cover
Contact Name
Abu Muslim
Contact Email
abumuslim@kemenag.go.id
Phone
-
Journal Mail Official
abumuslim@kemenag.go.id
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Al-Qalam
ISSN : 08541221     EISSN : 2540895X     DOI : -
Core Subject : Religion,
Al-Qalam Jurnal Penelitian Agama dan Sosial Budaya adalah jurnal ilmiah yang diterbitkan 2 edisi dalam setahun oleh Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar. Terbit sejak tahun 1990. Fokus Kajian Jurnal berkaitan dengan penelitian Agama dan Sosial Budaya. Lingkup Jurnal meliputi Bimbingan Masyarakat Agama dan Layanan Keagamaan, Pendidikan Agama dan Keagamaan, Naskah keagamaan Kontemporer, Sejarah sosial keagamaan, Arkeologi religi, Seni dan Budaya Keagamaan Nusantara.
Arjuna Subject : -
Articles 662 Documents
RITUAL BERANGKAT HAJI MASYARAKAT MUSLIM GORONTALO Muhammad Irfan Syuhudi
Al-Qalam Vol 25, No 1 (2019)
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (280.738 KB) | DOI: 10.31969/alq.v25i1.726

Abstract

Salah satu Rukun Islam adalah melaksanakan ibadah haji ke Baitullah, Mekkah. Meski begitu, ibadah haji merupakan kewajiban bagi orang-orang Islam yang dianggap mampu melaksanakannya. Dalam tradisi masyarakat Islam di Indonesia, sebagian besar masyarakat masih melaksanakan serangkaian ritual sebelum melaksanakan ibadah haji. Ritual haji tersebut bahkan dijadikan tradisi oleh calon jamaah haji beserta keluarga, seperti yang terlihat pada masyarakat Gorontalo berupa ritual “Baca Doa”, yang di dalamnya mencakup Salawati (Selawat Nabi Muhammad SAW), Barzanji, Tadarusan (mengaji Al-Quran), dan Zikir. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan ritual “Baca Doa” calon jamaah haji sebelum berangkat ke Tanah Suci, dan gelar haji dikaitkan dengan konteks sosial pada masyarakat di Kota Gorontalo. Jenis penelitian ini adalah kualitatif, yang menyajikan data-data secara deskriptif, sedangkan penentuan informan dilakukan secara sengaja (purposive). Pengumpulan data melalui wawancara, observasi, dan penelusuran data sekunder terkait konteks tulisan. Hasil penelitian menunjukkan, ritual haji “Baca Doa” pada masyarakat Gorontalo terbagi ke dalam tiga tahap, yaitu sebelum berangkat haji, saat jamaah berada di Tanah Suci, dan penjemputan jamaah oleh keluarga. Ritual “Baca Doa” dimaksudkan untuk memperoleh kemudahan, keselamatan, kesehatan sejak calon jamaah haji meninggalkan rumah hingga pulang ke rumah, serta menjadi Haji Mabrur. Selain “Baca Doa”, ada juga ritual yang dinamakan “pembersihan diri”, yang dimaknai sebagai refleksi diri, bahwa orang yang merencanakan melaksanakan haji sebaiknya memperbanyak mendekatkan diri kepada Allah, karena mereka akan menuju ke tempat yang disucikan Allah. Gelar haji bagi orang Gorontalo dapat juga menaikkan status sosial mereka di lingkungan sosialnya. Seorang haji memperoleh keistimewaan saat menghadiri upacara sosial dan upacara siklus hidup.
PENGEMBANGAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI) PADA KURIKULUM SMP ISLAM TERPADU AL FAHMI PALU Asnandar Abubakar
Al-Qalam Vol 25, No 1 (2019)
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (337.343 KB) | DOI: 10.31969/alq.v25i1.697

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengembangan pendidikan agama Islam pada kurikulum sekolah Islam terpadu. Lokus penelitian adalah SMP IT Al Fahmi Palu. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yang bersifat deskriptif eksploratif.  Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara, observasi, telaah dokumen. Kurikulum pada SMP IT Al Fahmi Palu Kurikulum SMP IT Al Fahmi Palu, menyesuaikan dengan ciri khas sekolah Islam terpadu yaitu mengintegrasikan nilai-nilai atau ilmu Islam baik yang bersifat Qualiyah maupun Kauniyah dalam suatu kerangka atau bangunan kurikulum. Salah satu tujuannya adalah peserta didik memiliki kepribadian dan akhlak yang baik, memiliki akidah yang bersih, pikiran dan jasmani yang sehat, serta hidup disiplin dan tertib. Pelaksanaan pendidikan agama Islam (PAI) selain bersifat monolitik yang berdiri sendiri juga terintegrasi pada proses pembelajaran baik di dalam maupun di luar kelas. Pengembangan PAI pada kurikulum SMP IT Al Fahmi dapat dilihat dari penambahan jam pelajaran pada mata pelajaran pendidikan agama Islam, Al Qur’an, dan bahasa Arab, integrasi nilai-nilai Islam pada mata pelajaran umum dan pelajaran ekstrakurikuler seperti memanah, renang, dan silat, dibuka kelas tahfidz bagi peserta didik yang memiliki bakat untuk meningkatkan hafalan Al Qur’an, adanya kegiatan Qur’an camp, serta sanksi hafalan beberapa ayat Al Qur’an bagi peserta didik yang melanggar tata tertib sekolah
MODEL PENDIDIKAN ANTI KORUPSI DALAM PERSPEKTIF ISLAM: TAWARAN KONSEPTUAL TCW DI ERA MILENIAL mukodi mukodi
Al-Qalam Vol 25, No 1 (2019)
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (433.477 KB) | DOI: 10.31969/alq.v25i1.685

Abstract

Abstrak--Artikel ini lahir dari refleksi eklektif atas persoalan korupsi yang tumbuh kembang dengan subur di Indonesia. Dalam kesejarahan Islam, korupsi telah ada dimasa kenabian, dan pelakunya dikutuk keras. Bahkan, secara metaforis Nabi Muhammad Saw pun mencontohkan Siti Fatimah, putri Nabi sendiri, jika kedapatan mencuri akan dipotong tangannya.  Hanya saja, pelaku dan perilaku koruptif tetap saja terjadi-- di masa Nabi, sahabat, Tabi’in-Tabi’in, Tabi’it-Thabi’it--hingga kini. Hasil kajian ini menjelaskan bahwa model pendidikan anti korupsi dalam perspektif Islam secara aplikatif dapat diterapkan, sebagai berikut: (1) pendidikan dan pemberantasan korupsi harus dilakukan simultan dan berkelanjutan melalui konsep tripusat pendidikan, yakni mulai dari pendidikan keluarga, sekolah dan masyarakat; (2) pendidikan anti korupsi secara aplikatif dapat didesain melalui komunitas Teenager Corruption Watch (TCW) dengan menggunakan metode role playing. Secara teknis, TCW dapat diretas di lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat; (3) strategi dan implementasi pendidikan anti korupsi dapat dilakukan melalui model active learning sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai secara efektif. Dengan demikian, generasi mellenial akan dapat terhindar dari virus korupsi yang telah mendarah daging, turun temurun dari generasi ke generasi di Indonesia.
TORAYAAN MENCIPTA HARMONI MERAYAKAN KERUKUNAN (PRAKTIK KERUKUNAN UMAT BERAGAMA DI TONDOK LEPONGAN BULAN TANA TORAJA) Paisal Umar
Al-Qalam Vol 25, No 2 (2019)
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (351.984 KB) | DOI: 10.31969/alq.v25i2.744

Abstract

Praktik kerukunan antar umat beragama pada masyarakat Tana Toraja terbentuk dan berjalan secara alamiah. Realitas masyarakat di Kabupaten Tana Toraja setidaknya menganut 4 agama/kepercayaan yaitu pertama, Aluk Todolo (Agama/kepercayaan Lokal), kedua, agama Kristen yang merupakan agama mayoritas, ketiga yaitu agama Katholik dan keempat Agama Islam. Warga Toraja dalam kehidupan sosialnya tetap berdampingan sejak lama tanpa terjadi konflik sampai saat ini. Studi ini memfokuskan pada bagaimana warga Tana Toraja yang terdiri dari beberapa agama itu bisa hidup bersama secara damai? dan Bagaimana cara masyarakat dari komunitas bersangkutan menjalankan relasi yang aktif dan harmonis  dalam berbagai aspek kehidupan?. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yang didukung dengan wawancara mendalam, pengamatan terlibat dan studi literature. Penelitian lapangan dilaksanakan di wilayah Tana Toraja utamanya di Kecamatan Gandangbatu Sillanan karena lokasi tersebut merupakan wilayah yang terbanyak pemeluk agama Islamnya. Temuan studi ini menunjukkan bahwa praktik kerukunan umat beragama tersebut tercipta berkat kearifan lokal dan kecintaan warga terhadap kehidupan yang damai dalam kebersamaan.
TEOLOGI DAMAI AGAMA ISLAM, HINDU DAN KRISTEN DI PLAJAN PAKIS AJI JEPARA Ahmad Saefudin; Fathur Rohman
Al-Qalam Vol 25, No 2 (2019)
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (20.681 KB) | DOI: 10.31969/alq.v25i2.733

Abstract

Penelitian ini berusaha mengungkap manifestasi teologi inklusif tokoh agama Islam, Hindu, dan Kristen di Desa Plajan Kecamatan Pakis Aji Kabupaten Jepara. Dalam prosesnya, peneliti terlebih dahulu mendeskripsikan relasi tokoh agama dan persepsi mereka tentang teologi damai. Penelitian termasuk penelitian lapangan (field research) melalui pendekatan qualitative research. Peneliti menggunakan teknik observasi peran serta, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Observasi peran serta dilakukan untuk menyelami persepsi tokoh agama Islam, Hindu, dan Kristen tentang konsep perdamaian perspektif agama. Sedangkan wawancara dilakukan dengan berdialog langsung dengan aktor-aktor kunci seperti kiai atau ustad, pendeta, dan agamawan Hindu selaku agen perdamaian. Sedangkan teknik dokumentasi dilakukan dengan cara menelusuri dokumen-dokumen terkait baik berupa catatan, foto, atau artikel tentang manifestasi teologi inklusif di desa Plajan. Ternyata, media silaturahmi antar kelompok elite agamawan merupakan salah satu faktor penting berkembangnya relasi damai. Bagi orang Islam, persepsi damai tersebut mengacu kepada doktrin Alquran, misalnya QS. al-Baqarah: 256 yang mengajarkan setiap  muslim untuk saling menghormati dan respect terhadap umat agama lain. Perspektif Hindu, teologi damai direpresentasikan oleh ajaran tat twam asi (larangan bertikai, menghindari pertengkaran dengan tetangga, dan jika dicubit merasa sakit, maka tidak boleh mencubit orang lain), cung taka (menghindari nalar truth claim), vasudhaiva kutumbakam (tidak mudah terpancing provokasi), om shanti shanti shanti om (menciptakan iklim perdamaian), dan óm swastyastu (kegiatan doa bersama). Sedangkan teologi damai agama Kristen diwakili oleh Matius 5:39 dan Matius 7:12. Keduanya dimanifestasikan dengan cara bersikap rendah hati terhadap agama lain, menjauhi watak pendendam, dan menjaga masjid saat umat muslim menunaikan shalat Idul Fitri dan Idul Adha. This study aims to uncover inclusive theology manifestations of Muslim, Hindu and Christian religious leaders at Plajan village, Jepara, Indonesia. The researcher described the relations between religious leaders and perceptions of peaceful theology. Research is qualitative research by field research. The researcher used participant observation, in-depth interviews, and documentation. The friendship media between religious elite groups was an important factor in developing peaceful relations. For Muslims, it is in line with Qur'an doctrine, like at Surah al-Baqarah verse 256 to respect each other. The peaceful theology of Hindu is represented in tat twam asi teachings (avoiding fighting and quarrels), cung taka (avoiding the truth claim), rationalvasudhaiva kutumbakam (not provoked easily), om shanti shanti shanti om (creating peace climate), and swastyastu óm (prayer activities). Christianity represents Matthew 5:39 and Matthew 7:12. Both are manifested by being humble towards other religions, avoiding vengeful character, and helping prayers Eid al-Fitr and Eid- alAdha.Keywords: peacefull theology, religion, relation, perception, manifestation
GENEALOGI PETILASAN SUNAN KUDUS Mas'udi Mas'udi
Al-Qalam Vol 19, No 2 (2013)
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (119.867 KB) | DOI: 10.31969/alq.v19i2.159

Abstract

Raden Ja’far Shodiq, Sunan Kudus dalam usaha memasyarakatkan Islam ke seluruh pelosok Kudus,tidak hanya menempatkan sentralitas penyiaran agama di kawasan Kauman tempat berdirinyaMasjid al-Aqsha atau Masjid Menara Kudus. Salah satu tempat didirikannya masjid luar dari kawasanKauman adalah Masjid Wali Al-Ma’mur Desa Jepang Kecamatan Mejobo Kabupaten Kudus. Penelitianini termasuk penelitian sejarah sosial bersifat kualitatif. metode pengumpulan data dilakukan secaraheuristik, interpretasi, kritik sumber, dan historiografi. Sumber datanya adalah sumber tertulis,material, dan lisan. Penelitian ini dilangsungkan mulai Februari 2012 sampai Juli 2012. Hasil penelitianini menemukan bahwa Masjid Wali Al-Ma’mur Desa Jepang memiliki keterhubungan sejarah denganMasjid Menara Kudus yang pembangunannya bertarikh tahun 956 H (1549 M). Realitas ini tampak darikesamaan tata ruang yang mengitari Masjid Wali Al-Ma’mur Desa Jepang. Peletakan Gapura di bagiandepan masjid dan makam para tokoh masyarakat di zamannya diletakkan di belakang masjid serupadengan ditempatkannya makam Sunan Kudus di belakang Mesjid Menara Kudus.
KHAIDIR SANGNGAJI DIFABEL YANG MENDIRIKAN PESANTREN BABUSSA’ADAH BAJO KABUPATEN LUWU SULAWESI SELATAN (1957 –2019) Risma Widiawati Rusli
Al-Qalam Vol 25, No 2 (2019)
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (502.347 KB) | DOI: 10.31969/alq.v25i2.756

Abstract

“When there is a will, there will be a way”, this proverbs is held firmly by Khaidir Sangngaji, a person born with a disability from a simple family. Only determination and perseverance are the capital of advancing education in the area. In 1995 he began to demonstrate his leadership skills with his success in inviting the Bajo community to jointly build Islamic boarding schools. Based on this background, this research was conducted to reveal the biography of Khaidir Sangngaji and his struggle in the world of education. The study was conducted in Bajo Subdistrict, Luwu Regency, South Sulawesi, using the History method through an oral history approach. The results of the study showed that Khaidir Sangngaji who was born with disabilities with his arms and legs was stiff, had to fight hard to get an education. That condition led him to study in a pesantren in Java. In 1995, Khaidir Sangngaji returned to Luwu to serve in the Islamic Boarding School Datuk Sulaiman, while completing his undergraduate education. He then built a pesantren in his village, with the name Babussa'adah Bajo Modern Islamic Boarding School. Persuasive strategies carried out against regional leaders and the Luwu community and produces four important things, namely; 1) establishment of an organization of pesantren foundations, 2) fundraising for development 3) retrieval of strategic locations namely a level of Madrasah Tsanawiyah which was later transformed into Islamic boarding schools, and 4) bringing religious teachers to support pesantren. At present, Islamic boarding schools have cared for six levels of education, namely: Early Childhood Education (PAUD), Raudhatul Athfal, Ibtidaiyah Madrasah, Madrasah Tsanawiyah, Madrasah Aliyah, and Tahfidzul Quran.
PERSEPSI KEBANGSAAN SISWA SLTA KRISTEN DI KOTA MANADO Muhammad Ali Saputra
Al-Qalam Vol 25, No 2 (2019)
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (326.26 KB) | DOI: 10.31969/alq.v25i2.743

Abstract

Penelitian ini mencoba untuk mengungkap bagaimana persepsi kebangsaan siswa yang beragama Kristen di Kota Manado.  Pendekatan yang digunakan adalah mix methods, menggabungkan metode kuantitatif dengan kualitatif, dengan rancangan sekuensial eksplanatori. Data dikumpulkan melalui angket nasionalisme skala Likert format empat respons yang mengukur 4 aspek: Kedaulatan NKRI dan Cinta Tanah Air, Mempertahankan Pancasila sebagai Ideologi Bangsa, Penerimaan terhadap Kebhinnekaan, dan Kepatuhan terhadap Hukum. Temuan menunjukkan bahwa, secara umum, persepsi kebangsaan siswa kristen di Kota Manado adalah baik. Namun, meski pada aspek pemahaman (kognitifnya) baik, namun dalam beberapa hal aktual/afektif masih ada kekurangan yang perlu diperbaiki pada setiap aspek, khususnya dalam aspek ideologi pancasila dan kepatuhan terhadap hukum. Direkomendasikan agar sosialisasi 4 pilar kebangsaan dilakukan dengan jangkauan sekolah yang lebih luas dengan melibatkan tokoh-tokoh publik/organisasi yang peduli kebangsaan. Di samping itu, kegiatan pengembangan nasionalisme di sekolah juga banyak mencakup kegiatan-kegiatan yang bnayak melibatkan pengalaman, termasuk kegiatan ekstra kurikuler.
JEJAK DAN KIPRAH ULAMA PINRANG AWAL ABAD XX Wardiah Hamid
Al-Qalam Vol 25, No 2 (2019)
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (332.88 KB) | DOI: 10.31969/alq.v25i2.722

Abstract

This study aims to reveal the traces and progress of Pinrang scholars in the early twentieth century. This research is a qualitative research using data collection techniques for interviews and field observations. Then analyze and reduce data presented in the form of description. The results of this study indicate that the traces of the Pinrang cleric that were built along the Jampue coast to the Langnga coast, are intertwined in scientific absorbing networks to Mandar Land, Salemo, Sengkang to Mangkoso and Mecca Land. networks that are interrelated in kinship nodes. Their work can still be detected up to now with some of the manuscripts that they made as well as the pesantren they founded. Likewise, when the Pinrang Regional Secondary Affairs Office (KUADU) was formed in the 1960s. Some of them belong to the government section under the Ministry of Religion
MERAWAT KERUKUNAN UMAT BERAGAMA BERBASIS KEARIFAN LOKAL DI MANOKWARI PAPUA BARAT Muhammad Sadli Mustafa
Al-Qalam Vol 25, No 2 (2019)
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1012.095 KB) | DOI: 10.31969/alq.v25i2.755

Abstract

This study aims to describe the general condition of religious harmony in Manokwari, reveal local wisdom that has a nuance of harmony found in the local community, and reveal the function of local wisdom in caring for inter-religious harmony. This research is a qualitative research. Data were collected by observation, interview and documentation techniques and analyzed qualitatively. The results showed that the condition of religious harmony in Manokwari was still maintained, despite certain frictions, but did not lead to conflicts between religious communities due to the synergy between government, customary and religious institutions that continued to engage in dialogue to reduce the potential for conflict. Nani akei sut dani, dani dekei sut nani, (you are good to me, I am good to you) is one of the local wisdoms of the indigenous Manokwari tribe that is full of nuances of religious harmony. Local wisdom is still carried out today until now in the social life of the local tribes of Manokwari and taught from generation to generation by each family from the existing tribes.