cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Patrawidya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya
ISSN : 14115239     EISSN : 25984209     DOI : -
Core Subject : Art, Social,
The Patrawidya appears in a dark gray cover with a papyrus manuscript. The Patrawidya Journal is published three times a year in April, August and December. The study of the Patrawidya Journal article is on the family of history and culture. The Patrawidya name came from a combination of two words "patra" and "widya", derived from Sanskrit, and became an absorption word in Old Javanese. the word "patra" is derived from the word "pattra", from the root of the term pat = float, which is then interpreted by the wings of birds; fur, leaves; flower leaf; fragrant plants fragrant; leaves used for writing; letter; document; thin metal or gold leaf. The word "widya" comes from the word "vidya", from the root vid = know, which then means "science". Patrawidya is defined as "a sheet containing science" ISSN 1411-5239 (print) ISSN 2598-4209 (online).
Arjuna Subject : -
Articles 149 Documents
Kearifan Lokal E’ha sebagai Kendali Sosial dan Tata Kelola Sumber Daya Alam Khas Etnik Talaud di Kawasan Perbatasan Indonesia-Filipina Sumolang, Steven
Patra Widya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya. Vol. 23 No. 2 (2022)
Publisher : Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52829/pw.413

Abstract

Masyarakat pulau kecil dan terluar di perbatasan Indonesia-Filipina seperti Pulau Kakorotan di Kecamatan Nanusa, Kabupaten Talaud, Provinsi Sulawesi Utara, sekian lama mengembangkan adat e’ha yakni larangan mengambil hasil bumi dengan sembarang, baik di darat maupun di laut, ada waktuwaktu tertentu mengambil hasil bumi tersebut yang disesuaikan dengan hitungan waktu panen terbaik melihat benda-benda langit yang dipercayai berpengaruh langsung terhadap ekosistem bumi. Melalui penelitian lapangan secara kualitatif, penulis mendapatkan tradisi e’ha sebagai nilai budaya yang bermakna luas menyangkut banyak hal aspek kehidupan manusia, sebagai kearifan lokal yang mengendalikan kehidupan sosial masyarakat dan menata pengelolaan sumber daya alam setempat. Lahir dari kesusahan masyarakat di pulau kecil, memiliki sejarah bencana alam, sehingga oleh kebersamaan warganya mengatur penggunaan tanaman pangan dan sumber makanan dari laut. Selanjutnya sehubungan langsung dengan pelestarian lingkungan, pengendalian sosial, kegotong-royongan, musyawarah, kesejahteraan ekonomi rakyat, dan ketahanan pangan.
Pendekatan Elemen-Elemen Melayu-Islam dalam Restrukturisasi Birokrasi pada Kesultanan Palembang Darussalam oleh Sultan Mahmud Badaruddin II Lubis, Hafnita Sari Dewi; Tanjung, Yushar; Muhajir, Ahmad
Patra Widya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya. Vol. 23 No. 2 (2022)
Publisher : Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52829/pw.414

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk mengulas persoalan-persoalan terkait implementasi dari pendekatan elemen-elemen Melayu-Islam dalam restrukturisasi birokrasi dan keadaan-keadaan sekitar Sultan Mahmud Badaruddin II di Kesultanan Palembang Darussalam. Era Sultan Mahmud Badaruddin II (1803-1821) dikenal sebagai era yang paling krusial bagi sejarah Palembang. Ia merestrukturisasi birokrasi dan menghadapi sekaligus ancaman-ancaman dari internal (oleh adiknya sendiri) dan eksternal (oleh Inggris) untuk menggulingkannya dari takhta. Penelitian ini merupakan kajian kepustakaan dengan pendekatan metode sejarah. Beberapa dokumen dari arsip kolonial Belanda digunakan sebagai sumber primer dan sebagian besar buku dan artikel ilmiah yang relevan digunakan sebagai sumber sekunder. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa Sultan Mahmud Badaruddin II sadar dan perlu untuk memperkuat posisi dan kekuasaannya dari ancaman-ancaman internal dan eksternal. Ia telah menciptakan keseimbangan dengan memodifikas sistem birokrasi peninggalan leluhurnya dengan mengadopsi elemen-elemen sistem kepemimpinan kerajaan-kerajaan Melayu-Islam. Elemen-elemen Melayu-Islam yang tampak diimplementasikan dalam restrukturisasi birokrasinya ada enam, yaitu memperkuat kedudukan syahbandar, memperkuat kedudukan penghulu, mempertahankan Undang-Undang Simbur Cahaya, mempertahankan dan mengatur kelas sosial (sistem marga-marga), mengatur diferensiasi wajib pajak (sistem tiban tukon), serta mengontrol loyalitas elite dengan tanah lungguh (apanage). Restrukturisasi birokrasi yang diimplementasikan oleh Sultan Mahmud Badaruddin II terbukti secara praktis telah membuat tata kelola kesultanan lebih stabil, efektif, efisien, memperkuat monopoli perdagangan, dan membawa kemakmuran. Namun, intrik dan pengkhianatan berhasil menggulingkan Sultan Mahmud Badaruddin hingga diasingkan ke Ternate dan terpaksa meninggalkan tanah airnya jatuh ke tangan kolonialis.
Musim Haji di Mandailing Natal: Tradisi dan Status Sosial Tanjung, Yushar; Lubis, Hafnita Sari Dewi; Siregar, Muhammad Andre Syahbana
Patra Widya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya. Vol. 23 No. 2 (2022)
Publisher : Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52829/pw.415

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk membahas seputar tradisi musim haji pada masyarakat Mandailing Natal. Tradisi pada musim haji merupakan sebuah tradisi yang sudah lama dilakukan oleh masyarakat Mandailing Natal. Tradisi haji memang menjadi sebuah tradisi sakral bagi banyak masyarakat di Indonesia, salah satunya masyarakat Mandailing Natal. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan sosiologi agama. Sumber utama dalam penelitian ini ialah wawancara mendalam terkait tradisi pada musim haji di Mandailing Natal kepada sejumlah tokoh masyarakat setempat, yaitu Amirul Latif Lubis, Dedek Fauzi, Marwansyah Lubis, dan Yusuf Akbar. Sementara sumber pendukung didapat dari buku, jurnal, dan penelitian ilmiah lainnya yang relevan dengan tema yang dibahas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, terdapat tiga tradisi besar pada musim haji di Mandailing Natal, yaitu: marbante, mangalomang, dan khataman Al-Qur'an Marbante adalah tradisi menyembelih hewan kurban (sapi atau kerbau) yang kemudian dibagikan kepada masyarakat sekitar. Namun pada masa sekarang tradisi ini tidak hanya dilakukan pada musim haji, namun pada perayaan-perayaan besar lainnya. Mangalomang adalah tradisi memasak lemang bersama-sama di salah satu rumah warga. Biasanya tradisi ini dilakukan pada saat memasuki bulan Ramadhan dan menjelang hari raya Idul Fitri. Khataman Al-Qur'an adalah tradisi yang dilakukan dengan membaca Al-Qur'an bersama-sama pada malam hari dan menamatkan bacaannya pada malam itu juga. Selain itu, tradisi musim haji di Mandailing juga menjadi cara untuk menunjukkan kelas sosial dalam masyarakat di Mandailing Natal.
Kearifan Lokal Markusip Hakikat Pergaulan Muda Mudi Etnis Mandailing Tempo Dulu Sebelum Menuju Jenjang Pernikahan Lenni Ertati, Lenni Ertati; Saefur Rochmat
Patra Widya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya. Vol. 24 No. 1 (2023)
Publisher : Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52829/pw.364

Abstract

Markusip means the approach that is made between men and women by whispering from behind the walls of the house. The emergence of markusip local wisdom in Mandailing land cannot be separated from the influence of Islamic religious teachings brought by the priest troops which changed all aspects of the life of the Mandailing people, including in terms of association. The purpose of this writing is to describe the implementation of markusip local wisdom carried out by youth of the Mandailing ethnicity in the past before heading to marriage. The method used in this paper is descriptive qualitative method through literature studies both through books, journals, theses and other scientific articles. The results of this study indicate that the local wisdom of markusip is a manifestation of the implementation of the Islamic religionwhich prohibits interaction between men and women who are not mahrams. So that in practice both men and women cannot see each other because they are limited by the walls of the house. The local wisdom of markusip is a vessel for marriage if there is compatibility between men and women.
Pemanfaatan dan Perburuan Gajah di Perkebunan Sumatra Timur pada Awal Abad XX Suriani, Suriani
Patra Widya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya. Vol. 24 No. 1 (2023)
Publisher : Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52829/pw.370

Abstract

 This paper aims to narrate the presence of elephants in the history of plantations in East Sumatra in the process of opening and building infrastructure. It used historical method with primary sources the photographs of the use and hunting of elephants in East Sumatra in the early 20th century, East Sumatra plantation archives from their opening until their development in the early 20th century, newspapers and the Staatsblad of 1924 and 1931. Elephants played an important role in the the process of land clearingand infrastructure development in plantations in East Sumatra, but in the second decade of the XX century, hunting of elephants was still carried out. At that time elephants were needed for development as well as for fun in the form of hunting. The Colonial Government passed laws on hunting and protecting wild animals to minimize them. Based on these facts, in the history of plantations in East Sumatra there are not only narratives of capitalism, coolies or social history that discuss social segregation, but there are also narratives about environmental history that expose changes in the landscape of East Sumatra and the exploitation of elephants.
Pemanfaatan DAS Brantas dalam Konteks Pelaksanaan Program Revolusi Hijau di Jawa Timur Masa Orde Baru Endrayani, Eko Crys; Krisnadi, Ignatius; Nawiyanto; Suharto; Handayani, Sri Ana; Salindri, Dewi
Patra Widya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya. Vol. 24 No. 1 (2023)
Publisher : Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52829/pw.371

Abstract

This article discusses the utilization of the Brantas River Basin in the context of implementing the Green Revolution program in East Java during the New Order era which made an important contribution to the success of the New Order government in getting out of the food crisis and becoming self-sufficient in rice. Wlingi Dam (Blitar Regency) and Widas Dam (Nganjuk Regency) were successfully built thanks to the collaboration between the Indonesian government and the Japanese government as funders and as consultants for the development of modern agriculture in Indonesia. The two dams are useful in irrigation systems, flood control, converting dry land to paddy fields, conserving and breeding fish and becoming tourist destinations for the Brantas watershed in East Java.
Peristiwa Minggir: Aksi Sepihak Barisan Tani Indonesia di Desa Sendangmulyo, Kecamatan Minggir, Kabupaten Sleman Tahun 1957-1965 Ashshiddiq, Ahmad Abdul Wahid; Aman
Patra Widya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya. Vol. 24 No. 1 (2023)
Publisher : Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52829/pw.372

Abstract

Pada tahun 1957 terjadi aksi sepihak yang dilakukan oleh Barisan Tani Indonesia di Desa Sendangmulyo. Aksi ini dinamakan Peristiwa Minggir dan menjadi pemberitaan nasional. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui latar belakang, kronologi, dan penyelesaian dalam Peristiwa Minggir. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode sejarah kritis yang terdiri dari empat tahap, yaitu heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi. Hasil penelitian ini menunjukkan aksi sepihak yang dilakukan Barisan Tani Indonesia (BTI) berawal dari kesenjangan ekonomi dan polarisasi politik yang terjadi di Desa Sendangmulyo. Para buruh tani bersama BTI melakukan aksi tidak menyetorkan hasil panennya kepada tuan tanah sebagai bentuk aksi mengambil kembali tanah yang menurut mereka sudah menjadi hak buruh tani. Peristiwa Minggir kemudian diselesaikan melalui jalur hukum di tahun 1965 dengan keputusan hak milik tanah dikembalikan kepada pemilik Letter C.
BANDAR KEMA:: JALUR ISLAMISASI DAN DOMINASI KOLONIAL (1824-1930) Zamzami, Rizal; Riyadi, Ahmad Syaf’i Mufadzilah; Azis, Muhammad Nur Ichsan
Patra Widya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya. Vol. 25 No. 1 (2024)
Publisher : Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52829/pw.389

Abstract

Tulisan ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis jalur islamisasi dan dominasi kolonial terhadap keberadaan Islam di Bandar Kema, Minahasa. Perkembangan islamisasi di Kema, tidak lepas dari aktivitas dan peran para penyebar Islam, baik ulama, pedagang, dan tokoh politik, sejak abad ke-19 M. Islamisasi di Bandar Kema mengalami signifikansi pada pertengahan abad ke-19, melalui relasi politik dan aktivitas niaga maritim. Metode sejarah yang digunakan dalam tulisan ini adalah pendekatan ilmu sosial yang menggunakan teori islamisasi dan pengaruh kolonisasi di kawasan tertentu. Jalur islamisasi di Bandar Kema berimplikasi pada terbentuknya masyarakat muslim yang mendiami daerah pesisir. Di sisi lain, dominasi kolonial juga berdampak munculnya kelompok-kelompok muslim yang berusaha mempertahankan keberadaan mereka di tengah pengaruh tersebut yang berhubungan langsung dengan kebijakan politik dan ekonomi.
EKSISTENSI CHEN YAN XIANG: PEDAGANG, DIPLOMAT, DAN DIASPORA: Merchant, Diplomat, and Diaspora Santoso, Christopher Jason
Patra Widya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya. Vol. 24 No. 2 (2023)
Publisher : Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52829/pw.400

Abstract

Chen Yan Xiang might be the first-and-only person from Majapahit Kingdom which came throughout Korea Peninsula and noted by Veritable Records of Joseon Dynasty at the end of 14th until the beginning of 15th century. Foreign records have verified his legacy as diplomat, though countless aspects challenged him before gone to Joseon Kingdom. But the information for Chen Yan Xiang is still little to know about, especially about his identity, legacy, and role during history. Researcher’s objectives are to explore more his legacy from Majapahit to East Asia, especially Korea Peninsula and Japan from his role towards as being a merchant, a diplomat, and a diaspora. Researcher’s method is qualitative research with comparative style of verification to old documents. Chen Yan Xiang was believed to be not only a diplomat, but also a merchant for goods from Java, and the diaspora – making cultural and linguistic connections between two old countries.
Blindeninstituut Bandung: Sekolah Pertama untuk Penyandang Disabilitas di Hindia-Belanda Rifai Shodiq Fathoni
Patra Widya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya. Vol. 24 No. 1 (2023)
Publisher : Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52829/pw.405

Abstract

 This study aims to explore the earliest education for people with disabilities during the colonial period, specifically focusing on the blind at Blindeninstituut Bandung. The primary issue addressed in this research is the reason behind the attempt to educate the blind during the colonial period. The research employs historical methods, including heuristics, source criticism, interpretation, and historiography. The emergence of Blindeninstituut Bandung serves as a response to the problem of blindness in Java, which resulted in many visually impaired individuals of working age having to depend on begging to sustain their lives. On the other hand, the colonial government, through its policies, failed to allocate sufficient resources for people with disabilities. Through the social innovations introduced by Blindeninstituut, blind individuals are educated and trained to become independent individuals and secure a future for themselves.` The presence of Blindeninstituut, which is funded by private donors, such as the masonic lodge, serves as evidence that societal awareness of the rights of people with disabilities had emerged during the colonial period.