cover
Contact Name
Dini Widiarni Widodo
Contact Email
journalorli@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
journalorli@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Oto Rhino Laryngologica Indonesiana
ISSN : 02163667     EISSN : 25983970     DOI : -
Core Subject : Health,
Journal Othorhinolaryngologica Indonesiana is a peer-reviewed and open access journal that focuses on promoting otorhinolaryngology-head and neck surgery that publishes research reports, case reports, and literature reviews, to increase knowledge and updating diagnostics procedurs on otorhinolaryngology-head and neck surgery.
Arjuna Subject : -
Articles 493 Documents
Penutupan defek dasar tengkorak dengan pendekatan endoskopi menggunakan jabir Hadad-Bassagasteguy Umar Said Dharmabakti; Hably Warganegara
Oto Rhino Laryngologica Indonesiana Vol 43, No 2 (2013): Volume 43, No. 2 July - December 2013
Publisher : PERHATI-KL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (505.617 KB) | DOI: 10.32637/orli.v43i2.71

Abstract

Latar belakang: Defek pada dasar tengkorak dapat menyebabkan kebocoran cairan serebrospinal (CSS) ke rongga hidung. Defek ini berisiko menyebabkan komplikasi yang berbahaya dan mungkin fatal, oleh karena itu perlu penatalaksanaan segera berupa rekonstruksi penutupan. Penutupan defek dengan pendekatan endoskopi dilaporkan memiliki angka keberhasilan yang tinggi. Jabir nasoseptal atau yang dikenal juga sebagai jabir HadadBassagasteguy (HB) merupakan jabir pilihan untuk menutup defek dasar tengkorak.Tujuan: Kasus ini diajukan untuk menyampaikan pengetahuan adanya jabir dari mukoperikondrium dan mukoperiosteum septum yang menjadi pilihan untuk menutup defek dasar tengkorak. Kasus: Dilaporkan pasien seorang wanita usia 42 tahun dengan diagnosis rinore CSS spontan. Defek teridentifikasi pada sisi lateral sinus sfenoid kanan. Penatalaksanaan: Dilakukan penutupan defek per endoskopi menggunakan obliterasi tandur lemak dan jabir HB. Pada follow up selama 1,5 tahun tidak didapatkan kebocoran CSS berulang. Kesimpulan: Jabir nasoseptal merupakan pilihan dalam penutupan defek dasar tengkorak yang memiliki proses penyembuhan lebih cepat dan menurunkan risiko terjadinya kebocoran CSS berulang pasca penutupan.Kata kunci: Defek dasar tengkorak, jabir Hadad-Bassagasteguy, jabir nasoseptal.
Rinoplasti pada kelainan hidung kongenital Trimartani Trimartani; Novra Widayanti
Oto Rhino Laryngologica Indonesiana Vol 45, No 1 (2015): Volume 45, No. 1 January - June 2015
Publisher : PERHATI-KL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2425.472 KB) | DOI: 10.32637/orli.v45i1.106

Abstract

Latar belakang: Nasal bifida dan supernumerary nostril merupakan kelainan hidung  kongenital yang sangat jarang.  Nasal bifida disebut juga hidung ganda atau celah hidung, mempunyai manifestasi sangatberagam mulai dari lekukan minimal pada puncak hidung hingga celah maksila. Supernumerary  nostrilmerupakan bagian dari kelainan duplikasi hidung. Tujuan: Sebagai ilustrasi kepada ahli THT-KL mengenaikasus kelainan hidung kongenital yang jarang ditemukan. Kasus: Dilaporkan tiga kasus anak dengankelainan hidung kongenital selama bulan Agustus-Desember 2012. Satu kasus dengan  nasal bifida, satukasus dengan nasal bifida disertai atresia koana, dan satu kasus dengan triple nostril. Penatalaksanaan:Pada kasus nasal bifida dilakukan rekonstruksi hidung menggunakan  tandur dermis dan pada kasustriple nostril dilakukan fistulektomi dan rekonstruksi alae. Kesimpulan: Nasal bifida dan triple nostrilmerupakan kelainan hidung kongenital yang jarang ditemukan. Kelainan ini membutuhkan rekonstruksiyang optimal. Indikasi waktu dari operasi pada kasus kelainan hidung kongenital ini berdasarkan ukuranhidung menyerupai ukuran dewasa dan perkembangan sosial anak. Kata kunci: kelainan hidung kongenital, nasal bifida, supernumerary nostril, duplikasi hidungABSTRACT Background: Bifid nose  and supernumerary nostril are  rare nasal congenital anomalies. The appearance of bifid nose, also called double nose or cleft nose, varies from a simple groove at thenasal apex to a maxillary cleft.  Supernumerary nostril is a kind of nasal duplication. Purpose: Thiscase report is to forewarn general practitioners and ENT specialist about these rare nasal congenitalanomaly cases. Case: Reported three cases with congenital nasal anomaly, one case with bifid nose, onecase with bifid nose and choanal atresia, and one case with triple nostril. Management: The cases withbifid nose underwent nasal reconstruction using dermal graft and the case with triple nostril underwentfistulectomy and alae reconstruction. Conclusion: Bifid nose and triple nostril are rare nasal congenitalanomaly that need optimal reconstruction. Indication for the time of the operation for cases of congenitalnasal deformities is based on the size approaching the adult size and on the child’s social development. Keywords: congenital nasal anomaly, bifid nose, supernumerary nostril, nasal duplication
The role of human papillomavirus in advanced laryngeal squamous cell carcinoma Fauziah Fardizza; Bambang Hermani; Susyana Tamin
Oto Rhino Laryngologica Indonesiana Vol 46, No 2 (2016): Volume 46, No. 2 July - December 2016
Publisher : PERHATI-KL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3045.349 KB) | DOI: 10.32637/orli.v46i2.163

Abstract

Background: Many studies had been conducted regarding the association of human papillomavirus (HPV) with laryngeal cancer. HPV was assumed to be one of the etiology of squamous cell carcinoma (SCC) besides smoking and alcohol consumption. Neck lymph node metastasis which is found in advanced laryngeal cancer could decrease the 5-year survival rate up to 50%. Purpose: This study aimed to investigate the role of HPV infections in the oncogenesis of the advanced laryngeal SCC and to evaluate the role of HPV in neck metastasis. Methods: Cross-sectional, double blind study with planned data collection. Data were taken from Formalin Fixed Paraffin Embedded (FFPE) of laryngeal cancer specimen after laryngectomy. Samples were analyzed by nested Polymerase Chain Reaction (PCR) and continuous flow-through hybridization for genotyping. Expression of Epidermal Growth Factor Receptor (EGFR), and Vascular Endothelial Growth Factor (VEGF) as metastasis biomarker were evaluated by immunohistochemistry. Results: Overall HPV proportion in laryngeal cancer was 28.7%. A total of 9% laryngeal cancer patients were infected with high risk HPV type and HPV 16 was found in 5 out of 7 samples. Mantel-Haenszel multivariate analysis found that HPV infection did not play a role in neck metastasis even though there were positive evidences of metastasis biomarker. On the contrary, in the absent of HPV, high expression metastasis biomarkers increased the risk of neck nodes metastasis: in EGFR 3.38 and VEGF 5.14 fold. Conclusion: HPV was found to be an oncogenic factor of laryngeal SCC, and HPV 16 was the most frequently observed type of HPV. HPV had protective function towards lymph node metastasis.Keywords: Human papillomavirus, advanced laryngeal squamous cell carcinoma, expression of epidermal growth factor receptor, vascular endothelial growth factor, formalin fixed paraffin embeddedABSTRAK Latar belakang: Berbagai penelitian telah dilakukan untuk melihat hubungan antara Human papillomavirus (HPV) dengan karsinoma sel skuamosa (KSS) laring. HPV dianggap sebagai etiologinya, selain dari merokok dan konsumsi alkohol. Metastasis kelenjar getah bening (KGB) leher merupakan salah satu faktor yang menurunkan angka kesintasan lima tahun sebanyak 50% dan sering kali terjadi pada KSS laring yang telah lanjut. Tujuan: Penelitian ini ingin mengetahui peran HPV sebagai faktor onkogenesis dan faktor risiko kejadian metastasis KGB leher pada KSS laring lanjut. Metode: Cross-sectional, double blind study dengan pengumpulan data sekunder dari rekam medis. Data diambil dari parafin blok pasien KSS laring yang telah dilaringektomi. Semua data dianalisis dengan nested Polymerase Chain Reaction (PCR), dilanjutkan dengan flow-through hybridization untuk identifikasi tipe virus HPV. Dilakukan juga pemeriksaan imunohistokimia terhadap biomarka penanda metastasis yaitu Expression of Epidermal Growth Factor Receptor (EGFR), dan Vascular Endothelial Growth Factor (VEGF). Hasil: Secara keseluruhan didapatkan proporsi HPV pada KSS laring sebanyak 28,7%. Terdapat infeksi HPV tipe risiko tinggi pada 9% KSS laring, dan HPV 16 ditemukan pada 5 dari 7 sampel. Analisis multivariat Mantel-Haenszel mendapatkan infeksi HPV tidak berperan terhadap kejadian metastasis leher, meskipun didapati adanya biomarka penanda metastasis yang tinggi. Sebaliknya, pada ketiadaan infeksi HPV, adanya ekspresi biomarka metastasis yang tinggi meningkatkan risiko terjadinya metatasis KGB lokoregional pada EGFR 3,38 kali dan VEGF 5,14 kali. Kesimpulan: HPV dianggap sebagai faktor onkogenik KSS Laring, dan HPV 16 merupakan tipe yang paling sering ditemukan. HPV mempunyai fungsi protektif terhadap kejadian metastasis KGB lokoregional.Kata kunci: Human papillomavirus, advanced laryngeal squamous cell carcinoma, expression of epidermal growth factor receptor, vascular endothelial growth factor, formalin fixed paraffin embedded
Efektivitas asam asetat 2% dalam alkohol 70% dibanding ketokonazol 2% topikal pada terapi otomikosis Hadi Sudrajad; Sarwastuti Hendradewi; Yunita Sinaga
Oto Rhino Laryngologica Indonesiana Vol 48, No 1 (2018): Volume 48, No. 1 January - June 2018
Publisher : PERHATI-KL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (310.76 KB) | DOI: 10.32637/orli.v48i1.253

Abstract

Latar Belakang: Otomikosis merupakan infeksi jamur pada kanalis auditorius eksterna (KAE),yang terkadang dapat menimbulkan komplikasi pada telinga tengah. Walaupun jarang membahayakanhidup, tetapi penyakit ini membuat frustasi bagi pasien dan spesialis Telinga Hidung Tenggorok-BedahKepala Leher (THT-KL), karena memerlukan pengobatan dan perawatan dalam jangka waktu yanglama, serta kemungkinan adanya kekambuhan. Tujuan: Menganalisis perbandingan efektivitas larutanasam asetat 2% dalam alkohol 70% dengan ketokonazol 2% topikal pada terapi otomikosis. Metode:Penelitian eksperimental dengan desain randomized controlled trial. Subjek adalah pasien otomikosis yangsesuai kriteria inklusi dan eksklusi. Penegakkan diagnosis otomikosis berdasarkan pemeriksaan jamurKOH 10%. Subjek dibagi 2 perlakuan yaitu kelompok larutan asam asetat 2% dalam alkohol 70% dankelompok ketokonazol 2% topikal. Dilakukan evaluasi klinis menggunakan skor visual analogue scale(VAS) pada gejala nyeri, gatal, telinga rasa penuh dan tinitus, serta tanda klinis dengan menggunakanotoskopi untuk otore pada hari 0, 3, dan 7. Kemudian dilakukan pemeriksaan mikologi dengan KOH 10%pada hari 0 dan 7. Hasil: Pada hari 7 tidak ada perbedaan signifikan berdasarkan skor gejala nyeri, gataldan telinga penuh, tinitus dan otore antara kelompok asam asetat 2% dibanding ketokonazol 2%, sedangpada pemeriksaan KOH 10% kelompok asam asetat 2% dalam alkohol 70% lebih efektif dibandingkelompok ketokonazol 2% topikal. Kesimpulan: Pada hari ke-7, asam asetat 2% dalam alkohol 70%tidak berbeda signifikan dibandingkan dengan ketokonazol 2% topikal untuk terapi otomikosis. ABSTRACTBackground: Otomycosis is a fungal infection of the external auditory canal but can causecomplications in the middle ear. Although rarely life-threatening, it is frustrating for patients andotorhinolaryngologists, because it requires long-term treatment and care and the possibility of recurrence.Objective: To analyze the comparison of effectiveness of acetic acid 2% solution in alcohol 70% withketoconazole 2% topical in otomycosis therapy. Method: Experimental research with randomizedcontrolled trial design. Subjects were otomycosis patients of appropriate in the inclusion and exclusioncriteria. Otomycosis diagnosis based on examination of fungi with KOH 10%. Subjects were dividedinto 2 treatment groups, acetic acid 2% solution in alcohol 70% group and ketoconazole 2% topicalgroup. A clinical evaluation was performed using visual analogue scale (VAS) scores on symptoms ofpain, itching, full ears and tinnitus, and clinical signs using otoscopy for otorea on day 0, day 3 andday 7. Mycological examination with KOH 10% was also performed on days 0 and 7. Result: On the 7 thday there is no significant difference based on symptoms of pain, itching, full ears, tinnitus and otoreabetween the acetic acid 2% in alcohol 70% group and the ketoconazole 2% topical group . There wasa significant effectiveness (p <0.05) from the results of mycological examination with KOH 10% in theacetic acid 2% in alcohol 70% group compared with the ketoconazole 2% topical group. Conclusion:On the 7 th day, there was no significant difference between acetic acid 2% in alcohol 70% and topicalketoconazole 2% for otomycosis therapy.
Neuroendocrine tumor of parapharyngeal space Adham, Marlinda; Widayanti, Novra
Oto Rhino Laryngologica Indonesiana Vol 43, No 1 (2013): Volume 43, No. 1 January - June 2013
Publisher : PERHATI-KL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (177.257 KB) | DOI: 10.32637/orli.v43i1.15

Abstract

Background: Parapharyngeal space tumors account for some 0.5% of tumors of the head and neck, most ofthem benign. The most common benign neoplasms are salivary gland neoplasm, paragangliomas and followed byneurogenic tumors. The importance of these tumors lies mainly in two aspects, the difficulty of early diagnosis,due to the lack of symptoms in the initial stages and, on the other hand, the extreme risk of complications inperforming surgery in the parapharyngeal region. Purpose: We present this case to enlighten generalpractitioners and also otorhinolaryngologist about diagnosis and management of parapharyngeal tumor. Case:One clinical case of neuroendocrine tumor in parapharyngeal space on a 37 years old man. Management: Thepatient underwent diagnosis procedure and extirpation of the tumor mass. Conclusion: Parapharyngeal tumor isone of head and neck tumors that has good prognosis, especially if diagnosed early and adequately treated.Keywords: neuroendocrine tumor, parapharyngeal space, benign tumor.ABSTRAKLatar belakang: Tumor parafaring meliputi sekitar 0,5% dari seluruh tumor kepala dan leher, sebagianbesar jinak. Tumor jinak yang paling sering adalah tumor kelenjar liur, paraganglioma dan tumor neurogenik.Tumor parafaring ini penting disebabkan sulit untuk melakukan diagnosis dini karena sedikitnya gejala padatahap awal dan kemungkinan komplikasi yang dapat terjadi pada saat dilakukan tindakan bedah di daerahparafaring. Tujuan: Kasus ini diajukan agar para dokter umum dan spesialis Telinga Hidung Tenggorok dapatmengenali diagnosis dan penatalaksanaan tumor parafaring. Kasus: Dilaporkan satu kasus tumorneuroendokrin parafaring pada laki-laki usia 37 tahun. Penatalaksanaan: Pada pasien ini dilakukan proseduruntuk mendiagnosis tumor dan dilakukan ekstirpasi massa tumor. Kesimpulan: Tumor parafaring merupakansalah satu dari tumor kepala dan leher yang mempunyai prognosis baik terutama bila didiagnosis secara dinidan diterapi secara adekuat.Kata kunci: Tumor neuroendokrin, spatium parafaring, tumor jinak.
Deteksi pepsin pada penderita refluks laringofaring yang didiagnosis berdasarkan reflux symptom index dan reflux finding score Andriani, Yunida; Akil, Muhammad Amsyar; Gaffar, Masyita; Punagi, Abdul Qadar
Oto Rhino Laryngologica Indonesiana Vol 41, No 2 (2011): Volume 41, No. 2 July - December 2011
Publisher : PERHATI-KL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (451.293 KB) | DOI: 10.32637/orli.v41i2.48

Abstract

Background: It is estimated that more than 50% of patients with voice disorders who come fortreatment are caused by laryngopharyngeal reflux (LPR). LPR has been implicated in the etiology ofmany laryngeal disorders including subglottic stenosis, laryngeal carcinoma, laryngeal contact ulcer,laryngospasm and vocal nodule on the vocal cords. Ambulatory 24 hour double-probe (pharyngeal andesophageal) pH monitoring is the gold standard examination for diagnosing LPR, but it is still far fromideal criteria.The assessment of pepsin in airway secretions could be used as a sensitive diagnosticmarker of LPR because pepsin is not synthesized by any type of airway cells. Purpose: The aim ofthis study was to detect the presence of pepsin on laryingopharyngeal reflux patients which diagnosedbased on reflux symptom index (RSI) dan reflux finding score (RFS) at Wahidin Sudirohusodo Hospital,Makassar. Methods: This is a comparative quantitative study. We performed RSI and RFS examinationson 51 samples, followed by saliva pepsin detection using ELISA method on 48 samples, then analyzed withSpearman’s Rho test. Result: RSI score >13 was found in 48 samples (94,12%)  and RFS score >7 wasin 51 samples (100%).    Pepsin was detected on all sputum samples, however there was no significant relationship betwen RSI and RFS scoring with the level of pepsin in saliva (p>0.01). Conclusion: Pepsin was detected on saliva of patients with laringopharyngeal reflux who was diagnosed based on RSI andRFS. We concluded that RSI and RFS can be used as diagnostic tools for LPR. Keywords: laringopharyngeal reflux, reflux symptom index, reflux finding score, pepsin Abstrak :  Latar belakang: Diperkirakan lebih dari 50% pasien dengan gangguan suara yang datang berobatke dokter THT diakibatkan oleh refluks laringofaring (RLF). Diduga RLF berperan pada patogenesissejumlah kelainan pada laring, termasuk stenosis subglotik, karsinoma laring, laryngeal contact ulcers,laringospasme dan vokal nodul pada pita suara. Pemeriksaan ambulatory 24 hour double-probe pHmonitoring merupakan gold standard untuk mendiagnosis RLF, namun pemeriksaan ini masih jauh darikriteria ideal. Menentukan adanya pepsin pada sekret saluran napas merupakan petanda diagnostik yangsensitif untuk RLF karena pepsin tidak dihasilkan oleh sel apapun dalam saluran napas. Tujuan: Penelitianini bertujuan mendeteksi keberadaan pepsin pada penderita refluks laringofaring yang didiagnosisberdasarkan refluks symptom index (RSI) dan reflux finding score (RFS). Metode: Jenis penelitian iniadalah komparatif kuantitatif. Dilakukan pemeriksaan RSI dan RFS pada 51 percontoh dan dilanjutkandengan pemeriksaan pepsin saliva menggunakan metode ELISA pada 48 percontoh lalu dilakukan ujiSpearman’s Rho. Hasil: Skor RSI >13 sebanyak 48 percontoh (94,12%) dan skor RFS >7 sebanyak 51percontoh (100%). Pepsin terdeteksi pada saliva semua percontoh. Tidak ada hubungan yang bermaknaantara skoring RSI dan RFS dengan kadar pepsin pada saliva (p>0,01). Kesimpulan: RSI dan RFS dapatdigunakan dalam menegakkan diagnosis RLF. Kata kunci: refluks laringofaring, reflux symptom index, reflux finding score, pepsin
Displasia Mondini sebagai faktor risiko terjadinya komplikasi meningitis berulang Arifianto, Aditya; Lasminingrum, Lina; Aroeman, Nurakbar; Boesoirie, Shinta Fitri
Oto Rhino Laryngologica Indonesiana Vol 45, No 2 (2015): Volume 45, No. 2 July - December 2015
Publisher : PERHATI-KL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (321.196 KB) | DOI: 10.32637/orli.v45i2.121

Abstract

Latar belakang: Displasia Mondini  adalah kasus yang jarang ditemukan namun merupakan penyebab penting terjadinya meningitis berulang pada anak dan membutuhkan indeks kecurigaan klinisyang tinggi sehingga dapat dilakukan diagnosis sedini mungkin. Displasia Mondini  adalah kelainankongenital berupa malformasi koklea yang terjadi akibat dari gangguan perkembangan embrio pada telingabagian dalam, di minggu ke tujuh. Anomali kongenital tulang temporal dapat menyebabkan  fistulisasiantara telinga tengah dan ruang subarakhnoid. Tujuan: Mempresentasikan kasus displasia Mondini dengan komplikasi meningitis berulang. Kasus: Satu kasus displasia Mondini  disertai hipertrofi adenoiddan meningitis berulang pada anak laki-laki usia enam tahun. Penatalaksanaan: Medikamentosa denganpemberian antibiotik dan adenoidektomi. Kesimpulan: Displasia Mondini  dengan faktor predisposisihipertrofi adenoid disertai meningitis berulang yang dilakukan adenoidektomi memberikan hasil yangbaik dengan tidak didapatkan kembali meningitis berulang pada pasien setelah tiga tahun. Kata kunci : displasia Mondini, hipertrofi adenoid, adenoidektomi, meningitis berulang  ABSTRACTBackground: Mondini dysplasia is a rare case but has an important role for recurrent pyogenic meningitis in children and requires a high index of clinical suspicion for early diagnosis. Mondinidysplasia is malformation of the cochlea due to impairment of the embryonic development of the innerear during the seventh week of fetal life. Congenital anomalies of temporal bone may cause fistulisation between the middle ear and subarachnoid space. Purpose: To present a case of Mondini dysplasia with recurrent meningitis complication. Case: A  case of Mondini dysplasia accompanied by hypertrophyadenoid and recurrent meningitis in a six year old boy. Management: Medical treatment with antibioticand adenoidectomy. Conclusion: Adenoidectomy for management of Mondini dysplasia with recurrentmeningitis accompanied by adenoid hypertrophy, gave a good result with no recurrent meningitis afterthree years. Key words: Mondini dysplasia, adenoid hypertrophy, adenoidectomy, recurrent meningitis
Penggunaan esofagoskopi transnasal di Rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusumo Yunizaf, Rahmanofa; Zulka, Elvie; Tamin, Susyana; Surya, Guntur
Oto Rhino Laryngologica Indonesiana Vol 47, No 1 (2017): Volume 47, No. 1 January - June 2017
Publisher : PERHATI-KL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (501.419 KB) | DOI: 10.32637/orli.v47i1.197

Abstract

Latar belakang: Esofagoskopi transnasal merupakan teknik diagnostik baru yang memberikankesempatan kepada spesialis Telinga Hidung Tenggorok untuk melakukan pemeriksaan traktus aerodigestif,dari vestibulum nasi sampai kardia. Tindakan ini dilakukan di poliklinik rawat jalan, dengan anestesi lokaltopikal dan tanpa sedasi.Tujuan: Mendapatkan gambaran tentang penggunaan esofagoskopi transnasaldi Departemen Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok – Bedah Kepala Leher Rumah Sakit Dr.Cipto Mangunkusumo.Laporan kasus: Dilaporkan 32 pasien yang dilakukan esofagoskopi transnasalselama Februari 2014 hingga Maret 2015, terdiri dari 20 laki-laki (63%) dan 12 perempuan (37%),dengan rentang usia 11-82 tahun. Keluhan terbanyak adalah sulit menelan sebanyak 18 pasien. Indikasiterbanyak adalah disfagia, globus atau refluks sebanyak 12 pasien. Diagnosis terbanyak adalah akalasiaesofagus sebanyak 7 pasien.Metode: Pencarian literatur dilakukan pada database EBSCO Host Medline,Cochrane dan Pubmed Medline sesuai pertanyaan klinis. Setelah dilakukan penapisan dengan kriteriainklusi dan ekslusi, didapatkan didapatkan 2 jurnal yang relevan.Hasil: Dari jurnal yang didapatkan,merupakan laporan kasus serial yang dilakukan esofagoskopi transnasal pada pasien dengan keluhantraktus aerodigestif.Kesimpulan: Esofagoskopi transnasal telah menghasilkan layanan satu pintu yangmengurangi keterlambatan diagnosis, pembiusan umum dan pemeriksaan menelan barium.Kata kunci: Esofagoskopi transnasal, esofagoskopi kaku, esofagoskopi transoral, anestesi lokal topikal ABSTRACTBackground: Transnasal esophagoscopy (TE) is a new diagnostic technique that provides theopportunity for ENT specialists to examine the aerodigestif tract, from the nasal vestibulum until the cardia,at the outpatient clinic, with topical local anesthesia and without the need for sedation. Purpose: To obtaindata of transnasal esophagoscopy in Otorhinolaryngology-Head and Neck Surgery Department, CiptoMangunkusumo Hospital. Cases: Reported 32 patients which had undergone transnasal esophagoscopyfrom February 2014 to March 2015, consisted of 20 male and 12 female, age ranged between 11-82years. Most chief complaints were difficulty of swallowing in 18 patients. Most common indications ofTE were dysphagia, globus or reflux in 12 patients. Most common diagnosis was achalasia esophagus in7 patients. Methods: The evidence based literature were searched from EBSCO Host Medline, Cochraneand Pubmed Medline database according to clinical question. After filtered with inclusion and exclusioncriteria, we found 2 journals that relevant to our case. Results: From the journals, we found reports ofserial cases of transnasal esophagoscopy on patiens with aerodigestive problems. Conclusion: Transnasalesophagoscopy provides an ‘one stop’ diagnosis service, reducing diagnostic delays, the need for endoscopyunder general anaesthesia and barium swallows.Keywords: Transnasal esophagoscopy, rigid esophagoscopy, transoral esophagoscopy, topical localanesthesia
Hubungan Pemberian Kanamisin dengan Kejadian Ototoksik pada Penderita Tuberkulosis Multi Drug Resistance Wahyudin, William; Indrasworo, Dyah; Wahyudiono, Ahmad Dian
Oto Rhino Laryngologica Indonesiana Vol 48, No 2 (2018): Volume 48, No. 2 July - December 2018
Publisher : PERHATI-KL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (319.043 KB) | DOI: 10.32637/orli.v48i2.266

Abstract

Latar Belakang: Ototoksik merupakan salah satu efek samping kanamisin yang sulit dihindari. Ototoksisitas kanamisin ditandai dengan gangguan pendengaran sensorineural yang progresif dan sering irreversible dimulai dari frekuensi lebih dari 8000 Hz yang akhirnya akan mengenai frekuensi yang lebih rendah jika terapi dilanjutkan. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian kanamisin pada pasien tuberkulosis multi drug resistance (TB MDR) terhadap munculnya ototoksik dengan pemeriksaan audiometri. Metode: Penelitian observasional longitudinal dengan pendekatan cohort ini mengevaluasi fungsi pendengaran sebelum dan setelah pemberian kanamisin pada pasien TB MDR. Pemeriksaan fungsi pendengaran menggunakan audiometri nada murni. Kanamisin adalah aminoglikosida pilihan pada pasien dengan TB MDR yang akan diberikan secara injeksi intramuskular. Hasil: Uji Friedman’s menunjukkan ditemukan perubahan yang bermakna pada hasil pengukuran audiometri pada frekuensi tinggi antara pasca injeksi kanamisin bulan pertama, kedua, hingga kelima dengan hasil pengukuran sebelum terapi (p>0,05). Diagnosis ototoksisitas menggunakan kriteria American-Speech-Language-Hearing-Association (ASHA) dapat dideteksi sejak bulan pertama pemberian kanamisin (25%). Kesimpulan: Ada hubungan antara kejadian ototoksik dengan pemberian kanamisin pada penderita TB MDR. Telah terjadi ototoksisitas sejak injeksi kanamisin bulan pertama yang dideteksi dengan menggunakan pemeriksaan audiometri, dan bermakna secara statistik. Introduction: Ototoxicity is one of common side effects of kanamycin which is hard to avoid. Ototoxicity can be detected by a progressive and irreversible high frequency sensorineural hearing loss that can further affect low frequency if the therapy is continued. Kanamycin is the drug-of-choice  for TB MDR through intramuscular (IM)  injection. Purpose: This study aims to determine whether kanamycin can cause ototoxicity in patient with MDR TB  by using audiometry examination. Method: An observational longitudinal study with cohort design, evaluating patient’s hearing threshold before and after kanamycin IM injection once per month using pure tone audiometry. Result: A significant alteration in high pitch before and after injection of kanamycin was revealed with Friedman’s test (p<0.05) for hearing threshold using pure tone audiometry. Furthermore, using American Speech-Language-Hearing Association (ASHA) the diagnosis of ototoxicity can be established since the first month of kanamycin injection in 25% of the subjects, and also 25% in the second month of injection. Conclusion: There is a significant connection between ototoxicity with kanamycin injection in MDR TB patients, statistically proven.  The ototoxicity can happen since the first month of injection, which can be detected using pure tone audiometry.   
Prevalensi refluks laringofaring pada bayi laringomalasia primer Nasution, Dina Putri; Tamin, Susyana; Hutauruk, Syahrial; Bardosono, Saptawati
Oto Rhino Laryngologica Indonesiana Vol 42, No 2 (2012): Volume 42, No. 2 July - December 2012
Publisher : PERHATI-KL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32637/orli.v42i2.28

Abstract

Background: Primary laryngomalacia is a congenital weakness of the supraglottis structures which collapsed during inspiration causing upper airway obstruction. This condition can cause changes in gradient of intrathoraxic-abdominal pressure resulting reflux of gastric juice into the upper airway causing laryngopharyngeal reflux (LPR). Purpose: To find out the prevalence of LPR as a comorbid disease of primary laryngomalacia in infant using fiberoptic laryngoscopy examination, to know the characteristics  of samples, and the correlation between laryngomalacia with LPR. Methods: This is a cross-sectional  study to assess the prevalence of LPR in infants with primary laryngomalacia at Cipto Mangunkusumo Hospital. LPR was diagnosed based on clinical signs from flexible laryngoscopy video records. Result: The prevalence of LPR was 90% in primary laryngomalacia. There were significant differences from three of five clinical findings with LPR, such as arytenoid edema/erythema (p<0,001), ventricular fold edema (p=0,001), and vocal fold edema (p<0,001). Conclusion: Most of the samples with laryngomalacia in this study also have LPR. The presence of LPR could worsen the clinical manifestation and delay the healing of laryngomalacia. Keywords: primary laryngomalacia, fiberoptic laryngoscopy, laryngopharyngeal reflux    Abstrak :  Latar belakang: Laringomalasia primer merupakan kelainan kongenital laring berupa kelemahan pada struktur supraglotis yang terhisap saat inspirasi dan menyebabkan sumbatan jalan napas atas. Kondisi ini dapat menyebabkan perubahan selisih tekanan intra-abdominal/ intratorakal sehingga terjadi refluks cairan lambung ke saluran napas atas, yang menyebabkan refluks laringofaring (RLF). Tujuan: Mengetahui prevalensi RLF pada bayi laringomalasia primer menggunakan pemeriksaan laringoskopi serat optik lentur, mengetahui karakteristik percontoh, dan hubungan laringomalasia primer dengan RLF.  Metode: Penelitian ini adalah penelitian observasional dengan metode potong lintang untuk mengetahui prevalensi RLF sebagai penyakit penyerta pada bayi laringomalasia di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo. Diagnosis RLF ditegakkan berdasarkan tanda klinis dari rekaman video laringoskopi serat optik lentur. Hasil: Prevalensi RLF diperoleh sebesar 90%. Terdapat tiga dari lima tanda klinis RLF yang berbeda bermakna dengan kejadian RLF, yaitu edema/eritema aritenoid (p<0,001), edema plika ventrikularis (p=0,001), dan edema plika vokalis (p<0,001). Kesimpulan: Hampir seluruh percontoh laringomalasia primer disertai dengan RLF. Penyakit penyerta RLF akan memperberat gejala dan memperpanjang waktu penyembuhan laringomalasia.   Kata kunci: laringomalasia primer, laringoskopi serat optik lentur, refluks laringofaring 

Filter by Year

2004 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 55 No. 2 (2025): VOLUME 55, NO. 2 JULY - DECEMBER 2025 Vol. 55 No. 1 (2025): VOLUME 55, NO. 1 JANUARY - JUNE 2025 Vol. 54 No. 2 (2024): VOLUME 54, NO. 2 JULY - DECEMBER 2024 Vol. 54 No. 1 (2024): VOLUME 54, NO. 1 JANUARY - JUNE 2024 Vol. 53 No. 2 (2023): VOLUME 53, NO. 2 JULY - DECEMBER 2023 Vol. 53 No. 1 (2023): VOLUME 53, NO. 1 JANUARY - JUNE 2023 Vol 52, No 2 (2022): VOLUME 52, NO. 2 JULY - DECEMBER 2022 Vol. 52 No. 2 (2022): VOLUME 52, NO. 2 JULY - DECEMBER 2022 Vol 52, No 1 (2022): VOLUME 52, NO. 1 JANUARY - JUNE 2022 Vol. 52 No. 1 (2022): VOLUME 52, NO. 1 JANUARY - JUNE 2022 Vol 51, No 2 (2021): VOLUME 51, NO. 2 JULY - DECEMBER 2021 Vol. 51 No. 2 (2021): VOLUME 51, NO. 2 JULY - DECEMBER 2021 Vol 51, No 1 (2021): Volume 51, No. 1 January - June 2021 Vol. 51 No. 1 (2021): Volume 51, No. 1 January - June 2021 Vol. 50 No. 2 (2020): Volume 50, No. 2 July - December 2020 Vol 50, No 2 (2020): Volume 50, No. 2 July - December 2020 Vol 50, No 1 (2020): Volume 50, No. 1 January - June 2020 Vol. 50 No. 1 (2020): Volume 50, No. 1 January - June 2020 Vol 49, No 1 (2019): Volume 49, No. 1 January-June 2019 Vol. 49 No. 1 (2019): Volume 49, No. 1 January-June 2019 Vol 49, No 1 (2019): Volume 49, No. 1 January-June 2019 Vol 49 (2019): Volume 49, No. 2 July - December 2019 Vol. 49 (2019): Volume 49, No. 2 July - December 2019 Vol 48, No 2 (2018): Volume 48, No. 2 July - December 2018 Vol 48, No 2 (2018): Volume 48, No. 2 July - December 2018 Vol 48, No 1 (2018): Volume 48, No. 1 January - June 2018 Vol 48, No 1 (2018): Volume 48, No. 1 January - June 2018 Vol 47, No 2 (2017): Volume 47, No. 2 July - December 2017 Vol 47, No 2 (2017): Volume 47, No. 2 July - December 2017 Vol 47, No 1 (2017): Volume 47, No. 1 January - June 2017 Vol 47, No 1 (2017): Volume 47, No. 1 January - June 2017 Vol 46, No 2 (2016): Volume 46, No. 2 July - December 2016 Vol 46, No 2 (2016): Volume 46, No. 2 July - December 2016 Vol 46, No 1 (2016): Volume 46, No. 1 January - June 2016 Vol 46, No 1 (2016): Volume 46, No. 1 January - June 2016 Vol. 45 No. 2 (2015): Volume 45, No. 2 July - December 2015 Vol 45, No 2 (2015): Volume 45, No. 2 July - December 2015 Vol 45, No 2 (2015): Volume 45, No. 2 July - December 2015 Vol 45, No 1 (2015): Volume 45, No. 1 January - June 2015 Vol 45, No 1 (2015): Volume 45, No. 1 January - June 2015 Vol 44, No 2 (2014): Volume 44, No. 2 July - December 2014 Vol 44, No 2 (2014): Volume 44, No. 2 July - December 2014 Vol 44, No 1 (2014): Volume 44, No. 1 January - June 2014 Vol 44, No 1 (2014): Volume 44, No. 1 January - June 2014 Vol 43, No 2 (2013): Volume 43, No. 2 July - December 2013 Vol 43, No 2 (2013): Volume 43, No. 2 July - December 2013 Vol 43, No 1 (2013): Volume 43, No. 1 January - June 2013 Vol 43, No 1 (2013): Volume 43, No. 1 January - June 2013 Vol 42, No 2 (2012): Volume 42, No. 2 July - December 2012 Vol 42, No 2 (2012): Volume 42, No. 2 July - December 2012 Vol 42, No 1 (2012): Volume 42, No. 1 January - June 2012 Vol 42, No 1 (2012): Volume 42, No. 1 January - June 2012 Vol 41, No 2 (2011): Volume 41, No. 2 July - December 2011 Vol 41, No 2 (2011): Volume 41, No. 2 July - December 2011 Vol 41, No 1 (2011): Volume 41, No. 1 January - June 2011 Vol 41, No 1 (2011): Volume 41, No. 1 January - June 2011 Vol 40, No 2 (2010): Volume 40, No. 2 July - December 2010 Vol 40, No 2 (2010): Volume 40, No. 2 July - December 2010 Vol 34 (2004): Volume 34, No. 4 October - December 2004 More Issue