cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota pekalongan,
Jawa tengah
INDONESIA
RELIGIA
ISSN : 14111632     EISSN : 25275992     DOI : -
Religia is a periodical scientific journal with ISSN Print: 1411-1632; Online: 2527-5992 published by the Faculty of Ushuluddin, Adab and Da'wah IAIN Pekalongan. This journal specializes in the study of Islamic sciences (Islamic Theology, Philosophy and Islamic thought, Tafsir-Hadith, Science of Da'wah, and Sufism). The managers invite scientists, scholars, professionals, and researchers in Islamic scholarship disciplines to publish their research results after the selection mechanism of the manuscript, the review of the partner bebestari, and the editing process. The Religia Journal is published in April and October each year. This journal has been indexed in a reputable national indexing agency.
Arjuna Subject : -
Articles 300 Documents
Zakat Produktif: Studi Pemikiran KH. MA. Sahal Mahfudh Ma'mur, Jamal
RELIGIA Vol 18 No 1: April 2015
Publisher : IAIN Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (74.787 KB) | DOI: 10.28918/religia.v18i1.624

Abstract

Zakat adalah satu-satunya rukun Islam yang secara spesifik berbicara tentang pemberdayaan ekonomi umat. Sayangnya, pola pemberian zakat selama ini bercorak konsumtif, dalam arti diberikan secara instan atau kontan menjadi salah satu faktor yang menyebabkan zakat tidak mampu mengubah kemiskinan umat menuju kemandirian yang dicita-citakan Islam. KH. MA. Sahal Mahfudh yang dikenal dengan gagasan fikih sosial mengubah realitas ini. Kiai Sahal memaknai zakat sebagai ajaran Islam yang berorientasi pada pengentasan kemiskinan. Zakat harus dikelola secara profesional supaya mampu mewujudkan cita-cita besar Islam, yaitu kesejahteraan dan keadilan sosial. Dalam konteks ini, zakat harus diberikan secara produktif, tidak konsumtif. Zakat produktif adalah zakat yang bisa mengeluarkan mustahik dari jurang kemiskinan menuju kemandirian dan kesejahteraan ekonomi. Hal ini bisa dilakukan dengan cara menjadikan dana zakat sebagai modal usaha yang dikelola secara profesional. Dalam melakukan agenda transformasi ini, Kiai Sahal membentuk teamwork yang solid dan kapabel dengan memberikan life skills kepada kelompok yang berhak menerima zakat sehingga mereka bisa mengelola dana zakat secara produktif.
“PEMBACAAN” AL-QUR’AN MENURUT MOHAMMED ARKOUN Untung, Moh. Slamet
RELIGIA Vol 13 No 1: April 2010
Publisher : IAIN Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (181.694 KB) | DOI: 10.28918/religia.v13i1.172

Abstract

Ijtihad, according to Arkoun, is a law concluding process by using many exegesis techniques to understand Qur’an and Hadith. Arkoun, furthermore, said that the role of ijtihad is expanded to various more radical fields not only theology-juridical field, but also the revelation itself with Islamic rational criticism. One of the parts of Islamic rational criticism is to do historical clarification through reviewing the Quran exegesis correctly and freshly. This is done to find other meaning of the texts. In another word, to reconstruct must deconstruct the texts. Arkoun used historicism method to be applied in understanding the Quran that is how to understand the Quran critically and deeply from various different views and method from what have been done before. He viewed the Quran has uttered many interpreted texts from it that are able to fulfill many needs in certain periods after the revelation of the Quran.
EXPLORING METHODOLOGICAL ASPECTS OF LINGUISTIC IN THE QURAN AND ITS TAFSIR Siregar, Ferry Muhammadsyah
RELIGIA Vol 15 No 1: April 2012
Publisher : IAIN Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1970.432 KB) | DOI: 10.28918/religia.v15i1.119

Abstract

Tulisan ini menelaah makna bahasa dan teks yang digunakan dalam Al-Qur’an. Dalam mengajarkan Islam, pada dasarnya berdasarkan dua sumber fundamental, yaitu Al-Qur’an dan tradisi Nabi. Bagi muslim, Al-Qur’an adalah Wahyu Ilahi. Al-Qur’an merupakan perkataan dari Tuhan dan kehadiran Ilahi pada ruang dan waktu sejarah. Melalui penyelidikan terhadap interpretasi sejarah berdasarkan aspek linguistik dalam Al-Qur’an, sebuah usaha dilakukan untuk meningkatkan definisi yang jelas mengenai tafsir dan bagaimana Al-Qur’an itu diinterpretasikan dalam sejarah Islam. Berdasarkan pada contoh-contoh tersebut, tulisan ini membahas tentang pendefinisian kembali tafsir dilihat dari bentuk khusus yang berhubungan dengan interpretasi Sarjana Muslim sebagai penterjemah dan aturan mendefinisikan karakteristik budaya berdasarkan tafsir dan termasuk penekanan dalam memahami aspek linguistik dan kemanusiaan, serta tahapan interpretasi yang harus dilakukan. Tulisan ini juga bertujuan untuk mendiskusikan metode interpretif dan hubungan dialektika terhadap teks Al-Qur’an dan konteks linguistik Al-Qur’an
Sinkretisme Islam Dan Budaya Jawa Dalam Upacara Bersih Desa Di Purwosari Kabupaten Ponorogo Dewi, Arlinta Prasetian
RELIGIA Vol 21 No 1: April 2018
Publisher : IAIN Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (675.615 KB) | DOI: 10.28918/religia.v21i1.1503

Abstract

Tulisan ini bertujuan untuk membaca fenomena ritual bersih desa yang dilakukan oleh masyarakat Purwosari kabupaten Ponorogo dengan pendekatan fenomenologi. Ritual bersih desa merupakan salah satu warisan leluhur yang penuh dengan simbol-simbol dan kegiatan-kegiatan yang mengharmonisasikan antara Islam dan budaya Jawa. Simbol-simbol itu menyiratkan makna ungkapan syukur sekaligus tolak balak melalui beberapa ritual dan sesaji yang dikemas dalam serangkaian acara. Perpaduan antara Islam dan budaya Jawa ini menghasilkan sinkretisme budaya Islam kejawen yang merupakan khasanah tradisi dan budaya pertiwi.
Hermeneutika Qur'an Ekofeminis: Upaya Mewujudkan Etika Ekologi al-Qur’an Yang Berwawasan Gender Nurani, Shinta
RELIGIA Vol 20 No 1: April 2017
Publisher : IAIN Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (117.943 KB) | DOI: 10.28918/religia.v20i1.840

Abstract

This paper aims to offer ecological feminism as a concept of environmental ethics by mapping the ecology in Qur’anic’s perspective and Muslim ecofeminist and how to apply hermeneutics Muslims ecofeminist in the verses Qur’an of ecology, and how the contribution of this paper can be formulated ecological ethics of the Qur’an sound gender. This study was analyzed using hermeneutic approach of Gadamer called effective history because in understanding the concept of hermeneutics Qur'an ecofeminist there must be a historical event that is different from the Muslim ecofeminist which will not be separated from the circumstances that surrounded him. Hopefully, through the model hermeneutic interpretation of the ecological verses and the views of Muslim ecofeminist can generate strategic actions resolve the ecological crisis through environmental awareness with the feminine character qualities and how should the mutual relationship between man and God (habl ma’a Allah), man with him own (habl ma’a nafsih), man to man (habl ma’a al-nas), and the man with the universe (habl ma'a al-kawn), regardless of gender specific.
IMPLEMENTASI SYARIAT ISLAM SEBAGAI SOLUSI UNTUK MENGATASI KRISIS LINGKUNGAN Salafudin, Salafudin
RELIGIA Vol 12 No 1: April 2009
Publisher : IAIN Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (141.227 KB) | DOI: 10.28918/religia.v12i1.195

Abstract

Multidimensional crisis that happens now needs to be overcome by human being. The root of the crisis is the loss of spiritual values in human civilization. At present, the awareness of returning transcendent values in human life is appeared. These values are manifested in religious teaching that exists in sharī’at. In a row with shumūliyat al-Islam, sharī’at covers various life dimensions. The objective of sharī’at is to manifest peace, just, compatible, harmonious, and welfare life order. So, the implementation of sharī’at is a solution that is needed to be thought to overcome multidimensional crisis that happens now. This article tries to discuss about it.
KONTRIBUSI KONSELING ISLAM DALAM MEWUJUDKAN PALLIATIVE CARE BAGI PASIEN HIV/AIDS DI RUMAH SAKIT ISLAM SULTAN AGUNG SEMARANG Hidayanti, Ema; Hikmah, Siti; Wihartati, Wening; Handayani, Maya Rini
RELIGIA Vol 19 No 1: April 2016
Publisher : IAIN Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (92.932 KB) | DOI: 10.28918/religia.v19i1.662

Abstract

Pasien HIV/AIDS mengalami problem yang kompleks baik fisik, psikologis, sosial, maupun spiritual. Karenanya mereka membutuhkan perawatan paliatif yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup pasien HIV/AIDS dan keluarganya. Realitasnya, dimensi spiritual dalam perawatan paliatif, sering kali terabaikan karena tidak tersedianya rohaniawan. Tetapi dimensi spiritual mendapatkan perhatian besar pada rumah sakit “agama” seperti Rumah Sakit Islam Sultan Agung.Hal ini terlihat dari keterlibatan rohaniawan sebagai konselor Voluntary Counseling Test (VCT) HIV/AIDS. Adanya konselor dari rohaniawan inilah yang memberikan terapi psikoreligi dalam pelayanan konseling di Klinik Voluntary Counseling Test HIV/AIDS. Konseling Islam terbukti memberikan solusi bagi problem yang dialami pasien HIV/AIDS. Solusi tersebut tidak sebatas pada problem spiritual, tetapi juga problem psikologis dan sosial. Pasien HIV/AIDS yang terbebas dari problem psikososio-spiritual, selanjutnya akan memiliki fisik yang lebih sehat. Pasien yang memiliki kondisi fisik, psikologis, sosial, dan spiritual yang lebih baik berarti telah mengalami peningkatan kualitas hidup. Penjelasan tersebut menunjukkan bahwa konseling Islam memberikan kontribusi dalam mewujudkan palliative care bagi pasien HIV/AIDS
PLURALITAS AGAMA SEBAGAI MEDIA INTEGRASI SOSIAL (Ikhtiar Memperkokoh Persatuan Dan Kesatuan Bangsa) Tajrid, Amir
RELIGIA Vol 12 No 2: Oktober 2009
Publisher : IAIN Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (123.706 KB) | DOI: 10.28918/religia.v12i2.186

Abstract

At present, religious community faces big theological challenge in defining themselves in religious plurality. In Indonesian context, the biggest theological challenge sometimes happens in internal religious community. In this context, it is also understood that the meetings among religious figures to dialogue their communities’ problems. At individual level, their relationship seems harmony, but at theological level, it still experiences big enough obstacle, either at religious elite or laity. At this level, religious truth is conditioned be something absolute and not plural. Therefore, religious plurality view becomes something urgent as a medium of social integration in consolidating framework of nation unity
ISTIQOMAH DAN KONSEP DIRI SEORANG MUSLIM Zuhdi, Muhammad Harfin
RELIGIA Vol 14 No 1: April 2011
Publisher : IAIN Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (117.076 KB) | DOI: 10.28918/religia.v14i1.36

Abstract

Seorang muslim dengan tingkat keimanan kepada Allahdan istiqomah yang tinggi akan selalu konsisten dalam perilakunya.Artinya dia akan berperilaku taat hukum, konsisten denganidealismenya dan tidak pernah meninggalkan prinsip yang dia pegangmeskipun dia harus berhadapan dengan resiko maupun tantangan.Selanjutnya, seorang muslim yang konsisten akan dapat mengontroldirinya dan mengendalikan emosinya dengan baik. Dia tetap konsistendengan komitmennya, dan juga memiliki pikiran positif, dan tidak pernahkembali ke belakang meskipun dia dalam situasi yang betul-betultertekan. Gaya perilaku ini bisa menciptakan kepercayaan diri,integritas, dan kemampuan mengendalikan stress yang kuat. Dengandemikian, citra diri seorang muslim adalah sesuatu yangmerepresentasikan tentang dirinya. Artinya sejauhmana diamengevaluasi kualitas dirinya sebagai seorang muslim, keimanannyakepada Allah, dan perbuatan terbaiknya berdasarkan pada ajaranajaranIslam. Evaluasi ini tentunya jarang dilakukan karenamengandung unsur bias subyektif yang tinggi, namun ini merupakansalah satu ajaran Islam yang prinsip karena setiap muslim seharusnyamengevaluasi dirinya sebelum ia nantinya dievaluasi di hadapan Allah.Moslem with high belief in Allah and high “istiqamah” will have aconsistency in his attitude. It means that he will conduct accord withthe law, consistent with his ideals and never leave his principal althoughhe should face many risks and challenges.Consistent Moslem will be able to control his self and effectivelymanage his emotion. He is still consistent with his commitment, andalso has positive thinking, and never return to the back although instressful situation. This style of attitude eventually can create strongself-confidence, integrity and skill to manage the stress.Thus, self image of a Moslem is a representing of Moslem about hisself. It means how far does he evaluates quality of his self as aMoslem, his faith in Allah and his best doing based on Islamicteachings. This evaluation of course is hardly to be conducted becauseit has high subjective bias, but it is one of principal Islamic teachingsbecause every Moslem should evaluate his self before he will beevaluated in front of Allah.
KOSMOLOGI JAWA SEBAGAI LANDASAN FILOSOFIS ETIKA LINGKUNGAN Haryati, Tri Astutik
RELIGIA Vol 20 No 2: Oktober 2017
Publisher : IAIN Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (181.66 KB) | DOI: 10.28918/religia.v20i2.1026

Abstract

Tulisan ini bertujuan untuk membangun landasan filosofis etika lingkungan melalui  kosmologi Jawa dengan pendekatan filsafat. Fokus kajian diarahkan pada pandangan kosmologi Jawa untuk menemukan argumentasi filosofis landasan etika lingkungan. Pandangan kosmologi Jawa secara ontologis mengajarkan relasi antara manusia dan alam berbasis kesatuan eksistensi (manunggaling kawula gusti) sehingga dapat mengisi kekosongan kosmologi positivistik-antoposentris dalam mentalitas pencerahan. Secara epistemologis, berbasis rasa yang merupakan sistematisasi pengalaman manusia dalam menjalani kehidupan dan mampu mengantarkannya pada pengetahuan tentang Tuhan pencipta alam. Secara aksiologis bermuara pada harmoni in nature, sebuah sikap apresiatif terhadap alam yang merefleksikan ditiadakannya jurang pemisah antara subjek dan objek. Refleksi tersebut memungkinkan dilaksanakannya norma yang dijadikan pedoman berperilaku dan tuntutan kebutuhan praktis sejalan dengan dimensi etis-antropologis. Dengan demikian diharapkan dapat merubah cara pandang manusia terhadap alam dan memiliki kontribusi bagi pengembangan etika lingkungan untuk merespon problem kerusakan lingkungan baik dalam skala lokal maupun global.

Page 5 of 30 | Total Record : 300