cover
Contact Name
Suparman
Contact Email
suparman@uncp.ac.id
Phone
+6285261455244
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota palopo,
Sulawesi selatan
INDONESIA
Jurnal Onoma: Pendidikan, Bahasa, dan Sastra
ISSN : 24433667     EISSN : 27154564     DOI : https://doi.org/10.30605/onoma
Core Subject : Education,
Onoma adalah jurnal akademik yang diterbitkan pada bulan Mei dan November oleh Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Cokroaminoto Palopo. Jurnal ini menyajikan artikel-artikel ilmiah tentang pendidikan, bahasa dan sastra Indonesia.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 2,015 Documents
Tomboy And Feminine Representations: Gender Standards in Children's Literature Written by Children in The Comics Next G Tegar Prasetyo; Novi Siti Kussuji Indrastuti
Jurnal Onoma: Pendidikan, Bahasa, dan Sastra Vol. 12 No. 3 (2026): Penulis pada Edisi ini Terdiri dari Dua (2) Negara: Indonesia dan Turki
Publisher : Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/0gvkep78

Abstract

This study has two primary objectives. First, to analyze how the representations of tomboy and feminine characters are constructed in Komik Next G. Second, to examine whether this representation reproduces conventional gender stereotypes or offers alternative meanings of femininity. The method employed is qualitative descriptive using Stuart Hall's representation framework (encoding, representation, decoding). Data sources consist of verbal and visual elements from Komik Next G, collected through non-participatory observation and note-taking techniques on story panels. Data analysis involved four stages: identifying visual/verbal signs, classifying gender expressions, interpreting cultural meanings, and a systematic comparison utilizing data reduction, display, and conclusion drawing. The results indicate that Komik Next G predominantly reproduces conventional binary gender standards. Femininity is constructed as a natural, ideal norm through visual and verbal attributes and operates through the hegemony of friendship and social rewards. The tomboy identity, while predominantly framed as a deviation requiring correction, is not entirely devoid of agency: the character demonstrates moments of active resistance, autonomous spatial negotiation, and an ambivalent inner desire that complicate a reading of pure passivity. However, this agency is ultimately subjugated and channeled toward a normative resolution, with any remaining resistance reduced to a tolerated “mischief” that leaves the feminine visual standard intact, children as text producers have deeply internalized hegemonic gender norms, underscoring the urgency for critical guidance in children’s literacy programs to encourage more inclusive gender narratives.
Analisis Ambiguitas Struktural Pada Puisi Jerman Karya Johann Wolfgang Von Goethe Naila Hafshah; Novia Anjani Dewi; Lucky Herliawan YA.
Jurnal Onoma: Pendidikan, Bahasa, dan Sastra Vol. 12 No. 3 (2026): Penulis pada Edisi ini Terdiri dari Dua (2) Negara: Indonesia dan Turki
Publisher : Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/45g1j267

Abstract

Dalam sebuah karya sastra, ambiguitas merupakan hal yang sering terjadi, salah satunya ialah pada karya sastra puisi yang seringkali di dalamnya mengandung kata-kata atau kalimat yang bisa diinterpretasikan menjadi berbagai makna, tergantung pada sudut pandang pembaca. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi, menganalisis, dan mendeskripsikan ambiguitas struktural yang terdapat pada salah satu bentuk puisi atau soneta karya Johann Wolfgang Von Goethe, serta menjelaskan makna apa saja yang bisa dihasilkan dalam satu kalimat atau frasa tersebut. Data untuk penelitian berupa 14 baris soneta, dengan 7 baris yang teridentifikasi mengandung ambiguitas struktural. Data penelitian diperoleh dari teks soneta Mächtiges Überraschen yang diakses melalui website Projekt Gutenberg sebagai sumber data utama. Analisis dilakukan menggunakan metode kualitatif dengan metode analisis teks linguistik melalui pendekatan deskriptif yang memfokuskan pada analisis kebahasaan serta makna dari soneta. Hasil analisis menunjukkan bahwa terdapat ambiguitas struktural pada 7 baris soneta yang disebabkan oleh penggunaan elipsis, pronomina dan nomina yang rujukannya tidak jelas, serta hubungan antarunsur kalimat atau frasa yang memungkinkan lebih dari satu penafsiran. Ambiguitas ini tidak hanya menciptakan keberagaman makna, tetapi juga memperkaya penafsiran terhadap unsur alam, refleksi batin, dan simbol filosofis yang terkandung di dalam soneta.
Predicting Narrative Essay Writing Ability through Grammar Awareness and Critical Thinking Skills: Evidence from Indonesian EFL Vocational High School Students Aqila Thahira Sisfiamuhsha; Ismalianing Eviyuliwati; Alek Alek; Gelar Dwirahayu
Jurnal Onoma: Pendidikan, Bahasa, dan Sastra Vol. 12 No. 3 (2026): Penulis pada Edisi ini Terdiri dari Dua (2) Negara: Indonesia dan Turki
Publisher : Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/kgn7s725

Abstract

This exploratory study examined the relationships among grammar awareness, critical thinking skills, and narrative essay writing ability among Indonesian EFL vocational high school students. Using a quantitative correlational design, data were collected from 35 tenth-grade students in one intact class at a vocational high school in Tangerang, selected through purposive sampling, using a grammar awareness test, a critical thinking test, and a narrative essay writing task, all validated through expert judgment and empirical testing. Data were analyzed using Pearson Product-Moment Correlation and Multiple Linear Regression. The results indicated significant positive correlations between grammar awareness and narrative writing ability (r = .649, p < .01) and between critical thinking skills and narrative writing ability (r = .687, p < .01). Grammar awareness and critical thinking skills jointly predicted narrative essay writing ability, explaining 54% of the variance (R² = .540, Adjusted R² = .511), with critical thinking emerging as the stronger predictor (β = .458) compared to grammar awareness (β = .347). Given the limited sample drawn from a single intact class, these findings should be interpreted as exploratory evidence rather than a broad generalization. Nonetheless, the results suggest that effective narrative writing draws on both linguistic competence and higher-order thinking skills. Accordingly, EFL writing instruction at the vocational level may benefit from integrating grammar instruction with activities that foster critical thinking.
Konflik Sosial dalam Film-Film Pendek Bertema Kehidupan Usia Sekolah Karya Paniradya Kaistimewan   Diana Nabilah; Rahmat Rahmat; Dewi Pangestu Said
Jurnal Onoma: Pendidikan, Bahasa, dan Sastra Vol. 12 No. 3 (2026): Penulis pada Edisi ini Terdiri dari Dua (2) Negara: Indonesia dan Turki
Publisher : Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/8ndxzv87

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji dinamika konflik sosial dalam tiga film pendek karya Paniradya Kaistimewan, yaitu Brambang Apus, Memedi Manuk, dan Satrio, dengan menggunakan pendekatan sosiologi sastra. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa studi dokumentasi melalui pengamatan dialog dan adegan film. Analisis data dilakukan menggunakan model interaktif Miles et al. yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh konflik sosial yang ditemukan termasuk dalam kategori konflik pribadi menurut Soerjono Soekanto. Konflik tersebut termanifestasi dalam bentuk pertentangan verbal, perundungan, tindakan manipulatif, hingga kekerasan fisik. Konflik juga berkembang secara bertahap dari intensitas rendah hingga tinggi yang dipengaruhi oleh komunikasi yang tidak efektif, sikap defensif, rendahnya empati, serta tekanan kelompok. Dari 15 data yang teridentifikasi, film Brambang Apus menampilkan 6 data konflik, Memedi Manuk 5 data, dan Satrio 4 data, dengan intensitas yang meningkat sejalan dengan jenjang pendidikan tokoh, mulai dari pertengkaran verbal antarsiswa sekolah dasar, perundungan tersembunyi pada siswa sekolah menengah pertama, hingga perencanaan kekerasan kolektif pada siswa sekolah menengah atas. Ketiga film merepresentasikan dinamika konflik sosial pada usia sekolah yang tidak hanya berkaitan dengan aspek sosial dan emosional, tetapi juga memperlihatkan kecenderungan melemahnya nilai kerukunan, empati, dan unggah-ungguh dalam relasi sosial. Dengan demikian, penelitian ini menegaskan pentingnya penguatan keterampilan komunikasi, pengendalian emosi, serta internalisasi nilai empati dan tata krama sebagai upaya preventif dalam menciptakan interaksi sosial yang lebih kondusif di lingkungan pendidikan.
Islamic Values as Hidden Curriculum in BIPA Instruction: International Student Experiences at an Islamic University Asri Nuranisa Dewi; Irma Yulita Silviany; Bilkis Aulia Luxfiati
Jurnal Onoma: Pendidikan, Bahasa, dan Sastra Vol. 12 No. 3 (2026): Penulis pada Edisi ini Terdiri dari Dua (2) Negara: Indonesia dan Turki
Publisher : Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/bk4hw998

Abstract

This study examines how Islamic values operate as hidden curriculum within Indonesian as a Foreign Language (BIPA) instruction at Universitas Islam Bandung (Unisba). While most BIPA research in Indonesia centers on linguistic aspects, this study asks: through what mechanisms do Islamic values permeate language learning without constituting formal curricular content? Using a qualitative case study design, data were gathered from three BIPA classroom observation sessions, an in depth interview with the BIPA lecturer, and field notes documenting interactions with an Algerian international student. Analysis reveals three interlocking mechanisms: (1) Islamic linguistic scaffolding through greetings and faith based expressions; (2) the physical Islamic campus ecosystem, particularly prayer spaces, as adaptation environments; and (3) pedagogical relationships that transcend instructional boundaries. These findings suggest that in Islamic universities, language learning and value socialization occur simultaneously, producing a form of BIPA instruction inseparable from institutional identity. Implications for contextually responsive BIPA curriculum development in Islamic higher education are discussed. This study's contribution is twofold: it introduces Islamic hidden curriculum as a theoretical lens for language classrooms embedded in religious institutions, and it offers an empirical typology of the mechanisms through which this hidden curriculum operates.