cover
Contact Name
Fransisca Iriani Rosmaladewi
Contact Email
fransiscar@fpsi.untar.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jmishs@untar.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
ISSN : 25796348     EISSN : 25796356     DOI : -
Core Subject : Art, Social,
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni (P-ISSN 2579-6348 dan E-ISSN 2579-6356) merupakan jurnal yang menjadi wadah bagi penerbitan artikel-artikel ilmiah hasil penelitian dalam bidang Ilmu Sosial (seperti Ilmu Psikologi dan Ilmu Komunikasi), Humaniora (seperti Ilmu Hukum, Ilmu Budaya, Ilmu Bahasa), dan Seni (seperti Seni Rupa dan Design). Jurnal ilmiah ini diterbitkan oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Tarumanagara. Dalam satu tahun, jurnal ini terbit dalam dua nomor, yaitu pada bulan April dan Oktober.
Arjuna Subject : -
Articles 723 Documents
PERAN PSYCHOLOGICAL DETAHCMENT DALAM MENGATUR HUBUNGAN ANTARA JOB STRESS DAN WELL-BEING PADA PERAWAT Juwita, Juwita; Saputra, Andy; Elisa, Elisa; Tessa, Maria Theresia; Suyasa, Tommy Y.S.
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 2, No 2 (2018): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v2i2.1769

Abstract

Nurses who frequently think of work outside working hours may cause low well-being for themselves. This can, in turn, create high level of job stress. This study aims to determine the role of psychological detachment in regulating the relation between job stress and well-being in nurses. The subjects of this study are nurses who work in various health institutions located in Tangerang. This study involves 103 subjects, consisting of 88 women and 15 men with an age range of 19-57 years. The method used in this study is quantitative, with the type being correlational research. The results showed that psychological detachment had a role in regulating the relation between job stress and well-being on nurses. However, the role of job stress on negative well-being indicator is more significant than the role of psychological detachment on negative indicator of well-beingPerawat yang sering memikirkan pekerjaan di luar jam kerja dapat menimbulkan rendahnya well-being. Hal tersebut dapat memicu tingkat job stress yang tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran psychological detachment dalam mengatur hubungan antara job stress dan well-being pada perawat. Subyek penelitian ini adalah perawat yang bekerja pada berbagai instansi kesehatan yang berlokasi di Tangerang. Penelitian ini melibatkan 103 subyek, yang terdiri dari 88 orang perempuan dan 15 orang laki-laki dengan rentang usia 19-57 tahun. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kuantitatif dengan jenis penelitian korelasional. Hasil penelitian menunjukkan bahwa psychological detachment berperan dalam mengatur hubungan antara job stress dan well-being pada perawat. Namun, peran job stress terhadap indikator negatif well-being lebih signifikan daripada peran psychological detachment terhadap indikator negatif well-being.
KONFLIK ORANGTUA-ANAK DALAM PEMILIHAN PASANGAN PADA KELUARGA DI BANGKA Agustina, Sherly; Budiarto, Yohanes; Hastuti, Rahmah
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 1, No 2 (2017): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v1i2.1007

Abstract

Konflik orangtua dan anak dapat terjadi dalam berbagai hal. Salah satu permasalahan yang menjadi konflik tersebut adalah preferences mate. Konflik yang terjadi biasanya tidak dapat dihindari. Namun, dalam budaya tertentu seperti budaya kolektif, ada kecenderungan konflik tidak terjadi. Pada pemilihan pasangan sendiri terdapat berbagai karakteristik. Dalam hal ini, akan terdapat kecenderungan orangtua dan anak memiliki kesamaan dalam karakteristik yang diinginkan untuk pemilihan pasangan. Namun, orangtua dan anak juga dapat memiliki perbedaan mengenai karakteristik yang diinginkan dalam pemilihan pasangan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konflik orangtua dan anak yang terjadi pada keluarga di Bangka. Selain itu, penelitian ini juga ingin mengetahui karakteristik yang paling didambakan maupun yang paling tidak didambakan dalam preferences mate oleh keluarga di Bangka. Data penelitian ini diambil dari 178 partisipan orangtua dan anak yang tinggal di Bangka. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tidak terdapat konflik antara orangtua dan anak dalam preferences mate. Temuan penelitian ini juga menunjukkan bahwa karakter baik dan pengertian merupakan karakter yang paling didambakan dalam preferences mate oleh partisipan penelitian. Selain itu, untuk karakteristik yang paling tidak didambakan oleh partisipan penelitian ini adalah sarjana.
HUBUNGAN ANTARA STUDENT ENGAGEMENT DAN KECENDERUNGAN DELINKUENSI REMAJA Garvin, Garvin; Jeannefer, Jeannefer
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 1, No 2 (2017): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v1i2.1006

Abstract

Student engagement mengarah pada totalitas siswa untuk terlibat secara aktif pada aktivitas belajar secara perilaku, kognitif, dan emosional. Siswa yang engaged tidak hanya memiliki performa dan prestasi akademis yang baik tetapi juga dapat membentuk karakter remaja yang lebih proaktif. Di sisi lain, ketidakmampuan siswa untuk terlibat dalam sekolah meningkatkan kecenderungan remaja untuk melampiaskan rasa frustrasiya pada hal-hal lain di luar pelajaran termasuk menunjukkan perilaku yang problematik (Wang & Fredericks, 2014). Penelitian ini bertujuan untuk menguji hubungan antara student engagement dengan kecenderungan perilaku delinkuensi remaja. Partisipan dalam penelitian terdiri dari 161 orang yang seluruhnya adalah pelajar SMA atau SMK dengan rentang usia 15-19 tahun. Instrumen penelitian yang digunakan adalah skala student engagement yang disusun berdasarkan tiga aspek student engagement dan skala kecenderungan delinkuensi remaja yang disusun berdasarkan empat jenis kenakalan remaja. Hasil uji korelasi Pearson menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara student engagement dengan kecenderungan delinkuensi pada remaja, dengan arah hubungan yang negatif (r = -0,557, p = 0,000 < 0,05). Hal ini berarti, semakin tinggi student engagement, maka kecenderungan delinkuensi remaja menjadi semakin rendah; dan demikian pula dengan sebaliknya, semakin rendah student engagement, kecenderungan delinkuensi remaja semakin tinggi. Peneliti menyarankan agar orangtua maupun pihak sekolah mulai memerhatikan student engagement pada remaja.Kata kunci: student engagement, delinkuensi, remaja
PENGARUH INTERVENSI PSIKOEDUKASI UNTUK MENINGKATKAN ACHIEVEMENT GOAL PADA KELOMPOK SISWI UNDERACHIEVER Andy Surya Putra; Naomi Soetikno
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 2, No 1 (2018): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v2i1.1514

Abstract

Kondisi underachiever merupakan suatu kondisi di mana siswa menunjukkan prestasi hasil belajar di bawah kemampuan intelektual yang seharusnya dimilikinya. Kondisi ini dapat terjadi ketika seorang siswa kehilangan tujuan dalam berprestasi (achievement goal) yang disebabkan oleh kurangnya penetapan tujuan, perencanaan, manajemen waktu untuk kegiatan belajar dan evaluasi diri. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk meningkatkan tujuan dalam berprestasi pada sekelompok siswi underachiever yang menyenangi aktivitas bermain bersama dan berjualan di kelas melalui pemberian intervensi psikoedukasi. Metode penelitian yang dilakukan adalah eksperimen dengan menguji pre-post dari kuesioner achievement goal. Partisipan penelitian adalah sekelompok siswi yang mengalami kondisi underachiever berjumlah 5 orang dari kelas V Sekolah Dasar XX di Jakarta Barat. Setting penelitian adalah di dalam sekolah dengan pemberian intervensi psikoedukasi sebanyak tiga kali pertemuan berdurasi tujuh puluh lima menit di setiap pertemuannya. Psikoedukasi yang diberikan adalah diskusi kelompok, permainan, dan pemberian aktivitas. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan achievement goal pada penetapan tujuan, perencanaan, manajemen waktu dan evaluasi diri dari kelompok siswi underachiever yang berdampak juga pada peningkatkan prestasi hasil belajar secara akademik.
GAMBARAN LEARNED HELPLESSNESS WANITA TUNA SUSILA YANG MENGALAMI KEKERASAN Yulya Indah; Sandi Kartasasmita
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 1, No 2 (2017): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v1i2.984

Abstract

Wanita tuna susila seringkali dihadapkan pada hal-hal yang sulit dan berat untuk dijalani, termasuk label-label tidak menyenangkan yang melekat, perbedaan tingkatan sosial, hingga kekerasan yang didapatkan dari orang-orang sekitar lingkungan. Wanita tuna susila mengaku tidak berdaya apa-apa untuk menolak realitas tersebut. Segala rasa tidak berdaya dan tidak adanya bantuan ini menunjukkan helplessness dari para wanita tuna susila (Price, 1978). Penelitian ini bertujuan memberi gambaran helplessness di balik peranan para wanita tuna susila dalam menghadapi kemalangan dan pengalaman tidak menyenangkan yang dilalui. Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode kualitatif, dengan wawancara mendalam terhadap tiga orang wanita yang menjadi wanita tuna susila serta yang mengalami kekerasan namun masih menjalani hidup dalam dunia wanita tuna susila. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa para partisipan mengalami helplessness sebagai dampak kegagalan atas usaha yang dilakukan dan tidak adanya bantuan akibat label negatif wanita tuna susila, menyebabkan tumpulnya motivasi, penurunan kognitif, dan gangguan emosional pada para partisipan.Kata Kunci: learned helplessness, wanita tuna susila, kekerasan
PENERAPAN ART THERAPY UNTUK MENINGKATKAN SELF-ESTEEM REMAJA PEREMPUAN DI LEMBAGA BIMBINGAN BELAJAR X Renny Magdalena; Titi Prantini Natalia
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 2, No 1 (2018): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v2i1.1614

Abstract

Pada masa remaja seseorang rentan mengalami penurunan self-esteem. Remaja yang lebih rentan mengalami penurunan self-esteem adalah remaja perempuan, hal ini disebabkan remaja perempuan cenderung kurang puas dengan body imagenya. Self-esteem yang kurang baik berkaitan dengan tingkat depresi yang tinggi. Oleh karena itu, art therapy diterapkan untuk meningkatkan self-esteem dari 5 remaja perempuan di lembaga bimbingan belajar X. Beberapa penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa art therapy efektif untuk meningkatkan self-esteem, karena art therapy dapat membantu seseorang untuk mengeksplorasi perasaan, sehingga dapat membantu mereka mengungkapan perasaan dan emosi yang tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata. Penelitian ini menggunakan mixed method one group pre-test post-test design dengan menggunakan alat ukur State Self-Esteem Scale, wawancara semi terstruktur, dan draw a person test yang dianalisa untuk mengetahui perbandingan hasil sebelum dan sesudah pemberian intervensi. Berdasarkan hasil observasi dan draw a person test menunjukkan adanya peningkatan selfesteem dari kelima partisipan, namun berdasarkan alat ukur State Self-Esteem Scale hanya empat partisipan yang menunjukkan peningkatan skor total. Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa art therapy cukup efektif untuk meningkatkan self-esteem dari lima remaja perempuan di lembaga bimbingan belajar X.
Peranan Logoterapi terhadap Pencapaian Makna Hidup Wanita Dewasa Awal (Studi pada Wanita Dewasa Awal yang Terdiagnosa HIV karena Tertular Suami) Shinta Utami; Samsunuwiyati Mar’at; Denrich Suryadi
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 1, No 1 (2017): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v1i1.346

Abstract

Penularan virus HIV yang salah satunya melalui hubungan seksual risiko tinggi semakin meningkatkan penularan HIV dari individu positif ke individu negatif. Ketika hal tersebut terjadi pada istri yang positif HIV karena tertular suami, akan muncul berbagai ketakutan yang semakin memperburuk kondisi istri, seperti stigma masyarakat dan kekhawatiran terhadap anak-anak yang juga akan tertular HIV. Ketidakmampuan dalam menghadapi masalah terkait status positif HIV membuat para istri akan semakin tidak mampu menilai hidup mereka berharga sehingga makna hidup mereka menghilang. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui peranan logoterapi dalam pencapaian makna hidup wanita dewasa awal yang terdiagnosa HIV karena tertular suami. Terdapat tiga partisipan penelitian dan memiliki makna hidup yang rendah berdasarkan alat ukur TaruMiLS (Tarumanagara Meaning in Life Scale) yang dikembangkan oleh Suyasa dengan total 62 item. Berdasarkan hasil intervensi logoterapi yang diberikan selama 11 sesi, terjadi perubahan antara pretest dan posttest yang menunjukkan bahwa logoterapi berhasil membantu partisipan untuk mencapai makna hidup yang lebih positif dengan kondisi status positif HIV mereka saat ini.Kata Kunci: logoterapi, makna hidup, wanita dewasa awal, HIV.
USAHA PEMERINTAH MELINDUNGI HAK IMUNITAS ADVOKAT DALAM MELAKUKAN PEKERJAAN Wijaya, Cinthia; Calvin, John; Pratiwi, Mutiara Girindra
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 2, No 2 (2018): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v2i2.2494

Abstract

Setiap orang yang terkena suatu perkara mempunyai hak untuk mendapatkan bantuan hukum. Hak Imunitas Advokat menjadi tolak ukur bagi seorang Advokat dalam melaksanakan tugasnya sesuai kuasa yang diberikan klien dalam pembelaan hukum dalam kasus yang ditangani. Ada Advokat yang diperiksa dan ditangkap pihak Kepolisian ketika membela kepentingan kliennya. Advokat yang berkedudukan sebagai profesi yang terhormat (officium nobile) dan sebagai aparat penegak hukum memerlukan hak imunitas untuk menjaga kemandirian dalam menjalankan profesinya. Pasal 16 Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2003 tentang Advokat menyatakan bahwa Advokat tidak dapat dituntut baik secara perdata maupun pidana dalam menjalankan tugas profesinya dengan itikad baik untuk pembelaan klien dalam sidang Pengadilan, pengertian itu diperluas oleh Mahkamah Konstitusi menjadi Advokat tidak dapat dituntut baik secara perdata maupun pidana dalam menjalankan tugas profesinya dengan itikad baik untuk kepentingan pembelaan klien di dalam maupun di luar sidang pengadilan asalkan Advokat dalam menjalankan tugas profesinya tetap berpegangan pada kode etik dan peraturan perundang-undangan. Everyone involved in a case has the right of legal assistance. The Advocates’ Immunity is a benchmark for an Advocate in carrying out his/her duties in accordance with the authority given by the client in a legal defense in the case handled. There are Advocates who are questioned and arrested by the Police when defending the interests of their clients. Advocate, as a honorable profession (officium nobile) and as law enforcement officers require the right of immunity to maintain independence in carrying out their duties. Article 16 of the Consitution Number 18 Year 2003 concerning Advocates states that Advocates cannot be prosecuted either in civil or criminal manner in carrying out their professional duties in good faith to defend clients in court trial, that understanding expanded by the Constitutional Court to Advocates cannot be prosecuted either in civil or criminal manner in carrying out his/her professional duties in good faith for the interest of the defense of clients inside and outside the court as long as the Advocate in carrying out his/her professional duties still adheres to the code of ethics and legislation.Keywords: Government Efforts, Right to Immunity, Advocates
URGENSI PEMBATASAN PENANGANAN REPRESIF APARAT KEPOLISIAN DALAM MENANGGULANGI RADIKALISME Hartanto, Alwin Widyanto; Tanaya, Ellyzabeth; Ng, Hansel
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 1, No 2 (2017): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v1i2.866

Abstract

Radikalisme merupakan isu yang menjadi masalah di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia. Agar permasalahan radikalisme tidak terus berkembang, diperlukan upaya untuk menanggulangi perkembangan radikalisme. Salah satu lembaga yang bertugas untuk menanggulangi radikalisme adalah kepolisian. Ketika menjalankan tugasnya, polisi dapat mengambil tindakan-tindakan, baik tindakan yang bersifat pencegahan maupun tindakan yang bersifat represif. Akan tetapi, diperlukan adanya pembatasan-pembatasan yang perlu diperhatikan saat menanggulangi radikalisme menggunakan cara-cara represif. Tulisan ini bertujuan untuk menganalisis pentingnya pembatasan tindakan represif oleh aparat kepolisian serta upaya-upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kinerja kepolisian dalam menanggulangi radikalisme. Melalui penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa dalam penanggulangan radikalisme, aparat kepolisian perlu membatasi penggunaan tindakan represif dan menggunakannya hanya jika diperlukan, misalnya ketika eskalasi masalah terlanjur besar dan tindakan pencegahan tidak lagi dimungkinkan. Hal ini disebabkan oleh tindakan represif yang cenderung tidak efektif untuk menyelesaikan permasalahan radikalisme. Selain itu, upaya-upaya peningkatan kinerja kepolisian dapat dilakukan agar radikalisme dapat ditangani secara lebih efektif.
KONTRIBUSI PERAN GENDER DAN KONFORMITAS TERHADAP AGRESIVITAS REMAJA PUTRI SUPORTER SEPAKBOLA Octavianti, Regina; Hutapea, Bonar
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 1, No 2 (2017): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v1i2.927

Abstract

Sepakbola adalah olahraga paling populer di dunia dan salah satu cabang olahraga yang memiliki banyak penggemar dan suporter. Suporter sepakbola tidak hanya dari laki-laki saja, namun saat ini perempuan juga sudah mulai menjadi suporter sepakbola. Kehadiran suporter dalam sepakbola merupakan wujud dari rasa kebersamaan, bahkan saat terjadi kerusuhan dan suporter perempuan juga tidak segan untuk ikut dalam kerusuhan tersebut. Penelitian ini menguji apakah peran gender dan konformitas berpengaruh terhadap agresivitas. Metode penelitian ini adalah kuantitatif dengan teknik convenience sampling terhadap perempuan suporter sepakbola. Kriteria subyek yang digunakan pada penelitian ini adalah remaja putri suporter sepakbola yang berusia 17–23 tahun. Penelitian ini menunjukkan adanya kontribusi peran gender dan konformitas terhadap agresivitas. Ada beberapa alasan yang terbukti yaitu remaja putri memiliki konformitas yang tinggi dan peran gender maskulin menambah tingginya agresivitas pada remaja putri.

Filter by Year

2017 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 9 No. 3 (2025): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora dan Seni Vol. 9 No. 2 (2025): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora dan Seni Vol. 9 No. 1 (2025): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora dan Seni Vol. 8 No. 3 (2024): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora dan Seni Vol. 8 No. 2 (2024): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol. 8 No. 1 (2024): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora , dan Seni Vol. 7 No. 3 (2023): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol. 7 No. 2 (2023): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol. 7 No. 1 (2023): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol. 6 No. 3 (2022): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol. 6 No. 2 (2022): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 6, No 1 (2022): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol. 6 No. 1 (2022): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 5, No 2 (2021): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 5, No 1 (2021): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 4, No 2 (2020): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 4, No 1 (2020): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 3, No 2 (2019): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 3, No 1 (2019): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 2, No 2 (2018): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 2, No 1 (2018): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 1, No 2 (2017): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 1, No 1 (2017): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni More Issue