cover
Contact Name
Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students
Contact Email
jurnal.fkg@unpad.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jurnal.fkg@unpad.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students
ISSN : 26569868     EISSN : 2656985X     DOI : -
Core Subject : Health, Science,
Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students adalah open access journal berbahasa Indonesia, yang menerbitkan artikel penelitian dari para peneliti pemula dan mahasiswa di semua bidang ilmu dan pengembangan dasar kesehatan gigi dan mulut melalui pendekatan interdisipliner dan multidisiplin. Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students diterbitkan oleh Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran dua kali setahun, setiap bulan Februari dan Oktober. Bidang cakupan Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students adalah semua bidang ilmu kedokteran gigi, yaitu biologi oral; ilmu dan teknologi material gigi; bedah mulut dan maksilofasial; ilmu kedokteran gigi anak; ilmu kesehatan gigi masyarakat, epidemiologi, dan ilmu kedokteran gigi pencegahan; konservasi gigi, endodontik, dan kedokteran gigi operatif; periodonsia; prostodonsia; ortodonsia; ilmu penyakit mulut; radiologi kedokteran gigi dan maksilofasial; serta perkembangan dan ilmu kedokteran gigi dari pendekatan ilmu lainnya. Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students mengakomodasi seluruh karya peneliti pemula dan mahasiswa kedokteran gigi untuk menjadi acuan pembelajaran penulisan ilmiah akademisi kedokteran gigi.
Arjuna Subject : -
Articles 281 Documents
Pemodelan dan pengujian perilaku kesehatan gigi pada siswa sekolah dasar dengan pendekatan Health Belief Model menggunakan instrumen OHBQAHBM: Studi cross-sectional Florensia, Maria; Vita, Helena; Putri, Tresna; Evan, Kennard; Abigayl, Ivana
Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students Vol 9, No 3 (2025): Oktober 2025
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/pjdrs.v9i3.64132

Abstract

ABSTRAKPendahuluan: Perilaku kesehatan gigi merupakan aspek penting bagi siswa sekolah dasar, terutama kelas 6 yang berada dalam masa pertumbuhan gigi permanen. Health Belief Model (HBM) merupakan salah satu teori perilaku kesehatan yang efektif dalam menjelaskan dan memprediksi perilaku kesehatan individu, termasuk perilaku kesehatan gigi pada anak. Penelitian analitik cross-sectional ini bertujuan menganalisis perilaku kesehatan gigi pada siswa sekolah dasar menggunakan pendekatan HBM. Metode: Jenis penelitian menggunakan analitik cross-sectional. Pengumpulan data menggunakan instrumen Oral Health Behavior Questionnaire for Adolescents Based on Health Belief Model (OHBQAHBM) dengan pengambilan sampel metode total sampling dari populasi. Data yang telah didapatkan dari hasil kuesioner selanjutnya dilakukan perhitungan skor persentase  Hasil: Total subjek pada penelitian ini adalah 28 siswa dengan hasil penelitian menunjukkan 39,3% responden bersikap netral terhadap perceived susceptibility, 42% netral terhadap perceived benefits, dan 38% tidak mengalami barriers signifikan. Pada cues to action, 34,5% tidak memiliki pemicu perilaku kesehatan gigi. Perceived severity menunjukkan distribusi merata (22,4%) antara yang menganggap serius dan agak serius. Sementara 25,7% menyatakan kurang yakin dengan kemampuan menjaga kesehatan gigi (self-efficacy). Simpulan: Siswa yang menunjukkan persepsi netral tentang kerentanan dan manfaat serta melaporkan sedikit hambatan, mereka memiliki keterbatasan dalam isyarat bertindak dan keyakinan diri. Diperlukan intervensi untuk meningkatkan kesadaran dan kepercayaan diri siswa dalam menjaga kesehatan gigi.KATA KUNCI: Health belief model, perilaku, kesehatan gigi, siswa, sekolah dasarModeling and assessment of dental health behavior among elementary school students using the Health Belief Model (HBM) with the OHBQAHBM instrument: a cross-sectional study ABSTRACT Introduction: Dental health behavior is an important aspect of elementary school students’ well-being, especially for those in grade 6 who are in the phase of permanent tooth eruption. The Health Belief Model (HBM) is one of the health behavior theories commonly used to explain and predict individual health behaviors, including oral health behavior in children. This analytical cross-sectional study aimed to analyze the dental health behavior of 6th-grade students at SD MIN 3 Banjar using the HBM approach. Methods: This study used an analytical cross-sectional design. Data were collected using the Oral Health Behavior Questionnaire for Adolescents Based on the Health Belief Model (OHBQAHBM) instrument, with total sampling applied to the entire population. The data obtained from the questionnaires were analyzed by calculating percentage scores. Results: The total number of subjects in this study were 28 students. The results showed that 39.3% of respondents had a neutral attitude toward perceived susceptibility, 42% were neutral regarding perceived benefits, and 38% did not experience significant barriers. Regarding cues to action, 34.5% lacked triggers for dental health behavior. Perceived severity showed an even distribution (22.4%) between those who considered it serious and somewhat serious. Meanwhile, 25.7% expressed low confidence in their ability to maintain dental health (self-efficacy). Conclusion: Students who demonstrated neutral perceptions of susceptibility and benefits and reported few barriers also showed limited cues to action and self-confidence. Interventions are needed to enhance students’ awareness and self-efficacy in maintaining good oral health.KEY WORDS: Health Belief Model, behaviour, dental health, students, elementary school 
Penilaian densitas tulang alveolar sebelum perawatan implant menggunakan radiografi dental dan DEXA: a scoping review Pramanik, Farina; Jamaluddin, Rafiqah Rezky Amelia; Inayah, Rifarana; Wulansari, Daisy; Anggraini, Jamas Ari; Sukotjo, Cortino
Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students Vol 9, No 3 (2025): Oktober 2025
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/pjdrs.v9i3.65953

Abstract

ABSTRAKPendahuluan: Stabilitas implan sangat dipengaruhi oleh densitas tulang alveolar, dimana densitas tulang yang tinggi akan meningkatkan stabilitas primer implan dan mendukung osseointegrasi, sehingga evaluasi densitas tulang merupakan tahap yang penting sebelum dilakukan pembedahan. Pemeriksaan radiografi untuk evaluasi kualitas tulang merupakan prosedur yang penting dalam perencanaan sebelum pembedahan implan, oleh karena mudah didapatkan dan tidak bersifat invasif. Radiografi periapikal, panoramik dan CBCT merupakan teknik yang paling sering digunakan untuk mengevaluasi kualitas tulang pada perawatan implant. Sedangkan, DEXA merupakan metode gold standard untuk mengukur densitas mineral tulang. Jurnal ini bertujuan untuk menilai densitas tulang sebelum pemasangan implan, menggunakan radiografi periapikal, panoramik, CBCT dan DEXA. Metode: Scoping review ini menggunakan database seperti Science Direct, PubMed, PMC, Semantic Scholar, dan Google Scholar, menggunakan kata kunci: “Alveolar bone, density, presurgical, dental implant, and radiograph”. Pencarian mendapatkan 408 artikel, dan total 17 artikel yang digunakan pada jurnal ini. Hasil: Berbagai pemeriksaan radiografi dapat digunakan untuk mengevaluasi densitas tulang. Dari total 17 artikel, 7 artikel menggunakan CBCT, 2 panoramik, 3 DEXA, dan 3 menggabungkan 2 modalitas. Hasil penelitian menemukan bahwa mandibula, terutama pada anterior, memiliki densitas tulang yang lebih tinggi dibandingkan maksila. Dari berbagai artikel ini juga didapatkan beberapa perbedaan dalam teknik pengukuran, titik referensi, dan satuan (HU, g/cm³, mmAleq, GV). Simpulan: Pemeriksaan radiografi untuk mengukur densitas tulang alveolar merupakan teknik yang penting dalam menentukan rencana perawatan implant, dengan CBCT menjadi modalitas yang paling sering digunakan dan memberikan informasi yang paling banyak. Penelitian menunjukkan regio anterior mandibula memiliki densitas tulang yang paling tinggi di antara regio lainnya, sehingga mempengaruhi stabilitas implanKATA KUNCI: Densitas tulang alveolar, CBCT, DEXA, panoramik, periapikal, radiografiPre-implant assessment of alveolar bone density using dental radiographs and DEXA: a scoping review ABSTRACT Introduction: Implant stability is strongly influenced by alveolar bone density, as higher density enhances primary stability and supports long-term osseointegration, making its evaluation a crucial component in presurgical planning. Radiological assessment offers a readily available, non-invasive approach for evaluating bone quality prior to implant placement. Commonly used imaging modalities include periapical, panoramic, and cone-beam computed tomography (CBCT), while dual-energy X-ray absorptiometry (DEXA) remains the gold standard for measuring bone mineral density. This review aims to assess alveolar bone density before dental implant placement using periapical, panoramic, CBCT, and DEXA. Methods: A scoping review was conducted across Science Direct, PubMed, PMC, Semantic Scholar, and Google Scholar using the search terms “Alveolar bone, density, presurgical, dental implant, radiograph”. Inclusion and exclusion criteria were applied to 408 retrieved records, yielding 17 relevant articles for analysis. Results: Multiple radiographic methods and measurement protocols were identified. Of the 17 included studies, 7 utilized CBCT, 2 panoramic, 2 periapical, 3 DEXA, and 3 combined modalities. Findings indicated that the mandibular bone, particularly in the anterior region, generally exhibits higher density than the maxillary sites. Substantial variability was noted in measurement techniques, reference points, and units, including HU, g/cm³, mmAleq, and GV. Conclusion: Radiographic evaluation of alveolar bone density is essential for implant treatment planning. CBCT emerged as the most widely used and informative modality. Studies show that the anterior mandibular region has the highest bone density among other regions, thereby affecting implant stability.KEYWORDS: Alveolar bone density, CBCT, DEXA, panoramic, periapical, radiograph
Efektivitas antijamur ekstrak kulit buah naga merah (Hylocereus polyrhizus) terhadap Candida albicans ATCC 10231: Studi eksperimental Salsabila, Syifa Ainun Fatiha; Setiawan, Ame Suciati; Malinda, Yuti
Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students Vol 9, No 3 (2025): Oktober 2025
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/pjdrs.v9i3.65556

Abstract

ABSTRAKPendahuluan: Kandidiasis oral akibat Candida albicans merupakan masalah umum di bidang kedokteran gigi. Kulit buah naga merah (Hylocereus polyrhizus) diketahui mengandung senyawa bioaktif seperti flavonoid dan fenolik yang berpotensi sebagai antijamur. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas ekstrak kulit buah naga merah terhadap Candida albicans ATCC 10231 secara in vitro. Metode: Studi eksperimental ini menggunakan metode difusi sumur (well diffusion). Ekstrak diuji dalam dua volume (20 µL dan 100 µL) dan lima konsentrasi (50%, 25%, 12,5%, 6,25%, 3,125%). Nystatin 100.000 IU/mL digunakan sebagai kontrol positif, dan DMSO 2,5% sebagai kontrol negatif. Identifikasi mikroorganisme dilakukan melalui CHROMagar dan pewarnaan hematoksilin eosin. Hasil: Tidak menunjukan zona hambat pada seluruh perlakuan ekstrak. Sebaliknya, Nystatin menunjukkan zona hambat rerata di atas 17 mm, sementara DMSO tidak menunjukkan efek hambatan. Identifikasi morfologi mengkonfirmasi mikroorganisme uji sebagai Candida albicans. Simpulan: Ekstrak kulit buah naga merah tidak menunjukkan aktivitas antijamur terhadap Candida albicans dalam metode difusi sumur (well diffusion). Penelitian lanjutan diperlukan dengan pendekatan dan metode yang berbeda.KATA KUNCI: Candida albicans, buah naga merah, antijamur, flavonoid, difusi sumur.Antifungal effectiveness of red dragon fruit peel extract (Hylocereus polyrhizus) against candida albicans ATCC 10231: study experimentalABSTRACTIntroduction: Oral candidiasis caused by Candida albicans is a common issue in dental medicine. Red dragon fruit peel (Hylocereus polyrhizus) is known to contain bioactive compounds such as flavonoids and phenolics, which have potential antifungal properties. This study aimed to evaluate the antifungal effectiveness of red dragon fruit peel extract against Candida albicans ATCC 10231 in vitro. Methods: This experimental study employed the well diffusion method. The extract was tested in two volumes (20 µL and 100 µL) and five concentrations (50%, 25%, 12,5%, 6,25%, 3,125%). Nystatin 100,000 IU/mL was used as a positive control, and 2.5% DMSO as a negative control. Microorganism identification was conducted using CHROMagar and hematoxylin-eosin staining. Results: No inhibition zones were observed in any of the extract treatments.. In contrast, Nystatin showed consistent inhibition zones with an average diameter above 17 mm, while DMSO showed no inhibitory effect. Morphological identification confirmed the test microorganism as Candida albicans. Conclusions: Red dragon fruit peel extract did not exhibit antifungal activity against Candida albicans in the well diffusion method. Further research is needed using different approaches and methodologies.KEY WORDS: Candida albicans, red dragon fruit, antifungal, flavonoid, well diffusion
Efektivitas antijamur ekstrak aril buah delima terhadap jamur Candida albicans ATCC 10231 secara in vitro: studi eksperimental Syafiq, Ikram; Setiawan, Ame Suciati; Malinda, Yuti
Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students Vol 9, No 3 (2025): Oktober 2025
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/pjdrs.v9i3.65436

Abstract

ABSTRAKPendahuluan:  Delima (Punica granatum L.) merupakan salah satu tanaman herbal yang banyak digunakan sebagai obat tradisional dan telah diketahui mengandung senyawa alkaloid, saponin, flavonoid, punicalagin, fenolik dan tanin yang berfungsi sebagai antijamur. Mengingat adanya kebutuhan akan alternatif antijamur dengan efek samping minimal dan potensi aril buah delima sebagai antimikroba dan antijamur yang signifikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui daya hambat ekstrak aril buah delima terhadap C. albicans yang merupakan jamur penyebab oral candidiasis. Metode: Ekstrak aril buah delima diperoleh melalui maserasi kemudian diencerkan hingga mendapatkan konsentrasi 50%, 25%, 12,5%, 6,25%, dan 3,12%. Uji aktivitas antijamur dilakukan menggunakan metode difusi agar dengan cara mengukur diameter zona hambat. Hasil pengukuran diambil nilai rata-ratanya untuk melihat pengaruh konsentrasi ekstrak aril buah delima terhadap pertumbuhan C. albicans. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak aril buah delima konsentrasi 50%, 25%, 12.5%, 6.25% dan 3.12% tidak menghasilkan zona hambat. Simpulan: Berdasarkan hasil penelitian dapat diperoleh simpulan bahwa ekstrak aril buah delima tidak memiliki daya hambat terhadap C. albicans.KATA KUNCI: Oral candidiasis, ekstrak aril buah delima, antijamur, C. albicans, diameter zona hambat.Antifungal efficacy of pomegranate aril extract against Candida albicans ATCC 10231 in vitro: an experimental study  ABSTRACT Introduction: Pomegranate (Punica granatum L.) is one of the herbal plants that is widely used as a traditional medicine and has been known to contain alkaloids, saponins, flavonoids, punicalagin, phenolics and tannins that function as antifungals. Given the need for alternative antifungals with minimal side effects and the potential of pomegranate aril as significant antimicrobials and antifungals. This study aims to determine the inhibitory power of pomegranate aril extract against C. albicans which is a fungus that causes oral candidiasis. Methods: The antifungal activity test was carried out using the agar diffusion method by measuring the diameter of the inhibition zone. The average value of the measurement results was taken to see the effect of the concentration of pomegranate aril extract on the growth of C. albicans. Results: The results showed that pomegranate aril extract concentrations of 50%, 25%, 12.5%, 6.25% and 3.12% did not produce an inhibition zone Conclusions: Based on the results of the study, it can be concluded that pomegranate aril extract has no inhibitory power against C. albicans.KEY WORDS: Oral candidiasis, pomegranate aril extract, antifungal, C. albicans, inhibitory zone diameter.
Aplikasi dan pengembangan terkini artificial intelligence untuk analisis implan gigi osseointegrasi berbasis radiografi: Scoping Review Arius, Nabila Haditya; Pramanik, Farina; Lita, Yurika Ambar
Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students Vol 9, No 3 (2025): Oktober 2025
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/pjdrs.v9i3.64986

Abstract

ABSTRAKPendahuluan: Osseointegrasi merupakan faktor kunci dalam keberhasilan implan gigi, namun evaluasi konvensional seperti radiografi 2D dan histomorfometri memiliki keterbatasan dalam subjektivitas dan efektivitas. Artificial Intelligence (AI) menawarkan solusi inovatif untuk meningkatkan presisi dan kecepatan analisis. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis aplikasi dan pengembangan AI dalam analisis osseointegrasi implan gigi menggunakan radiografi melalui scoping review. Metode: Pencarian sistematis dilakukan di PubMed, Scopus, MEDLINE, Embase, dan Web of Science (2014–2024) dengan kerangka PCC (Population: pasien implan gigi, Concept: AI, Context: klinis) menggunakan framework Arksey dan O’Malley serta panduan dari Joanna Briggs Institute (JBI). Hasil: Dari 11 artikel terpilih (2019–2024), mayoritas menggunakan radiografi periapikal dan CBCT sebagai modalitas utama, dengan model deep learning berbasis CNN (Convolution Neural Network) (seperti YOLOv7 dan ResNet-50) menunjukkan kinerja optimal dalam memprediksi kehilangan tulang marginal (akurasi 70,2–96,13%) dan stabilitas implan. Radiografi periapikal unggul dalam akurasi (94,74%) dan presisi (100%), sementara CBCT (Cone Beam Computed Tomography) menawarkan analisis volumetrik lebih detail dengan kecepatan pemrosesan hingga 76 ms. Meski demikian, variasi parameter radiografi dan ketergantungan pada dataset kecil (44–2920 gambar) berpotensi menyebabkan overfitting. Kolaborasi multi-institusi dan standarisasi teknik radiografi diperlukan untuk meningkatkan kemampuan AI dalam praktik klinis. Simpulan: Model deep learning (CNN, YOLOv7) dan machine learning (SVM) terbukti efektif dalam analisis osseointegrasi, terutama untuk marginal bone loss menggunakan radiografi periapikal dan CBCT. AI berpotensi merevolusi evaluasi implan gigi, namun implementasi klinis memerlukan validasi eksternal dan standardisasi data.KATA KUNCI: Artificial intelligence, implan gigi, osseointegrasi, deep learning, analisis radiografiCurrent applications and development of artificial intelligence for osseointegration dental implant analysis: Scoping ReviewABSTRACTIntroduction: Osseointegration is a key factor in dental implant success, but conventional evaluations such as two dimensional (2D) radiography and histomorphometry are limited by subjectivity and restricted diagnostic capacity. Artificial Intelligence (AI) offers an innovative solution to improve both precision and speed of analysis. This study aims to explore current applications and advancements in AI-based osseointegration analysis of dental implants using radiographs through a scoping review. Methods: A systematic search was conducted in PubMed, Scopus, MEDLINE, Embase, and Web of Science (2014–2024), using the PCC framework (Population: dental implant patients, Concept: AI, Context: clinical). The review followed the Arksey and O’Malley methodological framework and the Joanna Briggs Institute (JBI) guidelines. Results: Of the 11 selected articles (2019-2024), the majority used periapical radiography and CBCT (Cone Beam Computed Tomography) as the primary imaging modalities, with CNN (Convolution Neural Network)-based deep learning models (such as YOLOv7 and ResNet-50) demonstrated strong predictive performance for marginal bone loss (accuracy 70.2-96.13%) and implant stability. Periapical radiographs achieved high accuracy (94.74%) and precision (100%), while CBCT enabled more detailed volumetric analysis with processing speeds of up to 76 ms. However, variability in radiographic parameters and reliance on small datasets (44-2920 images) could lead to model overfitting. Multi-institutional collaboration and standardization of imaging protocols are required to enhance AI performance and generalizability in clinical practice. Conclusion: Deep learning (CNN, YOLOv7) and machine learning (SVM) models have proven effective in osseointegration analysis, particularly in predicting marginal bone loss using periapical radiographs and CBCT. AI has the potential to revolutionize dental implant evaluation, but clinical implementation requires external validation and data standardization.KEY WORDS: Artificial intelligence, dental implant, osseointegration, deep learning, radiographic analysis
Hubungan derajat keasaman saliva dengan karies gigi pada anak: Studi Cross-sectional Salsabila, Dini Amalia; Tarina, Yolanda; Nababan, Hizkia Desmon Ananda; Merdekawati, Mega; Setiawan, Ignatius; Rahmawati, Dicha Yuliadewi
Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students Vol 9, No 3 (2025): Oktober 2025
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/pjdrs.v9i3.64714

Abstract

ABSTRAKPendahuluan: Karies gigi merupakan salah satu permasalahan kesehatan gigi dan mulut yang paling umum terjadi di masyarakat. Derajat keasaman (pH) saliva memiliki peran penting dalam proses terbentuknya karies gigi, di mana semakin asam pH saliva maka semakin mudah karies terjadi. Penurunan pH saliva dapat menyebabkan demineralisasi pada permukaan gigi, sedangkan peningkatan pH saliva dapat mendorong pertumbuhan koloni bakteri yang berkontribusi terhadap pembentukan kalkulus. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara derajat keasaman saliva dengan karies gigi pada anak. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan desain cross-sectional. Metode pengambilan sampel yaitu total sampling dengan kriteria inkulsi sampel berasal dari siswa kelas III dan IV. Pemeriksaan karies gigi dilakukan menggunakan indeks DMF-T dan def-t, sedangkan pemeriksaan pH saliva menggunakan metode spitting. Data hasil pemeriksaan dianalisis secara univariat untuk menggambarkan karakteristik masing-masing variabel, dan secara bivariat menggunakan uji Chi-square untuk mengetahui hubungan antara kedua variabel. Hasil: Penelitian menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara derajat keasaman saliva dan tingkat karies gigi pada anak. Secara univariat, rerata pH saliva adalah Hal ini dibuktikan oleh nilai p-value sebesar 0,018 (<0,05), yaitu 0,018 maka H0 ditolak dan H1 diterima. Ditemukan bahwa semakin asam pH saliva, semakin tinggi tingkat karies gigi yang dialami anak. Simpulan: Penelitian ini menyimpulkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara derajat keasaman pH saliva dan kejadian karies gigi pada siswa kelas III dan IV SDN 1 Mekarharja Kota Banjar. Hubungan tersebut dibuktikan melalui uji statistik yang menunjukkan nilai p < 0,05.KATA KUNCI: Derajat keasaman saliva, pH saliva, karies gigi, anak sekolah dasar, demineralisasi enamelThe Correlation Between Salivary Acidity and Dental Caries on Pupils at 3rd and 4th Grade of State Elementary School 1 Mekarharja Banjar City in 2024: Studi observasionalABSTRACTIntroduction: Dental caries is one of the most common dental and oral health problems in society. The degree of acidity (pH) of saliva plays an important role in the process of dental caries formation, where the more acidic the pH of saliva, the easier it is for caries to occur. A decrease in salivary pH can cause demineralization on the tooth surface, while an increase in salivary pH can encourage the growth of bacterial colonies that contribute to calculus formation. This study aims to analyze the relationship between the degree of salivary acidity and dental caries in children. Methods: This study is an analytical observational study with a cross-sectional design. The sampling method is total sampling with sample inclusion criteria coming from students in grades III and IV. Dental caries examination was carried out using the DMF-T and def-t indices, while salivary pH examination used the spitting method. The examination data were analyzed univariately to describe the characteristics of each variable, and bivariately using the Chi-square test to determine the relationship between the two variables. Results: Research shows a significant relationship between the acidity level of saliva and the level of dental caries in children. Univariately, the average salivary pH is This is proven by the p-value of 0.018 (<0.05), which is 0.018, so H0 is rejected and H1 is accepted. It was found that the more acidic the salivary pH, the higher the level of dental caries experienced by children. Conclusion: This study concludes that there is a significant relationship between the degree of acidity of salivary pH and the incidence of dental caries in students of grades III and IV of SDN 1 Mekarharja, Banjar City. This relationship is proven through statistical tests which show a p value <0.05.KEY WORDS: Salivary acidity degree, salivary pH, dental karies, elementary school children, enamel demineralization
Measuring patient satisfaction based on a cross-cultural adaptation of ACTA questionnaire: a cross-sectional study Tarman, Krisnawati; Widayati, Retno; Kusdhany, Lindawati; Hassan, Wan Nurazreena Wan
Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students Vol 9, No 3 (2025): Oktober 2025
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/pjdrs.v9i3.67436

Abstract

ABSTRACT Introduction: Patient satisfaction after orthodontic treatment is influenced by several factors. Variables such as gender, age, duration of treatment, compliance, and dentofacial improvement also contribute to the level of satisfaction. The aim of this study was to measure patients’ satisfaction with their orthodontic treatment using ACTA Questionnaire at the Orthodontic Clinic, Dental Hospital Faculty of Dentistry Universitas Indonesia. Methods: A cross sectional study to measure patient satisfaction. A validated patient satisfaction questionnaire consisting of five domains and 34 items, was used. The questionnaire was distributed to all patients who met the inclusion criteria via WhatsApp. This study included 120 respondents (93 females and 27 males). Results: The internal consistency of the total scale and the five domains was satisfactory.  Respondents were most satisfied with Domain 1, which concerned the doctor-patient relationship and were least satisfied with domain 5, which addressed situational aspects. Patient satisfaction reflects the quality of health services. In this study, 51.6% of female respondents were satisfied with the treatment, but there were no significant differences between genders. Conclusion: The doctor-patient relationship remains the most important factor contributing to patient satisfaction. Age, gender, education level and socioeconomic status did not influence patient satisfaction. . KEY WORDS: patient satisfaction, cross-cultural adaptation, ACTA questionnaire, risk factors, socioeconomic.Kepuasan pasien diukur menggunakan adaptasi lintas budaya kuesioner ACTA: Studi cross-sectionalABSTRAK Pendahuluan: Kepuasan pasien setelah perawatan ortodonti dipengaruhi oleh beberapa faktor. Faktor-faktor seperti jenis kelamin, usia, durasi pengobatan, kepatuhan, dan perbaikan dentofasial juga terlihat berkontribusi pada tingkat kepuasan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengukur kepuasan pasien terhadap perawatan ortodontik menggunakan ACTA Questionnaire di Klinik Ortodontik Rumah Sakit Gigi Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia. Metode: Untuk mengukur kepuasan pasien, digunakan kuesioner yang divalidasi tentang kepuasan pasien yang terdiri dari 5 domain dan 34 items. Kuesioner dikirim ke semua pasien yang sesuai dengan kriteria inklusi melalui WhatsApp. Penelitian ini melibatkan 120 responden, yang terdiri dari 93 perempuan dan 27 laki-laki. Hasil: Konsistensi internal dari skala total dan 5 domain memuaskan.  Responden paling puas dalam domain 1 mengenai hubungan dokter-pasien dan paling tidak puas dalam domain 5 pada aspek situasional. Kepuasan pasien adalah hasil dari pelayanan kesehatan yang baik. Dalam penelitian ini 51,6% responden perempuan puas dengan perawatan ortodonti, tetapi tidak ada perbedaan yang signifikan antara jenis kelamin. Simpulan: Hubungan dokter-pasien tetap menjadi faktor terpenting yang berkontribusi pada kepuasan pasien. Usia, jenis kelamin, pendidikan dan faktor sosial-ekonomi tidak mempengaruhi kepuasan pasien.KATA KUNCI: kepuasan pasien, adaptasi lintas budaya, kuesioner ACTA, faktor resiko, sosio-ekonomi
Peningkatan pengetahuan mengenai karies setelah pemberian intervensi video edukasi melalui aplikasi tiktok pada siswa Madrasah Aliyah Negeri: Studi eksperimental Pitri, Sulpia; Taursia Wisnu, Fredy Rendra; Yandi, Satria
Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students Vol 9, No 3 (2025): Oktober 2025
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/pjdrs.v9i3.66286

Abstract

ABSTRAKPendahuluan: Karies gigi merupakan masalah kesehatan gigi dan mulut yang sering terjadi pada remaja, salah satunya disebabkan oleh rendahnya pengetahuan tentang perawatan kesehatan gigi. Media sosial dapat menjadi alternatif yang efektif untuk mendapat informasi dan menunjang kegiatan pembelajaran, salah satunya adalah Tiktok. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis perbedaan pengetahuan mengenai karies gigi sesudah pemberian intervensi video edukasi melalui aplikasi TikTok Metode: Jenis penelitian ini adalah kuantitatif dengan desain kuasi eksperimen. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa-siswi kelas X di MAN 3 Kota Padang sebanyak 80 yang diambil secara simple random sampling. Analisis data menggunakan uji wilcoxon. Hasil: Tingkat pengetahuan siswa sebelum diberikan video edukasi paling banyak dengan kriteria cukup yaitu 49 orang (61,3%), sedangkan tingkat pengetahuan siswa sesudah diberikan video edukasi paling banyak dengan kriteria baik yaitu 54 orang (67,5%) dan terdapat peningkatan tingkat pengetahuan sebelum dan sesudah diberikan video edukasi melalui tiktok mengenai karies gigi pada siswa kelas X MAN 3 Kota Padang (p=0,004). Simpulan: Terdapat peningkatan pengetahuan mengenai karies gigi setelah diberikan intervensi pemberian video edukasi melalui aplikasi TikTok. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi bagi tenaga pendidik dan tenaga kesehatan dalam memanfaatkan media sosial sebagai sarana edukasi yang inovatif dan efektif.KATA KUNCI: Tiktok, edukasi kesehatan, video edukasi, pengetahuan karies, remajaThe effect of educational videos through the tiktok application on increasing knowledge about caries of State Islamic High School: Study experimentalABSTRACTIntroduction: Dental caries is a common oral health problem among teenagers, partly caused by low levels of knowledge about dental care. Social media can be an effective alternative for obtaining information and supporting learning activities, and one such platform is Tiktok. Objective the aim of this study was to analyze changes in knowledge regarding dental caries before and after providing educational video interventions through the TikTok application. Methods: This quantitative study used a quasi-experimental design. The population in this study consisted of 80 tenth-grade students at MAN 3 Padang City, selected using simple random sampling. Results: The results showed that before the intervention, most students had a moderate level of knowledge (49 students, 61.3%), while after viewing the educational videos, most students demonstrated good knowledge (54 students, 67.5%). There was a significant increase in knowledge levels before and after the educational video educational video intervention delivered via TikTok regarding dental caries among tenth-grade students at MAN 3 Padang City (p=0.004). Conclusion:  Knowledge about dental caries increased after the educational video intervention through the TikTok application. This research may serve as a reference for educators and healthcare professionals to utilize social media as an innovative and effective educational tool.KEYWORDS: Tiktok, health education, educational videos, caries knowledge, teenagers     
Peran Teknologi Haptik Virtual Reality dalam Pendidikan Kedokteran Gigi: Tinjauan Sistematik Abraari, Mohammad Agiel; Syawqie, Achmad; Nur'aeny, Nanan
Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students Vol 9, No 3 (2025): Oktober 2025
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/pjdrs.v9i3.65494

Abstract

Pendahuluan: Mahasiswa kedokteran gigi membutuhkan keterampilan motorik klinis yang baik, namun pelatihan konvensional seperti manekin memiliki keterbatasan dalam memberikan umpan balik sensorik. Teknologi haptic virtual reality (VR) menawarkan solusi modern dengan simulasi taktil yang realistis, namun efektivitasnya masih perlu dikaji secara sistematis. Studi ini bertujuan mengevaluasi efektivitas haptic VR dalam meningkatkan keterampilan motorik, pengetahuan, dan kepercayaan diri mahasiswa. Metode: Penelitian dilakukan melalui systematic review dengan pedoman PRISMA, mencakup 12 artikel dari database PubMed, Scopus, ScienceDirect, dan Google Scholar. Analisis dilakukan secara naratif karena heterogenitas studi. Hasil: menunjukkan bahwa haptic VR efektif dalam pelatihan prosedur seperti preparasi karies, scaling, veneer, dan pulpotomi. Mahasiswa mengalami peningkatan koordinasi tangan-mata, pemahaman prosedur, dan kepercayaan diri. Efektivitas dipengaruhi oleh kualitas perangkat, pengalaman pengguna, dan integrasi dalam kurikulum. Simpulan: haptic VR belum menggantikan metode tradisional, namun berpotensi sebagai alat bantu yang efektif, khususnya dalam pelatihan endodontik, periodontik, konservasi, prostodontik, dan kedokteran gigi anak.
Perbedaan efek nekrosis pulpa antara pemberian pasta getah jarak pagar (Jatropha curcas) dan formokresol pada molar satu maksila tikus wistar: Studi eksperimental Sitanggang, Pinantri Agnes; Salmiah, Siti
Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students Vol 9, No 3 (2025): Oktober 2025
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/pjdrs.v9i3.67268

Abstract

ABSTRAKPendahuluan: Pulpitis adalah suatu peradangan pada pulpa yang dapat sembuh kembali atau terus berlanjut. Devitalisasi pulpa digunakan sebagai perawatan gigi untuk pulpitis karena menyebabkan mati rasa pada saraf. Formokresol adalah salah satu bahan devitalisasi pulpa tetapi memiliki efek toksik. Getah jarak pagar merupakan solusi yang mudah karena mengandung senyawa alkaloid yang dapat menghancurkan peptidoglikan pada sel penyebab nekrosis pulpa. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis perbedaan efek nekrosis pulpa pada pemberian pasta getah jarak pagar dan formokresol molar satu maksila tikus Wistar. Metode: Desain penelitian ini menggunakan rancangan eksperimental post test only control group design. Jenis analisis statistik menggunakan uji one-way ANOVA dan dilanjutkan uji post hoc LSD. Terdapat 2 kelompok pada penelitian ini antara lain kelompok pasta getah jarak pagar 50% dan kelompok formokresol dengan masing-masing 16 sampel. Bahan perlakuan (pasta getah jarak pagar 50% atau formokresol) ditempatkan pada kavitas gigi tikus Wistar dan ditutup dengan tumpatan sementara ZOE. Hari ke-14 dilakukan dislokasi leher pada tikus Wistar untuk pengambilan sampel gigi dan pembuatan slide jaringan. Hasil: Berdasarkan hasil uji statistik dengan menggunakan one-way ANOVA terdapat perbedaan yang signifikan pada sel pulpa yang mengalami nekrosis pada hari ke-14. Uji post hoc LSD terdapat perbedaan yang signifikan antara kelompok pasta getah jarak pagar 50% dan formokresol dengan nilai p=0,001 (p˂0,05). Simpulan:  Pasta getah jarak pagar 50% adalah konsentrasi yang efektif sebagai bahan alternatif devitalisasi pulpa pada molar satu maksila tikus Wistar. Pasta getah jarak pagar 50% menghasilkan jumlah sel nekrosis lebih tinggi pada jaringan pulpa molar satu maksila tikus Wistar dibandingkan formokresol. KATA KUNCI: Pasta getah jarak pagar, formokresol, devitalisasi pulpa, nekrosis pulpa.Differences in the effects of pulp necrosis between jatropha (Jatropha curcas) gum paste and formocresol on the maxillary first molars of wistar rats: Study experimentalABSTRACTIntroduction: Pulpitis is an inflammation of the pulp that can heal or persist. Pulp devitalization is a dental treatment for pulpitis to eliminate pulp sensation. Formocresol is a pulp devitalization agent, but it has toxic effects. Jatropha curcas is a convenient solution because it contains alkaloid compounds that can destroy peptidoglycan in the cells, causing pulp necrosis. The aim of this study was to analyze the difference in the effects of pulp necrosis following the application of Jatropha curcas gum paste and formocresol on the maxillary first molars of Wistar rats. Methods: This study used an experimental, post-test-only control group design. The type of statistical analysis used a one-way ANOVA test and continued with a post hoc LSD test. There were 2 groups in this study, namely the 50% Jatropha curcas gum paste group and the formocresol group with 16 samples each. The treatment material (50% Jatropha curcas gum paste or formocresol) was placed in the dental cavities of Wistar rats and covered with temporary ZOE fillings. On day 14, the Wistar rats underwent cervical dislocation for tooth sampling and tissue slide preparation. Results: Statistical tests using one-way ANOVA revealed a significant difference in pulp cell necrosis on day 14. A post hoc LSD test revealed a significant difference between the 50% Jatropha curcas gum paste groups and formocresol with p-value 0.001 (p<0.05). Conclusion: Jatropha curcas gum paste at 50% concentration was effective as alternative for pulp devitalization on the maxillary first molars of Wistar rats. Jatropha curcas gum paste produced a higher number of necrotic cells in the pulp tissue of maxillary first molars of Wistar rats compared to formocresol.KEY WORDS: Jatropha curcas gum paste, formocresol, pulp devitalization, pulp necrosis.