RELIGIA
Religia is a periodical scientific journal with ISSN Print: 1411-1632; Online: 2527-5992 published by the Faculty of Ushuluddin, Adab and Da'wah IAIN Pekalongan. This journal specializes in the study of Islamic sciences (Islamic Theology, Philosophy and Islamic thought, Tafsir-Hadith, Science of Da'wah, and Sufism). The managers invite scientists, scholars, professionals, and researchers in Islamic scholarship disciplines to publish their research results after the selection mechanism of the manuscript, the review of the partner bebestari, and the editing process. The Religia Journal is published in April and October each year. This journal has been indexed in a reputable national indexing agency.
Articles
300 Documents
Pola Redaksi Matan Hadis dalam Kitab Majmû’ah al-Syarî’ah Karya K.H. Saleh Darat
Mudzakiron, Mudzakiron;
Muna, Arif Chasanul
RELIGIA Vol 18 No 2: Oktober 2015
Publisher : IAIN Pekalongan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (300.375 KB)
|
DOI: 10.28918/religia.v18i2.629
Kitab Majmȗ’ah al-Syarĩ’ah al-Kãfiyah li al-‘Awam merupakan kitab penting dalam khasanah keilmuan Nusantara. Kitab yang ditulis oleh Kyai Saleh Darat dengan aksara pegon dan berbahasa jawa ini menjadi rujukan masyarakat dalam bidang akidah, fiqh dan juga akhlak-tasawuf. Sebagaimana kecenderungan ulama sunni yang lain, Kyai Saleh Darat mempunyai pandangan bahwa hadis Nabi merupakan dalil keagamaan yang otoritatif, sehingga di dalam kitab Majmȗ’ah al-Syarĩ’ah banyak ditemukan hadis-hadis Nabi sebagai dalil. Objek kajian penelitian ini adalah matan-matan hadis yang tercantum dalam kitab Majmȗ’ah al-Syarĩ’ah. Yang menjadi fokus kajian adalah kesamaan dan ketidaksamaan redaksi matan yang terdapat dalam kitab Majmȗ’ah al-Syarĩ’ah dengan matan-matan yang terdapat dalam kitab-kitab hadis primer. Kajian ini penting sebab periwayatan hadis bi al-ma’nā paska pengkodivikasian hadis merupakan permasalahan yang banyak menyita perhatian para akademisi hadis.
KECENDERUNGAN TEOLOGI MATURIDIYAH SAMARKAND
Zuhri, Amat
RELIGIA Vol 13 No 1: April 2010
Publisher : IAIN Pekalongan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (213.479 KB)
|
DOI: 10.28918/religia.v13i1.177
Al-Maturidi – a prominent figure of Maturidiyah of Samarkand branch – is Abu Hanifah’s follower who uses ratio much in religious view including in theological thought. In fact, Maturidiyah of Samarkand’s thought is closer to Mu’tazilah’s one because they use ratio in the same way, but Maturidiyah of Samarkand is still grouped into Ahl al- Sunnah wa al-Jama’ah group, which is a derivation of Asy’ariyah view, even though Asy’ariyah does not use ratio much in theological thought.
MENANGGULANGI STRES MENURUT KONSEP AL-QUR’AN
Yusuf, Musfirotun
RELIGIA Vol 12 No 1: April 2009
Publisher : IAIN Pekalongan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (222.908 KB)
|
DOI: 10.28918/religia.v12i1.200
Qur’an is God’s saying that is valued as a miracle, revealed to the last prophet through angel Gabriel, told to us handed down from person to person for generations, and valued as worship to God if it is read. It is began by sūrah al-Fātihah and ended by sūrah an-Nās. Allah revealed the Qur’an in order to be life guidance for Muslim community and direction for His creatures. Qur’an is a very effective medicine to eliminate heartsick like stress, and depression, and to improve human morals. There are so many human beings who suffer that sickness, either in low or heavy level. For those who have little faith and piety, they will difficultly overcome it.
KORELASI TRADISI “NGAPATI” DENGAN HADITS PROSES PENCIPTAAN MANUSIA
Su’aidi, Hasan
RELIGIA Vol 15 No 1: April 2012
Publisher : IAIN Pekalongan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1344.618 KB)
|
DOI: 10.28918/religia.v15i1.124
Ngapati atau ggupati adalah salah satu tradisi yang berkembang di tengah masyarakat Islam Indonesia, khususnya Jawa. Upacara tersebut diadakan sebagai bentuk tanda syukur atas karunia yang diberikan oleh Tuhan, disamping permohonan atas keselamatan dan kesejahteraan janin. Acara ini dilaksanakan ketika umur janin mencapai 4 bulan. Karena janin pada saat itu telah sampai pada tahapan yang sangat penting. Namun demikian, pada satu sisi upacara ini seringkali dianggap sebagai amaliah yang tidak diajarkan di dalam Islam sehingga dinilai sebagai amaliah sesat. Tulisan ini mencoba untuk menelaah tentang bagaimana Islam menyikapi upacara ngapati dalam bingkai hadits dan tradisi yang berkembang.
Teologi Eksklusif Era Kolonial - Potret Pemikiran KH. Ahmad Rifa’i tentang Konsep Iman
Ma'mun, Ma'mun
RELIGIA Vol 21 No 2: Oktober 2018
Publisher : IAIN Pekalongan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (770.209 KB)
|
DOI: 10.28918/religia.v21i2.1509
Tulisan ini akan menyoal fakta menarik tentang ekslusivitas teologi yang muncul dalam pemikiran KH. Ahmad Rifa’i Batang di era kolonial. Kajian akan difokuskan pada konsep iman yang digagas Kiai Rifa’i dalam karya-karyanya. Data diperoleh dari karya-karya Kiai Rifa’i yang ajarkan kepada para murid-muridnya. Data-data tersebut akan dianalisis dengan pendekatan fenomenologi dengan mengacu pada fakta-fakta teologis dan filosofis yang mewarnai pemikiran Kiai Rifa’i. Hasil kajian menunjukkan bahwa ekslusivitas teologi dalam pemikiran Kiai Rifa’i terbentuk karena adanya polarisasi terhadap kualitas iman manusia, yang dibedakan menjadi tiga: (1) Iman Maqbul, yakni iman orang mukmin yang hanya melakukan dosa kecil; (2) Iman Mauqūf, yaitu iman orang yang melakukan dosa besar penyebab fasik; (3) Iman Mardūd, adalah iman orang munafik dan orang yang melakukan dosa besar penyebab kafir. Dari trilogi iman tersebut, beberapa masalah fiqh kerap dihukumi oleh Kiai Rifa’i dengan kesimpulan yang bersifat eksklusif seperti dalam pernikahan dan Sholat Jum’at yang menurutnya dihukumi tidak sah, karena pada dua masalah itu terdapat peran orang yang kualitas keimanannya masuk dalam kategori “Iman Mauquf”, yakni para penghulu yang mau membantu pemerintahan kolonial (Belanda).
HERMENEUTIKA GADAMER DAN IMPLIKASINYA TERHADAP PEMAHAMAN KONTEMPORER AL-QUR’AN
Rasyidah, Rasyidah
RELIGIA Vol 14 No 2: Oktober 2011
Publisher : IAIN Pekalongan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (476.273 KB)
|
DOI: 10.28918/religia.v14i2.90
Tulisan ini bertujuan untuk mengkaji bagaimanapemikiran hermeneutika Gadamer dan implikasinya terhadappembacaan kontemporer al-Qur’an. Kajian hermeneutiknyaterkait dengan pertanyaan kunci tentang pemahaman teks,yaitu apa dan bagaimana sebenarnya pemahaman tersebut?Dengan ini Gadamer telah mengalihkan corak hermeneutikadari tataran epistemologis –seputar metode- menjadi ontologis.Jejak hermeneutika sebenarnya menunjukkan bahwa sejakSchleiermacher hermeneutika terus berkembang denganberagam variannya, enerobos pemikiran Islam kontemporer dansemakin mendapat celah diantara resistensi sakralitas terhadapteks- teks keagamaan. Corak Gadamer merupakan salah satuyang mempengaruhi pemikiran Islam kontemporer tersebut.Diantara idenya yang mengimplikasi adalah : pertama, terkaitkonsep “kata batin” yang memperkuat diskursus tentang al-Qur’an sebagai mushaf dan al-Qur’an sebagai firman Allah,kedua terkait konsep “makna eksistensial” yang menimbulkankritik internal Islam terhadap sikap sakralitas berlebihanterhadap teks- teks keagamaan, dan yang ketiga terkait “sejarahefektif” yang menimbulkan pemikiran seputar relatifitaspenafsiran al-Qur’an.
Al-Tafsīr al-Yasāri (Tafsir Tematik Revolusioner Hassan Hanafi)
Misbakhudin, Misbakhudin
RELIGIA Vol 21 No 1: April 2018
Publisher : IAIN Pekalongan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (835.698 KB)
|
DOI: 10.28918/religia.v21i1.1498
Tulisan ini bertujuan untuk mendeskripsikan pemikiran Hassan Hanafi dalam diskursus Alqur’an dan tafsirnya. Kajian ini akan difokuskan pada gagasan Hassan Hanafi seputar tafsir tematik (mauḍu’ī) yang bertujuan untuk melengkapi kekosongan dalam metode tahlīlī yang tidak sesuai dengan substansi dan kebutuhan umat dewasa ini dan pembaca tidak teridentifikasi oleh bacaannya sendiri, sehingga bacaan itu menjadi dingin, tidak berguna dan menjadi absolut, sementara umat membutuhkan penafsiran yang hidup dan bermanfaat, serta pengetahuan yang sesuai dengan keadaan mereka. Gagasan Hassan ini dianalisa menggunakan pendekatan content analysis terhadap karya-karya Hanafi dan kemudian penulis rumuskan dalam judul yang cukup familiar dengan Hassan Hanafi sendiri, yaitu al-Tafsīr al-Yasāri. Untuk menyelesaikannya Hanafi memberikan solusi, yaitu tafsir kesadaran (hermeneutika pembebasan) tematik, yang memposisikan Alqur’an agar mendeksripsikan manusia, hubungannya antar sesama, tugasnya di dunia, kedudukannya dalam sejarah, membangun sistem sosial dan politik dan mengajukan alternatif melalui metode analisis pengalaman yang membawa kepada makna teks bahkan realitas itu sendiri
RAGAM PEMBACAAN HADIS Memahami Hadis Melalui Tatapan Postradisionalisme
Firdausy, Hilmy
RELIGIA Vol 19 No 2: Oktober 2016
Publisher : IAIN Pekalongan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (268.231 KB)
|
DOI: 10.28918/religia.v19i2.749
As one of the two influental doctrinal texts, Hadith have a central role in the legalization of understanding verses of the al-Qur’an by referring directly to the practice of the Prophet. In the midst of ideo-political constellation in the Islamic world, until now activities to understanding Hadith is much influenced by the way is relativized balance read the dialogue between text and reader; both in the case of the text that was sunk by the existence of the reader, or the reader is immersed in the text and the memory of his past. From some of the existing models, there are at least three reading modes can be considered superior; Salafi-Fundamentalism, Salafi-Orientalism and Reformist-Marxism. This paper will do a critique of reason on how to read these as well as build an applied "read" more objective, especially against the traditions of the Prophet; one mode readings drawn from postraditionalism’s Muhammad ‘Ābid al-Jābirī (1935-2010).
WACANA NASIONALISME NAJIB AL-KILANI: TELAAH ATAS NOVEL AL-NIDA AL-KHALID
Azzuhri, Muhandis
RELIGIA Vol 12 No 2: Oktober 2009
Publisher : IAIN Pekalongan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (124.783 KB)
|
DOI: 10.28918/religia.v12i2.191
Nationalism discourse is an amazing social invention in human history, at least in the latest century. There are no social spaces in the earth that are free from this ideology influence. Without nationalism, human history line could be very different. Najīb al-Kīlanī as an Egyptian novelist discussed it in his novel, al-Nidā al-Khālid (1969).
Pluralisme di Mata Santri dan Pelajar di Jawa Barat
Muiz, Abdul
RELIGIA Vol 18 No 1: April 2015
Publisher : IAIN Pekalongan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (88.254 KB)
|
DOI: 10.28918/religia.v18i1.621
Agama akhir-akhir ini menjadi perbincangan hangat setelah banyaknya aksi kekerasan yang dilakukan atas nama agama. Kekerasan itu berawal dari tuduhan tentang kafir dan Islamnya seseorang hingga berakhir dengan pemaksaan agama atau bahkan pengrusakan dan pembunuhan. Beberapa lembaga pemerhati keragaman melaporkan bahwa Jawa Barat adalah zona merah bagi kebhinekaan. Tulisan ini memotret pandangan dan sikap para pelajar dan santri tentang pluralisme. Hal ini dimaksudkan untuk melihat dua hal. Pertama, bagaimana pandangan mereka tentang pluralisme sekaligus dasar teologis yang melatar belakangi pandangan tersebut. Kedua, apakah pandangan tersebut memberi pengaruh pada sikap mereka dalam relasi agama atau interagama. Untuk mencapai itu, peneliti mewawancarai secara mendalam beberapa pelajar dan santri dengan melihat latar belakang sekolah, pesantren dan lingkungannya. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pandangan santri dan pelajar terhadap keragaman terbagi dua. Ada yang menerimanya sebagai sunnatullah dan karenanya harus disikapi dengan baik. Ada juga yang menolak perbedaan tersebut dengan dasar kebenaran itu tunggal. Namun itu, sikap terhadap perbedaan tidak menunjukkan anarkhisme, baik yang menolak pluralisme apalagi yang menerimanya.