cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Patrawidya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya
ISSN : 14115239     EISSN : 25984209     DOI : -
Core Subject : Art, Social,
The Patrawidya appears in a dark gray cover with a papyrus manuscript. The Patrawidya Journal is published three times a year in April, August and December. The study of the Patrawidya Journal article is on the family of history and culture. The Patrawidya name came from a combination of two words "patra" and "widya", derived from Sanskrit, and became an absorption word in Old Javanese. the word "patra" is derived from the word "pattra", from the root of the term pat = float, which is then interpreted by the wings of birds; fur, leaves; flower leaf; fragrant plants fragrant; leaves used for writing; letter; document; thin metal or gold leaf. The word "widya" comes from the word "vidya", from the root vid = know, which then means "science". Patrawidya is defined as "a sheet containing science" ISSN 1411-5239 (print) ISSN 2598-4209 (online).
Arjuna Subject : -
Articles 149 Documents
WACANA IDENTITAS NASIONAL PADA BUKU TEKS PELAJARAN SEJARAH DI INGGRIS DAN INDONESIA: KAJIAN KOMPARATIF Purwanta, Hiernonymus; Santosa, Heribertus Hery; Haryono, Anton
Patra Widya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya. Vol. 16 No. 3 (2015)
Publisher : Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (165.764 KB) | DOI: 10.52829/pw.71

Abstract

Salah satu tujuan terpenting pendidikan sejarah adalah untuk menumbuhkan identitas dalam diri generasi muda.Artikel ini bermaksud untuk meneliti bagaimana bangsa Inggris dan Indonesia memproduksi wacana identitas nasional mereka melalui buku teks pelajaran sejarah SMA. Metode yang digunakan adalah Critical Discourse Analysis (CDA) terhadap narasi yang terdapat pada buku teks pelajaran sejarah dari kedua negara sebagai subjek kajian.Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah hermeneutika. Hasil penelitian menunjukkan bahwa buku teks pelajaran sejarah di Inggris mewacanakan bahwa bangsa Inggris (British) merupakan subjek dari berbagai peristiwa sejarah yang terjadi, serta menarasikan pencapaian dan sukses yang diperoleh masyarakat Inggris. Bahkan, untuk menonjolkan wacana itu, pengarang buku teks pelajaran sejarah melakukan heroifikasi dan mitologisasi berbagai tokoh dan peristiwa sejarah. Sebaliknya, buku teks pelajaran sejarah di Indonesia justru mewacanakan masyarakat Indonesia sebagai objek dari kekuatan bangsa asing, khususnya bangsa Belanda dan peradaban Eropa. Dari sudut pandang ini, kebudayaan Indonesia sebagai sumber identitas masyarakat dinegasikan dan digambarkan sebagai “kuno” dan “kolot” yang tidak cocok dengan kebudayaan modern.One of the most important goals of history education is to infuse national identity to young generation. Aim of this article is to explore of how British (United Kingdom) and Indonesia product their discourse of national identity through their high school history textbooks. A methods use is Critical DiscourseAnalysis (CDA) where content of history textbooks from the two countries as subject of analysis. Approach used is hermeneutics.Result shows that high school textbooks in United Kingdom discoursing British as subject of historical events, achievement and success of British people. Moreover, authors of the textbooks made heroification and mythologization. In contrast, high school textbooks in Indonesia discoursing Indonesians as object of foreign powers especially Dutch and Western civilization. From this viewpoint, Indonesian cultures as source of identity is negated and described as “old fashion” that couldn't fit modern culture.
MODEL PENYELESAIAN KONFLIK PEMANFAATAN SUMBER DAYA HUTAN BERPERSPEKTIF GENDER BERBASIS KEARIFAN LOKAL Suliantoro, Bernadus Wibowo; Runggandini, Caritas Woro Murdiati
Patra Widya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya. Vol. 19 No. 1 (2018)
Publisher : Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (578.573 KB) | DOI: 10.52829/pw.139

Abstract

Manajemen pengelolaan dan pemanfatan hutan di Indonesia gagal mewujudkan hutan lestari  dengan salah satu indikasi laju deforestasi masih tinggi. Kerusakan hutan berdimensi gender karena besaran penderitaan yang ditanggung perempuan lebih berat dibandingkan laki-laki sebagai konsekuensi logis dari  fungsi reproduksi, produksi dan konsumsi yang melekat padanya.Masyarakat desa Beji memiliki ide inspiratif model pengelolaan konflik pemanfaatan hutan yang mampumemberikan rasa keadilan dan kesejahteraan bagi banyak pihak. Penelitian ini bertujuan  memformulasikan model pengelolaan konflik pemanfaatan sumber daya hutan yang dilakukan masyarakat desa Beji.Permasalahan yang diteliti adalah bagaimana masyarakat desa Beji memecahkan persoalan secara bijaksana pada saat  menghadapi konflik antara fungsi hutan satu dengan yang lain supaya dapat diambil keputusan yang lebih  memberikan rasa keadilan dan kesejahtaraan bagi banyak pihak? Penelitian menggunakan model riset partisipatoris, untuk menganalis data temuan lapangan supaya lebih mendalam menggunakan unsur metode filsafat berupa hermeneutika dan heuristika.Hasil penelitian masyarakat desa Beji menyelesaikan konflik pemanfaatan sumber daya alam hutan dengan mengembangkan pola berpikir sintesis, membangun pola hubungan dialektika positif antara perempuan dengan laki-laki, memprioritaskan  kelestarian serta kesejahteraan semua mahkluk dalam jangka panjang. Nilai-nilai feminitas yang digunakan sebagai fondasi penyelesaian konflik pemanfaatan sumber daya alam adalah hormat terhadap kehidupan, kerjasama secara harmoni dengan seluruh unsur kosmis, peduli pada kepentingan semua pihak, kasih sayang (welas asih) terhadap semua mahkluk, dan berorientasi bagi kesejahteraan  generasi sekarang maupun mendatang.____________________________________________________________Forest management and forest utilization in Indonesia failed to achieve its sustainability which is indicated by the high rates of deforestation. Forest destruction is a gender dimensional because the pain that women bear is heavier than men as a logical consequence of the reproductive, production and consumption functions attached to it. Beji villagers have an inspirational idea of conflict management models of forest utilization that can provide a sense of justice and prosperity for many parties. This study aims to formulate a model of conflict management about forest’s resource utilization conducted by Beji villagers. The problem under the study is how do Beji villagers solve the problem wisely when facing the conflict of the forest utilization in order to be able to take a decision that gives more sense of justice and welfare for any parties? The study used a participatory research model, in order to analyze deeper the field findings data, author uses elements of philosophical methods of hermeneutics and heuristics.The results of this research showed that Beji villagers resolved the conflict of forest utilization by developing synthetic thinking pattern, establishing positive dialectic relationship pattern between women and men, and prioritizing the sustainability and prosperity of all creatures for the long term period. The values of femininity that were used as the foundation for the settlement of natural resource utilization conflict are as follow: respecting life, harmony in cooperation with all cosmic elements, caring towards the interests of all parties, affection for all beings, and mind oriented of the welfare for present generation as well as the future generation.
PENANGANAN BENCANA LETUSAN GUNUNG GALUNGGUNG PADA TAHUN 1982-1983 Ariwibowo, Gregorius Andika
Patra Widya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya. Vol. 18 No. 2 (2017)
Publisher : Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5992.433 KB) | DOI: 10.52829/pw.38

Abstract

Letusan Galunggung merupakan salah satu bencana besar di Indonesia. Meskipun letusan ini tidak menelan jumlah korban jiwa yang besar, namun letusan yang berlangsung selama sekitar delapan bulan ini telah mempengaruhi kehidupa sehari-hari penduduk di tiga kabupaten di Jawa Barat. Kajian ini mencoba menjabarkan mengenai upaya pemerintah, terutama pemerintahan orde baru dalam penanganan bencana letusan Galunggung. Penanganan bencana merupakan upaya penanganan langsung terhadap para korban sesaat setelah bencana terjadi. Kajian ini menggunakan metodologi sejarah dengan menggali pada sumber-sumber yang merekam dan mendokumentasikan peristiwa ini. Kesimpulan dari kajian ini adalah bahwapemerintah orde baru menggunakan perangkat sipil dan militer dalam upaya penanganan bencana. Pengaruh dari konsolidasi penanganan yang dilakukan secara sistematik in berjalan dengan sangat baik antara aparat pemerintah, peneliti, militer, dan tim SAR dalam menangani para pengungsi dan dampak bencana yang lain.Galunggung eruption was one of the enormous disaster in Indonesia. Although not killed so many people, Galunggung eruption hit continuously around eight months and crackdown in a most density population area in three regency areas in West Java province. This chapter point is want observe the roles of government to manage disaster relief, especially during Galunggung eruption disaster by the New Order regime. Disaster relief refers to interventions aimed at meeting the immediate needs of the victims of a disastrous event. This studies used a historiography methodology to reconstruct disaster relief event of Galunggung eruption. Conclusion of this study underlines that New Order used their civil and military power to manage the situation in Galunggung. The impact was so good because they used a systematic order to consolidate many organization from local government, researcher, and Save and Rescue (SAR) to handle the situation.
RIVALITAS JAMU JAWA DAN OBAT TRADISIONAL CINA1 ABAD XIX - AWAL ABAD XX Fibiona, Indra; Lestari, Siska Nurazizah
Patra Widya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya. Vol. 16 No. 4 (2015)
Publisher : Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (118.84 KB) | DOI: 10.52829/pw.82

Abstract

Jamu Jawa atau obat tradisional Jawa sebagai warisan budaya mengalami tekanan setelah obat tradisional Cina semakin populer di Hindia Belanda. Keduanya saling berkompetisi dalam dunia kesehatan di Hindia Belanda pada abad XIX dan XX.Rivalitas keduanya belum banyak dikaji, dan sangat menarik jika bisa diteliti lebih dalam. Tulisan ini merupakan penelitian kualitatif yang berasal dari penelitian kolektif mengenai Jamu yang digagas atas inisiatif bersama untuk melengkapi penelitian tentang jamu sebelumnya. Penelitian ini juga termasuk dalam penelitian sejarah sosial dengan analisis menggunakan metodologi sejarah sosial. Hasil penelitian menunjukan bahwa Jamu Jawa (traditionele Javaanse geneeskunde) kurang memiliki daya saing dalam beberapa hal jika dibandingkan dengan Obat Tradisional Cina(Traditionele Chinese Geneeskunde). Kurangnya daya saing tersebut disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya sistem distribusi dan branding jamu yang belum bisa meraih pangsa pasar potensial.Jamu Jawa or Javanese traditional medicine as a heritage inherited under pressure after the traditional Chinese medicine are increasingly popular in the Dutch East Indies. Both of them competing in the world of health in the Dutch East Indies in the XIX and XX century. Rivalry of both has not been widely discussed, it's very interesting if it can be studied further. This paper is a qualitative research derived from collective research on herbs that was initiated on a joint initiative to complement previous research about traditional herbal medicine. The study also included in the study with an analysis of social history using the methodology of social history. The results showed that Jamu Jawa (Traditionele Javaanse Geneeskunde) lack of competitiveness in some respects when compared with Traditional Chinese medicine (Traditionele Chinese Geneeskunde). The lack of competitiveness caused by several factors, including the distribution system and Jamu's branding have not been able to gain potential market share.
PSEUDO-BATTLE OF MEMORY: DUA MEMORI KOLEKTIF PANGERAN SAMUDRO DI GUNUNG KEMUKUS Prasadana, Muhammad Anggie Farizqi
Patra Widya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya. Vol. 19 No. 2 (2018)
Publisher : Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (556.828 KB) | DOI: 10.52829/pw.10

Abstract

Objek wisata Gunung Kemukus sesungguhnya mengandung dua memori kolektif tentang Pangeran Samudro. Kendati demikian, keduanya tidak dapat berjalan bersama, tetapi justru saling bertarung dan mengalahkan satu sama lain, sehingga hanya satu memori yang menjadi pemenang dan berkembang luas. Permasalahan penelitian ini adalah mengungkapkan awal mula terciptanya kedua ingatan tentang Pangeran Samudro. Selain itu menjelaskan mengapa dalam perkembangan selanjutnya salah satu dari keduanya mendominasi yang lain, serta mengapa pertarungan di antara keduanya disebut sebagai pertempuran memori yang semu.____________________________________________________________Mount Kemukus tourism object has two collective memories about Prince Samudro. However, the two memories fight and defeat each other. This study aims to find out how those two memories battle. This study used qualitative methods and qualitative descriptive analysis. The results showed that initially there was only one collective memory of Prince Samudro who was passed down from generation to generation in Mount Kemukus. Since Mount Kemukus is increasingly crowded with residential settlements, a second memory emerges which on the basis of economic interests seeks to defeat the memory that had already existed. In the next development, the second memory is actually developing because of offering a pilgrimage procession on Prince Samudro’s grave, which is easier in the form of sexual intercourse. The first memory does not remain silent and attempts to subdue the second memory. However, the first memory battle against the second memory was only half-hearted.
SUKAPTINAH AND HAJINAH’S ROLES IN THE NATIONALIST MOVEMENT IN INDONESIA Amini, Mutiah
Patra Widya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya. Vol. 18 No. 3 (2017)
Publisher : Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3838.587 KB) | DOI: 10.52829/pw.8

Abstract

In the history of the Indonesian women’s movement, Siti Sukaptinah Sunaryo Mangunpuspito (hereinafter referred to as Sukaptinah, 1907-1991) and Siti Hajinah Mawardi (hereinafter referred to as Hajinah, 1906-1995) were known as activists in women’s organizations during the colonial period. Sukaptinah was a member of an Islamic nationalist group (JIBDA – Jong Islaminten Bond Dames Afdeling) with a background on the Indonesian education movement, Taman Siswa. She was also active in the first Indonesian Women’s Congress of 1928. Hajinah who came from Aisyiah (the women’s wing of the large modernist Islamic organization, Muhammadiyah) was known as one of the members of the Indonesian Women Congress. In addition to their activities in the Indonesian women’s movement and the Islamic movement, they also played roles in national movement, a matter which is not quite recognized. Hajinah did not only act as the head of Aisjiah, but also partook actively in press through Soeara ‘Aisjiah magazine (Aisjiah’s quarterly magazine) and Isteri (magazine existing in embryo in the first women congress). An activist of Aisjiah, she gave meaning of the independence achievement through the domain of family (social). On the other hand, Sukaptinah, activist of Jong Islaminten Bond, who also actively participated in the first, second, third and fourth Indonesian Women Congress, gave meaning of the national movement through political domain. She had sat in the parliament as the woman representative in the government council in Semarang, with the most important political thought in the form of the importance of woman to struggle their rights to vote and be voted in the parliament.Di dalam sejarah gerakan perempuan, Siti Sukaptinah Sunaryo Mangunpuspito (yang selanjutnya disebut Sukaptinah, 1907-1991) dan Siti Hajinah Mawardi (yang selanjutnya disebut Hajinah, 1906-1995) dikenal sebagai aktivis organisasi perempuan pada masa kolonial. Sukaptinah adalah anggota kelompok nasionalis Islam (JIBDA – Jong Islaminten Bond Dames Afdeling) dengan latar belakang pendidikan nasionalis, Taman Siswa. Sukaptinah juga aktif di dalam Konggres perempuan Indonesia Pertama pada 1928. Sementara itu, Hajinah merupakan anggota Aisjiah (sayap perempuan dari salah satu organisasi modernis Islam, Muhammadiyah) serta dikenal sebagai salah seorang anggota Konggres Perempuan. Selain aktivitasnya di dalam gerakan perempuan Indonesia dan gerakan Islam, mereka juga berperan penting di dalam gerakan nasional, yang selama ini jarang diperbincangkan. Hajinah tidak hanya pernah menjadi salah seorang pimpinan Aisjiah, tetapi juga menjadi pemikir penting atas terbitnya majalah Soeara ‘Aisjiah (majalah terbitan rutin Aisjiah) dan Isteri (majalah yang memiliki keterkaitan erat dengan Konggres Perempuan Pertama). Sebagai aktivis Aisjiah, Hajinah berperan dalam pemberian arti kebebasan berpendapat melalui ruang keluarga (sosial). Selain itu, Sukaptinah, merupakan aktivis Jong Islaminten Bond, yang juga berpartisipasi aktif di dalam Konggres Perempuan Pertama, Kedua, ketiga, dan Keempat, dengan memberikan arti yang penting melalui ranah politik. Sukaptinah juga pernah duduk di parlemen di Semarang sebagai wakil perempuan, dengan pemikiran politiknya tentang pentingnya perempuan secara tegas memperjuangkan hak pilih dan keterwakilan perempuan di parlemen.
IMPLEMENTASI ATURAN ADAT TERHADAP PENGELOLAAN LINGKUNGAN: DAMPAKNYA TERHADAP PERUBAHAN SOSIAL PADA KOMUNITAS ADAT KASEPUHAN CISITU Nopianti, Risa
Patra Widya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya. Vol. 18 No. 1 (2017)
Publisher : Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (6502.773 KB) | DOI: 10.52829/pw.50

Abstract

Komunitas adat Kasepuhan Cisitu selama beberapa tahun terakhir ini mengindikasikan terjadinya perubahan, terutama pada cara-cara hidup, kondisi fisik lingkungan hutan, dan budaya. Hal ini terjadi karena masyarakat Kasepuhan Cisitu diperkenankan untuk mengelola hutan tutupan, yang memiliki sumberdaya alam melimpah berupa pertambangan emas. Hal yang menarik dari penelitian ini adalah bagaimana bisa aturan adat memperbolehkan masyarakatnya mengeksploitasi hutan tutupan, yang dipercaya masyarakat sebagai hutan terlarang untuk dieksploitasi. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan menggunakan wawancara mendalam. Penelitian ini menemukan bahwa ada keterkaitan yang cukup erat antara perubahan sosial yang terjadi pada komunitas adat Kasepuhan Cisitu dengan kegiatan masyarakat melakukan penambangan dan pengelolaan lingkungan hutan tutupan. Hal ini terjadi karena adanya aturan adat yang mendukung masyarakat untuk memanfaatkan lahan hutan tutupan yang terlanjur terkena dampak pertambangan, supaya dapat memberikan manfaat bagi masyarakat. Perubahan sosial ini juga memiliki pengaruh yang cukup besar pada perubahan aturan adat yang selama ini dianut oleh komunitas adat Kasepuhan Cisitu.____________________________________________________________Kasepuhan Cisitu communities over the last few years indicate a change, especially in the ways of life, the physical condition of the forest environment, and culture. This happens because people Kasepuhan Cisitu allowed to manage a forest reserve, which incidentally has abundant natural resources such as gold mining. The interesting thing about this study is how can the customs rules allow people to exsploiting tutupan forest, that trusted as the forbidden forest to exploited. This study used a qualitative descriptive method by using indepth interviews. The study found that there was sufficient connection between social changes that occur in indigenous communities Kasepuhan Cisitu with community activities mining and environmental management of the forest reserve. This occurs because of the customary rules for communities to utilize tutupan forest are already affected by mining, in order to provide benefits to the community. This social change also has a considerable influence on the change of customary rules that have been adhered to by the traditional community of Kasepuhan Cisitu.
PERAN KIAI IBRAHIM TUNGGUL WULUNG SEBAGAI MISIONARIS DI TEGALOMBO, PATI, PADA ABAD 18: PERSPEKTIF POSTKOLONIAL Dikawati, reni
Patra Widya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya. Vol. 19 No. 3 (2018)
Publisher : Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (285.199 KB) | DOI: 10.52829/pw.131

Abstract

Perspektif postcolonial memberi ruang menyuarakan sekaligus penelusuran ulang terhadap upaya teologi lokal yang terpinggirkan, mengungkap idealitas yang diharapkan individu (indigeneous) dibawah relasi kuasa penguasa yang diwacanakan sebelumnya oleh pemerintah kolonial. Telaah postcolonial di era kontemporer menjadi ruang negosiasi yang berimplikasi pada suatu kesadaran dan sistem mentalitas kritis dalam memandang dikotomi Barat dan Timur. Penelitian ini bertujuan menelaah peranan dan konsistensi pengajaran Kiai Ibrahim Tunggul Wulung dengan sudut pandang postcolonial dalam menyebarkan ajaran Kristen Kejawen, sehingga menjadi bentuk negosiasi identitas dalam struktur sosial di bawah pemerintah kolonial. Hasil temuan menunjukkan transfer pengajaran Kristen oleh Tunggul Wulung menampilkan spiritualitas dan humanisme religious, diimbangi asketisme serta kesadaran politik menentukan  hak nasib sendiri, resistensi atas represi kolonialisme, yang secara implisit menampilkan keinginan hidup bersama dalam suasana demokrasi. Pola nalar dan mentalitas yang mengidentifikasikan kebebasan berpikir dan kadar penerimaan yang mengarah pada pembentukan identitas sosial sebagai bekal pembebasan dari kesewenangan pemeintah.____________________________________________________________The postcolonial perspective gives space to voice and retrace the efforts of marginalized local theology, uncovering the ideality that is expected by the individual (indigeneous) under the power relations of the authorities which were pre-discouraged by the colonial government. Postcolonial analysis in the contemporary era has become a space for negotiation which has implications for an awareness and critical mentality system in looking at the West and East dichotomy. This study aims to examine the role and consistency of the teaching of Kiai Ibrahim Tunggul Wulung in spreading the teachings of Kejawen Christianity, so that it becomes a form of identity negotiation in social structures under the colonial government. The findings show that the transfer of Christian teaching by Tunggul Wulung shows religious humanism and spirituality, balanced with asceticism and political awareness of selfdetermination, resistance to colonial repression, which implicitly displays the desire to live together in an atmosphere of democracy. The pattern of reasoning and mentality that identifies freedom of thought and the level of acceptance that leads to the formation of social identity as a provision for liberation from the authority of the government.
IM : ARSITEKTUR TRADISIONAL MASYARAKAT MASELA, MALUKU BARAT DAYA Wakim, Mezak
Patra Widya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya. Vol. 18 No. 3 (2017)
Publisher : Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (6028.141 KB) | DOI: 10.52829/pw.21

Abstract

Penelitian ini mengkaji arsitektur tradisional masyarakat Masela yakni rumah adat Im, tempat di laksanakanya ritual adat dan melangsungkan kehidupan keseharian. Rumah Adat Im berlokasi di Pulau Masela Kabupaten Maluku Barat Daya yang membawai 11 desa dengan karakter rumah adat yang sama, Konstruksi Im berbentuk rumah panggung yang dihuni oleh beberapa keluarga. Orang yang tinggal dalam Im memiliki hubungan kekerabatan, dan biasanya melakukan aktifitas secara bersama-sama, termasuk aktifitas di bidang ekonomi, dengan tetap mengedepankan nilai-nilai penghargaan terhadap Tuhan, leluhur. Adapun permasalahan yang di kajih antara lain ; (1) Bagaimana Konsep Struktur bangunan Im, (2) Bagaimana Peranan Im  dalam Kehidupan masyarakat Masela, (3) Bagaimana pembagian ruang dan penerapan nilai-nilai filosofis Im.  Sedangkan Tujuan penelitian, ini adalah mengungkap bentuk dan fungsi ruang, struktur bangunan, dan kosmologi dalam asrsitektur Im. Metode penelitian yang di gunakan bersifat deskriptif dengan pendeketan kualitatif. Teknik pengumpulan data berupa wawancara, pengamatan, dan studi pustaka. Hasil penelitian menunjukan bahwa konstruksi bangunan Im  adalah berbentuk rumah panggung dan terbagi atas susunan antara lain (1) Ruang atas (2), Tengah, (3) ruang bawah. Im, mencakup seluruh aspek keberadaan manusia, seperti sistem kepercayaan manusia, hubungan antar manusia, hubungan manusia dengan kuasa ilahi, dan tingkah laku manusia. Misalnya, cara makan manusia, cara berpikir, cara menghuni rumah, cara tidur, cara bekerja; semuanya ditentukan oleh nilai-nilai budaya dalam Im.  Letak bangunan mengikuti panjang kampung dengan mengikuti garis pantai, Im sebagai gambaran dari satu totalitas hidup, dan berfungsi sebagai tempat penyelenggaraan seluruh kehidupan masyarakat, meliputi kehidupan sosial dan ritual. Artinya kehidupan religi menyatu dengan kehidupan nyata sehari-hari. Tidak ada pemisahan yang tajam antara hal-hal yang transenden dan yang imanen atau yang rohani dan yang jasmani; kehidupan rohani terwujud dan tersosialisasi di dalam kehidupan setiap hari.This research is about the traditional architecture of Masela people, the traditional house Im. The traditional house Im located in Masela island the regency of Maluku Barat Daya that include eleven villages with the same traditional house. The construction of Im is rumah panggung that is dwelled by some families.  The people who lived in Im have relative relationship and often doing the activity together, include the economic with priority of the appreciation values to God and the ancestor. The problems that would researched are (1) How is the concept structure of building Im (2) How is the role of Im in Masela people, (3) How is the dividing of room and applying the philosophy values of Im. The purpose of this research is to describe the form and function of the room, the building structure, and cosmology in architecture Im. This research using the method of qualitative descriptive. The technic of collecting data is interview, observation, and study of references. This research indicate that the construction building of Im is typed rumah panggung and divide into some compositions such as (1) top room, (2) midlle room, and (3) under room Im include the whole aspect of human being such as belief system of human being, the relation between human being, the relation of human being and God, and the behavior of human being. Such as the way of eat, the way of thinking, the way to dwelling the house, the way of sleeping, the way to working, all of them is fixed by the values of Im. The location building is follow the length of the village based on the sea line. Im is the description of unity and is function as the place center of whole life community, social and tradition. It is mean the religion and daily life is one. There is no separation between the spiritual and body material, the spiritual life is manifestated and implementated in daily life.
ASIMILASI PERKAWINAN ETNIS CINA DENGAN PRIBUMI DI JAWA: FOKUS STUDI DI JEMBER SITUBONDO DAN TULUNGAGUNG Winarni, Retno
Patra Widya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya. Vol. 18 No. 1 (2017)
Publisher : Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5403.056 KB) | DOI: 10.52829/pw.44

Abstract

Artikel ini mendiskusikan tentang asimilasi perkawinan antara orang-orang Cina dengan orang pribumi. Pertanyaan yang dijawab dalam kajian ini adalah: mengapa pada masa lalu banyak orang–orang Cina pendatang yang menikah dengan pribumi, kapan asimilasi perkawinan mengalami penurunan, dan faktor-faktor apa yang menyebabkannya, bagaimana kondisi sekarang, dan apa dampak asimilasi perkawinan terhadap budaya dan tradisi mereka. Hasil kajian menunjukkan bahwa asimilasi perkawinan terjadi sejak orang-orang Cina perantau memutuskan untuk tinggal dalam waktu lama di Indonesia, tetapi pada akhir abad ke-18 awal abad ke-19, asimilasi perkawinan cenderung mengalami penurunan. Hal ini disebabkan sudah semakin banyaknya perempuan-perempuan asli Cina yang pergi ke Indonesia (Jawa), sehingga banyak Cina peranakan yang kawin dengan perempuan Cina asli, tetapi bukan berarti asimilasi itu hilang sama sekali. Asimilasi perkawinan ini mulai banyak terjadi sejak era ORBA, anjuran pemerintah untuk asimilasi berpengaruh terhadap asimilasi perkawinan. Dampak dari asimilasi perkawinan ini adalah pembauran tradisi dan budaya karena bersatunya dua etnis dalam satu keluarga.____________________________________________________________This article discusses marital assimilation between Chinese and indigenous people. The research questions are: why many Chinese newcomers got married with the indigenous people in the past, when marital assimilation decreased and its factors, how the recent condition is, and what the impacts of marital assimilation towards their culture are. The result of research shows that marital assimilation happened since the Chinese people decided to stay longer in Indonesia. However at the end of 18th century, the marital assimilation decreased. It was triggered by many Chinese women who arrived in Java. Therefore many peranakans Chinese got married with the indigenous Chinese women. Yet it did not mean assimiliation was no longer in existence. The marital assimilation was executed again in the era of New Order. The wisdom of government affected the marital assimilation. The impact of the assimilation is the mixing of culture and tradition because of the unity of two ethnicities in one family.

Page 3 of 15 | Total Record : 149