cover
Contact Name
Sinta Paramita
Contact Email
sintap@fikom.untar.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
Koneksi@untar.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Koneksi
ISSN : -     EISSN : 25980785     DOI : -
Koneksi (E-ISSN : 2598 - 0785) is a national journal, which all articles contain student's writing, are published by Faculty of Communication Universitas Tarumanagara. Scientific articles published in Koneksi are result from research and scientific studies conduct by Faculty of Communication students in communication field. Koneksi published twice a year.
Arjuna Subject : -
Articles 670 Documents
Adaptasi Kultural Pendatang India terhadap Kebudayaan Baru di Jakarta Devita Novelia; Wulan Purnama Sari
Koneksi Vol 5, No 1 (2021): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v5i1.10149

Abstract

Culture plays an important role in oneself, when one moves and settles into a new environment, they must adapt to the new environment and culture. The interaction between Indian migrants and the residents of Jakarta creates anxiety and uncertainty for Indian migrants. This study describes the process of cultural adaptation as well as the efforts made by Indian migrants in managing the feeling of anxiety and uncertainty in cross – cultural  communication, using Gudykunts' theory of anxiety / uncertainty management. The approach used is qualitative with phenomenological methods and data collection techniques by interviews and observations. The anxiety faced by migrants is due to differences in attitudes and behavior of Jakarta residents compared to Indians in general, while the uncertainty that arises is due to the inability of newcomers to predict the behavior and circumstances that will occur. Indian immigrants try to adjust themselves in order to create effective communication with the residents of Jakarta, because according to migrants adapting to the Jakarta environment is easier than adapting to the behavior and attitudes of the Jakarta residents themselves.Budaya memainkan peran penting dalam diri individu, sehingga ketika individu tinggal dan menetap di lingkungan baru, individu harus melakukan adaptasi terhadap lingkungan dan budaya barunya. Interaksi antara pendatang India dengan penduduk Jakarta menimbulkan kecemasan (anxiety) dan ketidakpastian (uncertainty) dalam diri pendatang. Penelitian ini mendeskripsikan proses adaptasi budaya serta upaya yang dilakukan pendatang India dalam pengelolaan kecemasan dan ketidakpastian dalam komunikasi antarbudaya, dengan menggunakan teori anxiety/uncertainty management dari Gudykunts. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif dengan metode fenomenologi dan teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara dan obeservasi. Kecemasan yang dihadapi pendatang adalah karena adanya perbedaan sikap dan perilaku penduduk Jakarta dibandingkan orang India pada umumnya, sedangkan ketidakpastian yang muncul dikarenakan ketidakmampuan pendatang dalam memprediksi perilaku maupun keadaan yang akan terjadi. Pendatang India berupaya menyesuaikan diri guna menciptakan komunikasi yang efektif dengan penduduk Jakarta, karena menurut pendatang beradaptasi dengan lingkungan Jakarta lebih mudah dibandingkan beradaptasi dengan perilaku dan sikap penduduk Jakarta sendiri. 
Perbandingan Personal Branding Perempuan Kepala Daerah Tingkat II di Indonesia melalui Instagram Vanessa Junaidi; Suzy Azeharie
Koneksi Vol 5, No 1 (2021): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v5i1.10174

Abstract

Having a strong self-image in the minds of the public is a way for political figures to create positive perceptions of themselves. In order to be realized, political figures need to package their abilities in attractive packaging or in other words, political figures need to do and have strong personal branding. Tjhai Chui Mie as Mayor of Singkawang and Karolin Margret Natasa as Regent of Landak are two Second Stage Local Female Leaders in Indonesia who do personal branding through their Instagram accounts. This study aims to determine the form of personal branding carried out by Tjhai Chui Mie and Karolin through their Instagram account and to find out the differences. The theories used in this research are communication theory, political communication, and personal branding. In this study, the authors used a qualitative research approach with a descriptive case study method. Data processing is sourced from data obtained through literature study and interviews with four sources. The results showed that the forms of personal branding performed by Tjhai Chui Mie and Karolin were both ceremonial and related to official activities. The difference is only in the concept of delivering political messages which are packaged into various Instagram content. The political communication that was built by the two of them was not interactive because the communication only went one way.Memiliki citra diri yang kuat dalam benak masyarakat merupakan salah satu cara tokoh politik dalam menciptakan persepsi positif atas dirinya. Agar dapat terwujud, tokoh politik perlu mengemas kemampuannya dengan kemasan yang menarik atau dengan kata lain, tokoh politik perlu melakukan dan memiliki personal branding yang kokoh. Tjhai Chui Mie selaku Wali Kota Singkawang dan Karolin Margret Natasa selaku Bupati Landak merupakan dua perempuan Kepala Daerah Tingkat II di Indonesia yang melakukan personal branding melalui akun Instagramnya masing-masing. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bentuk personal branding yang dilakukan oleh Tjhai Chui Mie dan Karolin serta mengetahui perbedaan personal branding yang dilakukan keduanya melalui akun Instagram. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori komunikasi, komunikasi politik, dan personal branding. Dalam penelitian ini, penulis menggunakan pendekatan penelitian kualitatif dengan metode studi kasus deskriptif. Pengolahan data bersumber dari data-data yang didapatkan melalui studi pustaka dan wawancara dengan empat narasumber. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bentuk personal branding yang dilakukan Tjhai Chui Mie dan Karolin sama-sama bersifat seremonial dan berkaitan dengan kegiatan kedinasan. Perbedaannya hanya terdapat pada konsep penyampaian pesan politik yang dikemas menjadi konten Instagram yang beragam. Komunikasi politik yang dibangun keduanya juga belum interaktif sebab komunikasinya hanya berjalan satu arah.
Aktivitas Interaksi Parasosial Penggemar Kepada Idola (Studi Deskriptif Kualitatif pada Wota dan Woti Penggemar JKT48 di Jabodetabek) Muhammad Rakha Rizky Pratama; Septia Winduwati
Koneksi Vol 5, No 1 (2021): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v5i1.10197

Abstract

JKT48 is an idol group originating from Indonesia and produced by Akimoto Yasushi. This research is expected to be able to explain the parasocial interactions that occur between fans and idols. Parasocial interactions are interactions that occur when individuals interact with people who are presented by the media. This research is focused on finding out how the parasocial interaction activities between JKT48 fans Wota and Woti and JKT48 idols. This study uses the concept of communication theory, fandom theory, and parasocial interactions. This research uses a qualitative approach with a collection method by conducting interviews with three informants, study documentation, and literature study. The results in this study are Wota and Woti will feel sad when their idols leave, Wota and Woti limit their relationship with idols only to idols with fans, Wota and Woti make JKT48 as their guide when they behave. None of the three informants in this study was affected pathological.JKT48 merupakan grup idola yang berasal dari Indonesia dan diproduseri oleh Akimoto Yasushi. Penelitian ini bermaksud menjelaskan interaksi parasosial yang terjadi antara penggemar dan idola. Interaksi parasosial merupakan interaksi yang terjadi ketika individu berinteraksi dengan orang yang dipresentasikan oleh media. Penelitian ini fokus untuk mengetahui bagaimana aktivitas interaksi parasosial antara penggemar JKT48 Wota dan Woti terhadap idola JKT48. Penelitian ini menggunakan konsep teori komunikasi, teori fandom, dan interaksi parasosial. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode pengumpulan data berupa wawancara tiga informan, studi dokumentasi, dan studi kepustakaan. Hasil dalam penelitian ini adalah Wota dan Woti akan merasa sedih ketika idolanya keluar, Wota dan Woti membatasi hubungannya dengan idola hanya sebatas idola dengan penggemar, Wota dan Woti menjadikan JKT48 sebagai pedoman mereka saat bertingkah laku. Namun penelitian menunjukkan bahwa efek patologis tidak terjadi pada tiga informan.
Interaksi Sosial Etnis Tionghoa dengan Etnis Dayak di Kota Pontianak Nico Abelio; Ahmad Junaidi
Koneksi Vol 5, No 1 (2021): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v5i1.10227

Abstract

This research entitled Social Interaction of Chinese Ethnicity with Ethnic Dayak in Pontianak City. The Dayak ethnic group in Pontianak is the first ethnic group to have previously inhabited the city of Pontianak. This study aims to determine the form of social interaction that occurs between ethnic Chinese and Dayak in the city of Pontianak. This research uses a case study method with a qualitative approach. Collecting data through interviews, observation, and literature study. The subjects of this research are Chinese and Dayak ethnic in Pontianak, and the object is social interaction. The theory used in this research is social interaction. Social interaction according to Gillin & Gillin is a mutual social relationship related to the relationship between individuals, between groups of individuals, and between individuals and groups of people. The results of this study indicate that the Chinese and Dayak ethnic groups in the city of Pontianak communicate between cultures and social interactions with mutual respect between ethnic groups. However, there are some obstacles that occur between ethnic Chinese and Dayak ethnic groups in Pontianak, namely language barriers that can lead to inter-ethnic prejudice.Penelitian ini mengangkat tentang interaksi sosial etnis Tionghoa dengan etnis Dayak di Kota Pontianak. Etnis Dayak di Pontianak merupakan etnis pertama yang telah terlebihi dahulu mendiami kota Pontianak. Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengetahui bentuk interaksi sosial yang terjadi antar etnis Tionghoa dengan etnis Dayak di kota Pontianak. Penelitian ini menggunakan metode studi kasus dengan pendekatan kualitatif. Pengumpulan data melalui wawancara, observasi, dan studi pustaka. Subjek penelitian ini adalah etnis Tionghoa dan etnis Dayak di Pontianak, dan objeknya adalah interaksi sosial. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah interaksi sosial. Interaksi sosial merupakan hubungan sosial saling yang berkaitan dengan hubungan antara individu, antara kelompok individu, maupun antara individu dengan kelompok manusia. Dari hasil penelitian ini menunjukan etnis Tionghoa dengan etnis Dayak di kota Pontianak saling melakukan komunikasi antar budaya dan interaksi sosial dengan sikap saling menghargai antar etnis. Namun terdapat sedikit hambatan yang terjadi antar etnis Tionghoa dengan etnis Dayak di kota Pontianak yaitu kendala dalam bahasa yang dapat menimbulkan prasangka antar etnis.
Makna Kesinambungan Kampanye Green Beauty oleh Kosmetik Garnier Neldy Maria Lesilolo; Rustono Farady Marta; Rewindinar Rewindinar
Koneksi Vol 5, No 1 (2021): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v5i1.11021

Abstract

The Garnier green beauty campaign conveys a message to the public through advertising media. The message is conveyed to the public regarding environmental activities that have a sustainable meaning. The green beauty campaign through advertising media shows Garnier's environmental friendly actions. Cause consumer behavior that turns into a form of responsible attitude. The purpose of this study was to determine the meaning of the sustainability of the green beauty campaign through Garnier's cosmetic advertising media. Researchers used a qualitative approach with Ferdinand de Saussure's semiotic analysis method which was signifier and signified. Methods of data collection with the method of documentation. The object of research was through the green beauty campaign advertisement and the subject of Garnier. The one-minute green beauty campaign ad is divided into seven scenes. The results of this study found the meaning of sustainability, by taking real action to become green beauty. Being green beauty is explained through verbal and non-verbal signs. Marked by each scene of the Garnier green beauty campaign advertisement, the meaning of sustainability is found. The real action starts from the production process to processing Garnier cosmetic waste.Kampanye Garnier green beauty menyampaikan pesan kepada masyarakat melalui media iklan. Pesan yang disampaikan kepada khalayak mengenai kegiatan peduli lingkungan yang memiliki makna berkesinambungan. Kampanye green beauty melalui media iklan menunjukan aksi nyata Garnier yang ramah lingkungan. Menyebabkan perilaku konsumen yang berubah menjadi wujud sikap yang bertanggung jawab. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui makna kesinambungan dari kampanye green beauty melalui media iklan kosmetik Garnier. Peneliti menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis semiotika Ferdinand de Saussure secara signifier dan signified. Metode pengumpulan data dengan metode dokumentasi. Objek penelitian melalui iklan kampanye green beauty dan subjek Garnier. Iklan kampanye green beauty yang berdurasi satu menit dibagi menjadi tujuh scene. Hasil Penelitian ini menemukan makna kesinambungan, dengan melakukan aksi nyata menjadi green beauty. Menjadi green beauty dijelaskan melalui tanda secara verbal dan non verbal. Ditandai melalui setiap scene iklan kampanye Garnier green beauty memiliki makna kesinambungan yang ditemukan. Aksi nyata dimulai dari proses produksi sampai pengolahan limbah kosmetik Garnier.
Pengaruh Peer Group Terhadap Adopsi Inovasi Aplikasi Tiktok Kevinezra Simohartono; Rezi Erdiansyah; Sudarto Sudarto
Koneksi Vol 4, No 2 (2020): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v4i2.8085

Abstract

This study discusses how to change from Peer Groups (peers) to the Tiktok application that was developed through the innovation diffusion attribute. Peer groups as recipients of communication receive a significant positive in delivering messages to prospective adopters of the level of peer achievement. The phenomenon of the spread of marketing through peers in the field of communication technology has not been widely used at this time, so this phenomenon is interesting to discuss. The theory used by researchers is the diffusion theory of innovation, peer groups, and new media. This research uses quantitative analysis methodology for structural equation modeling and is processed using smart pls. The number of respondents used in this study was 100 people. Data analysis uses the validity test, reliability test, multicollinearity test. In this study, it was found that the peer group did not directly support the level of innovation adoption, but had indirect support which was moderated by the diffusion attributes of innovation namely compatibility and relative advantages.Penelitian ini membahas tentang bagaimana pengaruh peer group(teman sebaya) terhadap difusi inovasi aplikasi Tiktok melalui atribut difusi inovasi. Peer Groupsebagai saluran komunikasi dianggap memiliki pengaruh positif yang signifikan dalam menyampaikan pesan inovasi kepada calon adopter karena tingginya tingkat kepercayaan teman sebaya. Fenomena penyebaran marketing melalui teman sebaya dalam bidang teknologi komunikasi belum banyak digunakan pada saat ini. Oleh karena itu, fenomena ini menarik untuk dibahas. Teori yang digunakan peneliti adalah teori difusi inovasi, peer group, dan media baru. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode teknik analisis jalur structural equation modelingdan diolah menggunakan smartpls. Jumlah responden yang digunakan dalam penelitian ini sebanyak 100 orang. Analisis data menggunakan uji validitas, uji reliabilitas, uji multikolinearitas. Dalam penelitian ini ditemukan bahwa peer grouptidak berpengaruh langsung dengan tingkat adopsi inovasi, tetapi memiliki pengaruh tidak langsung yang dimoderasi oleh atribut difusi inovasi yaitu kompatibilitas dan keuntungan relative.
Pemaknaan Khalayak terhadap Kesenjangan Sosial Yang Ditunjukan Pada Film “Parasite” Giselle Vincentia Tiogas; Lusia Savitri Setyo Utami
Koneksi Vol 4, No 2 (2020): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v4i2.8112

Abstract

For some countries including Indonesia, the problem of poverty has become one of the problems that are quite serious. With the existence of the problem of poverty resulted in a very striking social inequality in which some people live with all its abundance, while some other people live in inadequacy. Social inequality is not only found in the lives of Indonesian people, but can also be found in the lives of South Korean people as showed in the "Parasite" film by director Bong Joon Ho. The researcher use "Parasite" film as an object of research because researcher want to explore how the meaning of the audience of the social inequality shown between poor families and rich families in the "Parasite" film. The theoretical foundation used in this research is communication theory, and reception analysis theory. This research uses descriptive qualitative research with phenomenology method. Analysis of Reception according to Stuart Hall there are 3 meanings namely, dominant reading, negotiated reading, and oppositional reading. The results of the research show the meaning of the audience of the nine scenes of social inequality shown in the film "Parasite" is dominated by the dominant reading, which are means that the most of the scenes of social inequality are truly suitable with the real life reality in Indonesian society.Bagi sebagian negara termasuk Indonesia, masalah kemiskinan sudah menjadi salah satu masalah yang cukup serius. Dengan adanya masalah kemiskinan tersebut mengakibatkan timbulnya kesenjangan sosial yang sangat mencolok dimana sebagian warga masyarakat hidup dengan segala kelimpahannya, sedangkan sebagian warga masyarakat lainnya hidup dalam kekurangan serta ketidakcukupan. Kesenjangan sosial bukan hanya ditemukan di kehidupan masyarakat Indonesia, namun dapat ditemukan juga pada kehidupan masyarakat Korea Selatan seperti yang digambarkan dalam film “Parasite” oleh sutradara Bong Joon Ho. Peneliti menggunakan film “Parasite” sebgai objek penelitian karena peneliti ingin menggali bagaimana pemaknaan oleh khalayak terhadap kesenjangan sosial yang ditunjukkan antara keluarga miskin dan keluarga kaya pada film “Parasite”. Landasan teori yang digunakan pada penelitian ini yaitu teori komunikasi, dan teori analisis resepsi. Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif deskriptif dengan metode fenomenologi. Analisis Resepsi menurut Stuart Hall terdapat 3 pemaknaan yakni, pemaknaan dominan, pemaknaan negosiasi, dan pemaknaan oposisi. Hasil penelitian menunjukan pemaknaan khalayak dari kesembilan adegan kesenjangan sosial yang ditunjukkan pada film “Parasite” didominasi oleh pemaknaan dominan, yang berarti sebagian besar adegan kesenjangan sosial yang digambarkan sesuai dengan realita kehidupan nyata di masyarakat Indonesia.
Analisis Gaya Bahasa Sarkasme Lagu “Suci Maksimal” oleh Musisi Jason Ranti Andar Dittya Harsa; Gregorius Genep Sukendro
Koneksi Vol 4, No 2 (2020): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v4i2.8133

Abstract

In Indonesia, there are many individual and group musicians who make music as a media for criticism of social or political aspects that are happening in the community.  Like Iwan Fals, Slank, the Greenhouse Effect, Jason Ranti and others.  This study aims to determine the meaning of the song "Suci Maximum" to the reader.  This study uses a qualitative method.  In this study using the heremeneutika technique.  This research is about the analysis of the style of the sarcasm of the song Suci Maksimal of the band Jason Ranti.  The thing to be discussed is the meaning of the language style of the song "Suci Maksimal" by Jason Ranti's band, which he wants to convey to the listeners.  Theories used in this study are sarcasm, hermeneutics, song as mass communication and construction.  This research uses descriptive qualitative research methods.  The results of the study were obtained from online sources about the song "Suci Maximum" and related to Jason Ranti as the writer.Di Indonesia banyak musisi perorangan maupun kelompok yang menjadikan musik sebagai media kritik terhadap aspek sosial ataupun politik yang sedang terjadi di masyarakat. Seperti Iwan Fals, Slank, Efek Rumah Kaca, Jason Ranti dan lain-lain. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui makna lirik lagu “Suci Maksimal” kepada pembaca. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Dalam penelitian ini menggunakan teknik heremeneutika. Penelitian ini tentang analisis gaya bahasa sarkasme lagu Suci Maksimal band Jason Ranti. Hal yang ingin dibahas yaitu, makna gaya bahasa lirik lagu “Suci Maksimal” band Jason Ranti yang ingin disampaikan kepada pendengar. Teori yang di pakai dalam penelitian ini, yaitu sarkasme, hermeneutika, lagu sebagai komunikasi massa dan konstruksi. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif. Hasil penelitian diperoleh dari sumber online mengenai lagu “Suci Maksimal” dan berhubungan dengan Jason Ranti selaku penulis.
Penerimaan LGBT oleh Tempat Ibadah Aureliya Ramadhanti; Suzy Azeharie
Koneksi Vol 4, No 2 (2020): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v4i2.8146

Abstract

LGBT is a sexuality issue that is still being debated in Indonesian society, especially in the religious scope. The church,as a place of worship which is a community with the same belief to worship, has teachings with an interpretation that considers LGBT a sin. Gereja Komunitas Anugerahand the Metropolitan Community Church of Toronto are churches that openly accept LGBT congregations. The two churches are trying to support LGBT congregations by holding activities that discuss the rights of LGBT congregations. This research wants to know how the acceptance of LGBT congregations by churches as a place of worship in Indonesia. Researchers review from the communication side, communication functions and goals. The method used in this research is a phenomenological method with a qualitative descriptive approach. The research data were obtained from in-depth interviews, direct observation, document study and literature study. The conclusion of this research is that the church as a place of worship accepts LGBT because it has a meaning of the holy book verse. Acceptance is carried out by communicating with LGBT people, supporting, instilling religious values, and inviting them to be involved in activities at places of worship.LGBT merupakan isu seksualitasyang masih menjadi perdebatan di masyarakat Indonesia, khususnyapada  lingkup keagamaan. Gereja sebagai tempat ibadah yang merupakan suatu komunitas dengan kepercayaan yang sama untuk beribadah pada umumnya memiliki ajaran dengan tafsiran yang menganggap bahwa LGBT merupakan suatu dosa. Gereja Komunitas Anugerah dan Metropolitan Community Church of Torontoadalah gereja yang secara terbuka menerima jemaat LGBT.Kedua gereja tersebutberupaya mendukung jemaat LGBT dengan mengadakan kegiatan yang membahas hak jemaat LGBT. Penelitian ini ingin mengetahui bagaimanapenerimaan jemaat LGBT yang dilakukan olehgereja sebagai tempat ibadah di Indonesia. Peneliti meninjau dari sisikomunikasi, fungsi dan tujuan komunikasi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode fenomenologi dengan pendekatan deskriptif kualitatif. Data penelitian diperoleh dari wawancara mendalam,pengamatan langsung, studi dokumen dan studi kepustakaan. Kesimpulan penelitian ini adalahgereja sebagai tempat ibadah menerima LGBT karena memiliki pemaknaan terhadap ayat kitab suci. Penerimaan dilakukan dengan berkomunikasi dengan para LGBT, mendukung, menanamkan nilai-nilai agama, dan mengajak ikut terlibat dalam kegiatan di tempat ibadah.
Representasi Feminisme dalam Video Klip ‘Nightmare’ oleh Halsey Faiz Zulia Maharany; Ahmad Junaidi
Koneksi Vol 4, No 2 (2020): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v4i2.8170

Abstract

'Nightmare' is the title of a video clip belonging to a singer and singer called Halsey, in which the video clip is explained about the figure of women who struggle against patriarchal culture which has been a barrier wall for women to get their rights, welfare and the equality needed they get. This research uses descriptive qualitative research methods. Data collection techniques are done through documentation, observation and study of literature. Then, analyzed using Charles Sanders Peirce's semiotics technique. The results of this study show the fact that signs, symbols or messages representing feminism in the video, 'Nightmare' clips are presented through scenes that present women's actions in opposing domination over men and sarcastic sentences contained in the lyrics of the song to discuss with patriarchy. Youtube as one of the social media platforms where the 'Nightmare' video clip is uploaded is very effective for mass communication and for conveying the message contained in the video clip to the viewing public.‘Nightmare’ adalah judul video klip milik musisi sekaligus penyanyi yang bernama Halsey, dimana pada Video klipnya tersebut menceritakan tentang figur perempuan-perempuan yang berusaha melawan budaya patriarki yang selama ini telah menjadi dinding penghalang bagi perempuan untuk mendapatkan hak-haknya, keadilan dan kesetaraan yang seharusnya mereka dapatkan. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui dokumentasi, observasi dan studi kepustakaan. Kemudian, dianalisis menggunakan teknik semiotika milik Charles Sanders Peirce. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa terdapat tanda-tanda, simbol atau pesan yang merepresentasikan feminisme di dalam video klip ‘Nightmare’ yang dihadirkan melalui adegan-adegan yang menyajikan aksi perempuan dalam menolak dominasi atas laki-laki dan kalimat-kalimat sarkas yang terkandung dalam lirik lagunya untuk ditujukan kepada patriarki. Youtube sebagai salah satu platform media sosial dimana video klip ‘Nightmare’ diunggah sangat efektif untuk melakukan komunikasi massa dan untuk menyampaikan pesan yang terkandung di dalam video klip tersebut kepada masyarakat yang menonton.