cover
Contact Name
Husnun Amalia
Contact Email
husnun_a@trisakti.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jbiomedkes@trisakti.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Biomedika dan Kesehatan
Published by Universitas Trisakti
ISSN : 2621539x     EISSN : 26215470     DOI : -
Core Subject : Health, Science,
Jurnal Biomedika dan Kesehatan is an official publication of Faculty of Medicine Trisakti University. Jurnal Biomedika dan Kesehatan is a third-monthly medical journal that publishes new research findings on a wide variety of topics of importance to biomedical science and clinical practice. Jurnal Biomedika dan Kesehatan online contains both the current issue and an online archive that can be accessed through browsing, advanced searching, or collections by disease or topic.
Arjuna Subject : -
Articles 270 Documents
Ketepatan hasil pengukuran keratometri dengan ukuran astigmatisme pada ametropia Handriwei Handriwei; Husnun Amalia
Jurnal Biomedika dan Kesehatan Vol 3 No 3 (2020)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18051/JBiomedKes.2020.v3.131-136

Abstract

LATAR BELAKANGEmetropia adalah kondisi mata yang tidak memiliki kelainan refraksi atau mata normal. Sinar sejajar yang datang dari jarak tak berhingga akan difokuskan tepat di retina (makula). Sedangkan kondisi mata yang memiliki kelainan refraksi dikenal dengan ametropia, yaitu sinar sejajar yang datang dari jarak tak berhingga tidak dapat difokuskan tepat di makula. Ametropia terdiri dari miopia, hipermetropia dan astigmatisme. Astigmastisme adalah keadaan di mana sinar-sinar sejajar tidak dibiaskan pada satu titik fokus. Pengukuran astigmatisme dilakukan dengan obyektif dan subyektif. Secara obyektif dilakukan pengukuran keratometri dengan alat keratometer. Pengukuran secara subjektif dilakukan dengan pemeriksaan refraksi. Kedua hasil pengukuran tersebut dapat berbeda sehingga dapat berpengaruh pada tatalaksananya. Pengukuran astigmatisme kornea yang tepat sangat penting pada tatalaksanan astigmatisme. Oleh karena itu, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian ini untuk mengetahui ketepatan hasil pengukuran keratometri dengan ukuran astigmatisme pada ametropia. METODEPenelitian ini menggunakan desain analitik observasional dengan desain potong lintang. Penelitian dilakukan di Rumah Sakit Masmitra, Bekasi pada bulan Februari-April 2019 dengan sampel 186 mata. Data keratometri dan astigmatisme didapatkan dari rekam medis yang dilakukan oleh dokter spesialis mata. Analisis data menggunakan uji Chi-square dengan tingkat kemaknaan sebesar 0.05. HASILAnalisis Chi-square menunjukkan astigmatisme lebih banyak ditemukan pada usia lansia (p=0.785). Tidak terdapat hubungan yang bermakna antara ketepatan hasil pengukuran keratometeri dengan astigmatisme pada berbagai kelompok usia (p=0.062). KESIMPULANTidak terdapat hubungan antara ketepatan hasil keratometri dan astigmatisme pada ametropia.
Fenotip equol-producer dan hubungannya dengan asupan isoflavon dan kesehatan Elly Herwana
Jurnal Biomedika dan Kesehatan Vol 3 No 3 (2020)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18051/JBiomedKes.2020.v3.159-165

Abstract

Distribusi penyakit osteoporosis, penyakit kardiovaskuler, dan kanker yang berbeda antara populasi Asia dan Kaukasia membawa pemikiran atas keterkaitannya dengan perbedaan variasi diet antara kedua populasi. Studi epidemiologi menunjukkan asupan isoflavon kedelai pada populasi Asia jauh lebih tinggi daripada populasi Kaukasia. Isoflavon disebut sebagai fitoestrogen karena derivat isoflavon yaitu genistein, daidzein dan equol (metabolit daidzein) memiliki struktur molekul yang menyerupai estrogen dan dapat berikatan pada reseptor estrogen sebagai agonis lemah. Terikatnya derivat isoflavon dengan reseptor estrogen akan memberikan efek menyerupai estrogen (estrogen like effect). Berbagai hasil penelitian menunjukkan asupan dan suplementasi isoflavon berperanan pada penyakit yang didasari oleh defisiensi hormon estrogen antara lain mengurangi gejala premenopausal, menghambat osteoporosis, dan memberikan efek proteksi terhadap kanker payudara dan prostat. Di antara derivat isoflavon yang ada equol menunjukkan efek estrogenik yang lebih tinggi daripada derivat isoflavon lainnya. Kemampuan individu untuk memprodukasi equol tidak sama, sehingga individu dapat dibedakan sebagai fenotip equol-producer dan non-equol-producer. Hasil studi juga mengindikasikan adanya keterkaitan antara efek isoflavon dengan fenotip equol-producer.
Aktivitas berjalan meningkatkan bone mineral density pada perempuan pascamenopause Evita Peninta Dwi Savitri; Elly Herwana
Jurnal Biomedika dan Kesehatan Vol 3 No 3 (2020)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18051/JBiomedKes.2020.v3.119-125

Abstract

LATAR BELAKANGOsteoporosis merupakan penyakit tulang yang ditandai dengan rendahnya bone mineral density (BMD) disertai perubahan pada mikroarsitektur tulang. BMD yang rendah menandai adanya penurunan kepadatan pada tulang dan meningkatkan risiko terjadinya fraktur. Penurunan kadar estrogen pada kondisi pascamenopause, gaya hidup yang meliputi aktivitas fisik dan kebiasaan berjalan sangat berperanan dalam progresivitas osteoporosis. Penelitian ini bertujuan menilai hubungan antara aktivitas berjalan dengan kepadatan tulang pada perempuan pascamenopause. METODEPenelitian analitik observasional dengan metode cross-sectional dilakukan pada perempuan pascamenopause berusia 45-70 tahun pada periode Agustus-Oktober 2018. Penilaian aktivitas berjalan dilakukan dengan menggunakan kuesioner dan wawancara. Aktivitas berjalan dinilai dari jumlah langkah berjalan/hari yang dikonversikan dari jarak tempuh subjek berjalan kaki setiap harinya. Pengukuran BMD menggunakan calcaneal quantitative ultrasound (QUS), hasil pengukuran BMD membedakan kepadatan tulang berdasarkan nilai-T. Analisis data dilakukan dengan uji statistik Chi Square dengan tingkat kemaknaan p<0.05. HASILSebanyak 88 perempuan pascamenopause ikut berpartisipasi sebagai subjek penelitian dengan usia (rerata ± simpang baku) 57.91 ± 7.25 tahun. Distribusi aktivitas berjalan didapatkan 71 (80.7%) kurang aktif, 12 (13.6%) aktivitas sedang, dan 5 (5.7%) aktif. Distribusi hasil penilaian kepadatan tulang didapatkan sebanyak 18 (20.5%) normal, 49 (55.75%) osteopenia dan 21 (23.9%) osteoporosis. Hasil analisis statistik menunjukkan terdapat hubungan yang bermakna antara aktivitas berjalan dan kepadatan tulang pada perempuan pascamenopause (p=0.009). KESIMPULANTerdapat hubungan yang bermakna antara aktivitas berjalan dan kepadatan tulang pada perempuan pascamenopause.
Hubungan antara merokok dan katarak pada usia 45-59 tahun Gusta Nieskala Lumunon; Erlani Kartadinata
Jurnal Biomedika dan Kesehatan Vol 3 No 3 (2020)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18051/JBiomedKes.2020.v3.126-130

Abstract

LATAR BELAKANGKatarak merupakan suatu keadaan di mana lensa mata yang biasanya jernih menjadi keruh. Di dalam rokok terdapat tembakau yang didalamnya mengandung nikotin, radikal bebas, dan karbon monoksida, yangdapat meningkatkan stres oksidatif dan memiliki peran penting dalam patogenesis katarak. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara merokok dan katarak pada usia 45-59 tahun. METODEPenelitian ini menggunakan metode case control study. Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan data sekunder rekam medik katarak dan kuesioner indeks Brinkman di Rumah Sakit Haji Jakarta Timur pada bulan September-Oktober 2019. Jumlah rekam medik sebanyak 74 sampel yang terdiri dari 37 sampel katarak dan 37 sampel tidak katarak sebagai kontrol. Analisis data dilakukan dengan menggunakan uji Chi-square. HASILSebanyak 27 responden (73.0%) menderita katarak dan merokok, 10 responden (27.0%) menderita katarak dan tidak merokok. Kemudian untuk kontrol didapatkan 15 responden (40.5%) tidak menderita katarak dan merokok, 22 responden(59.5%) tidak menderita katarak dan tidak merokok. Hasil menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara merokokdan katarakdengan p=0.005 (p < 0.05). KESIMPULANDapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara merokok dan katarak.
Importance of nutrition and lifestyle for elderly during the COVID-19 pandemic Nugroho Abikusno
Jurnal Biomedika dan Kesehatan Vol 3 No 3 (2020)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18051/JBiomedKes.2020.v3.109-111

Abstract

Presently the world is experiencing a pandemic of a global magnitude never before witnessed and recorded by human civilization. No one is excluded from this disease and the most vulnerable are the very young and/the very old in our population. It is the most highly communicable and severe viral infection and most of our reproductive age population show practically no signs or symptoms of infection unless they are tested positive using the PCR method or arrive at the hospital in acute respiratory distress.(1) The infection spreads mostly in: 1) closed environment with poor ventilation such as clubs, café, restaurants, meeting rooms; 2) among crowds of people such as in public stations, malls, religious gatherings, and cinemas as well as; 3) within close contact with people usually friends, family or co-workers who form the cluster most likely to be infected with the virus.(2)
Mesothelioma akibat inhalasi debu asbes Tjam Diana Samara; Meylan Fitriyani; Paluvi Safitri; Puti Shahnaz; Isra Sabrina; Syadza Maisarah
Jurnal Biomedika dan Kesehatan Vol 3 No 4 (2020)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18051/JBiomedKes.2020.v3.193-201

Abstract

Mesothelioma adalah kanker yang berkembang mengenai lapisan paru-paru, adomen, atau jantung. Risiko mesothelioma tidak turun dari waktu kewaktu setelah paparan asbes berhenti. Sebanyak 80% mesothelioma disebabkan oleh inhalasi debu asbes. Masa laten mesothelioma dapat terjadi 10 sampai 50 tahun. Mesothelioma pleura adalah mesothelioma yang paling sering ditemukan dengan gejala sesak nafas, batuk kering, nyeri dada, hemoptoe, mudah lelah, demam disertai keringat terutama malam hari, berat badan menurun, dan efusi pleura. Standar penegakan diagnosis mesothelioma pleura dapat dilakukan dengan beberapa pilihan pemeriksaan antara lain rontgen thoraks, Computed Tomography (CT) Scan, Positron-Emission Tomography (PET) Scan, atau Magnetic Resonance Imaging (MRI). Terapi mesothelioma terutama pada mesothelioma pleural dapat dilakukan pembedahan, kemoterapi, radioterapi atau kombinasi dari keduanya atau lebih atau yang disebut sebagai terapi multimodal. Prognosis untuk kanker mesothelioma umumnya buruk dan banyak pasien yang hidup kurang dari satu tahun.
Hubungan sikap tubuh saat bekerja dengan keluhan muskuloskeletal akibat kerja pada karyawan Queena Raihan Salsabila; Magdalena Wartono
Jurnal Biomedika dan Kesehatan Vol 3 No 4 (2020)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18051/JBiomedKes.2020.v3.169-175

Abstract

LATAR BELAKANG Gangguan muskuloskeletal akibat kerja adalah gangguan pada struktur muskuloskeletal pada leher, punggung, ekstremitas atas dan bawah yang disebabkan oleh mikro-trauma kumulatif akibat biomekanikal atau pajanan lain dari pekerjaan. Gangguan ini jarang mengancam jiwa, tetapi dapat meningkatkan absenteisme, menurunkan produktivitas kerja, menurunkan kualitas hidup, dan meningkatkan beban finansial. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan risiko sikap tubuh saat bekerja dengan timbulnya keluhan muskuloskeletal. Selain itu penelitian juga melihat faktor lain seperti masa kerja dan karakteristik jenis kelamin serta hubungannya dengan keluhan muskuloskeletal. METODEPenelitian menggunakan studi observasional analitik cross-sectional dengan jumlah responden 60 pekerja kantor. Risiko sikap kerja dinilai dengan menggunakan Rapid Upper Limb Assessment (RULA) dan keluhan muskuloskeletal dinilai dengan menggunakan Nordic Body Map (NBM). Selain itu juga dikumpulkan data tentang jenis kelamin dan masa kerja. Data yang dikumpulkan dianalisis dengan menggunakan uji Fisher. HASILHampir sebagian besar pekerja (91.7%) mengalami keluhan muskuloskeletal dan sebagian besar di antaranya adalah pekerja laki-laki (96.9%). Keluhan muskuloskeletal yang tinggi didapatkan pada pekerja yang sudah bekerja lebih dari 4 tahun (96.7%) dan juga pada pekerja dengan sikap kerja berisiko tinggi (90%) namun berdasarkan hasil uji statistik tidak didapatkan hubungan antara jenis kelamin, masa kerja dan tingkat risiko sikap tubuh dengan keluhan muskuloskeletal (p> 0.005). KESIMPULANPrevalensi keluhan muskuloskeletal pada pekerja kantor sangat tinggi demikian juga dengan tingkat risiko sikap tubuh saat bekerja. Pada penelitian ini tidak didapatkan hubungan antara risiko sikap tubuh, jenis kelamin dan masa kerja dengan keluhan muskuloskeletal. Dengan demikian perlu diteliti faktor-faktor lain yang mungkin menyebabkan keluhan ini. Walaupun tidak didapatkan hubungan yang bermakna, angka prevalensi yang tinggi ini perlu menjadi perhatian bagi perusahaan.
Hubungan pemberian kapsul vitamin A dan pengetahuan caregiver dengan stunting pada anak usia 24-59 bulan Danya Fatimah; Fransisca Chondro
Jurnal Biomedika dan Kesehatan Vol 3 No 4 (2020)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18051/JBiomedKes.2020.v3.176-182

Abstract

LATAR BELAKANGStunting adalah masalah gizi kronik yang sering terjadi pada anak usia 24-59 bulan dan akan berdampak pada pertumbuhan dan perkembangan anak. Hasil Riskesdas 2018, terdapat 30.8% kejadian stunting di Indonesia. Salah satu faktor risiko stunting adalah vitamin A dan pengetahuan caregiver. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pemberian kapsul vitamin A program pemerintah dan pengetahuan caregiver dengan stunting pada anak usia 24-59 bulan di Puskesmas Kecamatan Grogol Kusuma Wijaya tahun 2019. METODEDesain Penelitian yang digunakan adalah cross sectional. Sampel pada penelitian ini berjumlah 123 anak yang didapat dengan cara consecutive non random sampling. Penelitian ini dilakukan pada bulan September-Oktober 2019. Pengumpulan data dilakukan melalui pengukuran tinggi badan anak dan wawancara kuesioner. Analisis data dilakukan dengan uji Chi-square dan uji Fisher-exact. HASILProporsi anak stunting di Puskesmas Kecamatan Grogol Kusuma Wijaya mencapai 22%, kelengkapan vitamin A sebesar 92.7%, dan pengetahuan caregiver sebagian besar sedang yaitu 49,6%. Analisis uji statistik menunjukkan adanya hubungan bermakna antara vitamin A dengan kejadian stunting pada anak usia 24-59 bulan (p=0.024). Dan menunjukan adanya hubungan bermakna antara pengetahuan caregiver dengan kejadian stunting pada anak usia 24-59 bulan (p=0.000). KESIMPULANPemberian kapsul vitamin A dan pengetahuan caregiver dalam penelitian ini berhubungan dengan terjadinya stunting.
Pentingnya olahraga selama pandemi COVID-19 Dyah Ayu Woro Setyaningrum
Jurnal Biomedika dan Kesehatan Vol 3 No 4 (2020)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18051/JBiomedKes.2020.v3.166-168

Abstract

BACKGROUND Many women complain of uncomfortable symptoms a few days before menstruation in the form of emotional problems to discomfort in the abdominal area, this condition is called premenstrual syndrome.Lack of nutrients, one of which is vitamin B6, is a risk factor for premenstrual syndrome. This study was conducted to assess the relationship between vitamin B6 intake and premenstrual syndrome in junior high school students. METHODS The study used an analytical observational method with a cross-sectionaldesign, in 162 students of SMPN 75 Jakarta, which was taken with cluster random samplingand simple random samplingtechniques. Measurement of the incidence of premenstrual syndrome was carried out using sPAF questionnaires and vitamin B6 intake using SQ-FFQ questionnaires. The data from the study were analyzed using thechi-squaretest. The research was conducted after obtaining the approval of the number ethics 7/KER-FK/II/2022. RESULTS The results showed that female students who experienced premenstrual syndrome were mostly aged 15-16 years (20.8%), had menarche at the age of under 12 years (16.4%), did less exercise (15.6%), had a body mass index (BMI) in the category of excess nutrition (25.0%), andconsumed foods that contained enough vitamin B6 (15.0%). The results of the bivariate analysis between free and dependent variables found no meaningful relationship between premenstrual syndrome and age (p = 0.054), menarche age (p = 0.630), exercise (p = 0.726), BMI (p = 0.131), and vitamin B6 intake (p = 1.000). CONCLUSIONS There was no relationship between vitamin B6 intake, sociodemographic characteristics (age, menarche age), exercise, and body mass index (BMI) and premenstrual syndrome.
Kesesuaian dimensi kursi terhadap data antropometri anak sekolah dasar di Jakarta Utara Hiromi Hiromi; Yunisa Astiarani; Robi Irawan; Mariani Santosa
Jurnal Biomedika dan Kesehatan Vol 4 No 1 (2021)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18051/JBiomedKes.2021.v4.12-18

Abstract

BACKGROUND In Indonesia, primary school begins at 6 years old and continues until 12, where most of their growth is experienced at that age. Non-ergonomic school furniture can harm the musculoskeletal system. This study evaluates the suitability of chair dimensions to elementary school student’s anthropometry in North Jakarta. METHODSA cross-sectional study of 98 students in North Jakarta. Chair dimension data and student anthropometry were measured using a tape measure, which was then analyzed using the Chi-Square Goodness of Fit Test to evaluate their suitability. RESULTSThe ages of the students ranged from 5 to 11 years. Anthropometric measurements of students show that the mean Sitting Shoulder Height is 41.81±4.36 cm, Popliteal Height 36.83±3.77 cm, Hip Breadth 25.88±3.47 cm, and Buttock-Popliteal Length 36.56±4.33 cm. While the average size assessed from the seat dimensions is Seat Height 41.71±0.22 cm, Seat Width 37.2±1.26 cm, Seat Depth 37.2±1.42 cm, and Backrest Height Above Seat 35.54±3.19 cm. The results of Goodness of Fit with Kendall's Tau-b critical value for the suitability of chair dimensions to student anthropometry were 0.37, and vice versa 0.672, which stated a discrepancy. CONCLUSIONThere is a mismatch between chair dimension and anthropometry of elementary school students in North Jakarta. Adjustment of chair dimensions needs to be done using a student's average size approach to prevent musculoskeletal disorders.

Page 9 of 27 | Total Record : 270