cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota pekalongan,
Jawa tengah
INDONESIA
RELIGIA
ISSN : 14111632     EISSN : 25275992     DOI : -
Religia is a periodical scientific journal with ISSN Print: 1411-1632; Online: 2527-5992 published by the Faculty of Ushuluddin, Adab and Da'wah IAIN Pekalongan. This journal specializes in the study of Islamic sciences (Islamic Theology, Philosophy and Islamic thought, Tafsir-Hadith, Science of Da'wah, and Sufism). The managers invite scientists, scholars, professionals, and researchers in Islamic scholarship disciplines to publish their research results after the selection mechanism of the manuscript, the review of the partner bebestari, and the editing process. The Religia Journal is published in April and October each year. This journal has been indexed in a reputable national indexing agency.
Arjuna Subject : -
Articles 300 Documents
PERANAN LINGUISTIK TERAPAN DALAM DAKWAH MULTIKULTURAL DI INDONESIA Bhakti, Wirayudha Pramana
RELIGIA Vol 19 No 2: Oktober 2016
Publisher : IAIN Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (154.652 KB) | DOI: 10.28918/religia.v19i2.750

Abstract

Dakwah or preaching Islam has a purpose to invite people to consistently perform good deeds and to prevent them from doing evil deeds (amar ma’ruf nahi munkar). However, most of conflicts occur bringing the name of religion, which of those are believed to be caused by the content of the preaching. Often the preaching is conducted in provocative ways and is intolerant with differences. In fact, a good understanding on differences and plurality play a significant role in determining a success of the preaching. Therefore, in order to avoid conflicts bringing the name of Islam, there is a need of preaching which has a comprehensive understanding on differences: multicultural preaching. This type of preaching involves three disciplines of applied linguistics, namely sociolinguistics, anthropolinguistics, and psycholinguistics. In this article, the writer attempts to investigate the roles as well as the interconnection between these three disciplines of linguistics in multicultural preaching.
HADITS-HADITS POLITIK ABAD PERTENGAHAN ISLAM (Suatu Kajian Sosiologis) Makrum, Makrum
RELIGIA Vol 12 No 2: Oktober 2009
Publisher : IAIN Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (189.443 KB) | DOI: 10.28918/religia.v12i2.192

Abstract

Prophet’s hadith has an important role in Islamic teaching. Therefore, a Muslim community, in Islamic medieval century, tried to use hadith to legitimize their group existence and interest, even though they had to fabricate hadith for it. Hadith fabrication, at the beginning, happened because of political problems during Ali bin Abi Thalid order era. In its progression, the appearance of those political hadiths is to give one thing with another to the groups that politically and theologically have extreme opinions.
TASAWUF DALAM SOROTAN EPISTEMOLOGI DAN AKSIOLOGI Zuhri, Amat
RELIGIA Vol 19 No 1: April 2016
Publisher : IAIN Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (232.215 KB) | DOI: 10.28918/religia.v19i1.658

Abstract

Aspek ajaran Islam seringkali dibagi secara dikotomis menjadi aspek syari’at dan hakikat. Aspek syari’at adalah ajaran yang bersumber dari al-Qur’an dan sunnah berkenaan dengan aqidah, ibadah, akhlak, sosial, ekonomi dan aspek kehidupan lainnya yang bersifat lahiriyah dalam bentuk legal-formal atau identik dengan fikih. Karena bersumber dari al-Qur’an dan Sunnah maka ilmu syari’at digolongkan sebagai ilmu yang menggunakan epistemologi bayani. Sedangkan hakikat adalah aspek ajaran dalam Islam yang lebih menekankan pada penghayatan batin sehingga digolongkan sebagai ilmu yang menggunakan epistemologi irfani. Yang termasuk dalam hakikat ini adalah Tasawuf. Pembagian secara dikotomis seperti ini secara tidak langsung menimbulkan pemahaman bahwa tasawuf bukanlah bagian dari syari’at. Maka tidak jarang ada pihak-pihak yang menganggap bahwa tasawuf adalah salah satu bentuk penyimpangan dalam Islam atau setidaknya tidak memperhatikan aspek syari’at. Selain dianggap mernyimpang, tasawuf juga sering dianggap sebagai ajaran yang tidak mampu menyelesaikan persoalan-persoalan kemasyarakatan. Benarkah tasawuf itu tidak memperhatikan aspek syari’at dan tidak memiliki nilai-guna untuk menyelesaikan persoalan-persoalan kemasyarakatan? Dalam tulisan ini penulis akan mencoba menjawab pertanyaanpertanyaan tersebut dengan menggunakan metode analisis Critical Discouse Analysis (CDA). Secara aplikatif, pembahasannya dimulai dengan mendeskripsikan sejarah dan faktor penyebab munculnya aliran-aliran tasawuf dalam Islam serta pokok-pokok ajaran tasawuf. Adapun pendekatan yang digunakan adalah filsafat ilmu. Hasil dari penelitian ini adalah bahwa ajaran tasawuf juga menekankan aspek syari’ah  sehingga tidak melulu hanya menggunakan epistemologi irfani. Selain itu nilai-nilai tasawuf juga memiliki nilai-guna untuk menyelesaikan persoalan-persoalan kemasyarakatan.
ISLAM DAN KAPITALISME Khobir, Abdul
RELIGIA Vol 13 No 2: Oktober 2010
Publisher : IAIN Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (176.025 KB) | DOI: 10.28918/religia.v13i2.183

Abstract

Market economy with its competence has support capitalism from its beginning to always expand internally and externally. The impact of it has change the world economy and also the third world (developing countries), by the economic booming, like the increase of immigration as the impact of economic activities, the rapid development of technology, especially in information, electronic, communication, and bio-technology, and the success of international champagne to globalize capitalism in economy. To face this, Islam responds by the concept that Islam does not let the social class exist and avoid the centralization of properties only among the few rich people as it is in the capitalism. Islam issues different economic mode based on the Islamic teachings of need fulfillment, partnership, helping each other, and not based on struggling and conflict between social classes.
ETIKA BISNIS KOMUNITAS TIONGHOA MUSLIM YOGYAKARTA (Kajian atas Etos Kerja Konfusianisme dalam Perspektif Islam) Shulthoni, Muhammad
RELIGIA Vol 14 No 1: April 2011
Publisher : IAIN Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (73.004 KB) | DOI: 10.28918/religia.v14i1.33

Abstract

Abstract: The success of Chinese Muslim entrepreneurs in businessis a well-known fact. On one side, there are explicit or implicitregulations in Jogjakarta (Java), discouraging the ethnic Chinese fromworking in non-commercial sectors. Their only opportunity to makea living is business. But, on the other side, their success warrantsnotice that even though the businessmen run their business withscientifical management, actually they have dependence on theirculture, ethics, and religious beliefs. This is because business is amobile activity. Business without reliable ethics can not succeedreliably. If business is a kind of human activity, business ethics can beperceived as a reflection of the actors in their behaviors.Through descriptive and interpretative approaches, this study reachedthe following conclu-sions: firstly, the Chinese Muslim entrepreneursof Jogjakarta are dependent on the constructs of business ethics whichcontain work ethos, hard work, thrift, honesty, and trust. Thosecharacteristics are then implemented in their business activities.Therefore, they have awareness in implementing business ethics inorder to engage in business as long as their life. They do their businesswith high self-discipline, self-confidence, diligence, industriousness,and hard work from the younger years in order to have highconsciousness to run their business in their maturity.Secondly, it can be said that Islamic teachings, for Chinese Muslimentrepreneurs of Jogjakarta, have a significant role in constructingtheir business ethics. These indications can be seen in their business activities and their perceptions. Its teachings are perceived as a sourceof motivation in economic behaviors. Even though their business ethicscannot be said to derive from religious teachings only, but rather thatsuch ethics progress along with the socio-cultural, socio-economicand socio-political developments of the community.Keberhasilan pengusaha muslim Cina dalam dunia bisnis merupakansebuah kenyataan yang tak terbantahkan. Di satu sisi, terdapatperaturan eksplisit ataupun implisit di Yogyakarta (Jawa) yangmengecilkan semangat mereka untuk bekerja di bidang non-komersial.Satu-satunya peluang mereka untuk memenuhi kebutuhan hidupnyaadalah bisnis. Di sisi yang lain, keberhasilan mereka ini semakinmenyatakan bahwa meskipun mereka menjalankan bisnisnya denganilmu manajemen, kenyataannya mereka memiliki ketergantungan padabudaya, etika dan kepercayaan agama mereka. Ini karena bisnismerupakan aktivitas yang mobile. Bisnis tanpa etika yang reliabletidak bisa mengantarkan pada kesuksesan. Jika bisnis merupakansebuah aktivitas manusia, etika bisnis bisa dianggap sebagai sebuahrefleksi aktor-aktornya dalam peri laku mereka.Melalui pendekatan deskriptif dan interpretatif, studi ini sampai padakesimpulan berikut: pertama, pengusaha muslim Cina Yogyakartatergantung pada konstruk etika bisnis yang mengandung etos kerja,kerja keras, sikap hemat, kejujuran dan kepercayaan. Karakteristikini kemudian diimplementasikan dalam kegiatan bisnis mereka. Karenaitu, mereka memiliki kesadaran dalam mengimplementasikan etikabisnis untuk masuk dalam dunia bisnis sepanjang hidup mereka.Mereka melakukan bisnis mereka dengan disiplin diri, percaya diri,rajin, tekun, dan kerja keras yang tinggi sejak usia muda supayamemiliki kesadaran yang tinggi dalam menjalankan bisnis merekamenurut kedewasaan mereka.Kedua, bisa dikatakan bahwa ajaran Islam, bagi pengusaha muslimCina Yogyakarta, memiliki peran yang signifikan dalam membentuketika bisnis mereka. Indikasinya bisa dilihat dalam kegiatan danpersepsi bisnis mereka. Ajaran-ajaran ini dirasakan sebagai sebuahsumber motivasi dalam peri laku ekonomi, meskipun etika bisnismereka tidak bisa dikatakan bersumber dari ajaran agama saja,namun lebih sebagai etika yang berkembang mengikuti perkembangansosio-kultural, sosio-ekonomi, dan sosio politik masyarakat.
YAUMIDDIN DALAM PERSPEKTIF TEORI HERMENEUTIKA EMILIO BETTI adinugraha, hendri hermawan
RELIGIA Vol 20 No 2: Oktober 2017
Publisher : IAIN Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (137.946 KB) | DOI: 10.28918/religia.v20i2.818

Abstract

Abstrak: Paper ini menggunakan pendekatan kajian pustaka yang bersumber dari buku, jurnal, dan literatur lainnya yang masih ada relevansinya dengan topik ini. Tujuan dari paper ini ialah berusaha untuk menginterprestasikan kata yaumuddin dalam QS. Al-Fatihah: 4 dipandang dari teori hermeneutika Emilio Betti. Hasil kajian literatur menunjukkan bahwa menurut Emilio Betti kajian terhadap teks erat kaitannya dengan kegiatan interpretasi meaning yang terkandung di dalam teks tersebut. Meaning senantiasa merujuk pada objektifitas pemikiran sang penafsir. Oleh karenanya, interpretasi teks hendaknya bersifat gerakan penafsiran yang melibatkan aspek kebahasaan, latar belakang historis dan pengenalan terhadap si pengarang secara bersama-sama. Metode hermeneutika Betti lebih menekankan pada rekonstruksi makna berbekal cakrawala intelektual penafsir (subjek) menggunakan model interprestasi reproduktif. Berdasarkan teori Betti tersebut, teks yaumiddin pada QS. Al-Fatihah: 4 berarti hari ditiupnya sangsakala, dimana hari yang tidak seorang pun dapat membela orang lain, sehingga hari itu dinamakan juga sebagai hari keputusan dan hari pembalasan oleh Allah SWT.Kata Kunci: Emilio Betti, Objektifitas, Rekonstruksi, dan Reproduktif.Abstract: This paper uses lierature research approach which sourced from books, journals, and other literature that still have relevance to this topic. This paper seeks to interpret the word “yaumiddin” in QS. Al-Fatihah: 4 from the perspective of Emilio Betti hermeneutic theory. The results of study showed that in a perspective of Betti the text closely related to the activities of interpretation of the meaning contained in the text. Meaning always refers to the objectivity of the interpreter thought. Therefore, the interpretation of the text should be the movement of interpretation that involves linguistic aspects, historical background and introduction to the author together. Betti hermeneutical method is more emphasis on the reconstruction of the intellectual horizons of meaning armed interpreter (subject) using a model of reproductive interpretation. Based on Betti theory that text “yaumiddin” on QS. Al-Fatihah: 4 means the day he blew the trumpet, where the day that no one can defend someone else, so the day was named as well as the decisions and the Day of Judgment by Allah SWT.Keywords: Emilio Betti, Objectivity, Reconstructive and Reproductive.
Epistemologi Anarkisme Paul Feyerabend dalam Studi Ilmu Tafsir al-Quran Fadal, Kurdi
RELIGIA Vol 18 No 1: April 2015
Publisher : IAIN Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (96.026 KB) | DOI: 10.28918/religia.v18i1.619

Abstract

Tulisan ini mengkaji tentang epistemologi anarkisme Paul Feyerabend dalam studi tafsir al-Qur'an. Selama ini studi tafsir al-Qur'an telah berkembang sangat pesat sejak periode formatif, afirmatif hingga transformatif. Berbagai metode dan pendekatan telah lahir mengiringi. Perkembangan itu menunjukkan bahwa studi tafsir berjalan secara dinamis. Namun, sebagian menilai tafsir al-Qur'an telah selesai pasca generasi ketiga dalam Islam. Melalui prinsip Anything Goes yang digagas Feyerabend, metode dan pendekatan apapun yang ditawarkan untuk menafsirkan al-Qur'an dapat berjalan dan "berkontestasi" secara terbuka. Satu sisi, hal ini sangat positif bagi perkembangan ilmu tafsir dalam konteks kemajuan zaman. Namun di sisi lain, anarkisme dalam bidang ini dapat menimbulkan tafsir liar yang melahirkan problem bagi kemajuan peradaban, seperti lahirnya terorisme dalam Islam yang sering disandarkan pada ayat-ayat al-Qur'an sebagai sumber justifikasinya.
AL-ADDAD: POLA UNIK BAHASA AL-QUR’AN Jaeni, Muhamad
RELIGIA Vol 13 No 1: April 2010
Publisher : IAIN Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (284.438 KB) | DOI: 10.28918/religia.v13i1.174

Abstract

Semantic system unique in Arabic language is very interesting to study, particularly in relational meaning, because there are some Arabic semantic system parts whose concept is different from others. The relationship among the meanings like in modern linguistic is called as synonymy, polisemi homonymy, and antonymy can be found in Arabic and Quranic linguistic. Therefore, semantic studies have been existed in the Quran since a long time ago before linguists formulated modern semantic  is not found in other language meaning fields, like al-addad. Concerned with the position of Arabic language as Quranic language, the existence of al-addad also influences its translation and exegesis. The existence of al-addad mode in the Quran is a proof that the Quran has superiority viewed from language side.
MUHAMMAD SEORANG PENUTUR YANG SANTUN (Sebuah Telaah Pragmatik) Jaeni, Muhamad
RELIGIA Vol 15 No 1: April 2012
Publisher : IAIN Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (274.645 KB) | DOI: 10.28918/religia.v15i1.121

Abstract

Muhammad, sebagai orang Arab dan juga manusia utusan Allah tidak lepas dari kapasitanya dia sebagai seorang penutur. Kemampuan bahasa beliau sudah tidak diragukan lagi. Beliau adalah seorang penyampai ajaran-ajaran Allah. Beliau sangat memperhatikan kepada pentingnya penguasaan bahasa yang fashih. Perkataannya selalu penuh kesantunan. Sejak kecil, Nabi sendiri sudah rajin berlatih untuk berbahasa dengan fashih. Beliau termasuk orang yang paling baik dalam berbahasa dibandingkan anak-anak di usianya. Oleh karena itu, Rasulullah pernah berkata; “Ana afshohul ‘Arab Baida annii min Quraisy wa nasya’tu  fi bani sa’di ibni Bakr”. Beliau selalu menggunakan sedikit kata, tetapi sarat  makna. Tuturannya penuh kesiapan dan tidak bersifat spontan dan selalu mengedepankan keindahan dan kasih sayang. Dalam kajian pragmatik terdapat prinsip-prinsip kesantunan, yakni maksim kebijaksanaan, maksim kemurahan, maksim penerimaan, maksim kerendahan hati, maksim kecocokan, dan maksim kesimpatian. Pertuturan Rasulullah senantiasa tidak lepas dari prinsip-prinsip kesantunan tersebut
Kiai Muhaimin and His Outreach Activity of Dakwah for Promoting Moderation and Preventing Conflict: Seeding Pluralism vis-a-vis Preaching Religion Sobirin, Mohamad
RELIGIA Vol 21 No 2: Oktober 2018
Publisher : IAIN Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1020.357 KB) | DOI: 10.28918/religia.v21i2.1505

Abstract

Dakwah yang dilakukan oleh seorang Kiai biasanya dilangsungkan di Masjid, Pondok Pesantren, Majlis Taklim, atau forum keagamaan Islam lainnya. Kegiatan dakwahnya dalam banyak kasus dilakukan dengan menyerukan pengikut Islam supaya menjadi Muslim yang sempurna (Muslim Kaffah), dan membangkitkan mereka yang tidak menganut Islam agar tertarik masuk Islam demi keselamatan mereka di akhirat. Namun, dakwah semacam itu tidak berlaku jika kita melihat praktik dakwah yang ditunjukkan oleh seorang Kiai dari Yogyakarta, yang akrab dipanggil sebagai Kiai Muhaimin. Dia tidak hanya mengajarkan Islam di komunitasnya dan tempat-tempat lazimnya dakwah Islam, tetapi juga di gereja-gereja dan tempat ibadah lainnya. Dakwahnya telah menjangkau beberapa tempat ibadah selain Islam. Dia tidak mendakwahi non-Muslim agar tertarik melakukan konversi menjadi Muslim, tetapi justru mempromosikan toleransi dan pemahaman pluralisme. Demikian juga, pernyataan religiusnya tentang Islam di komunitas Muslim adalah untuk menumbuhkan pluralisme aktual di kalangan umat Islam. Dia telah merumuskan kerangka konseptual bagi dakwah moderat dalam Islam sebagai dasar filosofis untuk membangun toleransi dan koeksistensi dalam masyarakat multikultural dan kehidupan sosial keagamaan di Indonesia, seperti yang dilakukannya melalui organisasi yang ia dirikan, yaitu FPUB (Forum Persaudaraan Umat Beragama).

Page 9 of 30 | Total Record : 300