cover
Contact Name
Husnun Amalia
Contact Email
husnun_a@trisakti.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jbiomedkes@trisakti.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Biomedika dan Kesehatan
Published by Universitas Trisakti
ISSN : 2621539x     EISSN : 26215470     DOI : -
Core Subject : Health, Science,
Jurnal Biomedika dan Kesehatan is an official publication of Faculty of Medicine Trisakti University. Jurnal Biomedika dan Kesehatan is a third-monthly medical journal that publishes new research findings on a wide variety of topics of importance to biomedical science and clinical practice. Jurnal Biomedika dan Kesehatan online contains both the current issue and an online archive that can be accessed through browsing, advanced searching, or collections by disease or topic.
Arjuna Subject : -
Articles 270 Documents
Patogenesis dan virulensi Burkholderia pseudomallei penyebab melioidosis dan Burkholderia cepacia sebagai patogen oportunis Conny Riana Tjampakasari
Jurnal Biomedika dan Kesehatan Vol 4 No 1 (2021)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18051/JBiomedKes.2021.v4.27-36

Abstract

Di antara genus Burkholderia terdapat dua spesies yang menjadi perhatian dalam bidang kesehatan, yaitu B. pseudomallei dan  B. cepacia.   Kedua bakteri ini menyebabkan masalah klinis yang berbeda. Penyakit melioidosis kerap disebabkan oleh  B.pseudomallei, sedangkan  B. cepacia complex (Bcc) seringkali ditemukan pada pasien cystic fibrosis (CF). Burkholderia pseudomallei merupakan kelompok bakteri patogen intracellular Gram negatif, memiliki bentuk seperti peniti. Demikian pula  B. cepacia  merupakan kelompok bakteri Gram negatif basil serta mempunyai flagel polar multitrik. B. pseudomallei memiliki kemampuan untuk menginfeksi berbagai jenis sel dan menghindari respon imun manusia. Bakteri  ini masuk melalui kulit atau selaput lendir dan bereplikasi di sel epitel. Di dalam sel inang, bakteri bergerak dengan menginduksi polimerisasi aktin inang,  mendesak dinding membran membentuk tonjolan yang meluas ke sel lain. Tonjolan ini menyebabkan sel tersebut  bergabung, membentuk sel raksasa berinti (multinucleated giant cell/MNGC). Setelah memasuki saluran pernafasan pasien penderita CF, B. cepacia menempel pada permukaan sel mukosa ataupun sel epitel inang.  Lapisan mukus yang menebal pada paru mendukung efikasi antimikrobia dan meningkatkan respon inflamasi. Kemampuan untuk melewati barier epitelial dan menemukan akses ke aliran darah hanya dimiliki oleh strain kelompok ini. Faktor virulensi bertugas  membantu proses invasi sel inang oleh bakteri patogen. Secara umum, kedua spesies ini memiliki jenis faktor virulensi yang sama, diantaranya adalah  intracellular survival, quorum sensing, adherence factor, sistem sekresi, lipopolisakarida (LPS) dan eksopolisakarida (EPS),  biofilm, toksin dan resistensi antimikrobia.
Peran reseptor nuklear pada implantasi dan perkembangan blastokista Endrico Xavierees; Ninik Mudjihartini
Jurnal Biomedika dan Kesehatan Vol 4 No 1 (2021)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18051/JBiomedKes.2021.v4.37-46

Abstract

Syarat penting untuk terjadinya kehamilan, yaitu blastokista pada fase tertentu siap melakukan implantasi dan proliferasi endometrium, sehingga menjadi reseptif terhadap embrio untuk melakukan implantasi. Pada tahap selanjutnya, masih terdapat proses molekular yang berkesinambungan sampai pada akhirnya terjadi hubungan langsung antara blastokista dan dinding endometrium dengan membentuk plasenta. Implantasi yang tidak efisien tentunya akan menyebabkan kegagalan implantasi, sehingga muncul masalah infertilitas. Sebanyak 30% kasus kegagalan kehamilan disebabkan oleh masalah kesehatan embrio. Pemahaman yang lebih mendalam mengenai sinyal-sinyal yang berperan pada kedua proses berkesinambungan tersebut diharapkan dapat memberikan metode terapi yang baru pada kasus infertilitas, sehingga meningkatkan jumlah kehamilan.
Hubungan Antara Obesitas Dengan Peningkatan Kurva Lumbal Pada Mahasiswa Fitriani Rahmawati; Nuryani Sidarta
Jurnal Biomedika dan Kesehatan Vol 4 No 1 (2021)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18051/JBiomedKes.2021.v4.19-26

Abstract

LATAR BELAKANGMasalah kesehatan yang berhubungan dengan berat badan seperti obesitas telah berkembang semakin luas. Obesitas sendiri akan berdampak pada berbagai sistem di dalam tubuh termasuk sistem muskuloskeletal. Obesitas dengan penambahan lingkar pinggang akan menyebabkan perubahan biomekanik yang memberikan pengaruh pada perubahan kurva vertebra lumbal. Studi ini ingin melihat hubungan antara lingkar pinggang berlebih dengan kejadian hiperlordosis pada orang-orang yang mengalami obesitas. METODEPenelitian menggunakan studi analitik potong lintang yang mengikutsertakan 88 mahasiswa dan mahasiswi di Jakarta. Sampel di pilih dengan menggunakan metode Consecutive Non Random Sampling dengan mengikuti kriteria inklusi yang telah ditetapkan. Kelompok mahasiswi yang masuk dalam kategori hamil, seorang atlet maupun yang memiliki riwayat gangguan pada struktur tulang belakang tidak dimasukkan dalam penelitian ini. Data yang dikumpulkan antara lain berat badan, tinggi badan, lingkar pinggang serta pengukuran kurva lumbal dengan menggunakan flexible ruler. Derajat dosis lumbal dihitung dengan menggunakan rumus baku. Uji statistik Chi-square digunakan untuk melihat ada tidaknya hubungan antara obesitas dan lingkar pinggang berlebih dengan hiperlordosis lumbal dengan nilai p<0.001. HASILDari 88 mahasiswa yang turut serta dalam penelitian ini, didapatkan hampir sepertiganya (27.3%) mengalami obesitas dan ditemukan 37 orang (42%) yang memiliki hiperlordosis lumbal. Dari hasil uji Chi-square didapatkan adanya hubungan antara status gizi obesitas dan lingkar pinggang berlebih dengan kejadian hiperlordosis lumbal (p=0.000). Pada penelitian ini tidak didapatkan hubungan antara jenis kelamin dengan kejadian hiperlordosis. KESIMPULANPada penelitian ini menunjukkan bahwa berat badan obesitas dan lingkar pinggang yang berlebih memiliki hubungan dengan peningkatan kurva lumbal pada mahasiswa.
Kekambuhan asma pada perempuan dan berbagai faktor yang memengaruhinya Andriani Litanto; Kartini Kartini
Jurnal Biomedika dan Kesehatan Vol 4 No 2 (2021)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18051/JBiomedKes.2021.v4.79-86

Abstract

Asma merupakan penyakit multifaktorial yang terjadi pada saluran napas akibat reaksi inflamasi kronik yang menyebabkan hiperresponsif jalan napas dengan gejala mengi, sesak napas dan dada terasa berat disertai batuk dan gejalanya umumnya terjadi malam hari atau menjelang pagi. Bila asma tidak terkontrol dapat menyebabkan kematian. Sesungguhnya asma tidak dapat sembuh sempurna hanya dapat menghilangkan gejalanya. Setelah pubertas, asma menjadi lebih umum terjadi bahkan dapat semakin parah pada seorang perempuan, dan paling tinggi terjadi pada perempuan dengan menarche dini atau dengan kehamilan banyak. Mekanisme yang mendasari perbedaan gender dalam prevalensi asma masih diselidiki tetapi sebagian besar merujuk pada perbedaan hormon dan perbedaan dalam kapasitas paru-paru. Peranan reseptor estrogen ditemukan pada banyak sel pengatur imun dan memengaruhi respons imunologis ke arah perkembangan alergi. Beberapa faktor yang memengaruhi kekambuhan asma pada perempuan antara lain faktor genetik dengan adanya polimorfisme pada gen yang berhubungan dengan asma, faktor pulmoner yaitu adanya penghambatan produksi surfaktan oleh estrogen yang meningkatkan kerentanan terhadap alergi, faktor persepsi dan perilaku perempuan terhadap gejala asma yang dialami sehingga menyebabkan kualitas hidup lebih buruk, dan faktor obesitas menyebabkan peningkatan aromatase yang berefek meningkatkan estrogen serta peningkatan kadar leptin yang berperan dalam pengaturan berat badan dan meningkatkan mediator proinflamasi.
Pengaruh Pemberian Antibiotik terhadap Tanda Infeksi Daerah Operasi Superfisial dan Lama Tinggal Pasien Sectio Caesaria Teulis Sumiartini; Dian Ratih Laksmitawati; Hesti Utami Ramadaniati; Ronald Irwanto Natadidjaja; Rudi Asmajaya
Jurnal Biomedika dan Kesehatan Vol 4 No 1 (2021)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18051/JBiomedKes.2021.v4.5-11

Abstract

LATAR BELAKANGStandar Nasional Akreditasi Rumah Sakit (SNARS) edisi 1/2018 menjadikan kejadian Infeksi Daerah Operasi (IDO) sebagai salah satu indikator mutu untuk menilai kinerja pengendalian infeksi di rumah sakit. Pemberian antibiotik lanjutan pascaoperasi sectio caesaria (SC) menjadi isu yang penting untuk dikaji, mengingat operasi ini pada dasarnya tidak membutuhkan pemberian antibiotik lanjut pascaoperasinya. Penelitian ini bertujuan untuk melihat apakah pemberian antibiotik lanjutan pascaoperasi SC berpengaruh terhadap penurunan IDO superfisial dan Length of Stay (LOS) pasien. METODEPasien dibagi menjadi 2 kelompok dengan jumlah masing-masing sebesar 49 subjek. Kelompok pertama adalah kelompok subjek yang diberikan antibiotik lanjut pascaoperasi SC dan kelompok kedua adalah kelompok subjek yang tidak diberikan antibiotik lanjutan pascaoperasi SC, kemudian dari masing-masing kelompok dikaji kemungkinan munculnya tanda IDO superfisial dan LOS pasien. Desain penelitian ini adalah kohort retrospektif dengan data sekunder dari rekam medis pasien Januari 2019-Desember 2019. Uji analisa dengan Chi-square. HASILSetelah mengontrol variabel perancu, pemberian antibiotik lanjut pascaoperasi SC tidak signifikan berpengaruh menurunkan kemungkinan munculnya tanda IDO superfisial (OR=0.157;p=0.098; 0.02-1.41 IK 95%), juga tidak memiliki pengaruh terhadap LOS pasien (OR=1.73; p=0.562; 0.27-10.85 IK 95%). KESIMPULANTidak terdapat pengaruh dari pemberian antibiotik lanjutan terhadap tanda kejadian IDO superfisial dan LOS pada pasien post SC. Pemberian antibiotik lanjutan pascaoperasi SC merupakan pemberian antibiotik yang tidak bijak.
Dampak pandemi coronavirus disease 2019 terhadap kualitas publikasi ilmiah Yenny Yenny
Jurnal Biomedika dan Kesehatan Vol 4 No 1 (2021)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18051/JBiomedKes.2021.v4.1-4

Abstract

Dunia medis belakangan ini digemparkan dengan dilaporkan adanya temuan kasus pneumonia tipe baru di kota Wuhan, Provinsi Hubei, Cina pada akhir Desember 2019.(1) Belakangan diketahui bahwa penyakit pneumonia tersebut disebabkan oleh patogen varian baru coronavirus yang disebut sebagai  2019-novel coronavirus (2019-nCoV)/severe acute respiratory syndrome coronavirus-2 (SARS-CoV-2) yang selanjutnya dikenal sebagai coronavirus disease 2019 (COVID-19) dan oleh the World Health Organization dinyatakan sebagai pandemi global pada tanggal 11 Maret 2020.(2) Semenjak itu para ilmuan mulai memfokuskan penelitian yang dilakukan pada topik yang berkaitan dengan COVID-19.  Kondisi ini juga membawa dampak terdapatnya peningkatan volume publikasi artikel tentang COVID-19 yang sangat mencolok di mana dalam 6 bulan sejak terjadinya pandemi jumlah publikasi  berbentuk riset, letters, reviews, notes, dan editorial yang berhubungan dengan COVID-19 dilaporkan berjumlah lebih dari 23.500 artikel.(3)
Program remedial dan angka putus studi mahasiswa kedokteran Revalita Wahab; Purnamawati Tjhin
Jurnal Biomedika dan Kesehatan Vol 4 No 2 (2021)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18051/JBiomedKes.2021.v4.50-56

Abstract

LATAR BELAKANGWalaupun penyusunan kurikulum Pendidikan Kedokteran telah disusun sedemikian rupa supaya dapat menghasilkan lulusan yang memiliki kompetensi yang ditetapkan, tetap ada mahasiswa yang mengalami putus studi. Prevalensi putus studi secara umum pada tahun 2017 sebesar 2.8% mahasiswa yang terdaftar di Perguruan Tinggi Swasta dan Negeri di Indonesia mengalami putus studi dan 3.7% mahasiswa terdapat di Jakarta. Putus studi dapat berdampak negatif untuk masyarakat, profesi dan institusi, sehingga perlu upaya untuk melakukan pencegahan dan penanggulangannya. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah dengan melaksanakan program remedial. Penelitian ini bertujuan untuk menilai efektivitas program remedial dalam menurunkan angka putus studi mahasiswa kedokteran. METODEPenelitian dilakukan dengan desain cross-sectional pada 228 mahasiswa angkatan 2013-2017, menggunakan data sekunder meliputi jenis kelamin, tahun masuk kuliah, dan status putus studi. Kriteria inklusi sampel adalah mahasiswa yang termasuk pada kategori terancam putus studi. Analisis data dengan uji Chi-square, dengan tingkat kemaknaan 95%. HASILPrevalensi putus studi sebesar 12.7%. Sebagian besar responden yang terancam putus studi berjenis kelamin perempuan (68.9%) dan merupakan mahasiswa program non remedial (64%). Tidak ada hubungan bermakna antara jenis kelamin dan angka putus studi (p=0.989). Perempuan dan laki-laki memiliki peluang yang sama untuk terjadi putus studi. Mahasiswa yang termasuk angkatan program remedial memiliki angka putus studi yang lebih tinggi (18.3%) dibandingkan dengan mahasiswa yang termasuk angkatan non-remedial (9.6%), walaupun secara statistik tidak bermakna (p=0.058). KESIMPULANPrevalensi putus studi mahasiswa kedokteran tahun 2013-2017 sebesar 12.7%. Tidak terdapat hubungan bermakna antara jenis kelamin dan program remedial dengan terjadinya putus studi.
Hubungan paparan bising dengan hipertensi pada karyawan pabrik industri kabel Nabilla Damar Sukma Andjani; Dian Mediana
Jurnal Biomedika dan Kesehatan Vol 4 No 2 (2021)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18051/JBiomedKes.2021.v4.57-64

Abstract

LATAR BELAKANGHipertensi didefinisikans jika tekanan darah sistolik ≥140 mmHg atau tekanan darah diastolik ≥90 mmHg. RISKESDAS 2018 menunjukkan prevalensi hipertensi di Indonesia adalah 34.11%. Hipertensi merupakan risiko kesehatan umum pada pekerja yang terpapar kebisingan keras (≥85dB(A)). Frekuensi, intensitas, durasi paparan, tipe bising dapat mengganggu aktivitas tubuh seperti sistem pendengaran dan non-pendengaran. Hipertensi merupakan penyakit multi-faktorial yang dapat dipicu dari berbagai sumber seperti paparan bising. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan antara paparan bising dan hipertensi. METODEPenelitian ini dilakukan menggunakan metode analitik observasional dengan pendekatan potong lintang pada 78 responden laki-laki berusia 22-53 tahun di pabrik kabel, Jawa Barat. Data dikumpulkan dengan kuesioner sosiodemografi, sphygmomanometer, microtoise, dan timbangan berat badan. Variabel yang diteliti adalah hipertensi, intensitas bising, tipe bising, masa kerja, usia, jumlah konsumsi rokok. Analisis data menggunakan uji Chi-square dan Kolmogorov-Smirnov dengan p<0.05. HASILTekanan darah normal 23.1%, prehipertensi 39.7%, hipertensi 37.1%. Intensitas bising <85 dB(A) 32.1%, ≥85 dB(A) 67.9%. Tipe bising kontinu + intermittent 93.6%, impulsif 6.4%. Masa kerja <10 tahun 23.1%, ≥10 tahun 76.9%. Tidak merokok 35.9%, merokok 1-10 batang 24.4%, >10 batang 39.7%. Hubungan bermakna antara intensitas bising dan usia dengan hipertensi (p=0.007; p=0.019). Hubungan tidak bermakna antara tipe bising, masa kerja, dan konsumsi rokok dengan hipertensi (p=0.281; p=0.139; p=0.257). KESIMPULANTerdapat hubungan bermakna antara intensitas bising dan usia dengan hipertensi pada karyawan pabrik industri kabel, namun tidak didapatkan hubungan bermakna antara tipe bising, masa kerja, dan jumlah konsumsi rokok dengan hipertensi.
Hubungan antara kebiasaan minum teh dengan anemia pada wanita hamil Nanda Lisisina; Irmiya Rachmiyani
Jurnal Biomedika dan Kesehatan Vol 4 No 2 (2021)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18051/JBiomedKes.2021.v4.65-69

Abstract

LATAR BELAKANGAnemia merupakan salah satu permasalahan yang sering terjadi dalam kehamilan di Indonesia yang memiliki dampak buruk bagi keadaan ibu, janin maupun proses persalinan. Ada banyak faktor penyebab anemia pada wanita hamil dan penyebab paling sering adalah defisiensi besi. Teh merupakan jenis minuman yang paling banyak dikonsumsi orang dewasa setelah air termasuk wanita hamil. Sementara teh berperan sebagai faktor inhibitor pada absorpsi zat besi dalam tubuh. Penelitian ini dilakukan untuk menilai hubungan Frekuensi kebiasaan minum teh dengan anemia pada wanita hamil. METODEPenelitian ini menggunakan studi analitik observasional dengan desain potong lintang yang dilakukan terhadap 230 wanita hamil trimester ke-3 di Puskesmas Kecamatan Kebon Jeruk, Jakarta Barat, DKI Jakarta. Frekuensi minum teh dinilai dengan menggunakan kuesioner dan kadar Hb dinilai dari data rekam medis. Analisis data menggunakan uji Chi-square dengan tingkat kemaknaan 0.05. HASILDistribusi kebiasaan minum teh menunjukkan hasil bahwa lebih banyak subjek yang memiliki kebiasaan minum teh jarang (51.7%) dan berdasarkan distribusi anemia diketahui bahwa sebagian besar responden tidak mengalami anemia (67.8%). Terdapat hubungan antara kebiasaan minum teh dengan anemia pada wanita hamil (p=0.00) KESIMPULANPenelitian ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara frekuens minum teh dengan anemia pada wanita hamil trimester ketiga.
Hubungan antara beban kerja, besaran upah, dan stres kerja pada karyawan PT. HBSP Sarifa Sarifa; Magdalena Wartono
Jurnal Biomedika dan Kesehatan Vol 4 No 2 (2021)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18051/JBiomedKes.2021.v4.70-78

Abstract

LATAR BELAKANGPerkembangan dunia bisnis yang dinamis tentu berpengaruh terhadap tuntutan produktivitas kerja karyawan. Dalam menjalankan tugas mereka tidak jarang para karyawan mengalami stres kerja yang bisa diakibatkan oleh berbagai faktor antara lain beban kerja dan besaran upah kerja. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara beban kerja, besaran upah dengan stres kerja pada karyawan perusahaan pengelolaan limbah. METODEStudi cross-sectional pada 95 karyawan perusahaan pengelolaan limbah. Data sosiodemografi, lama kerja dan besaran upah dikumpulkan dengan kuesioner. Kategori beban kerja didapatkan dengan menghitung rumus persentase beban kardiovaskuler dan penilaian stres dengan mengunakan survei Health and Safety Executive (HSE). Analisis hubungan antara variabel dilakukan dengan uji Chi-square dan Kolmogorov-smirnov. HASILResponden paling banyak yang berusia 26-45 tahun (62.1%) dan didominasi oleh laki-laki (74.7%). Responden yang telah bekerja <5 tahun adalah 55.8% dan yang sudah menikah sebanyak 69.5%. Sebanyak 78.9% responden tidak menerima besaran upah yang sesuai dengan Upah Minimum Kota. Dalam hal beban kerja, sebanyak 49 responden termasuk kategori diperlukan perbaikan. Mayoritas responden mengalami stres sedang (72.6%). Tidak terdapat hubungan bermakna antara beban kerja dan kejadian stres kerja (p=0.758), dan terdapat hubungan yang bermakna antara upah terhadap stres kerja pada karyawan perusahaan pengelolaan limbah di Karawang (p=0.000). KESIMPULANPenelitian menunjukkan banyak karyawan yang mengalami stres dan didapatkan hubungan yang bermakna dengan besara upah tetapi tidak dengan beban kerja. Dengan demikian perusahaan perlu melakukan kajian terhadap sistem perupahan dan manajemen stres di tempat kerja.

Page 10 of 27 | Total Record : 270