cover
Contact Name
Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students
Contact Email
jurnal.fkg@unpad.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jurnal.fkg@unpad.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students
ISSN : 26569868     EISSN : 2656985X     DOI : -
Core Subject : Health, Science,
Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students adalah open access journal berbahasa Indonesia, yang menerbitkan artikel penelitian dari para peneliti pemula dan mahasiswa di semua bidang ilmu dan pengembangan dasar kesehatan gigi dan mulut melalui pendekatan interdisipliner dan multidisiplin. Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students diterbitkan oleh Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran dua kali setahun, setiap bulan Februari dan Oktober. Bidang cakupan Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students adalah semua bidang ilmu kedokteran gigi, yaitu biologi oral; ilmu dan teknologi material gigi; bedah mulut dan maksilofasial; ilmu kedokteran gigi anak; ilmu kesehatan gigi masyarakat, epidemiologi, dan ilmu kedokteran gigi pencegahan; konservasi gigi, endodontik, dan kedokteran gigi operatif; periodonsia; prostodonsia; ortodonsia; ilmu penyakit mulut; radiologi kedokteran gigi dan maksilofasial; serta perkembangan dan ilmu kedokteran gigi dari pendekatan ilmu lainnya. Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students mengakomodasi seluruh karya peneliti pemula dan mahasiswa kedokteran gigi untuk menjadi acuan pembelajaran penulisan ilmiah akademisi kedokteran gigi.
Arjuna Subject : -
Articles 299 Documents
Profil fitokimia eco enzyme berbahan dasar kulit nanas (Ananas comosus) dan daya antibakteri terhadap Lactobacillus acidophilus ATCC 4356: Studi eksperimental Sari, Morita; Imani, Cavita Nur; Wardani, Astrid Pramudya
Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students Vol 10, No 1 (2026): February 2026
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/pjdrs.v10i1.69125

Abstract

(1) Pendahuluan: Prevalensi karies gigi, suatu penyakit mulut dan gigi, sangat tinggi di Indonesia. Kerusakan pada jaringan keras gigi, yang dipicu oleh aktivitas mikroba rongga mulut seperti Lactobacillus acidophilus, merupakan penyebab kondisi ini. Meskipun telah dikembangkan beberapa strategi pencegahan karies, sebagian besar masih bergantung pada bahan kimia, yang dapat menimbulkan risiko kesehatan jangka panjang karena kemungkinan efek sampingnya. Kulit nanas (Ananas comosus) memiliki sejumlah senyawa bioaktif yang dapat yang bertindak sebagai antibakteri alami. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah kandungan kulit nanas dapat menekan atau membunuh strain Lactobacillus acidophilus ATCC 4356. (2) Metode: Penelitian ini mencakup penggunaan eksperimen laboratorium in vitro. Kelompok kontrol positif meliputi klorheksidin, sedangkan kelompok kontrol negatif berisi air suling; kelompok perlakuan meliputi eco enzyme kulit nanas pada dosis 100%, 50%, 25%, 12,5%, 6,25%, 3,12%, dan 0,78%. Zona Inhibisi (ZOI), Konsentrasi Bakterisida Minimum (MBC), dan Konsentrasi Inhibisi Minimum (MIC) ditentukan dengan melakukan uji fitokimia dan antibakteri. Analisis data dilakukan menggunakan uji Kruskal-Wallis. (3) Hasil: Enzim yang diisolasi dari kulit nanas memiliki sifat antibakteri karena adanya flavonoid, saponin, tanin, fenolik, alkaloid, steroid, antrakuinon, glukosa, dan terpenoid. Pada dosis 100%, uji ZOI menunjukkan diameter zona inhibisi yang kuat sebesar 15,51 mm. Pada konsentrasi 3,12%, nilai MIC tercapai, dan pada 6,25%, MBC ditentukan. (4) Simpulan: Eco enzyme kulit nanas (Ananas comosus) memiliki aktivitas antibakteri dalam menghambat dan membunuh Lactobacillus acidophilus ATCC 4356, sehingga berpotensi dikembangkan sebagai agen antibakteri alami untuk pencegahan karies.
Analysis of patient service time in the department of pediatric dentistry of Baiturrahmah dental and oral education hospital: Study cross-sectional Oktaviani, Oktaviani; Surya, Leny Sang
Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students Vol 10, No 1 (2026): February 2026
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/pjdrs.v10i1.69506

Abstract

ABSTRACTIntroduction: Dental and Oral Teaching Hospitals have a dual role as healthcare providers and educational institutions, requiring efficient and high-quality services. Service time is a key indicator of service quality, particularly in pediatric dental care, which involves unique psychological and behavioral characteristics. This study aims to analyze pediatric patient service time and identify factors influencing its duration at the Department of Pediatric Dentistry, RSGMP Baiturrahmah Padang. Methods: This study employed a mixed-method design. The quantitative component used a cross-sectional approach with total sampling of 100 pediatric patients, and the data were analyzed descriptively using the variables man, method, material, machine, and money. The qualitative component was conducted through in-depth interviews with 6 key informants selected using purposive sampling, focusing on the duration of service time, and with data analyzed using thematic analysis.  Results: The average service time was 96.09 minutes per patient, with most services conducted within the 60–120 minutes range. Factors influencing service duration included human resources, methods and workflow, facilities and infrastructure, medical equipment condition, and patient related-factors, particularly children’s behavior. Conclusion: Pediatric dental service time has not yet achieved optimal efficiency. Improvements in service systems, the establishment of standardized service time benchmarks, and enhanced faciity and human resource readiness are needed to improve service efficiency and quality.KEYWORDS: service time, pediatric dentistry, service quality, service efficiencyAnalisis waktu pelayanan pasien di departemen kedokteran gigi anak rumah sakit gigi dan mulut pendidikan: Studi cross-sectionalABSTRAKPendahuluan: Rumah Sakit Gigi dan Mulut Pendidikan (RSGMP) memiliki peran ganda sebagai institusi pelayanan dan pendidikan, sehingga dituntut memberikan pelayanan yang bermutu dan efisien. Waktu pelayanan merupakan indikator penting mutu pelayanan, khususnya pada kedokteran gigi anak yang memiliki karakteristik psikologis dan perilaku khusus. Tujuan penelitian ini bertujuan menganalisis waktu pelayanan pasien anak dan mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi lamanya waktu pelayanan di Departemen Kedokteran Gigi Anak (KGA) Rumah Sakit Gigi dan Mulut Pendidikan (RSGMP). Metode: Penelitian ini menggunakan desain mix method. Pendekatan kuantitatif menggunakan desain cross-sectional dengan total sampling terhadap 100 pasien anak, dianalisis secara deskriptif dengan variabel man, method, material, machine, money. Pendekatan kualitatif dilakukan melalui wawancara mendalam terhadap 6 informan kunci yang dipilih secara purposive sampling, dengan variabel lama waktu pelayanan, serta dengan analisis tematik. Hasil: Rerata waktu pelayanan pasien anak adalah 96,09 menit per pasien, dengan mayoritas berada pada rentang 60–120 menit. Faktor yang memengaruhi waktu pelayanan meliputi sumber daya manusia, metode dan alur kerja, ketersediaan sarana dan prasarana, kondisi peralatan medis, serta karakteristik pasien anak. Simpulan: Waktu pelayanan di Departemen KGA RSGMP Baiturrahmah Padang belum sepenuhnya efisien. Diperlukan perbaikan sistem pelayanan, penetapan standar waktu pelayanan, serta peningkatan sarana dan kesiapan sumber daya manusia.KATA KUNCI: waktu pelayanan, kedokteran gigi anak, mutu pelayanan, efisiensi pelayanan. 
The relationship between blood type and the incidence of caries influenced by saliva ph in dental students: Study cross-sectional Ariani, Nola; Amran, Ricky
Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students Vol 10, No 1 (2026): February 2026
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/pjdrs.v10i1.69510

Abstract

ABSTRACTIntroduction: Caries is a chronic disease of the oral cavity characterized by demineralization of dental tissue and damage to the organic components of teeth, resulting in tooth decay. Environmental factors such as dental plaque, diet, and oral hygiene are considered the main etiological factors, so most studies focus on these factors. However, genetic factors such as blood type are thought to play a role in an individual's susceptibility to dental caries. This study aims to determine the relationship between blood type and the incidence of caries influenced by saliva pH Methods: This quantitative study used an analytical survey approach with a cross-sectional design. The research was conducted at Baiturrahmah University, Padang, from November to December 2025, involving 160 participants selected through purposive sampling. Data were collected from blood type records and clinical examinations of dental caries and salivary pH. Univariate analysis was presented in the form of frequency and percentage distributions, while bivariate analysis used the chi-square test and logistic regression. Data processing was performed using the IBM SPSS version 26.0 software. Results: Blood type B has the highest percentage of DMF-T seen from the very high category (17.9%) compared to other blood types. In addition, blood type O has the highest percentage of neutral salivary pH (95.3%). Conclusion: There is a relationship between blood type and saliva pH, there is a relationship between blood type and the incidence of caries, and the most influential factor on the incidence of caries in dental students at Baiturrahmah University is saliva pH.KEY WORDS: caries incidence, blood type, salivary pH, dental students, cross-sectional studyHubungan golongan darah terhadap kejadian karies yang dipengaruhi pH saliva pada mahasiswa pendidikan dokter gigi: Studi cross-sectionalABSTRAKPendahuluan: Karies merupakan penyakit kronis pada rongga mulut yang ditandai dengan demineralisasi jaringan gigi serta kerusakan komponen organik gigi, sehingga menyebabkan kerusakan pada gigi. Faktor lingkungan seperti plak gigi, diet, dan kebersihan mulut dianggap sebagai faktor etiologi utama, sehingga sebagian besar penelitian lebih banyak berfokus pada faktor-faktor tersebut. Namun, faktor genetik seperti golongan darah diduga berperan dalam kerentanan individu terhadap karies. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan golongan darah terhadap kejadian karies yang dipengaruhi ph saliva. Tujuan umum pada penelitian ini yaitu bertujuan untuk mengetahui hubungan golongan darah terhadap kejadian karies yang dipengaruhi ph saliva pada mahasiswa pendidikan dokter gigi universitas baiturrahmah padang. Tujuan penelitian menganalisis hubungan antara golongan darah terhadap saliva dan Untuk mengetahui hubungan antara saliva terhadap karies. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan jenis survei analitik menggunakan desain cross sectional. Penelitian dilaksanakan di Universitas Baiturrahmah Padang pada bulan November–Desember 2025 dengan jumlah sampel sebanyak 160 responden yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan melalui pendataan golongan darah serta pemeriksaan karies gigi dan pH saliva. Analisis univariat disajikan dalam bentuk distribusi frekuensi dan persentase, sedangkan analisis bivariat dilakukan menggunakan uji chi-square dan regresi logistik. Hasil: Golongan darah B memiliki persentase DMF-T tertinggi dilihat dari kategori sangat tinggi (17,9%) dibandingkan golongan darah lain. Selain itu, golongan darah O memiliki persentase pH saliva netral tertinggi (95,3%). Simpulan: Adanya hubungan antara golongan darah terhadap pH saliva, terdapat hubungan antara golongan darah terhadap kejadian karies dan faktor yang paling berpengaruh terhadap kejadian karies pada mahasiswa pendidikan dokter gigi universitas baiturrahmah adalah pH saliva. KATA KUNCI: kejadian karies, golongan darah, pH saliva, mahasiswa kedokteran gigi, studi cross-sectional
The success rate of dental implant placement using sinus lift vertical approach technique without bone grafting: Scoping review Oktariani, Anisa Nabilah; Hardianto, Andri; Putri, Dian Maifara
Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students Vol 10, No 1 (2026): February 2026
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/pjdrs.v10i1.66918

Abstract

ABSTRACTIntroduction: Dental implants are a treatment aimed at restoring the function and aesthetics of teeth in the oral cavity. They must have stable integrity in the local bone where they are placed. Sinus lift vertical approach without bone graft is a procedure that can be used to place dental implants in cases of maxillary atrophy. The objective is to map the available evidence regarding the success of dental implant placement using the sinus lift vertical approach without bone graft. Methods: This study was conducted using a scoping review method in accordance with PRISMA-ScR (Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analytic for Scoping Review) based on predetermined inclusion and exclusion criteria. Articles were obtained from three databases, namely PubMed, Scopus, and Cochrane focusing on randomized controlled/clinical trial (RCT) study designs published between 2014 and 2023.  The analyzed data included the year of publication, study design, number of patients, patient characteristics, implant length, follow-up duration, lifting technique, outcome measurement method, implant survival rate, bone height gain, other success indicators, and complications. Results: Nine articles were included in the review (six two-group RCTs and three three-group RCTs). The results showed a high implant survival rate, ranging from 94.1%-100% and bone height gain up to 4.1 ± 1.0 mm. Reported complications included mucositis and perforation of the mucous membrane. Conclusion: The sinus lift vertical approach without bone graft can be a valid technique and provides good results for dental implant placement in atrophic maxillary conditions requiring bone height gain of less than 4 mm.KEYWORDS: dental implants, sinus lift vertical approach, bone grafting, bone height gain, implant survivalTingkat keberhasilan pemasangan implan gigi dengan teknik sinus lift vertical approach tanpa menggunakan bone graft: Scoping reviewABSTRAKPendahuluan: Implan gigi merupakan perawatan yang berfungsi untuk mengembalikan fungsi dan estetik gigi di dalam rongga mulut.  Implan gigi harus memiliki integritas yang stabil pada tulang lokal tempat implan gigi dipasang. Sinus lift vertical approach tanpa menggunakan bone graft merupakan salah satu prosedur yang dapat digunakan untuk memasang implan gigi pada kasus atrofi maksila. Tujuan untuk menganalisis tingkat keberhasilan pemasangan implan gigi dengan teknik sinus lift vertical approach tanpa menggunakan bone graft. Metode: Penelitian dilakukan dengan metode scoping review sesuai dengan PRISMA-ScR (Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analytic for Scoping Review) berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi yang telah ditetapkan. Artikel berasal dari tiga database, yaitu PubMed, Scopus, dan Cochrane dengan desain penelitian randomized controlled/clinical trial (RCT) yang terbit dari tahun 2014-2023. Data yang dianalisis berupa tahun publikasi, desain penelitian, jumlah pasien, karakteristik pasien, panjang implan, durasi follow-up,  teknik lifting, metode pengukuran hasil, implant survival rate, bone height gain, indikator keberhasilan lainnya, dan komplikasi. Hasil: Sembilan artikel dimasukkan setelah analisis, terdiri dari 6 artikel RCT two groups dan 3 artikel RCT three groups. Artikel yang ditinjau melaporkan implan gigi yang dipasang menggunakan teknik sinus lift vertical approach tanpa menggunakan bone graft dapat memberikan hasil bone height gain mencapai 4,1 ± 1,0 mm dan implant survival rate berkisar antara 94,1-100%. Komplikasi yang mungkin terjadi setelah prosedur ini adalah mukositis dan perforasi membran mukosa. Simpulan: Sinus lifting vertical approach tanpa menggunakan bone graft dapat menjadi teknik yang valid dan memberikan hasil yang baik untuk pemasangan implan gigi pada kondisi atrofi maksila yang memerlukan penambahan tulang tidak lebih dari 4 mm.KATA KUNCI: implan gigi, elevasi membrane sinus, cangkok tulang, pertambahan tinggi tulang, kelangsungan hidup implant
Correlation between dental and oral health knowledge and dental caries status through the HI BOGI application in elementary school children aged 11–12 years: Study cross-sectional Fadilah, Rina Putri Noer; Endro, Hartanto; Hizami, Muhammad Rifqi
Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students Vol 10, No 1 (2026): February 2026
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/pjdrs.v10i1.65214

Abstract

ABSTRACTIntroduction: Dental caries is a common disease in Indonesia, with a prevalence of 82.8%. School-aged children, especially elementary school students, generally have relatively low levels of knowledge about dental and oral health. This study aimed to analyze the correlation between dental and oral health knowledge and caries status in children aged 11-12 years in Cimahi City, through the use of the HI BOGI application. Methods: This study was a quantitative study with a cross-sectional design involving 300 public elementary school children aged 11-12 years from 9 selected schools in Cimahi City. The sample was selected using a cluster random sampling technique in three sub-districts, namely Central Cimahi, South Cimahi, and North Cimahi, followed by proportional sampling. Sample size determination was performed using a two-proportion hypothesis test formula based on sample size software, with a minimum of 250 respondents and a target of 290 respondents. Inclusion criteria included students aged 11-12 years who were actively registered and willing to participate, while exclusion criteria included absence during the study, as well as incomplete photo documentation. Data were collected using the HI BOGI application and a Google Form questionnaire, then analyzed using the Spearman correlation test. Results: The level of children's knowledge was in the high category with an average value of 13.55 ± 1.90, while the dental caries status was classified as low with an average DMF-T index value of 2.53 ± 1.80. The Spearman correlation test showed a value of r = -0.60 with p = 0.302, which indicates that there is no significant correlation between the level of knowledge and dental caries status. Conclusion: There is no correlation between oral health knowledge and dental caries status in children aged 11-12 years in Cimahi City based on the use of the HI BOGI application.KEY WORDS:  elementary school children, HI BOGI, DMF-T index, dental caries, knowledgeKorelasi pengetahuan kesehatan gigi dan mulut terhadap status karies gigi melalui aplikasi HI BOGI pada anak SD usia 11-12 tahun: Studi cross-sectionalABSTRAKPendahuluan: Karies gigi merupakan penyakit yang umum di Indonesia, dengan prevalensi mencapai 82,8%. Anak usia sekolah, khususnya siswa sekolah dasar, umumnya masih memiliki tingkat pengetahuan yang rendah mengenai kesehatan gigi dan mulut. Penelitian ini bertujuan menganalisis korelasi antara pengetahuan kesehatan gigi dengan status karies pada anak usia 11-12 tahun di Kota Cimahi, menggunakan aplikasi HI BOGI. Metode: Penelitian ini merupakan studi kuantitatif dengan desain cross-sectional yang melibatkan 300 anak Sekolah Dasar Negeri usia 11-12 tahun dari 9 sekolah terpilih di Kota Cimahi. Sampel dipilih menggunakan teknik cluster random sampling pada tiga kecamatan, yaitu Cimahi Tengah, Cimahi Selatan, dan Cimahi Utara, yang dilanjutkan dengan proportional sampling. Penentuan jumlah sampel dilakukan menggunakan rumus uji hipotesis dua proporsi berdasarkan perhitungan software sample size, dengan jumlah minimal 250 responden dan target 290 responden. Kriteria inklusi meliputi siswa usia 11-12 tahun yang terdaftar aktif dan bersedia menjadi responden, sedangkan kriteria eksklusi meliputi ketidakhadiran saat penelitian, dan ketidaklengkapan dokumentasi foto. Data dikumpulkan menggunakan aplikasi HI BOGI dan kuesioner Google Form, kemudian dianalisis dengan uji korelasi Spearman. Hasil: Tingkat pengetahuan anak berada pada kategori tinggi dengan nilai rerata 13,55  1,9, sedangkan status karies gigi tergolong rendah dengan nilai rerata indeks  DMF-T 2,53  1,8. Uji korelasi  Spearman menunjukkan nilai r=-0,60 dengan p = 0,302, yang mengindikasikan tidak terdapat korelasi yang signifikan antara tingkat pengetahuan dan status karies gigi. Simpulan: Tidak terdapat korelasi antara pengetahuan kesehatan gigi dan mulut dengan status karies gigi pada anak usia 11-12 tahun di Kota Cimahi melalui penggunaan aplikasi HI BOGI. KATA KUNCI: anak SD, HI BOGI, indeks DMF-T, karies gigi, pengetahuan
Antibacterial activity test of nipah leaf extract in inhibiting the growth of streptococcus sanguinis ATCC 10556 on the surface of heat-polymerized acrylic resin: Study experimental Ferdina, Resa; Ardila, Vidia Ananda; Lestari, Citra; Sari, Widya Puspita
Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students Vol 10, No 1 (2026): February 2026
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/pjdrs.v10i1.69573

Abstract

ABSTRACT Introduction: Heat-polymerized acrylic resin denture bases are susceptible to increased Streptococcus sanguinis counts, which can lead to oral health problems. Sodium hypochlorite, commonly used as a denture cleanser, has the potential to damage the physical properties of acrylic resin. Therefore, natural alternatives are needed as a substitute for denture cleaners such as nipah leaf extract (Nypa fruticans wurmb) which has antibacterial bioactive compounds. This study analyzes the antibacterial activity of nipa palm leaf extract in inhibiting the growth of Streptococcus sanguinis ATCC 10556 on the surface of heat-polymerized acrylic resin. Methods: The study used a laboratory experiment, with a post-test only control group design where acrylic resin plates measuring 10 × 10 × 1 mm, which were divided into five treatment groups inoculated with Streptococcus sanguinis were treated with nipah leaf extract with concentrations of 10%, 15%, 20%, and a control group. Then, bacterial growth was calculated and analyzed using the Least Significant Difference test with a sig value p<0.05. Results: Nipah leaf extract has been proven to inhibit the growth of Streptococcus sanguinis. A concentration of 10% showed a lower colony count compared to concentrations of 15% and 20%, so under the conditions of this study, a concentration of 10% showed a tendency to provide a better inhibitory effect. Conclusion: Nipah leaf extract inhibits the growth of Streptococcus sanguinis on acrylic resin surfaces. A concentration of 10% showed better inhibitory effect.KEYWORDS: antibacterial activity, nipah leaf extract (Nypa Fruticans Wurmb), Streptococcus sanguinis, heat-cured acrylic resin.Uji aktivitas antibakteri ekstrak daun nipah dalam menghambat pertumbuhan streptococcus sanguinis ATCC 10556 pada permukaan resin akrilik polimerisasi panas: Studi eksperimentalABSTRAK Pendahuluan:  Basis gigi tiruan dari resin akrilik polimerisasi panas rentan terhadap peningkatan jumlah Streptococcus sanguinis, yang dapat menimbulkan masalah kesehatan mulut. Sodium hipoklorit, yang umumnya digunakan sebagai pembersih gigi tiruan, berpotensi merusak sifat fisik resin akrilik. Diperlukan alternatif alami sebagai pengganti pembersih gigi tiruan seperti ekstrak daun nipah (Nypa fruticans wurmb) yang memiliki senyawa bioaktif antibakteri. Penelitian ini menganalisis aktivitas antibakteri ekstrak daun nipah dalam menghambat pertumbuhan Streptococcus sanguinis ATCC 10556 pada permukaan resin akrilik polimerisasi panas. Metode: Penelitian menggunakan eksperimental laboratorium, dengan post test only control group design dimana plat resin akrilik berukuran 10 × 10 × 1 mm yang dibagi menjadi lima kelompok perlakuan yang diinokulasi Streptococcus sanguinis diberi perlakuan ekstrak daun nipah dengan konsentrasi 10%, 15%, 20%, dan kelompok kontrol. Selanjutnya pertumbuhan bakteri dihitung dan dianalisis menggunakan uji Least Significant Different dengan nilai p<0,05. Hasil: Ekstrak daun nipah menurunkan pertumbuhan Streptococcus sanguinis. Konsentrasi 10% menghasilkan jumlah koloni lebih rendah daripada 15% dan 20%, menunjukkan efek penghambatan yang lebih baik pada kondisi penelitian ini. Simpulan: Ekstrak daun nipah menghambat pertumbuhan Streptococcus sanguinis pada permukaan resin akrilik. Konsentrasi 10% memberikan daya hambat terbaik.KATA KUNCI: aktivitas antibakteri, ekstrak daun nipah, Streptococcus sanguinis, resin akrilik polimerisasi panas.
Correlation between dental radiology knowledge and the ability to interpret panoramic radiographs among dental students: Study cross-sectional Adawiyah, Rabiyatul; Agustin, Sylvia; Simbolon, Dame Rimmauli; Purnamasari, Cicih Bhakti; Martalina, Elliana; Arief, Erry Mochammad
Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students Vol 10, No 1 (2026): February 2026
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/pjdrs.v10i1.69292

Abstract

ABSTRACT Introduction: Knowledge is the result of human curiosity, and in dental education, students are required to understand the fundamentals of dental radiology. Panoramic radiography, as one of the most frequently used imaging modalities, plays an important role in supporting diagnosis; however, a limited understanding of basic dental radiology concepts often complicates the interpretation process. This study aimed to analyze the correlation between the level of dental radiology knowledge and the ability to interpret panoramic radiographs among preclinical dental students. Methods: This study employed a cross-sectional design using a questionnaire. A total sampling technique was applied, involving 146 students from the Faculty of Dentistry, Universitas Mulawarman. Bivariate analysis was conducted using Spearman’s rho correlation test. The variables assessed were dental radiology knowledge and panoramic radiograph interpretation ability. Results: The findings indicated that 49.3% of students had good dental radiology knowledge, 41.8% had good ability in interpreting panoramic radiographs, and 39.0% were good in both variables. Correlation analysis showed a statistically significant correlation between dental radiology knowledge and the interpretation of panoramic radiographs (Sig. [2-tailed] = 0.001). Conclusions: There is a significant correlation between dental radiology knowledge and the ability to interpret panoramic radiographs among dental students at Universitas Mulawarman.KEY WORDS: knowledge, dental radiology, interpretation, panoramic radiograph, studentsKorelasi pengetahuan dental radiologi dengan kemampuan interpretasi radiograf panoramik pada mahasiswa kedokteran gigi: Studi cross-sectionalABSTRAK Pendahuluan: Pengetahuan merupakan hasil dari rasa ingin tahu manusia dan dalam pendidikan kedokteran gigi mahasiswa diharuskan memahami dasar dental radiologi. Radiograf panoramik sebagai modalitas yang sering digunakan memiliki peran penting dalam menunjang diagnosis, namun keterbatasan pemahaman konsep dasar dental radiologi sering menyulitkan proses interpretasinya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis korelasi antara tingkat pengetahuan dental radiologi dengan kemampuan interpretasi radiograf panoramik pada mahasiswa pra-klinik kedokteran gigi. Metode: Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dengan menggunakan kuesioner. Penelitian menggunakan teknik total sampling dengan jumlah 146 mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Mulawarman. Analisis bivariat menggunakan uji korelasi spearman’rho. Variabel yang diamati adalah pengetahuan dental radiologi dan interpretasi radiograf panoramik. Hasil: Pengetahuan dental radiologi mahasiswa sebesar 49,3% baik, 41,8% baik dalam menginterpretasi radiograf panoramik, dan 39,0% baik pada keduanya. Uji korelasi antara tingkat pengetahuan dental radiologi dan interpretasi radiograf panoramik menghasilkan nilai Sig. (2-tailed) sebesar 0.001. Simpulan: Mayoritas mahasiswa memiliki pengetahuan dental radiologi dan interpretasi radiograf panoramik yang baik serta terdapat korelasi antara tingkat pengetahuan dental radiologi dengan interpretasi radiograf panoramik pada mahasiswa.KATA KUNCI: pengetahuan, dental radiologi, interpretasi, radiograf panoramik, mahasiswa
Formulasi dan evaluasi sediaan mouth spray minyak atsiri daun sereh (Cymbopogon citratus) untuk penanganan gingivitis Fadhillah, Annisa Maika; Kornialia, Kornialia; Alamsyah, Yenita; Sari, Widya Puspita
Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students Vol 10, No 1 (2026): February 2026
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/pjdrs.v10i1.69596

Abstract

ABSTRACT Introduction: Gingivitis is an inflammation of the gingival tissue commonly caused by the accumulation of bacterial plaque and remains a major oral health problem with a high prevalence. Long-term use of synthetic antiseptics such as chlorhexidine may cause adverse effects; therefore, safer natural alternatives are needed. Lemongrass (Cymbopogon citratus) essential oil possesses antibacterial and anti-inflammatory activities that support its development as an active ingredient in oral care preparations. This study aimed to formulate and evaluate the physicochemical quality and stability of a mouth spray preparation containing lemongrass (Cymbopogon citratus) essential oil as a potential alternative for the management of gingivitis. Methods: This study was an experimental laboratory study with a descriptive design. Lemongrass essential oil mouth spray preparations were formulated at two concentrations, 0.25% and 0.5%. The evaluation focused on the quality of the preparation, including organoleptic testing, pH measurement, viscosity testing, hedonic testing, and stability testing over four weeks of storage at room temperature (25 ± 2°C). Results: Both formulations were liquid and homogeneous. The 0.25% formulation had a pH below the ideal oral pH range (6–7), whereas the 0.5% formulation met the oral pH range. The viscosity values of both formulations were close to that of water (±1 cP). Organoleptically, the 0.25% formulation exhibited a clearer appearance and milder aroma, while the 0.5% formulation was more preferred by panelists in terms of taste. Both preparations showed good stability over four weeks of storage without significant physical changes. Conclusion: Lemongrass essential oil mouth spray preparations met the quality parameters and remained stable during storage. The 0.5% formulation represents the optimal formulation and may be considered for further development as a preparation for the management of gingivitis.KEY WORDS: gingivitis, mouth spray, lemongrass essential oil, cymbopogon citratus, formulation evaluationFormulasi dan evaluasi sediaan mouth spray minyak atsiri daun sereh (Cymbopogon citratus) untuk kandidat terapi gingivitis: Studi eksperimentalABSTRAK Pendahuluan: Gingivitis merupakan peradangan jaringan gingiva yang umumnya disebabkan oleh akumulasi plak bakteri dan masih menjadi masalah kesehatan gigi dan mulut dengan prevalensi tinggi. Penggunaan antiseptik sintetis seperti klorheksidin dalam jangka panjang dapat menimbulkan efek samping, sehingga diperlukan alternatif berbahan alami yang lebih aman. Minyak atsiri daun sereh (Cymbopogon citratus) memiliki aktivitas antibakteri dan antiinflamasi yang mendukung pengembangannya sebagai bahan aktif sediaan perawatan rongga mulut. Penelitian ini bertujuan untuk memformulasikan dan mengevaluasi mutu serta stabilitas sediaan mouth spray yang mengandung minyak atsiri daun sereh sebagai alternatif penanganan gingivitis. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratorik dengan pendekatan deskriptif. Sediaan mouth spray minyak atsiri daun sereh diformulasikan dalam dua konsentrasi, yaitu 0,25% dan 0,5%. Evaluasi diarahkan pada mutu sediaan, meliputi uji organoleptik, pengukuran pH, uji viskositas, uji hedonik, serta uji stabilitas selama empat minggu penyimpanan pada suhu ruang (25±2°C). Hasil: Kedua formulasi berbentuk cair dan homogen. Formulasi 0,25% memiliki pH di bawah rentang ideal rongga mulut (6–7), sedangkan formulasi 0,5% memenuhi standar pH rongga mulut. Nilai viskositas kedua formulasi mendekati viskositas air (±1 cP). Secara organoleptik, formulasi 0,25% memiliki warna lebih jernih dan aroma lebih ringan, sedangkan formulasi 0,5% lebih disukai panelis dari segi rasa. Kedua sediaan menunjukkan stabilitas yang baik selama empat minggu penyimpanan tanpa perubahan fisik yang signifikan. Simpulan: Sediaan mouth spray minyak atsiri daun sereh memenuhi parameter mutu sediaan dan stabil selama penyimpanan. Formulasi dengan konsentrasi 0,5% merupakan formulasi terbaik dan berpotensi dikembangkan lebih lanjut sebagai sediaan untuk penanganan gingivitis.KATA KUNCI: gingivitis, mouth spray, minyak atsiri daun sereh, cymbopogon citratus, evaluasi sediaan.
Correlation between the duration of fixed orthodontic treatment and psychosocial impact among medical and dental students: Study cross-sectional Suyitno, Clarissa Jilan Sauzan Salmamuntai; Rokhim, Saiful; Irsal, Imran
Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students Vol 10, No 1 (2026): February 2026
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/pjdrs.v10i1.69078

Abstract

ABSTRACTIntroduction: One of the most common oral health problems is malocclusion. This condition can affect psychosocial well-being. Malocclusion can be managed through fixed orthodontic treatment, which corrects dental irregularities and improves dental aesthetics and the patient’s psychosocial well-being. This study aimed to analyze the correlation between the duration of fixed orthodontic treatment and psychosocial impact among medical and dental students. Methods: This study used a cross-sectional design with purposive sampling. The sample consisted of 68 students who were undergoing fixed orthodontic treatment. Primary data were collected using the Psychosocial Impact of Dental Aesthetics Questionnaire (PIDAQ). Bivariate analysis was performed using non-parametric statistical tests, namely Spearman’s rho and Mann-Whitney test. Results: A total of 68 participants were included in this study, with 44.1% using fixed orthodontic appliances for < 1 year. The mean psychosocial impact score was 41.26 ± 17.09, which was classified as low. A negative correlation was found between the duration of fixed orthodontic treatment and psychosocial impact among medical and dental students (p=0.001, r=-0.4). Conclusions: The longer the duration of fixed orthodontic treatment, the lower psychosocial impact experienced by patients.KEY WORDS: fixed orthodontic appliances, psychosocial impact, self-confidence, dental aesthetics, studentsKorelasi durasi perawatan ortodonti cekat terhadap dampak psikososial mahasiswa kedokteran dan kedokteran gigi: Studi cross-sectionalABSTRAKPendahuluan: Salah satu permasalahan kesehatan gigi dan mulut yang paling banyak ditemui adalah maloklusi. Kondisi ini dapat memengaruhi dampak psikososial. Penanganan maloklusi dapat dilakukan melalui perawatan ortodonti cekat yang dapat mengoreksi ketidakteraturan gigi dan sekaligus meningkatkan estetika serta meningkatkan kesejahteraan psikososial pasien. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis korelasi antara durasi perawatan ortodonti cekat terhadap dampak psikososial pada mahasiswa kedokteran dan kedokteran gigi. Metode: Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dengan teknik teknik purposive sampling. Sampel penelitian terdiri atas 68 mahasiswa yang sedang menjalani perawatan ortodonti cekat. Data primer diperoleh melalui instrumen kuesioner PIDAQ. Analisis bivariat menggunakan uji statistik non parametrik berupa Spearman’s rho dan Mann-Whitney. Hasil: Total 68 sampel, sebanyak 44,1% sedang menggunakan ortodonti cekat selama < 1 tahun, skor rerata dampak psikososial sebesar 41,26  ±17,09 yang termasuk dalam kategori rendah. Terdapat korelasi negatif antara perawatan ortodonti cekat terhadap dampak psikososial pada mahasiswa kedokteran dan kedokteran gigi (p=0,001 r=-0,4) Simpulan: Semakin lama durasi perawatan ortodonti cekat, maka semakin rendah dampak psikososial yang dirasakan. KATA KUNCI: ortodonti cekat, dampak psikososial, kepercayaan diri, estetika gigi, mahasiswa