cover
Contact Name
Efta Triastuti
Contact Email
efta.triastuti@ub.ac.id
Phone
+62341-569117
Journal Mail Official
pji@ub.ac.id
Editorial Address
Pharmaceutical Journal of Indonesia Department of Pharmacy, Faculty of Medicine, Brawijaya University Jalan Veteran (Kampus Sumbersari) Malang 65145 Tel. (0341) 569117ext 156, 173 ; Fax. (0341) 564755 Website : http://www.pji.ub.ac.id Email :pji@ub.ac.id
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Pharmaceutical Journal of Indonesia
Published by Universitas Brawijaya
ISSN : 2461114X     EISSN : 2461114X     DOI : https://doi.org/10.21776/ub.pji
Core Subject : Health, Science,
Pharmaceutical Journal of Indonesia (PJI) is an online journal which is published twice a year by Department of Pharmacy, Faculty of Medicine, Brawijaya University. The articles published in PJI cover the themes of Clinical and Community Pharmacy, Pharmaceutical Chemistry, Pharmaceutical Technology, and Natural Product Pharmacy/Chemistry.
Articles 155 Documents
Efektivitas Home Pharmacy Care dalam Meningkatkan Pengetahuan dan Kepatuhan Terhadap Pengobatan Pasien Hipertensi (Studi dilakukan selama 3 bulan di Apotek Kota Malang) Illahi, Ratna Kurnia; Hariadini, Ayuk Lawuningtyas; Pramestutie, Hananditia Rachma; Diana, Hilliyah
Pharmaceutical Journal of Indonesia Vol 5, No 1 (2019)
Publisher : Brawijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pengobatan hipertensi dilakukan dalam jangka waktu yang panjang. Karena hal tersebut, seringkali pasien hipertensi memiliki masalah ketidakpatuhan dalam pengobatannya sehingga menyebabkan pasien sulit mengontrol tekanan darahnya. Pengetahuan pasien akan hipertensi juga dapat mempengaruhi tekanan darah. Peningkatan pengetahuan pasien akan mengarah pada kemajuan berfikir tentang perilaku kesehatan yang lebih baik sehingga berpengaruh terhadap terkontrolnya tekanan darah. Salah satu intervensi yang dapat dilakukan untuk meningkatkan pengetahuan dan kepatuhan pasien yaitu home pharmacy care. Pemberian konseling dalam home pharmacy care menyebabkan pasien lebih paham mengenai penyakit hipertensi. Tujuan penelitian ini yaitu mengetahui efektivitas home pharmacy care dalam meningkatkan pengetahuan dan kepatuhan terhadap pengobatan pasien hipertensi di Apotek Kota Malang hingga akhir bulan ke-3. Penelitian ini merupakan penelitian true experimental dengan jenis penelitian menggunakan pre test-post test design. Sampel penelitian adalah pasien hipertensi di Apotek kota Malang yang dibagi menjadi dua kelompok yaitu kelompok kontrol merupakan pasien hipertensi yang mendapatkan konseling oleh apoteker di Apotek dan kelompok eksperimen merupakan pasien hipertensi yang mendapatkan home pharmacy care. Instrumen penelitian yang digunakan berupa kuesioner untuk mengukur pengetahuan menggunakan modifikasi Hypertension Knowledge-Level Scale dan kuesioner kepatuhan menggunakan Morisky Medication Adherence Scale yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya, checklist konseling apoteker sebagai panduan bagi apoteker dalam pelayanan konseling, leaflet untuk mempermudah penerimaan pesan-pesan kesehatan bagi pasien, dan pill box digunakan untuk membantu pasien dalam mengatur pengobatannya. Hasil analisis statistik menunjukkan nilai signifikasi >0,05 sehingga dapat dinyatakan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan antara pengetahuan maupun kepatuhan pasien hipertensi kelompok eksperimen dan kelompok kontrol hingga bulan ke-3.
The Anti-Inflammatory Benefit of Statins for Chronic Obstructive Pulmonary Disease (COPD): Review Article Dewi, Yunita Kristiana
Pharmaceutical Journal of Indonesia Vol 4, No 2 (2019)
Publisher : Brawijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Chronic Obstructive Pulmonary Disease (COPD) is characterized by progressive, minimally reversible airflow limitation and systemic inflammation. Over the last 5 years, there have been  abundant studies proving the benefit of statin in COPD as an anti-inflammatory agent. So far, statin is mostly utilized in cardiology due to its effects of cholesterol reduction, immune system modulation, and anti oxidant. In point of fact, the effects of statin have proven to be advantageous when administered to COPD patients. The aim of this review is to examine the pharmacological mechanism of statins as anti-inflammatory drugs so that they can be considered as therapy in COPD.
Formulasi Sediaan Lotion Ekstrak Etanol Daun Salam (Syzygium polyanthum (Wight) Walp.) dan Penentuan Nilai SPF Secara in Vitro Angling Nurisna Utami
Pharmaceutical Journal of Indonesia Vol. 6 No. 2 (2021)
Publisher : Brawijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.pji.2021.006.02.2

Abstract

Sinar Ultraviolet (UV) merupakan sebagian kecil dari spektrum sinar matahari yang sampai ke permukaan bumi dan paling berbahaya bagi kulit sehingga dibutuhkan tabir surya untuk mencegah gangguan akibat sinar UV tersebut. Daun salam mengandung senyawa fenolik, flavonoid, dan tanin yang berpotensi sebagai tabir surya. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk menentukan formula, karakteristik fisik, dan nilai SPF dari lotion ekstrak etanol daun salam (Syzygium polyanthum (Wight) Walp.). Pada penelitian ini, daun salam diekstraksi dengan metode sonikasi menggunakan pelarut etanol 96%. Ekstrak tersebut diformulasikan dalam bentuk sediaan lotion kemudian dilakukan evaluasi sifat fisik. Selanjutnya dilakukan penentuan nilai SPF pada ekstrak dan sediaan lotion yang mengacu pada persamaan Mansur menggunakan instrumen spektrofotometer UV-Vis. Konsentrasi ekstrak daun salam yang digunakan pada formula sediaan lotion yaitu 0,1% (F­1) dan 0,5% (F­2). Hasil sifat fisik dari sediaan yaitu berwarna krem (F1) dan berwarna hijau kecoklatan (F2), aroma khas ekstrak daun salam, bertekstur lembut dan homogen, memiliki tipe emulsi M/A, daya sebar 5,92 cm (F1) dan 6,05 cm (F2), daya lekat 0,86 detik (F1) dan 0,78 detik (F2), pH 7,82 (F1) dan 7,74 (F2), serta nilai akseptabilitas yang sangat baik. Berdasarkan hasil uji sifat fisik tersebut, lotion ekstrak daun salam memenuhi syarat pada uji homogenitas, daya sebar, dan pH, serta tidak memenuhi syarat pada uji daya lekat. Nilai SPF sediaan lotion ekstrak daun salam yaitu 4,97 (F1) dan 6,72 (F2) dengan tipe proteksi sedang dan ekstra. Semakin tinggi nilai SPF maka semakin tinggi tingkat proteksi terhadap sinar UV sehingga lotion F2 lebih baik dibandingkan F1.
POTENSI α-MANGOSTIN DARI EKSTRAK PERIKARP MANGGIS (Garcinia mangostana L.) DALAM MENGHAMBAT SEKRESI PROTEIN CULTURE FILTRATE PROTEIN (CFP)-10 PADA Mycobacterium tuberculosis H37Rv Yanura, Alify
Pharmaceutical Journal of Indonesia Vol 2, No 1 (2016)
Publisher : Brawijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tuberkulosis (TB) merupakan suatu penyakit yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis yang memiliki permasalahan Multidrug-resistant tuberculosis (MDR-TB) sehingga dibutuhkan adanya agen baru dalam terapi TB yang tidak memiliki potensi tinggi menyebabkan resistensi. Ekstrak perikarp manggis (Garcinia mangostana L.), dengan kandungan aktif α-mangostin, dapat berfungsi sebagai antituberculosis. Penelitian ini merupakan suatu studi eksperimental laboratorik dengan desain post test yang bertujuan untuk mengetahui potensi α-mangostin ekstrak perikarp manggis dalam menghambat sekresi Culture Filtrate Protein-10 (CFP-10), protein yang berperan dalam virulensi dan patogenisitas M. tuberculosis. Skrining fitokimia menunjukkan ekstrak perikarp manggis memiliki kandungan yakni triterpenoid, tannin, polifenol, saponin, alkaloid dan flavonoid. Kuantifikasi menggunakan metode HPLC MS/MS menunjukkan konsentrasi α-mangostin dalam ekstrak sebesar 5984,55 μg/ml. Ekstrak perikarp manggis dengan berbagai konsentrasi 522,25 μg/ml (mengandung α-mangostin 3,125 μg/ml);1044,5 μg/ml (mengandung α-mangostin 6,25 μg/ml); dan 2089 μg/ml (mengandung α-mangostin 12,5 μg/ml) dipaparkan pada media BD BACTEC MGIT 960 SIRE yang telah diinokulasikan M. tuberculosis. Analisis menggunakan SDS PAGE dengan metode pewarnaan Coomassie blue dan Silver stain menunjukkan bahwa ekstrak perikarp manggis dengan konsentrasi 522,25 μg/ml memiliki pita protein yang paling tipis. Uji spesifisitas dengan metode dot blot dan analisis dengan ImageQuant LAS 500 menunjukkan dan mengindikasikan bahwa ekstrak perikarp manggis dengan konsentrasi 522,25 μg/ml memiliki sinyal pembacaan yang paling rendah. Kesimpulan dari penelitian ini adalah ekstrak perikarp manggis dengan konsentrasi 522,25 μg/ml  memiliki potensi penghambatan sekresi CFP-10 yang paling baik di antara perlakuan lainnya.
Uji Efek Antibakteri Ekstrak Air Bunga Nagasari (Mesua ferrea L.) terhadap Isolat Klinis Escherichia coli Resisten Siprofloksasin Jauhari, Ahmad
Pharmaceutical Journal of Indonesia Vol 4, No 2 (2019)
Publisher : Brawijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kasus resistensi Escherichia coli terhadap siprofloksasin pada ISK cukup tinggi sehingga mendorong pengembangan antibakteri alternatif. Nagasari telah digunakan secara tradisional untuk mengobati gangguan saluran kemih dan terbukti memiliki aktivitas antibakteri. Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi aktivitas antibakteri ekstrak air bunga nagasari terhadap isolat klinis Escherichia coli resisten siprofloksasin secara in vitro berdasarkan nilai KHM. Ekstrak air bunga nagasari yang diperoleh melalui proses perebusan diencerkan dengan konsentrasi (µg/mL): 512, 409, 327, 261, dan 208.  Kontrol positif dan negatif yang digunakan berturut-turut yaitu sefotaksim 3 mg/mL dan aquades proinjeksi. Nilai KHM ditentukan dengan metode difusi sumuran berdasarkan diameter zona hambat. Hasil penelitian menunjukkan ekstrak air memiliki efek antibakteri terhadap Escherichia coli sensitif siprofloksasin dengan nilai KHM 327 µg/mL, namun pada Escherichia coli resisten siprofloksasin tidak menunjukkan efek antibakteri.
EVALUASI PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PADA PASIEN PASCABEDAH APENDISITIS AKUT DI RSUD KABUPATEN PASURUAN TAHUN 2018 (Penelitian dilakukan di Instalasi Rawat Inap RSUD Kabupaten Pasuruan) Wirda, Wirda Anggraini; Wiraningtias, Novia Beta; Inayatilah, Fidia Rizkiah; Indrawijaya, Yen Yen Ari
Pharmaceutical Journal of Indonesia Vol 6, No 1 (2020)
Publisher : Brawijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.pji.2020.006.01.3

Abstract

Apendisitis akut adalah infeksi yang terjadi di apendiks vermiformis sehingga perlu segera dilakukan apendektomi. Apendektomi termasuk operasi kategori bersih kontaminasi yang memungkinkan terjadinya Infeksi Luka Operasi (ILO). Penggunaan antibiotik pada pasien pascabedah diharapkan untuk mencegah terjadinya infeksi tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi profil penggunaan antibiotik dan mengetahui kuantitas serta kualitas penggunaan antibiotik. Penelitian ini menggunakan studi cross sectional yang dilakukan secara retrospektif menggunakan data rekam medis pasien pascabedah apendisitis akut Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kabupaten Pasuruan periode Januari-Desember 2018. Analisis data yang dilakukan pada penelitian ini secara deskriptif. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa profil penggunaan antibiotik terapeutik tertinggi untuk monoterapi adalah Sefuroksim (25,81%) dan untuk terapi kombinasi adalah Fosfomisin + Metronidazol (8,06%) dan Seftriakson + Metronidazol (8,06%). Kuantitas penggunaan antibiotik menggunakan metode Anatomical Therapeutic Chemical/ Defined Daily Dose (ATC/DDD) diperoleh nilai DDD total 52,01 DDD/100 patient-days dengan antibiotik tertinggi Metronidazol rute parenteral 14,00 DDD/100 patient-days. Antibiotik yang masuk dalam segmen Drug Utilization (DU) 90% adalah (Metronidazol, Seftriakson, Fosfomisin, Sefuroksim, Gentamisin) dengan rute parenteral. Kualitas penggunaan antibiotik berdasarkan pedoman Infectious Disease Society of America (IDSA) tepat indikasi (11,86%), tepat dosis (52,54%), tepat interval (22,03%), tepat lama pemberian (28,81%) dan tepat rute (96,61%).
Pendekatan Struktur Aktivitas dan Penambatan Molekul Senyawa 2-iminoethyl 2-(2-(1-hydroxypentan-2-yl) phenyl)acetate Hasil Isolasi Fungi Endofit Genus Fusarium sp pada Enzim β-ketoasil-ACP KasA Sintase Rollando, Rollando
Pharmaceutical Journal of Indonesia Vol 3, No 2 (2018)
Publisher : Brawijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Fungi endofit dapat memproduksi senyawa yang memiliki aktivitas biologi, diantaranya senyawa flavonoid, alkaloid, fenolik, dan terpenoid. Fungi endofit genus Fusarium sp yang diisolasi dari daun tanaman meniran menghasilkan senyawa 2-iminoethyl 2-(2-(1-hydroxypentan-2-yl) phenyl)acetate yang mempunyai aktivitas dapat menghambat pertumbuhan bakteri Mycobacterium tuberculosis dengan nilai EC50 sebesar 18,98 µM. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui mekanisme aksi senyawa 2-iminoethyl 2-(2-(1-hydroxypentan-2-yl) phenyl)acetate pada enzim asam siklopropan mikolik sintase dan β-ketoasil-ACP KasA sintase. Enzim asam siklopropan mikolik sintase dan enzim β-ketoasil-ACP KasA sintase memiliki andil yang besar dalam pembentukan asam mikolat, bila aktivitas kedua enzim terhambat maka pembentukan asam mikolat juga akan terhambat sehingga dapat menyebabkan kematian pada bakteri Mycobacterium tuberculosis. Pendekatan dilakukan dengan metode penambatan molekul (molecular docking) dengan didahului optimasi dan validasi metode. Reseptor yang digunakan adalah 2WGE dan 3HEM yang didapat dari Protein Data Bank. Hasil analisis menunjukan senyawa 2-iminoethyl 2-(2-(1-hydroxypentan-2-yl) phenyl)acetate mampu berikatan dengan lebih baik terhadap enzim asam mikolik siklopropan sintase dan enzim β-ketoasil-ACP KasA sintase dibandingkan dengan positif dan native ligand. Dari analsis tersebut disimpulkan bahwa senyawa 2-iminoethyl 2-(2-(1-hydroxypentan-2-yl) phenyl)acetate mampu bertindak sebagai inhibitor enzim asam mikolik siklopropan sintase dan enzim β-ketoasil-ACP KasA sintase pada bakteri Mycobacterium tuberculosis secara in-silico.
Hubungan Tingkat Pengetahuan Dan Ketepatan Penggunaan Obat Simvastatin Pada Pasien Hiperkolesterolemia Di Apotek Kota Malang Hariadini, Ayuk Lawuningtyas
Pharmaceutical Journal of Indonesia Vol 5, No 2 (2020)
Publisher : Brawijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.pji.2020.005.02.4

Abstract

Simvastatin adalah obat yang harus diperoleh dengan resep dokter. Ketidaktepatan penggunaannya dapat berdampak kesalahan dalam pengobatan dan berisiko menimbulkan reaksi obat yang tidak dikehendaki (ROTD). Penggunaan obat yang tidak tepat salah satunya disebabkan oleh informasi yang tidak lengkap atau tidak benar yang didapatkan pasien dimana akan berpengaruh pada tingkat pengetahuan pasien. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara tingkat pengetahuan dan ketepatan penggunaan obat simvastatin pada pasien hiperkolesterolemia di Apotek Kota Malang. Penelitian ini menggunakan metode penelitian observasional analitik dengan rancangan penelitian cross sectional, pemilihan sampel apotek dilakukan dengan teknik random sampling secara cluster sampling. Untuk pemilihan sampel responden digunakan teknik purposive sampling yaitu dipilih berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi. Pada penelitian ini subyek penelitian berjumlah 100 responden, analisis yang digunakan untuk mengetahui hubungan antara tingkat pengetahuan dan ketepatan penggunaan obat simvastatin adalah analisis korelasi somers’d. Didapatkan hasil penelitian responden yang memiliki tingkat pengetahuan baik cenderung lebih tepat dalam penggunaan simvastatin (tepat = 51,8%, tidak tepat= 48,2%) dibandingkan dengan responden yang memiliki pengetahuan yang cukup (tepat= 27,3%, tidak tepat= 72,7%) dan kurang(tepat= 16,7%, tidak tepat= 83,3%). Hasil analisis uji somers’d menunjukkan p=0.000 (p<0,05) sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan positif yang signifikan antara tingkat pengetahuan dan ketepatan penggunaan obat simvastatin dan dari uji somers’d diketahui koefisien korelasi sebesar 0,287 sehingga keeratan hubungan adalah lemah tapi pasti antara tingkat pengetahuan dan ketepatan penggunaan obat simvastatin.Kata kunci :Pengetahuan, Ketepatan, Simvastatin, Hiperkolesterolemia
Cost - Effectiveness Analysis of Chloramphenicol, Ceftriaxone and Cefixime Use in Pediatric Thypoid Fever Patient (Research Conducted at Karsa Husada Batu Hospital) Ni Made Diah Pramesti Dewi; Ratna Kurnia Illahi; Diana Lyrawati
Pharmaceutical Journal of Indonesia Vol. 5 No. 1 (2019)
Publisher : Brawijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Typhoid fever in Indonesia is still high at 1.6% from 0.3% -3%. Typhoid fever can be treated with several alternative of antibiotic therapy that is chloramphenicol, ceftriaxone and cefixime. This research aimed to analyze the cost-effectiveness the usage of chloramphenicol, ceftriaxone and cefixime antibiotic from health care providers perspective. Medical records and direct medical cost for typhoid fever patients aged 6–12 years were analyzed retrospectively from January 2016–December 2018. Samples were 48 patients and used total sampling method. The usage of chloramphenicol, ceftriaxone and cefixime antibiotics are based on length of stay, ie 3–4; 3,125–5; 3,667–6 days. The use of chloramphenicol, ceftriaxone and cefixime antibiotics are based on the duration of fever, ie 1–2; 1,625–3,667; 1-2,667 days. ICER value in Seruni Utama showed that the usage of chloramphenicol required an additional cost of Rp. 91.382,72 to reduce one day of hospitalization compared to cefixime. ICER value in Seruni 1 showed that the usage of chloramphenicol required an additional cost of Rp. 51.018,575 to reduce one day of hospitalization compared to cefixime and Rp. 587.358,81 to reduce one day of fever compared to ceftriaxone. ICER value in Seruni 2 showed that the usage of ceftriaxone required an additional cost of Rp. 118.760,74 to reduce one day of hospitalization and Rp. 374.498,22 to reduce one day of fever compared to cefixime. ICER value in Seruni 3 showed that the usage of chloramphenicol required an additional cost of Rp. 664.304,50 to reduce one day of hospitalization and Rp. 1.650.777,72 to reduce one day of fever compared to cefixime. The usage of chloramphenicol is more cost-effective in Seruni Utama, 1 and 3 and ceftriaxone is more cost-effective in the Seruni 2.
Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Pengetahuan Dan Perilaku Penggunaan Antibiotika Pada Mahasiswa Farmasi UMM Sendi Lia Yunita; Rizka Novia Atmadani; Mutiara Titani
Pharmaceutical Journal of Indonesia Vol. 6 No. 2 (2021)
Publisher : Brawijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.pji.2021.006.02.7

Abstract

Salah satu permasalahan kesehatan utama adalah resistensi antibiotika yang membutuhkan dukungan utuh dan usaha menyeluruh untuk melawannya. Di Indonesia, resistensi bersifat sporadis, selektif dan tidak berkesudahan. Hal tersebut dipengaruhi salah satunya oleh perilaku penggunaan. Beberapa faktor telah diketahui mampu mempengaruhi penggunaannya termasuk tata kelola yang buruk, lemahnya penegakan hukum, kurangnya pengetahuan, dan akses mudah. Kesalahan konsep dalam pemahaman terhadap antibiotik sangat besar kemungkinan dapat mempengaruhi perilakunya. Hal tersebut tidak hanya mungkin terjadi di masyarakat umum tetapi juga pada mahasiswa kesehatan. Dimana hal tersebut akan sangat mempengaruhi penyampaian informasi kepada masyarakat apabila kelak mereka akan melaksanakan pelayanan kesehatan. Tujuan utama studi ini adalah untuk mengidentifikasi tingkat pengetahuan, dan perilaku penggunaan antibiotika pada mahasiswa farmasi sebagai calon tenaga kesehatan masa depan. Sehingga diharapakan agar mereka mampu memberikan pelayanan kefarmasian yang sesuai. Penelitian potong lintang ini dilaksanakan dengan menyebarkan kuisioner online kepada seluruh mahasiswa aktif program studi farmasi Universitas Muhammadiyah Malang. Pemeriksaan kelengkapan data dilakukan sebelum proses analisis dengan menggunakan SPSS. Dalam penelitian ini didapatkan data dari 327 responden dimana perempuan memiliki prevalesi dominan (86,9%) dan terdiri atas tingkat semester 1 (37,3%), 3 (21,1%), 5 (23,2%), dan 7 (18,3%). Tigkat pengetahuan tentang antibiotika cukup tinggi (72,2%) begitu juga dengan tigkat praktik penggunaannya yang hampir mencapai 70%. Berdasarkan analisis multivariat didapatkan 4 faktor yang secara signifikan mempengaruhi praktik penggunaan antibiotika (i.e. jenis kelamin, tingkat pendidikan, kepemilikan asuransi kesehatan, dan tingkat pengetahuan tentang antibiotika). One of the major public health problems is antibiotic resistance which need requires complete support and comprehensive efforts to combat it. In Indonesia, antibiotic resistance is sporadic, selective and patchy. This may influenced by its usage practice. Several factors have been found to influence their use including poor governance, weak law enforcement, lack of knowledge, and easy access. Misconceptions in antibiotics understanding are very likely to affect the behavior. The possibility to been done not only in general public but also for students in health sciences. Since they are the future health care professional who will greatly affect to educate the public. The objective of this study was to identify the level of knowledge and practice toward antibiotics usage among pharmacy students as future healthcare professionals. Then it expected that they be able to provide appropriate pharmaceutical service. This cross-sectional research was conducted by distributing online questionnaire to all active pharmacy students in University of Muhammadiyah Malang. The data completeness check was carried out prior to the analysis using SPSS. Results were obtained from 327 respondents which women were the most one (86,9%). Among respondents, there are four semester level of education: 1 (37,3%), 3 (21,1%), 5 (23,2%), and 7 (18,3%). However, the knowledge level of antibiotics is quite high (72,2%) as well as the practice usage level almost reach 70% among participants. Based on the multivariate analysis, it was found 4 factors that significantly associated with practice of antibiotic usage (i.e. gender, education level, health insurance, and knowledge level of antibiotics).

Page 2 of 16 | Total Record : 155