cover
Contact Name
Abu Muslim
Contact Email
abumuslim@kemenag.go.id
Phone
-
Journal Mail Official
abumuslim@kemenag.go.id
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Al-Qalam
ISSN : 08541221     EISSN : 2540895X     DOI : -
Core Subject : Religion,
Al-Qalam Jurnal Penelitian Agama dan Sosial Budaya adalah jurnal ilmiah yang diterbitkan 2 edisi dalam setahun oleh Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar. Terbit sejak tahun 1990. Fokus Kajian Jurnal berkaitan dengan penelitian Agama dan Sosial Budaya. Lingkup Jurnal meliputi Bimbingan Masyarakat Agama dan Layanan Keagamaan, Pendidikan Agama dan Keagamaan, Naskah keagamaan Kontemporer, Sejarah sosial keagamaan, Arkeologi religi, Seni dan Budaya Keagamaan Nusantara.
Arjuna Subject : -
Articles 662 Documents
FOREIGN LANGUAGE BEHAVIOR OF ISLAMIC BOARDING SCHOOL STUDENTS IN WEST SULAWESI Ahmad Muaffaq; Napis Dj
Al-Qalam Vol 27, No 1 (2021)
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31969/alq.v27i1.935

Abstract

Students of Islamic Boarding Schools in West Sulawesi come from various ethnicities. They relatively concern about their pride, loyalty, and awareness of foreign language norms as an essential part of the Islamic Boarding School curriculum. It also has an impact on the quality of its acquisition. This study aims to describe the students' behavioral patterns in using foreign languages and their factors. The data was excavated from informants on five Islamic Boarding Schools integrated with stratified random sampling models. Data collection techniques were observations, surveys, and interviews. The obtained data were carefully and critically analyzed based on data reduction, presentation, and verification methods. The results showed that the foreign languages in Islamic Boarding Schools at West Sulawesi are generally used passively because the students’ activities highly focus on improving students’ ability in reading. The emphasis is also on the ability to understand Arabic text. Regarding Islamic Boarding School that applies language development for reading and active communication, sociologically, students use foreign languages only in a small number of linguistic situations and in specific domains, namely education. Culturally, foreign language behavior breeds symptoms of multilingualism, bilingualism, code-switching and code-mixing, monolingualism, and interference in all linguistic situations. It is due to the responsibility, loyalty, and motivation of foreign affairs that are still lacking and the insufficient quality of teachers, environmental conditions, and curriculum content.
DINAMIKA KALENDER HIJRIAH DALAM QANUN SYARIAT ISLAM PROVINSI ACEH Ismail, Ismail; Bastiar, Bastiar
Al-Qalam Vol 26, No 2 (2020)
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31969/alq.v26i2.832

Abstract

Kalender Hijriah sudah lama dipakai oleh masyarakat Aceh untuk keperluan ibadah dan interaksi sosial. Pemberlakuan kalender Masehi dalam administrasi negara pasca kemerdekaan Indonesia menyebabkan Aceh memiliki dua kalender, kalender Masehi untuk keperluan pencatatan administrasi dan kalender Hijriah dalam tatanan sosial dengan berbagai keperluan. Kehadiran kalender Hijriah dalam Qanun syariat Islam Provinsi Aceh sejatinya menjadikan kalender Masehi dan Hijriah memiliki posisi yang sama dalam administrasi negara dan tatanan sosial masyarakat Aceh. Kalender Hijriah dalam Qanun syariat Islam Provinsi Aceh belum memiliki formulasi yang utuh yang mampu menjawab kebutuhan administrasi dan keperluan ibadah. Kriteria yang digunakan masih mengikuti kriteria kalender Hijriah yang dipakai oleh Kementerian Agama Republik Indonesia yang sampai saat ini masih diperbincangkan. Pemberlakuan kalender Hijriah di Aceh sebagai syiar Islam belum maksimal, masih banyak peristiwa besar di Aceh yang seharusnya diperingati dengan panduan kalender Hijriah sebagai syiar Islam, namun masih diperingati dengan pedoman kalender Masehi, seperti peringatan peristiwa Tsunami yang terjadi 26 Desember 2004 dan peristiwa perdamaian Aceh yang terjadi 15 Agustus 2005.
SIKAP DAN PERILAKU BERAGAMA ALUMNI PONDOK PESANTREN MADRASAH WATHONIYAH ISLAMIYAH (PPMWI) KEBARONGAN BANYUMAS Supriyanto Supriyanto; Hendri Purbo Waseso
Al-Qalam Vol 26, No 2 (2020)
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31969/alq.v26i2.878

Abstract

Penangkapan salah satu alumni Pondok Pesantren Madrasah Wathoniyah Islamiyah (PPMWI) Kebarongan oleh Densus 88 menjadi fakta yang memunculkan dugaan bahwa Pondok Pesantren Madrasah Wathoniyah Islamiyah (PPMWI) Kebarongan adalah radikal. Tulisan ini bertujuan untuk mengungkap sikap keberagamaan alumni Pondok Pesantren Madrasah Wathoniyah Islamiyah (PPMWI) Kebarongan. Data lapangan dikumpulkan melalui kuesioner, wawancara dan observasi kemudian dianalisis secara mix-method analysis yaitu dilakukan deskripsi kuantitatif kemudian dieksplorasi dengan analisis kualitatif. Temuannya adalah sikap keberagamaan alumni Pondok Pesantren Madrasah Wathoniyah Islamiyah (PPMWI) Kebarongan terdiri dari tiga klasifikasi yaitu moderat, fundamentalis dan liberal. Mayoritas alumni Pondok Pesantren Madrasah Wathoniyah Islamiyah (PPMWI) Kebarongan mengakui ideologi Pancasila dan memiliki sikap akomodatif terhadap budaya lokal sehingga moderat. Adapun minoritas alumni Pondok Pesantren Madrasah Wathoniyah Islamiyah (PPMWI) Kebarongan ditemukan memiliki sikap fundamentalis dan liberal. Kesimpulannya adalah sikap moderat merupakan sikap mayoritas alumni Pondok Pesantren Madrasah Wathoniyah Islamiyah (PPMWI) Kebarongan sehingga mematahkan dugaan Pondok Pesantren Madrasah Wathoniyah Islamiyah (PPMWI) Kebarongan adalah radikal
SYMBOLIC MEANING OF BASAHA ISIFU RITUALS: THE TRADITION OF MUNA SOCIETY PRIOR TO NISFU SYA'BAN NIGHT IN MUNA REGENCY Rahmat Sewa Suraya; Wa Ode Siti Hafsah; La Niampe; Heniman Heniman
Al-Qalam Vol 27, No 1 (2021)
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31969/alq.v27i1.922

Abstract

During Nisfu shay'ban night in Muna community, various good practices are performed. These practices aim to achieve the primacy of the Nisfushay'ban night which usually starts after the evening prayer by reciting Yasin for three times and ends it with prayer. To welcome the night of Nisfu shay'ban, Muna community performed a ritual called “the Basaha Isifu”. The purposes of this study are (1) to find out the process of conducting the Basaha Isifu tradition in the community of KosundanoSub-district, (2) to understand the symbolic meanings of Basaha Isifu tradition. The location of this research was in Kosundano Subdistrict of Muna community. The data was collected through observation, interviews and documentation. The informants were selected using purposive sampling technique. The data analysis employed a qualitative descriptive analysis which includes data reduction, display data, and conclusion. The results of this study indicates that the implementation of Basaha Isifu tradition starts from (1) the preparation of all stuff needed for the ritual, (2) the implementation indicated by the prayer recitation, and (3) the closure indicated by the attendants shaking hands and enjoying dishes together. Symbolically, Basaha Isifu carried out by Muna community can be interpreted as a form of gratitude for the blessing of Allah SWT for wealth, longevity, health, and safety of all dangers
TULANG PUNGGUNG DIPUNGGUNGI: PECAH KONGSI NU-MASYUMI JELANG PEMILU 1955 Idwar Anwar
Al-Qalam Vol 26, No 2 (2020)
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31969/alq.v26i2.888

Abstract

PPecah kongsi NU dan Masyumi jelang Pemilu 1955 memberi dampak besar bagi Masyumi, khususnya dalam memperebutkan suara umat Islam. Masyumi yang sebelumnya menjadi satu-satunya partai Islam kemudian terpecah dengan keluarnya beberapa organisasi dan partai yang pernah dibubarkan Jepang dan menjelma menjadi partai politik. Kondisi ini diperparah lagi dalam tubuh Masyumi juga terjadi dualisme keanggotaan, sehingga dalam pandangan NU, Masyumi harus menghapus adanya dualisme keanggotaan yang terdiri dari anggota-anggota person dan anggota-anggota (yang berasal dari) organisasi (seperti NU, dll). Oleh karena itu, NU mengusulkan dua konsep untuk membenahi carut-marut keanggotaan Masyumi. Namun usulan tersebut dipandang remeh dan terkesan dinafikan oleh pimpinan pusat Masyumi. Kondisi inilah salah satunya yang memicu munculnya keinginan untuk berpisah dari Masyumi. Ibarat satu tubuh banyak jiwa. NU yang semula menjadi tulang punggung Masyumi kemudian dipunggungi. Berbagai konsepsi yang diusulkan NU mentah dan tak digubris mayoritas petinggi Masyumi. Tulisan ini akan menguraikan alasan dan bagaimana proses NU keluar dari Masyumi dan seperti apa capaian NU dan Masyumi dalam pemilu 1955. Meski sama-sama partai Islam (Dasar Ketuhanan), namun tidak sedikit momen NU dan Masyumi juga saling serang menjelang Pemilu 1955. Berdasarkan metode penelitian sejarah (heuristik, kritik atau verifikasi, interpretasi dan historiografi), konflik NU dan Masyumi, dengan spesifik diuraikan dalam tulisan ini, berdasarkan sumber-sumber primer yang ditemukan antara lain, Teks Putusan Muktamar NU ke -19 di Palembang dan Laporan Perundingan Nahdlatul Ulama dan Masyumi. Tulisan ini tetap berpijak pada corak dasar sejarah yang sifatnya memanjang dalam waktu (diakronis), namun juga memberikan nuansa lain, sehingga tulisan ini dapat mengembang dalam ruang (sinkronis).
RELASI TAUHID DAN POLITIK PADA MASYARAKAT BONE Abul Khair; A.Qadir Gassing; Usman Jafar; Andi Aderus
Al-Qalam Vol 26, No 2 (2020)
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31969/alq.v26i2.868

Abstract

Riset ini menyajikan hubungan antara konsep tauhid dan politik pada masyarakat Bone. Dengan memilih tiga kecamatan di Kabupaten Bone sebagai objek penelitian, riset ini diharapkan dapat mengurai problematika ketauhidan dalam dinamika sosial politik masyarakat Kabupaten Bone, dan memahami persepsi masyarakat Bone terkait tema yang diteliti. Untuk menemukan bentuk relasi tauhid dan politik dalam masyarakat Kabupaten Bone, peneliti melakukan langkah pengumpulan data dengan teknik purposive sampel, menganalisis data-data yang dikumpulkan dengan menggunakan pendekatan al-siyasah al-syar’iyyah, lalu menyajikannya secara deskriptif historis dan fakta empiris.Berdasarkan analisis data penelitian yang dilakukan menunjukkan bahwanilai-nilai ketauhidan secara komprehensif belum aktual dalam kehidupan sosial politik pada masyarakat Kabupaten Bone, sebab persepsi masyarakat Bone mengenai relasi tauhid dan politik cenderung masih dimaknai terpisah, dalam arti tauhid masih bersifat metafisis-ritualis dan politik masih bersifat tentatif. Dengan temuan tersebut, prinsip “kontinum realitas” menjadi penting dibumikan di Bone agar interaksi politik tidak minim spirit ketauhidan. 
(طقوس بيليان باسير نوندوي (استكشاف قيم الوسطية الدينية في الحكمة المحلية لمجتمع باسير Hamsiati Hamsiati; Khaerun Nisa'
Al-Qalam Vol 27, No 1 (2021)
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31969/alq.v27i1.896

Abstract

This research aims to explore the value of religious moderation in the local wisdom of Paser people in Penajam Paser Utara. This research used descriptive qualitative methods with interview techniques, document studies, and field observation. The research conducted in Penajam Subdistrict, Penajam Paser Utara, reveals that one of the local wisdoms of Paser people is oriented towards religious moderation through Belian Nondoi ritual or Belian Paser Nondoi. In practice, the values of religious moderation emerge at the value of cooperation between communities without any difference in the preparation of elian Nondoi rituals, which in the process, the community will gather in Kuta Rekan Tatau to witness that they have the same rights without any difference from each other. All of them will be prayed for their salvation through Soyong which is practiced by Mulung in Belian Nondoi ritual. Belian Nondoi traditional ritual of Paser community can unify the members of different community beliefs, different tribes, languages, and different cultures as well, as a means of unifying the community in Penajam Paser Utara. Thus, the Belian Nondoi ritual needs to be preserved, so that the values of religious moderation contained in it can be maintained and become a tradition in society, especially for the younger generation.
PEBBLES IN THE TEACHER’S SHOES: PORTRAITS AND CHALLENGES OF RELIGIOUS MODERATION OF ISLAMIC RELIGIOUS EDUCATION TEACHERS Adhan, Syamsurijal
Al-Qalam Vol 27, No 1 (2021)
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31969/alq.v27i1.933

Abstract

The Islamic Religious Education (PAI) Teacher is one of the educators who is considered to have an important role in shaping students' religious understanding. Of course, the understanding of religion expected to emerge from these PAI teachers is a moderate one that is not extreme and does not exaggerate in expressing certain religious views. However, in some cases, it was found that PAI teachers were intolerant and even approved of radical actions in the name of religion. This qualitative research method aims to describe the portrait as well as the challenge of moderation for Islamic Religious Teachers, especially those in Madrasah Aliyah and Sekolah Menengah Umum (SMU). This research was conducted in two regions in South Sulawesi, Bulukumba and Makassar. The results showed that some Islamic education teachers still have problems in their views and attitudes of religious moderation, especially in their acceptance of diversity. Regarding nationalism, there are still several obstacles, for example, PAI teachers who prohibit flag ceremonies. But on the other hand, the religious moderation of the PAI teachers shows a lot of hope. There are still many PAI teachers who have a good religious perspective and attitude. Some PAI teachers affiliated with certain religious groups have puritanical and exclusive view. Still, in certain matters, such as the acceptance of the Republic of Indonesia, they are starting to be moderate. The right approach and intervention will be able to overcome the obstacle of intolerance among Islamic Education Teachers
AWA ITABA LA AWAI ASSANGOATTA: APLIKASI MODERASI BERAGAMA DALAM BINGKAI KEARIFAN LOKAL TO WOTU Muhammad Sadli Mustafa
Al-Qalam Vol 26, No 2 (2020)
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31969/alq.v26i2.863

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap kearifan lokal etnik Wotu yang bernuansa moderasi beragama, fungsi kearifan lokal itu dalam membangun moderasi beragama, dan  upaya yang dilakukan oleh masyarakat etnik Wotu dalam merawat kearifan lokal tersebut. Penelitian ini bersifat kualitatif. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan studi dokumen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Masyarakat etnik Wotu memiliki kearifan lokal dalam bentuk falsafah yang bernuansa moderasi beragama. Falsafah dimaksud adalah awa itaba la awai assangoatta yang bermakna dari kitalah datangnya persatuan/kebersamaan kita. Falsafah itu masih hidup dan mengakar dalam kehidupan masyarakat etnik Wotu hingga kini. Dengan falsafah itu, masyarakat etnik Wotu senantiasa berbaur dan hidup bersama dengan masyarakat sekitarnya yang berasal dari berbagai latar belakang suku dan agama selama bertahun-tahun hingga saat ini. Etnik Wotu yang mayoritas muslim tidak sedikit pun pernah mengusik kenyamanan beribadah umat agama lainnya. Mereka juga melindungi, saling membantu dan memperlakukan umat agama lain layaknya saudara. Kearifan lokal itu  dirawat melalui pendidikan dalam keluarga dan dengan keteladanan. Keteladanan orang tua dalam praktik kehidupan bermasyarakat dengan pemeluk agama berbeda. Selain itu, pemerintah setempat turut menguatkan kerukunan dengan membantu pembangunan rumah ibadah semua agama. Tokoh agama dari Forum Komunikasi Umat Beragama (FKUB) dalam kunjungannya ke masyarakat sering kali mengingatkan untuk kembali ke akar budaya mereka yang berorientasi pada moderasi beragama
PEMBELAJARAN JARAK JAUH SEBAGAI HABITUS BARU DALAM EKOSISTEM PENDIDIKAN DI UIN ALAUDDIN MAKASSAR Muhammad Rais
Al-Qalam Vol 26, No 2 (2020)
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31969/alq.v26i2.881

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk mendeskripsikan pola pembelajaran jarak jauh, yang diterapkan pada UIN Alauddin Makassar, sebagai respons pihak civitas akademik, terhadap instruksi pemerintah via Kementerian Agama, agar bermigrasi dari pembelajaran yang lazim dilakukan secara konvensional dengan arus utama tatap muka secara klasikal, ke rumah masing-masing dengan basis pembelajaran daring. Kebijakan tersebut diambil sebagai antisipasi agar mahasiswa, dosen, serta staf kependidikan lainnya, terhindar dari wabah Covid-19 yang kini melanda seluruh kawasan di dunia. Dengan memanfaatkan metode riset kualitatif, data serta informasi mengenai kebijakan yang dipilih tersebut, dikumpulkan melalui wawancara mendalam dan observasi terhadap kalangan informan, meliputi dekan, dosen, mahasiswa, dan tim pengelola informasi dan teknologi pembelajaran jarak jauh. Hasil analisis penelitian menunjukkan bahwa, ada beberapa platform pembelajaran yang digunakan pendidik maupun mahasiswa selama masa belajar dari rumah yang sudah biasa digunakan dalam pembelajaran jarak jauh, diantaranya platform Lentera sebagai aplikasi pembelajaran dalam  sistem manajemen pembelajaran, termasuk Google Classroom, Google Meeting, Zoom/Webinar, dan Whats Up, serta dan platform pembelajaran daring lainnya yang relevan. Platform pembelajaran jarak jauh ini digunakan di UIN Alauddin Makassar dalam proses pembelajaran, dalam bentuk penugasan, absensi, monitoring, maupun evaluasi melalui komunikasi intensif. Terobosan ini dinilai para civitas akademik belum efektif di tengah kondisi yang serba tidak normal akibat pandemi ini. Hambatannya terdiri dari jauhnya jarak, yang tidak memungkinkan terkoneksi dengan jaringan internet, kompetensi literasi virtual yang minim dan keterbatasan ruang fiskal keluarga yang belum memungkinkan mereka untuk memiliki peranti pembelajaran daring.