cover
Contact Name
Suparman
Contact Email
suparman@uncp.ac.id
Phone
+6285261455244
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota palopo,
Sulawesi selatan
INDONESIA
Jurnal Onoma: Pendidikan, Bahasa, dan Sastra
ISSN : 24433667     EISSN : 27154564     DOI : https://doi.org/10.30605/onoma
Core Subject : Education,
Onoma adalah jurnal akademik yang diterbitkan pada bulan Mei dan November oleh Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Cokroaminoto Palopo. Jurnal ini menyajikan artikel-artikel ilmiah tentang pendidikan, bahasa dan sastra Indonesia.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 2,015 Documents
Simbol dan Citraan Kuliner: Gastrokritik terhadap Perjamuan Khong Guan Karya Joko Pinurbo Yazid Kamal; Hartono Hartono
Jurnal Onoma: Pendidikan, Bahasa, dan Sastra Vol. 12 No. 3 (2026): Penulis pada Edisi ini Terdiri dari Dua (2) Negara: Indonesia dan Turki
Publisher : Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/kbh91f12

Abstract

Elemen kuliner dalam karya sastra sering kali dipandang sekadar sebagai latar estetika statis, padahal makanan merupakan sistem tanda yang sarat akan muatan sosiokultural. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konstruksi simbol dan citraan kuliner dalam kumpulan puisi Perjamuan Khong Guan karya Joko Pinurbo melalui lensa gastrokritik, serta mengungkap bagaimana elemen tersebut merepresentasikan memori kolektif dan realitas sosiopolitik masyarakat Indonesia. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan teknik analisis isi (content analysis). Sebanyak 13 puisi dipilih sebagai korpus data menggunakan teknik purposive sampling, yang kemudian dianalisis melalui pembacaan mendalam berprinsip hermeneutik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa simbol kuliner, khususnya Kaleng Khong Guan, bertransformasi dari sekadar wadah komoditas menjadi lieux de mémoire (situs memori) yang merekam identitas kultural perayaan Lebaran sekaligus trauma fragmentasi sosial. Penelitian ini mengakui sifat intermedialitas yang kuat pada objek tersebut, di mana Joko Pinurbo melakukan literarisasi terhadap fenomena meme digital populer yang memparodikan ketiadaan figur ayah sebelum mengangkatnya ke dalam teks sastra. Dialektika citraan sensoris, terutama kontras antara rasa ‘renyah’ dan ‘getir’, berfungsi sebagai metafora ketabahan individu dalam mengonsumsi pahitnya kenyataan hidup. Kebaruan penelitian ini terletak pada pergeseran fokus analisis dari ranah domestik menuju kritik sosiopolitik makro. Berbeda dengan penelitian Ambarwati et al. (2020) yang menitikberatkan pada krisis relasi keluarga di ruang privat, temuan penelitian ini membuktikan bahwa aktivitas di meja makan merupakan mikrokosmos dari intervensi negara. Melalui narasi satir “Ayah dipinjam negara”, teks mengonstruksi fenomena fatherless sebagai representasi ketiadaan sosok pengayom dalam struktur bangsa. Simpulan penelitian menegaskan bahwa integrasi gastrokritik dan sosiologi memori mampu membedah aktivitas profan di meja makan sebagai situs yang merekam luka kolektif sebuah bangsa akibat intervensi kekuasaan.
Lanskap Linguistik Plang Usaha Kuliner di Kawasan Bisnis Manado Stella Sherly Margriet Karouw; Stefanie Humena; Mariam Lidia Mytty Pandean; Meity Jane Wowor
Jurnal Onoma: Pendidikan, Bahasa, dan Sastra Vol. 12 No. 3 (2026): Penulis pada Edisi ini Terdiri dari Dua (2) Negara: Indonesia dan Turki
Publisher : Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/0gcm0x41

Abstract

Penelitian ini mengkaji penggunaan bahasa pada plang usaha kuliner di kawasan bisnis Megamas Manado melalui pendekatan Lanskap Linguistik atau studi mengenai penggunaan bahasa pada ruang publik. Penelitian ini dirancang dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan data berupa gambar atau foto plang usaha kuliner. Data tersebut diperoleh melalui pengamatan langsung di lapangan dengan cara mendokumentasikannya dalam bentuk foto. Data yang terkumpul diklasifikasikan berdasarkan variasi atau pola kombinasi bahasa yang terdapat pada plang tersebut. Data dianalisis berdasarkan bentuk aspek lingual, yakni kata dasar, kata berimbuhan, frasa, dan klausa. Selanjutnya dideskripsikan makna denotatif, konotatif, dan diakhiri dengan penjelasan fungsi informasional dan fungsi simbolik. Berdasarkan hasil penelitian, terdapat 95 tanda bahasa yang terdiri atas 46 tanda variasi monolingual, 29 tanda variasi bilingual, dan 20 tanda variasi multilingual. Tanda-tanda bahasa tersebut terdiri atas kata dasar dan kata berimbuhan yang membentuk frasa dan klausa. Beberapa tanda bahasa memperlihatkan permainan bahasa seperti abreviasi, gabungan kata, serta plesetan bunyi. Adapun tanda-tanda bahasa tersebut memperlihatkan fungsi informasional dan simbol identitas serta kebudayaan.
Cosmology and Satire: Symbolic Transformation in Javanese Wayang and Ottoman Karagöz Akhmad Mughzi Abdillah; Nirwan Nirwan; Berrin Sarıtunç
Jurnal Onoma: Pendidikan, Bahasa, dan Sastra Vol. 12 No. 3 (2026): Penulis pada Edisi ini Terdiri dari Dua (2) Negara: Indonesia dan Turki
Publisher : Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/t6m9hf31

Abstract

This article examines Wayang and Karagöz as two shadow theatre traditions that have long functioned as vehicles of cultural meaning, moral instruction, and social commentary. Although both forms are widely recognized in their respective cultural contexts, they are often studied separately, leaving limited comparative insight into how performance organizes cosmology, ethics, and public life across different traditions. The central question of this study is how Wayang and Karagöz transform inherited narrative materials into locally meaningful performative systems, and what this comparison reveals about the relationship between tradition, satire, and identity. To address this problem, the article uses comparative textual analysis of existing scholarly literature on both traditions. Previous studies have shown that Wayang localizes Indian epic materials within Javanese cosmology and ethics, while Karagöz develops within Ottoman urban culture as a form of satire and social critique. Building on this research, the article argues that Wayang emphasizes harmony, ritual order, and moral refinement through figures such as Semar and the punakawan, whereas Karagöz stages social plurality through the Karagöz–Hacıvat relationship and comic mediation. The findings suggest that both traditions function not only as entertainment but also as culturally authoritative media for teaching, social critique, and communal reflection. The article further shows that their modern significance lies in their adaptation to national identity projects, with Wayang becoming associated with Indonesian cultural heritage and Karagöz with Turkish cultural memory.
Media Sosial sebagai Arena Kontestasi Makna: Representasi, Cancel Culture, dan Citra Selebritas dalam Kasus #BoikotAbidzar Dinka Handara Puspitasari; Shuri Mariasih Gietty Tambunan
Jurnal Onoma: Pendidikan, Bahasa, dan Sastra Vol. 12 No. 3 (2026): Penulis pada Edisi ini Terdiri dari Dua (2) Negara: Indonesia dan Turki
Publisher : Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/czhbfd82

Abstract

Dalam era digital, cancel culture telah menjadi fenomena sosial yang meluas secara global, termasuk di Indonesia. Fenomena ini muncul kuat di media sosial dan berpengaruh besar dalam menentukan bagaimana identitas selebritas dibentuk, diperdebatkan, bahkan dihancurkan. Penelitian ini membahas dinamika cancel culture melalui tagar #BoikotAbidzar, yang ramai diperbincangkan setelah Abidzar Al Ghifari diumumkan sebagai pemeran utama dalam film remake A Business Proposal. Masalah utama dalam penelitian ini adalah kesenjangan antara maksud personal Abidzar dan interpretasi publik yang memicu wacana negatif di media sosial hingga membentuk gerakan pemboikotan. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap bagaimana wacana tersebut terbentuk dan bagaimana publik menegosiasikan nilai-nilai sosial dalam menilai kelayakan selebritas. Penelitian ini menggunakan metode analisis wacana kritis Fairclough (2013) terhadap komunikasi daring di platform X (Twitter) periode Januari–Maret 2025, serta kerangka representasi Stuart Hall (1980) untuk menelaah proses encoding dan decoding makna. Hasil penelitian menunjukkan tiga temuan utama. Pertama, kontroversi terjadi karena apa yang dimaksud Abidzar berbeda dengan apa yang dipahami publik. Kedua, media sosial berperan sebagai ruang di mana makna diperebutkan dan citra selebritas dibentuk secara kolektif. Ketiga, kendali atas representasi selebritas tidak lagi sepenuhnya berada di tangan selebritas, melainkan telah beralih ke tangan publik digital. Cancel culture dalam konteks ini tidak hanya menjadi bentuk hukuman, tetapi juga membuka ruang diskusi tentang profesionalisme dan etika selebritas di industri hiburan Indonesia.
Analisis Tindak Tutur Guru dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia di SMP Muhammadiyah Tanjung Sakti Pumu: Kajian Pragmatik Ria Hasanah; Henny Nopriani; Arni Wijaya
Jurnal Onoma: Pendidikan, Bahasa, dan Sastra Vol. 12 No. 3 (2026): Penulis pada Edisi ini Terdiri dari Dua (2) Negara: Indonesia dan Turki
Publisher : Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/qfw36x38

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tindak tutur ilokusi guru dalam pembelajaran bahasa Indonesia di SMP Muhammadiyah Tanjung Sakti PUMU. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Data bersumber dari tuturan guru bahasa Indonesia pada kelas VII, VIII, dan IX selama 9 kali pertemuan dari tanggal 23 Februari hingga 7 Maret 2026. Teknik pengumpulan data meliputi teknik rekam, simak, dan catat. Analisis data menggunakan teknik padan intralingual. Hasil penelitian menemukan lima jenis tindak tutur ilokusi: (1) representatif/asertif sebanyak 21 tuturan dalam bentuk mengatakan (12), menyebutkan (6), dan melaporkan (3); (2) direktif/impositif sebanyak 30 tuturan dalam bentuk menyuruh (15), meminta (4), melarang (7), dan memperingatkan (4); (3) ekspresif/evaluatif sebanyak 3 tuturan dalam bentuk marah (2) dan kasihan (1); (4) komisif sebanyak 5 tuturan dalam bentuk janji (2) dan tawaran (3); serta (5) deklaratif/isbati sebanyak 1 tuturan dalam bentuk mengizinkan. Total keseluruhan 60 tuturan ditemukan dengan tindak tutur direktif sebagai yang paling dominan (50%), mencerminkan fungsi utama guru sebagai pengarah dan pengelola proses pembelajaran.
Karakteristik Asesmen Membaca Sastra pada Buku Ajar Bahasa Indonesia Kelas VII SMP Nurjihaan Nabiilah; Didin Widyartono; Karkono Karkono; Imam Agus Basuki; Pidekso Adi
Jurnal Onoma: Pendidikan, Bahasa, dan Sastra Vol. 12 No. 3 (2026): Penulis pada Edisi ini Terdiri dari Dua (2) Negara: Indonesia dan Turki
Publisher : Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/djtkqy51

Abstract

Asesmen membaca sastra dalam buku ajar masih cenderung berfokus pada pemahaman dasar, sehingga kemampuan berpikir kritis dan apresiasi sastra siswa belum berkembang secara optimal. Penelitian ini bertujuan mengkaji karakteristik asesmen membaca sastra pada buku Bahasa Indonesia kelas VII yang meliputi ragam tes, keselarasan tujuan dengan instrumen asesmen, dan tingkat pemahaman membaca berdasarkan Taksonomi Barrett. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis isi. Sumber data berupa latihan membaca sastra dalam buku Bahasa Indonesia kelas VII terbitan tahun 2021. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui membaca, mengidentifikasi, dan mengklasifikasi data berdasarkan fokus penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa asesmen membaca sastra didominasi oleh ragam tes objektif, sedangkan tes subjektif masih terbatas. Dari aspek keselarasan tujuan dengan instrumen, sebagian besar instrumen telah sesuai dengan tujuan pembelajaran, meskipun beberapa belum sepenuhnya mengukur kemampuan analisis mendalam. Pada tingkat pemahaman membaca, asesmen lebih banyak mengembangkan pemahaman literal dibandingkan inferensial, reorganisasi, evaluasi, dan apresiasi. Temuan ini menunjukkan bahwa asesmen membaca sastra masih berorientasi pada pemahaman tersurat, sehingga perlu pengembangan instrumen yang lebih mendorong kemampuan berpikir kritis, interpretatif, dan apresiatif siswa terhadap karya sastra.
A Speech Act Analysis of Expressive Language in the Animated Movie Brave (2012): Investigating Emotional Communication Through Movie Dialogue Eva Dwi Asri; Sigit Suharjono
Jurnal Onoma: Pendidikan, Bahasa, dan Sastra Vol. 12 No. 3 (2026): Penulis pada Edisi ini Terdiri dari Dua (2) Negara: Indonesia dan Turki
Publisher : Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/3hbyrd88

Abstract

This study examines the use of expressive speech acts in the movie ’’Brave’’ to identify their types and perlocutionary effects in character interactions. This research employs a descriptive qualitative method, focusing on the utterances produced by the characters in the film. Data were collected through observation and note-taking techniques and analyzed using Searle’s classification of expressive speech acts. The findings reveal that 36 locutions are categorized as expressive speech acts, which are classified into six types: thanking, congratulating, apologizing, complaining, welcoming, and praising. Among these types, complaining appears most frequently, while congratulating is the least frequent. Additionally, the interpretation of these speech acts is influenced by contextual factors and the responses of the interlocutors, which depend on the situation. Furthermore, the study finds that expressive speech acts produce various perlocutionary effects on the listeners, including happiness, silence, emotional reactions, disagreement, forgiveness, and supportive responses. These effects are reflected through both verbal and non-verbal reactions shown by the interlocutors during communication. Therefore, the findings highlight that expressive speech acts play an important role not only in conveying emotions and supporting character development but also in influencing the interlocutors’ attitudes and responses throughout the interactions in the movie.
Perbedaan Kemampuan Menceritakan Kembali Antara Siswa yang Belajar melalui Media Video dan Media Teks di Kelas 8 Natalia Tandi liling; Maman Suryaman; Esti Swastika
Jurnal Onoma: Pendidikan, Bahasa, dan Sastra Vol. 12 No. 3 (2026): Penulis pada Edisi ini Terdiri dari Dua (2) Negara: Indonesia dan Turki
Publisher : Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/kr2fw493

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan kemampuan menceritakan kembali antara siswa kelas VIII yang belajar menggunakan media video dan siswa yang belajar menggunakan media teks. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain eksperimen semu (quasi experiment). Sampel penelitian berjumlah 30 siswa yang dibagi menjadi dua kelompok, yaitu 15 siswa pada kelompok media video dan 15 siswa pada kelompok media teks. Data dikumpulkan melalui tes kemampuan menceritakan kembali yang diberikan setelah pelaksanaan pembelajaran. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan statistik deskriptif dan uji independent samples t-test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelompok yang belajar menggunakan media video memperoleh nilai rata-rata sebesar 72,53, sedangkan kelompok yang belajar menggunakan media teks memperoleh nilai rata-rata sebesar 39,07. Hasil uji hipotesis menunjukkan nilai signifikansi sebesar 0,000 (p < 0,05), yang berarti terdapat perbedaan yang signifikan antara kedua kelompok. Temuan ini mengindikasi bahwa siswa yang belajar menggunakan media video menunjukkan kemampuan menceritakan kembali yang lebih tinggi dibandingkan siswa yang belajar menggunakan media teks, yang diduga terkait dengan perpaduan unsur visual dan auditori pada media video. Karena desain penelitian ini bersifta posttest-only tanpa pretes, temuan tersebut perlu dimaknai sebagai bukti hubungan asosiatif, bukan hubungan kausal yang definitif. Meskipun demikian, media video berpotensi dijadikan sebagai salah satu alternatif media pembelajaran untuk mendukung kemampuan menceritakan kembali siswa pada pembelajaran Bahasa Indonesia tingkat SMP.
Children's Book Collection In Universitas Pendidikan Indonesia Library: A Critical Analysis From A Children's Literature Perspective Zulfikar Alamsyah
Jurnal Onoma: Pendidikan, Bahasa, dan Sastra Vol. 12 No. 3 (2026): Penulis pada Edisi ini Terdiri dari Dua (2) Negara: Indonesia dan Turki
Publisher : Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/m2gz2x13

Abstract

Academic libraries serving teacher education carry a dual mandate: supplying current readers while training future selectors of children's books. This study asks whether a collection can appear balanced by broad category yet remain narrow on the dimensions that matter most for that second mandate. This research evaluated 60 books suitable for upper elementary readers (grades 4 to 6) from Universitas Pendidikan Indonesia's library collection of 257 children's titles, using a children's literature framework to analyze genre, theme, character, setting, and illustration. The collection is weighted toward nonfiction (38.3%) and away from traditional literature (1.7%), and its single traditional literature title is a German rather than an Indonesian folktale, meaning Indonesian oral tradition is effectively absent from a category meant to carry it. Character representation shows a similar asymmetry: adult and religious figures are nearly absent (1.7% and 3.3%), and the only explicitly gender marked character category is Princess (6.7%), with no equivalent male-marked category. Illustration quality varies sharply by publication origin: locally published titles show 28.6% good-quality illustrations against 71.4% poor, compared to 97.8% good among internationally published titles, a gap that makes quality filtering and support for domestic publishing genuinely conflicting acquisition goals rather than complementary ones. These patterns indicate that genre and format count alone are insufficient evaluation criteria for teacher-education library collections; cultural specificity, authority modeling, gender symmetry, and publication-origin parity require explicit tracking. This study offers a replicable method for surfacing such imbalances and provides baseline evidence for collection development in Indonesian academic libraries.
Efektivitas Model Pembelajaran Cooperative Script dalam Mata Kuliah Compréhension Écrite Élémentaire Meutia Hanny Nareswari; Sri Handayani
Jurnal Onoma: Pendidikan, Bahasa, dan Sastra Vol. 12 No. 3 (2026): Penulis pada Edisi ini Terdiri dari Dua (2) Negara: Indonesia dan Turki
Publisher : Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/rdjdj832

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perubahan kemampuan compréhension écrite mahasiswa setelah penerapan model pembelajaran Cooperative Script. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain Pre-Experimental tipe One-Group Pretest-Posttest Design yang melibatkan 48 mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Prancis, Universitas Negeri Semarang sebagai subjek penelitian. Data diperoleh melalui tes compréhension écrite yang diberikan sebelum (pre-test) dan sesudah (post-test) penerapan Cooperative Script. Data dianalisis menggunakan statistik deskriptif, uji normalitas, dan uji Wilcoxon Signed Ranks Test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata nilai pre-test sebesar 80,21 meningkat menjadi 90,42 pada post-test. Hasil uji Wilcoxon Signed Ranks Test menunjukkan nilai Z = -5,641 dengan signifikansi < 0,001 (p < 0,05), yang mengindikasikan adanya perbedaan yang signifikan antara skor pre-test dan post-test. Temuan ini menunjukkan adanya peningkatan kemampuan compréhension écrite mahasiswa setelah penerapan Cooperative Script. Namun, mengingat penelitian menggunakan desain pre-experimental tanpa kelompok kontrol, temuan ini belum dapat digunakan untuk menyimpulkan hubungan kausal secara mutlak maupun digeneralisasikan secara luas.