cover
Contact Name
Suparman
Contact Email
suparman@uncp.ac.id
Phone
+6285261455244
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota palopo,
Sulawesi selatan
INDONESIA
Jurnal Onoma: Pendidikan, Bahasa, dan Sastra
ISSN : 24433667     EISSN : 27154564     DOI : https://doi.org/10.30605/onoma
Core Subject : Education,
Onoma adalah jurnal akademik yang diterbitkan pada bulan Mei dan November oleh Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Cokroaminoto Palopo. Jurnal ini menyajikan artikel-artikel ilmiah tentang pendidikan, bahasa dan sastra Indonesia.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 2,008 Documents
Tanah sebagai Medan Konflik: Politik Ruang dalam Cerpen Tanah Ihi Karya A. Warits Rovi Perspektif Sara Upstone Ardhani Endriaswari; Muhammad Abiel Miladz; Affan Akbar
Jurnal Onoma: Pendidikan, Bahasa, dan Sastra Vol. 12 No. 3 (2026): On Proses
Publisher : Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/de21t866

Abstract

Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis politik ruang dan bentuk-bentuk negosiasi identitas yang muncul dalam cerpen Tanah Ihi karya Warits dengan menggunakan teori yang dikembangkan oleh Sara Upstone, yaitu konsep politik ruang (spatial politics). Cerpen ini menjadikan suatu ruang, yakni tanah adat sebagai medan negosiasi kekuasaan antara otoritas adat, kepentingan komunitas, dan pengalaman personal tokoh. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan teknik close reading untuk mengidentifikasi relasi kekuasaan yang diwujudkan melalui ruang fisik, ruang sosial, dan ruang tubuh. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ruang dalam cerpen berfungsi sebagai instrumen politik yang membentuk, membatasi, dan menegosiasikan posisi tokoh dalam struktur sosial. Ruang Tanah Ihi memproduksi ketegangan antara tradisi dan kepentingan modern, sementara tubuh tokoh menjadi arena internalisasi tekanan sosial sekaligus tempat munculnya resistensi. Negosiasi ruang terjadi ketika tokoh berusaha mempertahankan identitas dan moralitasnya di tengah dominasi adat dan komunitas. Penelitian ini menyimpulkan bahwa cerpen Tanah Ihi menghadirkan ruang sebagai penyebab adanya negosiasi yang muncul di tengah masyarakat, sebagai entitas politik yang dinamis dan menjadi pusat konflik atas identitas, legitimasi, dan kekuasaan dalam masyarakat.
Deiksis dalam Novel 0 MDPL karya Nurwina Sari Kevin Novan Rio Sianipar; Ika Martanti Mulyawati; Elita Ulfiana; Elen Inderasari
Jurnal Onoma: Pendidikan, Bahasa, dan Sastra Vol. 12 No. 3 (2026): On Proses
Publisher : Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/zae79r51

Abstract

Kesalahpahaman komunikasi dapat terjadi ketika konteks pemahaman antara penutur dan mitra tutur berbeda, sementara kajian terhadap bentuk-bentuk deiksis pada ragam bahasa nonformal dalam novel remaja masih minim, misalnya pada tuturan santai antartokoh, sehingga berpotensi menimbulkan kesalahan makna. Penelitian ini mengkaji bentuk-bentuk deiksis yang terdapat dalam novel 0 MDPL  karya Nurwina Sari, serta menganalisis relevansi pada pembelajaran bahasa Indonesia di Madrasah Aliyah (MA). Tujuan utama penelitian ini adalah mengidentifikasi dan mendeskripsikan berbagai bentuk deiksis dalam novel 0 MDPL karya Nurwina Sari, serta mengeksplorasi potensi penerapan dalam konteks pendidikan bahasa Indonesia pada kurikulum merdeka. Metodologi yang digunakan yaitu kualitatif deskriptif. Sumber data yang dipakai yaitu novel 0 MDPL KARYA Nurwina Sari. Penelitian ini memanfaatkan teknik dokumentasi data. Data dikumpulkan melalui pembacaan novel dan mencatat dialog-dialog yang relevan, yang menghasilkan 1.310 data deiksis  dalam novel 0 MDPL karya Nurwina Sari. Data kutipan dialog yang mengandung bentuk deiksis terdiri dari 445 persona tunggal, 77 persona pertama jamak, 549 persona kedua tunggal, 6 persona kedua jamak, 109 persona ketiga tunggal, 14 persona ketiga jamak, 21 tempat proksimal, 9 tempat distal, 22 waktu masa depan, 34 waktu masa kini, 24 waktu masa lalu. Temuan ini menyoroti keberagaman bentuk deiksis yang digunakan dalam novel serta dapat berfungsi sebagai sumber daya linguistik yang berharga untuk meningkatkan pemahaman siswa terhadap isi dan kebahasaan novel terkait deiksis dengan memakai elemen membaca dan menulis. Penelitian ini dapat digunakan oleh guru bahasa indonesia (MA) kelas XII untuk dijadikan rujukan pembelajaran bahasa Indonesia dalam materi isi dan kebahasaan novel.
Membaca Sintopikal sebagai Fondasi Filosofis Pembelajaran Membaca Kritis di Perguruan Tinggi: Kajian Pemikiran Bachrudin Musthafa Syaidah Syaidah; Syihabuddin Syihabuddin; Farrah Mawaddah; Tika Afrilla
Jurnal Onoma: Pendidikan, Bahasa, dan Sastra Vol. 12 No. 3 (2026): On Proses
Publisher : Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/qk5bym98

Abstract

Penelitian ini mengkaji pemikiran (Musthafa, 2025) tentang membaca sintopikal sebagai puncak hierarki membaca strategis dalam perspektif filsafat pendidikan. Penelitian ini bertolak dari kenyataan bahwa praktik membaca di perguruan tinggi Indonesia masih terbatas pada level elementer dan inspeksional, sehingga mahasiswa belum mampu menciptakan pengetahuan baru secara mandiri. Melalui pendekatan kualitatif dengan metode kajian filosofis-hermeneutis yang didukung tes membaca berjenjang secara daring kepada 19 mahasiswa Tadris Bahasa Indonesia UIN Abdul Muthalib Sangadji Ambon, artikel ini mengidentifikasi relevansi membaca sintopikal sebagai praktik epistemik yang memanusiakan sekaligus sebagai fondasi pembelajaran membaca kritis. Temuan kajian filosofis mengungkap tiga fondasi yang saling menguatkan: konstruktivisme epistemik  (Dewey, 1938; Vygotsky, 1978)yang memandang pengetahuan sebagai hasil konstruksi aktif; pedagogi kritis Freire yang memposisikan membaca sintopikal sebagai antitesis banking education; dan tradisi Bildung yang menempatkan membaca sebagai proses pembentukan identitas intelektual yang transformatif. Secara empiris, 84% mahasiswa menunjukkan pemahaman konseptual tinggi pada level elementer–inspeksional, namun hanya 32% mencapai level sintopikal, mengkonfirmasi kesenjangan antara mengetahui dan mempraktikkan. Sebanyak 89% mahasiswa mengakui relevansi kondisi yang didiagnosis, 95% mengalami transformasi perspektif sebagai indikasi daya Bildung, dan 100% merekomendasikan pengajaran membaca sintopikal secara eksplisit dan terstruktur. Implikasi utama artikel ini adalah desakan untuk menggeser paradigma pembelajaran membaca di perguruan tinggi dari asumsi bahwa kemampuan membaca kritis sudah dimiliki mahasiswa menuju komitmen pedagogis yang aktif melatihkannya sebagai keterampilan yang diajarkan, dibimbing, dan dinilai.
Analisis Nilai Moral dan Motivasi dalam Novel Untukmu Anak Bungsu Karya Hidya Hanin Emilza Emilza; Irma Sendy Aristya; Hikma Tansilo
Jurnal Onoma: Pendidikan, Bahasa, dan Sastra Vol. 12 No. 3 (2026): On Proses
Publisher : Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/8d49en76

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis nilai moral dan motivasi dalam novel Untukmu Anak Bungsu karya Hidya Hanin. Penelitian menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan teknik studi kepustakaan sebagai metode pengumpulan data. Data berupa kutipan atau kalimat yang terdapat dalam novel tersebut. Analisis data dilakukan melalui tahapan identifikasi, analisis, deskripsi, dan penarikan simpulan. Hasil penelitian menemukan tiga jenis nilai moral dan dua jenis motivasi. Nilai moral mencakup: (1) hubungan manusia dengan Tuhan sebanyak 9 data (7,63%); (2) hubungan manusia dengan diri sendiri sebanyak 40 data (33,90%); dan (3) hubungan manusia dengan sesama manusia sebanyak 32 data (27,12%). Aspek hubungan manusia dengan alam semesta tidak ditemukan dalam novel ini. Motivasi intrinsik ditemukan sebanyak 33 data (27,97%) dan motivasi ekstrinsik sebanyak 4 data (3,39%), dengan total keseluruhan 118 data. Nilai moral hubungan manusia dengan diri sendiri merupakan aspek yang paling dominan, yang mencerminkan penggambaran mendalam atas pergulatan batin tokoh utama sebagai anak bungsu dalam keluarga.
Kontrol Budaya Tameme terhadap Variasi Bahasa Vulgar pada Gender Penutur Bahasa Lauje di Kecamatan Ampibabo Lita Safitri; Daru Winarti
Jurnal Onoma: Pendidikan, Bahasa, dan Sastra Vol. 12 No. 3 (2026): On Proses
Publisher : Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/9k7r7y97

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis serta memetakan perbedaan penggunaan variasi bahasa vulgar akibat kontrol budaya berbahasa tameme pada penutur bahasa Lauje di Kecamatan Ampibabo pada tataran lingual, semantik, serta menerangkan fungsi pemakaian bahasa vulgar yang digunakan penutur untuk mengekspresikan tujuannya melalui variasi bahasa Vulgar. Penelitian ini adalah penelitian lapangan dengan menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan deksriptif. Sumber data penelitian  menggunakan data tuturan spontan Penutur Bahasa Lauje Kecamatan Ampibabo dengan objek penelitian  Laki-laki dan Perempuan dengan minimal usia 20 tahun yang telah memahami pemakaian leksikon bahasa vulgar berupa wujud lingual, semantik, dan fungsi bahasa vulgar dalam berinteraksi. Teknik pengumpulan data melalui teknik observasi, wawancara, perekaman, pencatatan langsung di lapangan. Peneliti berperan menjadi instrumen penelitian perencana, pelaksana, pengumpul data, dan analisis data. Lokasi Penelitian berada di Desa Buranga dan Desa Ampibabo, Kecamatan Ampibabo, Kabupaten Parigi Moutong, Provinsi Sulawesi Tengah. Berdasarkan hasil temuan data, terdapat perbedaan penggunaan variasi bahasa vulgar pada laki-laki dan perempuan pada tataran lingual yang berupa verba, nomina, adjektiva dan klausa, pada tataran semantik terdapat perbedaan pemilihan bahasa dengan laki-laki yang cenderung menggunakana bahasa halus bermakna konotatif dan perempuan cenderung bahasa secara terang-terangan berupa majas, referen, serta terdapat penggunaan bahasa vulgar dari hasil peyoratif yang cenderung digunakan oleh perempuan. Terdapat tiga fungsi penggunaan bahasa vulgar seperti fungsi ekpresi, fungsi keakraban, serta fungsi penegasan situasi tutur.
Kecerdasan sebagai Senjata: Sarkasme dan Humor Verbal sebagai Retorika Politik dalam Debat Politik Televisi Indonesia Sriwati Sriwati; Dadang Sudana; Wawan Gunawan; Agung Mulyana; Erwin Yulianto
Jurnal Onoma: Pendidikan, Bahasa, dan Sastra Vol. 12 No. 3 (2026): On Proses
Publisher : Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/8bq80f43

Abstract

Penelitian ini menyelidiki sarkasme dan humor verbal sebagai strategi retorika yang disengaja dalam debat politik televisi Indonesia, memperluas penelitian ketidaksopanan sebelumnya ke ranah teori humor politik. Jika studi terdahulu mengklasifikasikan sarkasme dan kesopanan pura-pura dalam taksonomi ketidaksopanan Culpeper, studi ini meneliti mekanisme spesifik di mana humor dan sarkasme berfungsi secara retorika sebagai instrumen dominasi, delegitimasi, dan pembangunan koalisi audiens. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan analisis pragmatik-retorika yang mengintegrasikan Teori Umum Humor Verbal (GTVH) Attardo, teori relevansi tentang sarkasme dari Wilson dan Sperber, serta kerangka retorika Aristoteles (ethos, logos, dan pathos). Data berupa 7 ujaran yang mengandung humor yang diambil dari acara bincang-bincang politik Indonesia, yaitu Indonesia Lawyers Club dan Mata Najwa. Analisis dilakukan melalui tiga tahap: identifikasi mekanisme humor menggunakan GTVH, analisis sarkasme sebagai penyebutan gema, dan pemetaan fungsi retorika ujaran. Hasil penelitian menunjukkan adanya tiga mekanisme humor utama, yaitu humor resolusi ketidaksesuaian (28,6%), kecerdasan berbasis superioritas (42,9%), dan humor deflektif (28,6%). Ketiga mekanisme tersebut berfungsi membangun ethos pembicara sebagai sosok yang cerdas dan percaya diri, menumbangkan logos lawan melalui ejekan dan delegitimasi, serta memobilisasi pathos audiens melalui tawa dan solidaritas evaluatif. Berdasarkan temuan tersebut, penelitian ini mengusulkan Model Antarmuka Humor-Retorika (Humor-Rhetoric Interface/HRI) yang memetakan hubungan antara mekanisme humor dan fungsi retorika dalam komunikasi politik. Temuan ini menunjukkan bahwa humor dan sarkasme bukan sekadar perangkat hiburan atau ketidaksantunan, melainkan sumber daya retoris yang berperan penting dalam pembentukan citra politik dan dinamika wacana demokratis di media televisi Indonesia.
Manifestasi Ekokritik dalam Cerpen Korban Karbon: Perlawanan terhadap Krisis Ekologi dan Visi Restorasi Mangrove di Bengkalis Baity Dinar Prasetya; Dwi Sulistyorini; Karkono Karkono
Jurnal Onoma: Pendidikan, Bahasa, dan Sastra Vol. 12 No. 3 (2026): On Proses
Publisher : Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/k46pdx27

Abstract

Sastra kontemporer telah bertransformasi menjadi medium perjuangan ekologis guna menyuarakan kondisi alam yang terhimpit eksploitasi. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis manifestasi ekokritik dalam cerpen "Korban Karbon" karya WS Djambak yang membedah krisis lingkungan di Bengkalis, Riau. Masalah utama yang diangkat berfokus pada representasi kerusakan lingkungan multidimensional serta respons tokoh Ismail alias Babon terhadap krisis tersebut. Analisis ini menggunakan pendekatan ekokritik untuk menelaah hubungan timbal balik antara manusia dan alam. Hasil pembahasan menunjukkan bahwa Bengkalis mengalami ancaman nyata berupa laju abrasi ekstrem dan bencana kabut asap akibat kebakaran lahan gambut yang dipicu oleh praktik kapitalisme ekstraktif. Tokoh Babon merepresentasikan pergeseran etika lingkungan menuju pandangan biosentris melalui aksi restorasi mangrove sebagai bentuk resistensi terhadap kehancuran ekosistem. Cerpen ini menawarkan visi utopia ekologi pada tahun 2045, di mana pemulihan lingkungan melalui mekanisme perdagangan karbon terbukti mampu memberikan keberlanjutan hidup sekaligus kemakmuran ekonomi. Temuan dari analisis ini menegaskan bahwa penyelamatan alam merupakan prasyarat mutlak bagi keberlangsungan hidup manusia.
Digital Literacy, Online Reading Strategies, and Reading Comprehension of Efl Junior High School Students in Google Classroom: A Qualitative Study Salsabila Salsabila; Asbar Asbar; Mustakim Mustakim
Jurnal Onoma: Pendidikan, Bahasa, dan Sastra Vol. 12 No. 3 (2026): On Proses
Publisher : Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/a7rmye16

Abstract

Prior research has largely assumed that exposure to digital environments naturally promotes critical literacy, yet empirical evidence from junior high school students in low-exposure, policy-constrained contexts remains scarce. This study therefore aims to explore the digital literacy practices and online reading strategies of EFL eighth-grade students when reading English texts through Google Classroom at SMP Negeri 2 Enrekang, a school enforcing a strict no-smartphone policy, in order to understand how institutional constraints shape students’ digital reading engagement. Employing a descriptive qualitative design grounded in the interpretivist paradigm, eight students were selected through purposive sampling. Data were collected via semi-structured interviews, open-ended questionnaires, classroom observation, a reading comprehension task, and documentation, then analyzed using Miles, Huberman, and Saldaña’s (2014) interactive model. Findings reveal that students’ digital literacy remained operational rather than critical, dominated by smartphone-based access, navigation difficulties, and heavy reliance on Google Translate. Online reading strategies were surface-level (skimming, scanning, translation-assisted rereading), while higher-order strategies particularly evaluating were rarely or never observed across any data source. Three reader profiles emerged: the Assisted Decoder, the Task-Oriented Navigator, and the Emerging Strategist. The study concludes that three converging constraints linguistic limitation, institutional device restriction, and instructional absence collectively explain students’ critically underdeveloped digital reading, calling for explicit strategy-focused pedagogy embedded in everyday instruction.
Enhancing Students’ Comprehension of Poetry Texts through the Integration of Project-Based Learning and Design Thinking Fat-Hiyah Dwi Fitriani; Mujiono Mujiono; Gatot Sarmidi; Ritma Yuniasari
Jurnal Onoma: Pendidikan, Bahasa, dan Sastra Vol. 12 No. 3 (2026): On Proses
Publisher : Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/0xxsnx33

Abstract

Poetry instruction in secondary schools sometimes limits students' full involvement in interpreting and appreciating literary works. The present research aimed to enhance students' understanding of poetic texts. In this regard, the study employed Project-Based Learning (PBL) and Design Thinking methodologies. The survey employed a Classroom Action Research study based on Kemmis and McTaggart's model, comprising three cycles of planning, action, observation, and reflection. The study involved 32 eleventh-grade students aged 16–18 from a public senior high school in Malang, Indonesia. Data were collected through observations, interviews, field notes, tests, and documentation. Reliability of the study was ensured through triangulation of constructs and procedures, and verification procedures were monitored throughout the research project. Results showed an increase in student engagement during lessons, from 68.75% to 93.75%. Obtaining mastery level increased the rate from 71.88% to 93.75%. Consequently, such trends resulted in a higher class average score, 84.13 to 85.86. Results from the qualitative analysis showed even stronger motivation, self-assurance, teamwork and desire to make sense of poetry. This makes it clear that, when it comes to students learning poetry, a conceptual step such as using PjBL together with Design Thinking will make learning poetry and greater interaction possible.
English Literature Students’ Attitude to AI-Powered Tools Amirudin Amirudin; Tutik Ratna Ningtyas; Bambang Irawan
Jurnal Onoma: Pendidikan, Bahasa, dan Sastra Vol. 12 No. 3 (2026): On Proses
Publisher : Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/pgppqr39

Abstract

AI-powered tools have been widely used in many fields, including education. The use of AI is prevalent due to its convenience offered to its users. Students in this era are among those who make use of this technology. The use can vary depending on the needs and intentions the students have. Therefore, it is necessary to find out how the students view this technology. This research aims at exploring how students see AI as beneficial tools for them as well as how students AI might cause concerns among them. This research applies a qualitative exploratory approach to collect the data. The findings show that students feel benefited from the use of AI during their learning journey including the instrumental functions and the more advanced functions of AI. On the other hand, the findings also show how students feel concerned about AI despite their regular use. The students realize that AI use may lead to overdependence causing the decline of critical thought. All in all, the use of AI must be accompanied by ethical considerations so that AI will not replace the cognitive process of its users.