cover
Contact Name
Mufarizuddin
Contact Email
jurnalpgsd.up@gmail.com
Phone
+6282165028412
Journal Mail Official
jurnalpgsd.up@gmail.com
Editorial Address
Jalan Tuanku Tambusai No 23 Kabupaten Kampar Provinsi Riau
Location
Kab. kampar,
Riau
INDONESIA
Jurnal Review Pendidikan dan Pengajaran (JRPP)
ISSN : 2655710X     EISSN : 26556022     DOI : https://doi.org/10.31004/jrpp.v5i1.4136
Jurnal Review Pendidikan dan Pengajaran (JRPP) is a National peer-reviewes journal dedicated to the exchange of research and thinking in all aspects of education, especially basic education. Jurnal Review Pendidikan dan Pengajaran (JRPP) publishes research results relating to the theory and practice of teaching and learning, curriculum development, learning materials, learning models, learning methods and learning media in education.Journal of Review of Education and Teaching (JRPP) is published four times a year in March June September and December. As our commitment to the advancement of science and technology, Jurnal Review Pendidikan dan Pengajaran (JRPP) follows an open access policy that allows published articles to be available for free online without any subscription.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 4,688 Documents
PENGARUH PENGGUNAAN MEDIA SOSIAL TERHADAP PRESTASI BELAJAR SISWA SMA N 3 DEPOK Agus Supandi; Ria Susanti Johan; Desy Septariani
Jurnal Review Pendidikan dan Pengajaran (JRPP) Vol. 6 No. 1 (2023): Volume 6 Nomor 1 Tahun 2023
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jrpp.v6i1.16072

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan media sosial terhadap prestasi belajar siswa SMA N 3 Depok. Sampel penelitian adalah siswa kelas XI sebanyak 180 orang yang dipilih secara acak. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah kuesioner dan dokumentasi. Analisis data menggunakan teknik regresi linear sederhana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan media sosial memiliki pengaruh negatif yang signifikan terhadap prestasi belajar siswa. Temuan ini menunjukkan bahwa penggunaan media sosial yang berlebihan dapat mengganggu konsentrasi siswa dalam belajar dan mempengaruhi hasil akademik mereka. Oleh karena itu, disarankan agar siswa membatasi waktu penggunaan media sosial dan meningkatkan waktu belajar untuk mencapai prestasi akademik yang lebih baik.
MENGENAL MAKNA SIMBOLIK DAN STRUKTUR PELAKSANAAN DARI TRADISI TEDHAK SITEN DI KELURAHAN BANJAREJO KOTA MADIUN Putri Wibisono; Tri Endarwati; Ayu Sri Wulandari; Darmadi Darmadi
Jurnal Review Pendidikan dan Pengajaran (JRPP) Vol. 5 No. 2 (2022): Volume 5 Nomor 2 Desember Tahun 2022
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jrpp.v5i2.10025

Abstract

Setiap daerah di Indonesia pasti memiliki tradisi dan masih dilestarikan oleh masyarakatnya. Tradisi yang ada di setiap daerah senantiasa harus dipertahankan, dilestarikan, dan dijaga agar tradisi tersebut tidak punah. Salah satu contoh tradisi Islam-Jawa yang hingga saat ini masih populer adalah tradisi Tedhak Siten. Artikel ini bertujuan untuk mengupas filosofi dan makna dari Tedhak Siten, perlengkapan yang dibutuhkan dari Tedhak Siten, makna simbolik yang terkandung dalam susunan acara Tedhak Siten, dan pemenuhan tugas dari mata kuliah Filsafat Ilmu. Artikel ini dibuat dari hasil studi dan observasi di Kelurahan Banjarejo, Kecamatan Taman, Kota Madiun, Jawa Timur. Masyarakat di Kelurahan tersebut dalam menjalankan tradisi Tedhak Siten saat ini, telah memodifikasi dari tradisi yang bersifat tradisional diubah dan dikemas secara lebih modern. Tedhak Siten biasanya dilakukan ketika anak berumur tujuh bulan berdasarkan kalender Jawa dan pertama kali turun atau menginjakkan kaki di tanah. Tedhak Siten memiliki makna tersendiri dalam setiap rangkaian prosesinya. Selain itu, perlengkapan yang digunakan juga mengandung makna simbolik berdasarkan kepercayaan adat Jawa. Tradisi Tedhak Siten merupakan suatu hal baik bagi masyarakat Jawa asli yang kental dengan adat spiritual dan tentunya tidak bertentangan dengan norma-norma agama Islam.
TRADISI BUBAK MANTEN DALAM PERNIKAHAN DI DUKUH BALONG GOBANG DESA KARANGSONO NGAWI Maissy Febiana; Ava Emalia Selviana Putri; Ernova Viorely Purba; Darmadi Darmadi
Jurnal Review Pendidikan dan Pengajaran (JRPP) Vol. 5 No. 2 (2022): Volume 5 Nomor 2 Desember Tahun 2022
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jrpp.v5i2.10107

Abstract

Pernikahan merupakan acara istimewa yang banyak ditunggu oleh beberapa orang. Pernikahan tidak sekedar memberi ikatan pada kedua mempelai saja, namun pernikahan juga memberi ikatan pada kedua keluarga mempelai. Acara pernikahan yang meriah biasanya digunakan sebagai tempat untuk menjaga tali silaturami antara sanak saudara, teman, bahkan juga tetangga sekitar rumah. Oleh karena itu, banyak orang mengidam-idamkan acara pernikahan mereka nantinya berjalan lancar dan juga meriah karena bagi mereka acara pernikahan adalah acara yang hanya dilakukan sekali dalam hidup. Dengan demikian, banyak orang yang menggunakan tradisi atau adat dari daerah tertentu sebagai tambahan dari akad dan juga resepsi dalam acara pernikahan mereka, salah satu tradisi yang dilaksanakn ialah bubak manten. Dikarenakan masih jarang orang yang mengetahui tradisi bubak manten sehingga kami termotivasi untuk mengangkat tema ini sebagai tulisan kami. Dalam mengerjakan tulisan ini kami menggunakan metode penelitihan kualitatif yang dilakukan dengan cara melihat secara langsung tradisi tersebut terjadi dan mewancarai beberapa orang yang paham betul dengan tradisi bubak manten serta mewancarai orang yang menyelenggarakan tradisi bubak manten dalam acara pernikahan anak mereka. Dalam penelitian bubak manten merupakan tradisi yang dilakukan kepada tak hanya anak pertama dan terakhir, tetapi tidak boleh dilakukan kepada anak tengah. Tradisi ini dilakukan sebagai bentuk dari rasa syukur orang tua pengantin, dan juga sebagai tradisi turun-temurun yang mereka percayai jika acara bubak manten dilakukan akan memberikan berkah pada keberlangsungan acara pernikahan tersebut.
MENGENAL UBORAMPE DAN PROSESI TEDHAK SITEN SEBAGAI TRADISI MASYARAKAT JAWA DI DESA MRUWAK KABUPATEN MADIUN Juniva Syahira; Iwanda Pranika Rosti; Dinar Arie Pramesti; Darmadi Darmadi
Jurnal Review Pendidikan dan Pengajaran (JRPP) Vol. 5 No. 2 (2022): Volume 5 Nomor 2 Desember Tahun 2022
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jrpp.v5i2.10110

Abstract

Tradisi merupakan adat kebiasaan turun-menurun yang berasal dari masyarakat dan masih dilaksanakan dalam masyarakat dengan cara yang baik dan benar. Tedhak siten yang merupakan tradisi masyarakat Jawa yang merupakan rangkaian dalam peristiwa kelahiran. Pada masyarakat Jawa tradisi tedhak siten untuk upacara rasa syukur keluarga terutama orang tua kepada sang maha pencipta dan anak mampu meraih cita-citanya. Tedhak siten dilakukan saat anak berumur 7 bulan dalam hitungan kalender Jawa atau setara dengan 245 hari, dan pertama kali menginjakkan kaki diatas tanah. Tulisan ini dibuat dari penelitian di Desa Mruwak Kecamatan Dagangan Kabupaten Madiun Provinsi Jawa Timur melakukan tradisi tedhak siten dengan baik dan benar. Masyarakat Jawa sekarang banyak melakukan tradisi tedhak siten dengan cara yang lebih praktis dan modern. Hal ini merupakan adat yang sangat baik dalam mayarakat Jawa asli yang masih kental dengan tradisinya. Maka, kita sebagai masyarakat Jawa harus bangga terhadap tradisi yang menjadi warisan turun temurun hingga saat ini. Sebagai penerus bangsa, kita sudah sepatutnya melestarikan adat tersebut dengan baik dan benar agar tidak luntur dalam kehidupan kita dan dapat terus dilestarikan dan dilaksanakan.
PERNIKAHAN ADAT JAWA MENGENAI TRADISI TURUN TEMURUN PECAH TELUR DAN KEMBANG MAYANG DI DAERAH DESA KETAWANG KECAMATAN DOLOPO KABUPATEN MADIUN Nur Halifah Rahmawati Sukirno; Della Safera; Aidilla Pratama; Darmadi Darmadi
Jurnal Review Pendidikan dan Pengajaran (JRPP) Vol. 5 No. 2 (2022): Volume 5 Nomor 2 Desember Tahun 2022
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jrpp.v5i2.10121

Abstract

Penelitian ini membahas Makna Simbolis dan Nilai Budaya Teks Tradisi Pecah Telur dan Kembang Mayang Pada Prosesi Pernikahan Suku Jawa di Desa Ketawang Kecamatan Dolopo Kabupaten Madiun. Penelitian ini menggunkan metode Kualitatif. Masalah yang diteliti yaitu apa makna simbolis dari budaya teks tradisi pecah telur dan kembang mayang pada prosesi pernikahan di Desa Ketawang Kecamatan Dolopo dan nilai budaya yang terdapat pada budaya teks tradisi pecah telur pada prosesi pernikahan suku Jawa. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan makna simbolis dan untuk mengetahui nilai budaya teks tradisi pecah telur dan kembang mayang pada prosesi pernikahan suku Jawa di Desa Ketawang Kecamatan Dolopo Kabupaten Madiun. Teknik pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini menggunakan teknik observasi/pengamatan, wawancara dengan informan dan dokumentasi. Hasil yang diperoleh dari penelitian yaitu dalam prosesi menginjak telur menggunakan bahan- bahan yang masing-masing memiliki makna seperti telur ayam kampung, kembar mayang, bunga kuburan, debok pisang raja, bunga setaman,bunga seikat, daun pandan, daun sirih, janur dan kelapa muda. Nilai budaya yang terdapat dalam penelitian yaitu nilai budaya menjunjung adat dan pekerti, nilai budaya kepercayaan kepada takdir, dan nilai budaya manusia dengan kerja.
MITOS - MITOS KEHIDUPAN SEBAGAI CIRI KHAS PADA MASYARAKAT JAWA KHUSUSNYA BERADA DI DESA MANISREJO, KECAMATAN TAMAN, KOTA MADIUN Dwi Amartani Suryaningputri; Dwi Nabila Azahra; Syafina Putri Nurjanah; Darmadi Darmadi
Jurnal Review Pendidikan dan Pengajaran (JRPP) Vol. 5 No. 2 (2022): Volume 5 Nomor 2 Desember Tahun 2022
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jrpp.v5i2.10157

Abstract

Mitos merupakan salah-satu kepercayaan yang di ikuti dan memiliki kaitan yang sangat erat dengan budaya masyarakat jawa khususnya Kota Madiun, karena budaya jawa selalu mengangkat mitos dalam ritual-ritual yang dilaksanakan. Jenis mitos yang ada di Kota Madiun sangat banyak ragamnya, contohnya : Kerokan Bisa Menyembuhkan Masuk Angin, Menyapu Tidak Bersih Nanti Suaminya Brewokan, Burung Gagak Menandakan Ada Yang Meninggal, Anak Gadis Makan Di Depan Pintu, Keluar Saat Magrib, Bangun Siang Rejeki Dipatok Ayam. Itu merupakan suatu tradisi yang muncul dari dulu hingga sekarang yang masih di percaya oleh masyarakat jawa khususnya masyarakat Kota Madiun, terutama di Desa Manisrejo, Kecamatan Taman, Kota Madiun. Artikel ini bertujuan untuk mengetahui sejarah mitos dan untuk mengkaji kebenaran dari mitos yang dimunculkan tersebut. Artikel ini adalah penelitian lapangan (field research) yang bertempat di Desa Manisrejo, Kecamatan Taman, Kota Madiun. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif secara lisan maupun tulisan tentang orang-orang dan perilaku yang diamati. Dari penelitian ini, penulis menemukan bahwa Mitos yang ada di masyarakat adalah suatu kepercayaan masyarakat sekitar, kepercayaan terhadap mitos-mitos tersebut berasal dari sesepuh mereka yang dahulu, hingga sekarang masih terus bertahan dan menjadi suatu kepercayaan masyarakat sekitar.
BUDAYA BROKOHAN KELAHIRAN BAYI DI DESA JATIREJO, KECAMATAN WONOASRI, KABUPATEN MADIUN Riani Purwaningsih; Rahel Elsa Dwi Putri; Alrohma Nikmawati Triasroza; Darmadi Darmadi
Jurnal Review Pendidikan dan Pengajaran (JRPP) Vol. 5 No. 2 (2022): Volume 5 Nomor 2 Desember Tahun 2022
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jrpp.v5i2.10206

Abstract

Permasalahan penelitian ini adalah (a) Bagaimanakah deskripsi upacara upacara brokohan kelahiran bayi di Desa Jatirejo, Kecamatan Wonoasri, Kabupaten Madiun. (b) Bagaimanakah deskripsi makna dan fungsi upacara upacara brokohan kelahiran bayi di Desa Jatirejo, Kecamatan Wonoasri, Kabupaten Madiun. (c) Bagaimanakah pandangan rasionalisme tentang upacara brokohan kelahiran bayi di Desa Jatirejo, Kecamatan Wonoasri, Kabupaten Madiun. Penelitian ini menggunakan pendekatan arketipal, antropologi budaya dan antropologi sastra. Penelitian ini tergolong sebagai penelitian kualitatif, penelitian yang tidak menggunakan angka sebagai data. Sedangkan sumber data dalam penelitian ini berupa data kata-kata atau tindakan orang yang diwawancarai atau diamati. Sumber data utama adalah catatan hasil wawancara dan observasi dengan narasumber. Hasil penelitian ini menunjukkan deskripsi aspek simbolisme yaitu bentuk atau lambang, makna, dan fungsi, serta pandangan rasionalisme dari budaya brokohan kelahiran bayi. Masyarakat Jawa menganggap budaya brokohan kelahiran bayi, sebagai ritual yang patut diperhatikan secara khusus. Karena pada hakikatnya, tradisi ini adalah memohon keselamatan kepada Allah SWT agar anak yang telah dilahirkan sehat, selamat, dan selalu mendapatkan rezeki yang lancar
TRADISI TINGKEBAN (SYUKURAN TUJUH BULANAN IBU HAMIL) PADA MASYARAKAT JAWA KHUSUSNYA BERADA DI DESA BAJULAN, KECAMATAN SARADAN, KABUPATEN MADIUN Devina Cholistarisa; Tyas Utami; Naora Tsani; Leinze Rizqi Q.A.; Darmadi Darmadi
Jurnal Review Pendidikan dan Pengajaran (JRPP) Vol. 5 No. 2 (2022): Volume 5 Nomor 2 Desember Tahun 2022
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jrpp.v5i2.10222

Abstract

Tradisi tingkeban adalah upacara adat Jawa dalam rangka 7 bulanan bayi dalam kandungan atau upacara 7 bulanan kehamilan. Tingkeban merupakan upacara terakhir sebelum kelahiran, yang digunakan untuk mendoakan ibu dan calon bayi agar selamat dan lahir normal. Nama "mitoni", yang berasal dari kata "pitu", atau "tujuh", adalah nama lain dari tradisi tingkeban. Upacara adat yang dilakukan untuk menghormati tujuh bulan kehamilan inilah yang dimaksud dengan mitoni. Dalam budaya Jawa, tingkeban atau mitoni adalah kebiasaan lama yang diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Upacara tingkeban ini konon sudah ada sejak zaman Kerajaan Kediri di bawah kekuasaan Raja Jayabaya. Dalam tata cara pelaksanaan upacara adat tingkepan ada beberapa tahapan yang harus dilakukan yaitu, membuat rujak; siraman calon ibu; memasukkan telur ayam kampung; berganti nyamping sebanyak tujuh kali; pemutusan lawe atau janur kuning; membelah kelapa gading; selamatan; hidangan sebagai ucapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, yang disediakan dalam upacara tingkepan
MENGENAL UPACARA ADAT ISTIADAT KEMATIAN: MANGONGKAL HOLI DAN NYEWU TRADISI TURUN-TEMURUN DAERAH MEDAN DAN JAWA Tri Nurvita Sari; Laura Ikhsa Andriani; Parningotan Sinaga; Darmadi Darmadi
Jurnal Review Pendidikan dan Pengajaran (JRPP) Vol. 5 No. 2 (2022): Volume 5 Nomor 2 Desember Tahun 2022
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jrpp.v5i2.10284

Abstract

Indonesia sangat luas dengan wilayahnya, seperti yang kita ketahui ada banyak pulau dan juga termasuk ada suku-suku di pedalaman sana. Sehingga memiliki berbagai kearifan lokal yang sangat banyak yaitu dari banyaknya tradisi-tradisi di berbagai daerah, misalnya saja yaitu di daerah Medan tepatnya ada di Provinsi Sumatra ini memiliki hampir mempunyai kesamaan tradisi di daerah Jawa. Biasanya untuk masyarakat Medan yang memeluk keyakinan agama Kristen Katholik di setiap 5 tahun setelah ada salah satu keluarga atau kerabat yang meninggal akan diadakan tradisi “Mangongkal Holi” yaitu memindahkan tulang-belulang ketempat yang lebih layak (tinggi) yang berarti mendekatkan arwah itu kepada penciptanya, tradisi ini hampir sama yang ada di daerah Jawa, tetapi tradisi yang ada di daerah Jawa ini biasanya dilakukan untuk masyarakat yang memeluk agama Islam. Dengan adanya perkembangan zaman sudah banyak masyarakat setempat di daerah jawa yang beragama Islam tidak melakukan tradisi yang bernama “Selametan Nyewu”. Tujuan diadakan selametan tersebut untuk mendo’akan orang yang telah pergi dari dunia ini, agar di kehidupan yang baru lebih di dekatkan pada sang tuhan, dan di percaya juga mampu meringankan dosa-dosa semasa hidup di dunia.
PEMEROLEHAN BAHASA ANAK USIA 4 TAHUN 6 BULAN (STUDI KAJIAN MEAN LENGTH OF UTTERANCE) PADA ASPEK SINTAKSIS Annisa Pratiwi; Siti Hasanah Nasution; Ika Febriana
Jurnal Review Pendidikan dan Pengajaran (JRPP) Vol. 6 No. 1 (2023): Volume 6 Nomor 1 Tahun 2023
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jrpp.v6i1.13966

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pemerolehan bahasa seorang anak yang berusia 4 tahun 6 bulan menggunakan perhitungan MLU (Mean Length Of Utterance). Subjek penelitian ini adalah seorang anak bernama Zabian Athala Maruhawa. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data dengan observasi dan teknik rekam catat. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan diperoleh hasil bahwa Zabian Athala Maruhawa berada pada tingkat VI MLU yaitu dengan usia lebih dari 47 bulan dan angka MLU sebanyak lebih dari 45 yang artinya sudah cukup baik dalam kemampuan memperoleh bahasa. Adapun kelas kata yang diperoleh meliputi verba, nomina, adjektiva, numeralia, pronomina, preposisi dan konjungsi. Serta pola kalimat yang dihasilkan terdapat (S+P), (S+P+O), (S+P+O+K) dan (K+S+P).

Page 21 of 469 | Total Record : 4688