cover
Contact Name
Nani Darmayanti
Contact Email
n.darmayanti@unpad.ac.id
Phone
+6282130179000
Journal Mail Official
n.darmayanti@unpad.ac.id
Editorial Address
Gedung A Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjara Jalan Raya Bandung Sumedang Km 21 Jatinangor Kabupaten Sumedan 45363
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Metahumaniora
ISSN : 20854838     EISSN : 26572176     DOI : 10.24198/metahumaniora
Metahumaniora adalah jurnal dalam bidang bahasa, sastra, dan budaya yang diterbitkan oleh Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran sejak tahun 2012 dan bertujuan menyebarluaskan pemikiran-pemikiran konseptual maupun hasil riset yang telah dicapai dalam rumpun ilmu humaniora. Fokus dan ruang lingkup Jurnal Metahumaniora adalah kajian dalam rumpun ilmu humaniora, meliputi bidang bahasa (linguistik mikro, linguistik makro, dan linguistik interdisipliner), sastra, filologi, sejarah, dan kajian budaya. Metahumaniora diterbitkan pertama kali pada 10 Februari 2012 dalam versi cetak dengan nomor ISSN 2085-4838. Dan seiring dengan perkembangan sistem teknologi dalam bidang literasi, pada tanggal 12 April 2019 Jurnal Metahumaniora telah menggunakan Online Journal System (OJS) dengan nomor EISSN 2657-2176. Redaksi menerima tulisan yang diangkat dari hasil penelitian, gagasan konseptual, kajian, dan aplikasi teori, serta ulasan buku. Naskah yang diserahkan harus sesuai dengan fokus dan ruang lingkup jurnal serta sesuai dengan format penulisan yang telah ditetapkan (rujuk format penulisan). Penerbitan Metahumaniora dilakukan tiga kali dalam setahun, yaitu April, September, dan Desember. Meskipun demikian, penerimaan naskah dilakukan sepanjang tahun. Proses penyerahan, penilaian, dan penerbitan naskah seluruhnya dilakukan secara online. Metahumaniora menerapkan proses peer review. Semua artikel yang dikirimkan akan direview secara tertutup (blind review) oleh para mitra bestari. Pada umumnya, setiap artikel akan direview oleh satu sampai dua orang reviewer. Tanggapan dari para reviewer ini akan dijadikan landasan bagi Editor untuk menentukan apakah suatu artikel dapat diterima (accepted), diterima apabila direvisi (accepted with major/minor revision), atau ditolak (rejected).
Articles 263 Documents
Publikasi Ilmiah, Komunikasi Ilmiah, dan Perpustakaan Ilmiah di Era Online Pawit Yusuf
Metahumaniora Vol 7, No 1 (2017): METAHUMANIORA, APRIL 2017
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/metahumaniora.v7i1.23323

Abstract

Paper ini merupakan kajian implementatif atas sinergitas hubungan antara publikasi ilmiah, komunikasi ilmiah, dan perpustakaan ilmiah di era online seperti saat ini. Penerapan OJS (Online Journal System) dalam praktik komunikasi ilmiah dan publikasi ilmiah oleh institusi ilmiah, sudah mulai marak dalam beberapa tahun terakhir ini. Dengan menggunakan pendekatan pengamatan secara online pada beberapa OJS (Online Journal System) dan perpustakaan yang dikelola perguruan tinggi, diperoleh gambaran bahwa unsur atau pihak-pihak yang terlibat dalam praktik hubungan komunikasi ilmiah, mendudukkan perpustakaan sebagai bagian yang memiliki tugas untuk membantu memperlancar sistem pemanfaatan (sistem akses) artikel ilmiah pada jurnal ilmiah kepada masyarakat luas, baik dalam skala lokal maupun internasional. Namun demikian, sebagai institusi pengelola informasi dan sumbersumber informasi ilmiah, perpustakaan pun dapat memublikasikannya sendiri artikel-artikel ilmiah yang dikelolanya dengan menggunakan sistem OJS yang sama. 
Perbandingan Interjeksi dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Mandarin Uray Afrina
Metahumaniora Vol 8, No 2 (2018): METAHUMANIORA, SEPTEMBER 2018
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/metahumaniora.v8i2.20696

Abstract

AbstrakInterjeksi merupakan kelas kata yang cukup unik dan menarik dalam suatusistem bahasa. Interjeksi dalam bahasa Indonesia dan bahasa Mandarin merupakankata yang digunakan untuk menggambarkan perasaan yang ada di dalam diriseseorang, seperti marah, kesal, sedih, gembira, dan lain sebagainya. Jenis kata inidigunakan sesuai dengan intonasi ucapan yang ada, entah itu nada menaik ataupun turun. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisisdeskripsi persamaan dan perbedaan antara interjeksi dalam bahasa Indonesiadan bahasa Mandarin dalam lingkup karakteristik fonetik dan sifat poliseminya,warna emosional, fungsi tata bahasa dan kemudian membuat kesimpulan dariperbandingan tersebut. Meneliti persamaan dan perbedaan antara interjeksi dalambahasa Indonesia dan bahasa Mandarin akan membantu kita lebih memahamikarakteristik kedua bahasa tersebut dan juga memudahkan orang Indonesia dalampembelajaran bahasa Mandarin.Kata kunci: perbandingan, interjeksi, bahasa Indonesia, bahasa MandarinAbstractInterjection is a word class that is quite unique and interesting in a language system.Interjections in Indonesian and Mandarin are words used to describe feelings that exist within aperson, such as anger, resentment, sadness, joy, and so on. This type of word is used according to the intonation of the speech, whether it is an ascending or descending tone. The research method used is analyzing the description of similarities and differences between Indonesian and Chinese interjections in the phonetic characteristics, emotional colors, grammatical functions and then making conclusions from these comparisons. Examining the similarities and differences between interjections in Indonesian and Mandarin will help us better understand the characteristics of the two languages and also make it easier for Indonesian peoples to learn Chinese.Keywords: comparison, interjection, Indonesian, Mandarin
Kekoherensian Wacana Iklan Komersial dalam Website Softbank: Kajian Analisis Wacana Desi Damayanti
Metahumaniora Vol 7, No 2 (2017): METAHUMANIORA, SEPTEMBER 2017
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/metahumaniora.v7i2.18835

Abstract

ABSTRAKJepang merupakan negara dengan tiga perusahaan telekomunikasi ternama didunia, salah satunya SoftBank, sehingga perusahaan tersebut menggunakan berbagaicara kreatif untuk mempromosikan produknya, termasuk melalui media iklankomersial. Sells dan Gonzalez (dalam Astuti, 2005:3) menyatakan bahwa bahasa dalamiklan sedikit menyimpang dari kaidah tata bahasa, yang mempengaruhi keterpaduanmaknanya (koherensi). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasipenanda kekoherensian, hubungan kekoherensian serta faktor penyebab terjadinyakekoherensian pada wacana iklan komersial dalam website SoftBank yang dianalisisberlandaskan pada teori struktur iklan Bolen (1984), struktur retorika Mann danThompson (1988) serta koherensi Ramlan (1993). Penulis menggunakan metodedeskriptif analisis dalam penelitian ini. Dari hasil analisis data, teridentifikasi bahwapenanda kekoherensian yang sering muncul berjenis perturutan, contohnya seperti“maka dari itu”. Kemudian terdapat tiga jenis hubungan koherensi yang sering munculdalam kedua belas wacana iklan komersial tersebut, yakni uraian, latar belakang danurutan. Faktor penyebab kekoherensian adalah adanya pengetahuan yang dibagibersama (shared knowledge) dari pengiklan kepada konsumen, sehingga konsumendapat mengetahui dan ingin tahu lebih lanjut mengenai isi iklan.Kata kunci: wacana, iklan komersial, koherensi, struktur iklan, struktur retorikaABSTRACTJapan is a country with top three telecommunication brand companies in theworld, one of them is Softbank. This company uses a variety of methods to promote theirproducts, including the use of commercial ads. Sells and Gonzalez (from Astuti, 2005:3)declare that ads have a bit linguistic deviation that affecting the unity of meaning(coherence). The aim of this research is to identify the coherence markers, coherencerelations and coherence factors of SoftBank’s commercial adverting discourse (CAD)analyzed based on advertising theory from Bolen (1984) and rhetorical structure theoryfrom Mann and Thompson (1988) and Ramlan (1984). The writers use descriptivemethod in this research. The results of data analysis, it is identified that coherencemarkers like continuation are often used, for example “therefore”.Then, the twelve CADshave three kinds of coherence relations that often come in the CAD, such as elaboration,background, and sequence. The factor of the coherence is a sharing a knowledge fromadvertiser to consumer, so that consumer can be informed and want to know more aboutthe content of the ads.Keywords: discourse, commercial ads, coherence, ad’s structure, rhetorical structure
AN ACOUSTIC ANALYSIS OF VOICELESS ALVEOLAR PLOSIVE /t/ IN SUNDANESE, INDONESIAN, AND ENGLISH BY SUNDANESE SPEAKERS Jeri Sukmawijaya; Sutiono Mahdi; Susi Yuliawati
Metahumaniora Vol 10, No 1 (2020): METAHUMANIORA, APRIL 2020
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/metahumaniora.v10i1.26597

Abstract

A voiceless alveolar plosive /t/ is pronounced with many variations. In English, it is perceived to have an aspiration when it is in the initial segment of a word in a stressed syllable while Sundanese and Indonesian do not aspirate it. The study focuses on finding out Voice Onset Time (VOT) or duration of /t/ in Sundanese, Indonesian, and English produced by Sundanese speakers. The method used is quantitative and qualitative (mix method). The data are obtained from the voice recording of eighteen undergraduate students. They are all native Sundanese speakers who are learning English at IKIP Siliwangi Cimahi. The voice recordings are analyzed and measured by acoustic analysis by using PRAAT software. The result shows the average VOT or duration of /t/ in the initial segment of the word in Sundanese and Indonesian is identical, namely 20 ms. It indicates that they do not aspirate /t/ in Sundanese and Indonesian. Additionally, they transfer the way they produce /t/ in their two languages into English as their foreign language. It can be seen from the average VOT or duration of /t/ in the initial segment of the word in English that lasts 29 ms. This finding can be a reference to other researchers who want to know the necessary duration of /t/ in Sundanese and Indonesian produced by Sundanese speakers. 
Representasi Sikap Kebangsaan Anak Muda dalam Hegemoni Negara pada Novel Populer Muhamad Adji
Metahumaniora Vol 8, No 1 (2018): METAHUMANIORA, APRIL 2018
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/metahumaniora.v8i1.18878

Abstract

AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran tentang sikap kebangsaananak muda Indonesia pada tiga novel populer yaitu Ali Topan Anak Jalanan karya TeguhEsha, Lupus: Makhluk Manis dalam Bis karya Hilman Hariwijaya, dan Balada Si Roy karya GolaGong. Alasan pemilihan objek penelitian di atas adalah karena ketiga novel tersebut memilikitingkat popularitas yang tinggi pada tiap zamannya sehingga membuat tokoh utamanyamenjadi representasi anak muda Indonesia pada zamannya masing-masing. Pertanyaanpertanyaanyang memandu tulisan ini adalah 1) Bagaimana keindonesiaan digambarkanpada ketiga novel tersebut dan 2) Bagaimana sikap kebangsaan direpresentasikan tokohanak muda pada ketiga novel tersebut. Dari hasil kajian didapatkan simpulan bahwasikap kebangsaan yang ditampilkan pada ketiga novel tersebut memiliki tingkatan yangberbeda-beda. Novel Ali Topan Anak Jalanan menunjukkan sikap kebangsaan dengan lebihkritis. Hegemoni orde Baru pada masa itu belum berhasil karena novel populer masihmenampilkan tokoh anak muda yang kritis dan cenderung memberontak terhadap nilainilaiideologi Orde Baru. Periode ’80-an menampilkan novel populer dengan tokoh anakmuda yang memiliki sikap kebangsaan yang terbelah. Pertama, anak muda yang dapatmenerima realitas yang dikontruksi Orde Baru, dengan menjalani sistem tersebut danmemposisikan dirinya sebagai bagian dari sistem tersebut. Hal itu direpresentasikan olehtokoh Lupus dalam novel Lupus: Makhluk Manis dalam Bis. Kedua, anak muda yang tidakdapat menerima realitas yang dikonstruksi Orde Baru, dengan cara keluar dari bagiansistem tersebut. Hal itu direpresentasikan oleh tokoh Roy dalam Balada Si Roy.Kata kunci: kebangsaan, anak muda, novel populer, Orde BaruAbstractThis study aims to obtain a picture of Indonesian nationalism in the three popularnovels that were Ali Topan Anak Jalanan by Teguh Esha, Lupus: Makhluk Manis dalam Bisby Hilman Hariwijaya, dan Balada Si Roy by Gola Gong. The reason for choosing the object ofresearch above is that all three novels are recognized to have high levels of popularity in eachera so that made the main characters became a representation of Indonesian youth at that time.The questions that guide the writing are 1) How Indonesianness described in the third novel?2) How does nationalism represented by youth in these three novels. From the study results isobtained the conclusion that nationalism is displayed on the third novel has a level different.Ali Topan Anak Jalanan show a nationalism more critically. The New Order’s hegemony atthat time has not been successful because the novel still showing a critical youth and tends torevolt against the ideological values of the New Order. The ‘80s period featured a popular novelwith a youth character who had a split nationalism. First, the youth who can accept the realitythat the New Order has constructed, with the system and position itself as part of the system.It was represented by the Lupus’s character in the Lupus: Makhluk Manis dalam Bis. Second,the youth who can not accept the facts constructed by the New Order, by going out from thatpart of the system. It was represented by Roy’s character in the Balada Si Roy.Keywords: nationalism, youth, popular novel, New Order
Makna Puak Poi pada Upacara Paisin dalam Budaya Masyarakat Tionghoa di Kota Medan Rudiansyah, Rudiansyah
Metahumaniora Vol 7, No 2 (2017): METAHUMANIORA, SEPTEMBER 2017
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/metahumaniora.v7i2.18825

Abstract

ABSTRAK. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui makna puak poi dalam upacara paisin dalam budaya masyarakat Tionghoa di Kota Medan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif yang ditulis secara deskriptif. Metode pengumpulan data dilakukan melalui studi lapangan berupa: wawancara, observasi, perekaman upacara penggunaan puak poi, pengamatan terlibat (participant observer), dan studi kepustakaan. Secara kontekstual puak poi merupakan sarana komunikasi kepada Tuhan, dewa, atau leluhur di alam baka. Secara semiotik puak poi memiliki tiga petanda jawaban, yaitu: sengpoi (jawaban “ya”),jipoi (jawaban yang menggantung “antara ya dan tidak”), dan kampoi (jawaban “tidak”). Teks pertanyaan sekaligus permintaan umumnya menggunakan bahasa Indonesia, dengan tema berupa rezeki, jodoh, pengobatan, karir kerja, dan pembersihan altar keluarga.Kata kunci: Tionghoa, Medan, puak poi, paisin, sengpoi, jipoi, kampoi
TINDAK TUTUR BAHASA JEPANG PADA MEDIA SOSIAL “INSTAGRAM” DI MASA PANDEMI COVID-19: KAJIAN PRAGMATIK Irzam Sarif S; Nani Darmayanti
Metahumaniora Vol 10, No 3 (2020): METAHUMANIORA, DESEMBER 2020
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/metahumaniora.v10i3.30940

Abstract

AbstrakTindak tutur adalah aktivitas mengujarkan tuturan dengan maksud tertentu. Penelitian mengenai tindak tutur telah banyak dilakukan oleh peneliti sebelumnya, namun jumlahnya masih terbatas yang mengkaji mengenai tindak tutur di masa pandemi Covid-19. Penelitian ini membahas mengenai jenis-jenis tindak tutur di media sosial Instagram pada masa Covid-19. Penelitian ini menggunakan pendekatan pragmatik dengan teori tindak tutur Searle (1979). Metode yang digunakan berupa deskriptif kualitatif. Berdasarkan dari hasil analisis data, peneliti menemukan 3 jenis tindak tutur, yaitu 1) Tindak tutur direktif dengan implikatur membujuk dan menyemangati; 2) Tindak tutur representatif dengan implikatur memerintah dan memberi tantangan; 3) Tindak tutur ekspresif dengan implikatur menyemangati.Kata Kunci: Covid-19, Pragmatik, Tindak tutur  AbstractSpeech act is the activity of uttering speech with a specific purpose. Research on speech acts has been done by many researchers before, but the number is still limited that reviewed the speech acts during the Covid-19 pandemic. This study discussed the types of speech acts on Instagram social media during the Covid-19 period. This study used a pragmatic approach with Searle's speech act theory (1979). The method used is descriptive qualitative. Based on the results of data analysis, researcher found that 3 types of speech acts, namely 1) Directive speech acts with the implicature of persuading and encouraging; 2) Representative speech acts with the implicature of commanding and challenging; 3) Expressive speech acts with the implicature of encouraging.Keywords: Covid-19, Pragmatic, Speech act       
SEBERAPA PANJANG LONGUE DUREE? CATATAN TENTANG LONGUE DUREE DALAM PRAKTIK PENULISAN SEJARAH Gani Ahmad Jaelani
Metahumaniora Vol 9, No 3 (2019): METAHUMANIORA, DESEMBER 2019
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/metahumaniora.v9i3.25341

Abstract

Artikel ini dimaksudkan untuk menganalisis konsep longue durée dalam praktik penulisan sejarah. Sejak diperkenalkan oleh Fernand Braudel pada tahun 1958, ia terus menjadi bahan perdebatan dalam praktik penulisan sejarah di tingkat global. Berbagai kritik maupun apresiasi terhadap perspektif ini bisa ditemui dalam berbagai literatur tentang historiografi. Meskipun demikian, penjelasan mengenai apa itu longue duréesering kali absen dalam pembahasan, sehingga penggunaan istilah sering kali tidak seragam. Atas dasar itu, artikel ini akan membahas konteks sosial politik kelahiran longue durée. Selain itu, artikel ini juga akan membahas apa itu longue duréedan bagaimana ia dimaknai. Terkhir, artikel ini juga akan menganalisis reaksi yang muncul terhadapnya, dan semangat untuk kembali kepadanya sebagai upaya untuk mengaktualisasi kajian ilmu sosial, terutama kajian disiplin sejarah. 
Kedudukan dan Fungsi Bahasa dalam Permuseuman Erlina Zulkifli Mahmud; Taufik Ampera; Yuyu Yohana Risagarniwa; Inu Isnaeni Sidiq
Metahumaniora Vol 9, No 1 (2019): METAHUMANIORA, APRIL 2019
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/metahumaniora.v9i1.22871

Abstract

Kedudukan dan fungsi bahasa sebagai alat komunikasi manusia mencakup seluruh bidang kehidupan termasuk ilmu pengetahuan antara lain terkait sejarah peradaban manusia; bagaimana manusia mempertahankan hidupnya, bagaimana manusia memperlakukan alam, bagaimana alam menyediakan segala kebutuhan manusia. Apa yang dilakukan manusia saat ini, saat lampau, dan apa yang dilakukan manusia jauh di masa prasejarah, bagaimana kondisi alam di masa-masa tersebut, apa perubahan dan perkembangannya, dapat didokumentasikan melalui bahasa, divisualisasikan kembali, lalu dipajang sebagai salah satu upaya konversai dan preservasi dalam satu institusi yang disebut museum. Penelitian ini membahas kedudukan dan fungsi bahasa dalam permuseuman. Bagaimana kedudukan dan fungsi bahasa dalam permuseuman baik dalam informasi yang disampaikan oleh pemandu wisata museumnya maupun yang terpajang menyertai benda-benda dan gambar-gambar merupakan tujuan dari penelitian ini. Metode penelitian yang digunakan adalah gabungan antara metode lapangan dan metode literatur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara umum kedudukan bahasa Indonesia berada pada urutan pertama setelah Bahasa Inggris dan keberadaan kedua bahasa dalam permuseuman ini melibatkan dua fungsi utama bahasa, yakni fungsi komunikatif dan fungsi informatif.The existence and function of language  as a medium of communication covers all fields of human life including knowledge, one of them is the history of human civilization; how humans survived, how human utilized nature for their lives, and how nature provides all the necessities for humans. What humans have been doing now, what they have done in the past and far before that in the pre-history time, how the conditions of the nature at those times were and what changes as well as progresses occurred are documented using language, then re-visualized,  displayed as one of conservation and preservation acts in an institution called museum. This research discusess the existence and function of language in museums. How important the existence of a language in museums and what language functions used in museums both in informations given by the museum guides and on the displays accompanying objects and pictures are the aims of this research. The methods used are the combination between field research and library research. The results show that generally the existence of Indonesian language plays more important role than English and both languages have two main functions; communicative function and informative function.     
PENGARUH BAHASA PORTUGIS DAN MELAYU DALAM TIGA LAGU KERONCONG KREOL TUGU THE INFLUENCE OF PORTUGUESE AND MALAY LANGUAGE IN THREE CREOLE TUGU KERONCONG SONGS Arif Budiman
Metahumaniora Vol 10, No 2 (2020): METAHUMANIORA, SEPTEMBER 2020
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/metahumaniora.v10i2.29063

Abstract

PENGARUH  BAHASA PORTUGIS  DAN MELAYU DALAM TIGA LAGU KERONCONG KREOL TUGU Arif BudimanProgram Studi Prancis,  Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesiae-mail: arif.budiman31@ui.ac.id Abstrak Kreol Tugu adalah Bahasa Kreol Portugis yang sudah punah. Bahasa ini dulunya pernah dituturkan oleh Masyarakat Tugu yang sekarang berdiam di Semper, Jakarta Utara. Walaupun sudah dinyatakan punah, ternyata masih terdapat beberapa lagu dan acara budaya yang masih menggunakan Bahasa Kreol, salah satunya adalah lagu keroncong. Di dalam tulisan ini akan dibahas kosakata Bahasa Portugis dan Melayu yang terkandung di tiga lagu keroncong berbahasa Kreol. Temuan yang menarik adalah adanya percampuran unsur bahasa Portugis dan Melayu dalam tiga lagu keroncong Tugu. Selain itu, ditemukan bahwa sebagian besar kosakata Bahasa Kreol Portugis Tugu berasal dari Bahasa Portugis namun memiliki kaidah tata bahasa yang sangat terpengaruh oleh bahasa Melayu. Kata kunci : Bahasa Kreol Tugu, Bahasa Melayu, Keroncong Tugu, Bahasa Portugis, Etimologi THE INFLUENCE OF PORTUGUESE AND MALAY LANGUAGE IN THREE CREOLE TUGU KERONCONG SONGS Arif BudimanFrench Studies ,  Faculty of Humanities , Universitas Indonesiae-mail: arif.budiman31@ac.id Abstract Tugu Creole is an extinct Portuguese-based Creole. The language was once spoken by Tugu people who now live in Semper, North Jakarta. Despite the fact that Portuguese-based Creole has been declared extinct, several cultural events and songs and still use the language, as in Keroncong Song. This paper will discuss the Portuguese and Malay vocabulary contained in three Keroncong songs in Tugu Portuguese-based Creole. Interesting findings show that the three Keroncong songs incorporate combination of elements from Portuguese and Malay.  Furthermore, the study found that most of the vocabulary of Tugu Portuguese-based Creole in the three Keroncong songs are originated from Portuguese but  the grammar rules are heavily influenced by Malay. Key words : Creole Tugu, Malay Language, Keroncong Song, Portugu

Page 4 of 27 | Total Record : 263