cover
Contact Name
Suparman
Contact Email
suparman@uncp.ac.id
Phone
+6285261455244
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota palopo,
Sulawesi selatan
INDONESIA
Jurnal Onoma: Pendidikan, Bahasa, dan Sastra
ISSN : 24433667     EISSN : 27154564     DOI : https://doi.org/10.30605/onoma
Core Subject : Education,
Onoma adalah jurnal akademik yang diterbitkan pada bulan Mei dan November oleh Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Cokroaminoto Palopo. Jurnal ini menyajikan artikel-artikel ilmiah tentang pendidikan, bahasa dan sastra Indonesia.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 2,008 Documents
Konflik Psikologis dalam Novel Sisi Tergelap Surga Karya Brian Khrisna: Kajian Psikoanalisis Sigmund Freud Afvita Cantika Putri; Bambang Yulianto
Jurnal Onoma: Pendidikan, Bahasa, dan Sastra Vol. 12 No. 3 (2026): On Proses
Publisher : Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/ag46wb79

Abstract

Penelitian ini menganalisis konflik psikologis sepuluh tokoh dalam novel Sisi Tergelap Surga karya Brian Khrisna melalui kajian psikoanalisis Sigmund Freud dengan pendekatan kualitatif deskriptif. Data penelitian berupa 27 kutipan kata, kalimat, paragraf, dan dialog yang mencerminkan struktur kepribadian id, ego, dan superego, dikumpulkan melalui teknik baca-catat dan dianalisis melalui tahap identifikasi, klasifikasi, interpretasi, hingga penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konflik psikologis kesepuluh tokoh meliputi apatis, frustrasi, dendam, kecemasan, kekecewaan, trauma, dan keputusasaan terbentuk melalui interaksi dinamis antara id, ego, dan superego dengan dominasi berbeda pada setiap tokoh, serta dilatarbelakangi oleh lima bentuk realitas sosial yang saling berkaitan, yaitu kemiskinan, kriminalitas, kekerasan, prostitusi, dan stigma, dengan kemiskinan sebagai akar struktural yang mendorong munculnya bentuk realitas sosial lainnya. Penelitian ini menegaskan bahwa konflik batin tokoh dalam karya sastra bukan sekadar cerminan kelemahan pribadi, melainkan produk dari interaksi antara dinamika kepribadian dan tekanan struktural masyarakat, sehingga memperkuat relevansi teori psikoanalisis Freud sebagai alat baca yang dapat dipadukan dengan perspektif sosial dalam mengurai kompleksitas karya sastra.  
Tindak Tutur pada Interaksi Guru-Siswa dalam Pembelajaran di TK A Aisyiyah Bustanul Athfal Bebekan Sidoarjo Farida Ratnasari; Bambang Yulianto
Jurnal Onoma: Pendidikan, Bahasa, dan Sastra Vol. 12 No. 3 (2026): On Proses
Publisher : Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/ec3ntc14

Abstract

Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan bentuk, wujud, dan fungsi tindak tutur dalam interaksi guru-siswa pada pembelajaran di Kelas A Ibrahim TK Aisyiyah Bustanul Athfal Bebekan Sidoarjo, sebuah lembaga pendidikan anak usia dini berbasis nilai keislaman. Kajian ini penting dilakukan mengingat tuturan guru di ruang kelas PAUD bukan sekadar sarana penyampai informasi, melainkan tindakan pedagogis yang membentuk pemahaman dan perilaku anak usia dini. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan data berupa tuturan lisan guru dan siswa yang dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi selama proses pembelajaran alamiah berlangsung. Analisis data mengikuti tahap reduksi, penyajian, dan penarikan simpulan, dengan keabsahan data diuji melalui triangulasi teknik dan perpanjangan pengamatan. Temuan paling signifikan dari penelitian ini adalah dominasi tindak tutur berfungsi direktif, yang muncul jauh lebih sering dibandingkan keempat fungsi lainnya dan hampir hadir di setiap peristiwa tutur pembelajaran yang teramati, baik dalam bentuk perintah langsung, ajakan kolaboratif, maupun direktif bersyarat yang disertai konsekuensi. Dominasi ini menegaskan bahwa pengelolaan perilaku anak usia dini masih sangat bergantung pada arahan verbal eksplisit dari guru. Selain direktif, ditemukan pula fungsi asertif dan ekspresif yang aktif dari kedua belah pihak, fungsi komisif yang jarang namun bermakna kontraktual, serta fungsi deklaratif yang paling langka namun berdampak mengubah status sosial dalam kelas. Dari segi bentuk, tuturan menunjukkan keterjalinan erat antara lokusi, ilokusi, dan perlokusi; dari segi wujud, tuturan tidak langsung banyak digunakan untuk memperhalus perintah. Temuan ini memperlihatkan bahwa tindak tutur di kelas PAUD merupakan fenomena berlapis yang menuntut kepekaan pedagogis guru dalam memilih strategi bertutur yang tepat.
Jejak Budaya di Balik Nama Toko di Wilayah Tuparev, Karawang Shinta Pramesti Burhan; Cece Sobarna; Ani Rachmat
Jurnal Onoma: Pendidikan, Bahasa, dan Sastra Vol. 12 No. 3 (2026): On Proses
Publisher : Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/hyxesa20

Abstract

Kajian lanskap linguistik di Indonesia umumnya berhenti pada deskripsi distribusi bahasa dan belum banyak membedah lapisan makna ideologis di balik pilihan nama toko, terutama di kawasan perdagangan skala menengah seperti Karawang; celah inilah yang mendasari penelitian ini. Penelitian ini mengkaji makna denotatif dan konotatif tanda-tanda kebahasaan pada papan nama toko di kawasan Jalan Tuparev, Karawang. Menggunakan pendekatan semiotika Roland Barthes dua tingkat (denotasi dan konotasi), penelitian ini menganalisis 34 papan nama toko yang dikumpulkan melalui observasi lapangan dan wawancara mendalam dengan pemilik toko. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bahasa Indonesia mendominasi penggunaan bahasa pada papan nama (55,88%), diikuti oleh campur kode Indonesia–Inggris (26,47%), bahasa Inggris murni (8,82%), bahasa Tionghoa (5,88%), dan campur kode Indonesia–Angka (2,94%). Pada tataran denotatif, papan nama berfungsi sebagai penanda produk, lokasi, dan identitas pemilik. Pada tataran konotatif, ditemukan nilai-nilai yang lebih kompleks, meliputi: (1) identitas etnis dan kultural, khususnya pada toko Tionghoa dan toko dengan nama berbahasa asing; (2) aspirasi sosial dan ekonomi melalui penggunaan metafora kemewahan seperti “Istana” dan “Boss”; (3) nilai religiositas dan doa melalui pemilihan nama yang mengandung harapan; (4) dinamika budaya pop dan pengaruh era yang tercermin pada nama-nama yang terinspirasi peristiwa viral pada masanya; serta (5) strategi pemasaran berbasis ideologi bahasa. Temuan ini mengindikasikan bahwa papan nama toko bukan sekadar penanda komersial, melainkan merupakan ruang semiotis yang merekam ideologi, memori sosial, dan negosiasi identitas komunitas pedagang di Karawang.
Washback Effects of Summative English Test on Teaching Practices in EFL Classrooms: Teachers’ Perspectives Putri Alfiana Amalia; Muhammad Farkhan; Nida Husna; Teguh Khaerudin
Jurnal Onoma: Pendidikan, Bahasa, dan Sastra Vol. 12 No. 3 (2026): On Proses
Publisher : Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/2bpg4j10

Abstract

This study explores the perception of two secondary school EFL teachers towards the washback effect of summative English tests on their teaching practices. Employing a qualitative descriptive design with purposive sampling, data were collected through semi-structured interviews and analyzed using the Miles, Huberman, and Saldana (2014) interactive model, comprising data condensation, data display, and conclusion drawing and verification. Given the exploratory nature of this study and its limited number of participants, the findings are not intended for generalization but to offer contextual insights into how teachers interpret and respond to assessment demands in their daily classroom practices. The findings reveal that the summative English test shaped teachers’ instructional decisions, material selection, classroom activities, and time allocation before the examination. Both positive and negative washback were identified. Positive washback appeared in the form of increased student motivation, learning focus, familiarity with the test formats, material reinforcement, and formative feedback. Negative washback manifested as skills narrowing, particularly the marginalization of speaking and listening teaching to the test, score orientation, and student anxiety. Importantly, the findings suggest that washback is not mechanically produced by the test itself but is mediated by teachers’ pedagogical responses, including their choices of material, assessment media, and strategies for managing student pressure. These findings contribute to washback scholarship by foregrounding the teacher’s mediating role in the context of regular classroom summative tests, a dimension that remains underexplored compared to high-stakes national or international examinations.
Directive Speech Acts Reflecting Political Power in Black Panther: Wakanda Forever (2022) Syifa Widianisa; Deuis Sugaryamah; Erlan Aditya Ardiansyah
Jurnal Onoma: Pendidikan, Bahasa, dan Sastra Vol. 12 No. 3 (2026): On Proses
Publisher : Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/65s6x063

Abstract

This study investigates directive speech acts in Black Panther: Wakanda Forever by examining their linguistic realization, degrees of directness, and representation of political authority. The study aims to explain how directive speech acts function not only to direct actions but also to construct political authority within cinematic discourse. This research employed a qualitative descriptive design using Searle’s (1979) speech act theory and Weber’s (1947) theory of authority. Although Weber distinguishes traditional, charismatic, and legal-rational authority, this study focuses only on legal-rational and charismatic authority because these were the only authority types identified in the selected data. The data consisted of 24 directive utterances produced by the main characters, namely Shuri, Queen Ramonda, and Namor, which were collected through observation and document analysis. The findings reveal that commands are the most dominant directive speech act, followed by warnings, requests, suggestions, and advice. In terms of linguistic realization, directive speech acts are linguistically realized through declarative (16), imperative (7), and interrogative (1) forms, with declarative forms occurring most frequently. In terms of degree of directness, indirect directives (14) occur more frequently than direct directives (10). Furthermore, the analysis shows that directive speech acts represent both legal-rational and charismatic authority. Legal-rational authority is reflected through institutional legitimacy and hierarchical control, whereas charismatic authority is constructed through persuasion, cooperation, and interpersonal influence. These findings indicate that political authority in cinematic discourse is dynamically constructed through linguistic form, communicative intention, context, and social relations rather than being determined solely by grammatical structure. This study contributes to pragmatic studies by demonstrating the relationship between directive speech acts, linguistic realization, directness, and political authority in cinematic discourse.
Strategi Ketidaksantunan dalam Konfrontasi Verbal: Debat Isu Ijazah Palsu Jokowi YouTube iNews Intan Latifah Nuratmojo; Teguh Setiawan; Setyawan Pujiono
Jurnal Onoma: Pendidikan, Bahasa, dan Sastra Vol. 12 No. 3 (2026): On Proses
Publisher : Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/j8bsvr53

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk-bentuk dan tujuan penggunaan strategi ketidaksantunan berbahasa dalam debat isu Ijazah Palsu Jokowi di kanal YouTube Official iNews. Penelitian ini penting untuk dilakukan guna memahami fenomena degradasi etika komunikasi dalam diskursus politik di ruang digital yang berpotensi memicu polarisasi publik. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan menggunakan teori ketidaksantunan dari Jonathan Culpeper dalam kerangka sosiopragmatik. Data penelitian ini merupakan transkrip argumen para tokoh dalam debat yang dikumpulkan melalui teknik simak dan catat. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dari total 305 tuturan, terdapat 107 yang tergolong dalam 5 jenis ketidaksantunan, dengan persentase kemunculan pada ketidaksantunan langsung 19%, ketidaksantunan positif 34%, ketidaksantunan negatif 19%, sarkasme dan ejekan 10%, dan ketidaksantunan tidak langsung 18%. Tujuan penggunaan strategi tersebut didominasi oleh upaya meruntuhkan kredibilitas lawan secara terbuka, mempertahankan argumen, dan mendelegitimasi otoritas pihak lawan dalam konfrontasi verbal.  Penelitian ini memberikan kontribusi teoretis bagi pengembangan studi pragmatik mengenai ketidaksantunan dalam konfrontasi verbal dan menjadi sumber referensi masyarakat dalam menjaga etika komunikasi di ruang publik digital.
Strategi Tuturan Respons Siswa Generasi Z terhadap Pertanyaan Guru dalam Interaksi Pembelajaran Bahasa Indonesia di Kelas XI SMK Bunga Varenia Tiara Putri Wijaya; Imam Suyitno; Didin Widyartono
Jurnal Onoma: Pendidikan, Bahasa, dan Sastra Vol. 12 No. 3 (2026): On Proses
Publisher : Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/89j3dm35

Abstract

Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan strategi tuturan respons siswa Generasi Z terhadap pertanyaan guru dalam interaksi pembelajaran Bahasa Indonesia. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian tindak tutur dalam perspektif pragmatik. Penelitian dilaksanakan di SMKN 7 Malang dengan subjek siswa kelas XI. Data penelitian berupa tuturan respons verbal siswa terhadap pertanyaan guru yang dikumpulkan melalui observasi, perekaman, pencatatan, dan wawancara semi-terstruktur. Analisis data dilakukan menggunakan model analisis interaktif Miles dan Huberman yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan simpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi tuturan respons siswa Generasi Z terdiri atas empat kategori, yaitu strategi persetujuan, strategi penolakan, strategi konfirmasi, dan strategi penghindaran. Strategi persetujuan direalisasikan dalam bentuk persetujuan langsung, persetujuan dengan alasan, dan persetujuan parsial serta menjadi kategori yang paling dominan karena siswa cenderung memberikan respons yang selaras dengan maksud pertanyaan guru dan tujuan pembelajaran. Strategi penolakan direalisasikan melalui penolakan langsung, penolakan dengan alasan, dan penolakan dengan alternatif. Strategi konfirmasi diwujudkan dalam bentuk meminta pengulangan, meminta penjelasan, dan meminta penegasan, sedangkan strategi penghindaran direalisasikan melalui humor, jawaban tidak pasti, dan penundaan respons. Temuan penelitian menunjukkan bahwa pemilihan strategi tuturan respons dipengaruhi oleh konteks interaksi pembelajaran dan mencerminkan kemampuan pragmatik siswa dalam menyesuaikan cara berkomunikasi sesuai dengan situasi yang dihadapi. Penelitian ini memberikan kontribusi terhadap pengembangan kajian pragmatik, khususnya mengenai strategi tuturan dalam wacana kelas, serta menjadi referensi bagi guru dalam merancang strategi bertanya yang mampu mendorong respons siswa secara lebih aktif dan komunikatif.
Seloko dalam Tradisi Tunjuk Ajar Tegur Sapo pada Upacara Pernikahan Jambi: Kajian Etnografi Komunikasi Zahra Hapriani Hasbiallah
Jurnal Onoma: Pendidikan, Bahasa, dan Sastra Vol. 12 No. 3 (2026): On Proses
Publisher : Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/x7rhee18

Abstract

Tradisi Tunjuk Ajar Tegur Sapo merupakan salah satu bentuk komunikasi adat masyarakat Melayu Jambi yang menggunakan seloko sebagai media penyampaian nasihat kepada kedua mempelai setelah pernikahan. Tradisi ini tidak hanya berfungsi sebagai sarana komunikasi, tetapi juga sebagai media pewarisan nilai-nilai budaya yang diwariskan secara turun-temurun. Kajian mengenai bentuk komunikasi dalam tradisi tersebut masih relatif terbatas, khususnya yang menggunakan perspektif etnografi komunikasi. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan mendeskripsikan bentuk komunikasi dalam Tradisi Tunjuk Ajar Tegur Sapo berdasarkan model SPEAKING Dell Hymes. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode etnografi komunikasi. Data diperoleh melalui observasi terhadap video dokumentasi, transkripsi tuturan seloko, dan dokumentasi pendukung. Analisis dilakukan menggunakan model SPEAKING Dell Hymes untuk mengidentifikasi pola komunikasi dalam tradisi Tunjuk Ajar Tegur Sapo. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Tradisi Tunjuk Ajar Tegur Sapo merupakan speech event yang berlangsung melalui komunikasi satu arah dalam suasana adat yang sakral, dengan struktur penyampaian seloko yang sistemastis sebagai media pewarisan nilai budaya. Struktur tersebut dimulai dari penegasan perubahan status sosial, pembentukan karakter, penguatan etika keluarga dan masyarakat, penanaman tanggung jawab ekonomi, hingga peneguhan nilai adat dan agama. Penelitian ini berkontribusi dalam memperkaya kajian etnografi komunikasi dengan menunjukkan bahwa model SPEAKING mampu menjelaskan hubungan antara struktur komunikasi adat dan mekanisme pewarisan nilai budaya.