cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Metalingua: Jurnal Penelitian Bahasa
ISSN : 1693685X     EISSN : 25802143     DOI : -
Core Subject : Education,
METALINGUA is a journal aiming to publish literary studies researches, either Indonesian, local, or foreign literatures. All articles in Metalingua have passed reviewing process by peer reviewers and edited by editors. METALINGUA is published by West Java Balai Bahasa twice a year, in June and December.
Arjuna Subject : -
Articles 205 Documents
Pemerolehan Sintaksis Bahasa Minangkabau: Studi Kasus pada Seorang Anak Usia 3; 0–4; 0 Emil Septia
Metalingua: Jurnal Penelitian Bahasa Vol 15, No 2 (2017): METALINGUA EDISI DESEMBER 2017
Publisher : Balai Bahasa Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (455.435 KB) | DOI: 10.26499/metalingua.v15i2.103

Abstract

Every child is exposed to their mother language in the first stages of their lives. Thesyntax acquisition in children is very interesting to investigate. Sentences uttered bya child have a distinctive pattern that distinguishes it from those of the adult’s. Thechoice of words can also attract the attention of adults to understand better whatthe child said. The purpose of this study is to describe (1) the types of sentencesuttered by the child; (2) the child’s sentence patterns; (3) the speech form of thechild. The type of this research is descriptive qualitative research. The data are oraldata collected from the child’s speech recorded on a tape recorder and written on ajournal. The result shows that the types of sentences uttered by the child consist ofthree things. First, declarative, interrogative, and imperative sentences. Second, thechild’s sentence patterns are various, namely P, S-P, P-S, P-O, S-P-O, S-P-K, S-PPel,and S-P-O-K. Third, the child’s speech form consists of of one word, two words,three words, four words, and five words speech.AbstrakSetiap anak memperoleh bahasa ibu pada tahap pertama kehidupannya. Pemerolehansintaksis pada anak sangat menarik untuk diteliti. Kalimat-kalimat yang diujarkananak punya pola tersendiri yang membedakannya dari kalimat orang dewasa. Pilihankata yang digunakannya juga bisa menarik perhatian orang dewasa untuk lebihmemahami apa yang diujarkan anak tersebut. Tujuan penelitian ini adalah untukmendeskripsikan: (1) jenis-jenis kalimat yang diujarkan oleh anak; (2) pola kalimatanak; (3) bentuk ujaran anak. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif bersifatdeskriptif. Dalam pengumpulan data diperoleh data lisan bersumber dari ujarananak yang direkam dengan tape recorder dan dibuat sebuah catatan harian. Darihasil pengamatan, jenis-jenis kalimat yang diujarkan oleh anak terdiri atas pertamakalimat deklaratif, interogatif, dan imperatif. Kedua, pola kalimat pada ujaran anakberagam jenisnya, di antaranya P, S-P, P-S, P-O, S-P-O, S-P-K, S-P-Pel, dan S-PO-K. Ketiga, bentuk ujaran anak terdiri atas ujaran satu kata, dua kata, tiga kata,empat kata, dan lima kata. 
GAYA BAHASA PERBANDINGAN DALAM LIRIK TEMBANG CIANJURAN: EKSPRESI KARAKTER MASYARAKAT SUNDA DI JAWA BARAT Nani Darheni
Metalingua: Jurnal Penelitian Bahasa Vol 14, No 1 (2016): METALINGUA, EDISI JUNI 2016
Publisher : Balai Bahasa Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (130.418 KB) | DOI: 10.26499/metalingua.v14i1.186

Abstract

IN terms of culture Cianjuran song lyrics have experienced a shift on thephilosophical foundations of the previously closed and oriented to the local cultureinto the lyrics that absorbs foreign cultures. A sophisticated local cultureis replacedby a completely practical, individualistic, selfish, and consumptive foreignculture.However, a local culture that still shows its resilience towards the influenceof globalization is Cianjuran song. It's a traditional music performance of luteand flute singing in classical Sundanese. This article aims at describing (1) thefigure of speech comparison in Cianjuran lyrics, namely metaphor, simile, andpersonification, and (2) the themes of the lyrics. The data were taken from thetranscription of classical Sundanese songs derived from the cassette or CDs/MP-3s, visual media, and literature study. It implies that there is a native languagemaintenance through the preservation, appreciation, creation, and creativity ofthe lyrics to develop the local wisdom as the national identity. AbstrakLIRIK lagu dari segi budaya telah mengalami pergeseran landasan filosofis, yang semulatertutup dan berkiblat pada budaya lokal kini berpaling ke budaya nonlokal. Budayalokal yang bernilai adiluhung tergeserkan oleh pola budaya Barat yang serba praktis,individualistis, egoistis, dan konsumtif. Namun, di tengah arus globalisasi yang derasmenerjang tatanan nilai kita, masih ada budaya lokal yang bertahan kuat padamasyarakatnya, salah satunya adalah seni tembang Cianjuran, paduan musik tradisional(kecapi-suling) yang berisi syair/lirik berbahasa Sunda klasik. Penelitian ini bertujuanmendeskripsikan (1) pesona gaya bahasa perbandingan dalam lirik tembang Cianjuran,yakni metafora, simile, dan personifikasi serta (2) tema dalam lirik-liriknya. Tulisan inimenggunakan metode deskriptif-etnologis. Data bersumber dari lirik-lirik tembangCianjuran (transliterasi) dan diambil dari kaset, VCD/MP-3, media visual, elektronik,dan pustaka. Penelitian ini berimplikasi terhadap upaya pemertahanan bahasa ibu (Sunda)di Jawa Barat melalui pelestarian, penikmatan, penciptaan, dan kreativitas liriknyasehingga dapat menumbuhkembangkan nilai-nilai luhur budaya bangsa sebagai ekspresi/cerminan jati diri bangsa
Adverbial Cara dan Adverbial Sarana dala Tri Yulia Nurhalimah
Metalingua: Jurnal Penelitian Bahasa Vol 14, No 2 (2016): METALINGUA, EDISI DESEMBER 2016
Publisher : Balai Bahasa Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (45.281 KB) | DOI: 10.26499/metalingua.v14i2.202

Abstract

Tinjauan pustaka linguistik yang telahdilakukan menunjukkan bahwa telaah mendalamdan komprehensif tentang adverbial ataupunadverbia masih terbatas. Hal tersebut disebabkanadverbial menduduki fungsi periferal (sampingan).Satuan bahasa yang merealisasikan unsur periferalbersifat lebih heterogen jika dibandingkan denganunsur inti sehingga lebih sulit untuk ditelaah. Selainitu, unsur semantis dari fungsi periferal lebihbervariasi sehingga relatif lebih sulit untuk ditelaahjuga.
FATIS LAILAHA ILALLAH, ASTAGFIRULLAHALAZHIM, DAN INSYAALLAH DALAM CERITA REKAAN BERBAHASA SUNDA (PHATIC FORM OF LAILAHA ILALLAH, ASTAGHFIRULLAHALAZIM, AND INSHAALLAH IN SUNDANESE FICTIONS) NFN Wahya; Hera Meganova Lyra; Yudi Permadi; Abdul Kosim
Metalingua: Jurnal Penelitian Bahasa Vol 16, No 2 (2018): Metalingua Edisi Desember 2018
Publisher : Balai Bahasa Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (417.953 KB) | DOI: 10.26499/metalingua.v16i2.255

Abstract

Every language has elements that serve as pragmatic function to emphasize or afirm the purpose of speech and those of to express emotions. Sundanese is a language that is rich in such elements that is called phatic form. Such forms in Sundanese language have the origins of Sundanese and also loan words, for example from Arabic. The use of Arabic loan words is in line with the practice of Islamic religion by the Sundanese people and has become a part of Sundanese culture so that the writing and pronunciation has been adapted to the Sundanese language system. This paper discusses three phatic forms derived from Arabic with its variations. The problem to discuss is what kind of intentions that is emphasized or afirmed by phatic forms in sentences and what kind of emotions that is expressed by phatic forms in sentences? Therefore, this paper’s objectives is to discuss the intentions emphasized or afirmed by phatic forms in sentences and the kind of emotions expressed by phatic forms in sentences. The irst problem involves all three phatic forms, while the second problem only involves the irst two phatic forms. Data were collected by observation method with the recording technique. Data were analyzed using distributional and referential method. Data source were ten Sundanese ictions. The results shows that the three phatic forms emphasize or afirm the intentions of surprise, astonishment, regret, shock, and willingness. The irst two phatic forms express emotions of surprise, astonishment, regret, and dumbfounded.  AbstrakBahasa alamiah di seluruh di dunia memiliki ciri keuniversalan dan keunikan. Setiap bahasa memiliki unsur bahasa  yang secara pragmatik memiliki fungsi untuk menekankan atau menegaskan maksud tuturan. Di samping itu, setiap bahasa memiliki unsur bahasa yang berfungsi mengekspresikan emosi. Akan tetapi, wujud dan jumlah unsur-unsur bahasa tersebut berbeda-beda sesuai dengan keunikan bahasa masing-masing. Bahasa Sunda merupakan salah satu bahasa yang kaya dengan unsur bahasa seperti dikatakan di atas. Unsur bahasa yang memiliki fungsi seperti itu di samping ada yang berasal dari bahasa Sunda sendiri, ada pula yang berasal dari bahasa lain, yakni unsur serapan dari bahasa Arab. Penggunaan unsur serapan dari bahasa Arab ini sejalan dengan pengamalan ajaran Islam oleh masyarakat Sunda. Penggunaan unsur bahasa di atas sudah menjadi bagian dari budaya masyarakat Sunda sehingga penulisan dan pelafalannya pun sudah diadaptasi mengikuti sistem bahasa Sunda. Unsur bahasa ini disebut fatis. Makalah ini akan membahas tiga fatis yang berasal dari bahasa Arab, yaitu lailaha illallah, astagfirullahalazhim, dan insya Allah dengan variasinya. Masalah yang akan dibahas adalah menekankan atau menegaskan maksud apa saja fatis tersebut dalam kalimat dan mengungkapkan emosi apa saja dalam kalimat? Untuk masalah pertama melibatkan seluruh tiga fatis terrsebut, sedangkan untuk masalah kedua hanya melibatkan dua fatis pertama. Data dikunpulkan dengan metode simak dengan teknik catat. Data dianalisis menggunakan metode agih (distribusional) dan padan. Sumber data berupa sepuluh buku cerita rekaan berbahasa Sunda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketiga fatis menekankan atau menegaskan maksud keterkejutan, ketercengangan, penyesalan, keterperanjatan, dan kesediaan; kemudian  dua fatis pertama mengekspresikan emosi terkejut, tercengang, menyesal, dan terperanjat. 
PEMBELAJARAN GENRE TULIS PEMBELAJAR SEKOLAH MENENGAH PERTAMA BERDASARKAN KURIKULUM 2013 Amrin Saragih
Metalingua: Jurnal Penelitian Bahasa Vol 12, No 2 (2014): METALINGUA, EDISI DESEMBER 2014
Publisher : Balai Bahasa Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (175.325 KB) | DOI: 10.26499/metalingua.v12i2.21

Abstract

TULISAN ini merupakan satu bagian dari hasil penelitian yang bertujuan untukmendeskripsi genre tulis yang telah diperoleh atau dicapai oleh pembelajar sekolahmenengah pertama (SMP) di Sumatra Utara dan mengajukan model pembelajaransesuai dengan Kurikulum 2013 berdasarkan perolehan genre itu. Desain penelitianadalah deskriptif kualitatif. Sumber data adalah 333 pembelajar SMP dan 18 guru darienam sekolah yang mewakili SMP yang tersebar di wilayah Provinsi Sumatra Utara.Dari sumber data itu diperoleh data berupa teks atau genre yang ditulis pembelajar SMP, deskripsi pembelajaran genre di kelas, dan transkripsi percakapan dengan guru yang masing-masing diperoleh dengan teknik elisitasi data, observasi pembelajaran menulis genre di kelas, dan wawancara dengan guru. Teks yang ditulis pembelajar dianalisis dengan teori linguistik fungsional sistemik (LFS). Data dari observasi dan wawancara dianalisis dengan teknik analisis data kualitatif. Temuan penelitian menunjukkan bahwa pembelajar SMP telah memperoleh sembilan jenis genre yang pada prinsipnya didominasi oleh genre bercerita. Sejumlah unsur konteks sosial persekolahan di satu sisi menghambat dan di sisi lain memfasilitasi pembelajaran genre. Atas dasar unsur yang memfasilitasi dan yang menghambat itu, model pembelajaran genre berdasarkan Kurikulum 2013 diajukan yang pada dasarnya merupakan perpaduan antara genre-based learning dan pendekatan ilmiah (scientific approach) dalam Kurikulum 2013.
KONSTRUKSI DATIF DALAM BAHASA RUSIA Davidescu Cristiana
Metalingua: Jurnal Penelitian Bahasa Vol 12, No 1 (2014): METALINGUA, EDISI JUNI 2014
Publisher : Balai Bahasa Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (113.078 KB) | DOI: 10.26499/metalingua.v12i1.38

Abstract

DALAM bahasa Rusia konstruksi datif, baik dengan preposisi maupun tanpa preposisimerupakan topik yang sangat menarik perhatian para linguis karena sering ditemukandalam bahasa Rusia dan kaya akan makna. Tulisan ini menyoroti konstruksi datif tanpapreposisi dan konstruksi datif dengan preposisi, baik dari segi struktur maupun darisegi makna. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif analitis. Teori yangdigunakan adalah teori Iurac dan teori Rozental tentang kasus, preposisi, dan makna.Sumber data berasal dari karya sastra, yaitu dua novel: Perang dan Damai karyaTolstoy dan Sungai Don yang Tenang karya Mikhail Sholohov. Hasil penelitianmenunjukkan bahwa terdapat lima tipe struktur konstruksi datif tanpa preposisi, yaituN+V+N, N+V+V+Prep, N+V, A dv+Prep+V, dan N+Num+N serta lima tipe strukturkonstruksi datif dengan preposisi, yaitu V+Prep+N, N+Prep+N, P+Num+N,Prep+N+N, dan Prep+N. Makna yang ditemukan adalah makna spasial, temporal,kausal, tujuan, pembatasan, perasaan, distributif, dan kekerabatan.
EVALUASI TERHADAP KINERJA TUTOR MATA KULIAH MATERI DAN PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA SD (PDGK4504) PADA PROGRAM S-1 PGSD UPBJJ-UT BANDUNG NFN Ruganda
Metalingua: Jurnal Penelitian Bahasa Vol 13, No 1 (2015): METALINGUA, EDISI JUNI 2015
Publisher : Balai Bahasa Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (111.845 KB) | DOI: 10.26499/metalingua.v13i1.55

Abstract

TULISAN ini dilatarbelakangi oleh masih adanya beberapa mahasiswa semester 10 yangsalah dalam mengajarkan keterampilan berbahasa Indonesia ketika praktikpembelajaran di SD, padahal mereka telah mendapatkan bantuan belajar dari tutormelalui kegiatan tutorial pada semester 9. Tujuan penelitian ini adalah untuk memperolehgambaran tentang kinerja tutor dalam merencanakan dan melaksanakan tutorial diUPBJJ-UT Bandung. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kualitatif denganmetode deskriptif analisis. Teknik pengumpulan data melalui kuesioner untuk mahasiswa,studi dokumentasi terhadap perencanaan tutorial, dan wawancara terhadap mahasiswa dan tutor. Populasi seluruh tutor Mata Kuliah Materi dan Pembelajaran Bahasa IndonesiaSD 33 orang dan seluruh mahasiswa semester 9 yang mendapatkan materi mata kuliahtersebut sebanyak 3584 orang. Sampel tutor 10 orang atau 30% dari populasi danmahasiswa 360 orang atau 10% dari populasi. Teknik analisis data dilakukan melaluipenskoran, persentase frekuensi jawaban, rerata tiap indikator, penafsiran daninterpretasi data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ternyata tutor pada umumnyasudah baik dalam melaksanakan tutorial, tetapi masih ada kelemahan, antara lain, adaketidakkonsistenan dalam penyusunan RAT dan SAT, terutama dalam rumusankompetensi khusus dan kegiatan inti tutorial. Di samping itu, teknik simulasi belumdigunakan dalam tutorial, padahal teknik itu dapat membantu mahasiswa untukmemahami dan menerapkan materi dan pembelajaran bahasa Indonesia di SD.
Semiotik & Dinamika Sosial Budaya: Ferdinand de Saussure, Roland Barthes, Julia Kristeva, Jacques Derrida, Charles Sanders Peirce, Marcel Danesi & Paul Perron, dll. Suci Anggraeni
Metalingua: Jurnal Penelitian Bahasa Vol 15, No 1 (2017): METALINGUA EDISI JUNI 2017
Publisher : Balai Bahasa Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (297.548 KB) | DOI: 10.26499/metalingua.v15i1.160

Abstract

Manusia adalah makhluk yang selalumencari makna dari berbagai hal yang ada disekitarnya. Oleh karena itu, manusia dapatdisebut sebagai homo signans (Danesi danPerron 1999 dalam Hoed 2014). Dalam hal inimanusia dipandang memiliki kemampuan untukmemberikan makna pada berbagai gejala sosialbudaya dan gejala alamiah. Dengan demikian,dapat disimpulkan bahwa tanda adalah bagiandari kebudayaan manusia (Hoed, 2014).
SISTEM DAN STRUKTUR TEKS QANUN JINAYAH DAN SANGGAHANNYA Anggraini T. Saragih; Rajab Bahri
Metalingua: Jurnal Penelitian Bahasa Vol 14, No 1 (2016): METALINGUA, EDISI JUNI 2016
Publisher : Balai Bahasa Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (144.726 KB) | DOI: 10.26499/metalingua.v14i1.181

Abstract

AbstractQANUN Jinayah (QJ) as one of the qanuns issued and imposed by the Governments of Aceh Province has resulted in refuting views among the stake holders at the provincial and national levels. The QJ and its refuting text needs studying to gain an objective comprehension for the sake of the development of Aceh Province as a part of the Republic of Indonesia. This writing is based on linguistic theories which objectively describe the system, the linguistic structure and realizations of the QJ and its refuting text. This is a qualitative descriptive study on QJ text and its social context. The data were obtained by collecting QJ texts, its refuting texts, and interviews of both sides. The data were then analyzed using systemic functional linguistic (SFL) theories. The findings show that each of the opposing texts has different system, structure and linguistic realizations for each of them serves different function and social context. In other words, there has been various understandings of both texts. Such kind of understandings from the stake holders were formed proportionally; a necessary condition in Indonesia as a democratic country. AbstrakQANUN Jinayah (QJ) yang merupakan satu dari qanun yang dibuat dan diberlakukan Pemerintah di Provinsi Aceh telah menimbulkan silang pendapat oleh pemangku kepentingan di tingkat Provinsi Aceh dan nasional. QJ dan teks sanggahannya perlu dikaji untuk mendapatkan pemahaman yang objektif, yang diperlukan untuk pembangunan di Aceh dalam konteks NKRI. Kajian ini didasarkan pada teori linguistik yang secara objektif memberikan deskripsi tentang sistem, struktur atau realisasi teks, dan konteks sosial teks QJ serta teks sanggahannya. Desain penelitian adalah deskriptif kualitatif dengan data teks QJ dan konteks sosial. Data diperoleh dengan pengumpulan dokumen, yakni pengumpulan teks QJ dan teks sanggahnnya, wawancara dengan orang(yang mewakili institusi) pembuat kedua jenis teks itu, dan pengamatan. Dengan menggunakan teori linguistik fungsional sistemik (LFS), kedua jenis teks itu dianalisis dalam kaitannya dengan konteks sosialnya masing-masing. Temuan penelitian menunjukkan bahwa QJ dan teks sanggahannya memiliki sistem, struktur, dan realisasi linguistik yang berbeda karena keduanya memiliki fungsi dan konteks sosial yang berbeda. Dengan kata lain, terdapat pemahaman yang variatif tentang QJ dan teks sanggahannya. Dengan pemahaman yang variatif ini pandangan berbagai pihak sebagai pemangku kepentingan terhadap kedua jenis teks terbentuk secara proporsional; suatu keadaan yang perlu di Indonesia sebagai satu negara demokrasi.
POSITIVE POLITENESS STRATEGIES IN THE NOVEL "THE CLIENT": A SOCIOPRAGMATIC STUDY Mustakim Rija
Metalingua: Jurnal Penelitian Bahasa Vol 14, No 2 (2016): METALINGUA, EDISI DESEMBER 2016
Publisher : Balai Bahasa Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (130.632 KB) | DOI: 10.26499/metalingua.v14i2.197

Abstract

IN our daily communications, politeness plays a significant role in having a goodrelationship with other people. Being polite becomes very important because it helpsus to get along with them. This research is titled "Positive Politeness Strategies in thenovel "The Client":A Sociopragmatic Study." The purpose of the research is to analyzea novel by John Grisham "The Client." The problems to analyze are the positive politenessstrategies used, the speaker's intended meaning by the speaker, and the influence ofpositive politeness strategies to hearer's face. The method used in this research isqualitative. The grand theory of this research is Positive Politeness Strategies byPenelope Brown and Stephen C Levinson (1987). The context theory is taken fromthe theory of McManis et al. (1987) dealing with physical context, epistemic context,linguistic context, and social context. Some other theories are also used to support themain theories. The result of this research shows that there are 11 positive politenessstrategies used in the novel. The most dominant strategies used are the use of using ingroupidentity markers, the most common speaker's intended meaning used is invitation,and the most frequently used of the influence of positive politeness strategies to thehearer's face is as Face Saving Act (FSA). AbstrakDALAM komunikasi keseharian kita kesantunan memainkan peranan pentingdalam membina hubungan baik dengan orang lain. Santun itu menjadi sangatpenting dalam membantu kita berhubungan baik dengan mereka. Penelitian iniberjudul "Positive Politeness Strategies in the novel "The Client":A SociopragmaticStudy." Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis penggunaan strategikesantunan positif pada sebuah novel karya John Grisham yang berjudul "TheClient." Masalah yang diteliti adalah strategi kesantunan yang digunakan olehpenutur, makna tuturan dari penggunaan strategi-strategi kesantunan positif,dan pengaruh strategi kesantunan positif terhadap wajah petutur. Adapun metodeyang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif. Teori utama yangdigunakan dalam penelitian ini adalah teori kesantunan Penelope Brown danStephen C Levinson (1987). Adapun teori untuk konteks, digunakan dari McManiset al. (1987) yang berhubungan dengan konteks fisik, konteks epistemik, kontekslinguistik, dan konteks sosial. Beberapa teori lain pun digunakan untukmendukung teori utama. Hasil analisis dari penelitian ini menunjukkan bahwaterdapat 11 strategi kesantunan positif dalam novel ini. Strategi yang palingdominan adalah strategi penggunaan penanda identitas kelompok, maknatuturan yang paling banyak digunakan adalah ajakan, dan pengaruh strategikesantunan positif terhadap wajah si petutur yang paling sering digunakanadalah untuk menyelamatkan wajah si petutur.

Page 11 of 21 | Total Record : 205