cover
Contact Name
Saskiyanto Manggabarani
Contact Email
lppm@helvetia.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
duniafarmasi@helvetia.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota medan,
Sumatera utara
INDONESIA
Jurnal Dunia Farmasi
ISSN : -     EISSN : 25483560     DOI : -
Core Subject : Health, Science,
Jurnal Dunia Farmasi secara resmi yang dikelola oleh Program Studi S1 Farmasi Institut Kesehatan Helvetia (IKH) yang artikelnya dapat diakses dan unduh secara online oleh publik. Jurnal ini adalah jurnal review nasional, yang terbit 3 (tiga) kali dalam setahun pada bulan Desember, April dan Agustus dengan topik-topik keunggulan hasil penelitian di bidang pelayanan dan praktek kefarmasian, pengobatan masyarakat, teknologi kefarmasian serta disiplin ilmu kesehatan yang terkait erat. Jurnal ini memfokuskan pada tema meliputi Farmasi Klinis, Farmasi Komunitas, Farmasetika, Kimia Farmasi, Farmakognosi, Fitokimia.
Arjuna Subject : -
Articles 156 Documents
AKTIVITAS ANTIPIRETIK EKSTRAK ETANOL DAUN SALIARA (Lantana camara L.) TERHADAP MENCIT PUTIH JANTAN DIINDUKSI Saccharomyces cerevisiae Hafizatul Hiqmah; Ayudia Cipta Khairani; Mia Ariasti
Jurnal Dunia Farmasi Vol 10, No 3 (2026): EDISI AGUSTUS
Publisher : LPPM Institut Kesehatan Helvetia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33085/jdf.v10i3.7035

Abstract

Pendahuluan: Demam merupakan respons fisiologis akibat peningkatan set point suhu tubuh yang dipicu oleh mediator inflamasi, sehingga diperlukan agen antipiretik yang efektif dan aman. Daun saliara (Lantana camara L.) diketahui mengandung metabolit sekunder seperti flavonoid, alkaloid, saponin, tanin, dan steroid yang berpotensi memiliki aktivitas antipiretik. Tujuan: Mengetahui aktivitas antipiretik ekstrak etanol daun saliara pada mencit putih jantan yang diinduksi ragi serta menentukan dosis yang memberikan efek terbaik. Metode: Penelitian menggunakan rancangan eksperimental dengan lima kelompok perlakuan, yaitu kontrol negatif (Na CMC 0,5%), kontrol positif (parasetamol), serta ekstrak etanol daun saliara dosis 10, 20, dan 40 mg/20 g BB. Demam diinduksi menggunakan suspensi Saccharomyces cerevisiae secara subkutan, kemudian suhu rektal diukur sebelum induksi, setelah induksi, dan pada menit ke-30, 60, 90, serta 120 setelah pemberian perlakuan. Data dianalisis menggunakan SPSS. Hasil: Ekstrak etanol daun saliara mampu menurunkan suhu tubuh mencit yang mengalami demam. Secara deskriptif, dosis 10 mg/20 g BB memberikan persentase daya antipiretik tertinggi sebesar 69,23% pada menit ke-120, mendekati kontrol positif sebesar 73,33%. Hasil uji ANOVA menunjukkan adanya perbedaan bermakna antar kelompok perlakuan (p0,05), sedangkan uji LSD menunjukkan bahwa dosis 20 mg/20 g BB tidak berbeda nyata dengan kontrol positif pada beberapa waktu pengamatan. Kesimpulan: Ekstrak etanol daun saliara memiliki aktivitas antipiretik pada mencit putih jantan yang diinduksi ragi, dengan dosis 10 mg/20 g berat badan memberikan efektivitas biologis terbaik, sedangkan dosis 20 mg/20 g berat badan menunjukkan efektivitas yang paling sebanding dengan parasetamol berdasarkan analisis statistik.Kata Kunci: Antipiretik, Demam, Lantana camara, Ragi
ANALISIS IN SILICO PROFIL FISIKOKIMIA DAN ADMET FLAVONOID DAUN BUAS-BUAS (Premna serratifolia L.) Nerdy Nerdy; Suhailah Putri Nasution
Jurnal Dunia Farmasi Vol 10, No 3 (2026): EDISI AGUSTUS
Publisher : LPPM Institut Kesehatan Helvetia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33085/jdf.v10i3.7061

Abstract

Daun buas-buas (Premna serratifolia L.) mengandung flavonoid yang diduga memiliki kemampuan menghambat alpha-glukosidase. Penelitian ini mengevaluasi centaureidin, chrysin, kaempferide, pectolinarigenin, tricin, dan casticin secara in silico dengan acarbose sebagai senyawa pembanding. Data struktur, Canonical SMILES, rumus molekul, massa molekul, XLogP, donor ikatan hidrogen, akseptor ikatan hidrogen, dan ikatan rotasi dikumpulkan dari PubChem. Label aktivitas yang tersedia dianalisis melalui kompilasi PASS Online, sedangkan informasi toksisitas akut dan endpoint toksikologi diperoleh dari data ProTox. Format keluaran pkCSM disiapkan sebagai lembar validasi farmakokinetik. Keenam flavonoid mempunyai massa molekul 254,24 sampai 374,30 g/mol, XLogP 1,7 sampai 3,1, dua sampai tiga donor ikatan hidrogen, serta empat sampai delapan akseptor ikatan hidrogen. Seluruh flavonoid memenuhi aturan lima Lipinski tanpa pelanggaran, sedangkan acarbose melanggar tiga kriteria. Prediksi ProTox mengelompokkan enam flavonoid ke dalam kelas toksisitas V dengan LD50 3919 sampai 5000 mg/kg. Acarbose berada pada kelas IV dengan LD50 2000 mg/kg. Hasil docking terdahulu menempatkan casticin, tricin, dan centaureidin sebagai kandidat utama pada tiga struktur alpha-glukosidase. Akan tetapi, sumber yang tersedia belum mencantumkan nilai Pa dan Pi dari PASS Online serta angka hasil pkCSM. Analisis tersebut perlu dijalankan ulang dan diverifikasi sebelum naskah diajukan ke jurnal. Berdasarkan integrasi data yang tersedia, casticin, tricin, dan centaureidin layak diprioritaskan untuk pengujian ADMET serta validasi eksperimental lanjutan.
EFEK NIACINAMIDE BERBASIS KITOSAN TERHADAP EPIDERMAL GROWTH FACTOR DAN MALONDIALDEHYDE PADA PENYEMBUHAN LUKA EKSISI TIKUS WISTAR Jesslyn Tan; Hadyanto Lim; Jekson Martiar Siahaan
Jurnal Dunia Farmasi Vol 10, No 3 (2026): EDISI AGUSTUS
Publisher : LPPM Institut Kesehatan Helvetia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33085/jdf.v10i3.7087

Abstract

Pendahuluan: Kulit sebagai organ terluar tubuh memiliki fungsi utama sebagai barrier terhadap kerusakan mekanis, infeksi, dan stres oksidatif. Kerusakan kulit memicu proses penyembuhan luka yang melibatkan berbagai faktor pertumbuhan seperti Epidermal Growth Factor (EGF) dan mediator stres oksidatif seperti Malondialdehyde (MDA). Niacinamide (vitamin B3) memiliki potensi antioksidan dan antiinflamasi, namun penetrasi kulitnya rendah sehingga memerlukan sistem penghantar yang tepat. Kitosan sebagai biopolimer memiliki sifat biokompatibel, biodegradabel, dan kemampuan meningkatkan penetrasi zat aktif [1,2]. Tujuan: Menganalisis efek formulasi niacinamide berbasis kitosan terhadap aktivitas EGF dan MDA pada penyembuhan luka eksisi tikus putih galur Wistar secara in vivo. Metode: Penelitian eksperimental laboratorium menggunakan 40 ekor tikus Wistar jantan yang dibagi dalam 5 kelompok (normal, kontrol negatif, kontrol positif Bioplacenton, perlakuan niacinamide 0,4% b/v berbasis kitosan, dan perlakuan niacinamide 1% b/v berbasis kitosan), masing-masing diamati pada hari ke-3 dan ke-14. Setiap tikus dibuat luka eksisi full thickness 2×2 cm dan diberikan gel niacinamide berbasis kitosan dua kali sehari. Pemeriksaan meliputi parameter klinis (kecepatan dan persentase penyembuhan luka), pemeriksaan ELISA untuk kadar EGF dan MDA, serta pemeriksaan histopatologi (jumlah fibroblas dan kepadatan kolagen) [3,4]. Hasil: Kelompok perlakuan niacinamide 0,4% b/v menunjukkan percepatan penyembuhan klinis yang signifikan (p0,001) dengan performa terbaik dibandingkan kelompok lain. Namun, tidak ditemukan perbedaan signifikan pada kadar EGF (p=0,848), kadar MDA (p=0,904), jumlah fibroblas (p=0,481), maupun kepadatan kolagen (p=0,386) antar kelompok [5]. Kesimpulan: Formulasi niacinamide berbasis kitosan mempercepat penyembuhan luka secara klinis, namun efek ini tidak disertai perubahan signifikan pada parameter molekuler dan histopatologis yang diukur. Kontribusi spesifik niacinamide tidak dapat dipisahkan dari efek kitosan karena keterbatasan desain (tidak adanya kontrol vehicle), sehingga diperlukan penelitian lanjutan untuk mengidentifikasi mekanisme molekuler yang mendasari efek terapeutik tersebut.Kata Kunci: Penyembuhan luka, niacinamide berbasis kitosan, MDA, EGF
POTENSI EKSTRAK ETANOL JAMUR SUSU HARIMAU (Lignosus Rhinocerus) SEBAGAI INHIBITOR ENZIM TIROSINASE PENGHAMBAT HIPERPIGMENTASI Like Efriani; Mariam Ulfah; Ade Irawan; Teguh Adiyas Putra; Ismanurrahman Hadi; Adinda Faaizah Husnul Khotimah; Ahmad Nursidik
Jurnal Dunia Farmasi Vol 10, No 3 (2026): EDISI AGUSTUS
Publisher : LPPM Institut Kesehatan Helvetia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33085/jdf.v10i3.6951

Abstract

Hiperpigmentasi adalah gangguan warna kulit yang berubah menjadi hitam atau cokelat kehitaman akibat produksi pigmen kulit berlebih yang dipicu oleh paparan sinar matahari. Salah satu cara untuk mengatasi hiperpigmentasi adalah dengan menghambat sintesis melanin menggunakan agen depigmentasi yang bekerja dengan menghambat aktivitas enzim tirosinase. Senyawa flavonoid dan fenolik adalah senyawa metabolit pada tumbuhan yang berpotensi menghambat aktivitas enzim tirosinase. Jamur susu harimau atau Lignosus rhinocerus (L. rhinocerus) mengandung banyak senyawa flavonoid, terpenoid, dan senyawa fenolik. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menguji potensi penghambatan aktivitas enzim tirosinase dari ekstrak etanol L. rhinocerus secara in vitro. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen laboratorium dengan uji skrining fitokimia untuk alkaloid, flavonoid, saponin, steroid/triterpenoid, dan uji fenolik. Kemudian dilakukan uji fenolik total menggunakan standar asam galat dengan spektrofotometri Vis dengan panjang gelombang λ 750 nm. Selanjutnya, dilakukan uji inhibisi enzim tirosinase pada ekstrak etanol jamur susu harimau. Hasil: Hasil uji skrining fitokimia menunjukkan bahwa ekstrak tersebut positif mengandung senyawa alkaloid, flavonoid, steroid/terpenoid, dan metabolit sekunder fenolik, tetapi negatif mengandung senyawa tanin. Pengujian kandungan fenolik total ekstrak L. rhinocerus mengandung 44,93 mg GAE/g. Aktivitas inhibisi ekstrak etanol L. rhinocerus menunjukkan hasil IC50 sebesar 69.292 ppm yang termasuk dalam kategori sedang. Sementara itu, nilai IC50 standar asam kojik yang digunakan adalah 13.585 ppm yang memiliki aktivitas inhibisi kategori tinggi. Kesimpulan: Dari hasil analisis data, diperoleh nilai signifikansi sebesar 0,025 (p0,05), yang berarti terdapat perbedaan signifikan pada hasil penghambatan enzim tirosinase antara kelompok L. rhinocerus dan asam kojik.
EVALUASI RASIONALITAS PENGGUNAAN OBAT ANTIHIPERTENSI PADA PASIEN GERIATRI DI INSTALASI RAWAT JALAN RUMAH SAKIT UMUM SEMBIRING Ratnasari Putri Br Tarigan; Sofia Rahmi; Dahlia Purba
Jurnal Dunia Farmasi Vol 10, No 3 (2026): EDISI AGUSTUS
Publisher : LPPM Institut Kesehatan Helvetia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33085/jdf.v10i3.7088

Abstract

Hypertension requires appropriate pharmacological therapy to achieve blood pressure control and prevent complications. In geriatric patients, physiological changes and comorbidities may increase the risk of inappropriate therapy and adverse drug reactions. Objective: This study aimed to evaluate the rationality of antihypertensive drug use among geriatric patients based on the appropriateness of indication, patient, drug selection, dosage, and the occurrence of adverse drug reactions at the Inpatient Unit of Sembiring Deli Tua General Hospital. Methods: This was a non-experimental study with a retrospective descriptive design using medical record data from 30 geriatric patients with hypertension who were hospitalized in 2025. The rationality of antihypertensive drug use was evaluated based on the criteria of appropriate indication, patient, drug selection, and dosage, referring to the JNC 8 guideline. Data were analyzed descriptively using frequency distributions and percentages. Results: The appropriateness of indication was 86.6%, patient selection 100%, drug selection 76.6%, and dosage 83.3%. All patients (100%) were recorded as experiencing adverse drug reactions during antihypertensive therapy. Most patients were female (63.3%) and aged 56–65 years (66.6%). Conclusion: Antihypertensive drug use among geriatric patients generally met most criteria for rational drug use, particularly the appropriateness of patient selection. However, inappropriate indications, drug selection, and dosage, as well as the high occurrence of adverse drug reactions, were still identified. Regular therapeutic evaluation and monitoring of drug use are therefore necessary to improve the safety and effectiveness of antihypertensive therapy in geriatric patients.
KARAKTERISASI DAN AKTIVITAS SITOTOKSIK NANOEMULSI VIRGIN COCONUT OIL (nVCO) TERHADAP SEL KANKER USUS BESAR Muhammad Iqbal; Ramadhan Triyandi; Wawan Abdullah Setiawan
Jurnal Dunia Farmasi Vol 10, No 3 (2026): EDISI AGUSTUS
Publisher : LPPM Institut Kesehatan Helvetia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33085/jdf.v10i3.7033

Abstract

Pendahuluan: Kanker usus besar adalah kanker paling mematikan kedua di dunia. Terapi kanker usus besar konvensional masih menghasilkan berbagai efek samping dan tidak selektif. Pengembangan agen antikanker berbasis nanoemulsi minyak kelapa murni (VCO) merupakan upaya berkelanjutan di bidang penemuan obat kanker. Tujuan: Studi ini bertujuan untuk mengeksplorasi potensi antikanker dari nanoemulsi VCO (nVCO) pada usus besar. Metode: Formulasi nVCO menggunakan tween 80 dan PEG 400 sebagai pengemulsi. Pengujian potensi antioksidan menggunakan metode 2,2-Diphenyl-1-Picrylhydrazyl (DPPH). Persentase asam lemak bebas diukur menggunakan titrasi asam-basa. Karakterisasi nVCO didasarkan pada pengujian Scanning Electron Microscope (SEM), Gas Chromatography-Mass Spectrometry (GC-MS), dan Fourier Transform Infrared Spectroscopy (FTIR). Uji sitotoksik in vitro dilakukan menggunakan metode Mikrotetrazolium (MTT) terhadap sel kanker usus besar (HT-29) dengan serangkaian konsentrasi, yaitu (12,5; 50; 100; 200; 400) ppm. Hasil: Formula nVCO memenuhi persyaratan nanoemulsi. Kandungan antioksidan nVCO adalah 17,61 ppm. Asam lemak bebas nVCO yang terukur adalah 0,9%. Karakterisasi SEM nVCO memiliki bentuk partikel tidak beraturan. GC-MS menunjukkan bahwa nVCO mengandung asam laurat (4,29%). Aktivitas sitotoksik nVCO terhadap sel kanker kolon (HT-29) memiliki IC50 sebesar 232,97 ppm. Kesimpulan: Studi pendahuluan ini memberikan bukti ilmiah untuk inovasi baru nanoemulsi VCO yang dapat dikembangkan menjadi nutrasetika alami dan aman. Bagaimanapun, masih diperlukan studi lanjut untuk menelusuri mekanisme seluler efek sitotoksik nVCO terhadap sel HT-29.