cover
Contact Name
Husnun Amalia
Contact Email
husnun_a@trisakti.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jbiomedkes@trisakti.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Biomedika dan Kesehatan
Published by Universitas Trisakti
ISSN : 2621539x     EISSN : 26215470     DOI : -
Core Subject : Health, Science,
Jurnal Biomedika dan Kesehatan is an official publication of Faculty of Medicine Trisakti University. Jurnal Biomedika dan Kesehatan is a third-monthly medical journal that publishes new research findings on a wide variety of topics of importance to biomedical science and clinical practice. Jurnal Biomedika dan Kesehatan online contains both the current issue and an online archive that can be accessed through browsing, advanced searching, or collections by disease or topic.
Arjuna Subject : -
Articles 270 Documents
Hubungan kualitas tidur dengan excessive daytime sleepiness pada pekerja bergilir Luthfi Aziz; Adi Hidayat
Jurnal Biomedika dan Kesehatan Vol 2 No 4 (2019)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18051/JBiomedKes.2019.v2.144-148

Abstract

LATAR BELAKANGPekerja bergilir (shift workers) banyak dijumpai pada masyarakat industri dan mempunyai efek yang negatif terhadap kualitas tidur. Excessive daytime sleepiness (EDS) adalah gejala dari gangguan tidur berupa rasa kantuk pada siang hari yang berlebihan hingga mengganggu aktivitas. Gejala ini dapat menimbulkan dampak merugikan bagi pekerja dan perusahaan. Kualitas tidur, kerja shift, gaya hidup, usia dan jenis kelamin merupakan faktor risiko dari EDS. Seorang pekerja bergilir yang mengalami EDS memiliki risiko kecelakaan kerja yang tinggi. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk menentukan hubungan antara kualitas tidur dan EDS pada pekerja bergilir. METODEStudi ini menggunakan desain cross-sectional dengan jumlah subjek penelitian sebanyak 57 pekerja bergilir. Pengumpulan data mengenai usia dan jenis kelamin dilakukan dengan menggunakan kuesioner. Kualitas tidur diukur dengan kuesioner Pittsburgh sleep quality index (PSQI) dan Excessive daytime sleepiness (EDS) diukur dengan Epworth sleepiness scale (ESS). Data dianalisis menggunakan uji korelasi Spearman dan uji Mann Whitney. HASILHasil uji normalitas menunjukkan data yang dikumpulkan tidak tersebar secara normal. Nilai median subjek pekerja besarnya 27 tahun dan sebagian besar subjek adalah laki-laki sebanyak 44 (77.1%) orang.Tidak didapatkan perbedaan yang bermakna antara jenis kelamin dan EDS (p=0.396). Didapatkan hubungan yang sedang dan bermakna antara kualitas tidur dan EDS (r=0.545; 0=0.000). Usia subjek tidak berhubungan secara bermakna dengan EDS (r=0.124; p=0.359). KESIMPULANPenelitian ini menunjukkan hubungan bermakna antara kualitas tidur dan excessive daytime sleepiness pada pekerja, tetapi tidak terdapat perbedaan nilai median EDS antara laki-laki dan perempuan.
Hubungan kebiasaan berolahraga dan merokok dengan obesitas abdominal pada karyawan usia produktif Astharie Zulkarnain; Alvina Alvina
Jurnal Biomedika dan Kesehatan Vol 3 No 1 (2020)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18051/JBiomedKes.2020.v3.21-27

Abstract

LATAR BELAKANGObesitas abdominal adalah keadaan kelebihan lemak yang terpusat pada perut (intra-abdominal fat). Secara nasional, prevalensi obesitas abdominal tahun 2013 adalah 26.6%. Adanya perubahan gaya hidup seperti kurangnya olahraga dan merokok dinilai menjadi salah satu faktor yang berkontribusi terhadap timbulnya obesitas abdominal. Namun demikian, masih terdapat kontradiksi pengaruh kedua faktor tersebut dan hal ini membuat peneliti ingin menilai kembali hubungan keduanya dengan munculnya obesitas abdominal. Tujuan penelitian mengetahui hubungan kebiasaan berolahraga dan merokok dengan obesitas abdominal pada karyawan usia produktif. METODEPenelitian ini menggunakan rancangan potong silang pada 103 karyawan. Pengukuran kebiasaan berolahraga menggunakan kuesioner Beacke. Pengukuran kebiasaan merokok menggunakan kuesioner Global Adult Tobacco Survey (GATS). Pengukuran lingkar perut sesuai dengan standard pengukuran HASILDari 103 orang karyawan didapatkan mayoritas responden adalah laki-laki dengan kelompok usia terbanyak adalah >35 tahun. Responden yang memiliki kebiasaan berolahraga aktif sebanyak 50.5%. Responden yang merokok sebanyak 46.6%. Responden yang mengalami obesitas abdominal sebanyak 54.4%. Uji Chi-square menunjukkan terdapat hubungan bermakna antara kebiasaan berolahraga dengan obesitas abdominal (p=0.037) dan tidak ada hubungan bermakna antara merokok dengan obesitas abdominal (p=0.720). KESIMPULANDidapatkan hubungan antara kebiasaan olahraga dengan munculnya obesitas abdominal namun sebaliknya tidak terdapat hubungan antara merokok dengan obesitas abdominal.
Deteksi spora Bacillus anthracis MLE Parwanto
Jurnal Biomedika dan Kesehatan Vol 2 No 4 (2019)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18051/JBiomedKes.2019.v2.130-131

Abstract

Bacillus anthracis ditemukan dalam 2 bentuk yaitu bentuk vegetatif dan bentuk spora. Pada prinsipnya, faktor virulensi anthrax karena produksi kapsul dan eksotoksin selama fase vegetatif.(1) Spora B. anthracis berupa endospora dan merupakan agen infeksi yang tahan terhadap panas, kering, zat kimia maupun iradiasi serta dapat bertahan dalam waktu yang lama. (2) Infeksi spora B. anthracis mengakibatkan penyakit anthrax antara lain pada usus, kulit dan paru-paru. Penyakit anthrax termasuk penyakit zoonosis yang berpotensi mematikan terhadap manusia.(3)
Gambaran gangguan mental emosional pada penduduk Desa Banfanu, Timor Tengah Utara, Provinsi Nusa Tenggara Timur Eduardo Renaldo; Eva Suryani
Jurnal Biomedika dan Kesehatan Vol 3 No 2 (2020)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18051/JBiomedKes.2020.v3.49-57

Abstract

LATAR BELAKANGKesehatan jiwa merupakan salah satu permasalahan kesehatan yang signifikan di dunia, termasuk di Indonesia. Berdasarkan data Riskesdas, gangguan mental emosional pada populasi Indonesia tahun 2013 adalah 6%, kemudian pada tahun 2018 meningkat menjadi 9.8%. Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) menempati urutan ketiga tertinggi dengan prevalensi 15.7%. Di NTT, penelitian mengenai gangguan mental emosional belum banyak dilakukan, serta belum terfokus pada daerah terpencil atau tertinggal yang ada di dalamnya. Berdasarkan pemaparan tersebut maka peneliti tertarik untuk menggambarkan pola gangguan mental emosional pada penduduk di Desa Banfanu, NTT melalui berbagai faktor sosiodemografik yang menyertai. METODEPenelitian ini merupakan penelitian cross-sectional yang melibatkan 80 responden di Desa Banfanu, Timor Tengah Utara, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Teknik pengambilan data secara accidental sampling menggunakan instrumen Self Reporting Questionnaire-20 (SRQ-20). Teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan distribusi frekuensi. Data yang sudah diklasifikasikan, disajikan dalam bentuk tabel. HASILResponden yang mengalami gangguan mental emosional 8.8% dari 80 responden. Karakteristik penduduk yang paling banyak mengalami gangguan mental emosional adalah perempuan (6.3%), usia muda (15-34 tahun) sebesar 5%, pendidikan rendah (5%), dan tidak bekerja (6.3%). Gejala somatik (fisik) mendominasi kelompok penduduk umum dan yang mengalami gangguan mental emosional. Beberapa gejala antara lain sakit kepala, sulit tidur, mudah lelah, merasa cemas, tegang atau khawatir, tidak nafsu makan, dan rasa tidak enak di perut. KESIMPULANGangguan mental emosional penduduk di Desa Banfanu, Timor Tengah Utara, Provinsi Nusa Tenggara Timur sebesar 8.8%, dan terbanyak mengalami gejala somatik.
Penghentian obat anti tuberkulosis pada meningitis tuberkulosis Sujie Pratiwi; Mochamad Iskandarsyah Agung Ramadhan; Merry Kartika; Yudhisman Imran
Jurnal Biomedika dan Kesehatan Vol 3 No 1 (2020)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18051/JBiomedKes.2020.v3.28-32

Abstract

LATAR BELAKANGPenghentian Obat Anti Tuberkulosis (OAT) pada dugaan Meningitis Tuberkulosa (METB) dapat dilakukan dengan penilaian gejala klinis, dan Computerized Tomography (CT) Scan kepala dengan kontras. DESKRIPSI KASUSPasien laki-laki, usia 36 tahun, dibawa ke instalasi gawat darurat (IGD) RS Hermina Daan Mogot dengan keluhan penurunan kesadaran bertahap sejak 1 hari yang lalu. Pasien mengeluh nyeri kepala yang memberat dalam 3 bulan, demam naik turun sejak 1 bulan. Pasien memiliki riwayat kontak serumah dengan penderita Tuberkulosis (TB). Pada pemeriksaan neurologi didapatkan, Glasgow Coma Scale (GCS) E3M5V2, tanda rangsangan meningeal (+) dan test HIV (-). CT Scan kepala dengan kontras didapatkan penyengatan kontras minimal di daerah sisterna silvii bilateral dan sisterna basalis dan kronik iskemik serebral infark pada frontoparietal kanan. Pasien mendapatkan tata laksana antiedema dan OAT kategori I. Setelah terdapat perbaikan klinis berupa perbaikan kesadaran menjadi compos mentis dan derajat nyeri kepala berkurang, pasien pulang dengan tata laksana antiedema, OAT dan antiplatelet. Saat rawat jalan pasien masih mengeluhkan nyeri kepala, dilakukan pemeriksaan CT Scan kepala, masih terdapat penyengatan kontras hingga bulan ke-12 dan ke-15. Pada bulan ke-18 pasien sudah tidak mengeluhkan nyeri kepala dan tidak terdapat penyengatan kontras pada CT scan kepala sehingga OAT dapat dihentikan. KESIMPULANPemberian OAT bervariasi pada setiap individu. Perpanjangan dan penghentian terapi dipertimbangan berdasarkan kondisi pasien dan dapat didukung dengan pemeriksaan penunjang seperti CT Scan kepala.
Aktivitas antimikroba dan potensi penyembuhan luka ekstrak tembelekan (Lantana camara Linn.) Hosea Jaya Edy; ML Edy Parwanto
Jurnal Biomedika dan Kesehatan Vol 3 No 1 (2020)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18051/JBiomedKes.2020.v3.33-38

Abstract

Salah satu tanaman yang digunakan secara turun-temurun dalam pengobatan adalah tembelekan (Lantana camara Linn.). L. camara Linn. mempunyai potensi yang besar untuk dikembangkan menjadi bahan baku obat karena jumlahnya yang sangat banyak dan mudah dibudidayakan. Hasil ekstraksi L. camara Linn. diketahui mengandung alkaloid, terpenoid, flavonoid, steroid, polifenol, tanin. Ekstrak L. camara Linn. juga telah dibuat atau diformulasikan dalam berbagai jenis sediaan farmasi dalam bentuk semisolid seperti salep, krim maupun gel. Ekstrak methanol daun L. camara Linn. memiliki aktivitas antibakteri terhadap Escherichia coli. Ekstrak daun L. camara Linn. menggunakan pelarut n-heksan, etil asetat, etanol juga memperlihatkan aktivitas antibakteri terhadap bakteri Gram positif (Staphylococcus pyogenesis dan Micrococcus luteus) dan bakteri Gram negatif (Vibrio cholera dan Shigella dysenteriae). Selain itu, sediaan farmasi ekstrak L. camara Linn. juga memperlihatkan aktivitas antimikroba terhadap Salmonella typhi, Vibrio alginolyctus dan S. aureus. Aktifitas antifungi dari ekstrak etanol daun L. camara Linn. juga telah diuji terhadap jamur Trichophyton concentricum L. Sediaan farmasi ekstrak L. camara Linn. juga telah diuji aktifitas penyembuhan luka pada kulit hewan uji.
Pendeteksian petanda kepuncaan glioblastoma multiforme Yohana Yohana
Jurnal Biomedika dan Kesehatan Vol 3 No 1 (2020)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18051/JBiomedKes.2020.v3.39-45

Abstract

Glioblastoma multiforme (GBM) adalah tumor otak ganas yang memiliki populasi sel punca kanker yang dapat mempertahankan formasi tumor. Peranan sel punca kanker telah banyak dipelajari yang memiliki tanggung jawab terhadap resistensi dan rekurensi terapi GBM seperti radiasi dan kemoterapi. Beberapa petanda kepuncaan dapat dipakai diantaranya CD133, Nestin, A2B5, CD44, SOX2 and OCT4. Pemeriksaan histopatologi terhadap jaringan tumor yang dioperasi menjadi standar baku untuk menentukan derajat, tingkat keganasan, dan prognosis keganasan. Namun di sisi lain, kehadiran populasi sel punca yang memiliki sifat mampu memperbaharui diri dan mampu menginduksi pembentukan tumor memerlukan pemeriksaan yang lebih mendalam mengenai karakteristik biologi sel tumor. Pemeriksaan sel punca dilakukan menggunakan flowcytometry dan imunohistokimia. Pemeriksaan petanda kepuncaan glioblastoma dilakukan dengan quantitative Reverse Transcriptase Real Time Polymerase Chain Reaction (qRT-PCR), Enzyme Linked Immunoabsorbent Assay (ELISA), Western Blot, Imunohistokimia dan flowcytometry. Petanda CD133 ditemukan ekspresinya meningkat pada berbagai pemeriksaan. CD133 digunakan sebagai prognostik GBM.
Paradigma baru penggunaan statin: efek kardioprotektif atau penyebab onset baru diabetes melitus? Gede Bangun Sudrajad; Armi Setia Kusuma; Rina K Kusumaratna
Jurnal Biomedika dan Kesehatan Vol 3 No 2 (2020)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18051/JBiomedKes.2020.v3.101-108

Abstract

3-Hydroxy-3-methylglutaryl coenzyme A (HMG-CoA) reductase inhibitors atau yang biasa disebut sebagai statin, merupakan obat yang sudah digunakan sejak 30 tahun silam dan merupakan salah satu obat yang paling sering digunakan untuk terapi dislipidemia. Menurut hasil terbaru dari banyak studi observasional, randomized controlled trials (RCTs) dan meta-analyses telah mengonfirmasi adanya korelasi kejadian diabetes melitus (new-onset diabetes mellitus/NODM) setelah inisiasi penggunaan statin. Mekanisme spesifik terkait pengaruh statin terhadap kejadian diabetes melitus masih belum sepenuhnya dipahami, namun gangguan fungsi sel beta pankreas melalui calcium channel blockade, berkurangnya sensitivitas jaringan terhadap insulin akibat berkurangnya ekspresi GLUT 4, rendahnya kadar adiponektin dan mungkin mekanisme lainnya diduga menjadi faktor pencetus NODM. Sebagaimana yang kita tahu, statin digunakan dalam terapi dislipidemia serta pencegahan baik primer maupun sekunder terhadap kejadian penyakit kardiovaskular melalui efek pleiotropiknya. Namun, dengan adanya keterkaitan kejadian NODM maka makna protektif penggunaan statin menjadi berkurang. Pada artikel ini akan dibahas mengenai kemungkinan mekanisme statin terkait kejadian NODM dan makna penggunaanya sebagai pencegahan penyakit kardiovaskular.
Virus Corona (2019-nCoV) penyebab COVID-19 MLE Parwanto
Jurnal Biomedika dan Kesehatan Vol 3 No 1 (2020)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18051/JBiomedKes.2020.v3.1-2

Abstract

Wuhan, ibu kota Provinsi Hubei di China tengah, adalah provinsi ketujuh terbesar di negara itu dengan populasi 11 juta orang. Pada awal Desember 2019 seorang pasien didiagnosis menderita pneumonia yang tidak biasa. Pada 31 Desember, kantor regional Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) di Beijing telah menerima pemberitahuan tentang sekelompok pasien dengan pneumonia yang tidak diketahui penyebabnya dari kota yang sama.(1)
Respon imun hospes terhadap Sarcoptes scabiei Reqgi First Trasia; Ika Puspa Sari
Jurnal Biomedika dan Kesehatan Vol 3 No 4 (2020)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18051/JBiomedKes.2020.v3.183-192

Abstract

Skabies, penyakit kulit yang disebabkan oleh infestasi dan sensitisasi terhadap tungau Sarcoptes scabiei var. hominis dan produknya, masih menjadi masalah kesehatan di dunia, termasuk Indonesia. World Health Organization (WHO) atau Organisasi Kesehatan Dunia pada tahun 2017 menyatakan bahwa skabies termasuk dalam Neglected Tropical Disease (NTD) yang memerlukan pengontrolan skala besar. S. scabiei spesifik terhadap hospes dan hal tersebut akibat perbedaan fisiologis tungau dan variabel hospes seperti diet, bau, respon imun, dan faktor-faktor fisik. Manifestasi klinis pada manusia berupa inflamasi kulit akan timbul lebih dari 4 minggu setelah terinfestasi. Lambatnya respon imun itu adalah efek dari kemampuan S.scabiei dalam memodulasi berbagai aspek respon imun dan inflamasi hospes. Telur, feses, ekskreta, saliva, dan tubuh S.scabiei yang mati juga menstimulasi respon imun. S.scabiei mendorong keluarnya anti-inflammatory cytokine interleukin-1 receptor antagonist (IL-1ra) dari sel fibroblas manusia. IL-1ra menginhibisi sitokin proinflamasi IL-1 dengan mengikat reseptor IL-1 yang ada dalam sel limfosit T, sel limfosit B, natural killer cell, makrofag dan neutrofil. Berdasarkan patogenesis skabies, antigen tungau merangsang respon imun adaptif pada manusia agar muncul produksi imunoglobulin. Pengetahuan mengenai respon imun hospes terhadap Sarcoptes scabiei ini dapat dijadikan dasar untuk pengembangan metode serodiagnostik dalam rangka menegakkan diagnosis skabies, sehingga membantu eliminasi skabies di Indonesia.

Page 7 of 27 | Total Record : 270