cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Siddhayatra: Jurnal Arkeologi
ISSN : 08539030     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Art,
Siddhayatra publishes papers devoted to a broad scope in archaeological research comprises quaternary and prehistory, classical archaeology, colonial archaeology, maritime archaeology, epigraphy, ethnoarchaeology, paleoanthropology, zooarchaeology, geoarchaeology and other applied science related with human past.
Arjuna Subject : -
Articles 137 Documents
Cover depan Siddhayatra Vol. 22 No. 2 November 2017 Rachmawan, Titet Fauzi
Siddhayatra Vol 22, No 2 (2017): Jurnal Arkeologi Siddhayatra
Publisher : Balai Arkeologi Sumatera Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/siddhayatra.v22i2.103

Abstract

LAKSANA ARCA DURGA MAHISASURAMARDINI PADA BEBERAPA PURA DI BALI SEBUAH TINJAUAN VARIASI DAN MAKNA Basudewa, Dewa Gede Yadhu
Siddhayatra Vol 24, No 2 (2019): JURNAL ARKEOLOGI SIDDHAYATRA
Publisher : Balai Arkeologi Sumatera Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/siddhayatra.v24i2.155

Abstract

Penelitian ini dilakukan berdasarkan keunikan variasi laksana DurgaMahisasuramardini pada beberapa pura di Bali, seperti membawa laksana sesuai denganmitologi tercipatanya Dewi Durga dan sesuai dengan keinginan pribadi pemahat (localgenius). Tujuan penelitian ini adalah mengetahui jenis-jenis variasi dan makna filosofilaksana arca Durga Mahisasuramardini pada beberapa pura di Bali. Pengumpulan datadalam penelitian ini dilakukan dengan metode observasi dan studi kepustakaan melaluipendekatan kualitatif yang selanjutnya dibahas menggunakan analisis ikonografi dan teorisemiotika. Hasil penelitian menunjukkan Durga sebagai sakti Dewa Siwa sangat sesuaidengan tugasnya sebagai penghancur kejahatan (asura) dan memiliki tugas yang samadengan Dewa Wisnu sebagai pemelihara alam semesta dari kejahatan (asura). Jenis-jenisvariasi laksana yang dibawa oleh arca Durga Mahisasuramardini dalam penelitian ini adalahcakra, sangkha, sara, gada, pasa, khetaka, khadga, trisula, sakti, pustaka, camara, aksamala,keris, kuncup padma, dan ekor mahisa. Laksana-laksana tersebut sebagai atribut DurgaMahisasuramardini memiliki makna-makna filosofi berdasarkan mitologi dan fungsinya,yaitu sebagai makna kekuatan, kesaktian, kesucian, penghalang, keagungan, dan kesuburanatau kemakmuran alam semesta.
Batu Bergores (Batu Gong) Di Tepi Sungai Mesumai, Jambi Kajian Awal Seni Cadas Prasetyo, Sigit Eko
Siddhayatra Vol 20, No 2 (2015): Jurnal Arkeologi Siddhayatra
Publisher : Balai Arkeologi Sumatera Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/siddhayatra.v20i2.85

Abstract

Seni cadas telah dikenal manusia sejak zaman prasejarah. Adanya gambar-gambar yang terdapat pada dinding-dinding gua ataupun ukiran-ukiran pada batu alam meninggalkan pesan yang masih terlihat hingga kini sebagai data arkeologi. Interpretasi terhadap seni cadas dapat dilakukan dengan pendekatan formal atau informal, namun gabungan dari kedua pendekatan tersebut merupakan cara yang jitu untuk dapat memahami arti seni cadas. Batu Gong yang terdapat di tepian sungai merupakan ukiran pada batu yang hingga kini belum dapat diketahui artinya, baik oleh masyarakat setempat ataupun peneliti. Tulisan ini hanya sampai pada kesimpulan bahwa Batu Gong tersebut merupakan salah satu seni cadas dengan jenis petroglyph
PEMANFAATAN LINGKUNGAN OLEH MASYARAKAT PENDUKUNG SITUS DI BELITUNG BAGIAN SELATAN Novita, Aryandini; Purnama, Dadang Hikmah
Siddhayatra Vol 24, No 1 (2019): JURNAL ARKEOLOGI SIDDHAYATRA
Publisher : Balai Arkeologi Sumatera Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/siddhayatra.v24i1.145

Abstract

Tulisan ini membahas tentang hubungan masyarakat pendukung situs dengan lingkungannya di wilayah Belitung bagian selatan berdasarkan hasil penelitian Balai Arkeologi Sumatera Selatan pada tahun 2018. Dalam upaya mencapai tujuan tulisan, penulis menggunakan pendekatan lanskap budaya maritim di mana pengetahuan sejarah dan etnografi diintegrasikan dengan tinggalan-tingalan arkeologi. Hasil penelitian menunjukkan interaksi masyarakat di lokasi penelitian dengan lingkungannya dilakukan dengan cara memanfaatkan sumber daya yang berasal dari dua lingkungan yang berbeda, yaitu laut dan darat. Sumberdaya alam yang tersedia di lokasi penelitian utamanya dimanfaatkan untuk subsistensi dan kelebihan pasokan akan dijual yang hasil penjualan tersebut digunakan untuk membeli barang-barang yang tidak diproduksi oleh masyarakat setempat.
FUNGSI PATIRTHAN DI KABUPATEN GIANYAR, BALI Purwanto, Heri
Siddhayatra Vol 22, No 1 (2017): Jurnal Arkeologi Siddhayatra
Publisher : Balai Arkeologi Sumatera Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/siddhayatra.v22i1.60

Abstract

Patirthan merupakan salah satu warisan budaya masa lalu. Tulisan ini difokuskan pada empat patirthan yaitu Tirtha Empul, Pura Mengening, Gunung kawi, dan Goa Gajah. Keempat patirthan itu merupakan patirthan kuno yang masih difungsikan oleh masyarakat Bali hingga saat ini. Umumnya tinggalan masa lalu yang tersebar di Bali sebagian besar bersifat living monument. Artinya fungsi yang telah ada sejak masa lalu masih dipertahankan hingga sekarang meskipun ada perubahan-perubahan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui fungsi patirthan masa lalu dan masa kini. Metode yang digunakan ialah kajian pustaka, wawancara, dan observasi langsung. Adapun analisis yang digunakan ialah kualitatif dan komparatif. Berdasarkan hasil analisis dapat diperoleh bahwa fungsi patirthan yang sudah ada sejak dulu masih bertahan hingga sekarang dan ada juga fungsi tambahan di masing-masing patirthan. Adapun fungsi tersebut dapat dibagi menjadi tujuh jenis yaitu sebagai tempat upacara pemujaan, sumber air pelengkap upacara, tempat membersihkan diri (melukat), tempat tirthayatra (perjalanan ke tempat suci), sumber air untuk memohon tertentu (seperti kesuburan, keselamatan, awet muda, dan kesembuhan), tempat wisata, serta sumber air bagi masyarakat setempat untuk memenuhi keperluan sehari-hari.
BENDUNGAN WATERVANG: PENGARUH DAN PERKEMBANGAN NYA SAMPAI SAAT INI rahmawan, titet fauzi
Siddhayatra Vol 23, No 1 (2018): Jurnal Arkeologi Siddhayatra
Publisher : Balai Arkeologi Sumatera Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/siddhayatra.v23i1.128

Abstract

Watervang dam is built by stemming the Kelingi River which divides Lubuk Linggau City.The dam is built for the purpose of developing agriculture and the economy after ethicalpolitics. This paper looks at how the influence of the Watervang Dam on Lubuk LinggauCity and its development to date. To see the influence of the survey and the study of dam librariesin the present. This dam consists of dam components, suspension bridges, water reservoirs,water gates, sedimentary buildings, warehouses, rain gauges, and tourism supportbuildings. The influence of the watervang dam in general to Lubuk Linggau City is the formationof the city's supporting area. This city's economic support area is one of the largestrice producers in South Sumatra until now.
Cover Vol. 21 (2) November 2016 Redaksi, Dewan Redaksi
Siddhayatra Vol 21, No 2 (2016): Jurnal Arkeologi Siddhayatra
Publisher : Balai Arkeologi Sumatera Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/siddhayatra.v21i2.18

Abstract

RUMAH GDANG DAN PENYIMPANAN ARTEFAK BUDAYA DI KERINCI ZE, deki Syaputra
Siddhayatra Vol 25, No 1 (2020): JURNAL ARKEOLOGI SIDDHAYATRA
Publisher : Balai Arkeologi Sumatera Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/siddhayatra.v25i1.188

Abstract

Artefak adalah kajian utama arkeologi atau yang dikenal dengan ilmu sejarah kebudayaan material. Di wilayah Kerinci artefak budaya disimpan pada Balai Adat yang dikenal dengan nama Rumah Gdang, hal ini karena artefak tersebut dianggap sebagai pusaka dan tidak jarang benda tersebut di keramatkan. Sehingga sulit untuk mengakses dan melihat artefak budaya tersebut sesuai dengan waktu yang diinginkan seperti halnya galeri budaya maupun museum dan menjadikan masyarakat tidak memiliki pengetahun terhadap artefak budaya tersebut khususnya bagi generasi muda. Oleh karena itu, melalui artikel ini penulis berusaha menghadirkan bentuk peranan dan bukti Rumah Gdang sebagai tempat penyimpanan benda pusaka disamping sebagai pusat atau balai permusyarawatan adat dalam setiap dusun atau luhah. Jadi dengan adanya penjelasan tentang posisi dan tatacara penyimpanan artefak budaya sebagai benda pusaka pada Rumah Gdang dan mengidentifikasi beberapa artefak budaya yang menjadi koleksi dan tersimpan pada beberapa Rumah Gdang di Kerinci. Sehingga dapat mengetahui peranan penting Rumah Gdang dan keberadaan artefak sebagai pusaka yang tersimpan di dalamnya.
Bentuk Hias Tembikar Di Wilayah Sumbagsel: Kunduran, Lolo Gedang, dan Muak Ornamental Shape Pottery In The Southern Sumatera Region: Lolo Gedang, Muak, and Kunduran Prasetiyo, Muhamad Hadi; Purwanti, Retno
Siddhayatra Vol 22, No 2 (2017): Jurnal Arkeologi Siddhayatra
Publisher : Balai Arkeologi Sumatera Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/siddhayatra.v22i2.90

Abstract

Abstract. Pottery is a tool made by hands with special skills. Pottery one of the cultural results that began to be known at the time of cultivation in Indonesia. Pottery is a fragile item, because the ingredients and the manufacturing process produce goods that have limited endurance in their use. The varying needs of pottery also indicate the diversity of forms made of produced. Pottery artifacts are often found on archaological sites, either intact or broken in an occasional amount, and are the most dominant artifact findings among other artefact findings. From pottery data may be revealed some aspects of human life supporters, both the maker and the wearer. Research that has been done by archaeology center of south sumatera and the center of national archaeology research and development in sumbagsel region found many decorative pottery such as Kunduran Site, Lolo Gedang, and Muak. From Kunduran 9 decorative pottery, Lolo Gedang 41 decorated pottery, and Muak 11 decorated pottery.
TEMPAYAN KUBUR DI DESA TEBAT MONOK, KECAMATAN KEPAHIANG, KABUPATEN KEPAHIANG, PROVINSI BENGKULU Indriastuti, Kristantina
Siddhayatra Vol 24, No 2 (2019): JURNAL ARKEOLOGI SIDDHAYATRA
Publisher : Balai Arkeologi Sumatera Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/siddhayatra.v24i2.151

Abstract

Budaya megalitik adalah budaya universal yang dikenal di seluruh dunia. Budaya ini berkembang dari masa prasejarah sampai saat ini. Persebaran budaya megalitik sejatinya merupakan perjalanan peradapan suatu masyarakat. Penguburan dengan tempayan merupakan salah satu bagian dari budaya megalitik yang dikenal dan berkembang di Indonesia selain bentuk-bentuk penguburan lainnya. Penguburan dengan tempayan dapat dilakukan dengan cara penguburan primer, dilakukan dengan cara memasukkan mayat dengan posisi jongkok atau dengan cara memasukkan hanya sebagian anggota tubuh saja atau biasa disebut penguburan sekunder. Setelah dilakukan penelitian di situs Tebatmonok ini telah ditemukan tempayan kubur yang berjumlah 22 buah dengan ukuran yang berbeda beda dantidak utuh lagi, akibat dari lokasi situs merupakan lokasi penambangan pasir yang masih dikerjakan. Selain tempayan juga ditemukan beliung dan belincung yang berjumlah 10 buah. Selain itu ditemukan juga wadah-wadah dari tanah liat baik polos maupun berhias yang kemungkinan merupakan bekal kubur, karena disertakan dalam penguburan. Di situs Tebatmonok ini juga ditemukan batu tegak sebanyak 3 buah yang membentuk formasi melingkar yang kemungkinan merupakan sarana pemujaan sebelum melakukan ritual yang berkaitan dengan penguburan.

Page 9 of 14 | Total Record : 137