cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota padang,
Sumatera barat
INDONESIA
Lingua Didaktika: Jurnal Bahasa dan Pembelajaran Bahasa
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol 12, No 1 (2018)" : 7 Documents clear
THE MEANINGS OF MINANGKABAUNESE VERB ‘MANCALIAK’: A NATURAL SEMANTIC METALANGUAGE APPROACH Rosa, Rusdi Noor
Lingua Didaktika: Jurnal Bahasa dan Pembelajaran Bahasa Vol 12, No 1 (2018)
Publisher : English Department FBS UNP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (248.692 KB) | DOI: 10.24036/ld.v12i1.9787

Abstract

This article is aimed at finding out the Minangkabaunese verbs that share similar meaning to the verb ‘MANCALIAK’ (equivalent to ‘to see’ in English) using the Natural Semantic Metalanguage (NSM) approach. This study used a descriptive qualitative method. The data were verbs in Minangkabaunese language that possibly have similar meanings with the verb ‘MANCALIAK’ collected through interview. Five native Minangkabaunese living in the area of Padang were taken as the research respondents. In the process of data collection, listening and note-taking techniques were used. The data were analyzed using an interactive model of data analysis considering the table of semantic primitives as the basis of classifying the verbs. Based on the data analysis, it was found that, in Minangkabaunese language, the verb ‘MANCALIAK’ is realized in several lexical items such as maliek, mancigok, manjanguak, maintik, manonton, mancenek, mamareso and mamparatian. These verbs have a proximity of meaning that might lead to a choice of less acceptable word by Minangkabaunese speakers.Key words/phrases:  MANCALIAK, Minangkabaunese, NSM, semantic primitives, verb,MAKNA VERBA ‘MANCALIAK’ DALAM BAHASA MINANGKABAU: KAJIAN METABAHASA SEMANTIK ALAMIAbstrakArtikel ini bertujuan untuk menemukan verba-verba dalam bahasa Minangkabau (BM) yang memiliki kemiripan atau kedekatan makna dengan verba ‘MANCALIAK’ dengan menggunakan pendekatan Metabahasa Semantik Alami (MSA). Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Data penelitian ini adalah verba-verba dalam BM yang mungkin memiliki kesamaan dalam hal makna dengan verba ‘MANCALIAK’ yang diperoleh melalui wawancara. Lima penutur asli BM yang berdomisili di kota Padang dijadikan sebagai responden penelitian. Dalam proses pengumpulan data, teknik menyimak dan mencatat digunakan. Data dianalisis dengan menggunakan model interaktif analisis data dengan mempertimbangkan tabel makna asali sebagai alat pengelompokan verba-verba yang dianalisis. Berdasarkan hasil analisis data, ditemukan bahwa, dalam BM, verba ‘MANCALIAK’ (melihat) direalisasikan dengan beberapa leksikal seperti maliek, mancigok, manjanguak, maintik, manonton, mancenek, mamareso dan mamparatian. Verba-verba tersebut memiliki kedekatan makna yang memungkinkan penutur BM melakukan pemilihan kata yang kurang berterima dalam BM.Kata Kunci/frase:  Bahasa Minangkabau, makna asali, MANCALIAK, MSA, verba
WRITING ANXIETY AND WRITING STRATEGIES USED BY ENGLISH DEPARTMENT STUDENTS OF UNIVERSITAS NEGERI PADANG Masriani, Elsa; Mukhaiyar, Mukhaiyar; Wahyuni, Delvi
Lingua Didaktika: Jurnal Bahasa dan Pembelajaran Bahasa Vol 12, No 1 (2018)
Publisher : English Department FBS UNP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (265.27 KB) | DOI: 10.24036/ld.v12i1.8766

Abstract

This study investigated the levels and types of writing anxiety and writing strategies used by 3rd year English department students of Universitas Negeri Padang. The participants of this study were 41 students. This descriptive quantitative study used two questionnaires as the instrument. The first questionnaire was SLWAI (Second Language Writing Anxiety Inventory) by Cheng (2002) used to obtain the levels and types of writing anxiety. The writing strategies used by the participant were obtained from the second questionnaire namely Writing Strategy Scale developed by Raoofi et.al. (2017). The study found that the 3rdyear students of Universitas Negeri Padang experienced moderate level of writing anxiety with cognitive anxiety as the main type. The studey also found that the most used writing strategies were affective and metacognitive strategy.Key words/phrases: levels of writing anxiety, types of writing anxiety, writing strategies AbstrakArtikel ini bertujuan untuk menemukan level dan tipe kecemasan dalam menulis dan strategi menulis yang digunakan oleh mahasiswa tahun ketiga Jurusan Bahasa Inggris di Universitas Negeri Padang. 41 siswa dipilih sebagai responden dari penelitian ini. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif. Data didapakan dari membagikan 2 kuesioner. Kuesioner pertama yaitu SLWAI (Second Language Writing Anxiety Inventory) dari Cheng (2002) digunakan untuk mengetahui level dan tipe kecemasan responden. Kuisioner kedua yaitu Writing Strategy Scale dari Raoofi dkk (2017) digunakan untuk mengetahui strategi menulis yang digunakan responden. Penelitian ini menemukan bahwa responden mengalami kecemasan menulis dalam tingkat yang menengah, dengan tipe kognitif sebagai tipe yang mendominasi. Dari penelitian ini juga diketahui bahwa responden berada di level yang tinggi dalam penggunaan strategi menulis. Strategi yang sering digunakan yaitu strategi afektif dan metakognitif.Kata Kunci/frase: level kecemasan dalam menulis, tipe kecemasan dalam menulis, strategi menulis
SPEECH ACTS AND FUNCTIONS OF EXPRESSIVE SPEECH OF POLISH BIPA LEARNERS AT UPT BAHASA UNS Siagian, Evrin Septya Lilasa; Suwandi, Sarwiji; Andayani, Andayani
Lingua Didaktika: Jurnal Bahasa dan Pembelajaran Bahasa Vol 12, No 1 (2018)
Publisher : English Department FBS UNP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (275.961 KB) | DOI: 10.24036/ld.v12i1.10135

Abstract

This study aimed to describe the use of speech acts in the form of locutionary acts, illocutionary acts, perlocutionary acts, and expressive speech acts used by foreign learners in the learning process of  Indonesian Language for Foreigners (BIPA). This research used descriptive qualitative method. The subject of this research was a Polish student who had been joining Darmasiswa Program at UPT Bahasa, Universitas Sebelas Maret. The technique of collecting data was by using free-listening-participating-speaking (SBLC). The technique of analyzing data was by using the interactive model. The interactive model used in this research was the extralingual interactive model. The results showed that there were types of locutionary acts, illocutionary acts, perlocutionary acts, and functions of expressive speech acts consisting of congratulating, expressing gratitude, criticizing, complaining, giving compliment, apologizing, offering and motivating.Keywords/phrases: speech acts, expressive speech acts, BIPA TINDAK TUTUR DAN FUNGSI TUTURAN EKSPRESIF PEMELAJAR BIPA ASAL POLANDIA DI UPT BAHASA UNSAbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penggunaan tindak tutur berupa tindak tutur lokusi, ilokusi, perlokusi, dan tuturan ekspresif yang digunakan pemelajar asing dalam proses pembelajaran Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA). Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif. Subjek dalam penelitian ini adalah mahasiswa asing asal Polandia yang sedang mengikuti program Darmasiswa di UPT Bahasa Universitas Sebelas Maret. Teknik pengumpulan data adalah teknik perekaman dengan metode simak bebas libat cakap (SBLC). Analisis data menggunakan metode padan ekstralingual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat jenis-jenis tindak tutur lokusi, ilokusi, perlokusi dan fungsi tuturan ekspresifnya yang terdiri dari tuturan ekspresif mengucapkan selamat, terima kasih, mengkritik, mengeluh, memuji, meminta maaf, menawarkan, serta memotivasi.Kata Kunci/frase: tindak tutur, tuturan ekspresif, BIPA  
THE USE OF SCAFFOLDING BY ENGLISH TEACHERS AT SENIOR HIGH SCHOOL IN WEST SUMATERA Hamzah, Hamzah; Rozimela, Yenni
Lingua Didaktika: Jurnal Bahasa dan Pembelajaran Bahasa Vol 12, No 1 (2018)
Publisher : English Department FBS UNP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (242.556 KB) | DOI: 10.24036/ld.v12i1.10195

Abstract

This study was aimed at investigating how the English teacher used scaffolding in their daily classroom routines and whether they used the scaffolding differently. The data were collected from 20Senior High School English teachers in West Sumatera by recording their full teaching sessions. The records were transcribed orthographically from which the scaffolding strategies were identified. The findings revealed that the English teachers used 10 types of scaffoldings in their teaching with different varieties in the proportions. The experience interms of length of service did not contribute to the scaffolding choices. The experienced male teachers tended to use traditional scaffolding strategies markedly higher than novice male English teachers. The difference of the use of scaffolding strategies by the experienced female English teachers and novice was not marked, with the tendency for novice female teacher used higher propostion in traditional scaffolding. Thus, it is safe to draw a conclusion that the level of experience does not contribute to their scaffolding choices.Key words/phrases: scaffolding, classroom interaction, teacher talkPENGGUNAAN PENYANGGA PEMBELAJARAN OLEH GURU SEKOLAH MENENGAH ATAS DI SUMATERA BARAT AbstrakPenelitian ini ditujukan untuk menginvestigasi cara guru menggunakan penyangga pembelajaran di dalam kelas dan membandingkan penggunaan penyangga oleh guru yang berpengalaman dan pemula. Data dikumpulkan dari 20 guru Sekolah Menengah Atas di Sumatera Barat denga cara perekaman interaksi yang terjadi antara guru dan siswa. Rekaman tersebut dibuatkan transkrip ortografis yang menjadi sumber data tempat mengidentifikasi penyangga yang digunakan. Temuan penelitian menunjukkan bahwa guru menggunakan 10 tipe penyangga dengan variatas penggunaan yang berbeda-beda. Guru laki-laki berpengalaman, yang didasarkan pada lamanya menjadi guru, lebih banyak menggunakan penyangga tradisional dari guru pemula. Sementara, pilihan penyangga oleh guru perempuan berpengalaman tidak berbeda secara signifikan dari pilihan guru pemula. Pada kelompok guru ini, ada kecenderungan guru pemula lebih banyak menggunakan penyangga tradisional. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa pengalaman yang dilihat dari lama mengajar tidak memberi sumbangan terhadap pilihan penyangga yang digunakan.Kata Kunci: penyangga pembelajaran, interaksi kelas, ujaran guru
MICRO LEVEL COHERENCE ON STUDENTS’ SCIENTIFIC PAPER Andovita, Leora Grahadila; Pujiati, Hanif; Rahmat, Aceng
Lingua Didaktika: Jurnal Bahasa dan Pembelajaran Bahasa Vol 12, No 1 (2018)
Publisher : English Department FBS UNP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (305.944 KB) | DOI: 10.24036/ld.v12i1.10039

Abstract

Conjunctions used to connect sentences and paragraphs are often misused in writing research proposals, especially in subchapter background of the study. Mothertongue interference as the first language is one of the causes. It may lead to difficulty when students have Indonesian concept in their minds but they have to write their thoughts in English because grammatically both languages are different. This research aims at finding out the micro level coherence in writing subchapter background of the study. This research used content analysis and descriptive research design. Six research proposals were taken from the first submission in the early semester. Data were collected by documentation. Data were analysed through three stages. They are data reduction, data description, and data verification. Triangulation was applied to do validity checking. Based on the research result, it is found that students can use conjunctions properly. They can use them based on their functions. Research finding shows that there is only one conjunction misuse among conjunctions found in six research proposals. Students use conjunctions based on their functions. In addition, they are aware of using conjunctions to make readers understand about content and context in subchapter background of the study. It can be concluded that students’ understanding in using conjunctions is good.Keywords: coherence, conjunctions, background of the study TINGKAT KOHERENSI MIKRO PADA KARYA ILMIAH MAHASISWAAbstrakKata penghubung yang digunakan untuk mengaitkan kalimat dan paragraf seringkali tidak digunakan dengan tepat pada penulisan proposal penelitian, terutama bagian subbab latar belakang penelitian. Salah satu penyebabnya adalah interferensi bahasa ibu sebagai bahasa pertama. Hal ini menyebabkan kesulitan ketika mahasiswa memiliki konsep berbahasa Indonesia dalam pikirannya sedangkan mereka harus menuliskan konsep tersebut dalam bahasa Inggris karena secara gramatika kedua bahasa tersebut berbeda. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat koherensi mikro dalam penulisan subbab latar belakang penelitian. Penelitian ini menggunakan analisis isi dan desain penelitiannya analisis deskriptif. Enam proposal penelitian diperoleh dari pengumpulan pertama pada awal semester. Data tersebut diperoleh dengan teknik dokumentasi. Analisis data dilakukan melalui tiga tahap, yakni reduksi data, deskripsi data, dan verifikasi data. Pemeriksaan keabsahan data dilakukan dengan menggunakan uji triangulasi. Berdasarkan hasil analisis ditemukan bahwa mahasiswa telah dapat menggunakan kata penghubung. Mereka dapat menggunakan kata penghubung sesuai dengan fungsinya. Hasil temuan pada penelitian ini menunjukkan bahwa dari enam proposal penelitian hanya terdapat satu kata penghubung yang penggunaannya tidak tepat berdasarkan fungsinya. Di samping itu, mahasiswa sudah sadar penggunaan kata penghubung untuk membuat pembaca paham isi dan konteks yang ada di dalam latar belakang penelitian. Dengan demikian, pemahaman mahasiswa terhadap penggunaan kata penghubung sudah baik.Kata Kunci: mikro level koherensi, paragraf, karya tulis ilmiah
IMPROVING STUDENTS' INTEREST IN POETRY WRITING LEARNING BY USING EPIGONAL TECHNIQUE Triyanto, Triyanto; Sumarwati, Sumarwati; Saddhono, Kundharu
Lingua Didaktika: Jurnal Bahasa dan Pembelajaran Bahasa Vol 12, No 1 (2018)
Publisher : English Department FBS UNP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (252.447 KB) | DOI: 10.24036/ld.v12i1.10124

Abstract

This study aims to increase student interest in learning to write poetry with epigonal techniques on students of class VII E SMP Negeri 16 Surakarta academic year 2016/2017. This research is a Classroom Action Research (PTK). This research was started from January 2017-August 2017. Data collection techniques used were observation techniques, interviews, tests, field notes, and document analysis. Data analysis techniques used in this study are descriptive comparative and critical analysis. The results of this study are the application of epigonal techniques which can increase student learning interest in learning to write poetry in class VII E SMP Negeri 16 Surakarta Lesson Year 2016/2017. This is seen in cycle I meeting 1, the percentage of students who were active during apperception 75.17%; attention and concentration 75,86%; and students' enthusiasm and enthusiasm when teachers delivered materials of 78.62%. In the second cycle of meeting 2 there was an increase of the students who were active during the apperception was 84.83%; attention and concentration 86,21%; and students' enthusiasm and enthusiasm when teachers delivered material 86.20%.Key words/phrases: Epigonal Techniques, Poetry Writing, Interests, classroom action research, Indonesian PENINGKATAN MINAT SISWA DALAM PEMBELAJARAN MENULIS PUISI MENGGUNAKAN TEKNIK EPIGONAL  AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk meningkatan minat siswa dalam pembelajaran menulis puisi dengan teknik epigonal pada siswa kelas VII E SMP 16 Surakarta tahun pelajaran 2016/2017. Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Penelitian ini dimulai dari Januari 2017-Agustus 2017. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik observasi, wawancara, tes, catatan lapangan, dan analisis dokumen. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif komparatif dan analisis kritis. Hasil penelitian ini adalah penerapan teknik epigonal dapat meningkatkan minat belajar siswa dalam pembelajaran menulis puisi  pada kelas VII E SMP Negeri 16 Surakarta Tahun Pelajaran 2016/2017. Hal ini terlihat pada siklus I pertemuan 1 persentase siswa yang aktif selama apersepsi 75,17%; perhatian dan konsentrasi 75,86%; dankeaktifan dan antusias siswa pada saat guru menyampaikan materi 78,62%. Pada siklus II pertemuan 2 terjadi peningkatan yaitu siswa yang aktif selama apersepsi adalah 84,83%; perhatian dan konsentrasi 86,21%; dankeaktifan dan antusias siswa pada saat guru menyampaikan materi 86,20%.Kata Kunci/frase: teknik epigonal, menulis puisi, minat, penelitian tindakan kelas, bahasa Indonesia.
GRAMMATICAL COHESION OF PERSONAL PRONOUNS IN CHILDREN’S STORIES, ADOLESCENT STORIES, AND ADULT STORIES OF KOMPAS Sukriyah, Siti; Sumarlam, Sumarlam; Djatmika, Djatmika
Lingua Didaktika: Jurnal Bahasa dan Pembelajaran Bahasa Vol 12, No 1 (2018)
Publisher : English Department FBS UNP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1153.065 KB) | DOI: 10.24036/ld.v12i1.10462

Abstract

This  study  aimed  to  describe  the  discourse  coherence  supported by aspects of gramatical cohesion is limited to the use of personal pronouns in the  rubric of cernak, roman, and cerpen in Kompas Newspaper. this research belongs to descriptive  qualitative. The data are obtained by review method with note technique as further technique. The data of this research are linguistic data taken from cernak, roman, and cerpen rubric of Kompas newspaper. The object of this research is personal pronouns grammatical cohesions in cernak, roman, and cerpen rubric of Kompas newspaper. Data analysis is done by identifying of the grammatical cohesion type of personal pronouns, then classify and describe the aspects of that grammatical cohesion. And then, the data is interpreted to get the conclusions. The results of this research that grammatical cohesion aspects of the personal pronouns in every rubric. the first, second, and third personal pronouns is found in every rubric. In the cernak is more likely has the form of the free third person as well as roman. Meanwhile, for the short story of adult has the plural third person because the plot of the short story of adult is more complex and have more figures than cernak or roman. The results of the data analysis showed that cernak, roman, and cerpen rubric of Kompas newspaper is a discourse coherent because it is supported by a slick lexical cohesion markers.Keywords: grammatical cohesion, Kompas, personal pronouns, rubric KOHESI GRAMATIKAL REFERENSI PRONOMINA PERSONA DALAM CERITA  ANAK, CERITA REMAJA, DAN CERITA DEWASA PADA KOMPASAbstrakPenelitian ini bertujuan mendeskripsikan kepaduan wacana yang didukung oleh aspek kohesi gramatikal, dibatasi pada penggunaan referensi jenis pronomina persona dalam rubrik cernak, roman, dan cerpen pada Harian Kompas. Jenis penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif. Penyediaan data menggunakan metode simak dengan teknik catat. Data dalam penelitian ini adalah data kebahasaan yang terdapat pada rubrik cernak, roman, dan cerpen pada Harian Kompas. Objek kajiannya adalah aspek kohesi gramatikal referensi pronomina persona yang terdapat dalam ketiga rubrik tersebut. Analisis data dilakukan dengan cara mengidentifikasi unsur kohesi gramatikal jenis referensi pronomina persona, selanjutnya mengklasifikasikan dan mendeskripsikan unsur kohesi gramatikal tersebut, kemudian data diinterpretasikan untuk mengambil kesimpulan. Pada hasil penelitian ditemukan aspek kohesi gramatikal referensi pronomina persona dalam setiap rubrik. Pada masing-masing rubrik ditemukan adanya referensi jenis pronomina persona I, II, dan III. Pada teks cerita anak (cernak) lebih cenderung menggunakan pronomina persona ketiga tunggal bentuk bebas; demikian pula untuk cerita remaja (roman). Sementara itu, untuk cerita dewasa (cerpen) cenderung lebih sering menggunakan pronomina persona ketiga jamak karena cerita dewasa atau cerpen jalinan ceritanya lebih kompleks dan melibatkan banyak tokoh (pelaku) dibandingkan dengan cernak maupun roman. Berdasarkan hasil analisis data, dapat disimpulkan bahwa rubrik cernak, roman, dan cerpen dalam surat kabar Harian Kompas merupakan sebuah wacana yang padu karena di dukung oleh penanda kohesi gramatikal yang apik.Kata kunci:  kohesi gramatikal, Kompas, referensi persona, rubrik

Page 1 of 1 | Total Record : 7