cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Metalingua: Jurnal Penelitian Bahasa
ISSN : 1693685X     EISSN : 25802143     DOI : -
Core Subject : Education,
METALINGUA is a journal aiming to publish literary studies researches, either Indonesian, local, or foreign literatures. All articles in Metalingua have passed reviewing process by peer reviewers and edited by editors. METALINGUA is published by West Java Balai Bahasa twice a year, in June and December.
Arjuna Subject : -
Articles 205 Documents
PROBLEMATIK DALAM PENERAPAN BERAGAM STRATEGI PEMBELAJARAN DI SMKN 11 KOTA MALANG (PROBLEMS ON APPLYING DIVERSE LEARNING STRATEGIES IN SMKN 11 OF MALANG CITY) Muhammad Ayyinna Yusron El Farouq
Metalingua: Jurnal Penelitian Bahasa Vol 17, No 2 (2019): METALINGUA EDISI DESEMBER 2019
Publisher : Balai Bahasa Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (451.234 KB) | DOI: 10.26499/metalingua.v17i2.317

Abstract

AbstrakPenelitian ini bertujuan mendeskripsikan problematika dan hambatan penerapan beragam strategi pembelajaran di SMKN 11 Malang dengan menggunakan ancangan deskriptif kualitatif dan melibatkan siswa dan guru bahasa Indonesia sebagai sumber data. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, catatan lapangan, rekaman, dan dokumentasi. Data dianalisis menggunakan analisis deskriptif, yaitu mengambil data percontoh yang dianggap mewakili. Hasilnya menunjukkan bahwa terdapat problematika dalam penerapan strategi pembelajarandi kelas X TSM 2 akibat adanya hambatan dalam proses belajar-mengajar. Dalam hal ini, guru kurang mampu menguasai, mengolah, mengatur waktu, dan menyesuaikan strategi dengan materi pembelajaran, serta terkendala dalam merealisasikan dan mengimplementasikan strategi pembelajaran yang diterapkan. Kurangnya motivasi siswa untuk belajar bahasa Indonesia juga menyebabkan terhambatnya penerapanstrategi pembelajaran. Solusinya adalah penerapan beragam strategi, penguasaan guru terhadap strategi, persiapan rancangan pelaksanaan pembelajaran, peningkatan kompetensi guru, analisis kebutuhan siswa, pemilihan strategi pembelajaran yang tepat, pengembangan model pembelajaran yang inovatif, progresif dan kontekstual, dan penyediaan lingkungan belajar yang konstruktif. Semua alternatif itu diharapkandapat mengatasi problematika yang berlangsung saat penerapan strategi pembelajaran sehingga kreativitas, inovasi, serta dinamika proses belajar- mengajar menjadi lebih baik.
IDIOM DAN METAFORA PADA LIRIK LAGU “JARAN GOYANG” (IDIOMS AND METAPHORS IN SONG LYRICS OF “JARAN GOYANG”) churmatin nasoichah; Mulyadi Mulyadi
Metalingua: Jurnal Penelitian Bahasa Vol 17, No 2 (2019): METALINGUA EDISI DESEMBER 2019
Publisher : Balai Bahasa Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (382.063 KB) | DOI: 10.26499/metalingua.v17i2.360

Abstract

AbstrakSalah satu penggunaan idiom dan metafora sehari-hari dapat dijumpai dalam lirik lagu. Lirik lagu yang sedang naik daun di antaranya adalah lagu yang berjudul “Jaran Goyang”. Bentuk idiom dan metafora pada lagu berjudul “Jaran Goyang” ini menarik untuk dideskripsikan. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan bentuk idiom dan metafora pada lagu berjudul “Jaran Goyang”. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif. Berdasarkan hasil analisis, diketahui adanya 2 bentuk idiom, yaitu idiom penuh dan idiom sebagian. Sementara itu, bentuk metafora yang ditemukan adalah metafora struktural, dan metafora kontainer, dan metafora personifikasi. Tidak ditemukan metafora ontologis dalam lirik lagu tersebut.AbstractOne of the use of idioms and metaphors in daily life can be found in song lyrics. The well-known song of “Jaran Goyang” contains idioms and metaphors. It is interesting to describe the forms of idioms and metaphors within the song lyrics using a qualitative method. The results shows that there are two forms of idioms, namely full idioms and partial idioms. Meanwhile, the forms of metaphors found within the song lyrics are structural metaphor and container metaphor, but no ontological metaphors were found therein.
DEIKSIS DALAM NOVEL DAUN YANG JATUH TAK PERNAH MEMBENCI ANGIN KARYA TERE LIYE DAN SKENARIO PEMBELAJARANNYA DI SMA (DEIXIS IN TERE LIYE’S NOVEL “DAUN YANG JATUH TAK PERNAH MEMBENCI ANGIN” AND ITS LEARNING SCENARIO IN HIGH SCHOOL) Asep Muhyidin
Metalingua: Jurnal Penelitian Bahasa Vol 17, No 1 (2019): Metalingua Edisi Juni 2019
Publisher : Balai Bahasa Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (534.422 KB) | DOI: 10.26499/metalingua.v17i1.283

Abstract

AbstractThis paper aims at describing the use of deixis in Tere Liye’s novel called“Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin”. The method used inthis writing is descriptive qualitative method. The data were collectedusing reading method and writing technique. The data consist of sentencescontaining deixis of persona, deixis of space, and deixis of time. It was found that there are 992 deixis which consist of 879 deixis of persona, 82 deixis of space, and 31 deixis of time. Such study on deixis has an implication on Indonesian language learning in high school class XII, especially in editing a novel. It is due to the fact that deixis relates to the choice of words and the use of effective sentences. Therefore, the teachers should manage to create its learning scenario. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pemakaian deiksis dalam novel Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin karya Tere Liye. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Pengumpulan data dilakukan dengan metode simak dan teknik catat. Data penelitian merupakan satuan lingual berupa kalimat-kalimat yang mengadung deiksis persona, deiksis ruang, dan deiksis waktu. Dari hasil penelitian ditemukan sebanyak 992 deiksis, yang terdiri atas deiksis persona sejumlah 879, deiksis ruang sejumlah 82, dan deiksis waktu sejumlah 31 buah. Kajian deiksis dalam penelitian ini berimplikasi terhadap pembelajaran bahasa Indonesia di SMA kelas XII, khususnya pada pembelajaran menyunting novel. Hal ini disebabkan deiksis terkait dengan pemilihan kata dan penggunaan kalimat yang efektif. Untuk itu, guru harus mampu membuat skenario pembelajarannya
ABSTRACT admin admin
Metalingua: Jurnal Penelitian Bahasa Vol 17, No 2 (2019): METALINGUA EDISI DESEMBER 2019
Publisher : Balai Bahasa Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (238.466 KB) | DOI: 10.26499/metalingua.v17i2.438

Abstract

METAFORA BERTEMAKAN KRITIK SOSIAL DALAM LAGU IWAN FALS: KAJIAN EKOLINGUISTIK (METAPHORS IN IWAN FALS’ SOCIAL CRITICS SONGS: ECOLINGUISTICS STUDY) Mutia Mawaddah Rohmah
Metalingua: Jurnal Penelitian Bahasa Vol 17, No 2 (2019): METALINGUA EDISI DESEMBER 2019
Publisher : Balai Bahasa Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (478.338 KB) | DOI: 10.26499/metalingua.v17i2.309

Abstract

AbstrakPenelitian ini membahas metafora dalam lagu Iwan Fals yang bertemakan kritik sosial dan kemanusiaan. Studi ini didasari atas teori ekolinguistik dengan tujuan melakukan analisis mendalam untuk melihat keterhubungan antara ekologi (lingkungan) dan bahasa. Permasalahan dalam penelitian ini dijawab dan dijelaskan dengan memanfaatkan ancangan deskriptif-kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metafora yang ditemukan dalam lagu Iwan Fals yang bertemakan kritik sosial dan kemanusiaan terbentuk berdasarkan sifat alamiah dari masing-masing entitas (dimensibiologis). Sifat alamiah yang dijadikan sebagai ranah sumber dipetakan pada ranah target berupa manusia dengan segala aktivitasnya membentuk suatu pemahaman baru dan memperkaya perbendaharaan kosakata. Keterhubungan antara kedua ranah tersebut terekam dalam kognisi penggunanya dalam tataran dimensi ideologis yang kemudian dipahami oleh masyarakat dalam tataran dimensi sosiologis. Keseluruhanpemaknaan tersebut membentuk suatu relasi yang kuat antara bahasa dan lingkungan.
KONSEP MAKNA KITA DAN KAMI DALAM DEBAT CAPRES BULAN JANUARI 2019: KAJIAN SEMANTIK KOGNITIF MELALUI STUDI KORPUS (THE CONCEPTUAL MEANINGS OF KITA AND KAMI IN INDONESIAN PRESIDENTIAL DEBATE ON JANUARY 2019: COGNITIVE SEMANTICS ANALYSIS-CORPUS BASED STUDY) Elvi Citraresmana
Metalingua: Jurnal Penelitian Bahasa Vol 17, No 2 (2019): METALINGUA EDISI DESEMBER 2019
Publisher : Balai Bahasa Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (426.076 KB) | DOI: 10.26499/metalingua.v17i2.299

Abstract

AbstrakArtikel ini membahas makna konseptual kita dan kami yang sering digunakan oleh kedua pasangan calon presiden dan wakil presiden (01 dan 02) melalui analisis skema citra. Dalam pandangan bahasa Indonesia, kata sapaan kita mengacu pada pembicara dan yang diajak bicara sehingga bermakna inklusif. Sementara itu, kata sapaan kami bermakna eksklusif, yakni petutur tidak termasuk di dalam pembicaraan. Dalam debat politik ini, penggunaan sapaan kita dan kami tidak selalu merujuk makna eksklusif dan inklusif. Penelitian ini menggunakan pendekatan semantikkognitif untuk mengkaji skema citra kata kita dan kami terkait konteks debat dalam pandangan semantik kognitif. Data dikumpulkan dengan menggunakan metode korpus dengan menggunakan piranti lunak Antconc. Analisis penggunaan sapaan kita dan kami menggunakan pendekatan semantik kognitif yang menghasilkan skema citra pemaksaan (attraction schemas compulsion): skema citra perpindahan (locomotion—momentum, source-path-goal), dan skema citra pemaksaan (enablement dan removal of restraint).AbstractThis article discusses the conceptual meaning of pronoun kita and kami which were frequently used by both of president and vice president candidates (01 and 02). In Indonesian language, the pronoun kita has the inclusive meaning, i.e. both speaker and hearer are included in the conversation, while kami has the exclusive meaning, i.e. only speaker is included in the conversation and the hearer is excluded. In this presidential debate, the usage of kita and kami does not always refer to the meaningmentioned before. This research aims to identify the conceptual meaning of kita and kami used by both of president and vice president candidates by using semantic cognitive study. The data are collected and analyzed using Antconc software as corpus method. It is concluded that there were compulsion schemas appeared into the data such as attraction schemas, compulsion; locomotion: momentum—source—path-- goal; enablement and removal of restraint. 
BAHASA PEREMPUAN DALAM NOVEL BIDADARI BERMATA BENING KARYA HABIBURRAHMAN EL-SHIRAZY (WOMEN’S LANGUAGE ON “BIDADARI BERMATA BENING” NOVEL BY HABIBURRAHMAN EL-SHIRAZY) Dina Ramadhanti; Diyan Permata Yanda
Metalingua: Jurnal Penelitian Bahasa Vol 17, No 1 (2019): Metalingua Edisi Juni 2019
Publisher : Balai Bahasa Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/metalingua.v17i1.245

Abstract

AbstractWoman’s language is a representation system reflecting woman’s views of the world. Such language can be found in oral and written texts, e.g.: novel. In the novel, female language containing certain ideology is identifiable through the interpretation of its vocabularies and grammar. Woman’s choice of words represents certain ideology and her views of life. In this writing, such ideology in woman’s vocabularies and grammar in the novel is studied using qualitative approach and content analysis method based on Fairclough’s theory developed by Santoso. Generally, woman’slanguage in the novel shows a modern and brave point of view of an Islamic boarding school woman to face every conflict in her life. The novel taught us that only knowledgeable and strongly virtuous woman that can withstand and defend her rights among the dominant and powerful people around her. It is shown in her use of words and choice of grammar.AbstrakBahasa perempuan adalah suatu sistem representasi yang mencerminkan cara pandang perempuan terhadap dunia, yang dapat muncul dalam teks lisan ataupun tulisan. Dalam teks tulisan, misalnya novel, bahasa perempuan yang mengandung ideologi tertentu dapat diidentifikasi dengan menafsirkan kosakata dan gramatikanya. Pilihan bahasa yang digunakan perempuan melambangkan ideologi tertentu dan cara pandangnya terhadap kehidupan di mana pun ia berada. Dengan menggunakanpendekatan kualitatif dengan metode analisis isi, ideologi yang terkandung dalam bahasa perempuan, khususnya di dalam novel, dikaji berdasarkan kosakata dan gramatika menggunakan teori Fairclough yang dikembangkan oleh Santoso. Secara umum, bahasa yang digunakan perempuan dalam novel Bidadari Bermata Bening menunjukkan cara pandang seorang perempuan lulusan pesantren yang berpikiran modern dan berani menghadapi setiap konflik dalam hidupnya. Novel ini mengajarkan bahwa hanya perempuan yang memiliki pengetahuan dan keyakinan agama yang kuatlah yang dapat mempertahankan dan memperjuangkan hak-haknyadi tengah dominasi dan kekuasaan orang-orang di sekitarnya. Caranya tampak dari penggunaan kosakata dan pemilihan gramatikanya.
ANALISIS MAKNA POLISEMI VERBA MEMOTONG (KIRU) DALAM KALIMAT BAHASA JEPANG An Analysis of Polysemic Meaning of Verbs 'Cut (Kiru)' In Japanese Abdul Gapur; Mhd. Pujiono
Metalingua: Jurnal Penelitian Bahasa Vol 17, No 1 (2019): Metalingua Edisi Juni 2019
Publisher : Balai Bahasa Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (851.529 KB) | DOI: 10.26499/metalingua.v17i1.264

Abstract

Polysemy is a word that has more than one meaning. Not only limited to just one class of words, but polysemy is almost present in all classes of words. One of them is in kiru (切 る) verb. Kiru has the basic meaning 'cut' and has many meanings that often lead to errors in use, such as errors in translating Japanese sentences. Therefore in this research discussed the meaning of polysemi kiru verbs in Japanese sentences. This research is a qualitative research with descriptive method. The theory used is the theory of the expansion of contextual meaning and the polysemic meaning of Moriyama (2012). The data were obtained from sentences in discourses that used kiru verbs from various sources namely textbooks, novels and online newspapers. The results of this study were found 14 sentences in which there are kiru verbs. 13 sentences have the meaning of verb kiru cutting, dropping, opening, throwing, turning, starting, passing, actually already, stopping and breaking. But there is one sentence that occurs extension of meaning different the theory, namely the sentence shutta o kiru which means removing the shutter.
SEMINAR SOCRATES SEBAGAI SOLUSI KETIMPANGAN PORSI PEMBELAJARAN KETERAMPILAN BERBAHASA INDONESIA PRODUKTIF DAN RESEPTIF (SOCRATIC SEMINAR AS A SOLUTION TO THE IMBALANCE OF PRODUCTIVE AND RESEPTIVE SKILL PORTION IN INDONESIAN LANGUAGE LEARNING) Novia Anggraini
Metalingua: Jurnal Penelitian Bahasa Vol 17, No 2 (2019): METALINGUA EDISI DESEMBER 2019
Publisher : Balai Bahasa Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (418.14 KB) | DOI: 10.26499/metalingua.v17i2.342

Abstract

AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan ketimpangan porsi pembelajaran keterampilan berbahasa produktif dan reseptif serta memberikan alternatif solusi dari kondisi tidak ideal yang terjadi pada pembelajaran keterampilan berbahasa di jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP). Penelitian ini menggunakan pendekatan campuran (mixed methods). Data kuantitatif diperoleh dari hasil angket. Data kualitatif diperoleh dari hasil wawancara dan observasi. Dari hasil penelitianditemukan bahwa jenis keterampilan produktif, yaitu keterampilan berbicara dan menulis mendapat porsi yang lebih sedikit dibandingkan dengan keterampilan reseptif, yaitu keterampilan menyimak dan membaca. Seminar Socrates menjadi salah satu alternatif solusi yang dapat diterapkan pada pembelajaran keterampilan berbicara karena pembelajaran keterampilan berbicara memiliki porsi yang palingsedikit dibandingkan pembelajaran keterampilan berbahasa jenis lain.
THE GENETIC RELATIONSHIP BETWEEN MA’ANYAN AND MALAGASY (HUBUNGAN KEKEKERABATAN BAHASA MA’ANYAN DAN BAHASA MALAGASI) Hendrokumoro Hendrokumoro; I Gede Bagus Wisnu Bayu Temaja
Metalingua: Jurnal Penelitian Bahasa Vol 17, No 2 (2019): METALINGUA EDISI DESEMBER 2019
Publisher : Balai Bahasa Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (603.929 KB) | DOI: 10.26499/metalingua.v17i2.312

Abstract

AbstractThis writing aimed to identify the relationship between Ma’anyan andMalagasy languages. Several related studies have been conducted butstill leave some aspects that have not been studied before; this writingwas conducted to address those aspects. This writing examined thelexicostatistics and glottochronology between Ma’anyan and Malagasy,the sound correspondence sets of both languages, and sound changes thatoccur in both languages. The data was collected via interviews, documented by note-taking and recording techniques. The data were analyzed by implementing lexicostatistics and glottochronology techniques to identify quantitative evidence. Meanwhile, sound correspondence and sound changes were applied to identify qualitative evidence. The results reveal that, in lexicostatistics, the cognate percentage of both languages is 37%. By glottochronology calculation, the two languages split from their protolanguage between 273 BC - 94 CE (2018). Qualitatively, there are seven sets of sound correspondence and four types of sound changes found. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi hubungan kekerabatan antara bahasa Ma’anyan dan Malagasi. Penelitian terkait telah dilaksanakan, tetapi masih meninggalkan aspek yang belum diteliti sebelumnya sehingga penelitian ini dilaksanakan. Penelitian ini mengidentifikasi hasil leksikostatistik dan glotokronologi antara bahasa Ma’anyan dan Malagasi, perangkat korespondensi fonemis kedua bahasa, dan perubahan bunyi yang terjadi pada kedua bahasa. Data dikumpulkan melalui metode wawancara menggunakan teknik catat dan rekam. Datadianalisis menggunakan teknik leksikostatistik dan glotokronologi untuk mencari evidensi kuantitatif, dan menggunakan korespondensi fonemis serta perubahan bunyi untuk mencari evidensi kualitatif. Hasil penelitian menemukan bahwa secara leksikostatistik kedua bahasa berkerabat sebesar 37%. Secara glotokronologi, kedua bahasa berpisah pada tahun 273 SM – 94 M (2018). Secara kualitatif, ditemukan tujuh perangkat korespondensi fonemis dan empat tipe perubahan bunyi.