cover
Contact Name
Alvi Nur Yudistira
Contact Email
maz.wie@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
redaksi@jppik.id
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Penyuluhan Perikanan dan Kelautan
ISSN : 19786514     EISSN : 26848651     DOI : -
Jurnal Penyuluhan Perikanan dan kelautan menerima artikel yang memuat hasil penelitian dalam bidang perikanan dalam arti luas. Topik yang dapat dipublikasikan melalui jurnal ini antara lain : penyuluhan perikanan; pemberdayaan masyarakat perikanan; konservasi dan sumberdaya perikanan; sosial dan ekonomi perikanan; budidaya perikanan; pengolahan ikan; pemanfaatan sumberdaya perikanan; penangkapan ikan.
Arjuna Subject : -
Articles 234 Documents
Karakteristik Organoleptik Ikan Patin Asap (Pangasius Pangasius) Tatty Yuniarti; Iis Jubaedah; Ganjar Wiryati; Romauli J Napitupulu
Jurnal Penyuluhan Perikanan dan Kelautan Vol 9, No 1 (2015)
Publisher : Program Studi Penyuluhan Perikanan Politeknik Ahli Usaha Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33378/jppik.v9i1.57

Abstract

Ikan asap adalah salah satu produk olahan tradisional di Indonesia. Berbagai jenis ikan dapat digunakan sebagai bahan baku ikan asap. Salah satunya adalah ikan patin (Pangasius-pangasius). Modifikasi pengasapan ikan digunakan untuk menghasilkan ikan asap yang disukai konsumen. Modifikasi ikan asap yang dilakukan pada penelitian ini terdiri dari dua (2) model ikan asap yaitu ikan patin tanpa disayat diasapi (A) dan ikan patin disayat (B) kemudian diasapi. Penyayatan daging pada salah satu model ikan asap diharapkan dapat memperluas permukaan kontak daging ikan dengan asap sehingga menghasilkan profil sensori yang berbeda. Metoda yang digunakan dalam penelitian ini adalah uji sensori skala rating hedonik. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan model ikan asap yang disukai oleh konsumen. Dari hasil penelitian diketahui bahwa ikan asap dengan bahan baku ikan patin berat rata-rata 280-320 gr menghasilkan rendemen ikan asap sebanyak kurang lebih 60%. Dari hasil uji sensori diketahui bahwa panelis lebih memilih atribut penampakan dan tekstur untuk ikan asap yang disayat dan panelis memilih untuk atribut rasa dan bau pada ikan asap yang tanpa disayat. Komposisi ikan asap tanpa disayat adalah protein 13%, lemak 0,54%, air 73% dan mineral 1,77%, untuk ikan asap bersayat kadar protein 23%, lemak 0,44%, air 65% dan mineral 0,96%.
Partisipasi Nelayan dalam Kelompok Usaha Bersama Bidang Penangkapan Ikan (Kasus pada KUB di Kecamatan Pangandaran, Kabupaten Pangandaran) Ani Leilani; Ina Restuwati
Jurnal Penyuluhan Perikanan dan Kelautan Vol 10, No 1 (2016)
Publisher : Program Studi Penyuluhan Perikanan Politeknik Ahli Usaha Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33378/jppik.v10i1.68

Abstract

Aksi bersama melalui kelompok merupakan strategi bagi nelayan untuk tetap kompetitif dalam lingkungan usahanya. Komitmen dan kontribusi setiap anggota menjadi penting bagi keberhasilan dan kelangsungan kegiatan kelompok yang direfleksikan melalui partisipasi nelayan dalam kelompok. Tujuan penelitian ini adalah: (1) Mengidentifikasi karakteristik nelayan dan karakteristik Kelompok Usaha Bersama (KUB); (2) Mengidentifikasi tingkat partisipasi nelayan dalam KUB; dan (3) Menganalisis hubungan antara tingkat partisipasi nelayan dalam KUB dengan karakteristiknya. Populasi penelitian adalah nelayan di Kecamatan Pangandaran. Jumlah responden penelitian sebanyak 30 orang dari 5 KUB yang diambil secara acak sederhana. Pengumpulan data dilakukan pada Bulan Februari sampai Maret 2015. Data kemudian dianalisis dengan uji korelasi Rank Spearman. Hasil penelitian menunjukkan: (1) Karakterisik nelayan sebagian besar berada pada kategori dewasa (rataan umur 43 tahun) dengan tingkat pendidikan rendah. Skala usaha dan pengalaman nelayan dalam penangkapan ikan berada dalam kategori sedang, dengan tingkat motivasi berkelompok dan tingkat kekosmopolitan sedang. Persepsi nelayan terhadap kelompok sebagian besar berada pada kategori tinggi. Tujuan kelompok, lingkungan interaksi, fungsi kelompok dan perilaku kepemimpinan dinilai baik dan mendukung kegiatan KUB; (2) Partisipasi nelayan dalam KUB tinggi. Derajat keterlibatan nelayan dalam perencanaan, pelaksanaan, evaluasi, dan menikmati hasil KUB sudah berjalan baik; dan (3) Terdapat hubungan signifikan antar partisipasi dan karakteristik pada variabel motivasi berkelompok, tujuan kelompok, lingkungan interaksi kelompok, dan perilaku kepemimpinan.
Kualitas Air dan Beban Limbah Karamba Jaring Apung di Waduk Jatiluhur Jawa Barat Pigoselpi Anas; Iis Jubaedah; Dinno Sudinno
Jurnal Penyuluhan Perikanan dan Kelautan Vol 11, No 1 (2017)
Publisher : Program Studi Penyuluhan Perikanan Politeknik Ahli Usaha Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33378/jppik.v11i1.84

Abstract

Penelitian ini telah dilakukan mulai bulan April sampai Juli 2016 di Waduk Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta. Tujuan Penelitian untuk mengetahui status kualitas perairan waduk Jatiluhur yang digunakan untuk budidaya Keramba Jaring Apung dan mengetahui beban limbah yang berasal dari keramba jarring apung. Diharapkan informasi ini dapat ditentukan kualitas perairan waduk jatiluhur dan apakah beban limbah yang berasal dari KJA sudah melampaui kapasitas asimilasi ekosistem waduk tersebut. Jenis data yang dikumpulkan terdiri dari data primer dan sekunder. Pengambilan sampel untuk kualitas air dilakukan pada beberapa stasiun yang mewakili daerah sekitarnya dan pengukuran parameter kualitas air dilakukan pada beberapa stasiun yang mewakili daerah sekitarnya dan pengukuran parameter kualitas air dilakukan secara in situ dan analisis di Laboratorium. Hasil penelitian menunjukkan bahwa status kualitas perairan waduk jatiluhur berdasarkan “US-EPA” adalah tercemar sedang hampir mendekati tercemar berat dengan nilai -30 kelas C. Beban limbah yang berasal dari keramba jarring apung ketika jumlah keramba yang ada sebanyak 30.000 petak keramba maka limbah Nitrogen dan Fosfor terlarut berturut-turut adalah 2722,65 ton/tahun, 22,40 ton/tahun. Sedangkan partikel Nitrogen dan Fosfor berturut-turut sebesar 418,87 ton/tahun dan 145,65 ton/tahun.
Analisis Penyuluhan Perikanan Partisipatif dan Kompetensi Pembudidaya Ikan di Kabupaten Sumedang Erlin Rosiah; Soen'an Hadi Poernomo; OD Soebhakti Hasan
Jurnal Penyuluhan Perikanan dan Kelautan Vol 12, No 1 (2018)
Publisher : Program Studi Penyuluhan Perikanan Politeknik Ahli Usaha Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33378/jppik.v12i1.100

Abstract

Penyuluhan perikanan partisipatif yang melibatkan pembudidaya ikan dalam perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi. Kompetensi pembudidaya ikan sebagai taraf keefektivan perilaku (pengetahun, sikap dan keterampilan) dalam teknis budidaya ikan merupakan salah satu output penyuluhan yang dapat diukur capaiannya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis deskriptif penyuluhan perikanan partisipatif dan kompetensi pembudidaya ikan, serta menganalisis hubungan penyuluhan partisipatif (perencanaaan (X1), pelaksanaan (X2) dan evaluasi (X3)) dengan kompetensi pembudidaya ikan (Y) menggunakan analisis korelasi spearman. Metode penelitian yang digunakan adalah purposive disproportional stratified random sampling terhadap 114 responden pembudidaya ikan. Hasil penelitian: penyuluhan perikanan partisipatif pada tarap co learning dengan model fasilitatif. Kategori sedang pada proses perencanaan dan evaluasi, serta termasuk kategori tinggi pada pelaksanaan. Tingkat kompetensi pembudidaya ikan: 10,53% sangat baik; 50,88% baik, 33,29% sedang dan 2,63% rendah. Selain itu sangat baik dalam tanda-tanda induk matang gonad, obat-obatan ikan, dan cara tebar benih; baik dalam cara pencegahan hama dan penyakit ikan serta proses pembesaran ikan; sedang dalam proses pembenihan ikan, merencanakan produksi ikan dan mengkultur pakan alami; serta rendah dalam membuat pakan buatan. Hasil analisis korelasi spearman: variabel X1 dengan Y berhubungan kuat, signifikan dan searah, dengan kontribusi X1 terhadap Y sebesar 30,58%; hubungan X2 dengan Y cukup kuat signifikan dan searah, dengan kontribusi X2 terhadap Y sebesar 46,10%; hubungan X3 dengan Y adalah cukup kuat signifikan dan searah, kontribusi X3 terhadap Y sebesar 32,26%.
Analisis Pemasaran Benih Lele Dumbo (Clarias gariepinus) Studi Kasus di Desa Parigi Mekar Kecamatan Ciseeng Kabupaten Bogor Jawa Barat Suratman Suratman
Jurnal Penyuluhan Perikanan dan Kelautan Vol 4, No 2 (2010)
Publisher : Program Studi Penyuluhan Perikanan Politeknik Ahli Usaha Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33378/jppik.v4i2.20

Abstract

Ikan lele dumbo salah satu komoditas perikanan air tawar yang tergolong ekonomis penting, keadaan ini disebabkan oleh meningkatnya permintaan konsumen akan ikan lele konsumsi. Adapun tujuan penelitian ini adalah ingin mengetahui saluran pemasaran benih ikan lele dumbo dari produsen ke konsumen, menganalisis marjin pemasaran setiap lembaga perantara yang terlibat dan menilai efisiensi pemasaran yang dikaitkan dengan perubahan harga dan penyebaran marjin setiap lembaga perantara. Desa Parigi Mekar mempunyai potensi yang tinggi untuk pengembangan budidaya ikan lele dumbo (khusus sekuen pembenihan), mengingat lahan yang belum dimanfaatkan secara optimal, serta teknik budidya yang masih tradisional/ turun temurun. Mata rantai pemasaran benih lele dumbo yang dilakukan oleh pembudidaya di lokasi penelitian terdiri dari dua (2) mata rantai pemasaran yaitu: 1. Produsen - Pedagang pengumpul desa - Pedagang pengumpul Kecamatan - Pedagang pengecer - Konsumen. 2. Produsen - Pedagang pengumpul Kecamatan -Pedagang pengecer - Konsumen. Masing-masing lembaga perantara tersebut melakukan kegiatan dan fungsi pemasaran yang sama yaitu; a). fungsi pertukaran , b). fungsi fisik dan c) fungsi fasilitas. Perhitungan marjin pemasaran setiap lembaga perantara pada setiap mata rantai pemasaran relative sama. Marjin pemasaran pada mata rantai pemasaran satu (1) sebesar Rp 55,-/ekor atau 44 %, begitu pula pada mata rantai pemasaran dua(2) sebesar Rp 55,-/ ekor atau 44 %, besarnya biaya pada mata rantai pemasaran satu (1) Rp 15,-/ekor atau 12 %, sedangkan pada mata rantai pemasaran dua (2) sebesar Rp 12.5,-/ekor atau 10 %. Keuntungan yang diperoleh pada mata rantai satu (1) sebesar Rp.40,- /ekor atau 32. %, mata rantai pemasaran dua (2) Rp 42.5,-/ekor atau 34 %.
Kajian Kualitas Perairan Untuk Budidaya Udang di Kabupaten Subang Iis Jubaedah; Dinno Sudinno; Pigoselpi Anas
Jurnal Penyuluhan Perikanan dan Kelautan Vol 7, No 1 (2013)
Publisher : Program Studi Penyuluhan Perikanan Politeknik Ahli Usaha Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33378/jppik.v7i1.36

Abstract

Kajian kualitas perairan pesisir di Kabupaten Subang bertujuan untuk mengetahui kualitas perairan di Kawasan Pesisir Subang dan kelayakannya untuk kegiatan budidaya udang serta mengetahui perkembangan produksi udang dikaitkan dengan kualitas air. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei. Data yang digunakan untuk kajian kualitas perairan mencakup data primer dan data sekunder . Proses analisa data yang dilakukan meliputi analisa kualitas air, analisa status mutu air, analisa indeks diversitas plankton, dan menduga produksi udang. Hasil kajian menunjukkan, nilai indeks pencemaran 2,2491 artinya wilayah pesisir Kabupaten Subang termasuk tercemar ringan, namun masih layak digunakan sebagai sumber air untuk kegiatan budidaya ikan di tambak. Dari estimasi perhitungan potensi perikanan didapatkan laju perikanan potensial rata-rata sekitar 0,13333 ton/ha/tahun. Dengan luas tambak seluas 14.300 ha maka diperkirakan potensi produksi udang Kabupaten Subang sebesar 1906,6 ton/tahun.
Pengaruh Berat Lele Dumbo (Clarias gariepinus) Terhadap Rendemen Abon Ikan Lele Dumbo Serta Pendugaan Masa Simpan dan Masa Kedaluwarsa Abon Ikan Lele Dumbo Randi BS Salampessy; TB Haeru Rahayu; Erni Marlina; Eko Novi S
Jurnal Penyuluhan Perikanan dan Kelautan Vol 8, No 1 (2014)
Publisher : Program Studi Penyuluhan Perikanan Politeknik Ahli Usaha Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33378/jppik.v8i1.52

Abstract

Produksi ikan lele di Indonesia dari tahun ke tahun meningkat tinggi. Kenaikan produksi ikan lele sangat tinggi dengan jumlah rata-rata pada tahun 2007-2011 sebesar 39,82 persen, produksi ikan lele melonjak dari 242.811 ton pada tahun 2010 menjadi 340.674 ton pada tahun 2011 atau naik sebesar 40,30 persen. Kenaikan total produksi nasional dipengaruhi oleh naiknya produksi ikan lele di setiap provinsi (Ditjenkan P2HP, 2011). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui proses pengolahan abon ikan lele, mutu bahan baku dan produk akhir, rendemen abon ikan lele dari ukuran yang berbeda, masa umur simpan dan masa kedaluwarsa abon ikan lele dumbo. Faktor – faktor yang diluar objek penelitian yang diteliti diatur sehingga semuanya homogen. Penelitian yang dilakukan dibagi menjadi 2 (dua) yaitu penelitian pendahuluan dan penelitian lanjutan. Pada penelitian pendahulan meliputi pengolahan abon, mutu bahan baku dan produk serta perhitungan rendemen. Variabel yang digunakan dalam menentukan perbedaan rendemen adalah ukuran (size), yang dibedakan menjadi 3 (tiga) yaitu lele ukuran (size) 3 ekor/kg, 4 ekor/kg, dan 5 ekor/kg, kemudian pada penelitian lanjutan yang dilakukan adalah menentukan umur simpan dan masa kedaluwarsa abon ikan lele dumbo. Analisa data yang dilakukan dengan menggunakan RAL faktorial. Penentuan umur simpan dapat ditentukan dengan rumus Ts = Ts1.Q10^T/10. Hasil dari pengujian mikrobiologi untuk bahan baku ALT adalah 5x105 kol/gr, sedangkan pengujian mikrobiologi pada produk abon adalah 5,0x104 kol/gr dan uji E. Coli yaitu < 3 APM. Hasil uji kimia air dan protein maks 15 % dan protein min 30 %. Perhitungan rendemen akhir abon pada ukuran (size) 3 ekor/kg 25,92 %, 4 ekor/kg 27,53 %, dan 5 ekor/kg 28,88 % . Hasil analisa menunjukkan ada pengaruh yang signifikan antara berat lele dumbo (Clarias gariepinus) terhadap rendemen abon ikan lele dumbo. Jika abon ikan lele disimpan pada suhu chilling 5oC, maka umur simpan abon ikan lele menjadi 28,2 bulan pada suhu 5oC atau dari tanggal 30 April 2013 s/d 2 september 2015 sehingga masa kedaluwarsa nya adalah 2 September 2015.
Produktivitas Primer di Waduk Ir.H.Juanda Kabupaten Purwakarta Propinsi Jawa Barat Ade Sunaryo
Jurnal Penyuluhan Perikanan dan Kelautan Vol 11, No 2 (2017)
Publisher : Program Studi Penyuluhan Perikanan Politeknik Ahli Usaha Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33378/jppik.v11i2.89

Abstract

Kondisi terkini produktivitas primer di perairan waduk Ir. H.Juanda Kabupaten Purwakarta menggambarkan jumlah energi cahaya yang diserap dan disimpan oleh jasad produser (fitoplankton) dalam bentuk bahan makanan (bahan organik), melalui proses fotosintesis dan kemosintesis, dalam periode waktu tertentu. Nilai produktivitas primer yang dihasilkan oleh organisme autotrof (fitoplankton) di perairan waduk ini mencapai kelimpahan dan keragaman fitoplankton. Dari hasil identifikasi dalam penelitian ini pada zona 1 dan 2, maka diperoleh data pada Zona 1 (Zona akreditasi) terdiri dari ; a) Bacillariophycea (141.352,21 ribu/liter), b) Chlorophycea (364.461 ribu/liter) c) Cyanophycea (1.1955.388/liter) d) Dinophycea (43.124,43 ribu/liter ) e) Euglenophycea (2.395,8 ribu/liter ). Zona 2 (di luar area akreditasi) kelimpahan Fitoplankton mencapai 222.810 ribu/liter. Data kelimpahan fitoplanton ini menjadi indikator produktivitas primer yang dapat dijadikan dasar untuk mengukur kemampuan daya dukung perairan (carrying capacity) terhadap kehidupan organisme konsumer dan dapat diduga pula kemampuan berfotosintesis untuk menghasilkan oksigen di siang hari. hasil pengamatan produktivitas primer paling tinggi terdapat pada stasiun 1 pada kisaran 104,16 mg C/m3/jam dan 208,33 mg C/m3/jam. Pada stasiun 2 pada kisaran -15, 625 mg C/m3/jam s.d. 72,916 mg C/m3/jam. Pada stasiun 3 -10,416 mg C/m3/jam s.d. 10,416 mg C/m3/jam, dan pada stasiun 4 pada kisaran -10,416 mg C/m3/jam s.d. 20,833 mg C/m3/jam. Kelimpahan fitoplankton tersebut dapat berpengaruh terhadap oksigen (Disolved oxygen) yang mencapai kisaran 1,87 – 8,46 ppm, pH pada kisaran 6,87 – 7,29, nitrat 0,390 – 0,815ppm dan suhu rata-rata pada kisaran stabil 28,3 – 30,6˚C. Sedangkan nitrit rata-rata kecil dan pada ambang batas yang aman pada kisaran <0,001 – 0,013ppm karena aktifitas oksidasi tinggi oleh oxygen.
Pengaruh Pengunaan Probiotik Lactobacillus brevis dan Prebiotik Oligosakarida (Fructooligosakarida-Galaktoologosakarida) Terhadap Gambaran Darah Patin Siam (Pangasionodon Hypophtalmus) yang Diinfeksi Aeromonas Hydrophila Yuke Eliyani; Widanarni Widanarni; Dinamella Wahjuningrum
Jurnal Penyuluhan Perikanan dan Kelautan Vol 7, No 1 (2013)
Publisher : Program Studi Penyuluhan Perikanan Politeknik Ahli Usaha Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33378/jppik.v7i1.37

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian probiotik Lactobacillus brevis, prebiotik oligosakarida (Fructooligosakarida- Galaktooligosakarida) terhadap nilai hemoglobin, hematokrit serta diferensial leukosit patin siam (Pangasionodon hypophthalmus) yang diinfeksi bakteri Aeromonas hydrophila. Uji yang dilakukan meliputi persiapan bakteri probiotik dan A.hydrophila, analisis prebiotik (oligosakarida), uji in vitro, dan uji in vivo. Parameter uji yang diamati selama penelitian adalah hemoglobin, hematokrit, serta diferensial leukosit. Penelitian terdiri dari lima perlakuan dengan masing-masing tiga ulangan, yaitu kontrol (+), kontrol (-), pemberian probiotik (Pro), pemberian prebiotik (Pre), pemberian probiotik ditambah prebiotik (Sin). Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan satu faktor. Data dianalisis dengan sidik ragam (ANOVA) pada selang kepercayaan 95%. Perbedaan antar perlakuan dilanjutkan dengan uji Duncan menggunakan program Xl-stat. Hasil pengamatan pada parameter hemoglobin, hematokrit, serta diferensial leukosit, berbeda nyata (p<0.05) dengan kontrol pada beberapa waktu pengamatan.
Pengaruh Pemberian Probiotik Bacillus sp. terhadap Profil Kualitas Air, Pertumbuhan dan Kelangsungan Hidup Benih Ikan Lele (Clarias gariepinus) Yuke Eliyani; Hendria Suhrawardhan; Sujono Sujono
Jurnal Penyuluhan Perikanan dan Kelautan Vol 9, No 1 (2015)
Publisher : Program Studi Penyuluhan Perikanan Politeknik Ahli Usaha Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33378/jppik.v9i1.59

Abstract

Dalam pengembangan budidaya perikanan, probiotik dinilai memiliki peranan penting untuk meningkatkan efektifitas kegiatan tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian probiotik Bacillus sp terhadap profil kualitas air, kelangsungan hidup dan pertumbuhan benih ikan lele (Clarias gariepinus), dengan melakukan pemeliharaan ikan pada beberapa perlakuan, yaitu kontrol, penambahan bakteri dengan dosis. 10 ml/m3 serta 20 ml/m3 Nilai DO dari media kontrol Perlakuan I dan Perlakuan II secara berturut-turut adalah 6,80 ppm; 6,89 ppm dan 6,92 ppm. Nilai suhu mulai dari kontrol sampai perlakuan I dan II adalah 280C. Nilai pH untuk kontrol perlakuan I dan II adalah 6,6; 6,4 dan 6,6. Berdasarkan uji lanjut (p<0.05) dapat dilihat bahwa perlakuan I (pemberian probiotik 10 ml/m3) memiliki nilai pertumbuhan harian tertinggi sebesar 12,52 ± 0,29b, disusul perlakuan II (pemberian probiotik 20 ml/m3 ) sebesar 12,42 ± 0,33b, serta kontrol sebesar 10,72 ± 0,09a. Perlakuan penambahan bakteri probiotik memberikan hasil yang terbaik untuk pertumbuhan berat pada dosis 10 ml/m3 dengan nilai 12,52 ± 0,29dibanding dengan kontrol dan perlakuan yang lain. Tingkat kelangsungan hidup ikan uji selama masa pemeliharaan berkisar antara 79,8 –87,5 %.

Page 10 of 24 | Total Record : 234