Sudarno, Sudarno
Departemen Manajemen Kesehatan Ikan Dan Budidaya Perairan, Fakultas Perikanan Dan Kelautan Universitas Airlangga, Indonesia.

Published : 33 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 33 Documents
Search

Pengaruh Konsentrasi Maltodekstrin Terhadap Karakteristik Pepton Ikan Kakap (Lutjanus sp.) Rustina Ningsih; Sudarno Sudarno; Agustono Agustono
AGROINTEK Vol 12, No 1 (2018)
Publisher : Agroindustrial Technology, University of Trunojoyo Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/agrointek.v12i1.3673

Abstract

Ikan kakap mengandung kadar protein 20.55% Protein ikan kakap yang cukup tinggi dapat dimanfaat sebagai produk dari  hidrolisat protein seperti pepton. Pepton digunakan sebagai sumber nutrien media untuk mikroorganisme .Pepton bersifat mudah berikatan dengan air pada saat terkena udara, sehingga berpengaruh pada masa penyimpan pepton,sehingga perlu teknik mikroenkapsulasi yang merupakan suatu teknik melapisi cairan, padatan, atau gas dengan lapisan tipis berupa material pelindung yang berfungsi dalam masa simpan.. Maltodekstrin efektif untuk pelindung bahan yang dienkapsulasi dari oksidasi. Maltodekstrin memiliki kelebihan mudah larut dalam air dingin, dispersi cepat, daya larut yang tinggi. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh pemberian maltodekstrin terhadap karakteristik pepton ikan kakap. Produksi pepton ikan kakap menggunakan enzim papain 0.3% dan di hidrolisis dengan suhu 60°C selama 5 jam, kemudian dilakukan inaktivasi enzin dan penyaringan kemudian dilakukan pencampuran antara sampel dan maltodekstrin dengan konsentrasi 1.0% ,2.0%, dan 3.0% selanjutkan dilakukan spray drying. Penelitian ini menggunakan tiga konsentrasi berbeda dengan tiga ulangan (triplo). Hasil menunjukkan terdapat pengaruh terhadap total nitrogen, kelarutan dalam air, dan juga rendemen. Semakin besar konsentrasi maltodekstrin yang digunakan semakin rendah total nitrogen yang dihasilkan. Berdasarkan penelitian ini dapat disimpulkan dengan penambahan maltodekstrin dengan berbagai konsentrasi pada pepton ikan kakap berpengaruh terhadap kadar nitrogen, kelarutan dalam air, kadar air,dan rendemen. 
Red Dragon Fruit Extract (Hylocereus polyrhizus) Restores Learning Ability and Memory on Test Animals Post Lead Exposure: Experimental Study on Test Animals Made Pury Pratiwi; Raden Argarini; Sudarno Sudarno
ANIMA Indonesian Psychological Journal Vol. 30 No. 1 (2014): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 30, No. 1, 2014)
Publisher : Laboratory of General Psychology, Faculty of Psychology, Universitas Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (396.723 KB) | DOI: 10.24123/aipj.v30i1.535

Abstract

The aim of this study was to analyze whether red dragon fruit (Hylocereus polyrhizus) administration affect learning ability and memory after lead exposure. A randomized control-group pretest-posttest was conducted with 24 mice (Mus musculus), which was divided through a random assignment into four groups: G1, G2, G3, and G4. Group G1 received 1.16 mg/10 g BW lead acetate. Group G2, G3, and G4 received 1.16 mg/10 g BW lead acetate and red dragon fruit extract 250 mg/kg BW (G2), 500 mg/kg BW (G3), and 1000 mg/kg BW (G4). Results revealed that some groups that has been given red dragon fruit extract (group G2, G3, and G4) showed significant improvement of latency time, frequency, and combined scoring value of latency time and frequency in posttest by using Morris Water Maze compared to the control group (p = .001; α = .05). The improvement of group G3 and G4 was better than group G2. These finding indicates that administration of red dragon fruit extract have a protective effect and improves learning ability and memory after lead exposure with 500-1000 mg/kg BW as the best dose.
Profile of patients with post partum hemorrhage in Dr. Soetomo Hospital, Surabaya, January 2011 - December 2013 Mazaya Azyati; M. Aldika Akbar; Sudarno Sudarno
Majalah Obstetri dan Ginekologi Vol. 24 No. 2 (2016): May - August
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (211.628 KB) | DOI: 10.20473/mog.V24I22016.43-48

Abstract

Objectives: To recognize profile of patients with post partum haemorrhage in Dr. Soetomo Hospital, Surabaya, from January 2011 to December 2013.Materials and Methods: This was a descriptive study using secondary data from medical records of patients with postpartum hemorrhage at Dr. Soetomo Hospital in January 2011 - December 2013. Age, parity, origin, amount of hemoglobin, cause of postpartum hemorrhage, mode of delivery, and transfusion data patients were all recorded.Results: Result of this study were patient’s age, parity, origin, hemoglobin, cause of postpartum haemorrhage, mode of delivery, and transfusion data. From 202 cases, 131 patients (64.85%) were 20 – 35 years old, 134 patients (66.34%) were multipara, 84 patients (41.58%) were from private practice midwife, 70 patients’ (34.65%) hemoglobin were <8 gr%, 63 patients (31.19%) post partum haemorrhage caused by retained placenta, 164 patients (81.20%) labored with spontaneous way, and 131 patients (64.85%) did not receive transfusion.Conclusions: Most of the patients with postpartum hemorrhage were 20-35 years, multiparas, from private practice midwives, came with haemoglobin level <8 gr%, caused by retained placenta, delivered with spontaneous way, and did not receive transfusion.
Characteristics of abortus patients in Dr. Soetomo Hospital, Surabaya, Indonesia Kadek Novita Damayanti; Muhammad Yusuf; Sudarno Sudarno
Majalah Obstetri dan Ginekologi Vol. 28 No. 2 (2020): August
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/mog.V28I22020.79-83

Abstract

Objective: The purpose is to uncover the characteristics of abortion patients in Dr. Soetomo general hospital in 2014.Materials and Methods: This study has analized with descriptive observational method using data from medic records on patient that fulfilled inclusion criterias in Dr. Soetomo general hospital during the periods of January 1st - December 31st 2014. Researcher used various variables such as patient’s age, gestational age, parity, previous history of abortion, previous history of contraception and type of abortion. From 40 patients, only 31 patients that fulfilled those inclusion criteria.Results: This study found that from 31 patients of abortion, the age group is dominated by more than 35 years old (52%). Most gestational age of abortion’s patients comes before 20 weeks (68%). Parity occurance is dominated by multiparity (39%). Most of them have no previous history of abortion (55%). Most of them also have no previous history of contraception (65%). And the type of abortion is dominated by Threatened Abortion (61%).Conclusion: Characteristics of abortion patients based on age are dominated by age over 35 years (52%). Based on gestational age are dominated by gestational age less than 12 weeks (1st trimester) (68%). Based on the parity dominated by multiparous groups (39%). Based on previous history of abortion are dominated by patients who have never experienced abortion before (55%). And based on the type of abortion are dominated by patients who experience Imminent Abortion (61%).
Gambaran Histopatologi Kulit dan Insang Benih Ikan Lele (Clarias Sp.) yang Terinfeksi Saprolegnia Sp. dan yang Telah Diobati dengan Ekstrak Daun Sirih (Piper betle L.) Andriana Kusuma Wardhani; Sudarno Sudarno; Rahayu Kusdarwati
Journal of Aquaculture and Fish Health Vol. 7 No. 1 (2018): JAFH Vol. 7 No. 1 Februari 2018
Publisher : Department of Aquaculture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (193.837 KB) | DOI: 10.20473/jafh.v7i1.11227

Abstract

Ikan lele menjadi salah satu komoditi hasil perikanan yang memiliki prospek yang sangat menjanjikan, baik dari segi permintaan maupun harga jualnya. Salah satu penyakit yang umumnya menyerang ikan lele adalah penyakit saprolegniasis yang disebabkan oleh jamur Saprolegnia sp. Tumbuhan obat tradisional yang diketahui dapat bermanfaat dalam pengendalian berbagai agen penyebab penyakit ikan, salah satunya adalah daun sirih (Piper betle L.). Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran histopatologi insang dan kulit benih ikan lele (Clarias sp.) yang terinfeksi oleh Saprolegnia sp. dan yang telah diobati dengan ekstrak daun sirih (Piper betle L). Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan perlakuan pemberian ekstrak daun sirih dengan dosis 3,2 %. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Fakultas Perikanan dan Kelautan, Universitas Airlangga Surabaya dan di Laboratorium Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga pada bulan Agustus 2013. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terjadi nekrosis pada bagian kulit benih ikan lele (Clarias sp.) yang terinfeksi Saprolegnia sp. Sedangkan pada perlakuan jaringan yang terinfeksi Saprolegnia sp. dan telah diobati dengan ekstrak daun sirih (Piper betle L) struktur jaringan kulit tetap pada kondisi normal karena Saprolegnia sp. tidak mampu menginfeksi jaringan kulit dan insang benih ikan lele (Clarias sp.). 
Aplikasi Sistem Imuno-Probiosirkulasi pada Tambak Udang pola Tradisional Di Desa Jenu, Kabupaten Jenu Sudarno Sudarno; Gunanti Mahasri; Rahayu Kusdarwati
Journal of Aquaculture and Fish Health Vol. 7 No. 1 (2018): JAFH Vol. 7 No. 1 Februari 2018
Publisher : Department of Aquaculture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (93.988 KB) | DOI: 10.20473/jafh.v7i1.11239

Abstract

Udang galah (Penaeus monodon Fab) merupakan salah satu udang yang penting secara ekonomi, sampai tahun 1992 menjadi komoditi ekspor non migas yang paling penting dari sektor perikanan. Sejak akhir tahun 1993 sampai sekarang, tingkat kematian Penaeus monodon Fab relatif tinggi dan karena keadaan ini telah menyebabkan banyak tambak roboh sehingga produksi udang menurun secara dramatis dari tahun ke tahun. Kabupaten Jenu merupakan salah satu daerah Tuban yang memiliki potensi perikanan besar, terutama untuk kolam air pemecah gelombang, yang paling top sebagai kabupaten lainnya. Ada banyak kasus mati udang sampai sekarang. Tapi, agar 80% kolam pemecah air pecah dan tidak operasional. Tujuan dari kegiatan pelayanan masyarakat ini adalah menerapkan teknologi kultur udang Imuno-Probiokulasi dengan metode tradisional plus (SI-PBR), meningkatkan produksi udang di Kabupaten Jenu, Tuban, Jawa Timur. Metode yang digunakan dalam kegiatan ini adalah sosialisasi / konseling, perencanaan dan panduan penerapan teknologi SI-PBR dalam satu periode (tiga bulan). Hasil ini menunjukkan indikasi positif. Ada pengetahuan petani yang berhenti melalui sosialisasi, namun juga menerapkan teknologi budidaya udang. Ada juga yang menunjukkan bahwa model SI-PBR dapat menurunkan produksi udang dari 272,43 kg / ha menjadi 854,66 kg / ha, artinya meningkat 313%. Kesimpulan dari kegiatan ini adalah model SI-PBR dapat meningkatkan produksi udang dan dapat diaplikasikan di daerah yang lebih luas di wilayah Tuban. 
TEKNIK KULTUR Chlorella sp. SKALA LABORATORIUM DAN INTERMEDIET DI BALAI PERIKANAN BUDIDAYA AIR PAYAU (BPBAP) SITUBONDO JAWA TIMUR Afif Mufidah; Agustono Agustono; Sudarno Sudarno; Daruti Dinda Nindarwi
Journal of Aquaculture and Fish Health Vol. 7 No. 2 (2018): JAFH Vol. 7 No. 2 Juni 2018
Publisher : Department of Aquaculture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jafh.v7i2.11246

Abstract

Mikroalga adalah tumbuhan tingkat rendah yang memiliki klorofil untuk melakukan fotosintesis (Rismiarti dkk., 2016). Beberapa spesies mikroalga di alam merupakan pakan alami bagi ikan dan udang. Pakan alami menjadi sumber nutrisi penting pada stadium awal perkembangan organisme. Salah satu pakan alami yang digunakan untuk budidaya ikan yaitu Chlorella sp.. Chlorella sp. memiliki kandungan nutrisi protein sebesar 51–58%, minyak sebesar 28-32%, karbohidrat 12-17%, lemak 14-22%, dan asam nukleat 4-5% (Rachmaniah dkk., 2010).Salah satu cara untuk memperoleh biakan murni Chlorella sp. agar dapat memenuhi ketersediaan pakan alami dalam jumlah yang cukup, berkesinambungan dan tepat waktu adalah dengan adanya tindakan kultur. Praktek Kerja Lapang ini dilaksanakan di Balai Perikanan Budidaya Air Payau (BPBAP) Situbondo, Jawa Timur pada tanggal 23 Januari sampai tanggal 23 Februari 2017. Tujuan praktek kerja lapang ini adalah untuk mendapatkan pengetahuan tentang teknik kultur Chlorella sp. skala laboratorium dan intermediet. Metode kerja yang digunakan yaitu metode deskriptif. Metode tersebut meliputi wawancara, observasi, dan partisipasi aktif selama proses kegiatan kultur Chlorella sp. skala laboratorium dan intermediet. Data yang terkumpul terdiri atas data primer dan sekunder. Kegiatan kultur Chlorella sp. skala laboratorium dilakukan dengan metode kultur bertingkat di dalam ruangan (indoor). Kultur Chlorella sp. dimulai dengan persiapan alat dan bahan (sterilisasi), pembuatan pupuk Walne dan vitamin, isolasi Chlorella sp. pada Petridish (media agar), kultur pada test tube 10 ml, kultur pada Erlenmeyer 250 ml, kultur pada Bottle glass 3 liter, dan kultur pada Carboy 10 liter. Kegiatan kultur Chlorella sp. skala intermediet dilakukan dimulai dengan persiapan alat dan bahan (sterilisasi), pemberian bibit Chlorella sp. yang berasal dari kultur murni skala laboratorium. Pemeliharaan Chlorella sp. dilakukan selama kurang lebih 5 hari yang mencapai fase eksponensial pada hari ke 4. Pemanenan dilakukan dengan metode flokulan kimia menggunakan NaOH. Kendala yang terdapat dalam teknik kultur Chlorella sp. adalah media kultur yang tidak bebas dari kontaminan, kepadatan awal yang tidak optimal, dan kondisi lingkungan yang tidak baik. Kondisi lingkungan yang tidak baik seperti kualitas air yang tidak sesuai dengan habitat Chlorella sp. dan kondisi cuaca yang fluktuatif akibat musim pancaroba yang mempengaruhi intensitas cahaya pada kultur Chlorella sp. skala intermediet. 
PENGARUH TEKNOLOGI AKUAPONIK DENGAN MEDIA TANAM SELADA (Lactuca sativa) YANG BERBEDA TERHADAP PERTUMBUHAN BELUT (Monopterus albus) Pipin Tri Anjani; Rahayu Kusdarwati; Sudarno Sudarno
Journal of Aquaculture and Fish Health Vol. 6 No. 2 (2017): JAFH Vol. 6 No. 2 Juni 2017
Publisher : Department of Aquaculture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (207.353 KB) | DOI: 10.20473/jafh.v6i2.11281

Abstract

Teknologi akuaponik merupakan teknologi kombinasi akuakultur dan hidroponik yang bertujuan untuk memelihara ikan dan tanaman dalam satu sistem yang saling terhubung (Sibarani, 2013). Limbah yang dihasilkan oleh ikan seperti feses dan pakan, digunakan sebagai pupuk untuk tanaman. Kemudian air yang dialirkan dari media pemeliharaan dibersihkan olah tanaman sehingga dapat digunakan kembali oleh ikan (Wahap,2010). Menurut Rokocy (2010) interaksi antara ikan dan tanaman menghasilkan lingkungan yang ideal untuk tumbuh sehingga lebih produktif dari metode tradisional.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh media tanam terhadap pertumbuhan belut (Monopterus albus) dalam sistem akuaponik. Penelitian ini dilakukan pada bulan Agustus sampai September 2016 di Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Airlangga. Percobaan terdiri dari empat perlakuan dan lima ulangan, tanpa media tanam sebagai kontrol ( P0), media tanam zeolit (P1), media tanam batu apung (P2) dan media tanam pecahan batu bata (P3). Hasil pengamatan yang didapatkan dari penggunaan teknologi akuaponik dengan media tanam selada terbaik yang dapat mempengaruhi pertumbuhan belut yaitu media tanam zeolit. Pada pengamatan menunjukkan laju pertumbuhan spesifik dengan media tanam zeolit (1,19%/hari), kelulushidupan belut dengan media tanam zeolit (70%), Penambahan tinggi selada pada media tanam zeolit ( 11,39 cm), dan kandungan amonia terendah pada media tanam zeolit pada hari ke-28 (0,03 mg/L). 
HUBUNGAN ANTARA KUALITAS AIR DENGAN PREVALENSI ENDOPARASIT PADA SALURAN PENCERNAAN IKAN NILA (Oreochromis niloticus) DI KERAMBA JARING APUNG PROGRAM URBAN FARMING DI KOTA SURABAYA Dandi Pradana; Rahayu Kusdarwati; Sudarno Sudarno
Journal of Aquaculture and Fish Health Vol. 6 No. 3 (2017): JAFH Vol. 6 No. 3 September 2017
Publisher : Department of Aquaculture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (148.035 KB) | DOI: 10.20473/jafh.v6i3.11289

Abstract

Aspergillus terreus adalah jamur yang menyebabkan penyakit aspergillosis. Ikan yang terinfeksi menunjukkan bercak putih abu-abu di atas tubuh. Perdarahan ulkus diamati pada insang dan kulit. Infeksi menyebabkan kematian ikan. Penggunaan bahan kimia untuk mengendalikan serangan jamur dapat membahayakan ikan, lingkungan dan manusia yang memakannya. Penggunaan tanaman obat merupakan cara yang aman untuk menghambat dan membunuh pertumbuhan jamur serta ramah lingkungan. Salah satunya yaitu menggunakan ekstrak bawang putih (Allium sativum). Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui konsentrasi minimum ekstrak bawang putih sebagai antijamur terhadap pertumbuhan Aspergillus terreus in vitro. Percobaan dilakukan di Balai Karantina Juanda Kelas I Surabaya pada bulan Juni - Juli 2015. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode difusi cakram kertas. Analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah statistik deskriptif. Hasil penelitian dengan menggunakan ekstrak bawang putih konsentrasi 50% sampai 90% tidak menghasilkan zona bening di sekitar kertas, hal itu sama dengan kontrol negatif. Pada konsentrasi 100% tidak menunjukkan jamur tumbuh pada medium Sabouraud Dextrose Agar (SDA). Ini sama dengan kontrol positif. Kesimpulan dari penelitian ini bahwa daun kemangi tidak menunjukkan aktivitas antijamur dalam menghambat pertumbuhan jamur Aspergillus terreus. 
The Addition of Lemuru Fish Oil in Bran Suspension to Successful Induction of M. macrocopa Ephippia Production Reni Oktaviani; Ahmad Shofy Mubarak; Sudarno Sudarno
Journal of Aquaculture and Fish Health Vol. 9 No. 1 (2020): JAFH Vol. 9 no. 1 February 2020
Publisher : Department of Aquaculture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (335.106 KB) | DOI: 10.20473/jafh.v9i1.15443

Abstract

The production M. macrocopa ephippia limited by availability of poly unsaturated fatty acids (PUFAs) in feed. The lack amount of ω-3 fatty acids in rice bran suspension limits ephippia production. Lemuru fish oil containing EPA has potential to enrich in rice bran suspension to increase ephippia production. The purpose of this study to determine the affect addition of lemuru fish oil in rice bran suspension and the optimal concentration of lemuru fish oil in rice bran suspension which results the highest ephippia production. This study used Completely Randomized Design (CRD) method with 5 treatments adding fish oil in rice bran suspension of 0%, 1.5%, 3%, 4.5%, and 6%), with 4 replications. Sexual female offspring are produced from cultures with density 660 ind /L with regulated feed concentration. Furthermore, offspring are cultured with feed according the treatment. During the culture, daily production, total production and production ephippia per  parent. These results indicate addition of lemuru fish oil to rice bran suspension as feed of  M. macrocopa affect the production ephippia. The addition of lemuru fish oil with concentration  6ml / 100g in rice bran produce the highest total M. macrocopa ephippia production  (3452 ± 43.0 grains / Liter)