cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
bhaktipersada@pnb.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kab. badung,
Bali
INDONESIA
Bhakti Persada Jurnal Aplikasi IPTEKS
Published by Politeknik Negeri Bali
ISSN : 24774022     EISSN : 25805606     DOI : http://dx.doi.org/10.31940/bp
Core Subject : Education,
Focus and Scope: - The result of applied research of sciences, technology, and arts - The result of social services to the society
Arjuna Subject : -
Articles 72 Documents
DAMPAK PENGGUNAAN TEKNOLOGI TEPAT GUNA PADA UKM BUNGA KERING DI DESA RENON DENPASAR I Ketut Suarta; I Wayan Jendra
Bhakti Persada Jurnal Aplikasi IPTEKS Vol 1 No 1 (2015): November 2015
Publisher : P3M Politeknik Negeri Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (634.749 KB)

Abstract

Hampir semua UKM mendapatkan masalah dalam mengembangkan usahanya yaitu : masalah modal, tenaga kerja, kratifitas, teknologi, produksi dan pemasaran. Demikian juga dengan UKM Bunga Kering yang menjadi binaan IBm mempunyai beberapa kendala sebagai berikut : proses pengeringannya dilakukan menggunakan cara tradisional yaitu dengan cara menjemur dibawah sinar matahari. Produksi bunga kering selama ini dilakukan dengan bantuan peralatan pres sederhana yang dirancang sendiri, pemasaran dan administrasi. Pengabdian ini bertujuan untuk membantu proses produksi khususnya dalam pengeringan bahan baku berupa alat pengering, meningkatkan pengetahuan serta keterampilan dalam mengelola usahanya khususnya bidang manajemen, administrasi, dan pemasaran. Pelaksanaan aktivitas pengabdian kepada masyarakat melalui program Iptek bagi Masyarakat didahului dengan sosialisasi sebagai upaya pendekatan antara pelaksana dengan pihak UKM pengerajin bunga kering dengan harapan akan terjalin hubungan kerja yang baik yang dilandasi oleh kepentingan yang sama yaitu untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas bunga kering. Program pengabdian IBm Bunga Kering ini telah berhasil mempercepat proses produksi yang kalau dikeringkan dengan sinar matahari memerlukan waktu pengeringan antara 1 s/d 7 hari. Dengan sentuhan teknologi tepat guna (alat pengering) memerlukan waktu 1s/d 3 hari. Untuk pengeringan tahap 2 (setelah pewarnaan) sebelumnya diperlukan waktu 1,5 s/d 3 hari, setelah bantuan alat pengering diperlukan waktu hanya 2 s/d 8 jam. Keterampilan dan pengetahuan mitra binaan juga bertambah setelah diberikan bebagai pelatihan yang meliputi : pelatihan pemasaran, administrasi dan keuangan serta bisnis. Strategi yang direkomendasikan adalah : UKM binaan ini perlu dikembangkan untuk menembus pasar eksport, sehingga perlu dilanjutkan dalam program IBPE dan perlu dilakukan pelatihan ekstra karena keterbatasan pengetahuan dan keterampilan dalam internet.
REVITALISASI UKM KERAJINAN KAYU BERBASIS TEKNOLOGI DI DESA PETULU UBUD GIANYAR Made Agung Raharja
Bhakti Persada Jurnal Aplikasi IPTEKS Vol 4 No 1 (2018): Mei 2018
Publisher : P3M Politeknik Negeri Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (500.415 KB) | DOI: 10.31940/bp.v4i1.781

Abstract

Ubud sub-district has individual companies or SMEs belonging to the most from other areas. In the implementation of Ipteks Bagi Produk Ekspor (IbPE) in the first implementation year there are 3 (Three) partners who will be accompanied in Petulu Village, Ubud sub-district, Gianyar regency, Bali province. The third type of SMEs are SMEs of Wood Crafts. With this method the expected outcomes from partners are: 1) Increased SME marketing skill in terms of the use of Internet-based information technology using online e-commers application. 2) Improvement of SME business management capability and Mastery. The results of this IbPE activity are: (1) Installation and facilitation of website marketing (e-commerce) can run well. (2) The implementation of SME management training activities has provided insight into knowledge and skills to the owners of SMEs (3) Initial guidance of foreign language assistance may work well and needs to be done to provide a good understanding for the owners or employees of SMEs.
PEMASANGAN JARINGAN WIFI DAN SOSIALISASI PENGGUNAAN INTERNET SEHAT PADA KANTOR DESA CAU BELAYU, KABUPATEN TABANAN, PROVINSI BALI Putu Indah Ciptayani; I Nyoman Eddy Indrayana
Bhakti Persada Jurnal Aplikasi IPTEKS Vol 2 No 1 (2016): Nopember 2016
Publisher : P3M Politeknik Negeri Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1546.11 KB)

Abstract

Internet sangat menunjang aktivitas masyarakat, baik yang berada di perkotaan maupun pedesaan. Pemerataan akses informasi di daerah pedesaan sangat diperlukan oleh perangkat desa dan masyarakat di sekitarnya. Begitu pula halnya dengan masyarakat di Desa Cau Belayu Tabanan. Penambahan akses informasi di Desa Cau Belayu terutama untuk perangkat desa dilakukan dengan pemasangan wifi di kantor desa dan balai desa. Penempatan wifi menjadi penting untuk mendapatkan coverage area yang maksimum. Setelah pemasangan wifi, dilakukan sosialisasi kepada perangkat desa dan masyarakat di sekitarnya mengenai penggunaan internet sehat. Dalam sosialisasi ini juga disampaikan Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (Undang-Undang No. 11 tahun 2008). Kegiatan sosialisasi ini bertujuan untuk menambah pengetahuan perangkat desa dan masyarakat Desa Belayu pada umumnya, meningkatkan pemahaman masyarakat tentang norma-norma dan dampak yang ditimbulkan dalam menggunakan internet, sehingga masyarakat lebih bijaksanan di dalam menggunakan teknologi internet ini.
PENERAPAN PISAU BAJAK ERGONOMIS DI DAERAH LAHAN KERING I Ketut Widana; I Ketut Sutapa; Ni Wayan Sadiyani
Bhakti Persada Jurnal Aplikasi IPTEKS Vol 1 No 1 (2015): November 2015
Publisher : P3M Politeknik Negeri Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (775.149 KB)

Abstract

Program Iptek Bagi Masyarakat (IbM) bagi kelompok tani di Desa Batunya Baturiti Tabanan bertujuan untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas tanah olahan sehingga didapatkan produktivitas yang setinggi-tingginya. Kualitas tanah olahan dikatakan baik bilamana agregat atau butir-butir tanah terdiri dari butiran kecil yang memungkinkan terjadinya sirkulasi oksigen ketika tanah ditanami, sedangkan kuantitas tanah olahan adalah jumlah tanah dalam meter persegi yang mampu diolah tiap satuan waktu. Dengan kualitas tanah olahan yang baik petani akan mampu menanam bibit lebih banyak jika dibantingkan jika tanah olahan terdiri dari bongkahan-bongkahan kasar tidak merata. Pisau bajak atau yang lebih umum disebut singkal memegang peranan penting ketika proses pengolahan tanah akan dilakukan. Pisau bajak yang selama ini dipakai oleh warga kelompok tani adalah pisau bajak existing yang memiliki kelemahan pada bentuk mata pisau yang tidak bisa dibelokkan atau dibuat membentuk sudut, sehingga tidak mampu menjangkau tanah yang berada di pinggir pematang. Kira-kira 1 meter di sepanjang pematang tanah garapan tidak bisa dikerjakan karena alasan teknis, yaitu terhalang oleh roda traktor. Tanah-tanah tersebut, ditambah tanah di setiap sudut petak ladang terpaksa harus dikerjakan dengan tenaga tani upahan yang tentunya memerlukan biaya tambahan. Dengan mempertimbangkan adanya kemungkinan untuk upaya perbaikan, anggota kelompok tani Kembang Sari Batunya Bedugul sepakat berkolaborasi dengan para akademisi Politeknik Negeri Bali untuk mendapatkan solusi. Ada tiga desain yang ditawarkan kepada kelompok tani Kembang Sari, Desa Batunya Kecamatan Baturiti Tabanan Bali. Pertama, pisau bajak dengan empat mata pisau. Desain ini mengadopsi model pisau bajak yang dipakai oleh petani di Negara Inggris. Kinerja pisau bajak empat mata cukup baik, namun kurang disukai oleh petani karena agak berat dan tidak mampu menghalau sampah. Pisau bajak bermata dua juga memberi harapan cerah karena mampu meningkatkan produktivitas hampir 12%, namun sebagaimana juga pisau bajak bermata empat, pisau bajak ini memiliki kelemahan pada desain yang kurang fleksibel serta relatif berat. Mempertimbangkan kelemahan kedua desain di atas, pilihan kemudian jatuh pada desain yang ketiga, yaitu sebuah pisau bajak multi fungsi yang ergonomis. Multi fungsi karena posisi pisau dapat diatur sesuai dengan kebutuhan. Ergonomis karena ukurannya memakai antropometri petani. Produktivitas kerja meningkat cukup signifikan saat pisau bajak jenis ini diaplikasikan pada tanah lahan kering.
PEMBERDAYAAN POTENSI WISATA DALAM MENINGKATKAN PENDAPATAN MASYARAKAT DESA PEKRAMAN NEGARA, BATUAN, SUKAWATI GIANYAR I Nyoman Meirejeki; I Ketut Suarta; I Gede Nyoman Suta Waisnawa; I Made Widiantara; A. Agung Putu Swabawa
Bhakti Persada Jurnal Aplikasi IPTEKS Vol 4 No 2 (2018): November 2018
Publisher : P3M Politeknik Negeri Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (860.413 KB) | DOI: 10.31940/bp.v4i2.1187

Abstract

Pengabdian ini dilakukan di Desa Pekraman Negara, desa Batuan, sukawati, Gianyar. Tujuan dari pengabdian ini adalah untuk mengidentifikasikan potensi dan daya tarik dan merancang jalur trekking sebagai produk wisata unggulan yang akan ditawarkan di desa pekraman Negara. Metode pelaksanan pengabdian dan pengumpulan data yang digunakan adalah metode: observasi, wawancara, focus group discussion, partisipatory research action,dan pendampingan. dengan menggunakan judgement sampling method. Sedangkan analisis data menggunakan analisis deskriptif dan analisis sintesis. Berdasarkan hasil pembahasan menunjukkan bahwa di desa pekraman Negara terdapat potensi wisata yang bisa dikembangkan menjadi produk wisata, yaitu; 1). sumber daya alam yang berupa: sungai, sawah, dan tebing, 2) sumber daya budaya yang berupa: tempat beribadah, upacara tradisional, benda hasil karya seni dan kegiatan budaya, dan rumah adat tradisional Bali. Sarana pariwista yang sudah eksis berupa: usaha kuliner, yoga, gallery lukisan dan gallery gold & silver. Produk wisata yang dibangun dalam pengabdian ini adalah jalur trekking yang proses pelaksanaanya: identifikasi potensi dan menentukan tempat signage, pembuatan signage, penataan jalur trekking, pemasangan signage, pembentukan kelembagaan, dan membuat program marketing. Implikasi dari pembuatan jalur trekking dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa pekraman Negara
PEMBERDAYAAN PETANI RUMPUT LAUT DI PANTAI PANDAWA DESA KUTUH KECAMATAN KUTA SELATAN BADUNG – BALI I Nyoman Meirejeki; I Ketut Sadia; Ida Ayu Elistyawati
Bhakti Persada Jurnal Aplikasi IPTEKS Vol 1 No 1 (2015): November 2015
Publisher : P3M Politeknik Negeri Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1223.523 KB)

Abstract

IbM Rumput laut di Desa Kutuh ini bertujuan untuk menjaga eksistensi petani rumput laut di Pantai Pandawa dan mengusahakan agar terjadi sikronisasi yang saling menguntungkan antara kegiatan kelompok petani rumput laut yang telah lebih dahulu ada dengan kegiatan pariwisata sehingga dapat meningkatkan pendapatan petani rumput laut. Ada 275 orang pembudidaya rumput laut di Desa Kutuh yang terbagi kedalam empat kelompok, pada program ini yang diambil hanya dua kelompok yaitu kelompok Tani Mertha Sari yang beranggotakan 65 orang dan Kelompok Tani Segara Mertha yang beranggotakan 67 orang. Permasalahan yang mereka hadapi adalah gagal panen karena diserang penyakit ice-ice dan dimakan oleh ikan baronang sehingga sempat para petani rumput laut beralih profesi ke pariwisata. Selain masalah hama masalah lain yang dihadapi adalah pengeringan hasil panen yang apabila telat dalam pengeringan rumput laut menjadi rusak apalagi musim hijan, masalah pendanaan mengingat harga bibit rumput laut cukup mahal, masalah berikutnya adalah petani rumput laut belum bisa memanfaaatkan sektor pariwisata yang begitu sangat berkembang sebagai sumber pendapatan dari budidaya rumput laut, serta masalah pengolahan hasil panen yang lebih bervariasi. Untuk mengatasi masalah tersebut kami telah sepakat dengan kedua kelompok tani tersebut untuk memulai dengan pengadaan bibit sebagai pancingan sehingga mereka bersemangat kembali menanam rumput laut, bersama-sama membuat alat pengering rumput laut sehinga hasil panen tidak banyak yang rusak, membuat kripik rumput laut untuk dipasarkan kepada wisatawan yang berkunjung kepantai Pandawa, sehingga ada oleh- oleh khas pantai Pandawa, membuat buku panduan budidaya rumput laut, membuat paket wisata rumput laut, melatih bahasa inggris dan etika profesi serta membuat brosur sehingga petani rumput laut bisa saling menunjang dengan kegiatan pariwisata. Petani rumput laut bisa mendapat manfaat dari pariwisata dan pariwisata juga mendapat manfaat dari petani rumputlaut. Dari kegiatan ini diharapkan pendapatan petani rumput laut bukan hanya dari industri, dan pengolahan yang dilakukan tetapi juga dari sektor pariwisata.
PEMBERDAYAAN PETANI ASPARAGUS DESA PELAGA, KECAMATAN PETANG, KABUPATEN BADUNG, PROVINSI BALI I Ketut Suarja; Ida Ayu Elistyawati; Ni Ketut Bagiastuti
Bhakti Persada Jurnal Aplikasi IPTEKS Vol 3 No 1 (2017): Nopember 2017
Publisher : P3M Politeknik Negeri Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (407.99 KB)

Abstract

Program Iptek bagi Masyarakat (IbM) asparagus di Desa Pelaga ini bertujuan untuk menjaga eksistensi petani asparagus di Desa Pelaga dan  mengusahakan  agar  terjadi sikronisasi yang saling menguntungkan antara kegiatan kelompok petani asparagus dan kegiatan pariwisata sehingga dapat meningkatkan pendapatan petani asparagus. Ada 50 orang pembudidaya asparagus di Desa Pelaga yang terbagi ke dalam delapan banjar. Pada program ini yang diambil hanya di Banjar Bukian yang beranggotakan 25 orang. Permasalahan yang mereka hadapi adalah keterbatasan petani dalam mengolah hasil panen untuk menjadi makanan yang bisa disajikan untuk wisatawan. Selain itu, petani asparagus juga tidak mampu memprediksi keadaan cuaca yang sangat ekstrim, seperti: hujan dan angin ribut.  Tidak hanya itu,  pendanaan juga menjadi masalah, mengingat biaya pembuatan rumah plastik cukup mahal. Masalah berikutnya adalah petani asparagus belum bisa memanfaatkan sektor pariwisata yang sangat berkembang sebagai sumber pendapatan dari budidaya asparagus, serta masalah pengolahan hasil panen yang lebih bervariasi. Untuk mengatasi masalah tersebut kami telah sepakat dengan petani yang terdapat di Banjar Bukian tersebut untuk memulai dengan: pengolahan pascapanen  sebagai pancingan, sehingga mereka bersemangat kembali menanam asparagus; bersama-sama membuat rumah plastik sebagai peneduh tanaman asparagus, sehingga hasil panen tidak banyak yang rusak; mengolah asparagus menjadi soup internasional dan pepes asparagus untuk dipasarkan kepada wisatawan yang berkunjung ke Desa Pelaga, sehingga ada oleh-oleh khas Desa Pelaga; membuat buku panduan pengembangan asparagus; pengelohan pascapanen; membuat  paket  wisata asparagus;  melatih  bahasa Inggris  dan  etika profesi serta membuat brosur, sehingga petani asparagus bisa saling menunjang dengan kegiatan pariwisata. Petani asparagus bisa mendapat manfaat dari pariwisata dan pariwisata juga mendapat manfaat dari petani asparagus. Dari kegiatan ini diharapkan pendapatan petani asparagus tidak hanya dari industri dan pengolahan yang dilakukan, tetapi juga dari sektor pariwisata.
PEMANFAATAN KULIT KAKAO MELALUI MESIN PENCACAH DAN PENGHANCUR, PADA SUBAK ABIAN DAN KELOMPOK TERNAK GUBUG I Ketut Suherman; Achmad Wibolo; I Nengah Darma Susila
Bhakti Persada Jurnal Aplikasi IPTEKS Vol 2 No 1 (2016): Nopember 2016
Publisher : P3M Politeknik Negeri Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (148.382 KB)

Abstract

Kegiatan Program Iptek bagi Masyarakat (IbM) dilakukan dengan tujuan ingin mengatasi berbagai permasalahan yang dihadapi oleh mitra kelompok petani Kakao ”Subak Abian Gubug” sehingga dapat mengatasi peningkatan jumlah limbah kulit buah kakao agar dapat diolah menjadi pakan ternak. Melihat permasalahan mitra tersebut terutama pada saat proses penanganan kulit buah kakao pascapanen, maka dicoba untuk mengaplikasikan mesin pencacah dan penggiling (penghancur) kulit buah kakao menjadi dedak sebagai pakan ternak tambahan yang bisa disimpan. Prosesnya adalah limbah kulit buah kakao dimasukkan melalui lubang masuk mesin pencacah sehingga akan tercacah menjadi ukuran yang kecil-kecil (± 1 cm) lalu dilakukan permentasi sesuai dengan kebutuhan untuk menjadikan pakan ternak. Setelah proses permentasi kulit buah tersebut dikeringkan dengan cara diangin-anginkan, kemudian barulah kulit buah kakao tersebut diproses penggilingan dengan menggunakan mesin penggiling (penghancur) sehingga memperoleh hasil seperti dedak. Berdasarkan luaran yang diharapkan dari program ini maka hasil yang telah dicapai dalam pelaksanaan adalah indikator limbah kulit buah kakao dapat dilihat dengan dari hanya dibuang menjadi dimamfaatkan. Indikator metode pemberian pakan dari diberikan langsung kepada ternak menjadi diolah untuk dijadikan dedak sehingga bisa dicampur dengan pakan lainnya. Indikator nilai ekonomi diketahui dari kulit buah yang tidak bisa disimpan menjadi bisa disimpan sehingga bisa digunakan pada saat diperlukan atau memungkinkan untuk dijual kepada peternak yang membutuhkan
PENATAAN ADMINISTRASI DESA DENGAN PEMBUATAN BUKU ALAMAT TINGGAL PENDUDUK BANJAR KERTASARI DI KANTOR KEPALA DESA SIDAKARYA DENPASAR Wayan Suryathi; Ketut Suciani
Bhakti Persada Jurnal Aplikasi IPTEKS Vol 1 No 1 (2015): November 2015
Publisher : P3M Politeknik Negeri Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (252.964 KB)

Abstract

Keberadaan penduduk diberbagai wilayah desa, kecamatan maupun kota memerlukan suatu pengawasan dan pengaturan melalui administrasi desa yang dikelola oleh pengurus desa masing-masing. Kedatangan penduduk ke kota Denpasar sebagai tempat yang menyediakan sarana pendidikan, sarana perkantoran, sarana berbagai usaha, sarana kesehatan, sarana seni dan budaya telah mempengaruhi peningkatan tempat pemukiman baru bagi penduduk. Selain rumah tinggal terdapat beberapa rumah kos dan sewa, yang berada disekitar wilayah tempat tinggal penduduk. Demikian juga kondisi ini merupakan masalah baru bagi wilayah tempat tinggal di Desa Sidakarya, yang telah mengalami perubahan drastis menyangkut pemukiman penduduk, sehingga diperlukan penataan dan penyesuaian beberapa kelengkapan administrasi yang akan memudahkan pengurus desa melayani penduduk dan masyarakat sekitarnya. Pembuatan buku alamat tinggal penduduk Banjar Kertasari di Kantor Kepala Desa Sidakarya merupakan salah satu solusi untuk melengkapi sarana administrasi desa yang sudah ada dengan menambah model buku alamat tinggal penduduk yang sistematis sebagai pedoman mengetahui dengan cepat, mudah dan jelas keberadaan dan identitas penduduk di suatu tempat tinggal, terutama pemukiman dengan alamat yang baru. Buku alamat tinggal tersebut disusun selama satu minggu di Kantor Kepala Desa secara terjadwal setiap harinya oleh duapuluh enam orang dosen Jurusan Administrasi Niaga. Dalam buku alamat tempat tinggal penduduk tersebut terdiri dari 28 halaman dimulai adanya peta Desa Sidakarya, dilanjutkan dengan halaman yang menguraikan nama penduduk pada masing-masing kelompok perumahan. Dari Buku alamat tinggal tersebut jelas tercantum nama kelompok perumahan baru dan kepala keluarga yang bermukim di wilayah tersebut. Dengan adanya buku alamat tinggal penduduk yang dibuat oleh dosen Jurusan Administrasi Niaga di Kantor Kepala Desa Sidakarya, dapat membantu aparat desa apabila ingin mengetahui keberadaan seorang penduduk pada setiap tempat pemukiman. Selain itu dapat melengkapi sarana administrasi pencatatan penduduk yang lebih praktis disamping buku induk kependudukan yang telah ada
PENGEMBANGAN DESA WISATA MELALUI PENINGKATAN KUALITAS SDM DAN PEMANFAATAN BAHAN BAKU LOKAL DI DESA WISATA BELIMBING, TABANAN I Nyoman Meirejeki; I Wayan Jendra; I Dewa Gede Ari Pemayun; A. A Putu Swabawa
Bhakti Persada Jurnal Aplikasi IPTEKS Vol 4 No 1 (2018): Mei 2018
Publisher : P3M Politeknik Negeri Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (711.05 KB) | DOI: 10.31940/bp.v4i1.852

Abstract

Mitra sasaran program PPM ini adalah masyarakat dan pengelola pariwisata di Desa Wisata Belimbing yang berlokasi di Kecamatan Pupuan Kabupaten Tabanan Bali. Desa ini baru ditetapkan sebagai desa wisata tepatnya bulan oktober tahun 2014, memiliki banyak potensi wisata seperti, air terjun, warisan budaya, alam, aktraksi wisata seperti pembuatan gula merah, kue dan makanan tradisional yang ada di desa. Tujuan dari pelaksanaan program pemberdayaan ini adalah untuk memberdayakan masyarakat terutama dalam mengelola potensi wisata yang ada melalui pelatihan dan penyajian menu welcome drink dari bahan baku lokal, penataan rute trekking, pelatihan pembuatan dan penyajian breakfast, pelatihan bahasa inggris praktis dan pembuatan buku percakapan praktis untuk pemilik rumah yang desewakan kepada tamu, pembuatan dan pemasaran paket wisata. Dengan adanya program pemberdayaan ini diharapkan bisa membantu meningkatkan kemampuan komunikasi para pelaku wisata dan anggota kelompok sadar wisata di desa Belimbing dan dapat memberikan pelayanan yang memuaskan, yang nantinya diharapkan para wisatawan, untuk kedepannya lebih banyak mengunjungi desa Belimbing baik untuk trekking maupun untuk menginap di sarana akomudasi yang ada di desa Belimbing peningkatan keahlian dan keterampilan para ibu PKK desa Belimbing dalam pembuatan welcome drink dan breakfast serta peningkatan kualitas layanan yang diberikan kepada wisatawan yang berkunjung ke desa Belimbing, dan peningkatan kemampuan manajemen para pengelola jalur trekking dalam menciptakan jalur trekking yang lebih tertata dengan baik yang dapat memberikan kenyamanan dan keamanan bagi wisatawan yang travelling ke desa Belimbing. Sedangkan manfaat yang diperoleh dari pelatihan ini berupa: 1) dapat memperkaya kemampuan intelektual demi meningkatkan kompetensi saat memasuki dunia kerja terutama menyikapi perkembangan pariwista di desa Belimbing, 2) dapat mengembangkan produk wisata kreatif yang efektif yang ditawarkan kedepannya dengan memanfaatkan bahan lokal dan potensi yang ada di desa 3) dapat membantu para penglola jalur trekking untuk mengembangkan jalur trekking dengan desain yang lebih etraktif