cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota jambi,
Jambi
INDONESIA
Jurnal LEX SPECIALIS
ISSN : 18299814     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Social,
Arjuna Subject : -
Articles 8 Documents
Search results for , issue "No 14 (2011): Desember" : 8 Documents clear
Asas Praduga Tak Bersalah Dari Berbagai Persfektif M Zen Abdullah
Jurnal LEX SPECIALIS No 14 (2011): Desember
Publisher : Jurnal LEX SPECIALIS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (150.549 KB)

Abstract

AbstrakAsas praduga tak bersalah (presumption of innocence) sebagai suatu asas universal yang terdapat dan berlaku pada setiap negara di dunia yang menamakan dirinya sebagai negara berdasarkan hukum. Dalam teori peradilan pidana, dikenal adanya dua model peradilan pidana, yaitu Crime Control Model (CCM) dan Due process Model (DPM). Jaminan perlindungan hak asasi manusia tidak hanya dapat diberikan melalui pencantuman asas tersebut saja, karena asas praduga tak bersalah itu bersifat ” abstrak”, sehingga memerlukan implementasi lebih lanjut pada penyelenggaraan peradilan pidana. Perbedaan persfektif yang terjadi di kalangan penegak hukum khususnya Jaksa dan Hakim serta kalangan masyarakat mengakibatkan perbedaan pidana dan tuntutan terhadap satu perkara dengan perkara lain. Ditambah lagi pemahaman masyarakat yang berbeda-beda terhadap asas praduga tak bersalah sehingga timbul ketidakpercayaan masyarakat terhadap hukum yang mengakibatkan timbul pemberitaan pelaku tindak pidana secara berlebihan padahal belum tentu si tersangka atau terdakwa benar-benar melakukan tindak pidana yang dituduhkan. Kata Kunci : Perbedaan persfektif 
IMPLEMENTASI STANDAR HAM DALAM UU NO. 27 TAHUN 2007 TENTANG PENGELOLAAN WILAYAH PESISIR DAN PULAU-PULAU KECIL , Maryati
Jurnal LEX SPECIALIS No 14 (2011): Desember
Publisher : Jurnal LEX SPECIALIS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (161.749 KB)

Abstract

AbstractDengan  semakin mencuatnya paradigma pembangunan kelautan serta dilaksanakannya otonomi daerah, maka semakin mengemuka beberapa persoalan yang menjadi isu strategis dalam pengelolaan sumber daya pesisir. Persoalannya apakah kebijakan pesisir yang ditempuh telah sesuai dengan  standar dan prinsip HAM?. Dari perspektif  keselarasan dengan prinsip HAM, kelihatannya UU PWP3K  telah selaras dengan  prinsip-prinsip HAM  tersebut. Meskipun tidak bisa dipungkiri   adanya  kelemahan seperti materi aturan  yang mengisaratkan adanya pemihakan terhadap kepentingan pemodal kuat dibanding masyarakat pemodal kecil dan masyarakat hukum adat dalam pengelolaan wilayah pesisir
PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP KORBAN TINDAK PIDANA KEKERASAN SEKSUAL DALAM SISTEM PERADILAN PIDANA , Suzanalisa
Jurnal LEX SPECIALIS No 14 (2011): Desember
Publisher : Jurnal LEX SPECIALIS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (158.297 KB)

Abstract

AbstrakKekerasan seksual yang terjadi sekarang ini sebenarnya telah terjadi dari dahulu kala dan sampai sekarang tetap masih ada cuma modus operadinya saja yang berubah-ubah. Kita menemukan kondisi yang mencengangkan, dan sangat mengenaskan tentang kejahatan seksual sekarang ini, walaupun secara umum wanita sering mendapat sorotan sebagai korban pelecehan seksual, namun pelecehan seksual dapat menimpa siapa saja. Korban pelecehan seksual bisa jadi laki-laki ataupun perempuan, korban bisa jadi adalah lawan jenis dari pelaku pelecehan ataupun jenis kelamin yang sama.Walaupun banyak tindak pidana kekerasan seksual yang telah diproses sampai Pengadilan tapi tiap kasus pelakunya tidak pernah dijatuhi hukuman maksimal sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang tercantum dalam Kitab Undang-Undang Pidana (KUHP) bab XIV Hambatan yang terjadi dalam penanganan kasus kekeserasan seksual adalah hambatan internal dan eksternal, hambatan internal banyaknya kegiatan, luasnya cakupan kegiatan yang meliputi institusi penegakan hukum serta mitra kerja, menimbulkan kesulitan dalam melakukan monitoring dari pelaksanaan masing-masing kegiatan. 
PEMBERANTASAN KORUPSI MELALUI GOOD GOVERNANCE , Nuraini
Jurnal LEX SPECIALIS No 14 (2011): Desember
Publisher : Jurnal LEX SPECIALIS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (158.706 KB)

Abstract

Abstrak Prinsip good governance sebenarnya merupakan prinsip yang mengetengahkan keseimbangan antara masyarakat (society) dengan negara (state) serta negara dengan pribadi-pribadi (personals). Setiap kebijakan public (public policy) harus melibatkan berbagai pihak baik pemerintah, masyarakat maupun sektor swasta dengan aturan main yang jelas. Ciri good governance adalah keputusan tersebut diambil secara demokratis, transparan, akuntabilitas, dan benar. Upaya mewujudkan good governance merupakan suatu prioritas dalam rangka menciptakan suatu tatanan masyarakat, bangsa, dan negara yang lebih sejahtera, jauh dari korupi, kolusi, dan nepotisme. Konsep good governance sebagai salah satu pendekatan yang diandalkan tidak akan menjamin berkurangnya praktek korupsi, jika pejabat pemerintahan di pusat tidak memberikan teladan yang baik kepada pejabat daerah. Hal ini secara rasional dapat dibenarkan karena ekses dari dominasi pusat sebagai pusat kekusaan dan uang.
Fungsi Dan Wewenang Polri Dalam Kaitannya Dengan Perlindungan Hak Asasi Manusia Iman Hidayat
Jurnal LEX SPECIALIS No 14 (2011): Desember
Publisher : Jurnal LEX SPECIALIS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (127.799 KB)

Abstract

AbstrakFungsi penegakan hukum dalam rangka menjamin keamanan, ketertiban dan HAM. Dalam rangka itu, kepolisian diberikan wewenang oleh undang-undang sebagai penyidik. Penyidikan dilakukan sebagai upaya proses menetapkan siapa pelaku yang melanggar hak-hak asasi tersangka namun untuk menjamin hak-hak asasi yang lebih luas dari masyarakat umum. Pelanggaran hak-hak asasi tersangka oleh penyidik dapat dibenarkan sepanjang yang dibenarkan undang-undang (KUHAP). Namun demikian tidak jarang dalam pelaksanaan tugasnya sehari-hari Polri melakukan upaya justru melanggar rambu-rambu yang digariskan oleh undang-undang. Pelaksanaan tugas kepolisian yang sesungguhnya diberikan undang-undang dalam rangka melindungi HAM sebaliknya justru melanggar HAM lainnya. fungsi dan kewenangan Polri ada beberapa tahapan baik dalam tahap penyidikan, berupa mencari keterangan dan alat bukti dan menyuruh berhenti orang yang dicurigai sedangkan dalam tahap penyidikan berupa penangkapan dan penahanan.Kata Kunci : Polri Dalam Menjalankan Fungsi dan Wewenangnya 
KAJIAN YURIDIS PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA TERHKORPORASI DALAM TINDAK PIDANA PENCEMARAN LINGKUNGAN HIDUP Rudi Hartono
Jurnal LEX SPECIALIS No 14 (2011): Desember
Publisher : Jurnal LEX SPECIALIS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (154.275 KB)

Abstract

AbstractBerbicara  mengenai  pengertian  Korporasi maka  kita  tidak bisa  melepaskan    pengertian  tersebut   dari   bidang  hukum perdata. Apa sebab ?  Karena  Korporasi   terminology  merupakan  terminologi  yang  erat  kaitannya  dengan  badan  hukum (Rechtspersoon) dan badan  hukum  itu  sendiri  merupakan terminology yang  erat  kaitannya   dengan  bidang  hukum  perdata.Korporasi   sebagai pelaku  tindak  pidana pencemaran lingkungan hidup,  dalam  hukum positip  sudah  diakui, bahwa  korporasi  dapat dipertanggungjawabkan  secara  pidana,  dan  dapat  dijatuhkan pidana. Di negeri  Belanda   untuk menentukan korporasi  sebagai pelaku  tindak pidana harus terlebih dahulu didasarkan  pada Arrest “Kleuterschool Babbel” yang   menyatakan bahwa  perbuatan  dari  perseorangan/orang  pribadi dapat  dibebankan kepada  Badan Hukum/Korporasi,  apabila  perbuatan-perbuatan tersebut  tercermin dalam  lalu-lintas  sosial  sebagai perbuatan dari  Badan Hukum, lalu bagaimana di Indonesia untuk korporasi yang melakukan tindak pidana pencemaran lingkungan hidup.Perundang-undangan  di Indonesia  untuk  menentukan pertanggungjawaban pidana  suatu korporasi  dapat  dilihat  pada  Pasal  15  ayat  (2) Undang-Undanmg Tindak Pidana Ekonomi dengan  mengunakan  peraturan yaitu  pertama berdasarkan hubungan  kerja  atau  hubungan  lain, kedua  berdasarkan  bertindak  dalam lingkungan  badan  hukum. 
PERANAN DOKTER PSIKIATER DALAM MENENTUKAN STATUS KEJIWAAN TERSANGKA DALAM KAITANNYA DENGAN PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA Ruslan Abdul Gani
Jurnal LEX SPECIALIS No 14 (2011): Desember
Publisher : Jurnal LEX SPECIALIS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (132.026 KB)

Abstract

AbstractUntuk menentukan apakah pelaku tindak pidana  tersebut  terganggu jiwanya  atau gila  bukanlah kewenangan penegak hukum (Polisi/Penyidik, Jaksa Penuntut Umum  dan Hakim), namun yang paling berwenang adalah  Psikiater. Apabila  dari hasil pemeriksaan Dokter  Psikiater ternyata pelaku kejahatan tersebut mengalami kejiwaan atau  terganggu kesehatan hal ini tentunya  akan mempengaruhi kemampuannya  dalam  mempertanggungjawabkan atas tindak pidana yang dilakukan. Dalam dalam membuktikan apakah pelaku tindak pidana  tersebut  jiwanya  terganggu atau tidak, sangat diperlukan  bantuan  dari seorang ahli Psikiater. Key Lok: Pentingnya  Dokter Psikiater  Dalam menentukan  status kejiwaan seseorang
Dampak Sosial Ekonomi Penambangan Batubara Ferdricka Nggeboe
Jurnal LEX SPECIALIS No 14 (2011): Desember
Publisher : Jurnal LEX SPECIALIS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (122.456 KB)

Abstract

Abstract Potensi  pertambangan  batubara  membawa dampak  positif  dan juga   berdampak  negatif. Dampak  positifnya  adalah  bahwa kesejahteraan  masyarakat  di  wilayah  pertambangan  secara  umum  terlihat meningkat  karena  efek  dominan  dari  keberadaan  perusahaan  telah  mampu mendorong dan menggerakkan sendi-sendi ekonomi masyarakat, Struktur sosial di  masyarakat  juga  mengalami  perubahan  karena  masyarakat  sekitar pertambangan termotivasi untuk mampu menyesuaikan perubahan struktur sosial yang  disebabkan  banyaknya  masyarakat  pendatang  yang  menjadi  karyawan  di perusahaan  tambang  batubara  maupun  masyarakat  setempat yang membuka  usaha  di sekitar perusahaan batubara. Sedangkan dampak negatif, baik pada perubahan  struktur  sosial, budaya, ekonomi masyarakat maupun  pada kualitas lingkungan. Pengaruh  negatif  struktur  sosial  masyarakat  di  sekitar  perusahaan pertambangan  yang  mungkin  bisa  terjadi adalah  perilaku  dan  atau  kebiasaan yang  bersifat  negatif  seperti  perjudian,  kebiasaan  minum-minuman  keras  dan pola  hidup  konsumtif,  para  karyawan  yang  bisa  mendorong  perubahan masyarakat  lokal  menjadi  lebih  konsumtif dan  bila  hal  tersebut  tidak  didukung oleh  perubahan  kemampuan  daya  beli  masyarakat  lokal  akan  menyebabkan kecemburuan  sosial yang  pada akhirnya bisa menyebabkan  ketidak harmonisan (konflik sosial) antara warga di sekitar perusahaan pertambangan. Hal  lain  yang  tidak  boleh  diabaikan  adalah  dampak  negatif  terhadap kualitas lingkungan. Tidak dapat di pungkiri bahwa aktivitas pertambangan dapat dipastikan  menyebabkan  rendahnya  kualitas  lingkungan.  Untuk  mengendalikan kerusakan  lingkungan  yang  disebabkan  oleh  aktivitas  perusahaan  tambang batubara tersebut maka diperlukan  kontrol  yang  kuat dari  seluruh  steakeholder (perusahaan, pemerintah dan seluruh masyarakat).  

Page 1 of 1 | Total Record : 8