cover
Contact Name
Abdul Rasyad
Contact Email
rasyad.iis@hamzanwadi.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
fajar.historia@hamzanwadi.ac.id
Editorial Address
Jalan TGKH M. Zainuddin Abdul Madjid No. 132 Pancor, Selong, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, Indonesia. Kode Pos 83612
Location
Kab. lombok timur,
Nusa tenggara barat
INDONESIA
Fajar Historia: Jurnal Ilmu Sejarah dan Pendidikan
  • http://garuda.ristekdikti.go.id/journal/view/15057
  • Website
Published by Universitas Hamzanwadi
ISSN : -     EISSN : 25495585     DOI : -
Fajar Historia (e-ISSN 2549-5585)adalah jurnal di bidang Ilmu Sejarah dan Pendidikan yang diterbitkan oleh Program Studi Pendidikan Sejarah FKIP Universitas Hamzanwadi. Berisi tulisan yang diangkat dari hasil penelitian dan analisis kritis. Bertujuan untuk memfasilitasi interaksi, diskusi, advokasi, dan pemutakhiran gagasan dari para ilmuwan sosial khususnya sejarah dan pendidikan dari berbagai daerah di Indonesia. Menyuguhkan kekayaan wawasan dan interpretasi atas berbagai peristiwa sejarah dan pendidikan terutama di Indonesia, maupun meluas di negara lain namun dapat memberikan inspirasi dan pembelajaran bagi studi sejarah dan pendidikan di Indonesia, serta dapat menambah khazanah wawasan sejarah dan pendidikan dalam konteks lokal masyarakat Lombok. Fajar Historia terbit dua kali dalam setahun yaitu, bulan Juni dan Desember.
Arjuna Subject : -
Articles 11 Documents
Search results for , issue "Vol 6 No 1 (2022): Juni" : 11 Documents clear
Profil Peninggalan Situs Sejarah Desa Sapit sebagai Bukti Identitas Peradaban Lombok Jannata, Jannata; Supiarmo, M. Gunawan; Harmonika, Sri; Amrina, Lisa; Alpionita, Resi; Hidayat, Asbur
Fajar Historia: Jurnal Ilmu Sejarah dan Pendidikan Vol 6 No 1 (2022): Juni
Publisher : Universitas Hamzanwadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29408/fhs.v6i1.5298

Abstract

Sapit is a village rich in natural resources and the hospitality of its people. This village also has cultural diversity, not only in the form of social norms, art, ideas, or inspiration but also in the legacy of letters. The purpose of this study is to describe the profile of the historical site heritage of Sapit village as evidence of the identity of the Lombok civilization. This type of research uses descriptive and qualitative methods to reveal the profile of the historical site heritage of Sapit village as evidence of the identity of the civilization of the Lombok people. The study related to the profile of the historical site heritage of Sapit village was carried out through the data collection stage by conducting observations, data analysis stages, and data interpretation stages. The results show that Sapit village has a wealth of historical sites in the form of Sapit inscriptions, Langgar Pusaka, ancient Qur'an, kentongan, kepeng tepong, and the statue of Dewi Sri. These relics are clear evidence of the advancement of literacy and civilization of the Lombok people from pre-historic times to historical times.Sapit merupakan desa yang kaya akan sumber daya alam, dan keramahtamahan masyarakatnya. Desa ini juga memiliki keanekaragaman budaya, tidak hanya berupa norma sosial, seni, ide atau gagasan, melainkan peninggalan-peningalan aksara. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan profil peninggalan situs sejarah desa Sapit sebagai bukti identitas peradaban Lombok. Jenis penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif untuk mengungkap profil peninggalan situs sejarah desa Sapit sebagai bukti identitas peradaban masyarakat Lombok. Kajian terkait profil peninggalan situs sejarah desa Sapit dilakukan melalui tahap pengumpulan data dengan melakukan observasi, tahap analisis data, dan tahap interpretasi data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa desa Sapit memiliki kekayaan situs sejarah berupa prasasti Sapit, Langgar Pusaka, al-Qur’an kuno, kentongan, kepeng tepong, dan arca Dewi Sri. Peninggalan tersebut menjadi bukti nyata majunya literasi dan peradaban masyarakat Lombok dari zaman pra sejarah sampai zaman sejarah.
Perkembangan Pemekaran Daerah Tingkat Provinsi di Indonesia pada Masa Orde Lama, 1948-1964 Mutawally, Anwar Firdaus
Fajar Historia: Jurnal Ilmu Sejarah dan Pendidikan Vol 6 No 1 (2022): Juni
Publisher : Universitas Hamzanwadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29408/fhs.v6i1.4551

Abstract

Regional expansion is a logical consequence of the development of the times as the community's need for government services increases. Hence, the regions need to be re-divided so that regional development can occur properly. This study aims to explain the developments and the factors that encouraged and hindered the division of provinces in Indonesia during the Old Order era. The method used in this research is the historical method with data collection techniques using literature studies and documentation studies. Results showed that the number of provinces in Indonesia increased from 8 provinces at the beginning of independence to 24 provinces at the end of the Old Order. In addition, three provinces have received special status from the government of the Republic of Indonesia. Among them are Aceh, DKI Jakarta, and Yogyakarta. The factors that hindered the process of regional expansion were the political conditions during the Old Order, which were less stable, so regional expansion could not occur, and limited infrastructure facilities at that time. At the same time, the factors that encouraged regional divisions included the emergence of regional sons in local government after the 1955 elections, the breakup of the dwi-tunggal Republic of Indonesia (Soekarno-Hatta), the emergence of demands from the Banteng Council, and the PRRI and Permesta Rebellions which accelerated regional expansion in Indonesia at that time.Pemekaran wilayah merupakan konsekuensi logis dari perkembangan zaman seiring dengan meningkatnya kebutuhan masyarakat akan pelayanan pemerintah. Oleh karena itu, perlu dilakukan pemekaran daerah agar pembangunan daerah dapat berjalan dengan baik. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan perkembangan dan faktor-faktor yang mendorong dan menghambat pemekaran provinsi di Indonesia pada masa Orde Lama. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode sejarah dengan teknik pengumpulan data menggunakan studi kepustakaan dan studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah provinsi di Indonesia meningkat dari 8 provinsi pada awal kemerdekaan menjadi 24 provinsi pada akhir Orde Lama. Selain itu, tiga provinsi mendapat status khusus dari pemerintah Republik Indonesia. Diantaranya adalah Aceh, DKI Jakarta, dan Yogyakarta. Faktor penghambat proses pemekaran daerah adalah kondisi politik pada masa Orde Lama yang kurang stabil sehingga pemekaran daerah tidak dapat terjadi, dan sarana prasarana yang terbatas pada saat itu. Sementara itu, faktor yang mendorong pemekaran daerah antara lain munculnya putra daerah dalam pemerintahan daerah pasca Pemilu 1955, pecahnya dwi-tunggal Republik Indonesia (Soekarno-Hatta), munculnya tuntutan Dewan Banteng, serta Pemberontakan PRRI dan Permesta yang mempercepat pemekaran daerah di Indonesia saat itu.
Dari Impor Hingga Ke Tangan Konsumen: Perdagangan Opium di Karesidenan Surabaya, 1870-1898 Salsabila, Rifda; Widiadi, Aditya Nugroho; T. Leksana, Grace
Fajar Historia: Jurnal Ilmu Sejarah dan Pendidikan Vol 6 No 1 (2022): Juni
Publisher : Universitas Hamzanwadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29408/fhs.v6i1.5349

Abstract

Opium is a narcotic that the Javanese people widely consumed in the 19th century. The high level of consumption of opium by the public raises concerns because of its detrimental effects if consumed in excess. This made the government exercise control over opium by trading it, which also provided income for the Dutch East Indies government. One of the areas in the Dutch East Indies that had a high level of consumption of opium was the Residency of Surabaya. Therefore, this article analyzes how the opium trade took place in the Surabaya Residency from 1870 to 1898. During that period, the system used in the opium trade was the rental system (opium patch). In this study, the historical method consists of the stages of topic selection, heuristics, criticism, interpretation, and historiography. The results of this study indicate that the opium circulating in the Residency of Surabaya from 1870 to 1898 experienced ups and downs because it was affected by several conditions, such as the change in the distribution system to tenants and the economic crisis of the 1880s. Even so, the opium trade in the Surabaya Residency has become a lucrative business for those involved.Opium merupakan salah satu jenis narkotika yang banyak dikonsumsi masyarakat Jawa pada abad ke-19. Tingginya tingkat konsumsi opium oleh masyarakat menimbulkan kekhawatiran karena efeknya yang merugikan jika dikonsumsi secara berlebihan. Hal ini membuat pemerintah melakukan kontrol atas opium dengan memperdagangkannya, yang juga memberikan pemasukan bagi pemerintah Hindia Belanda. Salah satu daerah di Hindia Belanda yang memiliki tingkat konsumsi opium yang tinggi adalah Karesidenan Surabaya. Oleh karena itu, artikel ini menganalisis bagaimana perdagangan candu terjadi di Karesidenan Surabaya dari tahun 1870-1898. Pada masa itu, sistem yang digunakan dalam perdagangan candu adalah sistem sewa (patch candu). Dalam penelitian ini, metode sejarah terdiri dari tahapan pemilihan topik, heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa candu yang beredar di Karesidenan Surabaya dari tahun 1870 sampai 1898 mengalami pasang surut karena dipengaruhi oleh beberapa kondisi, seperti perubahan sistem distribusi ke penyewa dan krisis ekonomi tahun 1880-an. Meski begitu, perdagangan candu di Karesidenan Surabaya menjadi bisnis yang menggiurkan bagi mereka yang terlibat
Deliar Noer: Sebuah Biografi Politik, 1951-1999 Maskur, Abu; Humaidi, Humaidi; Ibrahim, Nurzengky
Fajar Historia: Jurnal Ilmu Sejarah dan Pendidikan Vol 6 No 1 (2022): Juni
Publisher : Universitas Hamzanwadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29408/fhs.v6i1.4655

Abstract

In contemporary Indonesian politics in Islamic thought history, Deliar Noer cannot be passed over. He is a figure in Muslim Student Association (HMI), Masyumi, Academician, and a political figure who is a substantial thinker as well, proved by his academic works. As a political figure, his intellectuality is not only seen in his writings. Nevertheless, he attempted to make it through an established political party named Partai Ummat Islam. This study aims to examine the political role of Deliar Noer in political dynamics in Indonesia from 1951 to 1999. This study implied four stages of historical research methods. Those methods are heuristic, verification, interpretation, and historiography. The results of this study convey that Deliar Noer began his political experience when he took charge as the chief of the Muslim Student Association (HMI). Furthermore, he became a political observer, defended democracy, and established a political party.Dalam perpolitikan Indonesia kontemporer dalam sejarah pemikiran Islam, Deliar Noer tidak bisa dilewatkan begitu saja. Ia adalah tokoh Himpunan Mahasiswa Muslim (HMI), Masyumi, Akademisi, dan tokoh politik yang juga pemikir yang substansial, dibuktikan dengan karya-karya akademisnya. Sebagai seorang tokoh politik, intelektualitasnya tidak hanya terlihat pada tulisan-tulisannya. Meski demikian, ia berusaha melalui partai politik mapan bernama Partai Ummat Islam. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji peran politik Deliar Noer dalam dinamika politik di Indonesia dari tahun 1951-1999. Penelitian ini mengimplikasikan empat tahapan metode penelitian sejarah. Metode-metode tersebut adalah heuristik, verifikasi, interpretasi, dan historiografi. Hasil penelitian ini menyampaikan bahwa Deliar Noer memulai pengalaman politiknya saat menjabat sebagai Ketua Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Selanjutnya, ia menjadi pengamat politik, membela demokrasi, dan mendirikan partai politik.
Peranan Syekh Abdoes Shamad Al-Palembani Sebagai Ulama Bebas dalam Proses Internalisasi Islam di Palembang Amalia, Tita; Hudaidah, Hudaidah
Fajar Historia: Jurnal Ilmu Sejarah dan Pendidikan Vol 6 No 1 (2022): Juni
Publisher : Universitas Hamzanwadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29408/fhs.v6i1.5486

Abstract

Palembang Darussalam is a Sultanate whose center is located in South Sumatra, precisely in the city of Palembang. A sultan led the Sultanate of Palembang Darussalam. In addition to a sultan, other important figures who also influenced the development of that period were ulama or religious leaders. One of the scholars who was quite popular during the Palembang Darussalam Sultanate was Sheikh Abdoes Shamad Al-Palembani. The purpose of this study is to describe the role of Sheikh Abdoes Shamad Al-Palimbangi as a Free ulama in the Process of Internalization of Islam in Palembang. Through historical research conducted studies with primary sources, manuscripts, secondary sources, and interviews with Islamic figures of Palembang. Then there is the criticism of sources, Auffassung, and historiography. So the role of Sheikh Abdoes Shamad Al-Palimbangi in the internalization of Islam is known to be a teacher of tawhid, fiqh, and neo-Sufism, especially the Tarikat Samaniah, as well as an essential role in teaching Islam in Palembang through his students. Concrete evidence of his role is the manuscripts of his work used to teach and develop Islam in the Sultanate of Palembang Darussalam. Even Zikir Ratib Saman has become a routine activity carried out in mosques until now.Palembang Darussalam adalah sebuah Kesultanan yang pusatnya terletak di Sumatera Selatan, tepatnya di kota Palembang. Seorang sultan memimpin Kesultanan Palembang Darussalam. Selain sultan, tokoh penting lainnya yang turut mempengaruhi perkembangan zaman itu adalah ulama atau tokoh agama. Salah satu ulama yang cukup populer pada masa Kesultanan Palembang Darussalam adalah Syekh Abdoes Shamad Al-Palembani. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan peran Syekh Abdoes Shamad Al-Palimbangi sebagai Ulama Merdeka dalam proses internalisasi Islam di Palembang. Melalui penelitian sejarah dilakukan kajian dengan sumber primer, naskah, sumber sekunder, dan wawancara dengan tokoh Islam Palembang. Lalu ada kritik sumber, Auffassung, dan historiografi. Maka peran Syekh Abdoes Shamad Al-Palimbangi dalam internalisasi Islam dikenal sebagai guru tauhid, fiqh, dan neo-sufisme, khususnya Tarikat Samaniah, serta peran penting dalam pengajaran Islam di Palembang melalui murid-muridnya. Bukti nyata perannya adalah naskah-naskah karyanya yang digunakan untuk mengajarkan dan mengembangkan Islam di Kesultanan Palembang Darussalam. Bahkan Zikir Ratib Saman sudah menjadi kegiatan rutin yang dilakukan di masjid-masjid hingga sekarang.
Pendudukan Jepang di Mempawah, 1942-1944 Firmansyah, Andang; Mirzachaerulsyah, Edwin; Novitasari, Novitasari
Fajar Historia: Jurnal Ilmu Sejarah dan Pendidikan Vol 6 No 1 (2022): Juni
Publisher : Universitas Hamzanwadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29408/fhs.v6i1.3637

Abstract

Japan entered West Kalimantan for the first time by controlling the administrative city, Pontianak. The control of the Mempawah area is vital because it is located between Pontianak City and Singkawang City, the administrative city of the Netherlands. This study aimed to determine the occupation of the Japanese army in Mempawah City, the entry of Japanese troops in Mempawah City, and the leadership of the Japanese military in Mempawah City. The research uses the historical method with four stages heuristics, source criticism, interpretation, and historiography. The results showed that the Japanese entered the city of Mempawah around the end of February 1942. At the beginning of the occupation, the Japanese immediately managed the local government by placing soldiers of the highest rank to lead the city of Mempawah. Japan also recorded and arrested several actual figures who endangered its power in Mempawah. The leadership of the Japanese government left after Japan surrendered to the allies and marked the end of Japanese rule in Mempawah.Jepang pertama kali masuk ke Kalimantan Barat dengan menguasai kota administratif Pontianak. Penguasaan kawasan Mempawah sangat vital karena terletak di antara Kota Pontianak dan Kota Singkawang, kota administratif Belanda. Penelitian ini untuk mengetahui pendudukan tentara Jepang di Kota Mempawah, masuknya pasukan Jepang di Kota Mempawah, dan kepemimpinan militer Jepang di Kota Mempawah. Penelitian ini menggunakan metode sejarah dengan empat tahapan heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Jepang memasuki kota Mempawah sekitar akhir Februari 1942. Pada awal pendudukan, Jepang langsung mengatur pemerintahan daerah dengan menempatkan prajurit berpangkat tertinggi untuk memimpin kota Mempawah. Jepang juga mencatat dan menangkap beberapa tokoh nyata yang membahayakan kekuasaannya di Mempawah. Kepemimpinan pemerintah Jepang pergi setelah Jepang menyerah kepada sekutu dan menandai berakhirnya kekuasaan Jepang di Mempawah.
Faktor Lingkungan dalam Pertempuran Palangan Bojongkokosan, 1945 Ramdani, Abdul Wahid; Prasetya Santosa, Yusuf Budi
Fajar Historia: Jurnal Ilmu Sejarah dan Pendidikan Vol 6 No 1 (2022): Juni
Publisher : Universitas Hamzanwadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29408/fhs.v6i1.5011

Abstract

The Battle of Palangan Bojongkokosan was one of the battles that took place during the physical revolution of Indonesia from 1945 to 1950. This incident occurred because of the Allied attitude of ignoring the agreement that had been made with TKR, namely, fighting over APWI logistics deliveries without notification and assistance. This battle occurred in Sukabumi District, in the village of Bojongkokosan, where the Allied convoy was passing. This study aims to look at the Battle of Palangan Bojongkokosan from the perspective of environmental factors. This research uses historical research methodology in its preparation. The sources used are primary and secondary. Primary sources include photos of the Palangan Bojongkokosan event, and secondary sources, books, journals, and magazines. The results obtained that one of the success factors of the attack on the Allies in the village of Bojongkokosan was the environmental conditions of the battlefield. Bojongkokosan village as a battlefield is also ideal with Hit n Run and Kirikumi military tactics chosen by Lt. Col. Edhie as the leader of the troops. The Bojongkokosan incident taught that in addition to qualified war equipment, it must also be supported by the spirit of the troops and the leader's ability to read the battlefield's situation and conditions. In addition, other things to consider, such as the environment that affects an event or battle.Pertempuran Palangan Bojongkokosan merupakan salah satu pertempuran yang terjadi pada masa revolusi fisik Indonesia tahun 1945-1950. Peristiwa ini terjadi karena sikap Sekutu yang mengabaikan kesepakatan yang telah dibuat dengan TKR yaitu memperebutkan pengiriman logistik APWI, tanpa pemberitahuan dan bantuan. Pertempuran ini terjadi di Kabupaten Sukabumi, di desa Bojongkokosan, tempat konvoi Sekutu lewat. Penelitian ini bertujuan untuk melihat pertempuran Palangan Bojongkokosan dari perspektif faktor lingkungan. Penelitian ini menggunakan metodologi penelitian sejarah dalam penyusunannya. Sumber yang digunakan adalah primer dan sekunder. Sumber primer meliputi foto-foto peristiwa Palangan Bojongkokosan, dan sumber sekunder, buku, jurnal, dan majalah. Hasil yang diperoleh bahwa salah satu faktor keberhasilan penyerangan terhadap Sekutu di desa Bojongkokosan adalah kondisi lingkungan medan pertempuran. Desa Bojongkokosan sebagai medan pertempuran juga ideal dengan taktik militer Hit n Run dan Kirikumi yang dipilih oleh Letkol Edhie sebagai pemimpin pasukan. Peristiwa Bojongkokosan mengajarkan bahwa selain perlengkapan perang yang mumpuni, juga harus didukung oleh semangat pasukan dan kemampuan pemimpin dalam membaca situasi dan kondisi medan perang. Selain itu, hal lain yang perlu diperhatikan, seperti lingkungan yang mempengaruhi suatu event atau pertempuran.
Industri Rumah Tangga Gula Aren Semut di Desa Hariang Kecamatan Sobang Kabupaten Lebak, 1999-2019 Hikmah, Hasyrotul; Fadillah, Moh. Ali; Putra, Arif Permana
Fajar Historia: Jurnal Ilmu Sejarah dan Pendidikan Vol 6 No 1 (2022): Juni
Publisher : Universitas Hamzanwadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29408/fhs.v6i1.5528

Abstract

This study aims to determine the development of the palm sugar home industry and its impact on the socio-economic life of the Hariang Village community in 1999-2019. The method used is the historical method, including heuristics, source criticism, interpretation, and historiography. The results showed that Hariang Village is one of the largest palm sugar producing villages in Sobang District. This is supported by abundant natural resources and the community's profession as farmers or palm sugar craftsmen. The economic growth of the Hariang Village community is due to the innovation of changing the form of printed palm sugar into ant palm sugar as a more durable product. Printed palm sugar craftsmen cooperate with the palm sugar industry of daily ants to improve the strata of socio-economic life. The palm sugar industry, which has existed since 1999, has developed and demand for palm sugar comes from Tangerang and Jakarta, palm sugar exports to foreign countries such as Australia, America, Malaysia, South Korea, Japan and Switzerland.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perkembangan industri rumah tangga gula aren semut dan dampaknya terhadap kehidupan sosial ekonomi masyarakat Desa Hariang tahun 1999-2019. Metode yang digunakan adalah metode sejarah, meliputi heuristik, kritik sumber, intepretasi, dan historiografi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Desa Hariang menjadi salah satu desa penghasil gula aren terbesar di Kecamatan Sobang. Hal ini didukung dengan sumber daya alam yang melimpah serta profesi masyarakat sebagai petani atau pengrajin gula aren cetak. Pertumbuhan ekonomi masyarakat Desa Hariang disebabkan adanya inovasi perubahan bentuk gula aren cetak menjadi gula aren semut sebagai produk yang lebih awet. Pengrajin gula aren cetak melakukan kerjasama dengan industri gula aren semut hariang untuk meningkatkan strata kehidupan sosial ekonomi. Industri gula aren semut hariang yang ada sejak tahun 1999 mengalami perkembangan dan permintaan gula aren semut berasal dari daerah Tangerang dan Jakarta, gula aren semut hariang melakukan ekspor ke luar negeri seperti Australia, Amerika, Malaysia, Korea Selatan, Jepang, dan Swiss.
Ekonomi Perang Jepang di Palembang, 1942-1945 Aderoben, Andromeda; Septiansi, Ira; Syarifuddin, Syarifuddin
Fajar Historia: Jurnal Ilmu Sejarah dan Pendidikan Vol 6 No 1 (2022): Juni
Publisher : Universitas Hamzanwadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29408/fhs.v6i1.4160

Abstract

The essence in this writing is the treasury in the preservation of Palembang's local history that is minimal in the literature of the Japanese occupation. Studies in the field of the local economy in Palembang during the Japanese occupation are still few, for the existence of this writing can be a part of the wealth of local history. The main point of this research is the economy as a supporter of Japan's military war, not focusing on the economy of local communities. This paper uses historical research methods, namely heuristics, source criticism, interpretation, and historiography. Palembang's rich mineral resource potential became a supporter of the Great East Asian War by Japan in 1942-1945. This paper presents images and tables as simplifications in reconstruction results.Intisari dari penulisan ini adalah khazanah pelestarian sejarah lokal Palembang yang minim dalam literatur pendudukan Jepang. Kajian di bidang ekonomi lokal di Palembang pada masa pendudukan Jepang masih sedikit, agar keberadaan tulisan ini dapat menjadi bagian dari kekayaan sejarah lokal. Pokok dari penelitian ini adalah ekonomi sebagai pendukung perang militer Jepang, tidak terfokus pada ekonomi masyarakat lokal. Tulisan ini menggunakan metode penelitian sejarah, yaitu heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi. Potensi sumber daya mineral Palembang yang kaya menjadi pendukung Perang Asia Timur Raya oleh Jepang pada tahun 1942-1945. Makalah ini menyajikan gambar dan tabel sebagai penyederhanaan dalam hasil rekonstruksi.
Gerakan Feminisme Fujinkai dalam Perspektif Sejarah Perjuangan Perempuan di Indonesia Aditia, Dimas; Lestari, Erika Sukma; Adelia, Dea Nuci; Arif, Suparman; Perdana, Yusuf
Fajar Historia: Jurnal Ilmu Sejarah dan Pendidikan Vol 6 No 1 (2022): Juni
Publisher : Universitas Hamzanwadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29408/fhs.v6i1.5145

Abstract

The Dutch defeat of its rule in the colonies ended the practice of colonialism and western-style imperialism. However, that does not necessarily make Indonesia immediately free and independent just like that. During the Japanese rule, various forms of propaganda were introduced, one of which was Fujinkai which was made at the beginning of the Japanese occupation of Indonesia. Fujinkai became a women's organization, significantly overshadowing all women's activities at that time. This study aims to study the Fujinkai Feminism Movement from the Perspective of the History of Women's Struggle in Indonesia. At the same time, there is also a line of supporters who participate in the Japanese tantara. The method used in this study is a historical method consisting of 5 stages: determination of topics, source collection (heuristic), source criticism, interpretation, and writing (historiography). The result of this research includes looking at Fujinkai's role in the history of Indonesian women's struggle in the field of Education and social activities, establishing relationships with Japan in the fields of arts and virtues, and sharpening science and skills training.Kekalahan Belanda atas kekuasaannya di daerah jajahan mengakhiri praktik kolonialisme dan imperialisme ala barat. Namun, hal itu tidak serta merta membuat Indonesia langsung merdeka dan merdeka begitu saja. Pada masa pemerintahan Jepang, berbagai bentuk propaganda diperkenalkan, salah satunya adalah Fujinkai yang dibuat pada awal pendudukan Jepang di Indonesia. Fujinkai menjadi organisasi wanita, yang secara signifikan menaungi semua aktivitas wanita saat itu. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji gerakan feminisme Fujinkai dari perspektif sejarah perjuangan perempuan di Indonesia. Pada saat yang sama, ada juga barisan pendukung yang ikut serta dalam tantara Jepang. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode sejarah yang terdiri dari 5 tahap: penentuan topik, pengumpulan sumber (heuristik), kritik sumber, interpretasi, dan penulisan (historiografi). Hasil penelitian ini antara lain melihat peran Fujinkai dalam sejarah perjuangan perempuan Indonesia di bidang pendidikan dan kegiatan sosial, menjalin hubungan dengan Jepang dalam bidang seni dan kebajikan, serta mengasah ilmu pengetahuan dan pelatihan keterampilan.

Page 1 of 2 | Total Record : 11