cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Patrawidya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya
ISSN : 14115239     EISSN : 25984209     DOI : -
Core Subject : Art, Social,
The Patrawidya appears in a dark gray cover with a papyrus manuscript. The Patrawidya Journal is published three times a year in April, August and December. The study of the Patrawidya Journal article is on the family of history and culture. The Patrawidya name came from a combination of two words "patra" and "widya", derived from Sanskrit, and became an absorption word in Old Javanese. the word "patra" is derived from the word "pattra", from the root of the term pat = float, which is then interpreted by the wings of birds; fur, leaves; flower leaf; fragrant plants fragrant; leaves used for writing; letter; document; thin metal or gold leaf. The word "widya" comes from the word "vidya", from the root vid = know, which then means "science". Patrawidya is defined as "a sheet containing science" ISSN 1411-5239 (print) ISSN 2598-4209 (online).
Arjuna Subject : -
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol. 23 No. 2 (2022)" : 6 Documents clear
Konsep Penciptaan Ornamen Teratai pada Masa Islam Peralihan Nizam, Akhmad
Patra Widya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya. Vol. 23 No. 2 (2022)
Publisher : Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52829/pw.410

Abstract

Ornamen teratai di candi-candi Hindu dan Buddha di Jawa digambarkan tumbuh dari bonggol, jambangan, atau dari berbagai jenis binatang air. Konsep penciptaan ornamen tersebut berdasarkan ajaran Hindu, bahwa benih penciptaan alam semesta berasal dari air. Keyakinan itu divisualisasikan dalam bentuk ornamen teratai yang tumbuh dari objek-objek yang berasosiasi dengan air. Ornamen teratai juga diperagakan di masjid dan makam wali, namun teratai digambarkan tumbuh dari objek-objek yang tidak berasosiasi dengan air. Tujuan penelitian ini adalah menemukan konsep penciptaan ornamen teratai pada masa Islam Peralihan menggunakan teori adaptasi dari Linda Hutcheon, “A Theory of Adaptation”. Berdasarkan kitabkitab sastra pesisiran terdapat ajaran dalam ujaran tunjung tanpa telaga (tunjung atau teratai yang dapat hidup tanpa telaga) yang melambangkan Ruh Idhafi sejati, yaitu Dzat Allah Ada-Nya. Penggambaran teratai yang tidak tumbuh dari objek-objek yang berasosiasi dengan air merupakan visualisasi dari gagasan tunjung tanpa telaga, yaitu teratai yang tidak lagi tergantung hidupnya pada air lumpur telaga.
Kedudukan dan Relasi Politik Tan Jin Sing pada Peristiwa Geger Sepehi dalam Babad Panular, Babad Mangkubumi, dan Babad Pakualaman Uddin, Baha
Patra Widya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya. Vol. 23 No. 2 (2022)
Publisher : Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52829/pw.411

Abstract

Penelitian mengenai peristiwa Geger Sepehi memang sudah banyak dilakukan oleh sejarawan baik dalam rangkaian peristiwa sosial politik awal abad ke-19 di Kasultanan Yogyakarta maupun dalam kaitannya sebagai salah satu permulaan dari peristiwa Perang Jawa. Ada dua aspek yang menjadi fokus kajian artikel ini. Pertama adalah mengenai kedudukan dan peran Tan Jin Sing, sedangkan kedua adalah melihatnya dari perspektif literasi dan pandangan orang Jawa melihat orang Tionghoa melalui tiga babad yang masing-masing mewakili entitas sosial politik yang terlibat dalam pergumulan di sekitar peristiwa Geger Sepehi. Terjadinya peristiwa ini tidak dapat dilepaskan dari pergumulan politik yang terjadi pada masa pemerintahan Daendels yang kemudian berlanjut ketika Raffles menggantikan rezim kolonial di Indonesia. Kemampuan dan kecakapan Tan Jin Sing-lah yang membawanya masuk dalam pergaulan dengan tokoh-tokoh penting dari pemerintahan kolonial Inggris maupun di Kasultanan Yogyakarta. Hal inilah yang menjadikannya menjadi salah satu tokoh kunci dalam dinamika politik yang terjadi di sekitar peristiwa Geger Sepehi. Kedudukan dan perannya sebagai mediator dan fasilitator antara pemerintah kolonial Inggris dengan Kasultanan Yogyakarta, pada satu sisi ikut mencari solusi atas berbagai permasalahan, namun pada sisi yang lain justru mempercepat terjadinya klimaks dalam pergumulan politik pada peristiwa Geger Sepehi.
Tjoe Bou San, Nasionalis Tionghoa dan Redaktur Sin Po Aprianto, Iwan Dwi
Patra Widya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya. Vol. 23 No. 2 (2022)
Publisher : Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52829/pw.412

Abstract

Tjoe Bou San adalah tokoh nasionalis Tionghoa di Hindia Belanda yang lahir di Batavia tahun 1891 dan meninggal di Batavia tanggal 3 November 1925. Ketika menjabat sebagai pemimpin dan direktur Sin Po, dia mengembangkan konsep nasionalisme Tionghoa di Hindia Belanda dan memimpin kampanye dalam memberantas kekawulaan Belanda ketika berlangsung Perang Dunia I. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui latar belakang kehidupan Tjoe Bou San hingga bentuk perannya dalam perkembangan Sin Po. Penelitian ini merupakan penelitian sejarah karena masalah yang diungkapkan lebih terfokus pada peristiwa masa lampau kehidupan seorang pemimpin nasionalisme Tionghoa bernama Tjoe Bou San yang lebih ditekankan pada perjuangannya melalui Koran Sin Po. Berdasarkan kajian yang dilakukan dapat diketahui bahwa Tjoe Bou San merasa bahwa warga Tionghoa di Hindia Belanda (baik peranakan maupun totok) harus menganggap diri mereka Tionghoa. Pandangannya berseberangan dengan P.H. Fromberg Sr, Yap Hong Tjoen, dan Hauw Tek Kong. Mereka beranggapan jika onderdaanschap (kekawulaan) biasanya sama dengan nationaliteit (kewarganegaraan) dan hakikat dari kewarganegaraan adalah kepentingan bersama. Selain dikenal sebagai seorang wartawan dan pemimpin pergerakan nasionalisme Tionghoa, dia juga merupakan salah seorang penulis novel. Salah satu novel terbaiknya adalah The Loan Eng yang terbit pada 1922.
Kearifan Lokal E’ha sebagai Kendali Sosial dan Tata Kelola Sumber Daya Alam Khas Etnik Talaud di Kawasan Perbatasan Indonesia-Filipina Sumolang, Steven
Patra Widya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya. Vol. 23 No. 2 (2022)
Publisher : Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52829/pw.413

Abstract

Masyarakat pulau kecil dan terluar di perbatasan Indonesia-Filipina seperti Pulau Kakorotan di Kecamatan Nanusa, Kabupaten Talaud, Provinsi Sulawesi Utara, sekian lama mengembangkan adat e’ha yakni larangan mengambil hasil bumi dengan sembarang, baik di darat maupun di laut, ada waktuwaktu tertentu mengambil hasil bumi tersebut yang disesuaikan dengan hitungan waktu panen terbaik melihat benda-benda langit yang dipercayai berpengaruh langsung terhadap ekosistem bumi. Melalui penelitian lapangan secara kualitatif, penulis mendapatkan tradisi e’ha sebagai nilai budaya yang bermakna luas menyangkut banyak hal aspek kehidupan manusia, sebagai kearifan lokal yang mengendalikan kehidupan sosial masyarakat dan menata pengelolaan sumber daya alam setempat. Lahir dari kesusahan masyarakat di pulau kecil, memiliki sejarah bencana alam, sehingga oleh kebersamaan warganya mengatur penggunaan tanaman pangan dan sumber makanan dari laut. Selanjutnya sehubungan langsung dengan pelestarian lingkungan, pengendalian sosial, kegotong-royongan, musyawarah, kesejahteraan ekonomi rakyat, dan ketahanan pangan.
Pendekatan Elemen-Elemen Melayu-Islam dalam Restrukturisasi Birokrasi pada Kesultanan Palembang Darussalam oleh Sultan Mahmud Badaruddin II Lubis, Hafnita Sari Dewi; Tanjung, Yushar; Muhajir, Ahmad
Patra Widya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya. Vol. 23 No. 2 (2022)
Publisher : Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52829/pw.414

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk mengulas persoalan-persoalan terkait implementasi dari pendekatan elemen-elemen Melayu-Islam dalam restrukturisasi birokrasi dan keadaan-keadaan sekitar Sultan Mahmud Badaruddin II di Kesultanan Palembang Darussalam. Era Sultan Mahmud Badaruddin II (1803-1821) dikenal sebagai era yang paling krusial bagi sejarah Palembang. Ia merestrukturisasi birokrasi dan menghadapi sekaligus ancaman-ancaman dari internal (oleh adiknya sendiri) dan eksternal (oleh Inggris) untuk menggulingkannya dari takhta. Penelitian ini merupakan kajian kepustakaan dengan pendekatan metode sejarah. Beberapa dokumen dari arsip kolonial Belanda digunakan sebagai sumber primer dan sebagian besar buku dan artikel ilmiah yang relevan digunakan sebagai sumber sekunder. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa Sultan Mahmud Badaruddin II sadar dan perlu untuk memperkuat posisi dan kekuasaannya dari ancaman-ancaman internal dan eksternal. Ia telah menciptakan keseimbangan dengan memodifikas sistem birokrasi peninggalan leluhurnya dengan mengadopsi elemen-elemen sistem kepemimpinan kerajaan-kerajaan Melayu-Islam. Elemen-elemen Melayu-Islam yang tampak diimplementasikan dalam restrukturisasi birokrasinya ada enam, yaitu memperkuat kedudukan syahbandar, memperkuat kedudukan penghulu, mempertahankan Undang-Undang Simbur Cahaya, mempertahankan dan mengatur kelas sosial (sistem marga-marga), mengatur diferensiasi wajib pajak (sistem tiban tukon), serta mengontrol loyalitas elite dengan tanah lungguh (apanage). Restrukturisasi birokrasi yang diimplementasikan oleh Sultan Mahmud Badaruddin II terbukti secara praktis telah membuat tata kelola kesultanan lebih stabil, efektif, efisien, memperkuat monopoli perdagangan, dan membawa kemakmuran. Namun, intrik dan pengkhianatan berhasil menggulingkan Sultan Mahmud Badaruddin hingga diasingkan ke Ternate dan terpaksa meninggalkan tanah airnya jatuh ke tangan kolonialis.
Musim Haji di Mandailing Natal: Tradisi dan Status Sosial Tanjung, Yushar; Lubis, Hafnita Sari Dewi; Siregar, Muhammad Andre Syahbana
Patra Widya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya. Vol. 23 No. 2 (2022)
Publisher : Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52829/pw.415

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk membahas seputar tradisi musim haji pada masyarakat Mandailing Natal. Tradisi pada musim haji merupakan sebuah tradisi yang sudah lama dilakukan oleh masyarakat Mandailing Natal. Tradisi haji memang menjadi sebuah tradisi sakral bagi banyak masyarakat di Indonesia, salah satunya masyarakat Mandailing Natal. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan sosiologi agama. Sumber utama dalam penelitian ini ialah wawancara mendalam terkait tradisi pada musim haji di Mandailing Natal kepada sejumlah tokoh masyarakat setempat, yaitu Amirul Latif Lubis, Dedek Fauzi, Marwansyah Lubis, dan Yusuf Akbar. Sementara sumber pendukung didapat dari buku, jurnal, dan penelitian ilmiah lainnya yang relevan dengan tema yang dibahas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, terdapat tiga tradisi besar pada musim haji di Mandailing Natal, yaitu: marbante, mangalomang, dan khataman Al-Qur'an Marbante adalah tradisi menyembelih hewan kurban (sapi atau kerbau) yang kemudian dibagikan kepada masyarakat sekitar. Namun pada masa sekarang tradisi ini tidak hanya dilakukan pada musim haji, namun pada perayaan-perayaan besar lainnya. Mangalomang adalah tradisi memasak lemang bersama-sama di salah satu rumah warga. Biasanya tradisi ini dilakukan pada saat memasuki bulan Ramadhan dan menjelang hari raya Idul Fitri. Khataman Al-Qur'an adalah tradisi yang dilakukan dengan membaca Al-Qur'an bersama-sama pada malam hari dan menamatkan bacaannya pada malam itu juga. Selain itu, tradisi musim haji di Mandailing juga menjadi cara untuk menunjukkan kelas sosial dalam masyarakat di Mandailing Natal.

Page 1 of 1 | Total Record : 6