cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
bhaktipersada@pnb.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kab. badung,
Bali
INDONESIA
Bhakti Persada Jurnal Aplikasi IPTEKS
Published by Politeknik Negeri Bali
ISSN : 24774022     EISSN : 25805606     DOI : http://dx.doi.org/10.31940/bp
Core Subject : Education,
Focus and Scope: - The result of applied research of sciences, technology, and arts - The result of social services to the society
Arjuna Subject : -
Articles 72 Documents
DIVERSIVIKASI DESAIN GUNA MENINGKATKAN PRODUKTIVITAS PENGERAJIN LIMBAH DRUM BEKAS I Made Rajendra; I Ketut Suherman; NK Dessy Hariyanti; I Made Sudana; IGN Suta Waisnawa; IA Dwita Krisna Ari
Bhakti Persada Jurnal Aplikasi IPTEKS Vol 3 No 1 (2017): Nopember 2017
Publisher : P3M Politeknik Negeri Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (822.184 KB)

Abstract

Salah satu produk karya seni yang lahir melalui sebuah proses kreatif adalah kerajinan berbahan dasar drum bekas pelumas yang keberadaannya saat ini mulai dilirik oleh wisatawan mancanegara. Kerajinan ini berpusat di Desa Tegalalang, Kabupaten Gianyar. Produk karya seni yang dihasilkan oleh pengerajin ini berupa hiasan dinding dengan motif yang bervariasi, seperti: bentuk bunga, frame kaca cermin, berbagai jenis motif satwa, seni instalasi berbentuk robot dari plat drum dan suku cadang kendaraan bekas. Akan tetapi, Â produk karya seni berupa handy craft ini dari segi jumlah dan varian desainnya masih terbatas. Desain yang diproduksi masih terpaku pada bentuk-bentuk baku dengan teknik pengerjaan yang masih kasar. Hal ini dapat dilihat pada hasil pemotongan, pengelasan dan permainan bentuk yang kurang bervariasi, sehingga produk-produk yang dihasilkan oleh pengerajin belum terlihat adanya pembaharuan yang signifikan dan produktivitasnya masih rendah. Melalui PPM (Program Pemberdayaan Masyarakat) diupayakan mendorong produktivitas dengan memberikan pelatihan-pelatihan yang sesuai dengan kebutuhan, di antaranya: pelatihan diversivikasi desain, brainstorming ide-ide baru, pengenalan produk nirmana, pelatihan pengelasan, dan chrome. Hasil pelatihan ini telah mampu menambah ragam produk dengan melahirkan 2 (dua) produk baru yang inovatif dengan kualitas semakin baik, sehingga produktivitas diukur dari jumlah jenis produk dapat dikatakan telah meningkat. Â
PEMETAAN SITUASI DAN PENGUKURAN BEDA TINGGI, HAMMER TEST DAN PENYELIDIKAN TANAH DI PURA PRAPAT NUNGGAL KELURAHAN BENOA I Nyoman Anom Purwa Winaya; I Wayan Dana Ardika
Bhakti Persada Jurnal Aplikasi IPTEKS Vol 2 No 1 (2016): Nopember 2016
Publisher : P3M Politeknik Negeri Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (165.713 KB)

Abstract

Perkembangan pembangunan untuk fasilitas sarana dan prasarana pembangunan untuk parahyangan suci sangat cepat berkembang. Konteks sarana dan prasarana konsepnya memperbaiki tataletak dan fasilitas yang akan disediakan. Misalnya, apabila dilihat di Pura Kahyangan Jagat Besakih fasilitas disediakan sangat lengkap mulai sarana peristirahatan sampai sarana kebersihan. Akan tetapi, belum semua pura memiliki sarana dan prasarana yang lengkap. Pura Prapat Nunggal adalah salah satunya. Pura Prapat Nunggal merupakan salah satu pura yang terletak di tengah kawasan hutan mangrove masuk dalam kawasan Kelurahan Pedungan. Salah satu permasalahan yang dihadapi adalah : 1) belum adanya masterplan pura mulai dari jalan akses, pelinggih di jeroan termasuk pelinggih patok, 2) pembuatan jalan akses dengan teknologi beton mulai dari pondasi dan plat penghubung, 3) Rencana Anggaran Biaya, 4) penetapan areal parkir, dan 5) analisis perkuatan untuk pelinggih patok yang mengalami penurunan pondasi. Pengempon Pura Prapat Nunggal memiliki paiketan yang diberi nama PASEPAN (Paiketan Pasemetonan Pura Prapat Nunggal), sedangkan organisasi pembangunannya diberi nama Panitia Pembangunan Pura Prapat Nunggal. Jurusan Teknik Sipil melalui: a) Laboratorium Ilmu Ukur Tanah, b) Laboratorium Material, dan c) Laboratorium Tanah, membantu dengan menggunakan metode pemetaan situasi, test ”Hammer”, perhitungan RAB (Rencana Anggaran Biaya), ”Uji Sondir dan Boring”. Pemetaan yang dilakukan dengan menggunakan alat dengan nama: Total Station, prisma, patok polygon, water pass, meteran, sedangkan untuk uji kualitas beton menggunakan alat tembak yaitu “Hammer” dan alat sondir dan Bor. Kegiatan pengabdian masyarakat dilakukan selama sehari pada hari Minggu tanggal 27 Agustus 2014 yang dimulai dari pukul 08.00 sampai dengan pukul 14.00. Hasil pemetaan menyatakan bahwa luasan kawasan Pura Prapat Nunggal adalah 1.000 m2 (10 are). Bangunan utama atau utama mandala adalah 800 m2, jalan penghubung 100 m2, pelinggih patok 50 m2, dan kamar mandi 50 m2. Berdasarkan hasil sondir dan boring bahwa kedalaman daya dukung tanah untuk beban bangunan tidak didapatkan karena jenis tanah lempung atau rawa-rawa sehingga alternatif dari tim struktur adalah dengan pondasi sumuran dengan buis beton dan membandingkan gaya gesek atau friction dengan beban yang direncanakan. Hal ini juga berlaku untuk perkuatan pelinggih patok, begitu dilakukan uji ”Hammer” didapatkan semua karakteristik beton di atas 175 kg/cm2. Hal ini menandakan bahwa pada saat konstruksi dulu kualitas beton sudah memenuhi syarat namun dari sisi pondasi yang tidak memenuhi syarat artinya, pondasi yang direncanakan tidak sesuai dengan beban yang ditopang sehingga salah satu sisi mengalami penurunan. Setelah mendapatkan data semua perencanaan RAB (rencana anggaran biaya ) didapatkan bahwa : 1. Pekerjaan Pembuatan Jalan Setapak Rp 80.000.000,00 (delapan puluh juta rupiah), 2. Pekerjaan pembuatan parkir luas 240 m2 Rp 1.800.000.000,00 (satu koma delapan milyar rupiah), dan 3. Perkuatan pelinggih patok Rp 50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah). Total pembangunan sekitar Rp 1.930.000.000,00 (satu milyar sembilan ratus tiga puluh juta rupiah).
MEKANISASI BUDIDAYA JAMUR TIRAM PUTIH UNTUK MENINGKATKAN KAPASITAS PRODUKSI PETANI Made Rasta; Putu Wijaya Sunu; I Wayan Adi Subagia; I K Widana
Bhakti Persada Jurnal Aplikasi IPTEKS Vol 4 No 2 (2018): November 2018
Publisher : P3M Politeknik Negeri Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (463.167 KB) | DOI: 10.31940/bp.v4i2.1021

Abstract

Mushrooms are one type of food that needs attention regarding community food security. White oyster mushroom (Pleurotus ostreatus) is currently quite popular and much loved by the public because of its delicious taste and high nutritional value. Aside from being a food ingredient, oyster mushrooms are also useful as health or medicine. White oyster mushroom cultivation is one of the agribusiness businesses that have a large business opportunity because it has an increasing economic value. Pleurotus ostreatus is known as a fungus that is easily cultivated and is widely developed on wood substrate media that has been packaged in plastic bags and then incubated and maintained in a contact house. On the other hand, the presence of mushroom commodities in the market is still scarce, the scarcity of mushrooms due to the lack of mushroom cultivation producers and the activity of mushroom production is not optimal. Partner problems are an understanding of innovation and technology that supports and can help ease the work of mushroom cultivation to increase production is still limited. The aim to be realized from this activity is to strengthen and increase the capacity of innovation and technology in mushroom cultivation so that the productivity and economy of mushroom farmers can be increased. In order to overcome these obstacles an automatic temperature and humidity regulation system, baglog press machine and training on machine operation and marketing management are carried out. The results of the Community Partnership Program (PKM) activities are the availability of mushroom house temperature and humidity control machines, baglog press machines. So that is expected to increase production and have an impact on the economy of mushroom farmers that are getting better.
PEMBERDAYAAN USAHA KAIN TENUN IKAT DI DESA SUKAHET SIDEMEN KARANGASEM DENGAN E-COMMERCE I G P Fajar Pranadi Sudhana; Made Suardani; I Gusti Agung Bagus Mataram
Bhakti Persada Jurnal Aplikasi IPTEKS Vol 1 No 1 (2015): November 2015
Publisher : P3M Politeknik Negeri Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (752.073 KB)

Abstract

Pulau Bali merupakan salah satu dari kepulauan Indonesia yang sangat terkenal di seluruh dunia.Keterkenalan Bali ini terutama disebabkan oleh kehidupan penduduknya yang memliki corak kebudayaan yang nik dan dikagumi leh wisatawan yang dating keBali. Kain Tenun bukan hanya buah keterampilan turun-temurun bagi masyarakat Bali, melainkan juga bentuk identitas kultural dan artefak ritual. Di luar lingkup tradisi masyarakat daerah tujuan wisata, kain tenun Bali pun tidak sebatas cendera mata atau sekedar oleh-oleh khas Bali semata, tetapi terus berkembang sebagai komoditas ke dunia fashion yang berbasiskan budaya. Sebenarnya di kalangan masyarakat Bali, Desa Sidemen dikenal sebagai penghasil kain tenunikat endek dansongket yangmemiliki motif khas berbasis budaya dan adat bernuansa alam dengan garapan yang terkenal detail dan kehalusannya.Desa sukahet merupakan salah satu desa di kecamatan Sidemen. Seperti desa-desa lainnya di Sidemen, Desa Sukahet dulunya juga adalah penghasil kain tenun songket dan endek .Pekerjaan menenun adalah pekerjaan sampingan yang dilakukan disamping pekerjaan utama sebagai petani.Murahnya ongkos tenun dikarenakan tenaga yang ada hanya bisa melakukan pekerjaan tenun saja membuat industri tenun di desa Sukahet menjadi kurang bergairah. Padahal untuk dapat menghasilkan kain tenun dibutuhkan beberapa proses seperti proses perancangan motif, pengikatan motif ,pewarnaan, dan yang terakhir adalah penenunan. Biasanya penenun mendatangkan ahlinya dari luar atau membeli bahan baku yang sudah diikat motifnya dan diwarna.Selain ongkos tenun yang murah, harga jual yang lebih murah juga menjadi salah satu kurang bergairahnya industri Tenun tradisional di desa Sukahet karena kain tenun yang dihasilkan selama ini hanya dipasarkan ke pedagang kain di pasar tradisional dan pengepul.Melalui program IbM ini kami akan berusaha membantu masyarakat menggali potensi yang dimiliki untuk menggairahkan kembali industri tenun tradisional secara berkelanjutan yang nantinya dapat memberikan manfaat bagi masyarakat di desa yang kami jadikan sasaran program. Alternatif solusi yang ditawarkan adalah manyelenggarakan pelatihan teknik perancangan motif, teknik pengikatan motif, pewarnaan dan teknik tenun yang baik, pelatihan teknologi informasi, pelatihan pembuatan brosur, membangun website e-commerce sebagai alat pemasaran global, artikel ilmiah untuk dipublikasikan dijurnal ilmiah nasional dan poster untuk bahan seminar nasional. Melalui program IbM ini diharapkan dapat meningkatkan profesionalisme pengelolaan usaha dengan bergairahnya kembali industri tenun tradisional di desa sasaran dan terbangunnya jaringan pemasaran produk secara konvensional dan modern dengan bantuan teknologi informasi.
PENINGKATAN KUALITAS LAYANAN PEDAGANG PASAR SENI GUWANG DI DESA GUWANG, SUKAWATI, GIANYAR I Dewa Gede Ari Pemayun; I Nyoman Meirejeki; Anak Agung Swabawa
Bhakti Persada Jurnal Aplikasi IPTEKS Vol 3 No 1 (2017): Nopember 2017
Publisher : P3M Politeknik Negeri Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1462.881 KB)

Abstract

Pelatihan bahasa Mandarin, etika profesi wira usaha, dan pemasaran on line dilaksanakan di desa Guwang yang bertujuan meningkatkan kualitas layanan, diberikan kepada para pedagang yang berjualan di pasar seni Guwang Sukawati. Pelatihan ini secara operasional berlangsung selama 4 hari dari tanggal 17 - 20 Mei 2017, di mana metode yang digunakan berupa: ceramah, Tanya jawab, dan metode percakapan. Untuk pelatihan etika profesi menggunakan metode cermah dan metode simulasi, sedangan untuk pelatihan pemasaran on line menggunakan metode ceramah dan praktek langsung menggunakan lap top. Luaran yang dihasilkan berupa sasaran yang ingin dicapai yang meliputi: peningkatan kemampuan para pedagang untuk berkomunikasi dalam bahasa Mandarin dengan wisatawan China secara efektif, peningkatan kualitas layanan yang diberikan kepada wisatawan yang berkunjung ke pasar seni seni Guwang dan peningkatan kemampuan menggunakan internet dalam mempromosikan pasar seni dan semua jenis barang yang dijualnya. Sedangkan manfaat yang diperoleh dari pelatihan ini berupa: 1) dapat memperkaya kemampuan intelektual demi meningkatkan kompetensi saat memasuki dunia kerja terutama menyikapi perkembangan pesat ekonomi Tiongkok dan globalisasi, 2) dapat menjaga martabat serta kehormatan profesi, dan melindungi masyarakat dari segala bentuk penyimpangan maupun penyalah-gunaan kehlian, sehingga dapat  meningkatkan kesadaran untuk memberikan pelayanan sesuai dengan kebutuhan wisatawan, 3) dapat membantu para pebisnis untuk menciptakan strategi pemasaran secara tepat
PEMBERDAYAAN UKM KERAJINAN SENI UKIR BATU PADAS DUSUN SILAKARANG BALI putu adi suprapto; Kadek Cahya Dewi; Ni Wayan Dewinta Ayuni
Bhakti Persada Jurnal Aplikasi IPTEKS Vol 2 No 1 (2016): Nopember 2016
Publisher : P3M Politeknik Negeri Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (282.319 KB)

Abstract

Kerajinan seni ukir batu padas merupakan salah satu kesenian tradisional Bali yang sudah mulai tumbuh pada masa kerajaan. Pada perkembangannya, pengrajin seni ukir batu padas mudah ditemui dan merupakan mayoritas usaha atau profesi yang dijalankan oleh masyarakat di Dusun Silakarang, Desa Singapadu Kaler, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar, Provinsi Bali. Hasil observasi awal terdapat beberapa kendala yang dihadapi oleh pengrajin, seperti keterbatasan alat bantu produksi, pemasaran, dan tidak adanya pengelolaan keuangan yang dilakukan oleh pengrajin/mitra. Berdasarkan permasalahan yang dihadapi tersebut, penulis melaksanakan pemberdayaan UKM Kerajinan Ukir Batu Padas yang dilakukan secara bertahap mulai dari manajemen produksi, pemasaran dengan menggunakan website, dan pelatihan manajemen keuangan. Kegiatan diawali dengan sosialiasasi, pemberian peralatan kerja sebagai alat bantu produksi seperti mesin gergaji jigsaw, mesin gerinda (grinder), alat angkut, pahat lengkap, pembuatan dan pelatihan penggunaan website sebagai media pemasaran serta pelatihan manajemen keuangan. Tujuan kegiatan ini adalah untuk meningkatkan jumlah produksi dan pendapatan, peningkatan pemahaman pengrajin mengenai pemasaran dengan media website, serta pemahaman dalam manajemen keuangan pengrajin. Hasil dari kegiatan ini, pengrajin telah dapat meningkatkan jumlah produksi sebesar 80%, meningkatkan pendapatan hingga 70%, telah dapat melakukan upload foto produk ke dalam website serta dapat melakukan transaksi secara online. Lebih lanjut pengrajin saat ini juga telah mampu membuat laporan keuangan sederhana per bulan guna mengetahui jumlah pendapatan dan keuntungan usahanya.
PEMBERDAYAAN MASYARAKAT MELALUI PELATIHAN PENGOLAHAN MASAKAN SEAFOODS UNTUK MENUNJANG PARIWISATA DI DESA WISATA SERANGAN I Made Darma Oka; I Nyoman Winia; I Wayan Pugra
Bhakti Persada Jurnal Aplikasi IPTEKS Vol 1 No 1 (2015): November 2015
Publisher : P3M Politeknik Negeri Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (570.912 KB)

Abstract

Desa Serangan merupakan salah satu destinasi wisata yang sudah terkenal di pulau Bali baik oleh wisatawan nusantara maupun wisatawan mancanegara. Keberadaan kawasan ini sangat strategis karena berada diantara dua destinasi wisata utama yaitu kawasan pariwisata Nusa Dua di selatan dan kawasan pariwisata Sanur berada di belahan timur dayanya. Desa Serangan berada 10 km dengan pusat Kota Denpasar. Desa Serangan sangat potensial untuk dikembangkan menjadi desa karena memiliki daya tarik wisata yang unik seperti keindahan alam pantai yang berpasir putih serta usaha pelestarian hewan langka penyu. Perekonomian masyarakat desa Serangan adalah dominan dari kegiatan kelautan dan perikanan. Kegiatan perekonomian tersebut terdiri atas berbagai kegiatan terkait dengan bidang perikanan yaitu adanya kelompok nelayan pantai yang menangani terumbu karang, kelompok nelayan yang menangani keramba, dan kelompok nelayan lepas pantai untuk menangkap ikan di laut lepas. Namun hasil masyarakat tersebut belum terkelola secara professional, sehingga belum mampu memberikan manfaat maksimal terhadap kesejahteraan masyarakat. Oleh karena itu diperlukan pendidikan dan pelatihan terhadap masyarakat desa Serangan khususnya ibu-ibu PKK sehingga mampu meningkatkan nilai jual dari hasil perikanan para nelayan lokal. Kegiatan pelatihan oleh tim Food and Beverages Division Politeknik Negeri Bali terhadap masyarakat lokal (ibu-ibu PKK) telah mampu meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan mereka dalam mengolah makanan berbahan dasar ikan laut dalam usaha mendukung sektor pariwisata yang berkembang di desa Serangan.
PENGEMBANGAN HILIRISASI PRODUK KOPI ARABIKA KINTAMANI Ni Gusti Ayu Putu Harry Saptarini; I Made Agus Putrayasa
Bhakti Persada Jurnal Aplikasi IPTEKS Vol 5 No 1 (2019): Mei 2019
Publisher : P3M Politeknik Negeri Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (862.079 KB) | DOI: 10.31940/bp.v5i1.1076

Abstract

Kecamatan Kintamani merupakan sentra pengembangan Kopi Arabika yang ditunjukkan oleh adanya beberapa usaha mikro yang memproduksi kopi bubuk. Di antara pengusaha kopi yang sekaligus merupakan petani tersebut adalah I Ketut Jati dan I Dewa Ayu Putri Asih Banjar. Saat ini, kedua mitra tersebut menghadapi kendala dari sisi produksi, pemasaran, dan juga manajemen seperti kurangnya peralatan kemasan, sedikitnya pelanggan, serta tidak adanya manajemen keuangan yang baik. Usaha mereka memiliki kelemahan dalam menjaga mutu produksi sehingga kualitas kopi yang dihasilkan pun rendah. Dalam pemilihan biji kopi yang akan diolah, tidak ada standar kematangan yang diterapkan. Dalam hal ini, biji yang masih hijau sampai dengan biji yang mau jatuh pun juga dipakai. Selain itu, pemasaran yang dilakukan kedua mitra ini tidak efektif dan belum meluas. Teknik pemasaran dilakukan masih secara konvensional yaitu hanya dengan menjajakan produk di beberapa warung, dititipkan ke kolega yang kebetulan pameran, serta menunggu konsumen ataupun reseller yang datang. Hal ini tentunya menyebabkan penjualan produk yang tidak maksimal dan mengakibatkan keuntungan yang diperoleh kurang memuaskan. Berdasarkan analisis permasalahan di atas, maka dilakukan kegiatan sosialisasi, pemberian bantuan alat produksi, pelatihan manajemen keuangan, pembuatan website, pelatihan pengoperasian website, brosur serta pengajuan pembuatan surat Sertifikat Produksi Pangan Industri Rumah Tangga (SPP-IRT). Indikator capaian menunjukkan bahwa ada peningkatan produksi sebesar 100%, peningkatan jumlah pelanggan sebesar 50%, peningkatan penghasilan sebesar 100%, dan tercapainya manajemen keuangan mitra yang semakin baik. Kata kunci: kopi arabika kintamani, pemasaran online, manajemen keuangan Kintamani sub-district is a center for developing the Arabica Coffee indicated by the existence of several micro coffee industry entrepreneurs. Among those entrepreneurs who are basically farmers are I Ketut Jati and I Dewa Ayu Putri Asih Banjar. At present, these two partners face production, sales, and management obstacles such as lack of packaging equipment, lack of customers, and lack of good financial management. Their businesses have a weakness in maintaining their product quality so that the coffee quality is low. In selecting beans ripe which will be processed, they did not use a standard. In this case, the green coffee beans, as well as those that will be fallen, are also used. Furthermore, the marketing of the two partners is not effective and has not been widespread yet. Their marketing techniques are still carried out conventionally which are by peddling products in several stalls, entrusting sales to colleagues who went for an exhibition, and waiting for consumers or resellers to visit. This certainly leads to not optimal product sales and result in less satisfactory profits. Based on the aforementioned problem analysis, the socialization activities, provision of production tools, financial management training, website creation, website operation training, banners, stamps and brochures and the submission of a letter on the Household Food Production Certificate (SPP-IRT) were made. The indicators of achievement show that there is increased production by 100%, increased number of customers by 50%, increased income by 100%, and a better financial management that meets the standards can also be achieved. Keywords: kintamani arabica coffee, online marketing, financial management
UPAYA PENINGKATAN PRODUKSI DAN PERBAIKAN MANAJEMEN KELOMPOK USAHA KECIL JAMUR TIRAM I B K Sugirianta; A A N G Sapteka; I G Lanang Suta A
Bhakti Persada Jurnal Aplikasi IPTEKS Vol 5 No 1 (2019): Mei 2019
Publisher : P3M Politeknik Negeri Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (792.787 KB) | DOI: 10.31940/bp.v5i1.1351

Abstract

Jamur tiram merupakan salah satu bahan makanan yang mempunyai kandungan gizi yang baik sehingga banyak masyarakat yang senang mengkonsumsinya. Hal ini menyebabkan usaha budidaya jamur tiram menjadi usaha menarik untuk dikembangkan. Jamur tiram akan tumbuh dengan baik pada suhu 22 - 28°C dan kelembaban 80 – 90% RH. Daerah Indonesia umumnya memiliki dua musim, yaitu musim hujan dan musim kemarau. Musim hujan berlangsung sekitar bulan November sampai April, curah hujan sangat tinggi, suhu udara relatif dingin, sekitar 24°-28°C pada siang hari dan 23°-26°C pada malam hari. Sedangkan musim kemarau umumnya berlangsung sekitar bulan Mei sampai Oktober, pada musim ini suhu udara cenderung cukup panas, yaitu sekitar 28°-34°C pada siang hari dan sekitar 21°-25°C pada malam hari. Temperatur udara pada siang hari saat musim kemarau inilah yang jadi masalah bagi pembudidaya jamur tiram. Program IbM (Iptek bagi Masyarakat) ini bertujuan untuk dapat mengkondisikan udara pada saat puncak musim kemarau agar dapat tetap terjaga pada kelembaban 80-90% dan temperatur 22-280 C. Metode yang dipakai adalah dengan memasang sistem pengkondisi udara yang terdiri dari nozle pengkabutan dan exhaust fan. Nozzle kabut berfungsi menyemburkan kabut untuk menaikkan kelembaban dan menurunkan temperatur, sementara exhaust fan berfungsi untuk membuang udara panas keluar kumbung. Kabut dihasilkan oleh 8 nozzles yang mendapatkan suplai air dari pompa air 300 watt dengan tekanan minimal 3 bar. Operasi pompa diatur oleh sebuah mikrokontroller yang mendapatkan input dari sensor kelembaban dan suhu yang dipasang di dalam kumbung jamur. Oyster mushroom is one of the food ingredients that have good nutritional content so that many people are happy to consume it. This makes the cultivation of oyster mushrooms becomes an interesting business to be developed. Oyster mushrooms will grow well at 22 - 28 ° C and 80 - 90% RH. Indonesia generally has two seasons, the rainy season and the dry season. The rainy season lasts between November to April, it has very high rainfall and relatively cool air temperature, around 24 ° -28 ° C during the day and 23 ° -26 ° C at night. Meanwhile, the dry season generally takes from May to October. In this season, the air temperature tends to be quite hot, which is about 28 ° -34 ° C during the day and around 21° -25 ° C at night. Air temperature during the dry season is a problem for oyster mushroom cultivators. This IbM program aims to be able to condition the air during the peak of the dry season in order to stay awake at 80-90% humidity and temperature 22-280 C. The applied method is to install an air conditioning system which consists of a mist nozzle and an exhaust fan. The mist nozzle serves to spray mist to increase the humidity and decrease the temperature, while the exhaust fan has a function to remove the hot air out of the mushroom room. The mist is produced by 8 nozzles which get water supply from 300 watt water pump with minimum pressure 3 bar. Pump operation is controlled by a microcontroller that get input from humidity and temperature sensor that mounted inside the growing mushroom room.
SISTEM PLTS UNTUK PETERNAK AYAM BROILER DI DESA SELANBAWAK, KECAMATAN MARGA, KABUPATEN TABANAN, BALI I Nyoman Sukarma; I Wayan Raka Ardana; I Ketut Pasek
Bhakti Persada Jurnal Aplikasi IPTEKS Vol 5 No 1 (2019): Mei 2019
Publisher : P3M Politeknik Negeri Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (362.035 KB) | DOI: 10.31940/bp.v5i1.1353

Abstract

Usaha ternak ayam broiler I Wayan Antara, sebagai mitra 1, merupakan salah satu pengusaha ternak ayam broiler yang memelihara ayam sebanyak 5.000 ekor dengan kandang ayam berjarak 300 meter dari pemukiman. Usaha ternak ini menggunakan listrik penerangan 200 watt yang disalurkan melalui instalasi kabel dimana sering terjadi gangguan pada sistem penyaluran daya listrik (berkisar 4-5 kali/bulan). Gangguan listrik yang tidak kontinyu dapat meningkatkan prosentase kematian anak ayam, sehingga pada akhirnya hasil panen ayam menurun. Solusi terhadap permasalahan mitra 1 ini adalah dengan memberikan dan memasang instalasi sistem PLTS (Pembangkit Listrik Tenaga Surya) sebagai sumber energi listrik alternatif yang mampu memberikan suplai daya untuk penerangan kandang. Di lain pihak, mitra 2 yaitu I Nyoman Wakil memiliki kandang ayam yang lebih besar dengan kapasitas ayam broiler 12.000 ekor yang terletak berkisar 200 meter dari pemukiman penduduk. Keperluan daya listrik untuk kandang ayamnya bersumber dari listrik PLN yang disalurkan dengan menggunakan kabel melalui area persawahan milik orang lain. Hal ini juga menimbulkan permasalahan terjadinya gangguan suplai daya listrik sehingga sangat mempengaruhi pertumbuhan ayam, bahkan tingkat kematian ayam dapat meningkat. Suplai daya listrik sangat berpengaruh terhadap keberhasilan panen ayam broiler. Baik dari segi biaya operasional maupun tingkat perkembangan pertumbuhan ayam itu sendiri. Dengan pemberian sistem PLTS pada mitra 2 yang diinstalasi langsung di kandang ayam mampu mengatasi permasalahan mitra yang pada akhirnya dapat meningkatkan produksi ayam broiler tersebut. Dari sisi manajamen bisnis usaha ternak, kedua mitra mengelolanya secara sederhana tanpa dilengkapi dengan pencatatan serta dokumentasi yang memadai. Permasalahan ini diatasi dengan memberikan pelatihan tentang manajemen usaha melalui pelatihan intensif langsung kepada mitra. Dengan pelatihan ini, kedua mitra mampu mencatat dan mendokumentasikan semua transaksi dan aktifitas yang terjadi pada usaha ternak ayam mereka. Kata kunci: energi listrik, PLTS, ayam broiler The broiler chicken business of I Wayan Antara, as the first Partner, is one of the broiler chicken businessmen who keep 5,000 chickens with a chicken coop distance of 300 meters from the residential area. This broiler chicken business used 200 watts of electricity transmitted through cable installation where disruptions to the electrical power distribution system frequently occur (4 to 5 times per month). Non-continuous electrical disturbances can increase the percentage of deaths of chicks so that in the end the chicken yield decreases. The solution to partner 1 problem is by providing and installing PVP (Photovoltaic Panel) system installations as an alternative electrical energy source in a chicken coop which capable of providing power supply for cage lighting. On the other hand, the second partner which is I Nyoman Wakil has a larger chicken coop with a capacity of 12,000 broiler chickens which are located around 200 meters from residential areas. The need for electrical power for chicken coops sourced from PLN electricity is channeled using cable through other people's rice fields. This also raises the problem of the occurrence of disturbances in the supply of electrical power which greatly affects the growth of chickens even the death rate of chickens can rise. An electric power supply is very influential on the success of harvesting broiler chickens. Both in terms of operational costs and the level of development of chicken growth itself. By giving the PLTS system to the second partner which was installed directly in the chicken coop, it was able to overcome the partner's problems and ultimately could increase the production of broiler chickens. In terms of livestock business management, both partners manage it simply without being equipped with adequate records and documentation. This problem is addressed by providing training on business management through intensive training directly to partners. With this training, both partners are able to record and document all transactions as well as their activities that occur in the chicken farm business. Keywords: Electric energy, PVP, broiler chicken