cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Metalingua: Jurnal Penelitian Bahasa
ISSN : 1693685X     EISSN : 25802143     DOI : -
Core Subject : Education,
METALINGUA is a journal aiming to publish literary studies researches, either Indonesian, local, or foreign literatures. All articles in Metalingua have passed reviewing process by peer reviewers and edited by editors. METALINGUA is published by West Java Balai Bahasa twice a year, in June and December.
Arjuna Subject : -
Articles 205 Documents
KATA BERINFIKS PADA STRUKTUR LEMA KAMUS BESAR BAHASA INDONESIA (THE INFIXED WORDS IN ENTRY STRUCTURE OF KBBI) Zainal Abidin
Metalingua: Jurnal Penelitian Bahasa Vol 16, No 1 (2018): Metalingua Edisi Juni 2018
Publisher : Balai Bahasa Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (533.954 KB) | DOI: 10.26499/metalingua.v16i1.66

Abstract

Abstract The research on the infixed words in KBBI (Indonesian Great Dictionary) aims at describing the infixed words in the structure of the dictionary. This is a qualitative descriptive research. The subject of this study is the Fourth Edition of KBBI, while the object of research is the infixed entries contained in the dictionary. The data used in this study is the whole infixed words that made the entry in the dictionary. Data collection is carried out by reading and writing techniques. The data analysis steps are performed by collecting the entries, sorting the entries, classifying the entries by category or criteria according to the entry structure. The analysis is carried out after classification. The result of the research shows that in Fourth Edition of KBBI, there are twenty infixed words which are divided into four infixes -el-, -em-, -er-, and -in- and arranged as the main entry, i.e gelembung (bubbles), gelenang (grateful), geletar (tremble), geligi (teeth), gemeletuk (tingling), gemelugut (shrieking), gemeresik (rustling), gemeretak (rattling), gemerencang ( clanging), gemerincing (jingling), gemerlap (sparkling), gemetar (trembling), gemuntur (thundering), gemuruh  (rumbling), gerigi (serrations), serabut (fibers), seruling (flutes), sinambung (continuous), telingkah (hoarse), and telunjuk (finger). The word gerisik in the dictionary has the same basic meaning as the rhyme form, although the word geresik as the basic form of rustle are not found, while gerincing is the basic form of rattle, although the word gerencing is not found because the clanging rhyme is given the equivalent of word gemerincing to refer to the formation used. Meanwhile, in the dictionary, the word seruling (flute) that is supposed to be a derivation form of the word suling is created to be one of the meanings of the suling entry instead.  Abstrak Penelitian tentang kata-kata berinfiks pada Kamus Besar Bahasa Indonesia ini bertujuan untuk mendeskripsikan kata-kata berinfiks dalam struktur kamus tersebut. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Subjek penelitian ini adalah Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Keempat, sedangkan objek penelitiannya adalah lema berinfiks yang terdapat di dalam kamus tersebut. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah seluruh kata berinfiks yang dijadikan lema dalam kamus tersebut. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik baca dan catat. Langkah-langkah analisis data dilakukan dengan mengumpulkan lema, mengurutkan lema, mengklasifikasikan lema berdasarkan kategori atau kriteria sesuai dengan struktur lema. Penganalisisan dilakukan setelah dilakukan pengklasifikasian. Dari hasil penelitian ditunjukkan bahwa di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Keempat terdapat dua puluh kata berinfiks yang dibedakan menjadi empat infiks -el-, -em-, -er-, dan -in- dan disusun sebagai lema utama, yaitu gelembung, gelenang, geletar, geligi,  gemeletuk, gemelugut, gemeresik, gemeretak,  gemerencang, gemerincing, gemerlap, gemetar, gemuntur, gemuruh, gerigi, serabut, seruling,  sinambung, telingkah, dan telunjuk. Kata gerisik dalam kamus tersebut bermakna dasar yang sama dengan bentuk jadian gemeresik meskipun tidak ditemukan kata geresik sebagai bentuk dasar gemeresik, sedangkan gerincing merupakan bentuk dasar gemerencing kendatipun tidak ditemukan kata gerencing karena pada lema gemerincing diberi padanan kata gemerencing untuk mengacu bentukan yang dipakai. Sementara itu, kata seruling yang seharusnya merupakan bentuk derivasi dari kata suling dalam kamus tersebut malah dijadikan salah satu makna dari lema suling. 
ANALISIS DAN VALIDASI PERANGKAT PEMBELAJARAN SINTAKSIS BERBASIS PROBLEM BASED LEARNING (PBL) (ANALYSIS AND VALIDATION OF SYNTAX LEARNING TOOL BASED ONPROBLEM BASED LEARNING) Trisna Helda; Dina Ramadhanti
Metalingua: Jurnal Penelitian Bahasa Vol 16, No 2 (2018): Metalingua Edisi Desember 2018
Publisher : Balai Bahasa Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (346.857 KB) | DOI: 10.26499/metalingua.v16i2.212

Abstract

Abstrak: Penelitian ini dilakukan untuk mengembangkan perangkat pembelajaran berbasis PBL yang valid, praktis, dan efektif untuk digunakan dalam proses pembelajaran pada mata kuliah Sintaksis. Perangkat pembelajaran itu terdiri atas RPS, SAP dan bahan ajar. Jenis penelitian ini adalah penelitian pengembangan dengan menggunakan model 4-D  (four-D models). Dan penelitian ini baru sampai pada tahap pengembangan (develop), validasi berupa produk yaitu perangkat pembelajaran yang terdiri atas silabus, RPS, SAP dan bahan ajar, untuk mata kuliah Sintaksis.Berdasarkan hasil analisis yang telah dilakukan dapat diperoleh hasil validasi perangkat pembelajaran(RPS, SAP dan buku ajar) sebagai berikut.Pertama, berdasarkan hasil validasi ahli dan praktisi RPS secara memperoleh nilai rata-rata 86,53 dengan kategori sangat valid. Kedua, berdasarkan hasil validasi ahli dan praktisi SAP secara memperoleh nilai rata-rata 84,65 dengan kategori sangat valid. Ketiga, berdasarkan hasil validasi ahli dan praktisi buku ajar secara memperoleh nilai rata-rata 85,66 dengan kategori sangat valid.Kata kunci: perangkat pembelajaran, berbasis problem base learning, sintaksis  Abstract: This research was conducted to develop PBL-based learning tools that are valid, practical, and effective for use in the learning process in the course of Syntax. The learning tool consists of RPS, SAP and teaching materials. This type of research is development research using 4-D model (four-D models). And this research just to the stage of development (development), validation in the form of products that are learning tools consisting of syllabus, RPS, SAP and teaching materials, for subjects Syntax. Based on the results of the analysis that has been done can be obtained the validation of learning tools (RPS, SAP and textbooks) as follows. First, based on the validation results of experts and practitioners RPS obtained an average value of 86.53 with the category is very valid. Secondly, based on the validation results of experts and SAP practitioners obtained an average score of 84.65 with very valid category. Third, based on the results of validation of experts and practitioners of textbooks obtained an average score of 85.66 with very valid category.  Keywords: learning tool, problem base base learning, syntax 
SERAPAN DALAM PERISTILAHAN BIDANG OTOMOTIF Bari Pratama Putra; NFN Wahya; Dian Indira
Metalingua: Jurnal Penelitian Bahasa Vol 12, No 1 (2014): METALINGUA, EDISI JUNI 2014
Publisher : Balai Bahasa Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (127.632 KB) | DOI: 10.26499/metalingua.v12i1.37

Abstract

PENELITIAN tentang serapan dalam peristilahan bidang otomotif perlu dilakukan sebagailiteratur otomotif berbahasa Indonesia sehingga berbagai informasi terkait peristilahanotomotif dapat terjelaskan secara tepat, proporsional, dan reperesentatif dalam mediainformasi yang diperlukan pembaca. Masalah dalam tulisan ini adalah bagaimanaserapan dalam peristilahan bidang otomotif dalam bahasa Indonesia. Metode yangdigunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif. Analisis serapandalam peristilahan bidang otomotif dengan metode deskriptif kualitatif dilakukanberdasarkan data-data kebahasaan alami yang terdapat dalam media cetak bidangotomotif di Indonesia. Sumber data yang digunakan adalah Auto Bild Edisi 31 Juli–13Agustus 2013 dan Motor Trend Edisi Januari 2014. Auto Bild dan Motor Trend adalahmedia cetak yang berisi literatur informasi otomotif bagi pembaca di Indonesia. Serapandalam peristilahan bidang otomotif dapat diklasifikasikan atas serapan tanpa penyesuaianejaan dan lafal (penyerapan utuh) dan serapan dengan penyesuaian ejaan dan lafal;yang diklasifikasikan atas penyesuaian, penambahan, dan/atau penghilangan fonem.Tulisan ini dapat dijadikan informasi tambahan dalam pembentukan istilah daribahasa asing ke dalam bahasa Indonesia di samping pedoman yang ada dan menjadiliteratur otomotif yang diperlukan bagi pengguna media informasi otomotif di Indonesia.
DIALOG INTERAKTIF DI TELEVISI DENGAN REKAMAN UNTUK PEMBELAJARAN MENYIMAK Nunung Sriwidianingsih
Metalingua: Jurnal Penelitian Bahasa Vol 13, No 1 (2015): METALINGUA, EDISI JUNI 2015
Publisher : Balai Bahasa Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (98.058 KB) | DOI: 10.26499/metalingua.v13i1.54

Abstract

KEGIATAN pembelajaran menyimak dengan rekaman dialog interaktif merupakan suatukegiatan yang perlu disusun secara sistematis. Kegiatan ini secara umum dibagi menjadidua bagian, yaitu kegiatan guru dan kegiatan siswa. Kegiatan guru merupakan ramburambuyang menjadi acuan guru dalam melaksanakan proses belajar mengajar. Kegiatanini disusun dengan memperhatikan tujuan serta media pembelajaran yang akan digunakanuntuk pembelajaran menyimak dengan rekaman dialog interaktif di televisi. Kegiatansiswa kelas XI IPA-1 SMAN I Jatiwangi merupakan pola atau langkah-langkah yangharus dilakukan siswa selama proses belajar mengajar berlangsung. Penyusunankegiatan siswa berpedoman pada media pembelajaran yang digunakan. Langkah-langkahyang ditempuh dalam kegiatan belajar mengajar dengan rekaman dialog interaktif ditelevisi untuk pembelajaran menyimak pada siswa yang pada dasarnya dibagi menjaditiga bagian, yaitu kegiatan pendahuluan, kegiatan inti, dan kegiatan akhir atau penutup.
ANALISIS SEMANTIK METAFORA WARNA BAHASA MINANGKABAU Yulino Indra
Metalingua: Jurnal Penelitian Bahasa Vol 15, No 1 (2017): METALINGUA EDISI JUNI 2017
Publisher : Balai Bahasa Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (437.829 KB) | DOI: 10.26499/metalingua.v15i1.159

Abstract

This paper tried to investigate the presence of the terms of colors and its connotationin the metaphors of Minangkabau Language. To do so, the data were collectedfrom the native speakers and from the books such as Minangkabau Language Dictionary,The Minangkabau Language of Proverb, text of randai, and the lyrics ofMinangkabau songs. The metaphorical color expressions were analysed by correlatingthem with their literal meanings and other factors such as physical, psychological,historical, and cultural. The findings of this research showed that there weresix colors found in metaphorical expression, i.e itam ’black’, putiah ‘white, kulabu’grey’, sirah ’red’, kunyiang ’yellow’, and ijau ’green’. Some colors such as black,white, red, and yellow, contained both negative and positive connotation. However,the other colors such as grey and green only contained negative connotation. Thesemethaporical color expressions were unique because they were mostly influenced bymany factors in Minangkabau language and culture.AbstrakMakalah ini mencoba meneliti keberadaan warna-warna dan makna yang dikandungdalam ekpresi metafora bahasa Minangkabau. Data diperoleh dari penutur aslidan beberapa buku di perpustakaan, seperti Kamus Bahasa Minangkabau, KamusUngkapan Bahasa Minangkabau, teks randai, dan lirik lagu. Konotasi ekpresimetafora warna tersebut dianalisis dengan cara menghubungkannya dengan maknaliteralnya. Selain itu, analisis juga dikaitkan dengan faktor-faktor lain, seperti keadaanfisik, psikologi, sejarah, dan budaya yang mempengaruhinya. Hasil penelitianmenunjukkan bahwa ada enam warna yang ditemukan dalam ekspresi metaforabahasa Minangkabau, yaitu itam ‘hitam, putiah ‘putih’, kulabu ‘abu-abu’, sirah‘merah’, kunyiang ‘kuning’, dan ijau ‘hijau’. Ekspresi metafora yang menggunakanwarna hitam, putih, merah, dan kuning memiliki konotasi positif dan negatif.Akan tetapi, ekpresi metafora yang menggunakan warna abu-abu dan hijau hanyamemiliki konotasi negatif. Setiap ekpresi metafora yang menggunakan kata warnadalam bahasa Minangkabau memiliki keunikan. Keunikan metafora warna tersebutsangat dipengaruhi oleh berbagai faktor dalam bahasa dan budaya Minangkabau.
PEMBELAJARAN GENRE TULIS DALAM SISTEM PERSEKOLAHAN INDONESIA DI SUMATRA UTARA Amrin Saragih; Isli Pane
Metalingua: Jurnal Penelitian Bahasa Vol 14, No 1 (2016): METALINGUA, EDISI JUNI 2016
Publisher : Balai Bahasa Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (177.073 KB) | DOI: 10.26499/metalingua.v14i1.180

Abstract

THE objectives of the study are to describe written genres acquired by schoollearners (SD, SMP and SMA) in North Sumatra Province (referred to as the NSlearners) and propose a genre-baased learning model in accordance with the2013 Curriculum. This is a qualitative study. The subjects were 1025 learnersand 18 teachers comprising those representing SD (6), SMP (6) and SMA (6)and parents of the learners in 18 schools. The data were the learners' writtentexts or genres, descriptions of learning genres in the class-rooms, transcriptionsof interviews with the teachers and parents gained by data elicitation, observations and interviews. The learners' written texts were analyzed using systemic functional linguistics (SFL) theories. The data obtained from observations and interviews were analyzed using qualitative data analysis techniques. The findings show that firstly the learners have already acquired ten kinds of basic genres, namely description, report, recount, narrative, anecdote, exemplum, observation, procedure, exposition, and discussion, and also they were able to write multiple genres. Secondly, some elements of the school social context such as the techers' limited competence and skills on genres became a hindrance in teaching the written genre. Thirdly, to overcome such hindrance a model for genre learning was developed. The model was a combination of the genre-based langugae learning and the scientific approach feature of the 2013 Curriculum. Such learning model is effective for written genre learning.AbstrakKAJIAN ini bertujuan mendeskripsi capaian genre tulis oleh pemelajar sekolah (SD, SMP, SMA) di Sumatra Utara (selanjutnya dirujuk sebagai pemelajar SU) dan mengajukan model pembelajaran berdasarkan genre-based language learning yang sejalan dengan Kurikulum 2013 berdasarkan perolehan genre itu. Desain penelitian adalah deskriptif kualitatif. Sumber data adalah 1025 pembelajar dan 18 guru, yang terdiri atas guru SD (6), guru SMP (6), dan SMA (6), serta orang tua pemelajar dari ke-18 sekolah (SD, SMP dan SMA) itu. Data kajian ini adalah teks atau genre yang ditulis pembelajar SU, deskripsi pembelajaran genre di kelas, dan transkripsi wawancara dengan guru dan orang tua yang masing-masing diperoleh dengan teknik elisitasi data, observasi pembelajaran menulis genre di kelas, dan wawancara dengan guru dan orang tua. Teks yang ditulis pemelajar dianalisis dengan menggunakan teori linguistik fungsional sistemik (LFS). Data dari observasi dan wawancara dianalisis dengan menggunakan teknik analisis data kualitatif. Temuan penelitian adalah pertama, pemelajar SU telah memperoleh dan mampu menulis sepuluh jenis genre tunggal, yakni deskripsi, laporan, recount, narasi, anekdot, exemplum, observasi, prosedur, eksposisi, dan diskusi, serta mereka mampu menulis genre kompleks. Kedua, ditemukan bahwa sebagian unsur konteks sosial persekolahan berupa keterbatasan pengetahuan dan ketrampilan guru tentang genre dan pembelajaran berbasis teks telah menjadi penghambat dalam pembelajaran menulis genre. Ketiga, sekaitan dengan itu model pembelajaran genre dikemukakan. Model pembelajaran genre tulis yang diajukan merupakan gabungan dari genre-based language learning dan pendekatan ilmiah yang menjadi ciri utama Kurikulum 2013. Model ini efektif untuk pembelajaran genre tulis.
ACTIVE VOICE CHANGES IN TRANSLATION FROM ENGLISH TO INDONESIAN AND VICE VERSA Mohammad Rizqi
Metalingua: Jurnal Penelitian Bahasa Vol 14, No 2 (2016): METALINGUA, EDISI DESEMBER 2016
Publisher : Balai Bahasa Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (146.751 KB) | DOI: 10.26499/metalingua.v14i2.196

Abstract

PENELITIAN ini bertujuan untuk menganalisis perubahan bentuk aktif bahasaInggris ketika menjadi bahasa Indonesia berdasarkan analisis perbandingandalam penerjemahan kalimat bahasa Inggris ke dalam bahasa Indonesia. Bentukaktif pasif adalah kategori gramatikal yang terkait dengan bagaimana bendaatau orang melakukan sesuatu dan bagaimana sesuatu dilakukan benda atauorang (Crystal, 1997). Metode yang digunakan adalah metode kualitatifdeskriptif. Data diperoleh dengan memanfaatkan sekelompok mahasiswa dariUniversitas Serambi Mekah, Banda Aceh yang terdiri atas delapan mahasiswasemester ke-1 dan ke-3, dan 12 mahasiswa semester ke-5 dan di atasnya. Merekadiberi delapan kalimat dalam bahasa Inggris dan diminta untukmenerjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia apa adanya sesuai dengan caraberpikir masing-masing. Penggunaan mahasiswa semester awal dan semesterakhir dimaksudkan untuk mencari kesamaan bentuk pilihan kalimatnya dalammenerjemahkan bahasa Inggris ke dalam bahasa Indonesia. Hasil analisismenunjukkan bahwa ada kesamaan ciri pada mahasiswa jurusan bahasa Inggrissemester awal dan akhir dalam pilihan kalimatnya dalam menerjemahkan kalimatbahasa Inggris ke dalam bahasa Indonesia. Terjadi perubahan dari kalimataktif bahasa Inggris menjadi kalimat pasif dalam bahasa Indonesia padamayoritas penerjemahan kalimat bahasa Inggris, dan dengan demikian adaperubahan struktur dalam transitivitas. AbstractTHIS writing aims to analyze voice changes from English into Indonesian based oncontrastive analysis in translation of English into Indonesian. Voice is a grammaticalcategory of verbs that is related to what thing or person is acting and what thing orperson is being acted upon (Crystal, 1997). The method used in this research is qualitativedescriptive method. To acquire the data, the writer uses a group of students from theSerambi Mekah University of English Department of Banda Aceh as the subject ofthe study, consisting of eight lower semester students (semester 1 and 3) and twelvehigher semester students (semester 5 and above). They were given eight sentences inEnglish and were asked to translate them into the most natural way that they can thinkof in Indonesian. The use of students from lower and higher semester is intended tofind the similarity of profile in terms of their voice preference in translating the givenEnglish sentences into Indonesian. The result shows that there is similar profile betweenthe lower and higher semester students in terms of their voice preference in translatingthe given English sentences into Indonesian. In the majority of translations from English,a change occurs from syntactic active to passive in Indonesian, and therefore a changein transitivity structures occurs.
FUNGSI INDEKSIKAL REFERENSIAL DAN NONREFERENSIAL PADA KONSTRUKSI DIATESIS BAHASA JEPANG (REFERENTIAL AND NONREFERENTIAL INDEXICAL FUNCTIONS IN JAPANESE VOICE CONSTRUCTIONS) Hiroko Otsuka; Dadang Suganda; Bambang Kaswanti Purwo; Cece Sobarna
Metalingua: Jurnal Penelitian Bahasa Vol 16, No 1 (2018): Metalingua Edisi Juni 2018
Publisher : Balai Bahasa Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1489.492 KB) | DOI: 10.26499/metalingua.v16i1.123

Abstract

Penelitian ini membahas fungsi dan makna indeksikal konstruksi diatesis bahasa Jepang. Dalam tradisi linguistik Barat, konstruksi diatesis merupakan piranti untuk menyatakan makna proposisional mengenai hubungan di antara partisipan dengan situasi yang digambarkan verba. Dengan menggunakan kerangka indeksikal referensial dan nonreferensial, penelitian ini mencoba menjelaskan fungsi konstruksi diatesis bahasa Jepang bermakna  nonproposisional. Fungsi dan makna indeksikal dijelaskan melalui pengontrasan paradigmatis  terkait makna konstruksi yang membentuk seperangkat opsi terbatas dalam penentuan pilihan penutur. Penelitian ini menjelaskan bahwa indeksikal referensial berfungsi pula menyatakan makna evaluatif penutur seperti ‘stance’ afektif/emotif terhadap partisipan peristiwa yang selama ini oleh peneliti dianggap dinyatakan melalui indeksikal nonreferensial. Penelitian ini menjelaskan pula bahwa makna indeksikal nonreferensial konstruksi diatesis bahasa Jepang dapat mencakup sikap mental yang meliputi sikap menjaga citra diri, sikap menimbang rasa orang lain dan sebagainya. Hasil penelitian membuktikan bahwa fungsi indeksikal referensial maupun nonreferensial pada konstruksi diatesis bahasa Jepang berhubungan erat dengan kehidupan sosial budaya Jepang. 
MANIFESTASI KAIDAH KEBAHASAAN DALAM SURAT KABAR PEKANBARU POS, KORAN RIAU, DAN RIAU POS (MANIFESTATION OF LANGUAGE RULES IN NEWSPAPERS PEKANBARU POS, KORAN RIAU, AND RIAU POS) NFN Hermandra
Metalingua: Jurnal Penelitian Bahasa Vol 16, No 2 (2018): Metalingua Edisi Desember 2018
Publisher : Balai Bahasa Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (340.268 KB) | DOI: 10.26499/metalingua.v16i2.278

Abstract

A newspaper is one of the media used to inform various kinds of information implicitly and explicitly. Explicit use of language is conveyed in a written form. The phenomenon that readers are seldom aware is the frequent mistakes in writing. These mistakes can directly or indirectly bring a negative impact on correct understanding of language rules. Such condition can affect the quality of language use in which the incorrect one may be considered correct. It inspires me to write about the implementation of language rules in newspapers using descriptive approach and observation technique through documentation. The data show that the mistakes found in newspapers are misspelling in someone’s name, in the name of a place, in someone’s title, and in abbreviations; wrong use of dashes and prepositions; misspelling of standard words, syllables, name of the month, foreign words, loan words; and in adding or omitting letters. These mistakes may gradually be considered as an implementation of correct language rules by the readers that are unaware of the mistakes. Therefore, those who are concern about languages should promote the use of language rules correctly.AbstrakSurat kabar adalah salah satu media yang turut mempromosikan berbagai informasi yang dapat disampaikan penulisnya melalui penggunaan bahasa, baik secara implisit maupun eksplisit. Secara eksplisit tentunya menggunakan bahasa tulis. Fenomena yang sering kali tidak disadari oleh pembaca adalah seringnya terjadi kesalahan penulisan. Kesalahan ini baik secara langsung maupun tidak langsung dapat memberikan dampak yang kurang baik terhadap pemahaman kaidah kebahasaan di kalangan masyarakat. Kondisi ini dapat memengaruhi kualitas seseorang dalam menggunakan bahasa, yang seharusnya salah bisa dianggap benar. Hal ini mendasari dilakukannya pengamatan tentang penerapan kaidah bahasa dalam surat kabar. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan deskriptif dan teknik pengamatan dengan cara dokumentasi. Data menunjukkan bahwa ada banyak kesalahan kebahasaan dalam surat kabar, seperti penulisan nama, nama tempat, gelar, singkatan, pemakaian tanda pisah, penulisan kata depan, kata baku, silabel, nama bulan, bahasa asing, kata serapan, kesalahan huruf, serta penambahan dan pengurangan huruf. Kesalahan ini lambat laun bisa dianggap manifestasi kebenaran bagi masyarakat. Oleh karena itu, para akademisi perlu memberikan pencerahan tentang penggunaan kaidah kebahasaan yang sesungguhnya.
DEIXIS IN PEKAL LANGUAGE OF NORTH BENGKULU REGENCY Syamsurizal .
Metalingua: Jurnal Penelitian Bahasa Vol 13, No 2 (2015): METALINGUA, EDISI DESEMBER 2015
Publisher : Balai Bahasa Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (114.968 KB) | DOI: 10.26499/metalingua.v13i2.9

Abstract

THE 21st century is predicted to bring changes to the world's economy and culturewhich is hence feared to affect local languages and culture, including that ofPekal language. To avoid it from happening, a research on Pekal language iscarried out in this article. It aims at describing the Pekal language's deicticpersona, time, place, and discourse used by its speakers in the Districts of Ketahunand Napalputih, the North Bengkulu Regency. It used descriptive qualitativemethod. The data were collected using listening and speaking method withstimulating, writing, and recording techniques. The result showed that the deicticform of the first person singular is akui while those of the plural are aok, kami/kaming, and kitung 'we'; the deictic forms of second person singular are ikau,aban/kaban, and mamang, while those of the second person plural are kamisiko and masiko 'you all'; the third person singular deictic are iyu/iyung 'he/she',-yung and ikau, while the third person plural deictic are masiko, asiko, andtoboh de. Deictic of time were petang 'yesterday', kining 'now', tading 'just now',paging 'tomorrow', siang, metang 'afternoon', senju 'evening', malam, biae 'havebeen to', awit/garang 'often', terus 'always', kadang kaleu 'sometimes', biasoyung'usually', kining 'at present', kalu 'if', dan bilu 'when'. the deictic of discourse arewords/phrases such as iko, itu/tunah, cak iko/cak konah, nyo, yung, cak itu.Among the deictic of person, only the third person that could be marked asanaphoric or cataphoric. The anaphoric deictic was divided into two entities,namely singular (-yung, e) and plural (-masiko 'you', toboh tui 'they')

Page 9 of 21 | Total Record : 205