cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Siddhayatra: Jurnal Arkeologi
ISSN : 08539030     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Art,
Siddhayatra publishes papers devoted to a broad scope in archaeological research comprises quaternary and prehistory, classical archaeology, colonial archaeology, maritime archaeology, epigraphy, ethnoarchaeology, paleoanthropology, zooarchaeology, geoarchaeology and other applied science related with human past.
Arjuna Subject : -
Articles 137 Documents
PERTIMBANGAN PENGGUNAAN TIMAH SEBAGAI MEDIA PENULISAN PRASASTI DI SUMATERA Alnoza, Muhamad
Siddhayatra Vol 26, No 1 (2021): JURNAL ARKEOLOGI SIDDHAYATRA
Publisher : Balai Arkeologi Sumatera Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/siddhayatra.v26i1.206

Abstract

Prasasti merupakan suatu benda yang dipermukaannya digoreskan tulisan, yang isi tulisannya dapat berupa dokumen yang menyuratkan informasi tertentu. Bahan yang digunakan dalam penulisan prasasti memiliki beberapa variasi, antara lain batu, perunggu atau tembaga, emas, daun lontar dan lain sebagainya. Penelitian yang dilakukan oleh Balai Arkeologi Sumatera Selatan di tahun 2018 menunjukkan bahwa telah ditemukan beberapa prasasti yang media penulisannya adalah timah. Fenomena ini menjadi suatu fakta baru dalam dunia arkeologi Indonesia, karena belum ditemukan prasasti yang media penulisannya berupa timah. Kajian ini berusaha menjawab permasalahan mengenai alasan atau latar belakang dari penggunaan timah sebagai media tulis prasasti. Metode yang digunakan antara lain pengumpulan data, analisis dan interpretasi. Kajian ini menghasilkan pemahaman bahwa pemilihan timah sebagai media tulis berkaitan dengan aspek fungsional (kaitan prasasti dengan kegunaannya di masyarakat) dan aksesibilitas (kaitan prasasti dengan pilihan bahan yang tersedia sebagai medium penulisan).
BANGUNAN MES TNI ANGKATAN UDARA SEBAGAI PENINGGALAN CAGAR BUDAYA KOTA PALEMBANG kabib, kabib kabib
Siddhayatra Vol 25, No 2 (2020): JURNAL ARKEOLOGI SIDDHAYATRA
Publisher : Balai Arkeologi Sumatera Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/siddhayatra.v25i2.190

Abstract

Bangunan, benda, struktur dan situs yang mengandung nilai-nilai sejarah penting dan memiliki manfaat bagi masyarakat luas atau setidaknya memiliki umur lebih 50 tahun maka masuk dalam cagar budaya yang wajib dilindungi oleh pemerintah. Maka bangunan Mes/barak TNI AU Palembang apabila melihat dari nilai-nilai sejarahnya akan masuk dalam bangunan cagar budaya yang dilindungi oleh pemerintah. Tujuan penelitian adalah untuk menganalisis nilai-nlia sejarah dan budaya peninggalan bangunan Mes TNI AU di Palembang dan menganalisis bangunan Mes TNI AU sebagai peninggalan cagar budaya di kota Palembang. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah metode sejarah yang terdiri dari heuristik yaitu kegiatan mengumpukan data lapangan dan sumber relevan lainnya seperti jurnal, laporan penelitian dan lainnya. langkah kedua verifikasi data, pada tahap ini peneliti melakukan pemilahan dan kritik data untuk memperoleh data yang valid. Ketiga,  analisis data dengan menggunakan interpretasi sejarah atau penafsiran sejarah atas data-data yang sudah terkumpulkan dan terakhir adalah historiografi, penulisan sejarah. Bangunan Mes/Barak TNI AU di Palembang ini mengandung nilai-nilai sejarah penting yaitu bangunan peninggalan masa kolonial tahun 1940, yang dipergunakan oleh tentara Belanda, Jepang dan pada akhirnya diambil alih oleh pemeritah Indonesia pasca kemerdekaan sampai sekarang. Bangunan ini berumur lebih dari 50 tahun dan mengandung nilai-nilai sejarah dan budaya penting bagi masyarakat luas. Dengan demikian bangunan Mes/Barak TNI AU di Palembang ini masuk dalam bangunan cagar budaya yang wajib dilindungi oleh pemerintah sesuai peraturan undang-undang Cagar Budaya No 11 tahun 2010.
BANGUNAN SEKOLAH SEBAGAI MANIFESTASI POLITIK ETIS DI KOTA PALEMBANG: KAJIAN ARKEOLOGI SEJARAH Fahrozi, Muhammad Nofri; Prasetyo, Sigit Eko
Siddhayatra Vol 26, No 2 (2021): JURNAL ARKEOLOGI SIDDHAYATRA
Publisher : Balai Arkeologi Sumatera Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/siddhayatra.v26i2.218

Abstract

Tulisan ini mengulas tentang manifestasi politik etis yang dilakukan oleh kolonial yang direfleksikan dalam tinggalan arkeologi di dalam kota Palembang. Permasalahan yang akan dipecahkan adalah mengenai keberadaan tinggalan arkeologi yang merepresentasikan praktik politik etis di kota Palembang, dan bagaimana tinggalan tersebut menjelaskan praktik politik etis yang terjadi. Penelitian ini menggunakan pendekatan arkeologi kesejarahan, maksudnya adalah dengan berpijak pada data sejarah untuk menemukan bukti arkeologi di lapangan. Data sejarah berupa Peta tahun 1922 dan 1945 yang “dioverlay” dengan peta modern penelitian ini dilakukan. Setelah koordinat diketahui, dilanjutkan dengan pengecekan di lapangan. Hasil penelitian menunjukan beberapa lokasi sekolah lama yang menunjukan praktik segregasi dan diskriminasi antar kelas masyarakat sebagai efek yang timbul dalam eksistensi politik etis di Kota Palembang, khususnya di sektor pendidikan.
TRADISI RAJAH DI SUMATERA: SEBUAH KAJIAN TERHADAP PRASASTI TIMAH KOLEKSI YAYASAN PADMASANA JAMBI Meyanti, Lisda; Andhfani, Wahyu Rizky
Siddhayatra Vol 26, No 2 (2021): JURNAL ARKEOLOGI SIDDHAYATRA
Publisher : Balai Arkeologi Sumatera Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/siddhayatra.v26i2.219

Abstract

Rajah atau lebih dikenal dengan azimat merupakan kebudayaan yang sudah dijalankan oleh pendahulu bangsa Indonesia, khususnya di Sumatra. Hal ini terlihat dari prasasti timah bernomor inventaris 01/PADMA/Sn/VIII/2019 yang ditemukan di sekitar Daerah Aliran Sungai (DAS) Batanghari. Artikel ini mengambil permasalahan mengenai isi dari prasasti, hubungan antara tulisan dan ornamen pada prasasti tersebut. Metode yang digunakan yaitu pengumpulan data (heuristik) melalui studi pustaka, membaca laporan penelitian yang telah dilakukan sebelumnya, kemudian menganalis maksud dari prasasti timah bernomor 01/PADMA/Sn/VIII/2019. Prasasti ini diawali dengan kalimat mantra, seruan terhadap sosok yang gaib yang mendiami pohon soga dan sungai yang saling berdekatan. Pohon soga yang disebutkan dalam prasasti biasanya hidup di dataran rendah, dengan curah hujan yang tinggi, dan relatif dekat dengan sumber air. Hal ini sesuai dengan konteks kalimat yang sama, pada baris kedua yang menyebutkan kata "bataá¹…an" yang berarti sungai. Sesuai pula dengan konteks penemuan prasasti, yaitu di daerah aliran Sungai Batanghari yang berada di wilayah Komplek Percandian Muaro Jambi.
Pemetaan Risiko Pemanfaatan Kawasan Cagar Budaya Nasional Muarajambi Andarsih, Christina Novitri; Hamzah, Hamzah; Safri, Muhammad
Siddhayatra Vol 26, No 2 (2021): JURNAL ARKEOLOGI SIDDHAYATRA
Publisher : Balai Arkeologi Sumatera Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/siddhayatra.v26i2.220

Abstract

Kawasan Cagar Budaya Nasional (KCBN) Muarajambi dengan luas 3981 ha, menyimpan data dan informasi yang bernilai penting dalam rekonstruksi cagar budaya. Pemanfaatan kawasan saat ini dipengaruhi oleh status kepemilikan lahan serta Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) kabupaten Muaro jambi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana risiko pemanfaatan KCBN Muarajambi terhadap tinggalan arkeologi dan lingkungannya. Menggunakan metode gabungan kualitatif dan kuantitatif melalui tahap identifikasi risiko dan analisis risiko. Indikator ancaman berupa Rencana Pola Ruang RTRW Kabupaten Muaro Jambi, ketidaksesuaian penggunaan lahan terhadap zonasi, serta vandalisme dan tekanan pengunjung. Indikator kerentanan berupa kerentanan fisik cagar budaya, status kepemilikan lahan, dan kerentanan pemangku kepentingan. Indikator kapasitas adalah keterawatan cagar budaya, SDM, dan sarana prasarana. Nilai penting KCBN Muarajambi berdasarkan studi literatur berupa nilai penting sejarah, pendidikan, ilmu pengetahuan dan teknologi, sosial budaya, dan ekonomi. Nilai risiko dihitung menggunakan rumus R(Risk)=H(Hazard)xV(Vulnerabilily)/C(Capacity), diketahui bahwa KCBN Muarajambi memiliki risiko pemanfaatan rendah hingga tinggi. Area yang memiliki risiko rendah 24,88%, risiko sedang 74,16%, dan risiko tinggi 0,96% dari total luas kawasan. Pemanfaatan KCBN Muarajambi berhubungan erat dengan risiko terhadap cagar budaya dan lanskapnya. Kelas ancaman tinggi berada pada area industri yang berada pada zona inti dan zona penyangga.
KONSEP FENG SHUI PADA MAKAM CINA DI SITUS PULAU PANDAN KENDARI Sope, Amaluddin
Siddhayatra Vol 26, No 2 (2021): JURNAL ARKEOLOGI SIDDHAYATRA
Publisher : Balai Arkeologi Sumatera Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/siddhayatra.v26i2.228

Abstract

Permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini adalah bagaimana karakteris- tik  makam  Cina  pada  situs  Pulau  Pandan  Kendari  dan  prinsip  Feng  Shui  pada  makam- makam  Cina  tersebut?  Tujuan  penelitian  ini  untuk  menjaring  data  artefaktual  yang  dapat memberikan  informasi  mengenai  karakteristik  makam  Cina  yang  terdiri  atas  beberapa atribut  dan  penerapan  prinsip  Feng  Shui  pada  bangunan  makam.  Penelitian  dibangun  ber- dasarkan  kerangka  kerja  model  survei  yang  ditunjang  dengan  studi  pustaka.  Hasil  analisis memperlihatkan bahwa masing-masing makam memiliki perbedaan karena terjadinya keru- sakan  pada  beberapa  atribut  makam,  sehingga  menyulitkan  proses  identifikasi.  Namun, secara  umum,  makam-makam  Cina  tersebut  dilihat  dari  aspek  lokasi,  orientasi  dan  bentuk atribut,  berdasarkan  perspektif  Feng  Shui  sudah  sesuai  dan memiliki  banyak  energi  positif (Sheng Chi-nafas kosmis Naga) yang mengalir.
KARAKTERISTIK ATAP MASJID KUNA DI KALIMANTAN SELATAN Wiku Atmojo, Bambang Sakti
Siddhayatra Vol 26, No 2 (2021): JURNAL ARKEOLOGI SIDDHAYATRA
Publisher : Balai Arkeologi Sumatera Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/siddhayatra.v26i2.231

Abstract

Kalimantan Selatan sebagai daerah yang sebagian besar penduduknya memeluk agama Islam, memiliki masjid yang tersebar di seluruh wilayah tersebut. Agama Islam sudah lama berkembang di Kalimantan Selatan, sehingga menyebabkan masjid yang ada sebagian di antaranya merupakan masjid kuna. Masjid-masjid kuna tersebut hampir semuanya sudah direnovasi sehingga ukuran luasnya bertambah. Salah satu bagian masjid kuna yang cukup unik adalah atap tumpang, baik tumpang dua maupun lebih dan ujungnya berbentuk meruncing ke atas.. Berdasarkan hal tersebut kemudian muncul pertanyaan, bagaimana.bentuk-bentuk atap masjid kuna di Kalimantan Selatan. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan data karakteristik atap masjid kuna di Kalimantan Selatan, yang tersebar di berbagai tempat. Metode pengumpulan data dengan cara survei di lapangan, melakukan pendeskripsian,pemotretan dan pengambaran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian masjid kuna meskipun sudah direnovasi masih mempertahankan bentuk atap tumpang asli, sebagian masih mempertahankan bentuk atap tumpang namun sudah ditambahi kemuncak kubah, dan sebagian lagi sudah berubah menjadi bentuk baru. Pada bagian tertinggi seringkali terdapat kemuncak yang disebut pataka Atap masjid kuna biasanya memiliki genteng yang dibuat dari kayu, dikenal dengan nama sirap.
CANDI TINGKIP DAN LINGKUNGANNYA Widyawati, Surini; Siregar, Sondang Martini
Siddhayatra Vol 23, No 2 (2018): Jurnal Arkeologi Siddhayatra
Publisher : Balai Arkeologi Sumatera Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/siddhayatra.v23i2.137

Abstract

Environment and humans are two variables that are interrelated and influence each other,as well as their culture and environment. The environment chosen as a place to live andthe construction of religious buildings need to consider the potential and resources theyhave. In building sacred buildings Hindu-Buddhist religions have special consideration forthe environment. Tingkip Temple is one of the temples in the Musi Rawas area. The purposeof this paper is to determine the relationship between the establishment of Tingkip templebuildings and natural resources in the Musi Rawas area. This research uses qualitativemethods, with inductive reasoning, by collecting library and field data, as well as data processingby conducting environmental analysis. The results of the research show that MusiRawas has natural potential that is suitable as a place for the establishment of sacred buildings,because it has the type of soil that is suitable for organic farming, besides being surroundedby rivers and creeks, and the vegetation around it in the form of agricultural andplantation crops. Musi Rawas natural resource potential affects the establishment of theTingkip Temple.
SEJARAH SONGKET BERDASARKAN DATA ARKEOLOGI Purwanti, Retno; Siregar, Sondang Martini
Siddhayatra Vol 21, No 2 (2016): Jurnal Arkeologi Siddhayatra
Publisher : Balai Arkeologi Sumatera Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/siddhayatra.v21i2.22

Abstract

Songket merupakan jenis kain tenun yang dikenal di seluruh Indonesia, meskipun cara penenunan dan motif berbeda antara daerah yang satu dengan daerah lainnya. Sumatera merupakan salah satu pewaris seni tenun tradisional, yang dikenal dengan istilah songket, yang diyakini oleh para ahli sejarah sudah dikenal sejak masa Kerajaan Sriwijaya (abad 7-14 Masehi). Meskipun demikian, sampai sekarang belum ditemukan bukti-bukti arkeologi dan sejarah yang membenarkan pendapat tersebut. Berdasarkan acuan maka tulisan ini akan menguji kebenaran asumsi tersebut. Dengan demikian, tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui sejarah songket berdasarkan data arkeologis. Adapun metode penelitian yang digunakan adalah metode arkeologi. Berdasarkan analisis yang dilakukan terhadap arca-arca di Situs Bumiayu, Sumatera Selatan dapat diketahui, bahwa songket sudah dikenakan oleh masyarakat Sumatera Selatan sejak abad ke-9 Masehi, ketika Sriwijaya berpusat di Palembang.
BEBERAPA HASIL AWAL PENELITIAN ARKEOLOGI DI KAWASAN KARS BUKIT BULAN, SAROLANGUN Fauzi, Mohammad Ruly
Siddhayatra Vol 21, No 1 (2016): Jurnal Arkeologi Siddhayatra
Publisher : Balai Arkeologi Sumatera Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/siddhayatra.v21i1.12

Abstract

Selama ini belum pernah dilakukan suatu penjajakan arkeologis di wilayah kars Bukit Bulan yang termasuk wilayah Kabupaten Sarolangun, Jambi. Penelitian eksploratif berupa survei oleh balai arkeologi palembang menghasilkan sejumlah temuan yang tergolong penting dalam kajian prasejarah di Sumatera. Lima lokasi situs baru ditemukan diantara banyak gua lainnya yang berada di wilayah penelitian. Temuan arkeologi yang berhasil terdata antara lain: gambar cadas, artefak litik khususnya alat obsidian, tembikar serta sisa fauna yang kemungkinan merupakan bekas aktivitas manusia. Temuan gambar cadas warna hitam berupa figur antropomorfik di Gua Sungai Lului dan Gua Kerbau 1 mengisyaratkan tinggalan budaya prasejarah dari petutur Austronesia di wilayah tersebut.

Page 8 of 14 | Total Record : 137