cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surakarta,
Jawa tengah
INDONESIA
Region : Jurnal Pembangunan Wilayah dan Perencanaan Partisipatif
ISSN : 18584837     EISSN : 2598019X     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Region : Jurnal Pembangunan Wilayah dan Perencanaan Partisipatif, diterbitkan oleh Pusat Informasi dan Pembangunan Wilayah (PIPW) yang berada di bawah Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Sebelas Maret Surakarta, berisi tulisan tentang hasil penelitian, gagasan konseptual dan resensi buku dalam lingkup perencanaan wilayah dan kota serta perencanaan partisipatif. Jurnal terbit dua kali setahun pada bukan Januari dan Juli. Region : Jurnal Pembangunan Wilayah dan Perencanaan Partisipatif menerima tulisan ilmiah dalam bidang yang relevan dengan permasalahan tentang perencanaan wilayah dan kota serta pembangunan daerah.
Arjuna Subject : -
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol 14, No 1 (2019)" : 8 Documents clear
Identifikasi Pola Perilaku pada Ruang Komunal Angkringan Dewanti Hari Nurzamni; Avi Marlina
Region : Jurnal Pembangunan Wilayah dan Perencanaan Partisipatif Vol 14, No 1 (2019)
Publisher : Regional Development Information Center, Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/region.v14i1.22164

Abstract

Lingkungan kampus Universitas Sebelas Maret Surakarta bermunculan para pedagang angkringan yang berjualan di pedestrian, bahu jalan serta memanfaatkan ruang-ruang kosong. Meskipun keberadaan angkringan “ilegal” tetapi angkringan sudah bukan hanya menjadi sebuah warung makan pinggir jalan biasa melainkan sebuah ruang untuk berdiskusi, mengobrol dan bertukar pikiran dengan suasana santai. Fenomena ini tanpa disadari menciptakan sebuah ruang publik “ruang komunal” di masyarakat.. Angkringan sebagai ruang komunal menimbulkan pola perilaku yang berhubungan dengan perilaku spasial yang menunjukan tindakan dan respon seeorang, ataupun kecenderungan perilaku yang muncul dalam interaksi manusia dalam ruang komunal di angkringan. Pada penelitian ini berfokus pada kajian seting-perilaku di dalam seting angkringan. Objek angkringan yang digunakan dalam penelitian ini adalah angkringan dengan tipe gerobak. Penelitian ini meggunakan metode pendekatan kualitatif dengan studi kasus, meliputi beberapa tahapan yaitu melakukan literature review untuk menentukan proposisi, dan meverifikasi proposisi ke lapangan teori, survey lapangan, dan analisis data dengan tujuan untuk mengetahui pola perilaku di angkringan dan mengetahui penyebab angkringan menjadi pilihan masyarakat untuk berkumpul. Hasil dari penelitian ini adalah Pola perilaku penjual, pola perilaku pembeli, dan kecenderungan dominasi kelompok tertentu pada ruang komunal angkringan. Sehingga, kedepannya angkringan ini dapat dipandang sebagai potensi ruang komunal dan publik sehingga dapat mendukung suatu fungsi kawasan atau pariwisata. Keywords: Angkringan, Komunal, Perilaku
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pemilihan Moda Bermotor Anak dalam Mengakses Sekolah Dasar di Kota Surakarta Salsabila Imtiyas; Rufia Andisetyana Putri; Erma Fitria Rini
Region : Jurnal Pembangunan Wilayah dan Perencanaan Partisipatif Vol 14, No 1 (2019)
Publisher : Regional Development Information Center, Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/region.v14i1.21164

Abstract

Pada bulan Juli 2017, Kota Surakarta ditetapkan sebagai Surakarta Kota Layak Anak untuk kategori Utama. Kota Surakarta sebagai kota layak anak harus memenuhi kebutuhan layak anak hingga pada skala lingkungan (neighbourhood unit). Salah satu fasilitas sosial dasar untuk anak yang penting dan harus tersedia di neighbourhood unit adalah sekolah dasar. Meskipun terdapat ketersediaan fasilitas sekolah dasar di dalam neighbourhood unit dan keterpenuhan kriteria kota layak anak, namun masih adanya masyarakat yang memilih menggunakan kendaraan bermotor untuk mengakses sekolah dasar setiap hari yang mengakibatkan adanya emisi gas buang. Hal tersebut sebenarnya bisa diminimalisir dengan kemampuan berjalan kaki anak dalam mengakses sekolah dasar. Penelitian ini menjelaskan mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi pemilihan moda bermotor anak dalam mengakses sekolah dasar di Kota Surakarta. Penelitian ini menggunakan data primer berupa penyebaran kuisioner kepada 138 responden.Teknik yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik analisis faktor.Berdasarkan pembahasan dan analisis dalam penelitian ini dapat disimpulkan bahwa melalui analisis faktor dapat diperoleh 6 kelompok faktor yang mempengaruhi pemilihan moda bermotor anak dalam mengakses sekolah dasar di Kota Surakarta. Kelompok faktor pertama memiliki pengaruh paling besar dalam mempengaruhi pemilihan moda bermotor anak dalam mengakses sekolah dasar di Kota Surakarta dengan nilai sebesar 33,927%. Keywords: Faktor Pemilihan Moda Bermotor Anak, Kota Layak Anak, Surakarta Layak Anak, Sekolah Dasar. 
Analisis Konektivitas Antar Destinasi Pariwisata Pantai di Daerah Istimewa Yogyakarta Widyastuti, Henny; Marsoyo, Agam; Setiawan, Bakti
Region : Jurnal Pembangunan Wilayah dan Perencanaan Partisipatif Vol 14, No 1 (2019)
Publisher : Regional Development Information Center, Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/region.v14i1.22390

Abstract

Salah satu destinasi pariwisata andalan di Daerah Istimewa Yogyakarta adalah destinasi pariwisata pantai. Dari banyaknya destinasi pariwisata pantai, wisatawan hanya mengunjungi beberapa destinasi pariwisata tertentu. Aksesibilitas yang terdapat dalam destinasi pariwisata pantai tidak menyurutkan minat wisatawan. Hal ini ditandai dengan adanya aksesibilitas destinasi pariwisata pantai yang kurang baik namun tingkat kunjungan wisatawan meningkat tiap tahun. Tujuan studi ini adalah untuk menggambarkan konektivitas antar destinasi pariwisata pantai dan mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi konektivitas antar destinasi pariwisata pantai di Daerah Istimewa Yogyakarta. Metode yang digunakan adalah metode deduktif dengan analisa kuantitatif. Metode analisis data yang digunakan yaitu menggunakan analisis statistik deskriptif. Hasil analisis menunjukkan bahwa konektivitas antar destinai pariwisata menunjukkan adanya  destinasi pariwisata pantai yang sering dilewati dan menjadi rujukan yaitu Pantai Baron dan Pantai Parangtritis dan destinasi pariwisata pantai yang jarang menjadi rujukan yaitu Pantai Samas dan Pantai Trisik. Rute perjalanan menjadi indikator dalam menentukan konektivitas antar destinasi pariwisata pantai. Konektivitas antar destinasi pariwisata pantai bergantung dari daya tarik, fasilitas, dan jaringan jalan yang tersedia di destinasi pariwisata pantai. Selain itu, pengembangan dan promosi yang dilakukan juga turut andil dalam terbentuknya konektivitas antar destinasi pariwisata pantai. Faktor yang mempengaruhi konektivitas antar destinasi pariwisata pantai adalah (i) faktor pengalaman kunjungan wisatawan, (ii) faktor aksesibilitas, (iii) faktor atraksi wisata, (iv) faktor amenitas. Keywords: Konektivitas, Destinasi Pariwisata Pantai, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Strategi Pengembangan Smart Mobility berbasis Transportasi Publik di Kota Yogyakarta (Studi Kasus: Transjogja) Kaledi, Stefanus; Dewanti, Dewanti; Herwangi, Yori
Region : Jurnal Pembangunan Wilayah dan Perencanaan Partisipatif Vol 14, No 1 (2019)
Publisher : Regional Development Information Center, Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/region.v14i1.22132

Abstract

Kota sebagai sebuah kawasan konsentrasi kegiatan, pelayanan, dan pemerintahan telah mengalami perkembangan yang sangat tinggi pada jumlah penduduk dan kendaraan bermotor. Kota Yogyakarta sebagai salah satu Kota di Indonesia merupakan sebuah kota dengan potensi pariwisata, budaya dan pendidikan. Adanya potensi tersebut di satu sisi dapat memberikan dampak positif bagi Kota Yogyakarta tetapi disisi lain juga memberikan dampak negatif. Salah satu dampak negatif dari adanya potensi tersebut adalah perkembangan kendaraan bermotor yang pesat yang terjadi akibat urbanisasi penduduk yang tinggi dengan tujuan mencari kerja dan mencari pendidikan. Berdasarkan data, Setiap tahun terjadi pertumbuhan kendaraan di Kota Yogyakarta yang tercatat pada tahun 2016 jumlah kendaraan roda 2 sebesar 71.566 sedangkan jumlah kendaraan roda 4 sebesar 12.746. Namun pada tahun 2017 jumlah kendaraan meningkat drastis yang mana kendaraan roda 2 berjumlah 222.915 unit sedangkan roda 4 berjumlah 56.647 unit. Adanya Transjogja sebagai alat transportasi publik di Kota Yogyakarta belum mampu mengatasi masalah yang ada. Oleh sebab itu untuk menanggulangi masalah tersebut pemerintah Kota Yogyakarta memprioritaskan pengembangan kota melalui tiga isu penting salah satunya adalah pengembangan smart mobility berbasis transportasi publik. Smart mobility merupakan sebuah konsep turunan dari smart city yang bertujuan untuk menyediakan pelayanan transportasi yang cepat, aman, nyaman, dan terjangkau bagi masyarakat kota. Tujuan penelitian ini adalah membuat strategi pengembangan smart mobility berbasis transportasi publik di Kota Yogyakarta (Transjogja). Metode yang digunakan adalah duduktif kualitatif, menggunakan pendekatan wawancara ahli dan observasi lapangan dengan metode analisis SWOT. Hasil dari penelitian ini ditemukan beberapa strategi pengembangan yaitu strategi peningkatan jumlah armada bus sehingga dapat meningkatkan pelayanan kepada masyarakat, strategi penyediaan fasilitas pelayanan informasi pada transportasi publik sehingga real time, strategi penyediaan feder agar pelayanan bus dapat menjangkau daerah-daerah yang tidak terlayani oleh transportasi publik serta kemudahan transaksi bagi pengguna (card).Keywords: Kota Yogyakarta, Smart Mobility, Transjogja
Implementasi Kebijakan RTRW pada Zonasi Fungsi Ruang di Lingkungan Sekitar Pasar Silir Semanggi Pasca Alih Fungsi Lahan Putryana, Oktavia; Marlina, Avi
Region : Jurnal Pembangunan Wilayah dan Perencanaan Partisipatif Vol 14, No 1 (2019)
Publisher : Regional Development Information Center, Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/region.v14i1.22168

Abstract

Zonasi fungsi ruang perkotaan merupakan suatu bentuk pengendalian fungsi ruang dalam suatu wilayah guna tercapai pola peruntukan fungsi ruang yang lebih tertata dan efisien.  Namun demikian, zonasi saat ini mulai mengalami pergeseran menuju pada dominasi kegiatan perekonomian yang lebih memberikan kontribusi besar dalam proses terbentuknya zonasi. Tujuan dari penelitian ini adalah mengidentifikasi perubahan zonasi fungsi ruang di lingkungan Pasar Silir sebagai implementasi RTRW Kota Surakarta. Metode yang digunakan adalah studi kasus dengan pendekatan deskriptif melalui penyandingan zona fungsi ruang di bagian utara, selatan, barat, timur Pasar Silir. Hasil penelitian menunjukkan bahwa zonasi fungsi ruang pada dasarnya terbentuk akibat dari adanya kebijakan RTRW kota. Namun dalam pengembangannya zonasi fungsi ruang dalam suatu wilayah dapat terbentuk akibat adanya penyebab dari luar individu (ekstern) yang terdiri atas adanya pasar sebagai pusat perekonomian, lokasi strategis wilayah, kepemilikan lahan pribadi, sistem retribusi terkait, dan adanya ruang-ruang yang belum dapat termanfaatkan. Sedangkan dari individu pribadi (intern) disebabkan oleh kecenderungan usia produktif, kepemilikan modal dan kemampuan/ keahlian masing-masing individu. Keywords : zoning, implementasi rtrw, pasar semanggi 
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pengembangan Jayengan Kampoeng Permata sebagai Kampung Wisata Industri Kreatif Deviliana Sekar Kusuma Dewi; Winny Astuti; Hakimatul Mukaromah
Region : Jurnal Pembangunan Wilayah dan Perencanaan Partisipatif Vol 14, No 1 (2019)
Publisher : Regional Development Information Center, Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/region.v14i1.22196

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi pengembangan Jayengan Kampoeng Permata sebagai kampung wisata industri kreatif. Kampung wisata industri kreatif merupakan salah satu bentuk upaya untuk melayani pariwisata minat khusus yang tengah dikembangkan oleh pemerintah di unit lokasi desa atau kampung.  Terdapat faktor-faktor yang mempengaruhi pengembangan kampung wisata yaitu keunikan lokasi, keterlibatan pelaku wisata utama (masyarakat setempat), pembiayaan aktivitas pariwisata, peran tokoh penggerak/leadership dan  link antarstakeholder. Salah satu kampung wisata industri kreatif tersebut terletak di Kelurahan Jayengan, Kecamatan Serengan, Surakarta atau sering disebut Jayengan Kampoeng Permata (JKP) dimana memiliki potensi industri kreatif pengolahan permata, budaya kuliner dan budaya religius. Jayengan Kampoeng Permata dalam pengembangannya masih memiliki kendala. Berdasarkan analisis AHP, prioritas faktor-faktor yang mempengaruhi pengembangan Jayengan Kampoeng Permata terfokus pada tiga faktor yaitu atraksi wisata, pembiayaan aktivitas wisata dan peran stakeholder. Prioritas subfaktor yang mempengaruhi pengembangan Jayengan Kampoeng Permata sebagai kampung wisata industri kreatif yaitu produk industri kreatif, pembiayaan dari lembaga internal, lembaga internal dan peran lembaga internal. Keywords: Faktor yang Mempengaruhi Pengembangan; Kampung Wisata; Industri Kreatif; AHP
Strategi Penerapan Cultural Landscape dalam Integrasi Potensi Kawasan Industri Rumah Tangga Kerajinan Bambu di Desa Walen Abraham Ardi Laksono; Kusumaningdyah Nurul Handayani; Sri Yuliani
Region : Jurnal Pembangunan Wilayah dan Perencanaan Partisipatif Vol 14, No 1 (2019)
Publisher : Regional Development Information Center, Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/region.v14i1.21722

Abstract

Desa Walen terletak di Kecamatan Simo Kabupaten Boyolali Provinsi Jawa Tengah, mempunyai ciri fisik sebagai kawasan industri rumah tangga kerajinan bambu. Kegiatan industri dimulai pada tahun 1930-1940, kawasan memiliki kesesuaian yang baik terhadap keberlangsungan kegiatan tetapi tidak dibarengi dengan RDTR yang tepat, dapat dikatakan demikian karena tidak adanya peruntukan bagi ruang dan infrastruktur sebagai penunjang potensi kegiatan kerajinan. Permasalahan diselesaikan melalui integrasi antara potensi kekayaan alam berupa kebun bambu, dengan kegiatan kerajinan dalam lingkup desain kawasan dengan infrastruktur penunjang kegiatan kerajinan. Kriteria perencanaan dan perancangan kawasan didapat melalui penerapan cultural landscape yang disesuaikan dengan lokasi, penerapan ini meliputi penataan kawasan memadukan potensi industri dan kultur kawasan. Metode penelitian dilakukan dengan studi literatur teori cultural landscape dan cakupan konsep desainnya, observasi lapangan melalui pemetaan, pengukuran site dan jarak antar site di dalam kawasan, dan wawancara terhadap pengerajin bambu, dan pemerintah terkait alur dan kegiatan produksi kerajinan bambu. Hasil strategi penerapan cultural landscape diharapkan menjadi suatu temuan untuk menyelesaikan permasalahan kawasan pada aspek perancangan arsitektural, dengan menerapkan ketiga konsep desain cultural landscape yaitu  konsep konteks pada pembentukan sistem kawasan, konsep organisasi pada pembentukan sirkulasi di dalam kawasan, dan elemen dengan tiga penerapan pada desain bangunan yaitu penerapan karakter arsitektural kawasan, makna simbolis siteplan terhadap desain, teknik konstruksi dengan kesesuaian fungsi.   Keywords: cultural landscape, kawasan industri rumah tangga, kerajinan bambu. 
Identifikasi Bias dalam Pemetaaan Konvensional pada Skala Lingkungan: Studi kasus Kelurahan Sewu dan Purwodiningratan Rufia Andisetyana Putri; Paramita Rahayu
Region : Jurnal Pembangunan Wilayah dan Perencanaan Partisipatif Vol 14, No 1 (2019)
Publisher : Regional Development Information Center, Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/region.v14i1.24966

Abstract

Pemanfaatan Sistem Informasi Geografis bertujuan untuk mempermudah mendapatkan informasi yang telah diolah dan tersimpan sebagai atribut suatu lokasi atau obyek. Perencanaan tata ruang membutuhkan data yang akurat agar memperoleh hasil yang sesuai dengan kondisi faktual;. Data-data pada lingkup kota akan selalu membutuhkan dukungan dari lingkup data yang ada di bawahnya. Kelurahan sebagai birokrasi level terbawah di sebuah kota, menjadi ujung tombak keakuratan dan ketepatan data baik data fisik maupun non fisik. Informasi spatial yang akurat pada Skala perencanaan lingkungan sangat penting. Studi ini menunjukkan bahwa terdapat sejumlah bias data spasial eksisting dengan sistem pemetaan kovensional pada skala lingkungan. Hal ini disebabkan oleh proses pembaharuan data untuk pemetaan tersebut belum dilakukan secara berkala. Kesulitan pembaharuan data tersebut disebabkan antara lain karena sistem basis data peta kelurahan saat ini masih belum berbasis data digital, tapi kovensional.  Basis data digital, selain memberikan kedetailan informasi berdasarkan pada persil bangunan, sehingga tingkat keakuratan lebih tinggi, juga akan membuka kesempatan bagi partisipasi masyarakat dalam proses pembaharuan peta tersebut. Keywords: Pemetaan; pertumbuhan perkotaan, perencanaan skala lingkungan, partisipasi, SIG.

Page 1 of 1 | Total Record : 8