cover
Contact Name
Sinta Paramita
Contact Email
sintap@fikom.untar.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
Koneksi@untar.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Koneksi
ISSN : -     EISSN : 25980785     DOI : -
Koneksi (E-ISSN : 2598 - 0785) is a national journal, which all articles contain student's writing, are published by Faculty of Communication Universitas Tarumanagara. Scientific articles published in Koneksi are result from research and scientific studies conduct by Faculty of Communication students in communication field. Koneksi published twice a year.
Arjuna Subject : -
Articles 670 Documents
Representasi Karakter Autism Spectrum Disorder dalam Drama Korea ‘Extraordinary Attorney Woo’ Wijaya, Sherlina; Utami, Lusia Savitri Setyo
Koneksi Vol. 7 No. 2 (2023): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v7i2.21371

Abstract

The existence of public stigma against people with disabilities encourages writers to show disability issues in a literary work, namely drama. The Korean drama 'Extraordinary Attorney Woo' is one of the South Korean dramas that raises the issue of people with disabilities, autism spectrum disorder, through drama. By using Roland Barthes' semiotic analysis, researchers want to know and describe how the representation of autism spectrum disorder characters is displayed in the Korean drama 'Extraordinary Attorney Woo'. The theoretical foundations in this research are mass communication, drama, representation, autism spectrum disorder characters, and semiotics. This research is descriptive with a qualitative research approach. The results showed that the Korean drama 'Extraordinary Attorney Woo' is a form of mass communication that provides information by representing the life of a person with an autism spectrum disorder in South Korea. This is shown by the common stereotypes imposed on people with autism spectrum disorder and the lack of tolerance of society. In addition, there are difficulties in communicating, adapting, and interacting with people with autism spectrum disorder. The drama also shows the stigma and discrimination experienced by people with autism spectrum disorder in South Korea. Adanya stigma masyarakat terhadap penyandang disabilitas mendorong sastrawan untuk memperlihatkan isu disabilitas ke dalam sebuah karya sastra yaitu drama. Drama Korea ‘Extraordinary Attorney Woo’ merupakan salah satu drama Korea Selatan yang mengangkat isu penyandang  disabilitas, autism spectrum disorder, melalui drama. Dengan menggunakan analisis semiotika Roland Barthes, peneliti ingin mengetahui dan mendeskripsikan bagaimana representasi karakter autism spectrum disorder yang ditampilkan di dalam drama Korea ‘Extraordinary Attorney Woo’. Landasan teoritis dalam penelitian ini merupakan komunikasi massa, drama, representasi, karakter autism spectrum disorder, dan semiotika. Penelitian ini bersifat deskriptif dengan pendekatan penelitian kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan, drama Korea ‘Extraordinary Attorney Woo’ merupakan salah satu bentuk komunikasi massa yang memberikan informasi dengan merepresentasikan kehidupan seorang penyandang autism spectrum disorder di Korea Selatan. Hal ini ditunjukkan dengan stereotip umum yang dikenakan pada penyandang dan kurangnya toleransi masyarakat. Selain itu, terdapat kesulitan berkomunikasi, beradaptasi, dan berinteraksi penyandang autism spectrum disorder. Drama juga menunjukkan stigma buruk hingga diskriminasi yang dialami oleh penyandang autism spectrum disorder di Korea Selatan.
Gambaran Gaya Hidup Remaja Laki-Laki yang Terpapar Beauty Trend Korea Selatan di Media Sosial Saputra, Zulian Melentino; Utami, Lusia Savitri Setyo
Koneksi Vol. 7 No. 2 (2023): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v7i2.21375

Abstract

Adolescence is the transition period from childhood and adulthood, beginning at ages 12 and 13 and ending in the teens or early 20s. Today's teenagers have entered a period of having distinctive and modern opinions, preferences, attitudes and behaviors. Recently, teenagers, especially Generation Z, who actively access social media, have been shocked by the popular phenomenon from South Korea or the Korean wave. The researcher aims to know and describe the lifestyle of Generation Z teenagers who are exposed to South Korean beauty trends on social networks. One of the impacts of South Korean beauty trends is the attitude of imitation of everything that is displayed on social media. With this, researchers use modeling theory in accordance with the attitudes of teenagers who are exposed to the impact of this beauty trend. The research approach used by researchers uses a qualitative approach with phenomenological research methods. The result is that all male informants, generation Z, in this study are interested in Korean beauty trends. After being exposed to information on beauty trends by idols on social media, the informants' lifestyles changed drastically from not caring about appearance to caring about beauty. Masa remaja adalah masa transisi dari kanak-kanak dan masa dewasa, dimulai pada usia 12 dan 13 tahun dan berakhir pada remaja atau awal 20-an. Remaja saat ini sudah memasuki masa mempunyai pendapat, preferensi, sikap, dan perilaku yang khas dan modern. Akhir-akhir ini para remaja, khususnya Generasi Z, yang aktif mengakses media sosial, digemparkan dengan fenomena populer dari Negara Korea Selatan atau Korean wave. Peneliti bertujuan mengetahui dan mendeskripsikan gambaran gaya hidup remaja Generasi Z yang terpapar tren kecantikan Korea Selatan di jejaring sosial. Salah satu dampak dari tren kecantikan Korea Selatan adalah sikap peniruan terhadap segala sesuatu yang ditampilkan di media sosial. Dengan ini peneliti memakai teori modeling sesuai dengan sikap para remaja yang terpapar dampak dari tren kecantikan ini. Pendekatan penelitian yang digunakan peneliti menggunakan pendekatan kualitatif, dengan metode penelitian fenomenologi. Hasilnya seluruh informan laki-laki, generasi Z, dalam penelitian ini tertarik dengan tren kecantikan Korea. Setelah terpapar informasi tren kecantikan oleh idola di media sosial, gambaran gaya hidup informan berubah drastis dari yang awalnya tidak peduli dengan penampilan menjadi peduli dengan kecantikan.
Analisis Semiotika Makna Optimisme pada Lirik Lagu K-Pop NCT Dream “Hello Future” Farahdila, Zahwa; Utami, Lusia Savitri Setyo
Koneksi Vol. 7 No. 2 (2023): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v7i2.21379

Abstract

Communication is the most important activity for us in life. This is because we as social beings need interaction to convey the contents of our thoughts with others. The process of delivering messages with communication can be done with certain media. One of the media that is often used to convey messages is music. Based on this, a concept called musical communication emerged. Today the world of music is growing all over the world, including K-Pop. One of the music groups currently popular with young Indonesians is NCT Dream. Several NCT Dream songs contain lots of uplifting messages that are channeled to listeners and fans. NCT Dream is a group of singers from South Korea that are currently popular with young people. NCT Dream also delivers encouraging messages through their songs. This study aims to find out the meaning of optimism in the lyrics of the NCT Dream song "Hello Future" and examine its markers and signs. This study uses the theory of optimism. The method used in this study is semiotic analysis from Saussure with a qualitative approach. The results of this study found that the lyrics of the song "Hello Future" have the meaning of optimism about the future, achieving dreams, and worrying about difficult times. Komunikasi merupakan kegiatan terpenting bagi kita dalam berkehidupan. Hal ini karena kita sebagai makhluk sosial perlu adanya interaksi untuk menyampaikan isi pikiran dengan orang lain. Proses penyampaian pesan dengan komunikasi dapat dilakukan dengan media tertentu. Salah satu media yang sering dilakukan untuk menyampaikan pesan adalah dengan musik. Berdasarkan hal ini, muncullah suatu konsep yang disebut dengan komunikasi musik. Dewasa ini dunia musik sangat berkembang di seluruh dunia, termasuk K-Pop. Salah satu grup musik yang saat ini ramai digemari oleh anak-anak muda Indonesia adalah NCT Dream. Beberapa lagu NCT Dream banyak mengandung pesan-pesan semangat yang disalurkan untuk para pendengar maupun penggemarnya NCT Dream merupakan sekelompok penyanyi asal Korea Selatan yang saat ini banyak digemari oleh anak muda. NCT Dream juga memberikan pesan-pesan semangat melalui lagu-lagu mereka. Pada penelitian ini bertujuan untuk mengetahui makna optimism yang ada di dalam lirik lagu NCT Dream “Hello Future” dan mengkaji penanda juga petandanya. Penelitian ini menggunakan teori optimisme. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah analisis semiotika dari Saussure dengan pendekatan kualitatif. Hasil dari penelitian ini adalah ditemukan bahwa lirik lagu “Hello Future” memiliki makna optimisme terhadap masa depan, dalam meraih mimpi, serta terhadap kekhawatiran pada masa-masa sulit.
Analisis #DanceChallenge terhadap Popularitas Grup K-Pop Stray Kids pada Kalangan Generasi Z di Jakarta Nadine, Gabriela; Junaidi, Ahmad
Koneksi Vol. 7 No. 2 (2023): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v7i2.21381

Abstract

Social media has become one of the most widely used platforms for doing business. Many businesses promote their goods/services through content strategy marketing through social media. One of the most widely used social media is TikTok, with the most users being young people, generation Z. The purpose of this study is to find out the benefits of content marketing in increasing popularity and how content marketing can increase popularity. The purpose of this study is to determine the benefits of content marketing in increasing popularity and how the influence of TikTok dance challenge content in increasing the popularity of K-Pop group Stray Kids among Generation Z in Jakarta. The theories used are marketing communication theory, digital marketing (content marketing), new media theory (social media), and popularity. The approach used in this research is a combination method that combines a quantitative approach with a qualitative approach with the aim of measuring and describing the benefits of content marketing in influencing popularity. This study found the influence of the TikTok Dance Challenge Content variable on the Stray Kids Popularity variable on Generation Z subjects in Jakarta, as well as the importance of content in marketing activities. Media sosial telah menjadi salah satu platform yang paling banyak digunakan untuk berbisnis. Banyak pebisnis mempromosikan barang/jasa mereka melalui pemasaran strategi konten (content strategy marketing) melalui media sosial. Salah satu media sosial yang paling banyak digunakan adalah TikTok dengan pengguna terbanyak adalah kalangan anak muda, generasi Z. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui manfaat content marketing dalam meningkatkan popularitas dan bagaimana pengaruh konten dance challenge TikTok dalam meningkatkan popularitas grup K-Pop Stray Kids pada Kalangan Generasi Z di Jakarta. Teori yang dipakai adalah teori komunikasi pemasaran, digital marketing (content marketing), teori new media (media sosial) dan popularitas. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kombinasi yang menggabungkan pendekatan kuantitatif dengan pendekatan kualitatif dengan tujuan untuk mengukur dan mendeskripsikan manfaat content marketing dalam mempengaruhi popularitas. Penelitian ini menemukan adanya pengaruh dari variabel Konten Dance Challenge TikTok terhadap variabel Popularitas Stray Kids pada subjek Generasi Z di Jakarta, serta pentingnya konten dalam kegiatan pemasaran.
Representasi Stigmatisasi Korea Utara oleh Masyarakat Korea Selatan Melalui Drama Seri Extraordinary Attorney Woo Femisyah, Jazzy Tiara; Azeharie, Suzy
Koneksi Vol. 7 No. 2 (2023): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v7i2.21383

Abstract

The prolonged war between South Korea and North Korea has stigmatised the North Korean community or defectors. It is not uncommon for North Korean defectors who are in South Korea to receive different treatment from local residents. This is also depicted in several Korean drama series, one of which is the sixth episode of Extraordinary Attorney Woo. This research examines the signs contained in several scenes that represent the stigmatisation of North Korean society. This research uses a qualitative approach with discourse analysis as the data collection method. The subject of this research is the sixth episode of Extraordinary Attorney Woo. The representation of stigmatisation of South Korean society towards North Korea as the object is studied with Charles Sander Pierce's semiotics. The results show that the drama series Extraordinary Attorney Woo has signs that can be interpreted into a message associated with mass communication theory with the function of entertainment and cultural transformation. The interpretant in this drama is the stigmatisation of North Korean defectors depicted in several scenes. In addition to interpreting stigmatisation, there is also a deconstruction of meaning illustrated by the defence given by the main character. Perang berkepanjangan yang terjadi antara Korea Selatan dan Korea Utara menimbulkan stigma terhadap masyarakat atau pembelot Korea Utara. Tidak jarang pula pembelot Korea Utara yang berada di Korea Selatan mendapat perlakuan berbeda dari warga setempat. Hal ini juga digambarkan dalam beberapa drama seri Korea, salah satunya drama seri Extraordinary Attorney Woo episode keenam. Penelitian ini mengkaji tanda-tanda yang terdapat dalam beberapa adegan yang merepresentasikan stigmatisasi terhadap masyarakat Korea Utara. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan analisis wacana sebagai metode pengumpulan data. Subjek dari penelitian ini adalah drama Extraordinary Attorney Woo episode keenam. Representasi stigmatisasi masyarakat Korea Selatan terhadap Korea Utara sebagai objeknya dikaji dengan semiotika Charles Sander Pierce. Hasil menunjukkan bahwa drama seri Extraordinary Attorney Woo memiliki tanda-tanda yang dapat diinterpretasikan menjadi sebuah pesan yang dikaitkan dengan teori komunikasi massa dengan fungsi hiburan dan transformasi budaya. Interpretant dalam drama ini adalah adanya stigmatisasi terhadap pembelot Korea Utara yang digambarkan dalam beberapa adegan. Selain menginterpretasikan stigmatisasi, juga terdapat dekonstruksi makna yang digambarkan dengan pembelaan yang diberikan pemeran utama.
Representasi Kelas Sosial dalam Film ‘Cinta Laki-Laki Biasa’ Muljono, Andreas Putra; Azeharie, Suzy
Koneksi Vol. 7 No. 2 (2023): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v7i2.21387

Abstract

The grouping of people into social classes is evident in society. Grouping based on material possessions, power, education, and other aspects gives the upper-class privileges in life. Meanwhile, the lower classes have difficulties in obtaining their rights. This issue is also raised in the film 'Cinta Laki-Laki Biasa,’ which represents two different social classes. Films consist of signs that are built in such a way as to represent something. These signs can be analyzed using the semiotic method. The theories used in this research are social class theory, representation, and semiotics. The researcher used a descriptive qualitative approach and used John Fiske's semiotic methodology. The research data was obtained through observation, documentation, and literature study. The results showed that the film 'Cinta Laki-Laki Biasa' accentuates Western and traditional elements to differentiate social classes, the existence of siding with the lower class so that it illustrates criticisms of Indonesia's social conditions related to health facilities and career development that are still difficult for the lower class, and people who often need affirmation of their social class identity. Pengelompokan manusia ke dalam kelas-kelas sosial nampak pada kehidupan bermasyarakat. Pengelompokan berdasarkan kepemilikan materi, kuasa, pendidikan, dan aspek-aspek lainnya membuat kalangan atas memiliki hak-hak istimewa dalam kehidupan. Sementara kalangan bawah justru kesulitan dalam mendapatkan hak-haknya. Isu ini juga diangkat ke dalam karya seni film berjudul ‘Cinta Laki-Laki Biasa’ yang merepresentasikan dua kelas sosial yang berbeda. Film terdiri dari tanda-tanda yang dibangun sedemikian rupa untuk merepresentasikan sesuatu. Tanda-tanda tersebut dapat di analisis dengan menggunakan metode semiotika. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori kelas sosial, representasi, dan semiotika. Peneliti menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dan menggunakan metodologi semiotika John Fiske. Data hasil penelitian diperoleh melalui observasi, dokumentasi, dan studi kepustakaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa film ‘Cinta Laki-Laki Biasa’ menonjolkan unsur barat (western) dan tradisional untuk membedakan kelas sosial, adanya keberpihakan pada masyarakat kalangan bawah sehingga menggambarkan kritik-kritik terhadap keadaan sosial Indonesia terkait fasilitas kesehatan dan perkembangan karier yang masih sulit dimiliki masyarakat kalangan bawah, serta masyarakat yang sering kali membutuhkan penegasan pada identitas kelas sosialnya.
Pentingnya Komunikasi Terencana dan Diskusi Melalui Media Sosial Bagi Komunitas OTO Krew Adiyani, Vania; Loisa, Riris
Koneksi Vol. 7 No. 2 (2023): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v7i2.21388

Abstract

In communication science there are various kinds of communication, one of which is group communication. Group communication is a group of people who interact with each other. Community is one part of a social group. In Indonesia, there are various kinds of communities, one of which is the sports car community. In a community requires the role of communication in it. Group communication that exists within a community is used to maintain the cohesiveness of a community. Cohesiveness is an attraction possessed by a community so that members have an attachment and choose to continue to be in the community. This research was conducted to find out how sports car community groups communicate in maintaining cohesiveness. The purpose of this study was to determine the sports car community group communication in maintaining cohesiveness. This study uses Group Communication Theory. This research approach uses a qualitative approach with a case study research method. The results of this study are that the OTO Krew community group communication is carried out with consistent activities in accordance with the yearly planner promised by the community since the beginning of the year so that members often meet and gather. Group communication is also carried out by chatting through the Whatsapp Group. Intense communication by community members creates good relationships among fellow members. This is what makes community members feel comfortable with this community so they have an attachment and choose to remain in the OTO Krew community. Komunikasi kelompok merupakan sekumpulan orang yang saling berinteraksi satu sama lain. Komunitas merupakan salah satu bagian dari kelompok sosial. Di Indonesia, terdapat berbagai macam komunitas, salah satunya komunitas mobil sport. Dalam sebuah komunitas memerlukan peran komunikasi di dalamnya. Komunikasi kelompok yang terjalin di dalam sebuah komunitas digunakan untuk mempertahankan kohesivitas sebuah komunitas. Kohesivitas merupakan sebuah daya tarik yang dimiliki sebuah komunitas agar anggota memiliki keterikatan dan memilih untuk terus berada di dalam komunitas. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui bagaimana komunikasi kelompok komunitas mobil sport dalam mempertahankan kohesivitas. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui komunikasi kelompok komunitas mobil sport dalam mempertahankan kohesivitas. Penelitian ini menggunakan Teori Komunikasi Kelompok. Pendekatan penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode penelitian studi kasus. Hasil dari penelitian ini adalah komunikasi kelompok komunitas OTO Krew dilakukan dengan kegiatan yang konsisten sesuai dengan rencana tahunan (yearly planner) yang dijanjikan komunitas sejak awal tahun membuat anggota sering bertemu dan berkumpul. Komunikasi kelompok juga dilakukan dengan berbincang melalui aplikasi Whatsapp Group. Komunikasi yang intensif dilakukan anggota komunitas menciptakan hubungan yang baik antar sesama anggota. Hal inilah yang membuat anggota komunitas merasa nyaman dengan komunitas ini sehingga memiliki keterikatan dan memilih untuk tetap berada di dalam komunitas OTO Krew.
Representasi Kritik Sosial dalam Film ‘The White Tiger’ (Analisis Semiotika Roland Barthes) Thorina, Jenifer; Azeharie, Suzy
Koneksi Vol. 7 No. 2 (2023): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v7i2.21393

Abstract

The film is an effective form of mass media to convey messages to a wide audience. Not only are films entertaining, but they also often include hidden messages such as social criticism. 'The White Tiger' is a Netflix film released in 2021. The film, which is set in the country of India, inserts many scenes and narratives that contain criticism of social problems that occur in India. This research uses a qualitative approach with a descriptive method with Roland Barthes semiotic analysis technique. The theories used are mass communication, film as mass media, Roland Barthes semiotics, and representation of social criticism. The purpose of this research is to find out the representation of social criticism in the film 'The White Tiger’. Data collection methods were observation, interview, literature study, and documentation. As a result, film becomes a means of conveying social criticism. In the film 'The White Tiger', the criticisms include the low level of education, the high dropout rate and underage labor, the lack of adequate health facilities, the high social gap, racism, caste, and discrimination against women. Film merupakan salah satu bentuk media massa yang efektif untuk menyampaikan pesan ke khalayak luas. Tidak hanya menghibur, film juga sering kali menyisipkan pesan-pesan tersembunyi seperti kritik sosial. ‘The White Tiger’ merupakan film Netflix yang dirilis pada tahun 2021. Film yang berlatar belakang di negara India ini menyisipkan banyak adegan dan narasi yang berisi kritik tentang masalah sosial yang terjadi di India. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif dengan teknik analisis semiotika Roland Barthes. Teori yang digunakan adalah komunikasi massa, film sebagai media massa, semiotika Roland Barthes, dan representasi kritik sosial. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui representasi kritik sosial dalam film ‘The White Tiger’. Metode pengumpulan data dilakukan dengan observasi, wawancara, studi kepustakaan, dan dokumentasi. Hasilnya, film menjadi sarana penyampaian kritik sosial. Dalam film ‘The White Tiger’, kritik tersebut antara lain rendahnya tingkat pendidikan, tingginya tingkat putus sekolah dan pekerja di bawah umur, kurang memadainya fasilitas kesehatan, tingginya kesenjangan sosial, rasisme, kasta, dan diskriminasi terhadap perempuan. 
Pembentukan Konsep Diri Penggemar Melalui Lirik Lagu Wijayanti, Irvia; Utami, Lusia Savitri Setyo
Koneksi Vol. 7 No. 2 (2023): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v7i2.21407

Abstract

The development of mass communication through the media plays a role in changing the community environment in various fields of life, including the spread of culture worldwide, one of which is South Korean popular culture (K-Pop). Music is one of the most popular K-Pop products. BTS is the most talked about K-Pop singer. Fans' interest is supported by the positive messages contained in BTS songs. Positive messages that are listened to repeatedly have implications for the listeners' lives, especially BTS fans. This can shape the way fans see themselves. The researcher intends to explain and describe the formation of fan self-concept through the meaning of messages in BTS song lyrics. Some supporting theories used in this research are Symbolic Interactionism, self-concept, media effects, messages, and message meaning. This research was conducted using a qualitative approach with a case study method. Data were obtained from interviews, observations, documentation, and literature studies. The results showed that fans perform a thought process when listening to BTS songs by interpreting, interpreting, and providing an understanding of BTS songs. The self-concept of fans is then formed in each of them and in the communication process with others. Perkembangan komunikasi massa melalui media berperan dalam mengubah lingkungan masyarakat di berbagai bidang kehidupan termasuk penyebaran budaya di dunia salah satunya budaya populer Korea Selatan (K-Pop). Musik merupakan salah satu produk K-Pop yang paling banyak disukai. BTS adalah penyanyi K-Pop yang paling banyak dibicarakan. Ketertarikan penggemar didukung dengan pesan-pesan positif yang terkandung di dalam lagu BTS. Pesan positif yang didengarkan berulang kali membawa implikasi pada kehidupan pendengar, terutama penggemar BTS. Hal ini dapat membentuk cara pandang penggemar terhadap diri mereka sendiri. Peneliti bertujuan menjelaskan dan mendeskripsikan pembentukan konsep diri penggemar melalui makna pesan dalam lirik lagu BTS. Beberapa teori pendukung yang digunakan dalam penelitian ini adalah Interaksionisme Simbolik, konsep diri, efek media, pesan, dan makna pesan. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Data penelitian diperoleh dari kegiatan wawancara, observasi, dokumentasi, dan studi pustaka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa saat mendengarkan lagu BTS, para penggemar melakukan proses berpikir dengan mengartikan, memaknai, dan memberikan pemahaman terhadap lagu BTS. Konsep diri penggemar kemudian terbentuk dari dalam diri masing-masing, serta dalam proses komunikasi dengan orang lain.
Tanda-Tanda Perundungan dalam Film “Are You Okay?” Osvaldo, Juan; Pandrianto, Nigar
Koneksi Vol. 7 No. 2 (2023): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v7i2.21412

Abstract

A film is a moving image or so-called audio-visual media. Film can be used as a medium for conveying messages, and films currently act as a popular medium for conveying messages very effectively. Every film is always built with many marks. These signs have the meaning that the filmmaker wants to convey. In this research, the researcher wants to know and describe the signs of bullying in the short film "Are You Okay?". This study uses the concept of the film, bullying, the spiral of silence theory and Charles Sanders' model of semiotics. The subject of this research is scenes in the short film “Are You Okay?” who have signs of bullying, and the object of this research is the signs of bullying in the short film "Are You Okay?". The research method used by researchers is a qualitative research method. The theory used in this study is Charles Sanders Peirce's semiotic theory. The author uses document analysis and literature study to gather the required information. The results of this study indicate that there are signs of bullying in the short film "Are You Okay?" through a number of scenes in the form of representamen, objects, and interpretants. Film adalah gambar yang bergerak atau biasa disebut media audio visual. Film dapat dibuat sebagai media untuk menyampaikan sebuah pesan, film pada saat ini berperan sebagai media popular untuk menyampaikan pesan dengan sangat efektif. Setiap film selalu dibangun dengan banyak tanda. Tanda-tanda tersebut memiliki makna-makna yang ingin disampaikan oleh pembuat film. Peneliti ingin mencari tahu serta mendeskripsikan tanda-tanda perundungan yang terdapat dalam film pendek “Are You Okay?”. Penelitian ini menggunakan konsep film, perundungan, teori spiral of silence dan semiotika model Charles Sanders. Subjek dari penelitian ini adalah adegan-adegan dalam film pendek “Are You Okay?” yang memiliki tanda-tanda perundungan dan objek dari penelitian kali ini adalah tanda-tanda perundungan pada film pendek “Are You Okay?”. Metode penelitian yang digunakan oleh peneliti adalah metode penelitian kualitatif dengan semiotika Charles Sanders Peirce. Penulis menggunakan analisis dokumen dan riset perpustakaan dalam mengumpulkan informasi yang dibutuhkan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat tanda-tanda perundungan dalam film pendek “Are You Okay?” melalui sejumlah scene dalam bentuk representamen, objek, dan interpretan.