cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
rindo.herdianto@pu.go.id
Editorial Address
Jalan Panyaungan, Cileunyi Wetan, Kabupaten Bandung 40393
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Permukiman
ISSN : 19074352     EISSN : 23392975     DOI : http://dx.doi.org/10.31815/jp
Core Subject : Engineering,
Karya tulis ilmiah dibidang permukiman yang meliputi kawasan perkotaan/perdesaan, bangunan dan gedung yang ada didalamnya serta sarana dan prasarana pendukungnya.
Arjuna Subject : -
Articles 456 Documents
Preferensi Berhuni dalam Perencanaan Desa Mandiri Energi Berbasis Turbin Mikrohidro dan Panel Surya dengan Pendekatan Hedonic Pricing Method Widya, Amelia Tri; Madi; Fajarwati, Galuh; Damanik, Novita Hillary Christy
Jurnal Permukiman Vol 20 No 2 (2025)
Publisher : Direktorat Bina Teknik Bangunan Gedung dan Penyehatan Lingkungan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31815/jp.2025.20.78-85

Abstract

Instalasi turbin mikrohidro dan panel surya sebagai penyedia listrik di Dusun Ogan Jaya, Desa Sinar Jawa, Lampung menawarkan potensi besar dalam mewujudkan Desa Mandiri Energi (DME). Namun, potensi tersebut belum didukung dengan perencanaan spasial yang terintegrasi. Model perencanaan DME dapat diidentifikasi melalui preferensi berhuni. Dengan teridentifikasinya preferensi berhuni, intervensi perencanaan spasial dapat sesuai dengan kebutuhan dan kebiasaan lokal. Penyesuaian tersebut berkontribusi terhadap keberhasilan program DME. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi preferensi berhuni melalui nilai hunian dengan pendekatan “Hedonic Pricing Method” (HPM). Penelitian dilakukan dengan menguji atribut hunian yang mempengaruhi nilai hunian. Atribut hunian yang diuji, diwakili oleh (1) kemudahan aksesibilitas; (2) fasilitas pendukung DME; (3) hubungan sosial; (4) identitas desa. Data yang terkumpul dianalisis dengan regresi berganda. Hasil analisis menunjukkan bahwa masyarakat belum sepenuhnya memberikan respon positif terhadap penggunaan Energi Baru Terbarukan (EBT) baik secara individu maupun kelompok. Namun, hunian yang hemat energi dapat menaikkan nilai hunian. Dalam perencanaannya, hunian harus dekat pusat desa. Masyarakat juga menginginkan rumah tinggal dekat dengan sungai. Model perencanaan DME memerlukan keterlibatan berbagai pemangku kepentingan dan perencanaan yang matang.
Penerapan Fungsi pada Desain Ruang Terbuka Hijau untuk Kota Berkelanjutan Ekawati, June; Rubi Ari Musaddad; Putri Nur Ajizah; Syarif Fauzan; Imas Eliani; Tate Wijaya; Muhammad Zulfikar; Muhammad Wilman Fadlirrahman
Jurnal Permukiman Vol 20 No 2 (2025)
Publisher : Direktorat Bina Teknik Bangunan Gedung dan Penyehatan Lingkungan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31815/jp.2025.20.61-74

Abstract

Peningkatan jumlah penduduk dan aktivitas di perkotaan akan makin meningkatkan pula kebutuhan lahan ruang terbuka hijau yang berperan penting bagi kehidupan masyarakat di perkotaan karena keberadaannya akan mempengaruhi indeks keberlanjutan suatu kota. Upaya yang perlu terus dilakukan untuk mewujudkan Bandung sebagai kota berkelanjutan adalah dengan menambah RTH baru dan mengoptimalkan fungsi RTH pada taman-taman kota yang sudah ada. Penelitian yang berlokasi di Kota Bandung ini bertujuan mengeksplorasi penerapan fungsi RTH pada elemen desain Ruang Terbuka Hijau dan membuat evaluasi dan penilaian berdasarkan indikator fungsi RTH pada dua lokasi studi yaitu Kiara Artha Park dan Taman Lansia di Kota Bandung. Metode yang dipakai adalah kualitatif dengan analisis deskriptif. Kesimpulan dari hasil penelitian adalah bahwa penerapan fungsi RTH yaitu fungsi ekologi, sosial-budaya, ekonomi dan estetika telah diterapkan di kedua lokasi studi pada vegetasi, material tutupan lahan, area komersial, kolam, elemen desain lansekap pada site, fasilitas dan aktivitas masyarakat. Namun masih terdapat beberapa indikator fungsi yang penerapannya kurang optimal, yaitu fungsi ekologi dan ekonomi pada Kiara Arta Park yang masih kurang baik sehingga perlu ditingkatkan, serta fungsi sosial-budaya dan estetika yang belum baik pada Taman Lansia sehingga perlu elemen maupun fasilitas tambahan agar bisa berfungsi lebih baik.
Identifikasi Elemen Sense of Place untuk Mendukung Eksistensi Kampung Wisata Studi Kasus: Kampung Ketandan Surabaya Sadendra, Sara Amalia; Setijanti, Purwanita; Rachmawati, Murni
Jurnal Permukiman Vol 20 No 2 (2025)
Publisher : Direktorat Bina Teknik Bangunan Gedung dan Penyehatan Lingkungan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31815/jp.2025.20.96-107

Abstract

Saat ini di Indonesia banyak terdapat pengembangan permukiman kampung kota menjadi kampung wisata. Pengembangan tersebut menjadikan adanya identitas baru bagi suatu kampung. Hal ini menjadi menarik jika dilihat dari kacamata rasa tempat melalui elemen form, activity, dan meaning terhadap kampung. Rasa tempat merupakan suatu fenomena yang dirasakan langsung oleh manusia terhadap tempat dan juga memiliki peranan dalam mendukung eksistensi dan keberlanjutan suatu tempat wisata. Sejalan dengan Sustainable Development Goals Nomor 11, yaitu kota dan permukiman yang inklusif berkelanjutan, maka eksistensi kampung wisata sebagai ruang bermukim yang berbudaya perlu diperhatikan. Penelitian ini berlokasi di Kampung Ketandan yang merupakan kampung asli di tengah perkotaan Surabaya dan menjadi destinasi wisata.  Metode penelitian yang digunakan merupakan kombinasi kualitatif kuantitatif melalui observasi, dokumentasi, pemetaan, wawancara, dan kuesioner kepada masyarakat Kampung Ketandan sebagai responden representatif. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa elemen rasa tempat dapat mendukung eksistensi kampung wisata melalui adanya keterikatan masyarakat dengan kampungnya. Hal ini ditunjukkan oleh masyarakat yang melakukan kegiatan secara komunal yang kekeluargaan dan melangsungkan kegiatan ritual budaya. Kegiatan wisata tidak mengganggu masyarakat, bahkan menjadi peluang bisnis untuk membuat kampungnya menjadi lebih hidup. Oleh sebab itu, Kampung Ketandan dapat menjadi pusat edukasi budaya kampung kota bagi bagi masyarakat luas.
Kajian Hunian Abdi Dalem Terhadap Kedudukannya dalam Memenuhi Kebutuhan Self Respect dan Self Esteem Karlina Hidayati, Tsabita; Septanti, Dewi; Setijanti, Purwanita
Jurnal Permukiman Vol 20 No 2 (2025)
Publisher : Direktorat Bina Teknik Bangunan Gedung dan Penyehatan Lingkungan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31815/jp.2025.20.86-95

Abstract

Hunian ideal merupakan hunian yang mampu memenuhi kebutuhan fisik maupun psikologis penghuninya. Kebutuhan akan penghargaan diri (self-respect) dan harga diri (self-esteem) penghuni dapat diwujudkan melalui representasi arsitektur yang mencerminkan status sosial individu. Status seseorang bukan dilihat dari jumlahnya tetapi dari jenis dan bagaimana cara ditampilkannya. Namun, nilai-nilai budaya lokal tetap menjadi prinsip utama dalam pembentukan identitas hunian.  Bangunan sebagai penanda dan simbol status memiliki empat kerangka hunian yang perlu diperhatikan yaitu culture, stage in life cycle, personality, dan needs. Urgensi penelitian ini terletak pada pentingnya memahami self-respect dan self-esteem pada hunian khusus, yaitu hunian abdi dalem di kawasan Keraton Surakarta. Dalam konteks permukiman, dapat dilihat bahwa budaya menjadi hal utama dalam pembentukan hunian abdi dalem. Penelitian ini memahami keterkaitan antara budaya dan pemenuhan kebutuhan psikologis penghuni pada konteks hunian tradisional. Penelitian ini merupakan penelitian arsitektur dan psikologi lingkungan yang di mana self-respect (harga diri) dan self-esteem (penghargaan diri) merupakan faktor psikologis. Metode yang digunakan adalah analisis deskriptif dengan mengkaji karakteristik hunian ke dalam konteks hunian abdi dalem. Pengumpulan data mengenai regulasi Keraton, tata letak hunian, dan tampilan hunian didapatkan melalui observasi dan studi terdahulu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa self-respect dan self-esteem dari hunian abdi dalem lebih mendahulukan kepentingan budaya dan keraton dibandingkan kepentingannya sendiri demi menunjukkan pengabdian yang sempurna, sehingga fasad hunian tidak mencerminkan faktor psikologis melainkan dapat dilihat pada penataan dalam huniannya.
Tantangan Pengubahsuaian (Retrofitting) Gedung Cipta Karya Jawa Timur Menjadi Bangunan Gedung Hijau Kusumaningrum, Diah; Sulistiyanto , Totok
Jurnal Permukiman Vol 20 No 2 (2025)
Publisher : Direktorat Bina Teknik Bangunan Gedung dan Penyehatan Lingkungan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31815/jp.2025.20.108-121

Abstract

Pengubahsuaian (retrofitting) bangunan yang sudah ada (eksisting) menuju sertifikasi Bangunan Gedung Hijau (BGH) tahap pemanfaatan memerlukan pendekatan komprehensif yang mencakup aspek administratif, teknis, dan perilaku pengguna. Studi ini menganalisis kesiapan Gedung Cipta Karya Jawa Timur melalui metode studi kasus dengan pendekatan mixed-methods. Data diperoleh dari tinjauan dokumen, audit energi internal, simulasi teknis, dan survei persepsi pengguna terhadap 50-60 responden. Ditinjau dari administratif, gedung telah menunjuk manajer energi dan menyusun rencana retrofit, namun belum sepenuhnya memenuhi persyaratan dokumen legal bangunan seperti Persetujuan Bangunan Gedung (PBG), Sertifikat Laik Fungsi (SLF), dan dokumen persetujuan lingkungan, sebagai persyaratan sertifikasi BGH Tahap Pemanfaatan. Aspek teknis menunjukkan nilai OTTV sebesar 33,9 W/m² telah memenuhi batas SNI 6389:2020, dan simulasi cooling load menunjukkan potensi penurunan konsumsi energi sebesar ±25% dan emisi GRK ≥20%. Namun, audit internal dan persepsi pengguna mengindikasikan bahwa kenyamanan termal dan pencahayaan masih perlu ditingkatkan. Ditinjau dari perilaku, skor partisipasi pengguna tinggi (rata-rata >4 dari skala 5), menunjukkan kesiapan menjalankan efisiensi secara manual meski tanpa sistem otomatis. Temuan ini menegaskan bahwa keberhasilan retrofit BGH sangat bergantung pada kesiapan administratif, efisiensi teknis, serta keterlibatan pengguna secara aktif pasca-retrofit.
Penanggulangan Getaran pada Pelat Lantai Beton Bertulang Bachroni, Cecep Bakheri
Jurnal Permukiman Vol 10 No 1 (2015)
Publisher : Direktorat Bina Teknik Bangunan Gedung dan Penyehatan Lingkungan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31815/jp.2015.10.1-10

Abstract

Getaran pada sistem pelat lantai gedung bertingkat dapat terjadi akibat eksitasi yang timbul dari kegiatan manusia yang bersifat ritmik seperti gerakan berlari, menari dan aerobik. Getaran yang berlebihan pada sistem pelat lantai gedung bertingkat, umumnya tidak terkait dengan keamanan gedung, tapi terkait dengan ketidaknyamanan penghuninya. Getaran yang berlebihan pada sistem pelat lantai dapat terjadi pada gedung bertingkat yang memiliki : (a) sistem pelat lantai yang ringan karena penggunaan bahan bangunan mutu tinggi atau bahan komposit pada elemen-elemen struktur gedung seperti balok yang memungkinkan elemen-elemen struktur tersebut dirancang lebih kecil atau lebih tipis, (b) sistem lantai berbentang panjang dengan kekakuan yang rendah dimana frekuensi alami lantai yang dominan cenderung rendah dan mendekati frekuensi eksitasi, dan (c) sistem lantai dengan nilai damping yang rendah sebagai akibat dari penggunaan partisi dan barang-barang furnitur yang lebih sedikit. Ketiga hal tersebut menyebabkan getaran pada sistem pelat lantai menjadi berlebihan dan menyebabkan rasa tidak nyaman dan gangguan bagi penghuni gedung. Getaran pada sistem pelat lantai yang menimbulkan ketidaknyamanan tersebut dapat terjadi pada sistem pelat lantai yang memiliki frekuensi getar (fn) kurang dari 8 Hz. Untuk mengurangi getaran tersebut frekuensi (fn) sistem pelat harus ditingkatkan hingga mendekati 8 Hz. Makalah ini membahas metode reduksi getar pada sistem pelat lantai beton bertulang melalui penambahan kekakuan pada balok induknya dengan menggunakan rangka baja hollow yang ditempelkan di kedua sisi badan balok induk tersebut. Sebagai studi kasus, metode ini diterapkan pada gedung yang berfungsi sebagai tempat ibadah, berlokasi di Indonesia bagian timur. Lantai-2 gedung ini mengalami getaran yang berlebihan ketika digunakan untuk kegiatan yang bersifat ritmik. Dalam studi ini, sistem lantai dianalisis dengan menggunakan pendekatan analisis modal pada program SAP.2000. 11.1. Hasil analisis memperlihatkan bahwa penanggulangan getaran menggunakan rangka batang baja hollow yang ditempelkan dikedua sisi badan balok induk cukup efektif dalam mengubah frekuensi getar sistem lantai dari semula 3,6 Hz menjadi 8,62 Hz.
Karakteristik Aplikasi Bering (Beton Ringan) Alwa pada Komponen Panel Risha (Rumah Instan Sederhana Sehat) Sulistyowati, Nurul Aini; Rakhman, Johnny
Jurnal Permukiman Vol 10 No 1 (2015)
Publisher : Direktorat Bina Teknik Bangunan Gedung dan Penyehatan Lingkungan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31815/jp.2015.10.11-18

Abstract

Artificial Light Weight Aggregate (ALWA) adalah salah satu agregat buatan yang mempunyai bobot sangat ringan berkisar antara 400~1800 kg/m3. Rumah RISHA merupakan produk litbang yang komponen pracetaknya menggunakan beton normal dengan kuat tekan 25 MPa. Penelitian ini akan membuat panel RISHA menggunakan bering ALWA (beton ringan ALWA). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kekuatan komponen struktur panel RISHA bering ALWA. Pembuatan bering ALWA menggunakan rancangan acak sederhana 3 perlakuan agregat. Perlakuan A : persentase agregat kasar ukuran 10 mm ~ 20 mm sebanyak 70 % dan ukuran 5 mm ~ 10 mm sebanyak 30 % serta persentase agregat halus ukuran 1 mm ~ 2 mm sebanyak 70 % dan ukuran 0 mm ~ 1 mm sebanyak 30 %, dengan kondisi agregat kering udara. Perlakuan B sama dengan perlakuan A, dengan kondisi agregatnya jenuh permukaan. Perlakuan C : persentase agregat kasar ukuran 10 mm ~ 20 mm sebanyak 50 % dan ukuran 5 mm ~ 10 mm sebanyak 50 % serta persentase agregat halus ukuran 1 mm ~ 2 mm sebanyak 50 % dan ukuran 0 mm ~ 1 mm sebanyak 50 %, dengan kondisi agregat jenuh permukaan. Rancangan campuran bering ALWA dengan kuat tekan rencana 25 MPa. Benda uji yang dibuat berbentuk silinder dengan diameter 15 cm dan tinggi 30 cm untuk pengujian kuat tekan beton pada umur 7 hari, 14 hari dan 28 hari. Pembuatan komponen panel RISHA menggunakan komposisi campuran dari hasil pengujian kuat tekan yang tertinggi dan mempunyai berat yang ringan. Pengujian yang dilakukan pada rangkaian komponen adalah pengujian kuat lentur dan pengujian kekuatan struktur terhadap beban gempa. Berdasarkan hasil uji kuat lentur, rangkaian komponen RISHA bering ALWA memenuhi persyaratan untuk bangunan rumah tinggal 2 lantai. Portal komponen RISHA bering ALWA termasuk ke dalam struktur gedung daktail parsial seperti yang ditentukan dalam SNI 03 – 1726 -2002, sehingga untuk analisis gempa statis diambil nilai R (faktor reduksi gempa) = 4,45.
Analisis Faktor Berpengaruh terhadap Kepuasan Penghuni Rumah Susun Sewa Studi Kasus Rumah Susun Sewa Kemayoran Setiadi, Harri A.
Jurnal Permukiman Vol 10 No 1 (2015)
Publisher : Direktorat Bina Teknik Bangunan Gedung dan Penyehatan Lingkungan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31815/jp.2015.10.19-36

Abstract

Survei di dua lokasi rusun sewa (Kemayoran dan Cengkareng) mengungkapkan adanya berbagai ketidakpuasan dan kepuasan sekaligus dalam beberapa aspek pengelolaan rusun. Diantaranya atribut fisik rusun yang sebagian besar tidak terawat dan rusak membuat penghuni merasa tidak puas. Sebaliknya, indikator tingkat hunian dan kepindahan sukerala mengungkapkan tingginya kepuasan tinggal di rusun. Kajian literatur mengungkapkan ketidakpuasan tinggal merupakan indikasi adanya berbagai persoalan yang membutuhkan penyelesaian, bila ketidakpuasan tetap dibiarkan apa adanya tanpa ada upaya untuk mengetahui akar persoalan dan merumuskan alternatif penyelesaiannya maka dikhawatirkan persoalan ketidakpuasan akan mempengaruhi implementasi kebijakan program rusun secara keseluruhan. Penelitian ini merupakan lanjutan dari penelitian sebelumnya dan dilakukan untuk menjelaskan lebih detil dua puluh lima variabel independen yang diduga berkorelasi dengan kepuasan atau ketidakpuasan lima atribut rusun Kemayoran, serta elaborasi beberapa variabel independen tersebut dengan kondisi faktual. Survei lanjutan dilakukan terhadap penghuni rusun dan analisis data hasil survei menggunakan Metoda Koefisien Korelasi Pearson untuk menentukan korelasi antar variabel independen dengan atribut rusun dan Regresi Berganda untuk menentukan Koefisien Determinasi. Hasil penelitian ini memperlihatkan secara indikatif terdapat empat variabel independen yang secara linear berkorelasi positif kuat dengan kepuasan terhadap atribut rumah susun, tujuh variabel independen berkorelasi positif moderat, dan sisanya berkorelasi lemah dan cenderung tidak berkorelasi.
Penerapan Sistem Evakuasi Tsunami di Kawasan Perkotaan Kabupaten Cilacap, Kasus : Kecamatan Cilacap Selatan Rachman, Arip Pauzi; Suryo, Mahatma Shindu
Jurnal Permukiman Vol 10 No 1 (2015)
Publisher : Direktorat Bina Teknik Bangunan Gedung dan Penyehatan Lingkungan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31815/jp.2015.10.37-48

Abstract

Kabupaten Cilacap merupakan salah satu daerah di Pantai Selatan Jawa yang terkena bencana tsunami pada tahun 2006. Pasca terjadinya tsunami tersebut, pemerintah Kabupaten Cilacap aktif mengembangkan sistem evakuasi dari bahaya tsunami di Kabupaten tersebut. Kecamatan Cilacap Selatan merupakan salah satu kawasan yang dengan ancaman bencana tsunami paling tinggi di Kabupaten Cilacap. Tulisan ini bertujuan untuk mengidentifikasi penerapan sistem evakuasi tsunami di Kecamatan Cilacap Selatan. Metoda penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Data primer dikumpulkan melalui : observasi lapangan, penyebaran kuesioner dan wawancara terstruktur. Sementara itu, data sekunder diperoleh melalui studi literatur dan akuisisi dokumen pemerintah. Sistem evakuasi yang dimaksud dalam penelitian ini dibagi ke dalam aspek : (a) jalur evakuasi, (b) lokasi evakuasi, (c) fasilitas pendukung evakuasi tsunami, dan (d) kesiapsiagaan masyarakat. Kesimpulan dari penelitian ini, hanya pada aspek pengembangan kesiapsiagaan masyarakat saja, penerapan sistem evakuasi tsunami ini berhasil dilaksanakan di Kecamatan Cilacap Selatan.
Pengaruh Perkembangan Permukiman Swadaya terhadap Upaya Pelestarian Cagar Budaya Tamansari Sulistyanto, Indro; Krisnawati, Eny; Karsono, Danarti
Jurnal Permukiman Vol 10 No 1 (2015)
Publisher : Direktorat Bina Teknik Bangunan Gedung dan Penyehatan Lingkungan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31815/jp.2015.10.49-60

Abstract

Situs Cagar Budaya Tamansari memiliki nilai sejarah yang tinggi, sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari keberadaan Kraton Yogyakarta, yang pada awalnya berperan sebagai tempat Raja dan Kerabat Kraton beristirahat dan mesanggrah (menenangkan pikiran). Permasalahan yang terjadi adalah sisa-sisa artefak yang ada bercampur-baur dengan perkembangan perumahan dan kegiatan usaha di sekitarnya, menurun eksistensinya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memperoleh gambaran terhadap tingkat kerusakan yang terjadi pada artefak berupa elemen-elemen benda cagar budaya yang ada. Metoda yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan menggunakan pisau analisis berupa kerangka gagasan pelestarian situs Cagar Budaya Tamansari yang kita pakai untuk menganalisis dan mensintesis tingkat kerusakan yang diakibatkan oleh perkembangan permukiman swadaya yang tidak terkendali, dengan melakukan analisis terhadap variabel situs Cagar Budaya Tamansari terhadap variabel perkembangan permukiman swadaya di sekitarnya. Beberapa elemen-elemen peninggalan berupa artefak, masih dapat ditengarai dalam bentuk puing-puing yang tidak lagi utuh, keberadaannya masih sangat menunjang untuk memberikan gambaran situasi Kawasan Cagar Budaya Tamansari pada keadaan aslinya. Hasil akhir dari kegiatan penelitian menunjukkan adanya korelasi antara pergeseran perilaku masyarakat dalam pengembangan dan pembangunan permukiman swadaya terhadap upaya konservasi bangunan cagar budaya