cover
Contact Name
Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students
Contact Email
jurnal.fkg@unpad.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jurnal.fkg@unpad.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students
ISSN : 26569868     EISSN : 2656985X     DOI : -
Core Subject : Health, Science,
Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students adalah open access journal berbahasa Indonesia, yang menerbitkan artikel penelitian dari para peneliti pemula dan mahasiswa di semua bidang ilmu dan pengembangan dasar kesehatan gigi dan mulut melalui pendekatan interdisipliner dan multidisiplin. Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students diterbitkan oleh Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran dua kali setahun, setiap bulan Februari dan Oktober. Bidang cakupan Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students adalah semua bidang ilmu kedokteran gigi, yaitu biologi oral; ilmu dan teknologi material gigi; bedah mulut dan maksilofasial; ilmu kedokteran gigi anak; ilmu kesehatan gigi masyarakat, epidemiologi, dan ilmu kedokteran gigi pencegahan; konservasi gigi, endodontik, dan kedokteran gigi operatif; periodonsia; prostodonsia; ortodonsia; ilmu penyakit mulut; radiologi kedokteran gigi dan maksilofasial; serta perkembangan dan ilmu kedokteran gigi dari pendekatan ilmu lainnya. Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students mengakomodasi seluruh karya peneliti pemula dan mahasiswa kedokteran gigi untuk menjadi acuan pembelajaran penulisan ilmiah akademisi kedokteran gigi.
Arjuna Subject : -
Articles 299 Documents
Mothers’ practices in children’s dental health and early childhood caries: A scoping review Zia, Hanim Khalida; Syah, Nur Afrainin; Machmud, Rizanda; Kasuma, Nila; Dasman, Hardisman; Mona, Deli; Purna, Rozi Sastra; Bachtiar, Adang
Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students Vol 9, No 3 (2025): October 2025
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/pjdrs.v9i3.67067

Abstract

ABSTRAKIntroduction: The World Health Organization (WHO) in 2022 reported that dental and oral diseases affect approximately 3.5 billion people globally, including 2 billion adults and 514 million children suffering from dental caries. Dental caries occurring in early childhood is known as Early Childhood Caries (ECC). This study aims to identify mothers' practices on children's dental health and early childhood caries. Methods: This study used a scoping review method. The article selection was conducted by searching the PubMed and ScienceDirect databases using the keywords Knowledge, Attitude, Practice, Mother, Early Childhood Caries. Articles were screened according to inclusion and exclusion criteria, titles, abstracts, and content relevance, resulting in 21 studies included for review. Data were analyzed using Exploratory Data Analysis (EDA) to identify maternal practices related to children's dental health and early childhood caries. Results: This study showed that mothers' practices in children's dental health and early childhood caries consisted of three main areas: maintaining oral health, feeding practices, and prevention of bacterial transmission. Maintaining oral health, included seeking information on oral health, taking children to the dentist, assisting them with brushing using fluoride toothpaste, replacing toothbrushes regularly, brushing the tongue, using dental floss for children, and encouraging rinsing after eating. Feeding practices involved frequently giving children sweet foods and drinks, breastfeeding at night, providing formula milk, and giving milk bottles. Prevention of bacterial transmission included maintaining oral health during pregnancy and pre-chewing food before feeding the child. Conclusion: Mothers’ practices in children's dental health and early childhood caries primarily involve oral health maintenance, feeding management, and prevention of bacterial transmission.KEY WORDS: knowledge, attitude, practice, mother, early childhood cariesPraktik ibu dalam kesehatan gigi anak dan early childhood caries: Scoping reviewABSTRACTPendahuluan: World Health Organization (WHO) tahun 2022 menyatakan penyakit gigi dan mulut memengaruhi 3,5 miliar orang di seluruh dunia. Sebanyak 2 miliar orang dewasa dan 514 juta anak menderita karies gigi. Karies gigi pada usia dini disebut Early Childhood Caries (ECC). Tujuan penelitian ini menganalisis praktik ibu dalam kesehatan gigi anak dan early childhood caries. Metode: Penelitian ini menggunakan metode scoping review. Proses seleksi artikel dilakukan pencarian artikel menggunakan kata kunci Knowledge, Attitude, Practice, Mother, Early Childhood Caries pada database PubMed dan Science Direct, penyaringan berdasarkan kriteria inklusi, eksklusi, judul, abstrak, dan isi yang sesuai topik didapatkan 21 artikel untuk di review. Data dianalisis dengan cara Eksplorasi Data (EDA) untuk mengetahui apa saja praktik ibu dalam kesehatan gigi anak dan early childhood caries. Hasil: Penelitian ini menunjukkan praktik ibu dalam kesehatan gigi anak dan early childhood, yaitu pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut, meliputi mencari informasi kesehatan gigi dan mulut anak, membawa anak ke dokter gigi, mendampingi anak menyikat gigi, memberi anak pasta gigi berfluoride, mengganti sikat gigi anak, menyikat lidah anak, menggunakan benang gigi untuk anak, dan membiasakan anak berkumur setelah makan. Pemberian makanan, meliputi sering memberi anak makanan manis, sering memberi anak minuman manis, sering memberi ASI anak malam hari, memberi anak susu formula, dan memberi anak botol susu. Pencegahan transmisi bakteri, meliputi menjaga kesehatan gigi ketika hamil dan mengunyahkan makanan anak. Simpulan: Penelitian ini menyimpulkan praktik ibu dalam kesehatan gigi anak dan early childhood caries yaitu pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut, pemberian makanan, serta pencegahan transmisi bakteri.KATA KUNCI: pengetahuan, sikap, praktik, ibu, early childhood caries 
Correlation between the level of orthodontic treatment need and dental anxiety among undergraduate dental students: Study observasional Gabriella, Rut Sahatna; Laviana, Avi; Suryanti, Netty
Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students Vol 9, No 3 (2025): October 2025
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/pjdrs.v9i3.64851

Abstract

ABSTRAKIntroduction: The aesthetic component of the Index of Orthodontic Treatment Need (IOTN-AC) assesses the need for orthodontic treatment as well as its psychosocial impact. One common psychosocial impact is dental anxiety, which can hinder individuals from undergoing orthodontic treatment. This study aimed to analyze the level of orthodontic treatment need using IOTN-AC and dental anxiety, as well as to analyze the correlation between both variables among dental students. Methods: This correlational analytic study with an observational approach employed a purposive sampling technique involving dental students of Universitas Padjadjaran. Data were collected online through a Google Form containing a dental anxiety questionnaire and IOTN-AC assessment. The subjects consisted of 46 active undergraduate dental students from the 2021 and 2022 batches who had never received fixed or removable orthodontic treatment. Data were analyzed using the Spearman rank correlation test. Results: A total of 60.9% of respondents did not require orthodontic treatment, 28.3% had a mild need, and 10.8% had a moderate need. Among those with no treatment need, 6.5% reported no anxiety, 26.1% low anxiety, 24% moderate anxiety, and 4.3% high anxiety. Among those with mild to moderate treatment need, 2.2% reported no anxiety, 15.2% low, 17.4% moderate, and 4.3% high anxiety. Spearman’s test showed a negative correlation between treatment need and dental anxiety (p=0.032; r=-0.506). Conclusions: The higher the level of orthodontic treatment need, the lower the level of dental anxiety among dental studentsKEY WORDS: Index of orthodontic treatment need, dental anxiety, malocclusion, undergraduate studentsKorelasi antara tingkat kebutuhan perawatan ortodonti dengan dental anxiety mahasiswa program studi sarjana kedokteran gigi: Studi observasionalABSTRACTPendahuluan:  Komponen estetika Index of Orthodontic Treatment Need (IOTN-AC) menilai kebutuhan perawatan ortodonti serta dampak psikososialnya. Dampak psikososial yang umum terjadi adalah dental anxiety yang dapat menghambat individu menjalani perawatan ortodonti. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat kebutuhan perawatan ortodonti menggunakan IOTN-AC dan dental anxiety serta korelasi antara keduanya pada mahasiswa kedokteran gigi. Metode: Penelitian analitik korelasional dengan pendekatan observasional dan menggunakan teknik purposive sampling pada mahasiswa Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran, Pengumpulan data secara daring melalui google form yang berisi kuesioner dental anxiety dan penilaian IOTN-AC. Subjek penelitian adalah 46 mahasiswa aktif Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran angkatan 2021, 2022 dan belum pernah mendapatkan perawatan ortodonti cekat maupun lepasan. Analisis data menggunakan uji korelasi rank spearman; Hasil: 60,9% responden tidak membutuhkan perawatan ortodonti, 28,3 kebutuhan ringan, dan 10,8% kebutuhan sedang. Responden yang tidak membutuhkan perawatan menunjukan 6,5% tidak cemas, 26,1% kecemasan rendah, 24% kecemasan sedang, 4,3% kecemasan tinggi. Kebutuhan perawatan ringan dan sedang menunjukkan 2,2% tidak cemas, 15,2% kecemasan rendah, 17,4% kecemasan sedang dan 4,3% kecemasan tinggi. Uji spearman menunjukan korelasi negatif antara tingkat kebutuhan perawatan ringan dan sedang dengan tingkat dental anxiety (p-value=0,032; r= -0,506). Simpulan: Semakin tinggi tingkat kebutuhan perawatan ortodonti, maka tingkat dental anxiety cenderung semakin rendah pada mahasiswa sarjana kedokteran gigi.KATA KUNCI: Indeks kebutuhan perawatan ortodonti, dental anxiety, maloklusi, mahasiswa 
Oral health literacy improvement among adolescents and toddlers and early detection of toddler oral health as baseline data for empowerment: Study cross-sectional Suwargiani, Anne Agustina; Putri, Fidya Meditia; Hamdani, Ardena Maulidia; Yubiliana, Gilang; Setiawan, Asty Samiaty; Susilawati, Sri; Zubaedah, Cucu; Suryanti, Netty
Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students Vol 10, No 1 (2026): February 2026
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/pjdrs.v10i1.68318

Abstract

ABSTRACTIntroduction: Community empowerment is essential in Indonesia due to the limited number of health professionals, their uneven distribution, and the low level of oral health literacy in the population. Empowerment efforts should reach all population groups and align with the Healthy Indonesia 2030 agenda, which emphasizes preventive and promotive services within a continuum of care framework. The aim of this study is to evaluate the improvement of oral health literacy through various empowerment strategies among adolescents, and to conduct early detection of oral health conditions in toddlers as baseline data for empowerment initiatives. Methods: This study used an experimental pretest and posttest design with four community empowerment approaches, including oral health literacy improvement through crossword puzzles and HELD-14 based playing cards, education on cariogenic foods for adolescents and toddlers, early detection of oral health conditions in toddlers, and a 21 day good oral health habit counseling program combined with dental screening for toddlers. Participants were selected using purposive sampling. Inclusion criteria were willingness to participate, ability to read and write, and absence of hearing or speech impairments. Exclusion criteria included absence during the intervention activities and incomplete questionnaire responses or dental examinations. Data were analyzed using the Shapiro Wilk and Kolmogorov Smirnov tests for normality, followed by independent t tests and Mann Whitney tests. Results: Empowerment interventions among adolescent communities using crossword puzzles, HELD-14 based playing cards, education on cariogenic foods, and the 21 day good habit counseling program demonstrated a significant improvement in oral health literacy. Early detection results showed a significant difference in oral health status among toddlers between males and females. Conclusion: Significant differences were observed between pretest and posttest results across the four community empowerment approaches.KEY WORDS:  empowerment, literacy, education, oral health status, continuum of carePeningkatan literasi kesehatan gigi melalui berbagai metode pemberdayaan pada komunitas remaja, balita dan deteksi dini kesehatan gigi anak balita sebagai data dasar pemberdayaan: Studi cross-sectionalABSTRAKPendahuluan: Upaya pemberdayaan masyarakat sangat perlu dilakukan, karena masih terbatasnya tenaga kesehatan di Indonesia dan persebarannya tidak merata serta literasi kesehatan gigi dan mulut di masyarakat masih kurang. Upaya pemberdayaan harus menjangkau segala lapisan masyarakat dan bergerak ke arah Indonesia sehat tahun 2030 yang lebih mengupayakan preventif promotif dalam melakukan pelayanan berbasis continuum of care. Tujuan penelitian menganalisis peningkatan literasi kesehatan gigi melalui berbagai metode pemberdayaan pada komunitas remaja, balita dan deteksi dini kesehatan gigi anak balita sebagai data dasar pemberdayaan. Metode: Pendekatan eksperimen jenis pretest posttest design dengan 4 metode pemberdayaan  peningkatan literasi teka-teki silang dan kartu bermain berbasis held 14 dan peningkatan literasi mengenai makanan kariogenik pada remaja dan anak balita dan dan deteksi dini kesehatan gigi pada anak balita, penyuluhan kebiasaan baik 21 hari dan deteksi dini kesehatan gigi anak balita. Jumlah sasaran diperoleh melalui purposive sampling dengan penentuan kriteria inklusi yaitu responden yang mengikuti pemberdayaan, dapat membaca dan menulis serta tidak ada gangguan pendengaran atau bicara. Kriteria ekslusi adalah responden yang tidak hadir pada saat kegiatan, tidak melakukan pengisian kuisioner/pemeriksaan dengan lengkap. Analisis data dilakukan dengan uji normalitas shapiro Wilk dan Kolmogorov Smirnov serta uji beda t-test dan Mann-Whitney.  Hasil:  Pemberdayaan pada komunitas remaja dengan literasi teka-teki silang dan kartu bermain berbasis held 14, peningkatan literasi mengenai makanan kariogenik dan penyuluhan kebiasaan baik 21 hari menunjukkan peningkatan literasi yang signifikan. Hasil deteksi dini menunjukkan terdapat perbedaan signifikan kesehatan gigi anak balita antara laki laki dan perempuan. Simpulan: Terdapat perbedaan antara hasil pretest dan postest pada ketiga metode pemberdayaan yaitu literasi remaja dan anak balita dan terdapat perbedaan status kesehatan gigi antara laki-laki dan perempuan.KATA KUNCI: pemberdayaan, literasi, edukasi, status Kesehatan gigi, continuum of care
Oral health care value in disadvantage areas of south lampung regency, lampung province: Study Observational Al Risky, Sava; Zubaedah, Cucu; Hamdani, Ardena Maulidia
Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students Vol 10, No 1 (2026): February 2026
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/pjdrs.v10i1.69333

Abstract

Influence of chomper chums application towards private elementary school student’s PHP index : Study experimental Abigayl, Ivana; Timothy, Sampurna Kevin; Apriani, Anie; Monica, Grace; Dinata, Surya
Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students Vol 9, No 3 (2025): October 2025
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/pjdrs.v9i3.67241

Abstract

ABSTRACTIntroduction: Oral health is essential to a child’s overall well-being. Poor oral hygiene can result in dental caries, discomfort, and negatively affect daily functions such as eating, speaking, and learning. Traditional education methods like lectures often fail to engage children effectively. This study aims to analyze  the impact of Chomper Chums, a gamified mobile health application, on improving oral hygiene among elementary students at SDK Yahya Bandung. Methods: This study was a randomized controlled trial involving 175 students from grades I–VI at SDK Yahya Bandung. Samples were obtained using a total sampling technique and randomly assigned to intervention and control groups. Oral hygiene was assessed using the Personal Hygiene Performance (PHP) index with Triplaque ID gel. Data analysis was performed using SPSS version 27, employing descriptive and inferential statistical tests, including the Chi-square test, Mann–Whitney test, Spearman correlation, and simple linear regression Results: The study was divided into a control group that received health education (n = 87) and an intervention group that used an application (n = 88), with participants aged 7–12 years. The highest frequency distribution was observed in the 10- and 11-year age groups, each comprising 37 students. The results showed that before the intervention there was no significant difference in the Personal Hygiene Performance (PHP) index between the intervention and control groups (p>0.05). After the intervention, the reduction in PHP index in the Chomper Chums application group was significantly greater than in the counseling group (p<0.001). This indicates that the Chomper Chums application is more effective in improving students’ oral hygiene.Conclusion: Chomper Chums demonstrates strong potential as an effective, child-friendly oral health education tool. Further research is recommended for long-term impact evaluation.KEYWORDS: oral hygiene, dental health education, mobile applications, gamification, dental plaque index, randomized controlled trialPengaruh aplikasi chomper chums terhadap indeks PHP siswa sekolah dasar swasta: Studi eksperimentalABSTRAKPendahuluan: Kesehatan gigi dan mulut berperan penting dalam kesejahteraan anak. Kebersihan gigi yang buruk dapat menyebabkan karies, ketidaknyamanan, serta mengganggu aktivitas seperti makan dan belajar. Edukasi tradisional sering kurang menarik bagi anak-anak, sehingga pendekatan inovatif seperti aplikasi digital mulai dikembangkan. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh aplikasi edukatif Chomper Chums terhadap kebersihan gigi anak di SDK Yahya Bandung. Metode: Penelitian ini merupakan randomized controlled trial pada 175 siswa kelas I–VI SDK Yahya Bandung. Sampel diambil dengan teknik total sampling dan dibagi secara acak menjadi kelompok intervensi dan kontrol. Kebersihan gigi diukur menggunakan indeks Personal Hygiene Performance (PHP) dengan gel Tri Plaque ID.  Analisis data dilakukan menggunakan SPSS 27 dengan uji deskriptif dan inferensial, meliputi uji Chi-Square, Mann-Whitney, korelasi Spearman, serta regresi linier sederhana Hasil: Penelitian dibagi menjadi kelompok kontrol yang menerima penyuluhan (n=87) dan kelompok intervensi yang menggunakan aplikasi (n=88), dengan rentang usia 7-12 tahun, distribusi frekuensi tertinggi terdapat pada kelompok usia 10 dan 11 tahun (masing-masing 37 siswa). Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebelum intervensi tidak terdapat perbedaan bermakna indeks PHP antara kelompok intervensi dan kontrol (p>0,05). Setelah intervensi, penurunan indeks PHP pada kelompok aplikasi Chomper Chums secara signifikan lebih besar dibandingkan kelompok penyuluhan (p<0,001). Hal ini menunjukkan bahwa aplikasi Chomper Chums lebih efektif dalam meningkatkan kebersihan gigi dan mulut siswa. Simpulan: Chomper Chums efektif sebagai media edukasi anak dan diperlukan penelitian lanjutan untuk melihat efek jangka panjangnya.KATA KUNCI: kebersihan mulut, edukasi kesehatan gigi, aplikasi seluler, gamifikasi, indeks plak gigi
Dental and oral health promotion programs in prisons: A scoping review Zulfi, Gita Maisyarah; Badruddin, Iwany Amalliah; Adiatman, Melissa
Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students Vol 9, No 3 (2025): October 2025
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/pjdrs.v9i3.64458

Abstract

ABSTRACTIntroduction: The issue of oral health within the prison's environment remains a conspicuously neglected aspect of prisoner welfare. The underutilization of access to oral care constitutes a significant barrier. The necessity for effective oral health promotion programs tailored to this vulnerable population is further underscored by the high rates of oral disease and the lack of preventive measures. The objective of this study was to evaluate the extant literature on oral health programs among prisoners. Tujuan penelitian ini bertujuan untuk melakukan kajian pustaka mengenai program promosi kesehatan di lembaga pemasyarakatan. Methods: A comprehensive search was conducted in various databases, including PubMed, Scopus, Cochrane, ScienceDirect, ProQuest, EbscoHost, Nature, JSTOR, and Sage Journal, to identify oral health promotion programs in correctional institutions. The data were meticulously mapped and thematically analyzed to distill the key findings by the PRISMA-ScR guidelines. Results: the study is as follows: A review of the extant literature reveals that while many programs focus on improving oral health knowledge and behaviors, few report long-term outcomes or address systemic barriers such as inadequate access to dental care. Interventions that are tailored to the unique needs of correctional populations, such as culturally appropriate education and peer-led programs, have shown promising results. Nevertheless, the extant evidence regarding the effectiveness of these measures remains limited. Conclusion: The prisoner training program through peer coaching can be applied to improve prisoners' knowledge and literacy of dental and oral health. Prisoners who act as peer coaches for other prisoners facilitate the effective development of the program in accordance with the conditions of the correctional institution. It is hoped that improving inmates' oral health literacy will increase their motivation to access dental services and their commitment to maintaining oral health.KEY WORDS: oral health promotion, prisons, correctional populations, preventive dentistry, public health.Program promosi kesehatan gigi dan mulut di lembaga pemasyarakatan: Scoping reviewABSTRAKPendahuluan: Kesehatan gigi dan mulut merupakan masalah yang terabaikan di lingkungan Lembaga Pemasyarakatan. Kurangya pemanfaatan perawatan gigi dan mulut menunjukkan program promosi kesehatan gigi dan mulut yang efektif perlu untuk disikapi lebih lanjut dengan pertimbangan tingginya tingkat penyakit gigi dan mulut dan minimnya tindakan pencegahan terhadap populasi ini. Tujuan penelitian ini bertujuan untuk melakukan kajian pustaka mengenai program promosi kesehatan di lembaga pemasyarakatan. Metode: Pencarian komprehensif dilakukan di berbagai database seperti PubMed, Scopus, Cochrane, ScienceDirect, ProQuest, EbscoHost, Nature, JSTOR, dan Sage Journal untuk mengidentifikasi program promosi kesehatan gigi dan mulut di lembaga pemasyarakatan. Data dipetakan dan dianalisis secara tematik untuk merangkum temuan-temuan utama dengan pedoman PRISMA-ScR. Hasil: Banyak program yang berfokus pada peningkatan pengetahuan dan perilaku kesehatan gigi dan mulut, namun hanya sedikit yang melaporkan hasil jangka panjang atau mengatasi hambatan sistemik seperti akses yang tidak memadai keperawatan gigi. Intervensi disesuaikan dengan kebutuhan populasi di lembaga pemasyarakatan, seperti program pendidikan yang dipimpin oleh teman sebaya menunjukkan hasil yang menjanjikan, akan tetapi bukti tentang efektivitasnya masih terbatas. Simpulan: Kajian pustaka ini menunjukkan bahwa program promosi kesehatan gigi dan mulut di lembaga pemasyarakatan sebagian besar berfokus pada peningkatan pengetahuan dan perilaku narapidana, dengan pendekatan pendidik sebaya sebagai strategi yang paling banyak dilaporkan dan berpotensi meningkatkan partisipasi. Namun, bukti mengenai efektivitas jangka panjang serta kemampuan program dalam mengatasi hambatan sistemik, terutama keterbatasan akses layanan perawatan gigi, masih terbatas. Temuan ini menegaskan perlunya pengembangan program promosi kesehatan gigi dan mulut yang terintegrasi dengan sistem pelayanan kesehatan pemasyarakatan dan didukung oleh penelitian berbasis bukti yang lebih kuat.KATA KUNCI: promosi kesehatan gigi dan mulut, lingkungan lembaga pemasyarakatan, populasi yang di lembaga pemasyarakatan, kedokteran gigi preventif, kesehatan masyarakat.
The correlation between maternal education level and dental caries status among primary school students in West Jakarta: An observational study Panjaitan, Caesary Cloudya; Lestari, Sri; Oktiviani, Dwi
Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students Vol 10, No 1 (2026): February 2026
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/pjdrs.v10i1.67699

Abstract

ABSTRACTIntroduction: Oral health remains a public health concern in Indonesia, with dental caries being the most prevalent condition. The 2018 Basic Health Research (Riskesdas) reported high caries prevalence among school-aged children, reaching 92.6% in children aged 5–9 years and 73.4% in those aged 10–14 years. The role of parents, particularly mothers, is crucial in shaping children’s oral hygiene habits. Maternal education level may influence oral health knowledge and practices, as mothers with higher education levels generally provide better care for their children’s teeth. Objective: To analyze the correlation between maternal education level and dental caries status among 4th–6th grade students at SDN Tomang 01, West Jakarta. Methods: This analytical observational study employed a cross-sectional design involving 123 students. Data on maternal education level were collected via questionnaires, and children’s dental caries status was assessed using the DMF-T and def-t indices. Spearman’s correlation analysis was performed using SPSS v30. Results: Spearman correlation analysis revealed a significant negative correlation between maternal education level and children’s dental caries status (p < 0.05). The strength of the correlation ranged from moderate to weak, with the DMF-T index showing a moderate negative correlation (r = –0.449) and the def-t index showing a weak negative correlation (r = –0.258). Conclusion: There is a significant negative correlation, ranging from moderate to weak, between maternal education level and dental caries status in school-aged children. Higher maternal education levels are associated with lower dental caries in children.KEY WORDS: dental caries, DMF-T and def-t, primary school students, maternal education levelKorelasi tingkat pendidikan ibu dengan status karies gigi siswa sekolah dasar: Studi observasionalABSTRAKPendahuluan: Kesehatan gigi dan mulut masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia, dengan karies gigi sebagai penyakit yang paling banyak ditemui. Hasil Riskesdas 2018 menunjukkan prevalensi karies gigi pada anak sekolah lebih tinggi, yaitu 92,6% pada usia 5–9 tahun dan 73,4% pada usia 10–14 tahun. Kondisi ini dapat dipengaruhi oleh peran orang tua terutama ibu dalam membentuk kebiasaan pemeliharaan kesehatan gigi anak. Tingkat pendidikan ibu dapat mempengaruhi peningkatan pemahaman dan praktik kesehatan, sehingga ibu dengan tingkat pendidikan yang lebih baik umumnya lebih mampu menjaga kesehatan gigi dan mulut anak. Tujuan untuk menganalisis korelasi tingkat pendidikan ibu dengan status karies gigi siswa kelas 4–6 SDN Tomang 01 Jakarta Barat. Metode: Penelitian observasional analitik dengan rancangan cross sectional dengan sampel sebanyak 123 siswa. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan formulir tingkat pendidikan ibu dan pemeriksaan status karies gigi (DMF-T dan def-t) siswa. Dilakukan uji korelasi Spearman menggunakan SPSS v30 untuk melihat korelasi kedua variabel. Hasil: Analisis korelasi Spearman menunjukkan korelasi negatif yang signifikan antara tingkat pendidikan ibu dengan status karies gigi siswa (p < 0,05). Nilai koefisien korelasi yang dihasilkan berada dalam rentang dari kekuatan sedang hingga lemah, dimana indeks DMF-T menunjukkan korelasi negatif dengan kekuatan sedang (r = –0,449) dan indeks def-t menunjukkan korelasi negatif yang lemah (r = –0,258). Simpulan: Tedapat korelasi negatif dengan kekuatan sedang hingga lemah antara tingkat pendidikan ibu dengan status karies gigi siswa, semakin tinggi tingkat pendidikan ibu maka semakin rendah status karies gigi anak.KATA KUNCI: status karies, DMF-T dan def-t, siswa sekolah dasar, tingkat pendidikan 
Uji aktivitas antibakteri minyak atsiri daun sirih hitam (Piper betle L. var. nigra) terhadap pertumbuhan Streptococcus mutans Wicaksono, Krisna Wahyu; Alhawaris, Alhawaris; Ismail, Sjarif
Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students Vol 10, No 1 (2026): February 2026
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/pjdrs.v10i1.69075

Abstract

ABSTRACT Introduction: The prevalence of dental caries in Indonesia remains relatively high. The main cause is Streptococcus mutans, which can proliferate and has the potential to demineralize the tooth surface. A preventive approach is the use of natural substances with antibacterial properties. One natural material with potential antibacterial activity is the essential oil of black betel leaf (DSH). This study aimed to analyze the antibacterial activity of black betel leaf essential oil against Streptococcus mutans. Methods: This study employed a true experimental design using the microdilution method. There were three groups: the test group, consisting of black betel leaf essential oil at concentrations of 4%, 2%, 1%, 0.5%, 0.25%, 0.125%, 0.0625%, 0.03125%, 0.015625%, 0.0078125%, 0.00390625%, and 0.001953125%; and the positive control group consisting of eugenol; and the negative control group consisting of 10% DMSO. Data were analyzed qualitatively by observing color changes. Results: The minimum inhibitory concentration (MIC) of black betel leaf essential oil was 0.5%. The minimum bactericidal concentration (MBC) was 4%. Columns 1A, 1B and 1C showed no color change, indicating that DSH exhibits antibacterial activity. Conclusions: Black betel leaf essential oil at a concentration of 4% exhibits the best antibacterial activity against Streptococcus mutans.KEYWORDS: antibacterial, essential oil, black betel leaf, Streptococcus mutansUji aktivitas antibakteri minyak atsiri daun sirih hitam (DSH) terhadap pertumbuhan Streptococcus mutans: Studi eksperimentalABSTRAK Pendahuluan: Persentase karies gigi di Indonesia masih tergolong tinggi. Penyebab utamanya berasal dari bakteri Streptococcus mutans yang dapat berkembang biak dan berpotensi dalam merusak permukaan gigi. Upaya yang dapat digunakan untuk mencegah hal tersebut, yaitu bahan alam yang berpotensi sebagai antibakteri. Salah satu bahan alam yang berpotensi sebagai agen antibakteri, yaitu minyak atsiri daun sirih hitam (DSH). Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis aktivitas antibakteri minyak atsiri DSH terhadap bakteri Streptococcus mutans. Metode: Jenis metode penelitian kualitatif berupa true experimental menggunakan uji mikrodilusi. Terdapat 3 kelompok perlakuan meliputi kelompok uji minyak atsiri DSH dengan 10 konsentrasi, yaitu 4%; 2%; 1%; 0,5%; 0,25%; 0,125%; 0,0625%; 0,03125%; 0,015625%; 0,0078125%; 0,00390625% dan 0,001953125% serta kelompok kontrol positif meliputi eugenol serta kelompok kontrol negatif meliputi DMSO 10%. Analisis data dinilai secara kualitatif dengan mengamati perubahan warna. Hasil: Nilai MIC dari minyak atsiri DSH sebesar 0,5%. Nilai MBC dari minyak atsiri DSH sebesar 4%. Kolom 1A, 1B dan 1C menunjukkan tidak ada perubahan warna yang menandakan DSH bersifat antibakteri. Simpulan: Minyak atsiri DSH konsentrasi 4% memiliki aktivitas antibakteri terbaik terhadap bakteri Streptococcus mutans.KATA KUNCI: Antibakteri, minyak atsiri, daun sirih hitam, streptococcus mutans 
Assessment of the taper angle in porcelain-fused-to-metal crown preparation performed by dental students: Study observational Jonathan, Audree Geraldine; Bonifacius, Setyawan; Alamsyah, Gian Nur; Sukotjo, Cortino
Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students Vol 10, No 1 (2026): February 2026
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/pjdrs.v10i1.69963

Abstract

ABSTRACTIntroduction: Indirect restorations, such as fixed porcelain-fused-to-metal (PFM) crown and bridge prostheses, require tooth preparation that follows established principles to achieve restoration success. One of the preparation principles that needs to be considered is the taper angle, resulting from the axial wall tapering. To achieve maximum retention, the recommended taper angle is 6°. In clinical practice, preparation errors are frequently found, such as over-reduction and difficulties in axial tooth reduction. Thus, clinical education is required to improve students’ competence and skills to achieve recommended and more precise preparation results. The aim of this study was to evaluate the taper angle of porcelain-fused-to-metal (PFM) crown preparations performed by dental students. Methods: The study was conducted using a descriptive observational design with a total sample of 30 patients at the Prosthodontics Department at RSGM Unpad treated by clinical students of FKG Unpad. The patients’ jaws were scanned using a digital intraoral scanner, then the size of the taper angles were measured using CorelDRAW, with the ideal taper angle of 6-10°. The collected data were analyzed statistically using the chi-square test. Results: The average taper angle formed mesiodistally and buccolingually was 25,0° ± 14,5° and 14,9° ± 12,7° respectively, both of which were greater than the recommended taper angle. Conclusion: The preparation of porcelain-fused-to-metal performed by FKG Unpad clinical students did not reach the ideal taper angle. Dental students should receive hands-on clinical training to evaluate their tooth preparation performance and outcomes, in order to achieve high quality dental care for patients, using either conventional methods (extracted teeth) or digital methods (dental simulators, augmented reality).KEYWORDS: porcelain-fused-to-metal crown restoration, taper angle, tooth preparationPenilaian sudut taper pada preparasi mahkota porcelain-fused-to-metal yang dilakukan oleh mahasiswa kedokteran gigi: Studi observasionalABSTRAKPendahuluan: Restorasi tidak langsung, seperti mahkota dan jembatan tetap porcelain-fused-to-metal (PFM), memerlukan preparasi yang harus mengikuti prinsip preparasi gigi yang telah ditetapkan untuk mencapai keberhasilan restorasi. Salah satu prinsip preparasi yang perlu diperhatikan adalah sudut taper yang dihasilkan dari kemiringan dinding aksial. Untuk mencapai retensi maksimal, sudut taper yang direkomendasikan adalah 6°. Dalam praktik klinis, kesalahan preparasi masih sering ditemukan, misalnya reduksi berlebih (over-reduction) dan kesulitan dalam melakukan reduksi aksial gigi. Oleh karena itu, pendidikan pada tingkat klinis diperlukan untuk melatih kompetensi mahasiswa serta meningkatkan keterampilan mereka agar dapat mencapai hasil preparasi yang sesuai rekomendasi dan lebih presisi. Tujuan penelitian ini untuk menilai sudut taper pada preparasi mahkota porcelain-fused-to-metal (PFM) oleh mahasiswa kedokteran gigi.  Metode: Penelitian ini dilakukan menggunakan studi observasional deskriptif dengan jumlah sampel 30 pasien di Departemen Prostodonsia Rumah Sakit Gigi dan Mulut Universitas Padjadjaran yang dirawat oleh mahasiswa klinik Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran. Rahang pasien dipindai menggunakan pemindai intraoral digital, kemudian besar sudut taper diukur menggunakan CorelDRAW, dengan sudut taper ideal 6–10°. Data yang diperoleh dianalisis secara statistik menggunakan uji chi-square. Hasil: Rerata sudut taper yang terbentuk secara mesiodistal dan bukolingual berturut-turut adalah 25,0° ± 14,5° dan 14,9° ± 12,7°, yang lebih besar daripada nilai sudut taper yang direkomendasikan. Simpulan: Preparasi porcelain-fused-to-metal yang dilakukan oleh mahasiswa klinik tidak mencapai nilai sudut taper ideal. Mahasiswa kedokteran gigi direkomendasikan untuk dilatih melalui pengalaman klinis langsung guna mengevaluasi performa dan hasil preparasi gigi mereka, sehingga dapat mencapai kualitas perawatan gigi yang tinggi bagi pasien, baik dengan metode konvensional (gigi asli pasca-ekstraksi) maupun metode digital (simulator kedokteran gigi, augmented reality).KATA KUNCI: restorasi mahkota porcelain-fused-to-metal, sudut taper, preparasi gigi.
The relationship between religiosity and oral health status as well as oral health-related quality of life (OHRQoL): Scoping review Puspitasari, Ika Cahyani; Novrinda, Herry; Bahar, Armasastra; Rahardjo, Anton; Badruddin, Iwany Amalliah
Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students Vol 10, No 1 (2026): February 2026
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/pjdrs.v10i1.63690

Abstract

ABSTRACTIntroduction: The World Health Organization (WHO) reported in 2022 that approximately 3.5 billion people worldwide suffer from oral diseases. Poor oral health not only leads to clinical problems but also results in social disadvantages and reduced quality of life. In health epidemiology, religion is considered a social determinant of health. Higher levels of religiosity are believed to contribute to better oral health through social support and psychological well-being. Religiosity functions as a psychosocial determinant of health that enhances emotional stability and preventive behaviors. Therefore, examining the relationship between religiosity and oral health status, as well as oral health-related quality of life (OHRQoL), is important as a basis for developing promotive and preventive interventions based on a bio-psycho-social-spiritual approach. Methods: A literature search was conducted in PubMed, ScienceDirect, EBSCOhost, and SpringerLink using the keywords “belief,” “religion,” “religiosity,” “oral health,” “quality of life,” and “oral health-related quality of life”. Manual searching was performed through the reference lists of relevant articles. This study employed a scoping review method based on the framework proposed by Arksey and O’Malley. Results: Five publications met the inclusion criteria. Three studies demonstrated a positive relationship between religiosity and OHRQoL, indicating better oral health status and lower mean DMFT scores. Two other studies reported negative associations: individuals without religious affiliation had better OHRQoL, and the prevalence of dental diseases among clergy and monastic communities was higher than that of the local population. Conclusion: Religiosity is associated with oral health status and OHRQoL, acting both as a protective and a risk factor. These findings emphasize the importance of considering spiritual aspects in planning community oral health programs. Practical implications include the integration of faith-based oral health education, behavioral counseling, and collaboration between health professionals and religious leaders.KEYWORDS: Religiosity, oral health status, oral health-related quality of life (OHRQoL)Hubungan antara religiusitas dan status kesehatan oral serta oral health related quality of life (OHRQoL): Scoping reviewABSTRAKPendahuluan: Laporan World Health Organization (WHO) tahun 2022 menyebutkan sekitar 3,5 miliar penduduk dunia mengalami penyakit gigi dan mulut. Kondisi kesehatan rongga mulut yang buruk tidak hanya berdampak klinis, tetapi juga menimbulkan kerugian sosial dan menurunkan kualitas hidup. Dalam epidemiologi kesehatan, agama dipandang sebagai determinan sosial kesehatan. Tingkat religiusitas yang tinggi diduga berkontribusi pada kesehatan oral melalui dukungan sosial dan kesejahteraan psikologis. Religiusitas berperan sebagai penentu kesehatan psiko-sosial yang meningkatkan stabilitas emosional dan perilaku preventif. Kajian hubungan religiusitas pemeluk agama dengan status kesehatan oral dan oral health related quality of life (OHRQoL) diperlukan sebagai dasar pengembangan intervensi promotif dan preventif berbasis pendekatan bio-psiko-sosial-spiritual. Metode: Pencarian literatur dilakukan pada PubMed, ScienceDirect, EBSCOhost, dan SpringerLink menggunakan kata kunci belief, religious, religions, oral health, life quality, dan oral health related quality of life. Penelusuran manual dilakukan melalui daftar referensi artikel relevan. Penelitian menggunakan metode scoping review menurut Arksey dan O’Malley. Hasil: Diperoleh lima publikasi yang memenuhi kriteria. Tiga penelitian menunjukkan hubungan positif antara religiusitas dengan OHRQoL, status kesehatan mulut lebih baik, serta rerata DMFT lebih rendah. Dua penelitian lainnya menunjukkan hubungan negatif: individu tanpa afiliasi agama memiliki OHRQoL lebih baik, dan prevalensi penyakit gigi pada komunitas pendeta dan biarawan lebih tinggi dibandingkan penduduk lokal. Simpulan: Terdapat hubungan antara religiusitas dan status kesehatan oral serta (OHRQoL) sebagai faktor protektif dan faktor resiko. Temuan ini menegaskan pentingnya mempertimbangkan aspek spiritual dalam perencanaan program kesehatan gigi masyarakat. Implikasi praktis mencakup integrasi edukasi kesehatan mulut berbasis komunitas keagamaan, konseling perilaku, serta kolaborasi antara tenaga kesehatan dan pemuka agama.KATA KUNCI:  religiusitas, status kesehatan oral, kualitas hidup terkait kesehatan oral (OHRQoL)