cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
JURNAL PANGAN
ISSN : 08520607     EISSN : 25276239     DOI : -
Core Subject : Agriculture, Social,
PANGAN merupakan sebuah jurnal ilmiah yang dipublikasikan oleh Pusat Riset dan Perencanaan Strategis Perum BULOG, terbit secara berkala tiga kali dalam setahun pada bulan April, Agustus, dan Desember.
Arjuna Subject : -
Articles 807 Documents
Faktor-Faktor yang Berpengaruh terhadap Keputusan Adopsi Padi Organik dan Perbandingan Pendapatannya di Jawa Timur Firdaus, Mohammad Wahyu; syafrial, Syafrial; Nugroho, Tri Wahyu Nugroho
JURNAL PANGAN Vol. 33 No. 1 (2024): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v33i1.835

Abstract

Penggunaan bahan dan obat-obatan kimia pada aktivitas pertanian memberikan dampak negatif terhadap kesehatan manusia, lingkungan dan keberlangsungan ekosistem. Pertanian organik menjadi salah satu opsi untuk mengatasi permasalahan yang ditimbulkan dari pemakaian bahan dan obat-obatan kimia tersebut dan mendukung visi pertanian berkelanjutan. Sehingga perlu upaya untuk meningkatkan adopsi pertanian organik secara lebih luas. Penelitian ini memiliki dua tujuan utama, mengestimasi faktorfaktor yang memengaruhi adopsi pertanian padi organik dan membandingkan pendapatan usahatani pertanian padi organik dan non organik. Sebanyak 114 petani di Jawa Timur terlibat sebagai responden. Tujuan pertama diestimasi menggunakan Regresi Logistik dan tujuan kedua menggunakan t-test. Hasil penelitian menunjukkan faktor tingkat pendidikan, pengalaman, luas lahan, pekerjaan di luar pertanian dan keikutsertaan dalam kelompok tani berpengaruh signifikan (p<0,01, 0,05 dan 0,10) terhadap keputusan adopsi pertanian padi organik. Tingkat pendapatan usahatani padi organik adalah Rp33.977.299/panen/ hektare sedangkan usahatani padi non organik adalah Rp21.015.933/panen/hektare Total biaya dan tingkat pendapatan usahatani padi organik dan non organik berbeda secara signifikan (p<0,01). Melalui hasil penelitian ini menunjukkan peningkatan adopsi pertanian organik merupakan salah satu implikasi kebijakan untuk meningkatkan pendapatan petani.
Karakteristik Sosial Ekonomi Petani Padi di Pesisir di Kabupaten Kendal: Kerentanan, Tantangan dan Peluang: Pendahuluan, Metode Riset, Hasil dan Diskusi, Kesimpulan, Daftar Pustaka Oelviani, Renie; Susilowati, Indah; Dinar Iskandar, Deden; Waridin, Waridin
JURNAL PANGAN Vol. 33 No. 1 (2024): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v33i1.836

Abstract

  Sektor pertanian di wilayah pesisir mengalami kerentanan dalam produksi, terutama disebabkan oleh salinitas, dampak dari perubahan iklim. Meskipun permasalahan kemanusiaan di bidang pertanian merupakan hal yang penting, data sosio-ekonomi pertanian pesisir masih terbatas. Artikel ini memberikan gambaran dan menganalisis sosial ekonomi pertanian pesisir di Kabupaten Kendal untuk mengisi kesenjangan yang ada. Kerentanan, tantangan, dan peluang di sektor ini dikumpulkan melalui wawancara semi terstruktur pada akhir tahun 2022 dan awal 2023 yang ditujukan untuk 183 petani terdampak salinitas di Kabupaten Kendal. Hasilnya menunjukkan bahwa pertanian pesisir menghadapi kerentanan, menurunnya produksi padi dan pendapatan petani, serta terbatasnya akses petani terhadap teknologi budidaya padi di lahan salin. Sebagian besar petani ingin terus bertani padi dengan kondisi yang ada karena bertani adalah mata pencaharian utama mereka. Namun, masih dibutuhkan penerapan teknologi untuk pertanian dan mata pencaharian berkelanjutan. Petani membutuhkan mitigasi teknis untuk bertahan dan melanjutkan usaha pertaniannya. Upaya adil untuk meningkatkan pertanian dalam mengelola dan meningkatkan produksi sebagai upaya keberlanjutan dan ketahanan sangatlah penting. Untuk mencapai tujuan tersebut, diperlukan sinergi antara pemangku kepentingan pusat dan daerah dari berbagai lembaga.
Pengelolaan Beras sebagai Cadangan Pangan dari Perspektif Word Trade Organization (WTO) Mamoriska, Sonya; Cahyaningsih, Eny
JURNAL PANGAN Vol. 33 No. 1 (2024): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v33i1.838

Abstract

   Sebagai anggota WTO, pengelolaan cadangan pangan di Indonesia harus memenuhi ketentuanketentuan yang ditetapkan dan disepakati di antara anggota WTO. Penelitian ini memiliki tujuan: (i) memahami dan menjelaskan bagaimana pelaksanaan pengelolaan beras sebagai cadangan pangan di Indonesia; (ii) memahami dan menjelaskan pengelolaan cadangan pangan menurut WTO; (iii) memberikan gambaran tentang pengelolaan cadangan pangan di negara lain; dan (iv) memberikan pilihan untuk mekanisme pengelolaan PSH yang tidak/minimal mendistorsi pasar dan produksi untuk diusulkan sebagai solusi permanen. Penelitian ini menggunakan pendekatan perundang-undangan untuk menilai hukum normatif dengan meninjau aturan yang relevan terkait dengan Pengaturan Subsidi Pertanian berdasarkan Perjanjian WTO dan Praktik di Indonesia, serta menggunakan teknik deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa angka de Minimis masih di bawah 10 persen, maka pengelolaan beras sebagai cadangan beras pemerintah telah memenuhi ketentuan WTO jumlah subsidi tidak melebihi batas ambang de Minimis. Dalam menerapkan PSH, beberapa negara memprioritaskan pembelian dari petani dalam negeri dengan harga yang ditetapkan pemerintah, program distribusi pangan kepada kelompok sasaran tertentu, atau subsidi kepada konsumen untuk memenuhi permintaan pasar ketika harga atau permintaan pasar sedang tinggi namun mekanisme pelepasan stok cenderung berbeda. Negara-negara Uni Eropa dan Amerika pernah memiliki memiliki program PSH, namun saat ini berubah ke arah dukungan pendapatan yang lebih langsung dan insentif untuk produksi yang berorientasi pasar, dengan mengurangi atau menghilangkan penggunaan PSH. Mengikuti Keputusan Bali adalah solusi permanen yang mungkin dapat mempertimbangkan fleksibilitas yang lebih besar meliputi batas dukungan yang diberikan, keterlibatan program baru, cakupan produk dengan disertai persyaratan yang lebih ketat. Para anggota dapat memutuskan untuk tidak menentang mekanisme penyelesaian sengketa LDCs. Transparansi adalah elemen penting yang mendasari Perjanjian Pertanian termasuk program PSH.
Mengukur Efisiensi Teknis dan Pendapatan Petani Jagung MDR-3 di Pulau Madura (Measuring Technical Efficiency and Farmers’ Income of MDR-3 Maize in Madura Island)) HAYATI, MARDIYAH; Taufik Rizal Dwi Adi Nugroho; Mohammad Wahyu Firdaus
JURNAL PANGAN Vol. 33 No. 2 (2024): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v33i2.853

Abstract

Benih jagung unggul MDR-3 sebagai inovasi dari perusahaan lokal Madura diharapkan menjadi salah satu solusi menyelesaikan permasalahan rendahnya produktivitas jagung di Pulau Madura. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat efisiensi teknis usahatani jagung dan mengetahui tingkat pendapatan usahatani jagung MDR-3. Total responden adalah 70 petani yang tersebar di Kabupaten Pamekasan dan Sumenep dan dipilih secara purposive. Kegiatan usahatani jagung MDR-3 tergolong efisien secara teknis dengan nilai Technical Efficiency 0,887. Tingkat pendapatan usahatani jagung MDR-3 adalah Rp10.536.894,00 dengan nilai R/C rasio berada pada angka 3,8. Hasil penelitian membuktikan penggunaan benih jagung varietas unggul MDR-3 pada kegiatan usahatani tergolong efisien dan memberikan kontribusi pendapatan yang lebih tinggi daripada penggunaan benih jagung lokal dan lebih tinggi dari tingkat Upah Minimum Kabupaten/Kota (UMK).   MDR-3 maize seeds, as an innovation from local companies in Madura, are expected to solve the problem of low maize productivity on Madura Island. This study aimed to determine the technical efficiency of maize farming using a stochastic production function assisted by the frontier 4.1c application and to determine the income level of MDR-3 maize farming. Seventy farmers from Pamekasan and Sumenep Regencies were selected purposely. MDR-3 maize farming activities were classified as technically efficient with a Technical Efficiency value of 0.887. The income level of MDR-3 maize farming was Rp10,536,894,00 with an R/C ratio of 3.8. The results of this study empirically prove that the use of MDR-3 superior maize seeds in farming activities is classified as efficient and provides a higher income contribution than the use of local maize seeds and is higher than the minimum wage level of the regency/city (UMK) at the research location.
Alih Fungsi Lahan dan Pengaruhnya terhadap Pendapatan serta Pola Konsumsi Rumah Tangga Petani di Desa Muktijaya Kabupaten Ogan Komering Ilir (Land Use Conversion and Its Impact on Income and Consumption Patterns of Farming Households in Muktijaya Village, Ogan Komering Ilir Regency) Silvian, Trissa; Yunita; Yoga Hekmahtiar
JURNAL PANGAN Vol. 33 No. 2 (2024): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v33i2.855

Abstract

Mayoritas masyarakat di Desa Muktijaya, Kabupaten Ogan Komering Ilir bermata pencaharian sebagai petani padi, namun saat ini banyak yang mengalihfungsikan lahan menjadi kelapa sawit. Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengetahui proses konversi lahan, faktor yang memengaruhi konversi lahan, perbedaan pendapatan petani padi dan kelapa sawit, serta pola konsumsinya. Penelitian ini dilakukan pada bulan September-Desember 2023. Penelitian ini menggunakan metode survei dengan metode pengambilan sampel menggunakan proportional stratified random sampling. Hasil penelitian ini adalah: (1) Proses konversi lahan didasarkan pada pertimbangan ekonomi, keberlanjutan, dan kondisi lingkungan; (2) Faktor yang mempunyai pengaruh nyata terhadap keputusan petani untuk mengalihfungsikan lahan adalah umur dan pendapatan petani. (3) Rata-rata pendapatan petani padi sebesar Rp19.079.912,00 ha/tahun, sedangkan petani kelapa sawit sebesar Rp30.478.557,00 ha/tahun. (4) Pola konsumsi rumah tangga petani padi untuk pangan sebesar Rp566.116,00/bulan (12,74 persen) dan pengeluaran non-pangan sebesar Rp3.877.606,00/bulan (87,26 persen). Sedangkan pengeluaran pangan petani kelapa sawit sebesar Rp987.043,00/bulan (18,81 persen) dan pengeluaran non-pangan sebesar Rp4.259.083,00/bulan (81,19 persen).    Most of people in Muktijaya Village, Ogan Komering Ilir Regency, work as rice farmers, however, many are currently converting their land into oil palm plantations. This study aimed to determine the land conversion process, factors influencing land conversion, income differences between rice and oil palm farmers, and consumption patterns. This study was conducted in September-December 2023. This study used a survey method with a sampling method using proportional stratified random sampling. The results of this study were: (1) The land conversion process was based on economic considerations, sustainability, and environmental conditions; (2) Factors significantly affecting farmers’ decisions to convert land were the age and income of farmers; (3) The average income of rice farmers was IDR19,079,912.00 ha/year, while oil palm farmers was IDR30,478,557.00 ha/year; (4) The consumption pattern of rice farmer households for food was IDR566,116.00/month (12.74 percent) and non-food expenditure was IDR3,877,606.00/month (87.26 percent). Meanwhile, food expenditure of oil palm farmers was Rp. 987,043/month (18.81 percent) and non-food expenditure was IDR4,259,083.00/month (81.19 percent).
Analisis Kebijakan Agribisnis Gula di Indonesia Afandi, Frendy Ahmad
JURNAL PANGAN Vol. 33 No. 1 (2024): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v33i1.636

Abstract

Gula merupakan barang pokok dan bahan baku industri. Makin besar jumlah penduduk suatu negaramaka makin besar kebutuhannya terhadap gula. Begitu juga dengan keberadaan industri pangan, makin berkembang industri pangan di suatu negara maka kebutuhan pasokan gulanya juga akan makin besar. Kebutuhan terhadap gula menjadi faktor kritis dan strategis untuk dapat dipenuhi dengan baik. Metodologi analisis dilakukan dengan wawancara mendalam dengan pakar, diskusi kelompok terfokus, observasi, dan rapat koordinasi yang disajikan secara kualitatif. Desain riset yang digunakan adalah teknik purposive sampling dan kajian literatur. Pemerintah telah melakukan berbagai kebijakan dari hulu sampai dengan hilir untuk mendukung pemenuhan kebutuhan gula nasional. Kebijakan-kebijakan tersebut dilakukan untuk menjaga stabilisasi pasokan dan harga di pasar. Kebijakan agribisnis gula yang dilakukan mencakup kebijakan pada subsistem sarana dan prasarana, budidaya, pengolahan, pemasaran, dan jasa pendukung. Hal yang menjadi pertimbangan utama adalah titik temu kesejahteraan petani gula di tingkat produsen dan harga terjangkau di tingkat konsumen. Dua pendekatan umum yang dilakukan adalah terkait kelembagaan dan pengembangan usaha yang di dalamnya termasuk unsur pembiayaan. Kebijakan-kebijakan terkini yang dilakukan pemerintah antara lain kebijakan sistem pembelian tebu, neraca komoditas gula, pembentukan Sugar Co, swasembada gula nasional, korporasi pertanian untuk tebu, pemanfaatan lahan Perhutani untuk agroforestri tebu, dan rencana pembentukan badan pengelola dana perkebunan (BPDP) tebu. 
Karakteristik Fisik dan Kimia Beras Lokal Sawah di Provinsi Riau (Physical and Chemical Characteristics of Local Rice Fields in Riau Province) Fahroji, Fahroji
JURNAL PANGAN Vol. 34 No. 1 (2025): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v34i1.697

Abstract

           Meskipun Kementerian Pertanian telah banyak menghasilkan Varietas Unggul Baru (VUB) padi, petani di Provinsi Riau masih mengembangkan varietas lokal. Varietas padi lokal memiliki keunggulan seperti ketahanan terhadap cekaman biotik dan abiotik pada agroekosistem spesifik, kebutuhan input produksi yang rendah, serta cita rasa nasi yang sesuai dengan preferensi petani. Namun, keberagaman varietas padi lokal di Provinsi Riau masih belum banyak diteliti, terutama karakteristik dan mutu berasnya. Kondisi ini menyulitkan petani untuk menentukan varietas lokal yang layak dikembangkan. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengkaji karakteristik beras padi lokal sawah di Provinsi Riau guna memberikan informasi yang bermanfaat bagi petani dalam memilih varietas lokal berkualitas tinggi untuk budidaya. Beras dianalisis secara kualitatif dan kuantitatif untuk: karakteristik sifat fisik, meliputi panjang (P), lebar (L), ketebalan (T), rasio P/L, diameter ekuivalen (De), luas permukaan (Lp), spherecity (Ø) dan volume (V); karakteristik kimia meliputi kadar abu, lemak, protein, serat kasar, pati dan amilosa. 14 varietas padi lokal sawah di Provinsi Riau yaitu Buku, Cendani, Serai, Kuning, Kecik, Kretek Putih, Karya, Lembu Sawah, Ramos, Saiya, Benangsari, Pagarsari, Pandan Wangi, dan Seribu Gantang diuji karakteristik fisik dan kimianya. Berdasarkan ukuran beras, ke-14 varietas tersebut memiliki ukuran sedang dan panjang,sedangkan berdasarkan bentuknya yaitu medium dan ramping. Kadar air semua varietas memenuhistandar mutu SNI 6128:2020 yaitu 7,27-11,58 persen, kadar abu 0,37-0,62 persen, kadar lemak 0,20-0,48 persen, kadar protein 6,73-9,57 persen, kandungan serat kasar 0,07-0,27 persen, dan kandungan pati 73,62- 83,74 persen. Varietas yang diuji memiliki kadar amilosa 20,59-33,55 persen yang menunjukkan nasi bertekstur sedang dan tinggi.              Although the Ministry of Agriculture has released many New Superior Varieties (VUB) of rice, farmers in Riau Province continue to grow local varieties due to their advantages—such as resistance to local environmental stresses, low input requirements, and preferred taste. However, the diversity and quality of these local rice varieties remain understudied, making it difficult for farmers to identify and select high-quality types for further development. Therefore, this study aimed to examine the characteristics of local lowland rice in Riau Province, helping farmers choose high-quality local rice varieties for cultivation. Rice was analyzed qualitatively and quantitatively for its physical and chemical properties. Physical characteristics were length (P), width (L), thickness (T), P/L ratio, equivalent diameter (De), surface area (Lp), spherecity (Ø) and volume (V). Chemical analysis included ash, fat, protein, crude fiber, starch and amylose content. A total of 14 local rice varieties in Riau Province, namely Buku, Cendani, Serai, Kuning Kecik, Kretek Putih, Karya, Lembu Sawah, Ramos, Saiya, Benangsari, Pagarsari, Pandan Wangi, and Seribu Gantang were evaluated for their physicochemical characteristics. Based on the size, the 14 varieties have medium and long sizes, while based on their shape, they are medium and slender. The moisture content of all varieties met the quality requirements of SNI 6128:2020, which ranged 7.27-11.58 percent. Ash content ranged 0.37-0.62 percent, lipid content ranged 0.2-0.48 percent, protein content ranged 6.73-9.57 percent, crude fiber content ranged 0.07-0,27 percent, and starch content ranged 73.62-83.74 percent. Amylose content ranged 20.59-33.55 percent which indicated medium and high textured rice.
Sifat Fisikokimia Beras Pecah Kulit dan Beras Sosoh pada Beberapa Varietas suarti, Budi
JURNAL PANGAN Vol. 33 No. 1 (2024): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v33i1.756

Abstract

  Penelitian bertujuan untuk menentukan sifat fisik dan kimia beras pecah kulit (BPK) dan sosoh varietas Ciherang, Mekongga, dan INPARI 32. Analisis terdiri dari warna, proksimat, dan aktivitas antioksidan. Hasil penelitian menunjukkan warna L* dari BPK dan beras sosoh pada varietas INPARI 32 (59,48; 71,84) memiliki tingkat kecerahan tertinggi dibandingkan Ciherang (58,58; 64,91) dan Mekongga (58,41; 61,36). BPK dan beras sosoh pada varietas Ciherang memiliki protein dan lemak yang tertinggi dibandingkan Mekongga dan INPARI 32. BPK Mekongga memiliki antioksidan (0,799 mg/g) lebih tinggi dibandingkan Ciherang (0,713 mg/g) dan INPARI 32 (0,670 mg/g), sedangkan beras setelah penyosohan pada INPARI 32 (0,858 mg/g) memiliki aktivitas antioksidan tertinggi dibandingkan Mekongga (0,622 mg/g) dan Ciherang (0,393 mg/g). Penelitian ini menunjukkan bahwa dari tiga varietas beras, sifat fisik INPARI 32 lebih baik daripada Ciherang dan Mekongga, tetapi dari kandungan zat gizi pada var. Ciherang dan aktivitas antioksidan tertinggi pada var. Mekongga. 
Pengaruh Modal Sosial Petani Padi Sawah pada Integrated Participatory Development and Management of Irrigation Program (IPDMIP) terhadap Ketahanan Pangan di Kecamatan Lengayang Kabupaten Pesisir Selatan Martadona, Ilham; Angelia Leovita; Yopa Dwi Mutia
JURNAL PANGAN Vol. 33 No. 1 (2024): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v33i1.783

Abstract

Sektor pertanian memiliki peranan strategis dalam pembangunan perekonomian Indonesia.Mengingat pentingnya peran sektor pertanian sebagai penyedia pangan nasional, maka kontribusinya perlu ditingkatkan. Salah satu program pemerintah dalam hal meningkatkan ketahanan pangan adalah program Integrated Participatory Development and Management of Irrigation Program (IPDMIP). Salah satu modal yang digunakan dalam pelaksanaan program IPDMIP di Kecamatan Lengayang adalah modal sosial. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) menganalisis faktor-faktor pembentuk modal sosial petani padi sawah program IPDMIP, dan (2) menganalisis pengaruh modal sosial terhadap ketahanan pangan. Contoh ditarik secara acak dari setiap kelompok tani secara proporsional, dengan jumlah total contoh sebanyak lima puluh. Data diolah secara kuantitatif menggunakan Structural Equation Modelling. Faktor-faktor pembentuk modal sosial petani padi sawah program IPDMIP adalah: kepercayaan (kejujuran dan sikap egaliter); norma (nilai-nilai bersama, dan aturan-aturan) dan jaringan (partisipasi, solidaritas dan kerja sama). Sedangkan pengaruh modal sosial terhadap ketahanan pangan adalah kepercayaan dan norma.
Transmisi Harga Cabai Merah Keritingdi Kabupaten Bangka Tengah (Price Transmission of Curly Red Chiliesin Central Bangka Regency) Purwasih, Rati
JURNAL PANGAN Vol. 34 No. 1 (2025): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v34i1.794

Abstract

         Terdapat perbedaan yang besar antara harga cabai merah keriting tingkat petani dan konsumen di Kabupaten Bangka Tengah yaitu sebesar Rp10.871,00 per kilogram. Rantai pemasaran yang panjang atau penyalahgunaan market power oleh pelaku pemasaran dapat menyebabkan disparitas harga yang besar. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana transmisi harga terjadi dalam distribusi pemasaran cabai merah keriting di Kabupaten Bangka Tengah. Data yang digunakan yaitu harga cabai merah keriting tingkat petani dan konsumen di Kabupaten Bangka Tengah berupa data time series mingguan dari Maret 2020 hingga November 2022. Pendekatan analisis data yang digunakan untuk memenuhi tujuan penelitian adalah dengan metode Asymmetric Error Correction Model (AECM). Penelitian mengungkapkan bahwa perubahan harga cabai merah keriting tingkat petani ditransmisikan secara simetri ke konsumen di Kabupaten Bangka Tengah baik dalam jangka pendek ataupun dalam jangka panjang. Hasil ini menandakan bahwa pemasaran cabai merah keriting di Kabupaten Bangka Tengah efisien dari segi efisiensi harga. Tetapi petani perlu meningkatkan kualitas cabai merah dan pemasarannya dilakukan secara kolektif agar dapat meningkatkan market power petani dalam penentuan harga jual.               In Central Bangka Regency, curly red chilies have a price disparity of IDR10,871,00 per kilogrambetween farmers and consumers. This issue stems from a lengthy market chain and merchants’ market power. This study analyzed price transmission at each stage of the market chain. Using weekly timeseries data from March 2020 to November 2022, the research examined price dynamics at both farmer and consumer levels. The Asymmetric Error Correction Model (AECM) was applied to assess market efficiency. The findings indicated that price changes are transmitted symmetrically, suggesting an efficient market structure in Central Bangka Regency. The findings indicated that price changes are transmitted symmetrically to consumers in both the short and long run, suggesting that the curly red chili market in Central Bangka Regency operated efficiently in terms of price transmission. However, farmers need to improve the quality of red chili peppers, and marketing should be done collectively to enhance farmers’ market power in determining selling prices.

Filter by Year

2006 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 34 No. 2 (2025): PANGAN Vol. 34 No. 1 (2025): PANGAN Vol. 33 No. 3 (2024): PANGAN Vol. 33 No. 2 (2024): PANGAN Vol. 33 No. 1 (2024): PANGAN Vol. 32 No. 3 (2023): PANGAN Vol. 32 No. 1 (2023): PANGAN Vol. 31 No. 3 (2022): PANGAN Vol. 31 No. 2 (2022): PANGAN Vol. 31 No. 1 (2022): PANGAN Vol. 30 No. 3 (2021): PANGAN Vol. 30 No. 2 (2021): PANGAN Vol. 30 No. 1 (2021): PANGAN Vol. 29 No. 3 (2020): PANGAN Vol. 29 No. 2 (2020): PANGAN Vol. 29 No. 1 (2020): PANGAN Vol 29, No 1 (2020): PANGAN Vol. 28 No. 3 (2019): PANGAN Vol 28, No 3 (2019): PANGAN Vol 28, No 2 (2019): PANGAN Vol. 28 No. 2 (2019): PANGAN Vol 28, No 1 (2019): PANGAN Vol 28, No 1 (2019): PANGAN Vol. 28 No. 1 (2019): PANGAN Vol 27, No 3 (2018): Vol 27, No 3 (2018): PANGAN Vol. 27 No. 3 (2018): PANGAN Vol 27, No 2 (2018): PANGAN Vol. 27 No. 2 (2018): PANGAN Vol. 27 No. 1 (2018): PANGAN Vol 27, No 1 (2018): PANGAN Vol 26, No 3 (2017): PANGAN Vol. 26 No. 3 (2017): PANGAN Vol. 26 No. 2 (2017): PANGAN Vol 26, No 2 (2017): PANGAN Vol. 26 No. 1 (2017): PANGAN Vol 26, No 1 (2017): PANGAN Vol 25, No 3 (2016): PANGAN Vol. 25 No. 3 (2016): PANGAN Vol 25, No 3 (2016): PANGAN Vol 25, No 2 (2016): PANGAN Vol. 25 No. 2 (2016): PANGAN Vol 25, No 1 (2016): PANGAN Vol. 25 No. 1 (2016): PANGAN Vol 24, No 3 (2015): PANGAN Vol. 24 No. 3 (2015): PANGAN Vol 24, No 2 (2015): PANGAN Vol. 24 No. 2 (2015): PANGAN Vol 24, No 1 (2015): PANGAN Vol. 24 No. 1 (2015): PANGAN Vol 23, No 3 (2014): PANGAN Vol. 23 No. 3 (2014): PANGAN Vol 23, No 3 (2014): PANGAN Vol 23, No 2 (2014): PANGAN Vol. 23 No. 2 (2014): PANGAN Vol 23, No 1 (2014): PANGAN Vol. 23 No. 1 (2014): PANGAN Vol. 22 No. 4 (2013): PANGAN Vol 22, No 4 (2013): PANGAN Vol. 22 No. 3 (2013): PANGAN Vol 22, No 3 (2013): PANGAN Vol 22, No 2 (2013): PANGAN Vol 22, No 2 (2013): PANGAN Vol. 22 No. 2 (2013): PANGAN Vol. 22 No. 1 (2013): PANGAN Vol 22, No 1 (2013): PANGAN Vol 21, No 4 (2012): PANGAN Vol 21, No 4 (2012): PANGAN Vol. 21 No. 4 (2012): PANGAN Vol 21, No 3 (2012): PANGAN Vol. 21 No. 3 (2012): PANGAN Vol. 21 No. 2 (2012): PANGAN Vol 21, No 2 (2012): PANGAN Vol. 21 No. 1 (2012): PANGAN Vol 21, No 1 (2012): PANGAN Vol 20, No 4 (2011): PANGAN Vol. 20 No. 4 (2011): PANGAN Vol. 20 No. 3 (2011): PANGAN Vol 20, No 3 (2011): PANGAN Vol. 20 No. 2 (2011): PANGAN Vol 20, No 2 (2011): PANGAN Vol. 20 No. 1 (2011): PANGAN Vol 20, No 1 (2011): PANGAN Vol. 19 No. 4 (2010): PANGAN Vol 19, No 4 (2010): PANGAN Vol. 19 No. 3 (2010): PANGAN Vol 19, No 3 (2010): PANGAN Vol 19, No 2 (2010): PANGAN Vol. 19 No. 2 (2010): PANGAN Vol 19, No 1 (2010): PANGAN Vol. 19 No. 1 (2010): PANGAN Vol. 18 No. 4 (2009): PANGAN Vol 18, No 4 (2009): PANGAN Vol 18, No 3 (2009): PANGAN Vol. 18 No. 3 (2009): PANGAN Vol 18, No 2 (2009): PANGAN Vol. 18 No. 2 (2009): PANGAN Vol 18, No 1 (2009): PANGAN Vol. 18 No. 1 (2009): PANGAN Vol 17, No 3 (2008): PANGAN Vol. 17 No. 3 (2008): PANGAN Vol. 17 No. 2 (2008): PANGAN Vol 17, No 2 (2008): PANGAN Vol 17, No 2 (2008): PANGAN Vol 17, No 1 (2008): PANGAN Vol. 17 No. 1 (2008): PANGAN Vol. 16 No. 1 (2007): PANGAN Vol 16, No 1 (2007): PANGAN Vol. 15 No. 2 (2006): PANGAN Vol 15, No 2 (2006): PANGAN Vol 15, No 1 (2006): PANGAN Vol. 15 No. 1 (2006): PANGAN More Issue