata alam.
Efektivitas Pengawetan Bambu untuk Bahan Material Rumah Apung Danau Tempe di Sulawesi Selatan Mayasari, Karina; Yunus, Muhammad; Daud, Muhammad
Jurnal Permukiman Vol 10 No 2 (2015)
Publisher : Direktorat Bina Teknik Bangunan Gedung dan Penyehatan Lingkungan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31815/jp.2015.10.118-129

Abstract

Material rumah apung dengan menggunakan rakit dan dinding serta lantai dari bambu, sering kali mengalami kerusakan yang umumnya disebabkan oleh mikroorganisme perusak, sehingga membuat masyarakat pemilik rumah apung merasa kesulitan karena material bambu tersebut mempengaruhi kinerja daya apung dari rakit bambu. Penelitian ini bertujuan untuk melihat efektivitas pengawetan bambu yang dilakukan di rumah apung Danau Tempe Sulawesi Selatan. Pengawetan bambu menggunakan metode Modified Bouchery dengan menggunakan beberapa perlakuan antara lain, sebagai kontrol, menggunakan boron, cuka kayu, dan juga dilapisi oleh epoksi. Hasil penelitian dengan data sampai dengan satu bulan menunjukkan bahwa pemberian boron dan cuka kayu, maupun pelapisan pada bagian ujung dengan epoksi tidak menyebabkan penurunan sifat fisis (kadar air, kerapatan, berat jenis, proporsi volume rongga) dan sifat mekanis (MOE dan MOR) bambu dan pemberian boron dan cuka kayu, maupun pelapisan pada bagian ujung dengan epoksi meningkatkan ketahanan bambu dari serangan organisme perusak terutama terhadap jamur pewarna dan jamur pelapuk, serangan rayap dan kumbang belum ditemukan pada semua jenis perlakuan bambu.
Metoda Penerapan Zero Run Off pada Bangunan Gedung dan Persilnya untuk Peningkatan Panen Air Hujan dan Penurunan Puncak Banjir Sarbidi, Sarbidi
Jurnal Permukiman Vol 10 No 2 (2015)
Publisher : Direktorat Bina Teknik Bangunan Gedung dan Penyehatan Lingkungan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31815/jp.2015.10.106-117

Abstract

Bangunan dan persilnya, terutama yang atapnya luas berpotensi menghasilkan air baku, air hujan yang besar dan memicu genangan air (banjir) pada waktu musim hujan. Oleh karena itu, tata air hujan zero run off (ZRO) perlu diterapkan pada bangunan dan persilnya serta diperlukan metoda penerapannya. Tahun 2011 – 2013 telah diteliti dan diterapkan drainase kawasan berwawasan lingkungan dengan sistem tampung, resapan, manfaat dan alirkan (TRMA) kelebihan air hujan ke luar kawasan. Kajian ini dimaksudkan untuk mendapatkan metoda ZRO pada bangunan dan persilnya. Metode kajian mencakup analisis data hidrologi dan hidrolika menggunakan data pustaka dan data hasil kajian yang telah ada, diskusi dengan pakar, pembahasan dan perumusan. Hasil kajian menunjukkan dengan luas atap bangunan 714 m2 diperoleh hasil : (1) metode zero run off merupakan integrasi antara intensitas hujan (I), sarana tampung (T), seperti subreservoir dan kolam retensi, resapan (R), seperti sumur resapan, manfaat (M), aliran (A) air kelebihan limpasan ke luar kawasan atau persil serta operasi dan perawatan. (2) ZRO adalah fungsi (I, T, R, M, A); (3) dipanen air hujan ± 2.382,8 m3/tahun, volume limpasan (input) dapat ditahan hingga 100% dan volume limpasan mengalir ke luar (output) sebesar nol persen atau maksimum 3%, sehingga efektif untuk peningkatan panen air hujan dan penurunan atau pengendalian puncak banjir atau air genangan.
Pemodelan Tingkat Risiko Bencana Tsunami pada Permukiman di Kota Bengkulu Menggunakan Sistem Informasi Geografis Santius, S. Hidayatullah
Jurnal Permukiman Vol 10 No 2 (2015)
Publisher : Direktorat Bina Teknik Bangunan Gedung dan Penyehatan Lingkungan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31815/jp.2015.10.92-105

Abstract

Perairan laut dan pesisir Kota Bengkulu merupakan zona subduksi lempeng Indo - Australia dengan lempeng Eurasia dengan laju pergeseran sebesar 9 cm/tahun. Kondisi ini menyebabkan Kota Bengkulu sangat rawan terhadap gempa bumi dengan magnitudo di atas 6 skala Richter (SR) yang merupakan salah satu pemicu terjadinya tsunami. Dalam kurun waktu dari tahun 2000 – 2010 tercatat ada 2 gempa besar terjadi di Bengkulu, yaitu tahun 2000 (7,9 SR) dan tahun 2008 (7,9 SR). Salah satu model yang dapat digunakan untuk memprediksi tingkat risiko bencana tsunami adalah Model Crunch. Model ini merupakan hasil perkalian antara bahaya (hazard) dengan kerentanan (vulnerability). Parameter hazard dan vulnerability tersebut selanjutnya dimodelkan menggunakan Sistem Informasi Geografis (SIG). Daerah yang berisiko tinggi terhadap bahaya tsunami di Kota Bengkulu berdasarkan asumsi/simulasi tinggi gelombang tsunami 20 meter, yaitu seluas 29,99 km2 atau sekitar 20,19% dari total luas wilayah Kota Bengkulu. Daerah tersebut sebagian besar berada di pinggir pantai dengan ketinggian permukaan tanah kurang dari 10 meter dengan dominasi penggunaan lahan berupa permukiman. Kecamatan yang masuk dalam zona risiko tinggi bahaya tsunami antara lain : Kecamatan Teluk Segara (95,38% dari luas kecamatan), Kecamatan Ratu Samban (57,87% dari luas kecamatan), Kecamatan Ratu Agung (56,41% dari luas kecamatan), dan Kecamatan Kampung Melayu (42,95% dari luas kecamatan).
Revisi Model Penilaian Eco-Degree di Kawasan Permukiman Perdesaan Hulu Daerah Aliran Sungai (DAS) Deviana, Fani; Rachman, Arip P
Jurnal Permukiman Vol 10 No 2 (2015)
Publisher : Direktorat Bina Teknik Bangunan Gedung dan Penyehatan Lingkungan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31815/jp.2015.10.78-91

Abstract

Eco-degree (E) adalah satu model penilaian yang dapat digunakan untuk menilai keberlanjutan permukiman perdesaan di hulu Daerah Aliran Sungai (DAS). Hasil penilaian model ini dapat dijadikan masukan dalam penyusunan program penanganan kawasan yang dinilai. Walaupun demikian, terdapat dua catatan untuk model ini : indikasi bahwa model penilaian ini tidak cocok untuk diterapkan pada permukiman hulu DAS di luar Pulau Jawa, dan belum dieksplorasinya posisi model ini terhadap model-model penilaian keberlanjutan kawasan lain yang dikembangkan dalam literatur. Tujuan tulisan ini adalah melakukan verifikasi dan penyempurnaan terhadap keabsahan model sebagai alat untuk menilai keberlanjutan kawasan permukiman perdesaan di hulu DAS yang ada di Pulau Jawa, dan menjelaskan bagaimana posisi model penilaian ini dalam literatur. Pendekatan penelitian explanatory digunakan dalam rangka memenuhi kedua tujuan penelitian ini. Data diperoleh melalui survei terhadap tiga belas responden, yang juga merupakan responden dalam menyusun kerangka penilaian E. Jawaban responden tersebut akan dianalisis melalui metode boxplot dan selanjutnya diverifikasi melalui forum focused group discussion (FGD). Model yang telah disempurnakan tersebut selanjutnya dikonfrontasikan dengan literatur. Berdasarkan hasil analisis dapat disimpulkan bahwa model penilaian E bisa dijadikan alat untuk mengukur keberlanjutan suatu kawasan permukiman perdesaan di hulu DAS yang terdapat di Pulau Jawa. Model penilaian E ini pun relatif konsisten dengan model-model penilaian keberlanjutan kawasan yang didokumentasikan di literatur.
Penyediaan Infrastruktur Pengelolaan Persampahan di Lingkungan Permukiman Kumuh Kota Bandung Kusumawardhani, Veronica; Sutjahjo, Surjono Hadi; Dewi, Indarti Komala; Panjaitan, Naomi Fransiska
Jurnal Permukiman Vol 11 No 2 (2016)
Publisher : Direktorat Bina Teknik Bangunan Gedung dan Penyehatan Lingkungan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31815/jp.2016.11.100-109

Abstract

Pertumbuhan permukiman kumuh merupakan tantangan urbanisasi dewasa ini. Permukiman kumuh ditandai dengan keterbatasan infrastruktur dasar permukiman, salah satunya adalah tidak tersedianya infrastruktur pengelolaan persampahan yang memadai. Kota Bandung sebagai bagian dari kota metropolitan tidak luput dari tantangan ini, sehingga dipilih tiga daerah sebagai perwakilan kawasan kumuh sebagai objek penelitian. Ketiga daerah tersebut adalah Kelurahan Tamansari (kumuh berat), Kelurahan Babakan Ciamis (kumuh sedang), dan Kelurahan Cihargeulis (kumuh ringan).  Analisis kondisi pengelolaan persampahan eksisting dilakukan dengan perhitungan Indeks Kualitas Tanah (IKT) permukiman. Penelusuran kemungkinan perbaikan kondisi infrastruktur pengelolaan persampahan dilakukan dengan metode Analytic Hierarchy Process (AHP) yang membantu pengambilan keputusan dengan perbandingan prioritas dari para pakar di bidang pengelolaan lingkungan hidup. Hasil perhitungan IKT menunjukkan bahwa kualitas tanah Kelurahan Tamansari adalah yang terburuk dengan nilai IKT 18.5, Kelurahan Babakan Ciamis bernilai IKT 47.5, dan Kelurahan Cihargeulis yang terbaik dengan nilai IKT 73.5. Analisis AHP menghasilkan alternatif solusi infrastruktur pengelolaan persampahan terbaik untuk ketiga Kelurahan adalah dengan Komposting untuk mengelola sampah organik dan Bank Sampah untuk mengelola sampah anorganik. Masing-masing jumlah unit yang dibutuhkan adalah 20 unit untuk Kelurahan Tamansari, 8 unit untuk Kelurahan Babakan Ciamis, dan 11 unit untuk Kelurahan Cihargeulis.
Akurasi Perhitungan Faktor Langit dalam SNI 03-2396-2001 tentang Pencahayaan Alami pada Bangunan Gedung Mangkuto, Rizki Armanto
Jurnal Permukiman Vol 11 No 2 (2016)
Publisher : Direktorat Bina Teknik Bangunan Gedung dan Penyehatan Lingkungan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31815/jp.2016.11.110-115

Abstract

Standar nasional Indonesia tentang pencahayaan alami pada bangunan gedung yang berlaku pada saat ini, SNI 03-2396-2001, merekomendasikan penggunaan faktor langit dari langit berawan seragam sebagai indikator ketersediaan pencahayaan alami dalam ruangan. Untuk menghitung faktor langit sebagai fungsi dari posisi relatif (L/D and H/D) dari suatu lubang cahaya vertikal tanpa kaca, disediakan tabel referensi yang dapat digunakan. Meskipun demikian, akurasi dari nilai-nilai yang terdapat dalam tabel tersebut tidak diketahui. Artikel ini melaporkan akurasi dari nilai-nilai tersebut dibandingkan terhadap nilai analitisnya. Dari perhitungan, ditemukan bahwa dari 11 dari 361 nilai yang ada dalam tabel memiliki galat relatif sebesar 10% atau lebih besar. Beberapa contoh hasil yang didapat menggunakan interpolasi nilai-nilai pada tabel dibandingkan dengan hasil yang didapat menggunakan persamaan analitik. Berdasarkan analisis, disarankan untuk menggunakan tabel referensi hanya untuk nilai L/D dan H/D yang berada di dalam rentang 0,1 ~ 6,0. Untuk nilai-nilai di luar rentang tersebut, disarankan untuk menggunakan persamaan analitik untuk menentukan faktor langit.
Karakteristik Limbah Pengawet Boron dan CCB Dalam Proses Pengawetan Bambu Petung dan Gewang Serta Alternatif Pengelolaannya Wardiha, Made Widiadnyana; Pradnyana Dibya, I Ketut Yogi
Jurnal Permukiman Vol 12 No 2 (2017)
Publisher : Direktorat Bina Teknik Bangunan Gedung dan Penyehatan Lingkungan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31815/jp.2017.12.64-69

Abstract

Bambu laminasi dan gewang laminasi merupakan salah satu produk bahan bangunan pengganti kayu. Dalam pemanfaatannya sebagai pengganti kayu, salah satu hal yang harus diperhatikan adalah ketahanan terhadap faktor luar. Upaya untuk meningkatkan ketahanan terhadap faktor luar adalah pengawetan. Bahan pengawet yang sering digunakan adalah boron dan CCB (copper, chrome, boron) dan diawetkan dengan metode perendaman dingin. Kendala yang dihadapi dalam proses pengawetan ini adalah adanya limbah bahan pengawet yang tersisa yang perlu dikelola. Namun, agar bisa diketahui alternatif pengelolaannya, perlu diketahui karakteristik limbahnya terlebih dahulu. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui karakteristik limbah pengawet boron dan CCB dan menganalisa alternatif pengelolaannya. Pengumpulan data karakteristik limbah dilakukan dengan pengujian laboratorium. Data karakteristik direkapitulasi dan dibandingkan dengan baku mutu air limbah berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 2014 dan Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 492/Menkes/Per/IV/2010. Analisis alternatif pengelolaannya dilakukan dengan kajian referensi hasil-hasil penelitian sebelumnya. Hasil yang diperoleh yaitu: 1) limbah pengawet boron dan CCB tidak memenuhi baku mutu air limbah, dan kandungan pencemar pada limbah CCB lebih tinggi daripada boron; 2) Pengolahan limbah pengawet boron dapat dilakukan dengan pengolahan alami. Sedangkan limbah pengawet CCB perlu dilakukan pengolahan secara fisika dan kimia. Kata Kunci: limbah pengawet, boron, CCB, baku mutu, pengelolaan
Transformasi Rumah Adat Balai Padang Sebagai Hunian Tradisional Suku Dayak Bukit Di Kalimantan Selatan Damayanti, Desak Putu; Budhiari, Ni Made Dwi Sulistia; Kuswara, Kuswara
Jurnal Permukiman Vol 12 No 1 (2017)
Publisher : Direktorat Bina Teknik Bangunan Gedung dan Penyehatan Lingkungan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31815/jp.2017.12.33-44

Abstract

Rumah adat Balai Padang merupakan hunian tradisional Suku  Dayak Bukit, yang masih dapat ditemui di Pegunungan Meratus, Provinsi Kalimantan Selatan. Namun kini, keberadaan rumah adat Balai makin sulit ditemui, karena masyarakat lebih memilih untuk membangun rumah kayu dibandingkan rumah adat Balai. Fungsi hunian komunal pada rumah adat Balai telah berubah menjadi fungsi hunian pribadi pada rumah kayu. Hal ini menjadi penyebab rumah kayu sering diasumsikan sebagai rumah tradisional suku Dayak Bukit. Fokus pada tulisan ini untuk menganalis proses dan penyebab terjadinya transformasi dari rumah adat Balai Padang yang merupakan fungsi hunian komunal menjadi rumah kayu yang merupakan fungsi hunian pribadi. Aspek yang dianalisis meliputi transformasi fisik yang terjadi dari rumah adat Balai Padang menjadi rumah kayu, dan faktor-faktor penyebabnya. Transformasi fisik yang terjadi diperoleh melalui metode observasi lapangan, sedangkan faktor-faktor penyebab transformasi diperoleh dari hasil wawancara mendalam. Dari observasi lapangan ditemukan bahwa terdapat perubahan mendasar pada konsep ruang dan fungsi bangunan antara rumah Adat Balai Padang dengan rumah kayu. Faktor penyebab transformasi tersebut adalah keinginan penghuni sendiri. Keleluasaan gerak yang terbatas menjadi faktor dominan pemicu masyarakat memilih untuk membangun hunian pribadi, hal ini dapat dilihat dari sempitnya ruangan menjadi alasan terbesar yang dipilih responden untuk pindah ke rumah kayu. Pada proses membangun,  ditemukan bahwa 80% rumah kayu yang ada dibangun oleh tukang yang hanya menguasai metode membangun rumah konvensional, sehingga menghasilkan desain rumah kayu yang berbeda dengan rumah adat Balai Padang.Â