RELIGIA
Religia is a periodical scientific journal with ISSN Print: 1411-1632; Online: 2527-5992 published by the Faculty of Ushuluddin, Adab and Da'wah IAIN Pekalongan. This journal specializes in the study of Islamic sciences (Islamic Theology, Philosophy and Islamic thought, Tafsir-Hadith, Science of Da'wah, and Sufism). The managers invite scientists, scholars, professionals, and researchers in Islamic scholarship disciplines to publish their research results after the selection mechanism of the manuscript, the review of the partner bebestari, and the editing process. The Religia Journal is published in April and October each year. This journal has been indexed in a reputable national indexing agency.
Articles
300 Documents
EPISTEMOLOGI HADIS: Melacak Sumber Otentitas Hadis
Atabik, Ahmad
RELIGIA Vol 13 No 2: Oktober 2010
Publisher : IAIN Pekalongan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (178.068 KB)
|
DOI: 10.28918/religia.v13i2.182
Quran and Hadith have different historical side. This different implicates the differences of science development affiliated with them. One of them, that are very significant, is their link from the period of the prophet Mohammad to us. Quran as the first source of Islamic teaching –no doubt– comes to us by tasalsul or tawâtur (handed down from person to person for generations). Hadith, on the other hand, if it is examined carefully, has only little that is tawâtur, and most of them can be said as Hadith âhâd. In this paper, I will try to examine the epistemological side of Hadith. How to know its link from the Prophet to us? Certainly, a tool that is able to bridge and examine the problems around the first source or the Prophet period that is out of our coverage is needed. I give some suggestions to know it. Two of them are the isnâd or sanad system and the concept of tawâtur. The existence of sanad and its tawâtur, will, of course, clarify the position of the text or the source of Islamic teaching is really from the Prophet as a messenger.
KAIDAH KEBAHASAAN DALAM MEMAHAMI AL QUR’AN
Kawakip, Ahmad Nurul
RELIGIA Vol 14 No 1: April 2011
Publisher : IAIN Pekalongan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (145.338 KB)
|
DOI: 10.28918/religia.v14i1.32
Abstract: The article is intended mainly for understanding al-Qurantext stuctures (al-qowaid al-lughat). One of the distinguishingcharacteristic of al-Qur’an is the language style and structure. Forthis purpose, the article focuses on twelve important points of alqowaid.All of the most important point of these qowaid are explainedand also examples on each part. The article is written for introductionstudy, therefore further work on al-Qur’an language style isnecessary.Tulisan ini dimaksudkan secara khusus untuk memahami struktur teksal-Qur’an (al-qawaid al-lughat). Salah satu karakteristik al-Qur’anyang membedakannya dari yang lain adalah gaya dan strukturbahasanya. Untuk itu, tulisan ini difokuskan pada dua belas poin pentingal-qawaid. Semua poin yang sangat penting dari al-qawaid inidijelaskan dan diberi contoh pada masing-masing bagian. Tulisan iniditulis sebagai studi pengantar, untuk itu, studi lebih jauh tentang gayabahasa al-Qur’an masih diperlukan.
Hermeneutika Hadis Syuhudi Ismail
Su'aidi, Hasan
RELIGIA Vol 20 No 1: April 2017
Publisher : IAIN Pekalongan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (119.323 KB)
|
DOI: 10.28918/religia.v20i1.837
Hadis as a historical text should be in keeping with any social changes across times and situations of any kind. This is because Hadis is viewed as a sacred text which is shalih li kulli zaman wa makan (i.e., valid anywhere and anytime), despite ‘the impression’ that when being comprehended literally it seems at odd with the present-day context. Accordingly, research into matan within Hadis should adapt to the developing theories, including those of hermeneutics invented by orientalist scholars. In this regard, Gadamer’s hermeneutic presupposes three compulsory components in the study on texts, i.e., prejudice, time, and product. The component of time implies the importance of the contextual background that may underlie the emergence of Hadis (asbab al-Wurud), in an attempt to understand matan hadis as is requested by muhaddis. Moreover, the fact that matan hadis frequently take shape via the sentences of majazi, ramzi, and qiyasi, which altogether are closely connected to grammatical analyses, suggests how important it is to take into account the linguistic aspects in studying Hadis. This issue has been raised within the hermeneutics that emphasises the importance of the grammar in studying Hadis as was initiated by Schleiermacher. It seems that the contextualisation of Hadis as was done by Syuhudi Ismail also considers the hermeneutics. This paper tries to uncover and explain the similarities between Syuhudi Ismail’s contextualisation method and the hermeneutics in studying Hadis.
Riba dalam Tinjauan Al-Quran
Rohayana, Ade Dedi
RELIGIA Vol 18 No 1: April 2015
Publisher : IAIN Pekalongan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (173.949 KB)
|
DOI: 10.28918/religia.v18i1.622
Artikel ini membahas tentang riba menurut al- Qur'an. Dalam konteks masyarakat kontemporer, pemahaman kaum muslim hingga saat ini masih terjadi perbedaan pemikiran tentang konsep riba. Karena itu, kajian tentang riba masih dirasa aktual sampai sekarang, terutama kajian riba menurut al-Quran juga hadis sebagai rujukan utama kaum muslim. Beberapa ayat tentang riba dikaji dalam tulisan ini berdasarkan konsep turunnya ayat, baik ayat riba turun di Mekah maupun di Madinah. Alasan hukum dari ayat-ayat tersebut juga dijelaskan untuk memperkuat argumen. Berdasarkan kajian, tampak bahwa riba yang sudah jelas haram dalam al-Quran adalah riba pada masa jahiliyah yang diberi nama riba nasi’ah atau riba fahisy atau rabh murakkab atau faidah murakkabah. Riba yang seperti ini diharamkan secara pasti oleh Nash al-Quran, sedangkan kata adh’afan mudha’afah sebagai penjelasan khusus (incident clarifier) dan ilustrasi keadaan manusia pada masa jahiliyah, selain menjelaskan ketercelaan perbuatan tersebut yang mengandung penganiayaan dan penindasan kepada mereka yang sedang kesulitan. Kata adh’afan mudha’afah tidak menjelaskan bahwa riba yasir (riba yang sedikit) adalah halal, karena itu bukan maksud ayat ini, selain karena riba itu baik sedikit maupun banyak tetap diharamkan dan termasuk dosa besar. Dalam ayat juga dijelaskan bahwa riba yang diharamkan merugikan salah seorang tanpa satu sebab kecuali keterpaksaannya, serta menguntungkan pihak lain tanpa usaha kecuali penganiayaan dan ketamakan. Hal ini berbeda dengan investasi yang memberikan keuntungan bagi kedua belah pihak.
SISI FILOSOFIS AL-QUR’AN: BEBERAPA KISAH ILUSTRATIF
Widodo, Aris
RELIGIA Vol 13 No 1: April 2010
Publisher : IAIN Pekalongan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (150.667 KB)
|
DOI: 10.28918/religia.v13i1.173
Quran is a guide book that is able to accommodate many human beings’s thought levels. By special language style, it can also be viewed from various fields like law, theology, philosophy, and tasawuf related to reviewer’s preference. Therefore, Quran, in fact, can also be a starting point for philosophical study because it gives various materials to philosophical contemplations. This paper gives illustration of how the Quran with its stories in it is able to arouse our philosophical sensitivities. By referring to six branches of philosophy i.e. logic, epistemology, cosmology, metaphysic, ethic, and esthetic, this paper tries to show that the Quran in certain aspect can be claimed by us to have philosophical side.
ISRA’ MI’RAJ SEBAGAI MUKJIZAT AKAL (Upaya Memahami Qs. Al-Isra’ ayat 1)
Misbakhudin, Misbakhudin
RELIGIA Vol 15 No 1: April 2012
Publisher : IAIN Pekalongan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (226.566 KB)
|
DOI: 10.28918/religia.v15i1.120
Peristiwa isra’ mi’raj memuncu*lkan banyak teka-teki dari para ulama dan ilmuwan, banyak pula menimbulkan keraguan di kalangan umat Islam sendiri mengenai kevalidannya. Pertanyaan berkisar apakah fisiknya dan ruh (kesadaran) Muhammad SAW sebagai sebuah kesatuan ataukah hanya ruhnya saja yang ‘diperjalan’kan oleh Allah SWT. Kecepatan cahaya yang dinyatakan sebagai kecepatan tertinggi dalam science ternyata tidak cukup untuk dapat melakukan perjalanan sejauh itu dalam waktu yang sangat singkat. Tulisan ini barangkali merupakan sebuah informasi yang mengarah kepada petunjuk baru, meskipun kebenarannya belum dapat dipastikan secara baik, namun paling tidak sedikit menguak tabir isra’ mi’raj. Menggunakan teori the zero Kelvin (nol mutlak) untuk mentakwilkan surat al-Isra’ ayat 1.
Transformasi Identitas Etnis Melalui Konversi Keyakinan di Masyarakat Pontianak Kalimantan Barat
Nugraha, Muhammad Tisna
RELIGIA Vol 21 No 2: Oktober 2018
Publisher : IAIN Pekalongan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (732.759 KB)
|
DOI: 10.28918/religia.v21i2.1504
Tulisan ini bertujuan untuk menjelaskan fenomena rapuhnya konsep identitas etnis dalam masyarakat multikultural. Identitas bukan sebatas menunjuk pada sesuatu yang melekat secara permanen pada individu, tetapi juga pada sesuatu yang terus mengalami perkembangan dan transformasi melalui dasar keyakinan (reiligi). Identitas etnis memang seringkali dikaitkan dengan perbedaan ras, agama, tanah kelahiran, dan latar belakang historis. Perbedaan ini, meskipun demikian, tidak menjadi sesuatu yang dipermasalahkan ketika individu berpindah agama ke Islam. Konversi agama lain ke Islam sebagai konsekuensinya mempengaruhi sejauhmana seseorang diakui sebagai bagian dari etnis tertentu. Studi ini dilakukan pada etnis Dayak, Melayu dan Tionghoa di Pontianak, Kalimantan Barat dengan pengumpulan informasi melalui wawancara, observasi dan dokumentasi. Hasil studi menunjukkan bahwa latar belakang etnis cenderung tidak berperan dalam praktik interaksi sosial yang bersifat multilateral. Dalam konteks ini, kelompok-kelompok etnis beserta anggotanya, justru lebih mudah dipersatukan oleh kesamaan etnis-keagamaan (etno-religius) dibandingkan faktor-faktor lainnya. Disinilah siklus etnisitas telah kembali pada fase klasik dimana pembentukan etnis tidak hanya ditentukan oleh latar belakang historis, wilayah, dan pertalian darah melainkan juga agama.
ISLAM WETU TELU DI BAYAN LOMBOK: DIALEKTIKA ISLAM NORMATIF DAN KULTURAL
Zuhdi, Muhammad Harfin
RELIGIA Vol 12 No 1: April 2009
Publisher : IAIN Pekalongan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (194.937 KB)
|
DOI: 10.28918/religia.v12i1.196
Islam reached Lombok island at sixteenth century, approximately at 1545. Its well known spreader was an expedition from Java led by Sunan Prapen son of Sunan Giri, one of the famous Wali Songo. Before Islam reached this island, according to some historian, the indigenous Sasak –appellation to indigenous of Lombok people—had their own traditional religion, Boda. Islam –since the very beginning of its history and will continuosly last to the end of time—has faced some different even contradictive values of local traditions and cultures. Its leads to a kind of dialectical process, and in turn produces what is called local Islam such as Islam Wetu Telu in Bayan, West Lombok. This article is aimed at revealing historical root of religious identity of Sasak community. Historical sketch of its religious identity leads to Wetu Telu religion that was collaboration of tradition, cultural and relegious values of the comers and those of the indigenous people in the past. Another point of view sad that Wetu Telu religion is an uncompleted process of islamization toward Waktu Lima religion that is considered by presently most Muslims in Lombok the true and pure Islam.
ﻧﻈﺮﻳﺔ اﻟﻤﺼﻠﺤﺔ و دورﻫﺎ ﻓﻲ ﺑﻨﺎء اﻷﺣﻜﺎم اﻟﺸﺮﻋﻴﺔ
Al-Hasani, Maulidi
RELIGIA Vol 19 No 1: April 2016
Publisher : IAIN Pekalongan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (374.351 KB)
|
DOI: 10.28918/religia.v19i1.664
Perbedaan pemikiran dalam satu mazhab terkait dengan dua hal: pertama, berkaitan dengan dalil-dali yang dijadikan dasar dan kedua, berkaitan dengan pendekatan yang digunakan mujtahid untuk memahami teks. Meski dalil-dalil hokum berbeda akan tetapi tujuan syara’ adalah sama yaitu kemaslahatan bagi manusia dan ini harus menjadi perhatian para mujtahid. Oleh karena itu, kajian terhadap konsep maslahah menjadi perhatian serius para ulama mengingat maslahat adalah tujuan utama atau inti dari pensyariatan hukum bagi manusia agar bahagia dunia dan akhirat. Peran maslahat sangat besar dalam pembentukan hukum syara’ terutama masa kontemporer ini yang disebut oleh Yusuf Qardhawi sebagai fiqih al-nawazil waqi’iyyah. Maslahat menjadi kajian para ulama klasik seperti ‘Izzuddin Abd al-Salam yang membahas panjang lebar tentang maslahat dan perannya dalam pembentukan hukum syara’, dan Najm al-Din al-Thufi yang mendahulukan maslahat daripada teks yang zhanni. Sayangnya, sebagian ulama kontemporer yang mengesampingkan teks dan berpegang pada maslahat saja sementara sebagaimana kata alQardhawi pemahaman teori mereka tentang maslahat belum benar dan hanya mengandalkan rasio. Padahal memang, hukum syara’ itu bersumber dari Tuhan tapi tujuannya untuk kemaslahatan manusia.
ISLAM DAN PLURALISME AGAMA
Ula, Miftahul
RELIGIA Vol 12 No 2: Oktober 2009
Publisher : IAIN Pekalongan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (159.981 KB)
|
DOI: 10.28918/religia.v12i2.187
Islam is the last religion revealed by Allah to the whole human beings in the world as peace for all, and perfect religion before Islam. Islam with its universal and inclusive teaching is the only religion that can receive other religion as a faith understanding. Formally, Qur’an also acknowledges the prophets of religions before Islam and does not discriminate other religions. Islam does not make the difference of religion not be kind, not make good social relationship, and not do justice in social life as long as it does not bring about faith contamination and does not get across Muslim community