cover
Contact Name
Saskiyanto Manggabarani
Contact Email
lppm@helvetia.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
duniafarmasi@helvetia.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota medan,
Sumatera utara
INDONESIA
Jurnal Dunia Farmasi
ISSN : -     EISSN : 25483560     DOI : -
Core Subject : Health, Science,
Jurnal Dunia Farmasi secara resmi yang dikelola oleh Program Studi S1 Farmasi Institut Kesehatan Helvetia (IKH) yang artikelnya dapat diakses dan unduh secara online oleh publik. Jurnal ini adalah jurnal review nasional, yang terbit 3 (tiga) kali dalam setahun pada bulan Desember, April dan Agustus dengan topik-topik keunggulan hasil penelitian di bidang pelayanan dan praktek kefarmasian, pengobatan masyarakat, teknologi kefarmasian serta disiplin ilmu kesehatan yang terkait erat. Jurnal ini memfokuskan pada tema meliputi Farmasi Klinis, Farmasi Komunitas, Farmasetika, Kimia Farmasi, Farmakognosi, Fitokimia.
Arjuna Subject : -
Articles 150 Documents
Identifikasi Kadar Flavonoid Ekstrak Daun Kersen (Muntingia calabura L.) dengan Metode Spektrofotometri UV-Vis Dimas Aditiya; Vesara Ardhe Gatera; Salman Salman
Jurnal Dunia Farmasi Vol 7, No 1 (2022): Edisi Desember
Publisher : Program Studi Farmasi, Fakultas Farmasi dan Kesehatan, Institut Kesehatan Helvetia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33085/jdf.v7i1.5335

Abstract

Pendahuluan: Salah satu tanaman herbal yang sering digunakan sebagai tanaman obat adalah tanaman kersen. Daun kersen dapat disajikan dengan cara direbus atau direndam dalam air. Daun kersen digunakan untuk menurunkan demam, meredakan sakit kepala, dan asam urat. Selain itu, daun kersen juga bisa digunakan sebagai antioksidan, antibakteri, antiinflamasi, antidiabetes dan antitumor. Daun kersen banyak mengandung komponen flavonoid seperti flavon, flavanon, flavan, flavanol, isoflavon dan biflavan dengan aktivitas antidiabetes dan sitotoksik. Tujuan: penelitian ini bertujuan untuk Menganalisa kadar flavonoid total yang terkandung dalam ekstrak daun kersen (Muntingia calabura L). Metode: Desain penelitian eksperimental dengan analisis kualitatif dan kuantitatif. Penelitian ini menggunakan konstrasi larutan kuersetin 40, 50, 60, 70, dan 80 ppm dengan pengukuran dengan panjang gelombang maksimal 432 nm Hasil: Pada kurva baku standar diperoleh persamaan regresi linier yaitu Y= 0,0073x + 0,056 dengan nilai r =0,995. Hasil yang didapat pada identifikasikadar flavonoid ekstrak daun kersen ialah sebanyak 46,51mgQE/g ekstrak, yang artinya dalam setiap gram ekstrak daun kersen mengandung flavonoid yang setara dengan 46,51mg kuersetin. Kesimpulan: pada penelitian ini kadar senyawa flavonoid yang terkandung dalam ekstrak daun kersen sebanyak 46,51mgQE/g ekstrak, dengan kata lain 1gram ekstrak daun kersen setara dengan 46,51mg kuersetin.
Pengaruh Pengolahan Buah Salak Pondoh (Salacca zalacca (Gaertn.) Voss) terhadap Kadar Vitamin C Fery Eko Pujiono; Tri Ana Mulyati
Jurnal Dunia Farmasi Vol 7, No 1 (2022): Edisi Desember
Publisher : Program Studi Farmasi, Fakultas Farmasi dan Kesehatan, Institut Kesehatan Helvetia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33085/jdf.v7i1.5346

Abstract

Pendahuluan: Salak banyak diproduksi karena peningkatan jumlah konsumsi buah salak disetiap tahunnya. Hal ini dikarenakan salak memiliki kandungan gizi yang sangat tinggi. Kandungan karbohidrat dan air yang sangat tinggi ini menyebabkan salak lebih mudah busuk sehingga umumnya buah salak hanya dapat bertahan selama 7 hari pada suhu kamar. Disisi lain, Perubahan lain yang cukup merugikan adalah terjadinya perubahan warna daging buah secara 2 enzimatis karena kandungan tanin yang memberikan rasa sepat pada salak jika terkena udara maka akan menghasilkan perubahan warna coklat (reaksi browning enzymatic). Produk hasil pengolahan salak termasuk jus, selai, dodol, asinan, dan manisan salak. Namun, permasalahan yang terjadi adalah pengolahan buah ini dapat mempengaruhi kadar gizi terutama vitamin C. Hilangnya vitamin C selama proses pengolahan buah dapat terjadi karena proses oksidasi akibat pemanasan atau aktivitas enzimatik Tujuan: Mengetahui pengaruh pengolahan buah salak terhadap kadar vitamin C. Metode: Penelitian ini menggunakan UV-Vis untuk penentuan kadar Vitamin C sebelum dan sesudah diolah menjadi manisan salak. Pengolahan manisan salak dilakukan pada berbagai waktu yaitu 5 menit (Manisan A), 10 menit (Manisan B), 20 menit (Manisan C) dan 30 menit (Manisan D). Instrumen yang digunakan untuk mengukur kadar vitamin C adalah UV-Vis dan panjang gelombang maksimum yang digunakan adalah 265 nm. Hasil: Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pengolahan salak pondoh menjadi manisan salak pondoh basah dapat menurunkan kadar vitamin C. Semakin lama waktu pengolahan salak pondoh maka kadar vitamin C semakin menurun. Kadar vitamin C tertinggi terdapat pada sampel buah salak pondoh segar (kontrol) yaitu 4,913 ± 0,076 mg/100 g. Adapun kadar vitamin C terendah terdapat pada sampel Manisa D (pengolahan 30 menit) yaitu 0,363 ± 0,031 mg/100 g. Simpulan: Semakin lama waktu pengolahan salak pondoh maka kadar vitamin C semakin menurun
Pengaruh Perbedaan Bahan Pengikat Na-CMC, HPMC, dan Karbomer 940 terhadap Karakteristik Pasta Gigi Cangkang Telur Ayam Ras Ineke Rossa Caroline; Devi Ratnasari; Indah Laily Hilmi
Jurnal Dunia Farmasi Vol 7, No 1 (2022): Edisi Desember
Publisher : Program Studi Farmasi, Fakultas Farmasi dan Kesehatan, Institut Kesehatan Helvetia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33085/jdf.v7i1.5388

Abstract

Pendahuluan: Cangkang telur ayam ras dapat digunakan sebagai alternatif bahan abrasif pada pasta gigi mengingat penyusun utamanya yaitu kalsium karbonat. Selain bahan abrasif, pasta gigi juga mengandung bahan pengikat yang berfungsi untuk menstabilkan formula dengan mencegah pemisahan fase padat dan cair. Bahan-bahan seperti Na-CMC, HPMC, dan karbomer 940 umum digunakan pada formulasi pasta gigi karena bersifat non toksik, memberikan stabilitas yang baik pada suhu ruang dan waktu yang lama serta dengan rentang pH yang luas. Tujuan: Menghitung kadar kalsium karbonat dalam cangkang telur ayam ras dan pasta gigi cangkang telur ayam ras serta mengidentifikasi sifat fisik dan kimia pasta gigi cangkang telur ayam ras untuk dilihat pengaruh dari perbedaan bahan pengikat terhadap karakteristik pasta gigi. Metode: Kadar kalsium karbonat pada cangkang telur ayam ras dan pasta gigi cangkang telur ayam ras ditentukan dengan metode titrasi EDTA. Lalu dilakukan pembuatan pasa gigi cangkang telur ayam ras sesuai dengan formula yang telah dibuat dan dilakukan uji sifat fisik dan kimia. Hasil: Kandungan kalsium karbonat pada cangkang telur ayam ras yaitu 44,662%, sedangkan pada pasta gigi F1 (Na-CMC), F2 (HPMC), dan F3 (karbomer 940) berturut-turut yaitu 21,51%, 20,84%, dan 21,39%. Perbedaan bahan pengikat pada F1, F2, dan F3 dapat mempengaruhi konsistensi, viskositas dan daya sebar pasta gigi. Sedangkan tidak ada perbedaan yang signifikan dari ketiga formula pada warna, aroma, homogenitas, pH dan tinggi busa. Kesimpulan: Kandungan kalsium karbonat yang terdapat pada ketiga formula sediaan pasta gigi telah memenuhi kadar yang diharapkan dan semua formula menunjukkan sifat fisik dan kimia pasta gigi yang baik.
Formulasi dan Uji Aktivitas Antioksidan Gel Kitosan Hasil Isolasi dari Limbah Tulang Sotong (Sepia sp.) dengan Menggunakan Metode DPPH Ika Julianti Tambunan; Qalbiah Nurmilad B; Muharni Saputri; Nilsya Febrika Zebua; Siti Muliani Julianty; Kanne Dachi
Jurnal Dunia Farmasi Vol 7, No 1 (2022): Edisi Desember
Publisher : Program Studi Farmasi, Fakultas Farmasi dan Kesehatan, Institut Kesehatan Helvetia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33085/jdf.v7i1.5512

Abstract

Pendahuluan: Tulang sotong memiliki kitosan yang berpotensi sebagai antioksidan. Pada kitosan gugus amina mempunyai komponen yang dapat menghambat terbentuknya senyawa radikal bebas yang menyebabkan kerusakan kulit. Kosmetik dengan bahan alam telah banyak berkembang di indonesia dan lebih menarik oleh karena itu formula kosmetika untuk mengatasi kerusakan pada kulit adalah gel mengandung kitosan. Tujuan: Adapun tujuan dari penelitian ini adalah menguji kemampuan antioksidan gel kitosan hasil isolasi dari limbah tulang sotong. Metode: secara eksperimental dengan memakai bahan tulang sotong (Sepia sp.), kemudian dilakukan determinasi hewan, isolasi kitosan, karakterisasi kandungan kimia pada kitosan dengan uji menggunakan  larutan ninhidrine, analisis gugus fungsi dengan Spektrofotometer Fourier Transform Infrared (FTIR), formulasi kitosan dalam sediaan gel dan analisis mutu fisik sediaan serta uji aktivitas antioksidan mengunakan metode DPPH. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil isolasi tulang sotong menunjukkan terdapat gugus amin merupakan karakteristik utama kitosan. Kitosan dapat diformulasikan kedalam sediaan gel yang homogen serta mempunyai rentang pH sesaat setelah dibuat 6,26-6,9 dan pH setelah pengujian kestabilan 4,91-5,71 serta tidak menyebabkan iritasi pada kulit. Sediaan gel tergolong sebagai antioksidan sedang pembuatan induk dengan panjang gelombang 516 nm menggunakan spekfotometer UV-vis dengan konsentrasi 40 ppm nilai absorbansi yang diperoleh 0,851 (IC50 138,60 μg/mL). Sedangkan pada kitosan  tulang sotong tergolong sebagai antioksidan sedang (IC50 205,92 μg/mL). Kesimpulan: Kitosan hasil isolasi dapat diformulasikan dalam  sediaan gel dan aktivitas antioksidan isolasi kitosan tergolong sebagai antioksidan sedang.
Gambaran Peresepan Antibiotik untuk Terapi Pneumonia pada Pasien Pediatrik Rawat Jalan di RSUD Karawang Kirana Aulia Pasha Azis; Salman Salman; Devi Ratnasari
Jurnal Dunia Farmasi Vol 7, No 2 (2023): Edisi April
Publisher : Program Studi Farmasi, Fakultas Farmasi dan Kesehatan, Institut Kesehatan Helvetia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33085/jdf.v7i2.5326

Abstract

Pendahuluan: Pneumonia dapat disebabkan oleh bakteri yang berterbangan di udara. Antibiotik diberikan untuk terapi pneumonia akibat infeksi bakteri, tetapi penggunaan antibiotik yang tidak tepat dapat menimbulkan terjadinya resistensi antibiotik. Tujuan: Menganalisis ketepatan pemberian antibiotik berdasarkan guideline World Health Organization dan ketepatan dosis antibiotik untuk terapi pneumonia berdasarkan kesesuaian antara antibiotik yang diberikan di RSUD Karawang dengan pedoman pengobatan antibiotik menurut World Health Organization, Oxford Specialist Handbook, dan Ikatan Dokter Anak Indonesia. Metode: Menggunakan metode deskriptif kuantitatif. Lokasi penelitian dilakukan di RSUD Karawang periode April-September 2021 dengan menggunakan rekam medis pasien. Hasil: Kesesuaian antara antibiotik yang sesuai indikasi yang diberikan pada pasien pediatrik rawat jalan yang terdiagnosa pneumonia di RSUD Karawang dengan guideline WHO pneumonia pada anak (2014) yang diberikan secara tepat sekitar 73,7%. Ketetapan dosis disesuaikan dengan acuan dosis pada pedoman dari World Health Organization (2017) dan Oxford Spesialist Handbook in Pediatric (2016) hasilnya adalah sebanyak 9 kasus atau sekitar 47,4% pemberian antibiotik yang sesuai dosis, sedangkan jika dibandingkan dengan pedoman Ikatan Dokter Anak Indonesia (2013) adalah hanya ada 1 kasus atau sekitar 5,3% pemberian antibiotik yang sesuai dosis. Kesimpulan: Antibiotik yang diberikan tidak rasional karena tidak tepat indikasi dan tidak tepat dosis.
Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak Etanol Daun Sisik Naga terhadap Bakteri Staphylococcus aureus dan Salmonella typhi Muhammad Amin Nasution; Muhammad Andry; Hindri Syahputri; Nia Novranda Pertiwi; Melia Sari
Jurnal Dunia Farmasi Vol 7, No 2 (2023): Edisi April
Publisher : Program Studi Farmasi, Fakultas Farmasi dan Kesehatan, Institut Kesehatan Helvetia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33085/jdf.v7i2.5693

Abstract

Latar Belakang: Paku sisik naga (Pyrrosia piloselloides) termasuk dalam family Polypodiaceae merupakan tanaman epifit yang hidup dan menempel di bebatuan atau pepohonan dan mengandung metabolit sekunder seperti alkaloid, flavonoid, saponin. Tujuan: Untuk mengetahui metabolit sekunder yang terdapat pada sampel serta menguji aktivitas antibakteri dan konsentrasi yang paling baik ekstrak etanol sisik naga (Pyrrosia piloselloides) dalam menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus dan Salmonella typhi. Metode: Penelitian ini eksperimental dengan ekstraksi metode maserasi dengan pelarut etanol 96%. Sampel penelitian ini adalah daun tropofil sisik naga (Pyrrosia piloselloides) diambil secara purposive sampling yang diekstrak kemudian diencerkan dengan konsentrasi 10%, 20% dan 30%. Uji daya hambat menggunakan metode difusi cakram. Data yang diperoleh dari hasil penelitian di laboratorium diolah dengan statistik yaitu uji Analysis of Varians (ANOVA). Hasil:  Berdasarkan uji anova diketahui nilai sig sebesar 0,000 (0,005) terdapatl perbedaan signifikan antara konsentrasi 10%, 20%, 30%, kontrol (+) dan kontrol (-) dengan kata lain penambahan konsentrasi mempengaruhi zona hambat mikroba. Kesimpulan: Pada penelitian ini dapat disimpulkan bahwa uji aktivitas antimikroba dan konsentrasi pada ekstrak etanol sisik naga (Pyrrosia piloselloides) mempunyai aktivitas antimikroba terhadap bakteri Staphylococcus aureus dan Salmonella typhi.
Hubungan Jumlah Sel CD4 dan Riwayat Diare dengan Infeksi Cryptosporidium sp pada Penderita HIV/AIDS di Sumatera Barat Goldha Faroliu; Nuzulia Irawati
Jurnal Dunia Farmasi Vol 7, No 2 (2023): Edisi April
Publisher : Program Studi Farmasi, Fakultas Farmasi dan Kesehatan, Institut Kesehatan Helvetia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33085/jdf.v7i2.5355

Abstract

Pendahuluan: Cryptosporidium sp merupakan salah satu protozoa usus oportunistik yang pada umumnya asimtomatik dan bersifat self limited pada individu imunokompeten, namun pada individu dengan defisiensi imun seringkali mengakibatkan diare kronis, sehingga menyebabkan dehidrasi dan malnutrisi yang dapat meningkatkan mortalitas dan morbiditas pada penderita HIV. Tujuan: Melihat hubungan antara jumlah CD4 dan Riwayat diare pasien HIV dengan infeksi Cryptosporidium sp. Metode: Penelitian observasional dengan desain Cross Sectional pada 50 sampel feses penderita HIV/AIDS. Pemeriksaan Cryptosporidium sp dilakukan dengan pewarnaan Ziehl Neelsen, dan analisa data menggunakan uji Chi Square. Hasil: Diperoleh hasil 2 responden (4%) positif terinfeksi Cryptosporidium sp, tidak terdapat hubungan yang signifikan antara jumlah sel CD4 dengan infeksi Cryptosporidium sp p=0,490 (p0,05). Adanya perbedaan yang signifikan antara rata-rata jumlah sel CD4 pada responden yang positif terinfeksi dengan responden tidak terinfeksi, p=0,001 (p0,05). Adanya hubungan yang signifikan antara infeksi Cryptosporidium sp dengan riwayat diare, p=0,045 (p0,05). Kesimpulan: Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara jumlah sel CD4 dengan infeksi Cryptosporidium sp namun ada perbedaan yang signifikan antara rata-rata jumlah sel CD4 pada responden yang positif terinfeksi dengan responden tidak terinfeksi, dan ada hubungan yang signifikan antara infeksi Cryptosporidium sp dengan riwayat diare.
Aktivitas Kombinasi Ekstrak Etanol Daun Salam (Syzygium Polyanthum) dan Daun Gambir (Uncaria Gambir) terhadap Penurunan Glukosa Darah Tikus (Rattus Norvegicus) Putu Ayu Nita Pebriyanti; I Gusti Ngurah Agung Windra Wartana Putra; I Dewa Putu Sutjana
Jurnal Dunia Farmasi Vol 7, No 2 (2023): Edisi April
Publisher : Program Studi Farmasi, Fakultas Farmasi dan Kesehatan, Institut Kesehatan Helvetia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33085/jdf.v7i2.5376

Abstract

Latar Belakang: Tanaman salam (Syzygium polyanthum) dan gambir (Uncaria gambir) merupakan tanaman digunakan sebagai pengobatan hiperglikemia. Metabolit sekunder berupa flavonoid dan tanin pada daun salam dan daun gambir diduga dapat menurunkan glukosa darah. Tujuan: Mengkaji secara terukur penurunan glukosa dalam darah sebelum dan setelah pemberian kombinasi ekstrak etanol 96% daun salam dan daun gambir. Metode: Ekstrak Daun Salam dan daun Gambir dibuat dengan metode maserasi dengan pelarut etanol 96%. Sebanyak 15 ekor tikus di induksi dengan aloksan dengan dosis 150 mg/KgBB. Tikus dibagi menjadi 5 kelompok. Kelompok I (Metformin), kelompok II (kombinasi ekstrak dosis 50/50 mg/gBB), kelompok III (kombinasi ekstrak dosis 100/100 mg/gBB), kelompok IV (kombinasi ekstrak dosis 150/150 mg/gBB), dan kelompok V (aquadest). Pengukuran kadar glukosa dilakukan dengan metode POCT (Point of Care Testing) pada hari hari ke-2, 3, 4 dan 5 yang diuji secara deskriptif. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan perbedaan penurunan kadar glukosa darah. Kelompok kontrol positif menunjukan penurunan sebesar 84,5%, kelompok II 38,6%, kelompok III 67,9%, kelompok IV 81,3%, dan kelompok kontrol negatif 3,7%. Kesimpulan: Kombinasi ekstrak etanol 96% daun salam dan daun gambir mampu menurunkan kadar glukosa darah tikus pada dosis 50/50 mg/gBB, 100/100 mg/gBB dan 150/150 mg/gBB.
Aktivitas Penyembuhan Luka Formulasi Salep Ekstrak Etanol Daun Kitolod (Isotoma longiflora) pada Mencit (Mus musculus) Faisal Akhmal Muslikh
Jurnal Dunia Farmasi Vol 7, No 2 (2023): Edisi April
Publisher : Program Studi Farmasi, Fakultas Farmasi dan Kesehatan, Institut Kesehatan Helvetia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33085/jdf.v7i2.5425

Abstract

Pendahuluan: Kitolod (Isotoma longiflora) merupakan tanaman yang memiliki manfaat untuk mengobati luka. Kitolod mengandung beberapa senyawa seperti flavonoid, saponin, dan tanin yang berperan penting dalam proses penyembuhan luka. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas formula salep ekstrak etanol 70% daun kitolod terhadap penyembuhan luka sayat pada mencit BALB/c. Metode: Penelitian ini diawali dengan preparasi formula salep ekstrak etanol 70% daun kitolod, kemudian dilakukan uji in vivo dilakukan dengan membuat sayatan pada punggung mencit menggunakan scalpel dengan panjang 2 cm dan kedalaman 0,2 cm. Mencit diberi perlakuan formula salep ekstrak etanol daun kitolod dengan konsentrasi 12,5%, 25%, 50%, serta betadine untuk kontrol positif. Perlakuan diberikan pada hari ke-1 sampai hari ke-10, dan diamati kemajuan penyembuhannya setiap 2 hari sekali dengan mengukur panjang luka sayatan pada mencit menggunakan penggaris, dan hasilnya dianalisis menggunakan software IBM SPSS Statistic 24. Hasil: Formula salep ekstrak etanol daun kitolod konsentrasi 25% menunjukkan penyembuhan luka sayat paling cepat dengan menunjukkan penurunan intensitas warna atau eritema pada sayatan dibandingkan dengan formula salep ekstrak etanol daun kitolod konsentrasi lainnya 12,5% dan 50%. Kesimpulan: Dapat disimpulkan bahwa formula salep ekstrak etanol 70% daun kitolod memiliki aktivitas penyembuhan luka pada mencit.
Penetapan Kadar Flavonoid Total pada Daun Karamunting (Rhodomyrtus tomentosa) sebagai Bahan Berpotensi Antioksidan dengan Metode Spektrofotometri UV-Visible Romauli Anna Teresia Marbun
Jurnal Dunia Farmasi Vol 7, No 2 (2023): Edisi April
Publisher : Program Studi Farmasi, Fakultas Farmasi dan Kesehatan, Institut Kesehatan Helvetia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33085/jdf.v7i2.5465

Abstract

Pendahuluan: Bahan alam berpotensi obat menjadi fokus utama para peneliti masa kini. Pemeriksaan senyawa yang terkandung di dalam bahan alam tersebut menjadi hal utama yang dilakukan. Kuersetin merupakan salah satu zat aktif golongan flavonoid yang memiliki aktivitas biologis yang kuat. Kadar kuersetin menjadi marker seberapa besar potensi suatu tanaman menjadi fitofarmaka ke depan. Daun karamunting (Rhodomyrtus tomentosa) memiliki kandungan flavonoid, glikosida, saponin, dan tannin. Daun karamunting berpotensi sebagai antiabetes, antibakteri, dan antikolesterol. Tujuan: Untuk menetapkan kadar flavonoid total dari daun karamunting dilakukan dengan menggunakan metode spektrofotometri UV-Visible. Metode: Penelitian yang digunakan eksperimental menggunakan daun karamunting yang diambil dari Ajibata Kabupaten Toba. Ektraksi yang digunakan adalah metode maserasi dengan menggunakan etanol 96%. Penetapan kadar flavonoid total dilakukan dengan pembuatan larutan baku kuersetin, penentuan panjang gelombang maksimum kuersetin, pengukuran kadar flavonoid total. Kurva kalibrasi dibuat dengan mengukur baku kuersetin pada konsentrasi 60,70,80,90, dan 100 ppm. Setelah itu dilakukan pengukuran kadar flavonoid total. Hasil: Rata-rata Kadar Flavonoid total dengan standar kuersetin dalam Ekstrak adalah sebesar 1,33% dengan tiga kali ulangan.  Kesimpulan: Hal ini menunjukkan kadar kuersetin yang terkandung dalam daun karamunting bisa digunakan untuk bahan antioksidan.