cover
Contact Name
Sandy Suseno
Contact Email
sandy.suseno@uho.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
sangiajurnal@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota kendari,
Sulawesi tenggara
INDONESIA
Sangia : Jurnal Penelitian Arkeologi (Journal of Archaeology Research)
Published by Universitas Halu Oleo
ISSN : 26138999     EISSN : 26543524     DOI : -
This scientific journal is dedicated as a periodical scientific publication in archeology which is expected to be an arena for exchanging ideas and thoughts in the field of archeology. SANGIA comes with a mission to build tradition and academic climate for the advancement of civilization and human dignity.
Arjuna Subject : -
Articles 156 Documents
IDENTIFIKASI KOMPLEKS MAKAM KUNO PONGGAWA MOITA DI DESA BAROWILA KECAMATAN TONGAUNA UTARA KABUPATEN KONAWE PROVINSI SULAWESI TENGGARA Susi Susanti; Abdul Alim; Salniwati Salniwati
SANGIA JOURNAL OF ARCHAEOLOGY RESEARCH Vol. 6 No. 2: December 2022
Publisher : Laboratorium Jurusan Arkeologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/sangia.v6i2.1912

Abstract

Penelitian ini mengkaji variasi bentuk dan unsur budaya yang mempengaruhi Kompleks makam kuno ponggawa moita di Desa Barowila, Kecamatan Tongauna Utara, Kabupaten Konawe Provinsi Sulawesi Tenggara. Masalah yang diangkat pada penelitian ini adalah bagaimana bentuk-bentuk makam kuno pada kompleks makam ponggawa moita dan unsur budaya apa yang mempengaruhi bentuk kompleks makam kuno kuno ponggawa moita di desa barowila, kecamatan tongauna utara, kabupaten konawe. Tujuan Penelitian ini untuk mengkaji bentuk makam, dan unsur budaya yang mempengaruhi makam tua di Desa Barowila, Kecamatan Tongauna Utara, Kabupaten Konawe. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif yang bersifat deskriptif analitis. Tahap pengumpulan data dengan cara Observasi, Wawancara, Dokumentasi dan Studi Pustaka. Dalam analisis data penelitian ini menggunakan analisis morfologi (bentuk) dan analisis teknologi (pembuatan dan bahan baku). Berdasarkan hasil penelitian, terdapat 7 makam. Dari 7 makam pada kompleks makam ponggawa moita ini memiliki 3 jenis tipe makam yaitu (pertama) Tipe A1 makam dengan jirat dan nisan tanpa gundukan dengan jumlah makam sebanyak 4 makam. (Kedua) Tipe A2 dengan gundukan tanpa jirat dan nisan dengan jumlah 2 makam. (ketiga) Tipe A3 dengan gundukan dan nisan tanpa jirat dengan jumlah makam sebanyak 1 makam. Unsur budaya pada kompleks makam Ponggawa Moita adalah unsur budaya megalitik. Hal ini dibuktikan pada jirat makam yang terbuat dari sususan batu alam dan adanya ziarah kubur masyarakat, yang dipengaruhi oleh unsur budaya pra-Islam masuk di Kabupaten Konawe. Dari hasil penelitian ini dapat di jelaskan bahwa terdapat nilai kultural, historis dan arkeologis yang tinggi pada kompleks makam Ponggawa Moita
RAGAM FLORA FAUNA DI KAWASAN CAGAR BUDAYA NASIONAL MUARAJAMBI BERDASARKAN DATA ARKEOLOGI Asyhadi Mufsi Sadzali; Wenda Emafri; Altahira Wadhah; Rosaria Nabila Huda; Yenci Alione Sihite; M. Alif Zulkifli
SANGIA JOURNAL OF ARCHAEOLOGY RESEARCH Vol. 6 No. 2: December 2022
Publisher : Laboratorium Jurusan Arkeologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/sangia.v6i2.1913

Abstract

Kawasan Cagar Buaya Nasional Muarajambi tersebar di 2 Kecamatan; dan 8 Desa di Kabupaten Muarajambi, Provinsi Jambi dengan luas kawasan 3,981 Ha. Konsentrasi struktur yang telah diekskavsi dan dipugar berjumlah 12 situs sebagian besar berada di Desa Muarajambi, yang secara administratif berada dalam wilayah kecamatan Marosebo kabupaten Muarajambi. Keberagaman flora dan fauna tergambark pada beragam temuan arkeologi di Kawasan Cagar Budaya Nasional Muarajambi, antara lain berupa makara yang ada di candi Kedaton, Gumpung, dan Koto Mahligai. Tidak hanya terbatas pada makara saja, juga pada keramik dengan unsur flora dan fauna, serta pada bata bergambar temuan di beberapa candi. Keberadaan temuan artefak ini dicoba dianalisa kesesuaiannya dengan keberadaan biodiversitas di KCBN Muarajambi pada masa lampau abad ke-7 sampai 13 M. hal ini menjadi pertanyaan penelitian yang akan dijawab dengan metode penelitian kualitatif pendekatan arkeologi dengan tahap pengumpulan data, identifikasi data, analisis data dan interpretasi data. Hasil penelitian menggambarkan bahwa inspirasi dari temuan arkeologi bertemakan biodiversitas di KCBN Muarajambi berdasarkan gambaran flora dan fauna yang hidup pada masa itu, namun beberapa diantaranya hewan mitologi yang tidak nyata serta bersifat mistik untuk pemenuhan kebutuhan keagmaan.
TINGGALAN ARKEOLOGI MASA PERANG DUNIA II DI SITUS LAPANGAN UDARA BORO-BORO A/D KABUPATEN KONAWE SELATAN Heri Nopiyanto; Aswati M Aswati M; Sasadara Hayunira
SANGIA JOURNAL OF ARCHAEOLOGY RESEARCH Vol. 6 No. 2: December 2022
Publisher : Laboratorium Jurusan Arkeologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/sangia.v6i2.1980

Abstract

ABSTRAK Lapangan Udara Boro-Boro A/D merupakan situs bekas lapangan udara militer yang dibangun Jepang pada masa Perang Dunia II atau Perang Pasifik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis-jenis peninggalan dan fungsi dari kawasan berdasarkan sarana militer Jepang yang terdapat di situs Lapangan Udara Boro-Boro A/D. Lapangan Udara Boro-Boro A/D merupakan situs bekas lapangan udara militer yang dibangun Jepang pada masa Perang Dunia II atau Perang Pasifik. Penelitian ini menggunakan teori arkeologi keruangan. Penelitian ini bersifat deskriptif analitis dengan menggunakan bentuk penalaran induktif. Pengumpulan data dalam penelitian ini dicapai melalui studi pustaka, observasi atau survei lapangan, dokumentasi dan wawancara. Analisis data diterapkan dengan metode klasifikasi kemudian dilanjutkan dengan analisis kontekstual. Hasil penelitian menujukan bahwa tinggalan sarana militer Jepang di situs Lapangan Udara Boro-Boro A/D terdiri atas bangunan terowongan bawah tanah berjumlah 6 temuan, struktur bak air berjumlah 3 temuan, struktur bendungan berjumlah 1 temuan, revetmen pesawat berjumlah 3 temuan dan fitur bangunan berjumlah 1 temuan. Lapangan Udara Boro-Boro A/D  merupakan salah satu kawasan atau medan penting dan sebuah lapangan udara pengecoh untuk melindungi Lapangan Udara Kendari II yang sengaja dibangun oleh Jepang untuk mengecoh penglihatan musuh atau dari pantauan pesawat sekutu. Kata Kunci: Lapangan Udara Boro-Boro A/D, Tinggalan Arkeologi, Konawe Selatan.   ABSTRACT The Boro-Boro A/D airfield is the site of a former military air field built by Japan during World War II or the Pacific War. The research is aims to identify the types of relics and functions of the region based on Japanese military devices found at the Boro-Boro A/D air field site. This research uses the theory of mathematical space. This research is an analytic description by using an inductive form of reasoning.The data gathering in this research was accomplished through study libraries, observation or field surveys, documentation and interviews. Data analysis is implemented in classification methods and then followed with contextual analysis. The research shows that the height of Japanese military devices at the Boro-boro A/D air field site consists of 6 discoveries, waterhole structures totaling 3 discoveries, dam structures totaling 1 discoveries, and construction features 3 discoveries and 1 construction features. The Boro-boro A/D air field is one of the areas or crucial areas and an airfield diversion to protect the Kendari II air field deliberately built by the Japanese to distract an enemy's visual or an allied airliner. Keywords: Boro-Boro A/D Air field, Height of Archeological, South Konawe
ANALISIS CATCHMENT AREA TERHADAP TINGGALAN MOLUSKA GUA Muhamad Ardian Syah; Abdul Rauf Suleiman; Syahrun Syahrun
SANGIA JOURNAL OF ARCHAEOLOGY RESEARCH Vol. 7 No. 1: June 2023
Publisher : Laboratorium Jurusan Arkeologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/sangia.v7i1.2174

Abstract

Penelitin ini mengkaji tinggalan arkeologi berupa moluska yang terdapat pada situs Gua Tengkorak 2 di Desa Wawontoaho Kecamatan Wiwirano, Kabupaten Konawe Utara. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu analisis taksonomi moluska dan analisis daerah tangkapan. berdasarkan hasil analisis taksonomi dikethaui terdapat 11 jenis moluska dari 3 habitat yang berbeda yakni 1 jenis gastropoda darat (Cyclotus Politus), 7 jenis gastropoda air tawar (Tylomelania Celebicola, Tylomelania Palicolarum, Tylomelania Perfecta, Tylomelania Sarasinorum, Tylomenia Scalariopsis, Tylomelania Sp, dan Tylomelania Wallacei), dan 2 jenis gastropoda air laut (Olividae dan Tarebia Granifera) serta 1 jenis bivalvia air laut (Cytherea Incrassata). Adapun untuk wilayah daerah tangkapan moluska tersebut adalah lingkungan air tawar yakni Sungai Larambe yang berjarak 4 Kilometer dari Gua Tengkorak 2. Kemudian untuk wilayah daerah tangkapan moluska yang berasal dari lingkungan air laut adalah wilayah tenggara Kabupaten Konawe Utara yang berjarak 20,5 Kilometer dari Gua Tengkorak 2. Terkhusus untuk moluska darat (Cyclotus Politus) tidak dilakukan pencarian untuk daerah tangkapannya dikarenakan lingkungan sudah sangat berubah.
ANALISIS BENTUK KERUSAKAN DAN UPAYA PENANGANANNYA BENTENG BONE-BONE DI DESA BONE KECAMATAN BATUKARA Burhan Alwi; Salniwati Salniwati; Akhmad Marhadi
SANGIA JOURNAL OF ARCHAEOLOGY RESEARCH Vol. 7 No. 1: June 2023
Publisher : Laboratorium Jurusan Arkeologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/sangia.v7i1.2175

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bentuk kerusakan dan upaya penanggulangan kerusakan yang terdapat pada Benteng Bone-Bone yang terletak di Kecamatan Batukara Kabupaten Muna. Penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif kualitatif didukung dengan bentuk penalaran induktif. Analisis data yang digunakan dalam pemecahan rumusan permasalahan dalam penenlitian ini memnggunakan analisi kerusakan dan analisis konservasi. Selain analisis data, dalam upaya pemecahan rumusan permasalahan juga menggunakan landasan konseptual yaitu konsep kerusakan, pelapukan, vandalisme dan konsep konservasi. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bentuk kerusakan yang terdapat pada Benteng Bone-Bone terdiri atas empat yakni (1) kerusakan mekanis ditandai dengan runtuhan-runtuhan dinding Benteng Bone-Bone,(2) pelapukan fisis yautu adanya rongga dan lubang pada lapisan material batu, (3) pelapukan biologis yaitu kerusakan akibat akar tumbuhan pohon yang merusak dinding benteng dan (4) vandalisme yaitu adanya pencurian nisan makam dan pengrusakan pada jirat makam. Upaya penanganan kerusakan pada benteng tersebut yaitu dengan melakukan pembersihan, restorasi atau reparasi, pemberian pagar keliling dan penataan lingkungan serta pemberian dan penguatan payung hukum.
IDENTIFIKASI BENTENG BONE-BONE DI DESA BONE-BONE KECAMATAN BATUKARA KABUPATEN MUNA Tamiudin Tamiudin; Abdul Alim; Syahrun Syahrun
SANGIA JOURNAL OF ARCHAEOLOGY RESEARCH Vol. 7 No. 1: June 2023
Publisher : Laboratorium Jurusan Arkeologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/sangia.v7i1.2176

Abstract

Benteng Bone-Bone merupakan salah satu tinggalan arkeologi yang merupakan warisan budaya Bangsa Indonesia. Dalam penelitian ini diangkat rumusan masalah (1) apa saja tinggalan arkeologi yang terdapat di dalam Benteng Bone-Bone dan (2) apa fungsi Benteng Bone-Bone berdasarkan tinggalan arkeologisnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menjelaskan tinggala-tinggalan arkeologi pada Benteng Bone-Bone dan berupaya untuk menjelaskan fungsi benteng tersebut berdasarkan tinggalan arkeologisnya. Penelitian ini menggunakan landasan konseptual arkeologi ruang, konsep benteng, konsep tinggalan arkeologi dan landasan teori sejarah budaya. Penelitian ini merupakan jenis penelitian kualitatif dengan menggunakan bentuk penalaran induktif serta didukung dengan bentuk analisis klasifikasi dan analisis kontekstual. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh kesimpulan yang menunjukan bahwa tinggalan arkeologis yang terdapat pada Benteng Bone-Bone berjumlah 11 tinggalan yang terdiri dari Benteng Bone-Bone, lawa I, lawa II, makam i, makam II dan makam III serta temuan lepas berupa fragmen moluska dengan lima jenis moluska yang terdiri dari hellix pomatia, ruditapes decussatus, pugilina cochlidium, telescopium dan cerithidea quoyi. Benteng Bone-Bone memiliki fungsi sebagai benteng pertahanan.
RAGAM HIAS NISAN PASSULARA KONYINA KABALLANGAN DI DESA KABALLANGAN KECAMATAN DUAMPANUA KABUPATEN PINRANG Nur Hidayah; Ishak Kadir; Sandy Suseno
SANGIA JOURNAL OF ARCHAEOLOGY RESEARCH Vol. 7 No. 1: June 2023
Publisher : Laboratorium Jurusan Arkeologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/sangia.v7i1.2177

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menemukan unsur-unsur ragam hias dan unsur budaya yang mempengaruhi nisan pada Komplek Makam Passulara Konyina Kaballangan di Desa Kaballangan, kecamatan Duampanua, Kabupaten Pinrang. Metode penelitian yang digunakan adalah analisis deskriptif dan terdiri dari beberapa tahap seperti studi pustaka, observasi, wawancara dan dokumentasi. Dalam analisis data dalam penelitian ini menggunakan pendekatan morfologis dan stilistik. Berdasarkan hasil penelitian, ragam hias nisan pada kompleks Makam Passulara Konyina Kaballangan dihiasi dengan motif yang berupa geometris, yang lainnya adalah flora, dan inskripsi tulisan Aksara Arab dan Lontara. Berdasarkan temuan bentuk dan temuan ragam hias kedua makam tersebut menunjukan bahwa adanya unsur budaya yaitu megalitik, budaya lokal dan budaya Islam yang berkembang di daerah Pinrang.
POTENSI ARKEOLOGIS: GAMBAR CADAS KOMPLEKS GUA PRASEJARAH LIANG KABORI SULAWESI TENGGARA Amaluddin Sope; Mahirta Mahirta
SANGIA JOURNAL OF ARCHAEOLOGY RESEARCH Vol. 7 No. 1: June 2023
Publisher : Laboratorium Jurusan Arkeologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/sangia.v7i1.2178

Abstract

ABSTRAK Seni gua prasejarah yang dimiliki kompleks Gua Prasejarah Liang Kabori menjadi penting untuk diangkat potensinya karena sejak pertama kali ditemukan pada tahun 1970an sampai dengan saat ini, data gambar cadasnya baik itu warna pigmen, varian motif semakin bertambah seiring dengan ditemukannya situs-situs terbaru. Metode penelitian bersifat deskriptif eksploratif. Pengumpulan data berangkat dari studi literatur dan penjaringan data lapangan melalui teknik survei. Hasil penelitian menunjukkan kekayaan gambar cadas yang dimiliki pada masing-masing situs, baik dari warna, jenis gambar maupun jumlah. Sebaran gambar berpotensi untuk mengetahui kehidupan sosial masyarakat pendukung pembuat gambar cadas di Pulau Muna baik dari aspek religi, fungsi kehadiran hewan dalam kehidupan masyarakat pembuat gambar, respon masyarakat pembuatnya terhadap lingkungan, makna cap tangan bagi masyarakat pembuat gambar karena ditempatkan berbeda panel dengan motif lainnya, penggunaan perahu, serta makna layang-layang bagi kehidupan masyarakat pembuat gambar cadas. Secara umum, potensi arkeologis yang dimiliki dapat membuka ruang untuk pemanfaatan akademik dan pengembangan penelitian yang berkaitan dengan gambar cadas, termasuk kajian konservasi mengingat kondisi gambar cadas yang mengalami kerusakan. Tulisan ini juga melaporkan 5 situs gambar cadas terbaru, sehinga total situs saat ini menjadi 43 situs
SEBARAN GUA DAN CERUK PRASEJARAH DI DESA PADALERE UTAMA Hendra Saputra; Syahrun Syahrun; Salniwati Salniwati
SANGIA JOURNAL OF ARCHAEOLOGY RESEARCH Vol. 7 No. 1: June 2023
Publisher : Laboratorium Jurusan Arkeologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/sangia.v7i1.2179

Abstract

ABSTRAK Masalah yang diangkat dalam penelitian ini adalah (1) Gua dan Ceruk Prasejarah apa saja yang ada di Desa Padalere Utama, Kecamatan Wiwirano, Kabupaten Konawe Utara (2) Bagaimana karakteristik Gua dan Ceruk Prasejarah di Desa Padalere Utama, Kecamatan Wiwirano, Kabupaten Konawe Utara. Penelitian ini menggunakan metode penalaran induktif yaitu pernyataan secara khusus yang disimpulkan secara umum. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini yaitu data kepustakaan, data lapangan (observasi), dan wawancara. Selain itu, teknik analisis data yang dilakukan adalah analisis morfologi dan analisi kontekstual. Berdasarkan hasil penelitian, menunjukan bahwa ada sekitar 14 gua dan 2 ceruk yang ada di desa Padalere Utama ini dan masing- masing gua dan ceruk memiliki potensi adanya tinggalan arkeologis di dalamnya. Beberapa tinggalan arkeologis yang dapat ditemukan adalah moluska, tulang belulang, gerabah, alat batu,keramik dan gambar cadas. Dari banyaknya gua dan ceruk yang ditemukan, tinggalan arkeologis yang mendominasi adalah berupa moluska. Selain itu, karakteristik gua dan ceruk dapat dilihat dari keadaan morfologi, keadaan lingkungan dan keadaan tinggalan arkeologisnya. Sebaran gua dan ceruk prasejarah di Desa Padelere Utama dengan lingkungan yang mendukung kehidupan manusia prasejarah saai itu, menunjukan adanya budaya dan peradaban manusia serta imigrasinya. Kata Kunci: Sebaran; Gua; Ceruk; Karakteristik; Tinggalan Arkeologis
ANALISIS CATCHMENT AREA TERHADAP TINGGALAN MOLUSKA GUA Muhamad Ardian Syah; Abdul Rauf Suleiman; Syahrun Syahrun
SANGIA: Jurnal Penelitian Arkeologi Vol 7 No 1: June 2023
Publisher : Laboratorium Jurusan Arkeologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/sangia.v7i1.2174

Abstract

This research examines archaeological remains in the form of mollusks found at the Gua Tengkorak 2 site in Wawontoaho Village, Wiwirano District, North Konawe Regency. The methods used in this study include mollusk taxonomy analysis and catchment area analysis. Based on the taxonomic analysis, 11 species of mollusks from three different habitats were identified: one species of terrestrial gastropod (Cyclotus Politus), seven species of freshwater gastropods (Tylomelania Celebicola, Tylomelania Palicolarum, Tylomelania Perfecta, Tylomelania Sarasinorum, Tylomenia Scalariopsis, Tylomelania Sp, and Tylomelania Wallacei), two species of marine gastropods (Olividae and Tarebia Granifera), and one species of marine bivalve (Cytherea Incrassata). The catchment area for freshwater mollusks is the Larambe River, a freshwater environment located 4 kilometers from Gua Tengkorak 2. Meanwhile, the catchment area for marine mollusks is the southeastern region of North Konawe Regency, located approximately 20.5 kilometers from Gua Tengkorak 2. Specifically, no search for the catchment area of the terrestrial mollusk (Cyclotus Politus) was conducted due to significant environmental changes.

Page 7 of 16 | Total Record : 156