Jurnal Penelitian Arkeologi Papua dan Papua Barat
Journal of Papua is published twice a year in June and November by the Balai Arkeologi Papua. The Papua Journal contains the results of research, conceptual ideas, studies and the application of theory relating to archeology.
Articles
410 Documents
Pelestarian Sumberdaya Budaya Dalam Bingkai Otonomi Khusus Papua (STUDI KASUS CRM PAPUA)
Suroto, Hari
Jurnal Penelitian Arkeologi Papua dan Papua Barat Vol 1, No 1 (2009): Juni 2009
Publisher : BALAI ARKEOLOGI PAPUA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (2488.551 KB)
The influence of globalization has been seriously threat for the endurance whether tangible or intangible culture now days. It is surely needed to find a concept to preserve the Papua’s culture so that it can’t be swept away. If it doesn’t work, the next generation of Papua will lose their basic culture because of globalization and modernism. Until now, the people and provincial government didn’t give a full attention to the cultural resources. However, Papua’s culture can be a high potential culture. So that the way to advantage and developed the culture resources must be aim to preservation.
THE DENTAL MODIFICATIONS IN ANCIENT UNTIL PRESENT INDONESIA A CHRONOLOGICAL EVIDENCE OF INDONESIAN RACIAL IDENTITY
Suriyanto, Rusyad Adi;
Koesbardiati, Toetik;
Murti, Delta Bayu
Jurnal Penelitian Arkeologi Papua dan Papua Barat Vol 3, No 2 (2011): November 2011
Publisher : BALAI ARKEOLOGI PAPUA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (418.45 KB)
Sejarah migrasi di Asia Tenggara telah menjadi subjek banyak spekulasi dengan memanfaatkan ciri-ciri morfologis rangka dan gigi manusia, perbandingan-perbandingan dan persebaran linguistic dan cultural, perbandingan-perbandingan genetika manusia, filogeni dan DNA kuno hewan-hewan dan tanaman-tanaman dan koevolusi bahasa dan genetika manusia. Menurutpola migrasi di Indonesia ini, kami telah mencoba juga untuk membangun hipotesis tentang sejaah rasial dan penghunian Kepulauan Indonesia sejak Neolitik sampai sekarang dari bukti modifikasi-modifikasi gigi yangpernah ditemmukan di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan modifikasi-midifikasi gigi yang pernah dilakukan di Indonesia berdasarkan bukti-bukti paleoantropologis-arkeologis. Di samping itu, penelitian ini juga telah menginvestigasi dan menunjukkan identitas rasial penduduk Indonesia dari Neolitik sampai sekarang. Bahan penelitian meliputi gigi-geligi tengkorak manusia dewasa yang berasal dari beberapa situs paleoantropologis-arkeologis di Jawa, Bali, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi dan Papua, serta sampel gigi-geligi permanen isolatif populasi Bali modern. Metode-metode yang digunakan adalah metode deskriptif komparatif visual, dan penelusuran sumber-sumber pustaka arkeologis dan etnografis klasik. Sumber-sumber etnografis Indonesia yang terkait dengna modifikasi-modifikasi gigi juga telah dihadirkan. Bukti-bukti ini telah diupayakan untuk menunjukkan kontinuitas modifikasi-modifikasi gigi di Indonesia. Fungsi-fungsi modifikasi gigi telah diupayakan untuk ditampilkan, baik yang terkait dengan ritus inisiasi maupun estetika. Para peneliti bermaksud untuk mengeksploitasi bahwa modifikasi-modifikasi gigi ini terkait dengan migrasi dan kronologi persebaran ras-ras manusia di Asia Tenggara ke Kepulauan Indonesia dan penghuniannya dari 4000 tahun yang lalu sampai sekarang. Ras-ras manusia ini adalah Australomelanesoid dan Mongoloid yang merupakan populasi-populasi utama yang menghuni kawasan ini.
SENI TATAH SUNGGING DESA KEPUHSARI SEBAGAI WARISAN BUDAYA DI KABUPATEN WONOGIRI [The Arts of Tatah Sungging Kepuhsari Village As A Cultural Heritage in Wonogiri Regency]
Suranny, Lilyk Eka
Jurnal Penelitian Arkeologi Papua dan Papua Barat Vol 9, No 2 (2017): November 2017
Publisher : BALAI ARKEOLOGI PAPUA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (317.328 KB)
The art of puppet making known in the community with tatah sungging art. In current society the tatah sungging art increasingly marginalized by the development era. This study used descriptive qualitative method. Initially tatah sungging art in the Kepuhsari village carried by a puppeteer named Ki Guno Wasito which was later revealed to posterity who subsequently developed in the community of Kepuhsari village. Tatah sungging art in the making of the puppet is a combination of the tatah (chisel) and sungging (coloring). The values contained in the tatah sungging art that is the economic values, moral / educational values, cultural and artistic value, historical value and cultural preservation. This values are deeply embedded in society ABSTRAKSeni pembuatan wayang dikenal dimasyarakat dengan seni tatah sungging. Dalam masyarakat saat ini seni tatah sungging semakin terpinggirkan akibat perkembangan jaman. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan mengenai sejarah perkembangan seni tatah sungging di Desa Kepuhsari, teknologi pembuatan wayang kulit serta nilai-nilai yang terkandung dalam seni tatah sungging tersebut. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Awalnya seni tatah sungging di Desa Kepuhsari dibawa oleh seorang dalang bernama Ki Guno Wasito yang kemudian diturunkan ke anak cucunya dan selanjutnya berkembang di masyarakat Desa Kepuhsari. Seni tatah sungging dalam pembuatan wayang merupakan perpaduan dari tatah (pahat) dan sungging (mewarnai). Nilai-nilai yang terkandung dalam seni tatah sungging yaitu nilai ekonomi, nilai moral/edukatif, nilai seni dan budaya serta nilai historis dan pelestarian budaya. Nilai-nilai tersebut melekat dalam kehidupan bermasyarakat.
MASUKNYA ISLAM DI KABUPATEN FAKFAK DAN TINGGALAN ARKEOLOGINYA
Mene, Bau
Jurnal Penelitian Arkeologi Papua dan Papua Barat Vol 5, No 2 (2013): November 2013
Publisher : BALAI ARKEOLOGI PAPUA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (183.789 KB)
The process of introduction of Islam in Fakfak conected the sultanate of Ternate and Tidore, the two regions into the arena of the struggle for the imperial influence. The purpose of this study to determine the entry and development of the Islamic religion, form of early settlement patterns of Islam in Fakfak, the influence of foreign cultures on the archaeological remains found. This study used a qualitative descriptive approach. Research found mosques, tombs, palaces of kings and the Quran.AbstrakProses masuknya agama Islam di Kabupaten Fakfak tidak terlepas dari kesultanan Ternate dan Tidore, kedua wilayah tersebut menjadi ajang perebutan pengaruh kesultanan tersebut. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui proses masuk dan berkembangnya agama Islam, bentuk pola pemukiman awal masuknya Islam di Kabupaten Fakfak, pengaruh budaya luar pada tinggalan arkeologi yang ditemukan. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Penelitian yang dilakukan pada Distrik Fakfak Kota, Fakfak Barat dan Fakfak Tengah ditemukan masjid, makam, istana raja dan alquran.
TEMUAN GERABAH Dl GROGOLAN WETAN, SEBUAH BUKTI PENGHUNIAN SITUS SANGIRAN PASCA PLESTOSEN (Pottery from Grogol Wetan Site, Sangiran Settlement Post Pleistocene)
Sari, Metta Adityas Permata
Jurnal Penelitian Arkeologi Papua dan Papua Barat Vol 8, No 1 (2016): Juni 2016
Publisher : BALAI ARKEOLOGI PAPUA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (3611.656 KB)
The life of Eary Man at Post-Pleistocene in Sangiran site has not much indicated by evidences. Sangiran has know as Early Man site, and the findings of pottery indicate the activity of Post-Pleistocene human. Pottery can be regarded as one of evidance of Post-Pleistocene site. Data being analyzed are the potteries found by Indonesian National Center for Archaeological Research in 2013 and Sangiran Conservation Offie in 2015. Which is identified as pot (periuk) from Indonesian National Center for Archaeological Research and jar (klenting) from Sangiran Conservation Offie. Base on those findings, can be assumed that Early Man at Post-Pleistocene farmer. AbstrakKehidupan manusia purba pasca plestosen di Situs Sangiran terbilang belum cukup terbukti. Selama ini Situs Sangiran dikenal sebagai situs manusia purba, keberadaan fragmen tembikar menunjukkan adanya aktivitas sekelompok manusia (masyarakat) pasca plestosen di Situs Sangiran. Tembikar dijadikan salah satu bukti kehidupan pasca plestosen. Data yang digunakan adalah tembikar temuan Pusat Penelitian Arkeologi Nasional tahun 2013 dan temuan BPSMP Sangiran tahun 2015. Hasil analisis temuan tembikar dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional berupa periuk, sedangkan analisis temuan dari BPSMP Sangiran berupa alat untuk mengambil air yaitu klenting. Berdasarkan temuan termbikar tersebut, dapat diasumsikan bahwa masyarakat kemungkinan pada pasca plestosen bermata pencaharian sebagai petani.
BUDAYA AUSTRONESIA DI PAPUA
Suroto, Hari
Jurnal Penelitian Arkeologi Papua dan Papua Barat Vol 1, No 2 (2009): November 2009
Publisher : BALAI ARKEOLOGI PAPUA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (129.934 KB)
Papua has a strategic location in the western Pacific region, as a connector between South East Asia and Pacific Region that makes it a strategic place to transit from both west and east. On 1500 to 1000 BC there were a new wave of migration from Austronesia. The colonist left a vivid track about their journey through ocean and islands which can be seen form their archaeological sites. These sites were found in Admiralty island on the north of New Guinea to the east of Samoa island on West Polynesia. The strongest evidence on the migration of the Austronesian in Pacific is the language. The imigrant from Austronesia who came to Pacific settled accross the coastal area of north Papua. The influence of Austronesian culture in Papua that is only on north coast Papua, the Cendrawasih bay and the Bird’s Head Peninsula is particularly the Melanesian language, which actually a development of local Papua language influenced by the Austronesian language. Other influence they made is the tradition of the making and utilization of vessels. It is because this tradition was widely unknown in mid Papua mountains and south-coast Papua. Then the other Austronesian characteristics are the structured hierarchical organization, which applied hereditary and tattoo tradition.
PELESTARIAN DAN PENGELOLAAN GEREJA BLENDUK SEMARANG
Marzuki, Irfanuddin Wahid
Jurnal Penelitian Arkeologi Papua dan Papua Barat Vol 3, No 1 (2011): Juni 2011
Publisher : BALAI ARKEOLOGI PAPUA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (119.05 KB)
Dome church is the landmark of the old town in Semarang. Established in 1753, the building is still in a good shape now and even is used for Christians. The preservation and management program have been running very well. However, some matters are still not coherence with the Act No. 11 of 2001 concerning Cultural Resources.
KAJIAN ARKEOLOGI KEWILAYAHAN PAPUA: HASIL-HASIL, STRATEGI DAN PROSPEK
Mahmud, M. Irfan;
Suroto, Hari
Jurnal Penelitian Arkeologi Papua dan Papua Barat Vol 4, No 1 (2012): Juni 2012
Publisher : BALAI ARKEOLOGI PAPUA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (59.304 KB)
Based on the results achieved demonstrate the scope of the research and development of archaeological studies covering seven themes, namely: (i) human and cultural end of the Pleistocene, (ii) human and Austronesian culture, (iii) the early history of civilization, (iv) the influence of Islamic civilization (v) the influence of colonial civilization, (vi) assessment of public archeology, and (vii) maritime archeology. Jayapura Archeology do four step strategy of dividing the focal areas of research, establish policy follows national archaeological assessment, which consists of nine themes, conduct integrated research, mapping the research level typology of three types: (i) basic research / pure research (ii) research applied (iii) ad hoc research. In addition to research in rural areas also need to be conducted in the coastal areas tertama outer islands of Papua.