cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Patrawidya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya
ISSN : 14115239     EISSN : 25984209     DOI : -
Core Subject : Art, Social,
The Patrawidya appears in a dark gray cover with a papyrus manuscript. The Patrawidya Journal is published three times a year in April, August and December. The study of the Patrawidya Journal article is on the family of history and culture. The Patrawidya name came from a combination of two words "patra" and "widya", derived from Sanskrit, and became an absorption word in Old Javanese. the word "patra" is derived from the word "pattra", from the root of the term pat = float, which is then interpreted by the wings of birds; fur, leaves; flower leaf; fragrant plants fragrant; leaves used for writing; letter; document; thin metal or gold leaf. The word "widya" comes from the word "vidya", from the root vid = know, which then means "science". Patrawidya is defined as "a sheet containing science" ISSN 1411-5239 (print) ISSN 2598-4209 (online).
Arjuna Subject : -
Articles 149 Documents
Ngèngèr (Suatu Model Pendidikan Karakter) Mudjijono, Mudjijono
Patra Widya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya. Vol. 21 No. 3 (2020): Desember
Publisher : Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52829/pw.316

Abstract

Banyak pemahaman konsep kebudayaan yang dikemukakan oleh berbagai pemikir kebudayaan, satu di antaranya konsep kebudayaan yang lebih menekankan pada kebudayaan intangible. Pemahaman kebudayaan seperti itu sangat pas untuk mengkaji berbagai kebudayaan pada tataran nilai budaya, misalnya terkait pendidikan karakter, mengingat objek penelitian itu ada pada alam pikir. Pemahaman dan pembahasan pendidikan karakter pada anak merupakan hal yang sangat penting mengingat hal itu akan menjadi pondasi dan pegangannya dalam menjalani kehidupan di kelak kemudian hari. Berbagai pemikiran banyak yang menawarkan model pendidikan karakter. Hal itu memunculkan pemikiran, model pendidikan karakter yang bagaimana yang baik untuk diterapkan ? Walaupun sudah ada berbagai pemikiran dan semuanya sangat baik, namun masih ada satu pemikiran yang patut untuk dicermati, yakni ngèngèrsebagai sebuah agen pendidikan karakter. Ngèngèrdiartikan sebagai ngabdi, meloe marang wong liya dadi batoer. Dalam menjalani ngèngèrada ilmu yang didapat yang dapat dipergunakan untuk pegangan dalam menjalani hidup. Ada beberapa sekolah yang sangat cerdas mengaplikasikan konsep ngèngèrdalam kurikulum pendidikan sekolah, yaitu live in provesidan live in social. Pengamatan, wawancara, dan pustaka dilakukan untuk mencermati dan menggali pemahaman konsep di sekitar kehidupan dalam ngèngèr. Live in provesidan live in social diterapkan pada murid-murid SMA De Britto Yogyakarta denga menitipkan siswa pada penjual kerajinan dan tinggal bersama keluarga tukang sapu.
Analysis of Factors Affecting Return Visits: A Study on Religious Tourism of Sunan Ampel Surabaya Anshori , Mohammad Yusak; Mardhotillah, Rachma Rizqina; Salamah, Umi
Patra Widya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya. Vol. 22 No. 2 (2021): Agustus
Publisher : Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52829/pw.320

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi minat kunjung kembali pada objek wisata religi Sunan Ampel Surabaya. Pertanyaan dari penelitian ini adalah bagaimana meningkatkan minat kunjung kembali pada objek wisata religi Sunan Ampel Surabaya. Penelitian ini dilakukan dengan cara menguji pengaruh Citra Wisata, Mutu Wisata dan Nilai Pelanggan guna meningkatkan minat kunjung kembali pada obyek wisata Religi Sunan Ampel Surabaya. Daya tarik wisata digunakan sebagai variabel intervening. Populasi dari penelitian ini adalah wisatawan yang berkunjung ke objek wisata Religi Sunan Ampel, dan yang sudah pernah berkunjung sebanyak dua kali. Dengan criteria usia mulai dari 16 sampai 40 tahun di kalangan remaja sampai orang tua. Sampel dari penelitian ini adalah 150 responden yang didapat dengan metode purposive sampling. Metode analisis data pada penelitian ini menggunakan path analysisdengan software smartPLS. Hasil penelitian ini membuktikan tiga hipotesis diterima dan satu hipotesis ditolak. Tiga hipotesis yang diterima mencakup mutu wisata berpengaruh positif dan signifikan terhadap dayatarik wisata, citra wisata berpengaruh positif dan signifikan terhadap dayatarik wisata, dan nilai pelanggan berpengaruh positif dan signifikan dengan minat kunjung kembali. Hipotesis yang ditolak adalah dayatarik wisata berpengaruh negatif terhadap minat kunjung kembali.
Nilai-Nilai Filosofis Tradisi Begawi Cakak Pepadun Lampung Cathrin, Shely; Wikandaru, Reno; Indah, Astrid Veranita; Bursan, Rinaldi
Patra Widya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya. Vol. 22 No. 2 (2021): Agustus
Publisher : Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52829/pw.321

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tradisi Begawi Cakak Pepadun Lampung dengan makna filosofis yang ada di dalam tradisi tersebut. Muara dari kajian ini adalah untuk melestarikan kekayaan budaya bangsa Indonesia, yang eksistensinya mulai terancam di tengah perkembangan arus globalisasi saat ini. Penelitian ini adalah jenis penelitian kualitatif tentang pandangan filosofis di lapangan. Objek material dari penelitian ini adalah tradisi Begawi Cakak Pepadun Lampung. Objek formal atau sudut pandang dari penelitian ini adalah filsafat, khususnya filsafat kebudayaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara etimologis Begawi berarti pekerjaan atau membuat gawi (kerja), sedangkan cakak pepadun berarti naik pepadun yaitu peristiwa pelantikan Penyimbang sebagai keturunan dari raja Lampung. Prosesi ini terdiri atas cangget, ngediyou, nigel, potong kerbau, sesemburan, pineng di paccah aji, dan cakak pepadun. Setiap tahapan dan kelengkapan ucapara tersebut mengandung nilai-nilai filosofis, yang meliputi nilai spiritual, nilai moral, nilai sentimental, nilai material, nilai sosial, nilai ekonomi, nilai estetika, dan nilai hiburan.
Modernisasi di Tengah Tradisi Kraton: Pasoekan Poeteri J.P.O. (1934-1942) Setyantoro, Agung Suryo
Patra Widya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya. Vol. 22 No. 2 (2021): Agustus
Publisher : Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52829/pw.322

Abstract

avaansche Padvinders Organisatie(J.P.O.), merupakan salah satu organisasi yang diprakarsai oleh Mangkunegara VII dan cukup menonjol yang bergerak dalam bidang kepanduan. Peranan wanita turut memberi kontribusi yang tidak sedikit dalam induk organisasi J.P.O.. Walaupun pada awal pembentukannya J.P.O. hanya diikuti oleh laki-laki, akan tetapi dalam perkembangannya sekelompok wanita muncul didalamnya, dengan sebutan ‘Pasoekan Poeteri J.P.O.’. Permasalahan yang menarik untuk diangkat dari organisasi kepanduan ini ialah bagaimana J.P.O. yang tumbuh dan berkembang di lingkungan maupun latar belakang budaya tradisional kraton yang masih sangat kental, mempersepsikan wanita dalam organisasi. Pendek kata Pasoekan Poeteri J.P.O telah merepresentasikan harapan dari Mangkunegara VII yaitu telah melakukan modernisasi dengan bertumpu pada akar kebudayaan Jawa. Pasoekan Poeteri J.P.O. sebagai wadah bagi anak-anak atau remaja perempuan di lingkungan Mangkunegaran telah mampu menjadi agen modernisasi khususnya bagi kaum perempuan itu sendiri maupun seluruh rakyat di Mangkunegaran.
Ki Hadjar Dewantara, Berpolitik dengan Akal Budi dan Hati Nurani Purwanto, Bambang
Patra Widya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya. Vol. 22 No. 2 (2021): Agustus
Publisher : Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52829/pw.323

Abstract

Narasi besar historiografi Indonesia dan memori kolektif bangsa tentang Ki Hadjar Dewantara selama ini hanya dibatasi pada kenyataan sejarah yang berkaitan dengan pendidikan dan kebudayaan bersama Taman Siswa, sebagai sesuatu yang terpisah dari kesadaran dan kegiatan politik kebangsaannya. Padahal terdapat banyak bukti yang dapat diinterpretasikan bahwa Ki Hadjar Dewantara menjadikan Taman Siswa bukan hanya sebagai sebuah lembaga pengajaran dan pendidikan, melainkan representasi jati diri merdeka dari kesadaran kebangsaan Indonesia. Sebagai sebuah keutuhan cara berpikir, perilaku, dan tindakan, semua kegiatan Ki Hadjar Dewantara dalam bidang pendidikan dan kebudayaan merupakan perwujudan dari politik identitas untuk membedakan diri dari kolonialisme Belanda, yang tidak terlepas dari konteks besar perubahan di dalam masyarakat kolonial, dunia,dan kemanusiaan.
Buruh dan Kemerdekaan: Solidaritas Buruh dalam Film Indonesia Calling (1946) Fathoni, Rifa’i Shodiq
Patra Widya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya. Vol. 22 No. 2 (2021): Agustus
Publisher : Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52829/pw.324

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengkaji memori yang terdapat di dalam film Indonesia Calling dan korelasinya dengan historiografi Indonesia. Pokok permasalahan dalam penelitian ini adalah mengapa film Indonesia Calling dibuat? Penelitian menggunakan metode sejarah yang meliputi heuristik, verifikasi, interpretasi, dan historiografi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa film Indonesia Calling dibuat oleh Joris Ivens sebagai bentuk perlawanan terhadap propaganda film Belanda. Film itu menampilkan pemogokan buruh dari berbagai negara di Pelabuhan Sydney Australia. Pemogokan tersebut merupakan bentuk protes terhadap agresi Belanda dan Sekutu di wilayah Indonesia. Melalui narasi antikolonialisme film Indonesia Calling menjadi salah satu film paling awal antikolonial.
Bahasa Tua dan Penutur Tua; Sebuah Cerita Dari Maluku Barat Daya Dwiningsih, Santi; Agustini, Bhakti Lisanti
Patra Widya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya. Vol. 22 No. 2 (2021): Agustus
Publisher : Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52829/pw.325

Abstract

Dalam Sekapur Sirih Bahasa dan Peta Bahasa di Indonesia Edisi Keenam, disebutkan bahwa bahasa adalah penjaga budaya, jika bahasa punah, maka budaya masyarakatnya pun bisa turut punah, itu karena bahasa menyimpan tata nilai budaya dalam berbagai wujud, yakni; kosakata, pantun, cerita rakyat, sejarah masyarakat setempat, mitos, legenda, tradisi lisan, dan ungkapan-ungkapan yang sarat dengan nilai etika serta moral (https://petabahasa.kemdikbud.go.id/sekapursirih.php). Indonesia sangat kaya bahasa daerah yang sarat dengan nilai-nilai budaya. Sayangnya, bahasa daerah di Indonesia sudah berada dalam posisi yang mengkhawatirkan dan hal itulah yang terjadi di Kabupaten Maluku Barat Daya (MBD). MBD memiliki beragam bahasa daerah dan tradisi lisan, salah satunya berupa bahasa tua atau disebut juga dengan bahasa tanah. Kini, bahasa tersebut terancam punah karena semakin jarang dituturkan kecuali dalam ritual adat, dan karena jumlah penutur bahasa tanah semakin sedikit dengan usia yang terbilang tua. Mereka para penutur bahasa tanah adalah kaum marna (bangsawan) yang hanya diperkenankan mewariskan pengetahuan bahasa tanah tersebut kepada keturunan mereka yang juga berdarah marna. Ironisnya, proses pewarisan tersebut mandek, akibatnya, bahasa tanah semakin tersingkir. Oleh karenanya, pewarisan bahasa tanah harus segera diupayakan kembali, karena jika bahasa tanah punah, maka tata nilai serta budaya yang dikandungnya pasti turut punah. Artikel ini ditulis untuk memberi wawasan mengenai bahasa tanah yang ada di Maluku Barat Daya dan untuk mencaritahu apa upaya terbaik untuk menyelamatkannya.
Mendewasakan “Sang Putri”: Pola Asuh dalam Keluarga Mangkunegara VII Amini, Mutiah
Patra Widya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya. Vol. 22 No. 3 (2021): Desember
Publisher : Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52829/pw.342

Abstract

Tulisan ini membahas tentang cara pengasuhan anak perempuan yang dilakukan oleh Mangkunegara VII pada awal abad ke-20. Dalam historiografi Jawa, Mangkunegara VII dikenal sebagai seorang aristokrat modern yang melakukan berbagai inovasi, baik di bidang sosial, ekonomi, politik, maupun budaya. Semangat dalam melakukan perubahan berdampak pula pada cara mengasuh anak-anak perempuannya. Dari penelitian sejarah dengan menganalisis dokumen yang ditemukan, membuktikan bahwa Mangkunegara VII memberikan akses kepada anak perempuannya untuk keluar dari kenyamanan hidup di dalam tembok keraton dan berinteraksi luas dengan komunitas publik. Mangkunegara VII memberikan kesempatan luas pula pada anak-anak perempuannya untuk berinteraksi dengan dunia luar melalui ekspresi seni dan budaya Jawa. Oleh karena itu, tulisan ini fokus pada akar historis pola asuh yang diberikan oleh Mangkunegara VII terhadap ketiga anak perempuannya, yaitu Partini, Partinah, dan Gusti Nurul, sehingga ide emansipasi terpatri kuat di dalam pemikiran ketiga anak perempuannya. Simpulan penting riset ini adalah bawah pemberian kesempatan kepada anak-anak perempuan untuk mengekspresikan seni dan budaya Jawa merupakan strategi Mangkunegara VII dalam merespons modernitas pada awal abad ke-20.
Menimbang Ruang - Menjajaki Peluang: Siasat Seniman Madura Beradaptasi dengan Pandemi dan Teknologi Hidayatullah, Panakajaya
Patra Widya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya. Vol. 22 No. 3 (2021): Desember
Publisher : Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52829/pw.343

Abstract

Pandemi Covid-19 hadir dengan memberikan dampak yang cukup signifikan terhadap kehidupan masyarakat di Indonesia. Lesunya perekonomian yang diakibatkan oleh pembatasan aktivitas dan penggunaan ruang publik, melahirkan pelbagai aktivitas baru sebagai jalan alternatif menyiasati keterbatasan dan keterpurukan, termasuk di dalamnya praktik seni tradisional di masyarakat lokal. Sorotan penelitian ini hendak menguraikan fenomena praktik berkesenian seniman tradisional dan masyarakat lokal di Sumenep, Situbondo dan sekitarnya dalam menyiasati teknologi dan pandemi. Mewacanakan pelbagai praktik kesenian di luar arus utama, di wilayah ‘pinggiran’ (lokal), yang seringkali luput dan terabaikan dalam diskusi-diskusi tentang seni. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan menggunakan teknik observasi dan wawancara mendalam. Temuan dalam penelitian ini menunjukkan bahwa fenomena pandemi di kalangan masyarakat lokal (kebudayaan Madura di Sumenep, Situbondo dan sekitarnya) telah melahirkan konten-konten karya seni media rekam yang unik dan khas, seperti 1) Sinema Komedi berbahasa Madura:alih wahana seni pertunjukan ketoprak ke sinema audio visual. Praktik ini awalnya dilakukan oleh para seniman tradisi, kemudian banyak bermunculan karya-karya serupa yang digarap oleh anak-anak muda lokal dengan gaya dan cita rasa yang berbeda; 2) Panggung Seni Virtual, praktik ini merupakan upaya masyarakat lokal dan seniman tradisi mempergelarkan karyanya dalam ruang panggung yang baru. Secara tidak sadar mereka telah melakukan pendokumentasian budaya yang berperan penting bagi perkembangan kebudayaan daerah.
Mistifikasi Ratu Kidul: Salah Satu Model Tata Kelola Kehidupan Twikromo, Y. Argo
Patra Widya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya. Vol. 22 No. 3 (2021): Desember
Publisher : Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52829/pw.344

Abstract

Tulisan ini berupaya merajut serpihan-serpihan yang menjadi esensi kehidupan bersama atas keberadaan mitos Ratu Kidul, suatu mitos yang relatif kurang mendapatkan porsi seimbang dalam logika berpikir saat ini. Pertanyaan yang dikemukakan dalam artikel ini adalah bagaimana keberadaan mitos Ratu Kidul dalam konteks tata kelola keselarasan kehidupan bersama? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, pemahaman tentang mitos dan keberadaan mitologi Ratu Kidul perlu diuraikan terlebih dahulu sesuai konteksnya. Berdasarkan konteks pemahaman tersebut, tata kelola kehidupan bersama dan mistifikasi Ratu Kidul selanjutnya dikaji atau dibahas agar dapat lebih memahami keberadaan mitos Ratu Kidul sebagai salah satu model tata kelola kehidupan bersama. Dengan menggunakan pijakan utama dari penelitian atau pustaka yang pernah dihasilkan penulis maupun studi pustaka terkait lainnya, maka data dikumpulkan dan dirangkai melalui berbagai penambahan dan modifikasi sesuai dengan konteks saat ini. Hasil yang diperoleh adalah keberadaan mitos Ratu Kidul merupakan bagian tak terpisahkan dari pemahaman manusia terhadap keselarasan kehidupan bersama secara holistik (keseluruhan alam semesta). Dengan demikian, keberadaan mitos Ratu Kidul juga merupakan salah satu model tata kelola kehidupan.

Page 10 of 15 | Total Record : 149