cover
Contact Name
Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students
Contact Email
jurnal.fkg@unpad.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jurnal.fkg@unpad.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students
ISSN : 26569868     EISSN : 2656985X     DOI : -
Core Subject : Health, Science,
Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students adalah open access journal berbahasa Indonesia, yang menerbitkan artikel penelitian dari para peneliti pemula dan mahasiswa di semua bidang ilmu dan pengembangan dasar kesehatan gigi dan mulut melalui pendekatan interdisipliner dan multidisiplin. Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students diterbitkan oleh Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran dua kali setahun, setiap bulan Februari dan Oktober. Bidang cakupan Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students adalah semua bidang ilmu kedokteran gigi, yaitu biologi oral; ilmu dan teknologi material gigi; bedah mulut dan maksilofasial; ilmu kedokteran gigi anak; ilmu kesehatan gigi masyarakat, epidemiologi, dan ilmu kedokteran gigi pencegahan; konservasi gigi, endodontik, dan kedokteran gigi operatif; periodonsia; prostodonsia; ortodonsia; ilmu penyakit mulut; radiologi kedokteran gigi dan maksilofasial; serta perkembangan dan ilmu kedokteran gigi dari pendekatan ilmu lainnya. Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students mengakomodasi seluruh karya peneliti pemula dan mahasiswa kedokteran gigi untuk menjadi acuan pembelajaran penulisan ilmiah akademisi kedokteran gigi.
Arjuna Subject : -
Articles 269 Documents
Perbedaan efek penambahan silika dari abu cangkang kelapa sawit terhadap kekasaran permukaan basis gigi tiruan resin akrilik polimerisasi panas: Studi eksperimental Nainggolan, Rahel Stevani; Wahyuni, Siti
Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students Vol 9, No 2 (2025): Juni 2025
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/pjdrs.v9i2.63268

Abstract

ABSTRAKPendahuluan: Resin akrilik polimerisasi panas merupakan bahan basis gigi tiruan yang sering digunakan karena memiliki sifat estetis yang baik, mudah direparasi dan tidak toksik. Namun, juga memiliki sifat mekanis yang rendah adalah kekasaran permukaan, sehingga diperlukan penambahan bahan penguat pada resin akrilik polimerisasi panas, yaitu silika dari abu cangkang kelapa sawit. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbedaan efek penambahan silika 2% dan 5% dari abu cangkang kelapa sawit pada basis gigi tiruan resin akrilik polimerisasi panas terhadap kekasaran permukaan. Metode: Jenis penelitian ini adalah eksperimental laboratorium yang dilakukan pada sampel basis gigi tiruan resin akrilik polimerisasi panas yang ditambahkan bahan penguat silika 2% dan 5%. Dengan sampel (65x10x2,5) mm berdasarkan ISO 1567. Total sampel sebanyak 30 buah dibagi menjadi 3 kelompok, kelompok tanpa silika dan kelompok B, C; kelompok dengan penambahan silika konsentrasi 2% dan 5%. Uji kekasaran permukaan sampel dilakukan menggunakan Profilometer (Mitutoyo SURFTEST SJ-210, Japan). Sampel dianalisis dengan uji one way Anova dan LSD. Hasil: uji ANOVA menunjukkan adanya pengaruh penambahan silika 2% dan 5% pada kekasaran permukaan basis gigi tiruan resin akrilik polimerisasi panas, dengan nilai p=0,001 (p<0,05). Uji LSD menunjukkan adanya  perbedaan bermakna antara kelompok kontrol dengan kelompok  penambahan silika 2%, antara kelompok kontrol dengan kelompok penambahan silika 5%, serta antara kelompok penambahan silika 2% dan 5%, dengan nilai p=0,001 (p<0,005).  Simpulan: Terdapat perbedaan nilai kekasaran permukaan pada bahan basis gigi tiruan RAPP tanpa atau dengan penambahan silika 2% dan 5%KATA KUNCI: resin akrilik polimerisasi panas, abu cangkang kelapa sawit, silika, kekasaran permukaanThe Effect of the Addition of Silica from Palm Shell Ash to the surface roughness of heat-polymerized acrylic resin Denture Base: Study experimentalABSTRACTIntroduction: Heat polymerized acrylic resin is one of the most frequently used for denture base materials because it has good aesthetic properties, easy to repair and  non-toxic. However, it also has low mechanical properties such as surface roughness, so modification is needed by adding a reinforcing material to the heat polymerized acrylic resin in the form of silica from palm shell ash. This aims of this study is to analyze the effect of adding 2% and 5% silica from palm shell ash to the heat polymerized acrylic resin denture base on its surface roughness. Methods: This type of research is a laboratory study with a sample’s size of 65x10x2.5 mm; based on ISO 1567. A total of 30 samples were divided into 3 groups, i.e.  group A (without reinforcing materials) as a control group and group B and C were group silica addition with concentrations of 2% and 5%. Surface roughness tests on the samples were conducted using  a Profilometer (Mitutoyo SURFTEST SJ-210, Japan) The samples were analyzed by one way Anova and LSD tests. Results: ANOVA test results that there is an effect of adding 2% and 5% silica from palm shell ash on the surface roughness of heat polymerized acrylic resin dentures; with a value of p = 0.001 (p <0.05). The results of the LSD test  showed a significant difference between group control (without the addition of silica) and 2% silica, between control group with the addition of 5% silica, and between group adding 2% and 5% silica; with a value of p = 0.001 (p <0.005). Conclusion: There is a difference in surface roughness values in the denture base material RAPP with or without the addition of 2% and 5% silica.KEY WORDS: heat-polymerized acrylic resin, silica, palm shell ash, surface roughness
Improvements in tooth brushing behavior in children with autism spectrum disorder using mobile dentistry game application: study experimental Putri, Tarisya Permata; Suwargiani, Anne Agustina; Sukmasari, Susi; Sasmita, Inne Suherna
Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students Vol 9, No 2 (2025): Juni 2025
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/pjdrs.v9i2.60752

Abstract

ABSTRACTIntroduction: Autism Spectrum Disorder (ASD) is a neurodevelopmental disorder characterized by abnormalities in social interaction, limited interests, and repetitive habits. ASD children have motor, sensory, and communication limitations and difficulties that affect daily activities, namely brushing teeth, therefore education is needed to improve the tooth brushing behavior of ASD children. Education can use the Mobile Dentistry Game Application, namely Pokémon Smile which is one application that can be used to help increase knowledge and education of children with ASD in brushing teeth. The purpose of the study was to analyze improvement  in the tooth brushing behavior of children with ASD using the mobile dentistry game application. Methods: A quasi-experimental study with 16 children was conducted in November 2024. The study consisted of measuring tooth brushing behavior before using Pokémon Smile, followed by using the game and measuring tooth brushing behavior after using the game. Results: There was a significant change with a p-value (p<0.05) 0.004. The average score of children's tooth brushing behavior before the use of Pokémon Smile was 5.25 with most behavior levels being very poor and after the use 6.86 with most behavior levels being moderate. There was an increase in the mean score of tooth brushing behavior by 17.05, reflecting a change in the level of tooth brushing behavior of ASD children from the poor category to moderate. Conclusion: Tooth brushing behavior of children with autism spectrum disorder (ASD) using a mobile dentistry game application has improved. This improvement is reflected in positive behavioral changes observed after using the application. KEY WORDS: mobile dentistry game application, health app, visual pedagogy, tooth brushing behavior, autism spectrum disorder, childrenPerilaku menyikat gigi pada anak gangguan spektrum autisme menggunakan mobile dentistry game application: studi eksperimentalABSTRAKPendahuluan: Gangguan Spektrum Autisme (GSA) merupakan gangguan neurodevelopmental yaitu gangguan perkembangan saraf  yang memiliki ciri khas berupa kelainan pada interaksi sosial serta minat yang terbatas dan kebiasaan yang repetitif atau berulang. Anak GSA memiliki keterbatasan dan kesulitan motorik, sensorik, dan komunikasi yang mempengaruhi kegiatan sehari-hari diantaranya menyikat gigi sehingga diperlukan edukasi untuk meningkatkan perilaku menyikat gigi anak GSA. Edukasi dapat menggunakan Mobile Dentistry Game Application, yaitu Pokémon Smile yang merupakan salah satu aplikasi yang dapat digunakan untuk membantu meningkatkan pengetahuan serta edukasi anak dengan ASD dalam menyikat gigi. Tujuan penelitian adalah menganalisis perbaikan perilaku menyikat gigi anak dengan GSA menggunakan mobile dentistry game application. Metode: Penelitian berupa quasi eksperimental dengan sampel 16 anak telah dilaksanakan pada November 2024. Penelitian terdiri dari pengukuran perilaku menyikat gigi sebelum penggunaan Pokémon Smile, dilanjutkan dengan penggunaan permainan, dan pengukuran perilaku menyikat gigi setelah penggunaan permainan. Hasil: Terdapat perubahan signifikan dengan p-value (p<0,05) 0,004. Rerata skor perilaku menyikat gigi anak sebelum penggunaan Pokémon Smile 5,25 dengan mayoritas tingkat perilaku sangat buruk dan setelah penggunaan 6,86 dengan mayoritas tingkat perilaku menjadi cukup. Terdapat peningkatan rerata nilai perilaku menyikat gigi sebesar 17,05 mencerminkan adanya perubahan tingkat perilaku menyikat gigi anak GSA dari kategori buruk menjadi cukup. Simpulan: Perilaku menyikat gigi anak dengan Gangguan Spektrum Autisme (GSA) menggunakan mobile dentistry game application mengalami peningkatan. Peningkatan terlihat dari perubahan perilaku ke arah positif setelah menggunakan aplikasi. KATA KUNCI: mobile dentistry game application, visual pedagogi, perilaku menyikat gigi, gangguan spektrum autisme, anak
Analisis pengaruh pH saliva dan indeks plak terhadap kejadian karies pada anak sekolah dengan gigi bercampur: Studi observasional Sari, Morita; Varianziana, Fauzia; Ananda, Gita Alivia
Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students Vol 9, No 2 (2025): Juni 2025
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/pjdrs.v9i2.63052

Abstract

ABSTRAKPendahuluan: Periode gigi bercampur adalah periode gigi yang menentukan keberlanjutan keadaan kesehatan gigi permanen selanjutnya. Anak-anak yang berada pada usia sekolah dasar antara 6-12 tahun serta mempunyai kecenderungan menyukai hal-hal baru namun juga mudah mengadopsi kebiasaan jelek yaitu kebiasaan jajan makanan dan minuman ringan. Periode gigi bercampur rentan oleh faktor predisposisi karies dimana secara histologis email gigi permanen masih muda. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis faktor predisposisi karies pada pH saliva dan Indeks plak menggunakan regresi analisis. Metode: penelitian ini adalah penelitian observasional analitik dengan cross sectional study design. Teknik purposive sampling digunakan untuk mengambil 90 sampel kemudian sampel diberi perlakuan untuk perhitungan angka karies (DMF-T/def-t) pengambilan regimen saliva dan pengukuran Indeks plak. Instrumen penelitian berupa lembar DMF-T/def-t dan lembar pengukuran indeks plak. Analisis data menggunakan software statistik SPSS dengan uji analisis regresi bivariabel. Hasil: Faktor pH saliva memiliki koefisien predictor (β) = [-] 2,493, koefisien determinasi (r2)= 0,492 dan ρ value: 0,001 kemudian untuk faktor Indeks plak memiliki koefisien predictor (β) = [+] 0,985 koefisien determinasi (r2)= 0,158 dan ρ value=0,001. Interpretasinya bahwa setiap satu unit kenaikan dari pH saliva akan menurunkan angka karies sebesar 2,493 dan setiap satu unit kenaikan dari Indeks plak akan menaikkan angka karies sebesar 0,985, dari koefisien determinasi menunjukkan 49,2% karies terjadi karena faktor pH saliva dan 15,8% disebabkan oleh Indeks plak. Simpulan: Murid-murid dengan gigi bercampur rentan terhadap faktor-faktor predisposisi karies yang dapat mempengaruhi penurunan pH saliva dan kenaikan Indeks plak.KATA KUNCI: Faktor predisposisi, pH saliva, Indeks plak, kejadian karies, gigi bercampur.Analysis of predisposition factors for caries incidence in school children with mixed dentition: Study observasional ABSTRACT Introduction: The mixed dentition period is a period of teeth that determines the sustainability of the health of permanent teeth. Children are between 6-12 years old at elementary school and tend to like new things but also easily adopt bad habits, such as snacking and drinking soft drinks. Therefore, the mixed dentition period is susceptible to caries predisposition factors where the permanent tooth enamel is still young histologically. This study aimed to determine the caries predisposition factors focusing on salivary pH and plaque index using regression analysis. Methods: This study is an observational analytical study with a cross-sectional design. The purposive sampling technique was used to take samples, then the samples were given treatment for calculating caries rates (DMF-T / def-t), taking saliva regimens, and measuring plaque index. Data analysis used SPSS statistical software with regression analysis. Results: Salivary pH factor has a predictor coefficient (β) = [-] 2.493, determination coefficient (r2)= 0.492 and ρ value: 0.000 then for the plaque index factor has a predictor coefficient (β) = [+] 0.985 determination coefficient (r2) = 0.158 and ρ value = 0.000. The interpretation is that every one-unit increase in salivary pH will decrease the caries rate by 2.493 and every one-unit increase in plaque index will increase the caries rate by 0.985, from the determination coefficient shows 49.2% caries occurs due to salivary pH factor and 15.8% is caused by plaque index. Conclusion: Students with mixed teeth at SDN Mojosongo VI Surakarta are susceptible to predisposition factors that can affect the decrease in salivary pH and increase in plaque index. KEY WORDS:  Faktor predisposisi, pH saliva, Indeks plak, kejadian karies, gigi bercampur.
Clear aligner versus twin block dalam perawatan maloklusi kelas II pada anak: ulasan sistematik Jayanti, Claudia Nur Rizky; Primarti, Risti Saptarini
Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students Vol 9, No 2 (2025): Juni 2025
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/pjdrs.v9i2.62513

Abstract

ABSTRACT Pendahuluan: Maloklusi Kelas II merupakan salah satu masalah ortodontik yang paling umum dijumpai. Dalam beberapa tahun terakhir, penggunaan aligner bening (clear aligner/CA) telah berkembang untuk menangani kasus-kasus yang lebih kompleks, termasuk maloklusi Kelas II dengan pendekatan kemajuan mandibula (CA dengan mandibular advancement/MA). Meskipun CA menawarkan alternatif modern terhadap alat fungsional tradisional, efektivitasnya dibandingkan dengan alat yang telah mapan seperti Twin Block (TB) belum diteliti secara menyeluruh. Ulasan sistematis ini bertujuan untuk membandingkan hasil perawatan dan efek dentoskeletal antara CA dengan MA dan TB dalam koreksi maloklusi Kelas II pada anak dan remaja. Metode: Kajian ini dilakukan berdasarkan pedoman Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analyses (PRISMA). Artikel yang diterbitkan antara tahun 2014 hingga 2024 diambil dari basis data ScienceDirect, PubMed, dan Scopus menggunakan kata kunci yang telah ditentukan sebelumnya dan kerangka kerja Population-Intervention-Comparison-Outcome (PICO). Sebanyak enam studi diikutsertakan untuk mengevaluasi efektivitas kedua modalitas perawatan dalam memperbaiki hubungan sagital rahang, kenyamanan pasien, dan dimensi jalan napas. Hasil: Hasil menunjukkan bahwa baik CA maupun TB efektif dalam meningkatkan hubungan sagital antara maksila dan mandibula. TB menunjukkan perubahan skeletal yang lebih besar, khususnya pada reposisi mandibula, sedangkan CA memberikan kenyamanan, estetika, dan tingkat kepatuhan pasien yang lebih baik. Simpulan: CA terbukti lebih efektif dalam meningkatkan dimensi jalan napas, terutama di area hipofaring. Meskipun kedua pilihan perawatan menunjukkan hasil yang menjanjikan, diperlukan uji coba terkontrol acak jangka panjang untuk mengevaluasi stabilitas dan efektivitas jangka panjangnya. Rencana perawatan sebaiknya disesuaikan dengan kebutuhan spesifik pasien, kondisi klinis, dan luaran yang diharapkan.KATA KUNCI: Alat ortodonti, Maloklusi, Angle Kelas IClear aligner versus twin block in the treatment of class II malocclusion in children: a systematic reviewABSTRACTClass II malocclusions are among the most prevalent orthodontic problems. In recent years, clear aligner (CA) therapy has expanded its scope to include more complex cases, including the clear aligner with mandibular advancement (CA with MA) for treating Class II malocclusions. While CA provides a modern alternative to traditional functional appliances, their effectiveness in comparison to well-established devices like the Twin Block (TB) has not yet been thoroughly studied. This systematic review compares the treatment outcomes and dentoskeletal effects of CA with MA and TB appliances for Class II malocclusion correction in children and adolescents. This systematic review was conducted in accordance with the Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analyses (PRISMA) guidelines. The articles, which covered publications from 2014 to 2024, were taken from the databases of ScienceDirect, PubMed, and Scopus. The search used predefined keywords and a Population-Intervention-Comparison-Outcome (PICO) framework. Six studies were included, evaluating the effectiveness of both treatment modalities in improving sagittal jaw relationships, patient comfort, and airway dimensions. Both CA and TB appliances effectively enhanced the sagittal relationship between the maxilla and mandible. TB appliances showed greater skeletal changes, particularly in mandibular repositioning, while clear aligners offered superior patient comfort, aesthetics, and compliance. CA was also more effective in improving airway dimensions, particularly in the hypopharyngeal region. While both treatment options show promise, further long-term randomized controlled trials are needed to better assess their stability and effectiveness. The treatment plan should be tailored to the patient's specific needs, clinical condition, and desired outcomes.KEYWORDS: Orthodontic appliances, Malocclusion, Angle Class II
Pengetahuan dokter gigi umum dalam menentukan radiodiagnosis lesi lusen melalui radiografi panoramik: deskriptif kualitatif Rahmadona, Suci; Epsilawati, Lusi; Damayanti, Merry Annisa; Jasrin, Tadeus Arufan; Susilawati, Sri; Zakiawati, Dewi
Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students Vol 9, No 2 (2025): Juni 2025
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/pjdrs.v9i2.62976

Abstract

ABSTRAK Pendahuluan: Ilmu radiologi dalam kedokteran gigi berperan penting dalam diagnosis dan perencanaan perawatan melalui pemeriksaan radiografi, seperti radiografi panoramik yang memberikan gambaran luas struktur tulang dan gigi. Kesalahan dalam interpretasi radiografi dapat menyebabkan diagnosis yang keliru, sebagaimana ditunjukkan oleh peneliti sebelumnya yang menemukan persentase kesalahan diagnosis oleh praktisi cukup tinggi. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui apakah dokter gigi umum sudah dapat melakukan interpretasi dengan baik dan benar. Metode: Jenis penelitian deskriptif dengan teknik pengambilan sampel convenience sampling. Penelitian dilakukan pada 96 dokter gigi umum menggunakan instrumen berupa kuesioner dengan 15 butir pertanyaan. Hasil: Berdasarkan distribusi responden, mayoritasnya merupakan perempuan dengan domisili di luar Kota Bandung yang sebagian besarnya bekerja pada klinik mandiri (24,8%) dan rumah sakit (21,4%). Sebanyak 57 responden (59,4%) berada pada tingkat pengetahuan dengan kategori baik lalu sebanyak 36 orang (37,5%) dengan kategori cukup, serta 3 orang (3,1%) dengan kategori kurang. Simpulan: Tingkat pengetahuan dokter gigi umum dalam mengidentifikasi karakteristik lesi lusen tergolong baik, tetapi kemampuan dalam menentukan radiodiagnosis dan radiagnosis banding masih kurang. Secara keseluruhan, hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan dokter gigi umum dikategorikan cukup dengan rerata perolehan nilai berada pada 10,8. KATA KUNCI: Pengetahuan, radiodiagnosis, dokter gigi umum, lesi lusen, radiografi panoramikGeneral Dentist's knowledge in determining radiodiagnosis of lucent lesions through panoramic radiography: Study descriptiveABSTRACT Introduction: Radiology in dentistry plays an important role in diagnosis and treatment planning through radiographic examinations, such as panoramic radiography which provides a broad view of the bone and tooth structure. Mistakes in radiographic interpretation can lead to misdiagnosis, as shown by previous study which found a high percentage of misdiagnosis by practitioners. The aim of this study was to determine whether general dentists were able to interpret properly and correctly. Methods: This type of research was descriptive with a convenience sampling technique. The study was conducted on 96 general dentists using an instrument in the form of a questionnaire with 15 questions. Results: Based on the distribution of respondents, the majority were women domiciled outside the city of Bandung, most of whom worked in independent clinics (24,8%) and hospitals (21,4%). A total of 57 respondents (59,4%) were at the level of knowledge with a good category, then 36 people (37,5%) were in the sufficient category, and 3 people (3,1%) were in the less category; (4) Conclusions: The level of knowledge of general dentists in identifying the characteristics of lucent lesions is classified as good, but the ability to determine radiodiagnosis and differential radiodiagnosis is still lacking. Overall, the results of the study showed that the level of general dentists’ knowledge is categorized as adequate, with an average score of 10,8.KEY WORDS: Knowledge, radiodiagnosis, general dentist, lucent lesions, panoramic radiography 
Pola konsumsi makanan dan minuman pada penderita oral squamous cell carcinoma: Studi cross-sectional Izzul Haq, Muhammad Fadhlan; Setiawan, Asty Samiaty; Anggraini, Jamas Ari
Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students Vol 9, No 2 (2025): Juni 2025
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/pjdrs.v9i2.60756

Abstract

ABSTRAKPendahuluan: Oral squamous cell carcinoma (OSCC) merupakan salah satu kanker yang paling umum terjadi di dunia. Perubahan pola konsumsi makanan dan gaya hidup dapat meningkatkan risiko kanker. Studi mengenai gambaran pola konsumsi makanan dan minuman pada penyakit keganasan pada rongga mulut di Indonesia masih belum memadai. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran pola konsumsi makanan dan minuman pada penderita keganasan rongga mulut. Metode: Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif observasional dengan pendekatan cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah pasien penderita OSCC di Poli Bedah Mulut Rumah Sakit Hasan Sadikin Kota Bandung selama periode September sampai dengan November 2024. Teknik pengambilan sampel menggunakan teknik non probability sampling yaitu accidental sampling. Pengambilan data dilakukan menggunakan Food Frequency Questionnaire (FFQ) Hasil: Bahan makanan dan minuman perharinya yang paling sering dikonsumsi oleh penderita OSCC berdasarkan kelompok makanannya adalah nasi, telur, bakso, ikan asin, susu, mentimun, jeruk, pisang, penyedap rasa “M” serta kopi non instan. Simpulan: Pola konsumsi makanan dan minuman pada penderita OSCC memiliki kecenderungan mengkonsumsi makanan atau minuman yang bersifat karsinogenik lebih banyak dibandingkan makanan atau minuman yang memiliki khasiat kemopreventif.KATA KUNCI: Pola makanan dan minuman, oral squamous cell carcinoma, keganasan rongga mulut, risiko kanker, FFQDietary pattern of food and beverage consumption patterns in patients oral squamous cell carcinoma: Study cross-sectional ABSTRACTIntroduction: Oral squamous cell carcinoma (OSCC) is one of the most common cancers in the world. Changes in food consumption patterns and lifestyle can increase the risk of cancer. Studies on the description of food and beverage consumption patterns in malignancies of the oral cavity in Indonesia are still inadequate. This study aims to determine the description of food and beverage consumption patterns in patients with oral malignancies. Methods: The type of research used was descriptive observational research with a cross-sectional approach. The population in this study were patients with OSCC in the Oral Surgery Poly of Hasan Sadikin Hospital, Bandung City during the period September to November 2024. The sampling technique used a non-probability sampling technique, namely accidental sampling. Data collection was carried out using the Food Frequency Questionnaire (FFQ). Results: The results showed that the most frequently consumed food and beverages per day by OSCC patients based on food groups were rice, eggs, meatballs, salted fish, milk, cucumber, banana, flavoring “M” and coffee. Conclusions: Dietary pattern of food and beverage consumption patterns in OSCC patients, the majority have a high level of food consumption of carcinogenic foods. Meanwhile, the level of consumption of foods with chemopreventive properties is relatively low.KEY WORDS: Food and beverage patterns, oral squamous cell carcinoma, oral malignancies, cancer risk, FFQ
Perbedaan efek ekstrak madu lebah galo-galo (heterotrigona itama) terhadap pembentukan biofilm pseudomonas aeruginosa: Studi eksperimental Julianingsih, Wulan; Amly, Dina Auliya; Ferdina, Resa
Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students Vol 9, No 2 (2025): Juni 2025
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/pjdrs.v9i2.61755

Abstract

ABSTRAKPendahuluan: Pseudomonas aeruginosa merupakan bakteri Gram-negatif yang resisten terhadap antibiofilm dan patogen utama penyebab infeksi nosokomial. Hal ini dapat dicegah dengan chlorhexidine tetapi bahan ini dapat menyebabkan iritasi mulut. Salah satu bahan alternatif adalah madu lebah Galo-galo (Heterotrigona itama) memiliki berbagai kandungan antibiofilm, yaitu fruktosa, hidrogen peroksida dan flavonoid. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh ekstrak madu lebah Galo-galo (Heterotrigona itama) terhadap pembentukan biofilm Pseudomonas aeruginosa. Metode: Penelitian ini dilakukan dengan metode eksperimental. Ekstrak madu lebah Galo-galo (Heterotrigona itama) diperoleh dengan cara disentrifugasi lalu diambil supernatannya kemudian dilakukan uji aktivitas antibiofilm dan diukur absorbansinya (λ 540 nm). Analisis statistik parametrik ANOVA Welch menunjukkan bahwa terdapat perbedaan efek hambat pembentukan biofilm Pseudomonas aeruginosa yang signifikan (p<0,05) diantara kelompok perlakuan konsentrasi ekstrak madu lebah Galo-galo (Heterotrigona itama). Uji post hoc Games Howell menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan signifikan (p>0,05) antara konsentrasi 0,09% dengan konsentrasi, 0,19%, dan 0,39%. Results: Peningkatan signifikan (p<0,05) teridentifikasi pada konsentrasi 6,25%, 3,125%, 1,56%, dan 0,78% dengan konsentrasi ≤ 0,39%. Peningkatan signifikan antibiofilm yang lainnya juga ditemui pada konsentrasi 50%, 25%, dan 12,5% dengan konsentrasi ≤ 6,25, lebih lanjut perbedaan yang signifikan (p<0,05) juga ditemui antara konsentrasi 50% dengan 25% dan 12,5%, serta konsentrasi 25% dengan 12,5%. Simpulan: terdapat perbedaan efek ekstrak madu lebah Galo-galo (Heterotrigona itama) terhadap pembentukan biofilm Pseudomonas aeruginosa. Semakin tinggi konsentrasi ekstrak madu lebah Galo-galo (Heterotrigona itama) maka semakin efektif dalam menghambat pembentukan biofilm Pseudomonas aeruginosa.KATA KUNCI: Madu lebah Galo-galo (Heterotrigona itama), antibiofilm, Pseudomonas aeruginosa.The Effect Of Galo-Galo honey extract (Heterotrigona itama) On The Formation Of Pseudomonas aeruginosa BIOFILM: Study experimentalABSTRACTIntroduction: Pseudomonas aeruginosa is a Gram-negative bacterium resistant to antibiofilm agents and a major pathogen responsible for nosocomial infections. This can be prevented with chlorhexidine; however, this substance may cause oral irritation. One natural alternative is Galo-galo bee honey (Heterotrigona itama), which contains various antibiofilm components, including fructose, hydrogen peroxide, and flavonoids. This study aims to analyze the effect of Galo-galo bee honey extract on the biofilm formation of Pseudomonas aeruginosa. Methods: The research was conducted using an experimental method. The Galo-galo bee honey extract was obtained through centrifugation, and the supernatant was then used for antibiofilm activity testing, measuring absorbance at 540 nm (λ 540 nm). Parametric statistical analysis using ANOVA Welch indicated significant differences in the inhibitory effects on biofilm formation of Pseudomonas aeruginosa among the treatment groups with different concentrations of Galo-galo bee honey extract (p<0.05). Post hoc Games Howell tests revealed no significant difference (p>0.05) between the 0.09% concentration and the 0.19% and 0.39% concentrations. Results: Significant increases (p<0.05) were identified at concentrations of 6.25%, 3.125%, 1.56%, and 0.78% compared to concentrations ≤ 0.39%. Other significant increases were also found at concentrations of 50%, 25%, and 12.5% compared to concentrations ≤ 6.25%, with further significant differences (p<0.05) observed between the 50% concentration and both the 25% and 12.5% concentrations, as well as between the 25% and 12.5% concentrations. Conclusion: There is a difference effect of Galo-galo bee honey extract on the formation of Pseudomonas aeruginosa biofilm. Higher concentrations of Galo-galo bee honey extract are more effective in inhibiting biofilm formation by Pseudomonas aeruginosaKEY WORDS: Antibiofilm, Galo-galo bee honey (Heterotrigona itama), Pseudomonas aeruginosa.
Perbedaan efek ekstrak hydrogel ceker ayam kampung (gallus domesticus) terhadap jumlah sel fibroblas pada proses penyembuhan luka pasca ekstraksi gigi pada tikus putih wistar jantan (rattus norvegicus): Studi eksperimental Putra, Andrika Fitriyan; Edrizal, Edrizal
Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students Vol 9, No 2 (2025): Juni 2025
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/pjdrs.v9i2.61795

Abstract

ABSTRAKPendahuluan: Penyembuhan luka pasca ekstraksi gigi merupakan proses kompleks yang melibatkan berbagai fase, termasuk proliferasi, di mana fibroblas memainkan peran penting dalam regenerasi jaringan. Ekstrak hydrogel ceker ayam kampung (Gallus domesticus) kaya akan kolagen, asam amino, omega-3, dan kalsium, yang berpotensi meningkatkan jumlah sel fibroblas dan mempercepat penyembuhan luka. Tujuan Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbedaan efek ekstrak hydrogel ceker ayam kampung terhadap jumlah sel fibroblas pada proses penyembuhan luka pasca ekstraksi gigi pada tikus putih wistar jantan (Rattus norvegicus). Metode: Penelitian ini menggunakan desain eksperimental dengan kelompok kontrol positif (Povidone Iodine), kontrol negatif, dan tiga kelompok perlakuan dengan konsentrasi ekstrak hydrogel ceker ayam kampung 5%, 10%, dan 15%. Observasi dilakukan pada hari ke-3, 7, dan 14 untuk menghitung jumlah sel fibroblas menggunakan teknik histopatologi. Data yang didapatkan pada hasil pengamatan dilakukan Uji Normalitas. Uji normalitas yang digunakan adalah Shapiro-Wilk karena data kurang dari 50 diperoleh hasilnya sebagai berikut: Kesimpulan pada uji Shapiro-Wilk adalah secara keseluruhan data terbukti normal. Selanjutnya dilakukan uji Levene Test.  Selanjutnya dilakukan pengujian ANOVA karena syarat data berdistribusi normal dan homogen. Selanjutnya dilakukan uji LSD. Hasil: Terdapat peningkatan jumlah sel fibroblas yang signifikan pada kelompok perlakuan dibandingkan kontrol negatif. Konsentrasi 15% menunjukkan efektivitas tertinggi dalam meningkatkan jumlah fibroblas pada hari ke-7. Penurunan jumlah fibroblas diamati pada hari ke-14, seiring dengan fase remodeling jaringan. Simpulan: Ekstrak hydrogel ceker ayam kampung secara signifikan meningkatkan jumlah sel fibroblas pada proses penyembuhan luka pasca ekstraksi gigi, terutama pada konsentrasi 15%.KATA KUNCI: Ekstrak hydrogel ceker ayam kampung, Fibroblas, Penyembuhan luka, Ekstraksi gigiThe effect of hydrogel extract of kampung chicken feet (gallus domesticus) on the number of fibroblast cells in the wound healing process after tooth extraction in male wistar white rats (Rattus Norvegicus): Study experimentalABSTRACTIntroduction: Wound healing after tooth extraction is a complex process involving several phases, including proliferation, where fibroblasts play a vital role in tissue regeneration. Chicken feet hydrogel extract (Gallus domesticus) is rich in collagen, amino acids, omega-3, and calcium, which have the potential to enhance fibroblast numbers and accelerate wound healing.  This study aimed to analysis the effect of chicken feet hydrogel extract on the number of fibroblasts during the wound healing process following tooth extraction in male Wistar rats (Rattus norvegicus). Methods: This experimental study used a true experimental design with a positive control group (Povidone Iodine), a negative control group, and three treatment groups with hydrogel extract concentrations of 5%, 10%, and 15%. Observations were conducted on days 3, 7, and 14 to calculate the number of fibroblasts using histopathological techniques. The data obtained from the observation results were tested for normality. The normality test used was the Shapiro-Wilk test because the data was less than 50 and the results were as follows: The conclusion of the Shapiro-Wilk test is that the data is generally normal. Next, the Levene test was performed. Next, an ANOVA test was performed because the data requirements are normally distributed and homogeneous. Next, the LSD test was performed. Results: A significant increase in fibroblast numbers was observed in the treatment groups compared to the negative control group. The 15% concentration demonstrated the highest effectiveness in increasing fibroblast numbers on day 7. A decrease in fibroblast numbers was noted on day 14, coinciding with the tissue remodeling phase. Conclusion: Chicken feet hydrogel extract significantly enhances fibroblast numbers during the wound healing process after tooth extraction, particularly at a 15% concentration. These results indicate the potential of this extract as a natural alternative to accelerate wound healing.KEY WORDS: Hydrogel Extract, Chicken Feet, Fibroblasts, Wound Healing, Tooth Extraction
Uji efektivitas antibakteri ekstrak biji buah naga merah (hylocereus costaricensis) dalam menghambat pertumbuhan streptococcus sanguinis pada plat resin akrilik : Studi eksperimental Harahap, Nadira Azzhani; Ferdina, Resa; Zia, Hanim Khalida
Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students Vol 9, No 2 (2025): Juni 2025
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/pjdrs.v9i2.61793

Abstract

ABSTRAKPendahuluan: Kehilangan gigi merupakan masalah yang signifikan dalam kesehatan gigi dan mulut karena dapat memengaruhi fungsi mastikasi, fonasi, estetika, serta kualitas kepercayaan diri seseorang. Salah satu solusi untuk mengatasi kehilangan gigi adalah penggunaan gigi tiruan dengan basis resin akrilik polimerisasi panas. Permukaan kasar pada resin akrilik dapat menyebabkan terjadinya penumpukan plak, sehingga memudahkan bakteri Streptococcus sanguinis melekat pada basis gigi tiruan. Hal tersebut dapat dicegah dengan membersihkan gigi tiruan dengan sodium hipoklorit, tetapi bahan ini memiliki kekurangan pada resin akrilik. Salah satu bahan alami yang dapat dimanfaatkan sebagai pembersih gigi tiruan adalah biji buah naga merah (Hylocereus costaricensis) yang mengandung senyawa antibakteri, seperti flavonoid, alkaloid, dan tanin. Metode: Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui efektivitas antibakteri ekstrak biji buah naga terhadap pertumbuhan Streptococcus sanguinis pada plat resin akrilik. Jenis penelitian ini menggunakan metode eksperimental laboratorium menggunakan dengan rancangan Post Test Control Grup Design. Sampel pada penelitian adalah lempeng berbentuk balok dengan ukuran 10 x 10 x 1 mm. Besar sampel ada 5 kelompok perlakuan dengan konsentrasi 5%, 10%, dan 15%, kontrol positif menggunakan sodium hipoklorit 0,5% dan kontrol negatif menggunakan aquadest yang diulang sebanyak 5 kali pengulangan, sehingga jumlah sampel menjadi 25 perlakuan menggunakan uji One way ANOVA. Hasil: Ekstrak biji buah naga merah (Hylocereus costaricensis), efektif dalam menghambat pertumbuhan Streptococcus sanguinis. Konsentrasi 5% menghasilkan jumlah pertumbuhan bakteri terendah dibandingkan dengan konsentrasi lainnya. Simpulan: Dari hasil penelitian ini terdapat efektivitas antibakteri ekstrak biji buah naga merah dalam menghambat pertumbuhan Streptococcus sanguinis pada plat resin akrilik dan dengan ekstrak terbaik pada konsentrasi 5%. Temuan ini memberikan alternatif alami yang dapat digunakan untuk menjaga kesehatan mulut pada pengguna gigi tiruan.KATA KUNCI: Antibakteri, biji buah naga merah (Hylocereus costaricensis), streptococcus sanguinis, resin akrilik polimerisasi panasAntibacterial Effectiveness Test of Red Dragon Fruit Seed Extract (Hylocereus costaricensis) in Inhibiting the Growth of Streptococcus sanguinis on Acrylic Resin PlatesABSTRACTIntroduction: Tooth loss is a significant problem in oral health because it can affect masticatory function, phonation, aesthetics, and self-confidence. One solution to overcome tooth loss is the use of dentures with a heat-polymerized acrylic resin base. The rough surface of acrylic resin can cause plaque buildup, making it easier for Streptococcus sanguinis bacteria to adhere to the denture base. This can be prevented by cleaning dentures with sodium hypochlorite, but this material has disadvantages in acrylic resin. One natural ingredient that can be used as a denture cleaner is red dragon fruit seeds (Hylocereus costaricensis) which contain antibacterial compounds, such as flavonoids, alkaloids, and tannins. Methods: The purpose of this study was to determine the antibacterial effectiveness of dragon fruit seed extract on the growth of Streptococcus sanguinis on acrylic resin plates. This type of research used a laboratory experimental method using a Post Test Control Group Design. The sample in the study was a block-shaped plate with dimensions of 10 x 10 x 1 mm. The sample size was 5 treatment groups with concentrations of 5%, 10%, and 15%, positive control using 0.5% sodium hypochlorite and negative control using distilled water which was repeated 5 times, so that the number of samples became 25 treatments using the One way ANOVA test. Results: Red dragon fruit seed extract (Hylocereus costaricensis), effective in inhibiting the growth of Streptococcus sanguinis. A concentration of 5% produced the lowest number of bacterial growth compared to other concentrations. Conclusion: From the results of this study, there is an antibacterial effectiveness of red dragon fruit seed extract in inhibiting the growth of Streptococcus sanguinis on acrylic resin plates and with the best extract at a concentration of 5%. This finding provides a natural alternative that can be used to maintain oral health in denture users..KEY WORDS: Antibacterial, Red dragon fruit seed (Hylocereus costaricensis), Streptococcus sanguinis, Hot polymerization acrylic