cover
Contact Name
Lalan Ramlan
Contact Email
lalan_ramlan@isbi.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
penerbitan@isbi.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Seni Makalangan
ISSN : 23555033     EISSN : 27148920     DOI : -
Core Subject : Art,
Arjuna Subject : -
Articles 200 Documents
REVITALISASI IBING TAYUB BALANDONGAN KHAS KASUMEDANGAN Jatnika, Asep; Rasidin, Dindin
Jurnal Seni Makalangan Vol 10, No 2 (2023): "Tari Dalam Genggaman Tradisi"
Publisher : Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/mklng.v10i2.3400

Abstract

ABSTRAK Tayub Balandongan merupakan ibing kalangenan yang menjadi ikon daerah Sumedang Jawa Barat. Kata Balandongan diambil dari tempat atau arena pertunjukan tayuban yang dilaksanakan di panggung Balandongan (outdoor). Adapun target dari penelitian ini yaitu merevitalisasi Tayub Balandongan dengan membuat model ibing tayub gaya baru, juga bertujuan melestarikan kembali ibing tayub dalam penafsiran baru, sehingga dapat hidup kembali di tengah masyarakat yang sedang mengalami proses transisi dengan masuknya pengaruh modernisme. Metode yang diterapkan, menggunakan metode Participation Action Research (PAR). Metode tersebut memiliki kesinambungan, karena memuat siklus partisipasi, riset, dan aksi. Target luaran yang ingin dicapai menghadirkan kembali ibing tayub dalam bentuk lain secara tekstual dan kontekstual sehingga dapat berkembang di masyarakat. Kata Kunci: Ibing Tayub, Balandongan, Ronggeng. ABSTRACT REVITALIZATION OF IBING TAYUB BALANDONGAN THE CHARACTERISTIC OF KASUMEDANGAN, DECEMBER 2023. Tayub Balandongan is an ibing kalangenan which has become an icon of the Sumedang area, West Java. The word Balandongan is taken from the place or arena of tayuban performances which are held on the Balandongan (outdoor) stage. The target of this research is to revitalize Tayub Balandongan by creating a new style of ibing tayub, and also aims to preserve ibing tayub in a new interpretation, so that it stays exist in a society which is experiencing a transition process with the influence of modernism. The method applied in this research is the Participation Action Research (PAR) method. This method has continuity, because it contains a cycle of participation, research and action. The output target to be achieved is bringing back ibing tayub in another form both textually and contextually so that it may develop in society. Keywords: Ibing Tayub, Balandongan, Ronggeng.
TAFSIR GARAP TARI TRESNA SUMIRAT Mulyani, Ai; Sopandi, Caca
Jurnal Seni Makalangan Vol 10, No 2 (2023): "Tari Dalam Genggaman Tradisi"
Publisher : Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/mklng.v10i2.3395

Abstract

ABSTRAK Tresna Sumirat tari ciptaan baru yang menggambarkan sepasang tokoh bertemakan percintaan, dengan bentuk pertunjukan tari berpasangan bersumber dari Folklor daerah Sumedang. Kisahnya menceriterakan pangeran Geusan Ulun Raja Sumedang Larang dengan Putri Harisbaya yang berasal dari Madura yang menjadi selir Raja Cirebon. Kedua wilayah budaya, Sumedang dan Cirebon dijadikan sumber penciptaan, baik gerak maupun artistik pertunjukan. Tari Tresna Sumirat bertujuan untuk mengisi kekosongan keberadaan tarian lepas berpasangan yang bertemakan percintaan pada tari-tarian Sunda khususnya di daerah Bandung. Penciptaan Tresna Sumirat ini menggunakan metode dari Jaqueline Smith- Autard dengan konsep 5 tahapan dalam berkreativitas, yaitu: tahapan dorongan untuk mencipta, tahapan bekerja dengan media, tahapan mewujudkan bentuk akhir, tahapan presentasi dan penampilan, dan tahapan tanggapan dan evaluasi. Hasil yang dicapai adalah sebuah tari berpasangan yang bersumber dari folklor yang bertemakan cinta. Harapannya dapat berkontribusi menjadi salah satu materi ajar di Prodi Tari ISBI Bandung. Kata Kunci: Tresna Sumirat, Sumedang Larang, Tari Berpasangan. ABSTRACT THE WORK INTERPRETATION OF TRESNA SUMIRAT DANCE, DECEMBER 2023. Tresna Sumirat is a new dance creation depicting a pair of characters with a love theme, with a form of paired dance performance originating from the Folklore of Sumedang area. The story tells about Prince Geusan Ulun, The King of Sumedang Larang and Princess Harisbaya from Madura who became the concubine of the King of Cirebon. The two cultural areas, Sumedang and Cirebon, have been used as a source of creation, both movement and artistic of performance. The Tresna Sumirat dance aims to fill the void of free pair dances with the theme of romance in Sundanese dances, especially in Bandung area. The creation of Tresna Sumirat dance uses the method from Jaqueline Smith-Autard with the concept of 5 phases in creativity, namely: impulse to create, working with the medium, realizing the final form, presentation and performance, and response and evaluation. The result achieved is a pair dance that originates from folklore with the theme of love. It is expected that it can contribute to becoming one of the teaching materials at ISBI Bandung Dance Study Program. Keywords: Tresna Sumirat, Sumedang Larang, Pair Dance.
KARYA TARI PUNTADEWA Permana, Yana; Kawi, Kawi
Jurnal Seni Makalangan Vol 11, No 1 (2024): "Menggali Akar, Mencipta Ragam Rupa Kinestetika"
Publisher : Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/mklng.v11i1.3406

Abstract

ABSTRAK Karya tari yang berjudul Puntadewa terinspirasi dari cerita epos Mahabarata, mengenai permainan adu dadu berfokus pada tokoh Yudistira yang tergila-gila akan judi tersebut, hasutan dari sengkuni pada permainan yang menjadikannya terlena sehingga memunculkan sifat Yudistira yang tergila-gila terhadap judi yang berakhir kehilangan segalanya. Karya tari Puntadewa berbentuk tari kelompok dikemas dalam tipe tari dramatik dengan pola garap tradisi. Bertujuan menyampaikan pendapat bahwa seni tari tradisi tidak selalu bersifat statis melainkan dinamis, tergantung bagaimana mengkemas tanpa menghilangkan unsur tradisinya. Koreografi yang digunakan bersumber dari gerak-gerak tari wayang yang dikembangkan dengan gerak keseharian yang di stilisasi dan distorsi, seperti gerak adeg-adeg, makutaan, capang, keupat, jangkung ilo, ukel, calik jengkeng, selut, sembada, dan nyawang. Pada karya tari puntadewa terdapat tiga pola adegan yang dibangun diantaranya suasana tenang, amarah, dan penyesalan. Menggunakan pendekatan metode garap Y. Sumandiyo Hadi diantaranya observasi, eksplorasi, dan pembentukan (komposisi). Pesan yang ingin disampaikan dari karya tari ini yaitu sehebat dan sesempurna apapun manusia akan selalu kalah oleh nafsu yang ada dalam dirinya sendiri, seharusnya diri yang mengendalikan nafsu bukan diri yang dikendalikan nafsu. Kata Kunci: Puntadewa, Mahabharata, Dramatik, Tradisi. ABSTRACT THE DANCE WORK PUNTADEWA, JUNE 2024. The dance work entitled Puntadewa was inspired by the Mahabarata epic story, about the dice game focused on the character Yudistira who was crazy about the gambling, the incitement from Sengkuni in the game that made him complacent so that it raised Yudistiras character who was crazy about the gambling which ended in loss of everything. Puntadewa dance work is a form of group dance which is packaged in a dramatic dance type with a traditional working pattern. It aims to express the opinion that traditional dance is not always static but dynamic as well, depending on how to pack it without losing its traditional elements. The choreography is sourced from the motions of puppet dance which are developed with stilized and distorted daily movements, such as the movements of adeg-adeg, makutaan, capang, keupat, jangkung ilo, ukel, calik jengkeng, selut, sembada, and nyawang. In the Puntadewa dance work there are three scene patterns, among others are silent atmosphere, anger, and regret. The research uses work method approach by Y. Sumandiyo Hadi namely observation, exploration, and formation (composition). The message to be conveyed from this dance work is that as great and as perfect as any human will always be defeated by their own lust, it should be their mind that controls the lust and not their mind controlled by the lust. Keywords: Puntadewa, Mahabharata, Dramatic, Tradition.
TARI RONGGENG BUGIS DI SANGGAR PRINGGADHING KECAMATAN PLUMBON KABUPATEN CIREBON Syafputri, Hilda Amalia; Hidayat, Lina Marliana
Jurnal Seni Makalangan Vol 10, No 2 (2023): "Tari Dalam Genggaman Tradisi"
Publisher : Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/mklng.v10i2.3401

Abstract

ABSTRAK Tari Ronggeng Bugis merupakan salah satu tari kreasi yang berasal dari Kabupaten Cirebon. Tari Ronggeng Bugis di Sanggar Pringgadhing memiliki perbedaan dengan tari Ronggeng pada umumnya. Perbedaan tari Ronggeng Bugis dengan tari Ronggeng lainnya terlihat dari penari yang dibawakan oleh laki-laki dengan rias karakter badut dan busana menyerupai perempuan. Ciri khas penyajian tari Ronggeng Bugis memiliki cerita yang melatarbelakanginya. Tari Ronggeng Bugis di Sanggar Pringgadhing dengan fokus penelitian struktur tari belum pernah diteliti sebelumnya. Peneliti memiliki tujuan untuk memaparkan struktur tari Ronggeng Bugis secara jelas dan rinci. Adapun landasan konsep pemikiran yang digunakan untuk menjawab permasalahan yaitu dari Iyus Rusliana mengenai struktur tari dengan menggunakan metode penelitian kualitatif melalui pendekatan deskriptif analisis. Teknik pengumpulan data melalui studi pustaka, dan studi lapangan meliputi observasi, wawancara, dokumentasi dan analisis data. Kata Kunci: Tari Ronggeng Bugis, Sanggar Pringgadhing, Struktur Tari. ABSTRACT RONGGENG BUGIS DANCE IN PRINGGADHING STUDIO PLUMBON DISTRICT CIREBON REGENCY, DECEMBER 2023. The Ronggeng Bugis Dance is a creation dance originating from Cirebon Regency. The Ronggeng Bugis dance in Pringgadhing Studio is different from other Ronggeng dances in general. The difference can be seen from the dancers that are performed by men with clown character make-up and clothing resembling women. The characteristic of Ronggeng Bugis dance performance is that it has a story behind it. The Ronggeng Bugis Dance in Pringgadhing Studio with a research focus on dance structure has never been studied before. The researcher aims to explain the structure of Ronggeng Bugis dance clearly and in detail. The basic concept of thought used to answer the problem is from Iyus Rusliana regarding dance structure using qualitative research methods through a descriptive analysis approach. Meanwhile data collection technique is conducted through library and field studies including observation, interviews, documentation, and data analysis. Keywords: Ronggeng Bugis Dance, Pringgadhing Studio, Dance Structure.
STRATEGI PEMBELAJARAN SENI TARI PADA EKSTRAKULIKULER DI SMPN 13 KOTA SERANG Azzahra, Khoirunnisa; Rizal, Syamsul
Jurnal Seni Makalangan Vol 10, No 2 (2023): "Tari Dalam Genggaman Tradisi"
Publisher : Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/mklng.v10i2.3396

Abstract

ABSTRAK Strategi pembelajaran seni tari dalam ekstrakurikuler memiliki peran penting dalam pengembangan kreativitas, ekspresi diri, dan pemahaman budaya siswa. Meskipun terdapat peningkatan minat siswa pada kegiatan ini, kendala seperti kekurangan fasilitas tari yang memadai dan sumber daya yang terbatas menjadi tantangan. Kolaborasi yang solid antara berbagai pihak dianggap krusial untuk mengatasi kendala-kendala tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi strategi pembelajaran yang sedang digunakan di ekstrakurikuler seni tari SMP Negeri 13 Kota Serang. Metode penelitian yang diadopsi adalah kualitatif. Data diperoleh melalui studi pustaka, observasi, wawancara, dan demonstrasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran seni tari di sekolah ini melibatkan metode ceramah dan demonstrasi. Metode ceramah memberikan dasar teoritis, sementara metode demonstrasi memberikan dimensi praktis dan pengalaman langsung. Kombinasi keduanya menciptakan pengalaman pembelajaran holistik, memastikan siswa tidak hanya memahami konsep seni tari secara teoritis tetapi juga mampu mengaplikasikannya dalam praktik. Kata Kunci: Strategi, Pembelajaran, Seni Tari. ABSTRACT DANCE LEARNING STRATEGIES IN EXTRACURRICULAR AT SMPN 13 SERANG CITY, DECEMBER 2023. The dance learning strategies in extracurricular have a crucial role in fostering creativity, self-expression, and cultural understanding among students. Despite the increased interest in this activity, there are challenges such as inadequate dance facilities and limited resources. Solid collaboration among various stakeholders is deemed essential to overcome these challenges. This research aims to identify the learning strategies currently employed in the dance extracurricular activities at SMPN 13 Serang City. The research method applied is qualitative. Data are obtained through literature review, observation, interviews, and demonstrations. The research results show that dance learning in this school involves both lecture and demonstration methods. The lecture method provides a theoretical foundation, while the demonstration method offers practical dimensions and direct experiences. The combination of these two creates a holistic learning experience, ensuring that students not only grasp the theoretical concepts of dance but also apply them in practice. Keywords: Strategy, Learning, Dance.
UPAYA PENYEBARAN NILAI NILAI KARAKTER PADA TARI KLANGAN Hadisuroso, Wahyu; Adji, Muhamad; Muhtaddin, Teddi
Jurnal Seni Makalangan Vol 11, No 1 (2024): "Menggali Akar, Mencipta Ragam Rupa Kinestetika"
Publisher : Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/mklng.v11i1.3407

Abstract

ABSTRAK Kondisi sosial sebagian masyarakat khususnya kaum muda terindikasi sedang kehilangan jatidiri, akibat bergesernya nilai-nilai hidup yang hakiki dan adanya pengaruh budaya luar. Penelitian ini membahas tentang upaya penyebaran nilai-nilai karakter pada tari Klangan. Melalui teori Resepsi Encoding-Decoding Stuart Hall, bertujuan mendeskripsikan bagaimana proses penyebaran nilai-nilai karakter pada tari Klangan dan bagaimana khalayak memaknai gagasan tesebut. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitiatif berdasarkan metode Bogdan dan Taylor. Teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara dan dokumentasi. Sumber data terdiri dari data primer berupa hasil wawancara dan data sekunder berupa catatan, buku, tesis, jurnal, foto dan video dan data lapangan. Tujuan penelitian menunjukan nilai-nilai karakter pada tari Klangan antara lain nilai religius, disiplin, tanggung jawab, kerjasama, toleransi, sopan santun dan kewaspadaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemaknaan audiens/khalayak terhadap upaya penyebaran nilai-nilai karakter pada tari Klangan beragam: (1) sebagian besar menerima secara utuh wacana yang disebarkan oleh pencipta tari; (2) sebagian lagi menerima, namun menyandinya dengan makna yang berbeda dan (3) audiens/khalayak menolak sama sekali wacana tersebut dan menyandinya dengan caranya sendiri. Kata Kunci: Kondisi Sosial, Tari Klangan, Nilai Karakter, Resepsi Audiens/Khalayak. ABSTRACT THE EFFORTS TO DISSEMINATE CHARACTER VALUES ON KLANGAN DANCE, JUNE 2024. The social conditions of some people, especially young people are indicated to be losing identity, due to the shifting of essential life values and external cultural influences. This research discusses efforts to disseminate character values in the Klangan dance. Through Stuart Hall's Encoding-Decoding reception theory, the research aims to describe how the process of spreading character values in the Klangan dance and how the audience interpreted the idea. This research is a qualitiative descriptive based on the Bogdan and Taylor methods. The techniques of collecting data through observation, interviews and documentation. Data sources consist of primary data in the form of interview results and secondary data in the form of notes, books, thesis, journals, photos and videos, and field data. The purpose of the study shows character values in the Klangan dance, among others, religious values, discipline, responsibility, co-operation, tolerance, courtesy and vigilance. The results of the research show that the interpretation of the audience towards the efforts to spread the character values in the Klangan dance is varied: (1) mostly received the discourse that was distributed by the creator of the dance; (2) Some accepted, but signed it with different meanings and (3) Audience rejected the discourse and signed it in their own way. Keywords: Social Condition, Klangan Dance, Characteristic Values, Audience Reception.
TARI PEMETIK TEH KARYA PAUL KUSARDY DI SANGGAR VIATIKARA KOTA BANDUNG Faadhilah, Ghina Alya; Suherti, Ocoh
Jurnal Seni Makalangan Vol 11, No 1 (2024): "Menggali Akar, Mencipta Ragam Rupa Kinestetika"
Publisher : Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/mklng.v11i1.3402

Abstract

ABSTRAK Tari Pemetik Teh merupakan salah satu dari 19 hasil karya Paul Kusardy yang diciptakan tahun 1961 di sanggar Viatikara Bandung. Tarian ini menarik perhatian penulis karena merefleksikan kepribadian Indonesia sehingga tarian tersebut memiliki keberagaman budaya. Tujuan penelitian yaitu untuk mengetahui struktur tari Pemetik Teh yang menjadi daya tarik secara visual. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan teori struktur tari yang diungkapkan oleh Iyus Rusliana. Prosedur pengumpulan data dilakukan dengan metode studi lapangan terdiri dari observasi dan wawancara, studi pustaka dan studi dokumentasi. Adapun hasil dari penelitian ini menunjukan karya tari Pemetik Teh ciptaan Paul Kusardy yang memiliki pola pikir kreatif dan inovatif sehingga menghasilkan karya tari yang menarik. Kata Kunci: Tari Pemetik Teh, Struktur Tari, Tari Kreasi Baru, Paul Kusardy. ABSTRACT THE TEA PICKER DANCE BY PAUL KUSARDY AT VIATIKARA STUDIO BANDUNG, JUNE 2024. The Tea Picker Dance is one of 19 works by Paul Kusardy which was created in 1961 at Bandung Viatikara studio. This dance attracted the writer's attention because it reflects the Indonesian personality so that the dance has cultural diversity. The aim of the research is to determine the structure of Tea Picker Dance which is visually attractive. This research uses qualitative research method with the dance structure theory approach by Iyus Rusliana. The data have been collected using a field study method through observation and interviews, literature study, and documentation study. The finding of this research shows that the Tea Picker Dance work created by Paul Kusardy has a creative and innovative mindset resulting in an interesting dance work. Keyword: Tea Picker Dance, Dance Structure, New Creation Dance, Paul Kusardy.
GAMA SEBUAH KARYA PENCIPTAAN TARI TERINSPIRASI DARI KESENIAN BADAWANG RANCAEKEK Yadiyatullah, Ghasanni Ashabul Jannah; Amelia, Lia
Jurnal Seni Makalangan Vol 10, No 2 (2023): "Tari Dalam Genggaman Tradisi"
Publisher : Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/mklng.v10i2.3397

Abstract

ABSTRAK Karya tari dengan judul Gama ini diambil dari bahasa Sanksekerta yang memiliki arti perjalanan. Perjalanan ini dimaksudkan pada upaya para seniman untuk mempertahankan Kesenian Badawang di lingkungan masyarakat yang mulai acuh terhadap kesenian lokal. Kesenian Badawang dijadikan sumber inspirasi dalam mencipta karya ini karena didukung pula oleh pengalaman empiris penulis menyaksikan industrialisasi yang terjadi di daerah Rancaekek Kabupaten Bandung. Masyarakat setempat saat ini tidak mengenali secara utuh bentuk Kesenian Badawang yang merupakan kesenian asli Rancaekek, bahkan tidak sedikit masyarakat tidak mengetahuinya sama sekali. Faktor yang disinyalir menjadi penyebab dari kondisi tersebut adalah pengaruh globalisasi membuat teknologi dan informasi semakin maju serta berkembang pesat. Banyak lahan persawahan diubah, dijadikan sebagai lahan industri serta dibangun gedunggedung tinggi hanya untuk kepentingan negara luar. Profesi warga setempat berubah drastis dan mengharuskannya tetap bertahan hidup dengan bekerja di perusahaan tersebut hingga meninggalkan kegiatan berkesenian. Minoritas warga Rancaekek memiliki jiwa seni yang diklaim sebagai seorang seniman, bersikeras memperkenalkan Kesenian Badawang kepada mayoritas masyarakat yang lebih modern. Semangat juang tersebut diusung ke dalam karya Tari Gama yang dikemas ke dalam bentuk tari kelompok dengan metode pendekatan kontemporer serta tipe garap dramatik. Terciptanya karya tari Gama ini berlandaskan teori Doris Humphrey, di mana sumber gerak yang digunakan merupakan hasil dari desain, dinamika, irama atau ritme dan motivasi, serta gerak yang melalui proses distrorsi dan stilisasi dari gerak khas Boneka Badawang, juga gerak keseharian. Semua itu tersusun dan membentuk karya Tari Gama. Kata Kunci: Kesenian Badawang, Dramatik, Kontemporer, Semangat Juang. ABSTRACT GAMA A WORK OF DANCE CREATION INSPIRED BY THE ART OF BADAWANG RANCAEKEK, DECEMBER 2023. The dance work entitled Gama is taken from Sanskrit which means journey. This journey is aimed at the artists' efforts to maintain Badawang Art in a community that was starting to become indifferent to local art. Badawang art is used as a source of inspiration in creating this work because it is also supported by the author's empirical experience of witnessing industrialization that occurred in Rancaekek area, Bandung Regency. The local community currently does not fully recognize the Badawang art form, which is the original art of Rancaekek, in fact, quite a few people do not know about it at all. The factor that is thought to be the cause of this condition is the influence of globalization making technology and information increasingly advanced and developing rapidly. Many rice fields were converted, used as industrial land and tall buildings were built only for the benefit of foreign countries. The local residents' professions changed drastically and required them to survive by working for the company and abandoning artistic activities. A minority of Rancaekek residents have artistic souls and claim to be artists, insisting on introducing Badawang art to the majority of more modern society. This fighting spirit is carried into the work of Gama Dance which is packaged in the form of group dance with a contemporary approach and dramatic type of work. The creation of the Gama dance work is based on Doris Humphrey's theory, while the source of movement used is the result of design, dynamics, rhythm and motivation, as well as movements that go through a process of distortion and stylization from the typical Badawang Doll movements, and daily movements. All of this is arranged and forms the work of Gama Dance. Keywords: Badawang Arts, Dramatic, Contemporary, Fighting Spirit
IDHA JIPO SEBAGAI PENARI VOKAL DALAM PERTUNJUKAN BAJIDORAN DI KOTA BANDUNG Martiasyah, Agung Rizki; Ramlan, Lalan
Jurnal Seni Makalangan Vol 11, No 1 (2024): "Menggali Akar, Mencipta Ragam Rupa Kinestetika"
Publisher : Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/mklng.v11i1.3408

Abstract

ABSTRAK Penari vokal merupakan sebuah istilah yang muncul dalam perkembangan kesenian Bajidoran, yaitu penari tunggal yang mengawali tarian dalam pertunjukan serta memiliki daya tarik untuk mengundang perhatian penonton potensial (bajidor) yang menyaksikan serta memberikan uang sawran. Idha Jipo sebagai penari vokal kehadirannya dalam mencug memiliki kekhasannya tersendiri yang memberi warna, sehingga membuat pertunjukan ini selalu menarik dan tak lekang oleh waktu. Fenomena inilah yang menjadi daya tarik, sehingga penelitian ini difokuskan pada permasalahan kreativitas kepenarian Idha Jipo dalam mencug sebagai penari vokal pada pertunjukan Bajidoran di Kota Bandung. Berdasarkan pada fokus permasalahan tersebut, penelitian ini menggunakan pendekatan konsep pemikiran kreativitas 4P menurut Rhodes yaitu; Person, Press, Process, dan Product. Sejalan dengan konsep pemikiran tersebut, sehingga metode yang digunakan adalah metode kualitatif melalui pendekatan deskriptif analisis, dengan langkah-langkah; studi pustaka, studi lapangan, dan analisis data. Adapun penelitian ini menghasilkan informasi akademik mengenai keberhasilan yang dicapai oleh Idha Jipo dalam kariernya sebagai penari vokal yang menggunakan konstruksi tari; bukaan, pencugan, nibakeun, dan mincid ketika mencug dengan menggunakan pengolahan teknik ngigelkeun lagu. Gaya penyajiannya seperti itu telah menjadi identitasnya yang mempribadi, sehingga eksistensinya dapat dipertahankan hingga saat ini dan tetap diapresiasi oleh para bajidor baik di Bandung, Subang maupun Karawang. Kata Kunci: Idha Jipo, Penari Vokal, Mencug, Kreativitas, Bajidoran. ABSTRACT IDA JIPO AS A VOCAL DANCER IN BAJIDORAN PERFORMANCE IN BANDUNG, JUNE 2024. Vocal dancer is a term that emerged in the development of Bajidoran art, namely a single dancer who starts the dance in a performance and has the allure to attract the attention of potential audiences (bajidor) who watch and give money as sawran. Idha Jipo, as a vocal dancer, has her own unique presence in mencug to make the performance always interesting and timeless. This phenomenon has been an attraction, so this research focuses on the problem of Idha Jipo's dancing creativity in mencug as a vocal dancer at the Bajidoran performance in Bandung. Based on the focus of the problem, this research uses the 4P creativity thinking concept approach by Rhodes, namely; Person, Press, Process, and Product. In line with this concept of thought, the method used is a qualitative method through a descriptive analysis approach, with these steps; literature study, field study, and data analysis. This research produces academic information regarding the success achieved by Idha Jipo in her career as a vocal dancer using dance constructions; bukaan, pencugan, nibakeun, and mincid when mencug using the processing technique of ngigelkeun lagu. This style of presentation has become her personal identity, so that her existence can be maintained to this day and is still appreciated by bajidor in Bandung, Subang and Karawang. Keywords: Idha Jipo, Vocal Dancer, Mencug, Creativity, Bajidoran.
KREATIVITAS DALAM TARI KUKUPU PRODUKSI BADAN KESENIAN INDONESIA TAHUN 1952 Asyari, Pradasta; Sumiati, Lilis
Jurnal Seni Makalangan Vol 11, No 1 (2024): "Menggali Akar, Mencipta Ragam Rupa Kinestetika"
Publisher : Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/mklng.v11i1.3403

Abstract

ABSTRAK Tari Kukupu merupakan salah satu karya tari Badan Kesenian Indonesia (BKI) tahun 1952, yang disajikan oleh sekelompok perempuan yang menggambarkan tentang siklus atau daur hidup kupu-kupu sebagai seekor serangga. Di balik pesonanya, karya ini bukan semata hasil kreasi individual, melainkan buah kolaborasi transdisipliner tiga agen yaitu Raden Tjetje Somantri, Tubagus Oemay Martakusumah, dan Kayat (Soma). Tulisan ini bertujuan untuk menganalisis dan mengungkapkan proses kerja kreatif dan inovatif penciptaan Tari Kukupu, yang terwujud melalui sinergisitas lintas disipliner. Melalui metode kualitatif pendekatan fenomenologi dengan wawancara mendalam, observasi, dan analisis konten. Tulisan ini memaparkan tentang gaya koreografi Tjetje, estetika kostum Oemay, serta komposisi musik Kayat (Soma) yang saling berkaitan dan berkontribusi dalam menghidupkan Tari Kukupu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketiganya telah berhasil menyajikan Tari Kukupu dengan sentuhan dan warna baru yang tetap mempertahankan nilai-nilai dan identitas tradisi Sunda. Karya ini menjadi bukti bahwa tradisi dan modernitas dapat saling melengkapi dalam menjaga keberlangsungan warisan budaya. Kata Kunci: Kreativitas, Inovasi, Tari Kukupu, Raden Tjetje Somantri, Tubagus Oemay Martakusuma, dan Kayat. ABSTRACT THE CREATIVITY IN KUKUPU DANCE AT THE INDONESIAN ARTS AGENCY IN 1952, JUNE 2024. The Kukupu Dance is one of the dance works of Badan Kesenian Indonesia (BKI) in 1952, which is presented by a group of women which describes the cycle or life cycle of a butterfly as an insect. Behind its charm, this work is not merely the result of individual creation, but also the result of a transdisciplinary collaboration among three agents, namely Raden Tjetje Somantri, Tubagus Oemay Martakusumah, and Kayat (Soma). This article aims to analyze and reveal the creative and innovative work process of creating the Kukupu Dance, which was realized through cross-disciplinary synergy. Through a qualitative method of phenomenological approach, in-depth interviews, observation and content analysis. This article describes Tjetje's choreography style, the aesthetics of Oemay's costumes, and Kayat's (Soma) musical composition which are interrelated and contribute to develop the Kukupu Dance. The results of the research show that the three of them have succeeded in presenting the Kukupu Dance with a new touch and color that still maintains the values and identity of Sundanese tradition. This work is a proof that tradition and modernity may complement each other in maintaining the sustainability of cultural heritage. Keywords: Creativity, Innovation, Kukupu Dance, Raden Tjetje Somantri, Tubagus Oemay Martakusuma, and Kayat.

Filter by Year

2014 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 12 No. 2 (2025): "Ruang Kreatif Mencipta Tari" Vol. 12 No. 1 (2025): "Merawat Warisan" Nilai Tradisi dan Kontemporer Vol. 11 No. 2 (2024): "Fenomenologi Tari Berbasis Tradisi dan Kontemporer" Vol. 11 No. 1 (2024): "Menggali Akar, Mencipta Ragam Rupa Kinestetika" Vol 11, No 1 (2024): "Menggali Akar, Mencipta Ragam Rupa Kinestetika" Vol 10, No 2 (2023): "Tari Dalam Genggaman Tradisi" Vol. 10 No. 2 (2023): "Tari Dalam Genggaman Tradisi" Vol 10, No 1 (2023): "Menguak Seni Tradisi Di Era Globalisasi" Vol. 10 No. 1 (2023): "Menguak Seni Tradisi Di Era Globalisasi" Vol 9, No 2 (2022): "Dimensi Kreativitas Ketubuhan Penari Sunda" Vol 9, No 1 (2022): "Menggali Inspirasi Dari Tradisi" Vol 8, No 2 (2021): "Tari Di Ruang Virtual" Vol 8, No 1 (2021): "GERAK TUBUH TARI MENGALIR MENCIPTA ASA DAN CITA" Vol 7, No 2 (2020): “Gemulai Gerak Ketubuh Tradisi Mencipta Enerji Dinamis Tari Kreasi” Vol 7, No 1 (2020): "GELIAT TARI DI BUMI TRADISI" Vol 6, No 2 (2019): "Menjaga Asa Merajut Cita" Vol 6, No 1 (2019): "Menari dengan Hati-Menandak dengan Rasa" Vol 5, No 2 (2018): "Mengupas Kreativitas, Menumbuhkan Sensitivitas" Vol 5, No 1 (2018): "Jari Jemari Membuai Emosi" Vol 4, No 1 (2017): "Spirit Tubuh Tanpa Batas" Vol 3, No 2 (2016): "Menelisik Tradisi Mengais Kreasi" Vol 3, No 1 (2016): "Membumikan Tradisi Menumbuhkan Kreasi" Vol 2, No 2 (2015): "Wayang Bayang-bayang Kehidupan" Vol 1, No 2 (2014): "Membumikan Tradisi Meraih Inspirasi" Vol 1, No 1 (2014): "Menggali Potensi Berbagai Tradisi Kreatif" More Issue